kategori-buku

E-book: Meraih Surga di Bulan Ramadhan

07 Aug 2011

Surga-RamadhanBerkata Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah

Seiring dengan akan tibanya bulan suci Ramadhan yang penuh barakah, maka kami akan menyajikan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin pasal-pasal penting yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, seraya memohon kepada Allah agar menjadikan amalan kami ikhlas karena-Nya, sesuai dengan syari`at-Nya, bermanfaat bagi makhluk-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan lagi Maha mulia. Pasal-pasal tersebut adalah:

Pasal pertama              : Hukum puasa.
Pasal kedua                 : Hikmah dan faidah puasa.
Pasal ketiga                 : Hukum berpuasa bagi orang sakit dan musafir.
Pasal keempat            : Hal-hal yang merusak ibadah puasa.
Pasal kelima                : Shalat Tarawih.
Pasal keenam              : Zakat dan faidah-faidahnya.
Pasal ketujuh              : Golongan yang berhak menerima zakat.
Pasal kedelapan           : Zakat fitrah.

Sumber :http://suaraquran.com

download-ebook

E-book: Menyingkap Mitos Wahabi

16 May 2011

wahhabiE-Book berikut, terjemahan dari The Wahhabi Myth yang fenomenal, oleh penulis disusun sebagai upaya untuk meluruskan kesalahpahaman yang telah menyebar begitu luas, mengenai penisbatan aksi-aksi teror kepada pemaham-an Salaf atau yang lebih khusus diberi istilah Salafi “Wahhabi”. Kesalahpahaman ini tidak saja dipahami dan disebarkan oleh media asing (baca: Barat), akan tetapi juga di kalangan kaum Muslimin sendiri.

Sepanjang pembahasan buku ini, penulis menggunakan istilah “Wahhabi” dengan tanda petik, bukan untuk membenarkan penggunaan istilah tersebut, karena tidak seorang pun dari kaum Muslimin, khususnya yang berpegang teguh kepada manhaj Salaf, pernah menisbatkan dirinya pada istilah tersebut. Penggunaan “Wahhabi” di sini justru untuk menunjukkan poin yang dimaksudkan penulis kepada para pembaca, bahwa apa yang sebenarnya dijuluki “Wahhabiyyah” atau orang-orang yang disebut “Wahhabi” itu tidak lain dari pemahaman yang berusaha meng-implementasikan prinsip dasar ajaran agama Islam, yakni tauhid, dan berusaha mengembalikan kemurniannya dari segala bentuk kesyirikan dan bid’ah dan khurafat di dalam agama. Melalui buku ini pula, pembaca diajak untuk mengetahui realitas di balik aksi-aksi teror serta organiasi yang berada di belakangnya. (Author: www.raudhatulmuhibbin.org )

download-ebook

E-book: I’lamul Muwaqi’in - Panduan Hukum Islam

06 Feb 2011

ilamulOrang yang pertama kali didaulat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjadi utusanNya adalah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menyampaikan fatwanya berdasarkan wahyu. Beliau adalah sebagai Hakim, dan fatwanya wajib diikuti, dilaksanakan dan dijadikan pondasi kehidupan setelah Al Qur’an. Akan tetapi dalam menanggapi persoalan umat yang beragam, perbedaan pendapat seringkali tak terelakan. Jika hal tersebut pada akhirnya terjadi, Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-hambaNya agar mengembalikan urusan tersebut kepada-Nya dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)” [An Nisaa: 59]

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa mulianya orang-orang yang mendapat “rekomendasi” dari Rabbnya untuk menyampaikan ajaran-Nya.

Dalam konteks pembahasan buku ini, mereka itu disebut sebagai “I’lamul Muwaqi’in ‘an rabbul ‘alamiin“, yakni orang-orang yang menyampaikan syari’at Allah Rabb seru sekalian alam. Dalam perkembangannya kemudian mereka disebut “mufti” atau “pemberi fatwa“. Mufti di sini berkedudukan sebagai “pemegang kebijakan yang memiliki otoritas memutuskan hukum suatu perkara. Karena itulah mereka diletakkan pada “bingkai para mufti” yang dapat mencegah mereka dari keputusan yang salah. Sebab keputusan mufti berlaku bagi setiap orang dan dimana saja, meski terkadang dapat dilaksanakan dan dapat pula ditinggalkan.

 Sedangkan keputusan hakim hanya berlaku bagi tedakwa dan harus dilaksanakan. Dengan demikian baik mufti maupun hakim dihadapkan pada bahaya (ancaman) besar dan pahala besar pula. Keduanya laksana orang yang berdiri dengan kaki kiri di neraka dan kaki kanan di surga.

Para ulama telah mencurahkan segala daya dan upayanya untuk memagari para mufti agar tidak terpeleset ke dalam jurang kesesatan. Dasar-dasar pengambilan fatwa di sini antara lain:

Selengkapnya: E-book: I’lamul Muwaqi’in - Panduan Hukum Islam

E-book: Al Itishom - Buku Induk Pembahasan Sunnah dan Bidah

31 Jan 2011

ItishomImam Al Baihaqi dalam Al Kubro 2/466, Abdurrazak 3/55, Sunan Ad Darimi 1/116 dan yang lainnya , dengan sanad Shahih  menceritakan sebuah atsar dari Sa'id Al Musayyib -rahimahullah- " Sesungguhnya Dia (Sa'id) melihat seorang lelaki yang sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat dengan memperpanjang ruku dan sujudnya, maka Sa'id bin Al Musayyib pun melarangnya. Kemudian lelaki tadi pun berkata kepada beliau,'Wahai Abu Muhammad ( Sa'id), Apakah Alloh akan menyiksaku dengan sebab sholat ?', Sa'id pun menjawab,'Tidak, namun Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah."

Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam kitab beliau Irwaul Ghalil 2/236 mengomentari atsar ini dengan perkataan," Ini adalah jawaban yang sangat bagus dari Sa'id Al Musayyib -rahimahullah- dan merupakan senjata tajam atas ahlu bid'ah yang sering menganggap baik perbuatan bid'ah dengan label ibadah kemudian mereka mengingkari Ahlus Sunnah yang membantah perbuatan mereka dan menuduh Ahlus Sunnah telah mengingkarinya. Padahal Ahlus Sunnah hanyalah mengingkari perbuatan penyimpangan mereka yang menyelisihi sunnah dalam dzikir, sholat dan ibadah lainnya.".
Begitu banyak bid'ah dan penyimpangan yang dilakukan muslimin yang sangat jauh dari tuntunan agama yang disebabkan karena kebodohan dan hawa nafsu.

Selengkapnya: E-book: Al Itishom - Buku Induk Pembahasan Sunnah dan Bidah

E-book : Al-Bidayah Wan Nihayah

24 Nov 2010

Judul Asli : Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah
Penulis: Al-Hafidz Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir
Penyusun : Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami
Edisi Indonesia: AL-BIDAYAH WAN NIHAYAH Masa Khulafa’ur Rasyidin
Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari
Cetakan: cetakan I (pertama) Dzulhijah 1424H, Februari 2004
Penerbit: DARUL HAQ
Ukuran ebook: (PDF) xxi + 547 halaman
File size: 44 MB

E-book previewE-book ini adalah versi pdf dari buku al-Bidayah wan Nihayah, karya monumental seorang ulama besar yang tidak asing lagi yakni Al-Hafidz Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Di dalamnya diungkapkan tentang sejarah masa khulafa’ur rasyidin yang dengannya pembaca akan dapat melihat masa-masa keemasan Islam, disusun secara apik oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami.

Adapun kitab al-Bidayah wan Nihayah sendiri merupakan sebuah buku ensiklopedi sejarah terbesar yang didalamnya memuat berbagai macam disiplin ilmu, dan berbagai bentuk permasalahan yang menggambarkan betapa luas wawasan keilmuan pengarangnya.

Kitab ini disusun sesuai dengan kronologi peristiwa dimulai sejak tahun pertama hijriyah. Maka kemudian untuk memudahkan orang dalam mempelajarinya Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami menyusun ulang, mengumpulkan tema-tema yang bersesuaian ke dalam pasal-pasal yang disusun secara urut. Juga dihapus atau dihilangkan pembahasan yang terlalu luas, hadits yang lemah, cerita yang ada keganjilan atau lafaz yang mungkar, demikian diantara yang disebutkan dalam metode penyusuan dan penyuntingan.

Tidak dipungkiri bahwa banyak buku-buku sejarah yang mengungkapkan perikehidupan para shahabat termasuk sejarah khulafa’ur rasyidin, ridwanullahu ‘alahim ajma’in. Akan tetapi sekarang ini amat langka buku yang bercerita tentang keutamaan shahabat nabi yang bersih dari syubhat-syubhat khawarij maupun (syi’ah) rafidhah. Di samping itu banyak juga buku-buku sejarah yang memutar balikkan fakta, khususnya yang dikarang oleh selain ulama ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Di lain fihak di dalam buku-buku sejarah yang ada, sebagian penulisnya mengomentari perselisihan yang terjadi di antara para shahabat dengan komentar yang tidak semestinya. Setiap penulis tentunya membawa misi masing-masing dan mengetengahkan ide dan pemikirannya sendiri. Sehingga muncullah kesan negatif terhadap sebagian shahabat nabi. dan satu hal lagi adalah mereka kurang hati-hati dalam mencantumkan riwayat. Banyak sekali riwayat yang tidak jelas asal-usulnya mereka jadikan sebagai sandaran sejarah dan mereka jadikan sebagai tolok ukur dalam memberi penilaian.

Selengkapnya: E-book : Al-Bidayah Wan Nihayah