kategori-buku

Pembahasan Kitab Tauhid

18 Okt 2011
Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan dan Team Ahli Tauhid

 

Bila kita hendak menanam jagung, maka kita harus membersih-kan terlebih dahulu rumput-rumput, ilalang dan bebatuan di lahan yang akan kita tanami. Itulah penafian. Lalu kita tanam bibit jagung. Itulah itsbat (penetapan). Insya Allah dengan demikian akan menghasilkan panen yang baik. Demikian tamsil kehidupan untuk memudahkan pemahaman kita tentang perlunya memberantas segala bentuk kemusyrikan, khurafat, bid'ah dan sejenisnya lalu menetapkan tauhid yang murni. Insya Allah dengan demikian akan membentuk mukmin yang teguh imannya.

Buku ini di hadapan pembaca, adalah di antara buku terbaik dalam pembahasan tauhid menurut paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah untuk kalangan masyarakat umum. Ia sarat dengan pembahasan tauhid yang sangat perlu diketahui oleh umat Islam. Pembahasannya padat, sistematis/manhaji dan menyeluruh. Buku ini adalah jilid pertama dari tiga jilid buku yang disusun. Insya Allah dengan memahami buku ini, wawasan tauhid kita akan menjadi luas dan lurus. Maka, buku ini sangat baik untuk materi pengajaran tauhid di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, masjid-masjid, majelis-majelis ta'lim, halaqah-halaqah ilmu, atau untuk bacaan pribadi. Karena itu tidak mengherankan jika edisi bahasa Arab buku ini menjadi materi terpilih dalam Daurah nasional tentang materi dan metodologi pengajaran tauhid pada tanggal 7-12 Rabi'ul Awal 1419 H/1-15 Juli 1998 M di salah satu Pondok Pesantren di Bogor.

Edisi berbahasa Arab buku ini juga telah dijadikan kurikulum tauhid di puluhan pesantren di Indonesia. Dan terjemahannya yang kini ada di tangan pembaca telah ditetapkan sebagai kurikulum kajian Islam jarak jauh oleh Yayasan al-Sofwa Jakarta yang pesertanya dari seluruh pelosok tanah air. Dan tentu, ia juga akan menjadi referensi penting bidang akidah dan koleksi kepustakaan Anda.

 

Kitab Tauhid Jilid 1

 

tauhid1

1. Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

Aqidah Secara Etimologi

Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara’

Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari’at terbagi menjadi dua: i’tiqadiyah dan amaliyah.

I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i’tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya.” (Al-Kahfi: 110)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …” (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

2. Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah

Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalam­nya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Oleh karena itu manhaj Salafus Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sun­nah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya dan men­gamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i’tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama’ah mereka juga satu.

Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, …” (Ali Imran: 103)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang­siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah men­jadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab: “Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR. Ahmad)

Kebenaran sabda baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Kitab dan Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi maka ter­jadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

3. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekali pun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah.

Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah shahihah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

”Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (Al-Mu’minun: 51)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud’, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (Saba’: 10-11)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki aqidah shahihah.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita ketahui yaitu:

  1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau ke­balikannya.Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar Radhiallaahu anhu :
    “Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.”
  2. Ta’ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekali pun hal itu benar. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) ne­nek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)
  3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam ma­salah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki se­berapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah.
  4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfa­atan maupun menolak kemudharatan.Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka bertaqarrub kepada kuburan para wali itu dengan he­wan qurban, nadzar, do’a, istighatsah dan meminta pertolongan.Seba­gaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” [1] (Nuh: 23)Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung-pengagung kubu­ran di berbagai negeri sekarang ini.
  5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang ter­hampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam KitabNya (ayat-ayat Qur’aniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan se­luruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata.Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)Dan sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong: “Ini adalah hakku …” (Fushshilat: 50)”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepinta­ranku”. (Az-Zumar: 49)Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta mengfungsikannya demi kepentingan manusia.

    “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (Ash-Shaffat: 96)

    “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, …” (Al-A’raf: 185)

    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menu­runkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menunduk­kan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu ma­lam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Ibrahim: 32-34)

Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pen­garahan yang benar (menurut Islam). Padahal baginda Rasulullah telah bersabda: “Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang-tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)

Jadi, orangtua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata.

Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

Cara menanggulangi penyimpangan di atas teringkas dalam point-point berikut ini:

  1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk mengambil aqidah shahihah. Sebagaimana para Salaf Shalih mengambil aqidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat memper­baiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.
  2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini. Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Sedangkan kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.
  3. Menyebar para da’i yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil.

[1] Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama berhala-berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nabi Nuh, yang semula nama-nama orang shalih. (Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI. pen.).

4. Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan si­fat-sifatNya.

Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: tauhid rububi­yah, tauhid uluhiyah serta tauhid asma’ wa sifat. Setiap macam dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya.

Pertama: Tauhid Rububiyah

Yaitu mengesakan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Allah menciptakan segala sesuatu …” (Az-Zumar: 62)

Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, bina­tang dan makhluk lainnya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, …” (Hud: 6)

Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur seme­sta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Eng­kau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala ke­bajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali Imran: 26-27)

Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah …” (Luqman: 11)

“Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?” (Al-Mulk: 21)

Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Ma­hasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ber­takwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi ti­dak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Ka­takanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu di­tipu?” (Al-Mu’minun: 86-89)

Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah: Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan ter­hadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (Ibrahim: 10)

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa Alaihissalam kepadanya: Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (Al-Isra’: 102)

Ia juga menceritakan tentang Fir’aun dan kaumnya: “Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombon­gan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.” (An-Naml: 14)

Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena ke-sombongannya. Akan tetapi pada hakikatnya, secara diam-diam batin mereka meyakini bahwa tidak ada satu makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak ada satu benda pun kecuali ada yang mem­buatnya, dan tidak ada pengaruh apa pun kecuali pasti ada yang mempenga-ruhinya.

Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (Ath-Thur: 35-36)

Perhatikanlah alam semesta ini, baik yang di atas maupun yang di bawah dengan segala bagian-bagiannya, anda pasti mendapati semua itu menunjukkan kepada Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka mengingkari dalam akal dan hati terhadap pencipta semua itu, sama halnya mengingkari ilmu itu sendiri dan mencampakkannya, keduanya tidak berbeda.

Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang komunis saat ini hanyalah karena kesombongan dan penolakan terhadap hasil renungan dan pemikiran akal sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.

5. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur’an Dan As-Sunnah

Rabb adalah bentuk mashdar, yang ber­arti “mengembang­kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna”. Jadi Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk.

Adapun jika di-idhafah-kan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Rabb semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)

“Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang da­hulu”. (Asy-Syu’ara: 26)

Dan di antaranya lagi adalah perkataan Nabi Yusuf Alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan men­jadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya.” (Yusuf: 42)

Dan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Kembalilah kepada tuanmu …” (Yusuf: 50)

“Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar …” (Yusuf: 41)

Rasulullah bersabda dalam hadits “Unta yang hilang”: “Sampai sang pemilik menemukannya”. Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Tuhan Allah Penguasa semesta alam” atau “Tuhan manusia”.

Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah kecuali jika di-idhafah-kan, misalnya: tuan rumah atau pemilik unta dan lainnya. Makna “Rabbal ‘alamiin” adalah Allah Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus dan Pembimbing mereka dengan segala nikmat-Nya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitab-Nya dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa konsekuensi rububiyah ada­lah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang ber­buat baik dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejaha­tannya. [1]

Pengertian Rabb Menurut Pandangan Umat-Umat Yang Sesat

Allah Subhannahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah mengakui tauhid serta mengetahui Rabb Sang Pencipta. Firman Allah: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia ti­dak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al-A’raf: 172)

Jadi mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri. Sedangkan syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda Rasul bersabda: “Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tu­a-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan penyimpangan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Maksudnya, memalingkan mereka kepada berhala-berhala dan menjadikan mereka itu sebagai tuhan selain Allah. Maka mereka jatuh dalam kesesatan, keterasingan, perpecahan dan perbedaan; karena masing-masing kelompok memiliki tuhan sendiri-sendiri. Sebab, ketika mereka berpaling dari Tuhan yang hak, maka mereka akan jatuh ke dalam tuhan-tuhan palsu.

Sebagaimana firman Allah: “Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan ke­sesatan.” (Yunus: 32)

Kesesatan itu tidak memiliki batas dan tepi. Dan itu pasti terjadi pada diri orang-orang yang berpaling dari Allah Subhannahu wa Ta’ala . FirmanNya: “… manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (Yusuf: 39-40)

Dan syirik dalam tauhid rububiyah, yakni dengan menetapkan adanya dua pencipta yang serupa dalam sifat dan perbuatannya, adalah mustahil. Akan tetapi sebagian kaum musyrikin meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka memiliki sebagian kekuasaan dalam alam semesta ini. Setan telah mempermainkan mereka dalam menyembah tuhan-tuhan tersebut, dan setan mempermainkan setiap kelompok manusia berdasarkan kemampuan akal mereka.

Ada sekelompok orang yang diajak untuk menyembah orang-orang yang sudah mati dengan jalan membuat patung-patung mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh Alaihissalam. Ada pula sekelompok lain yang membuat berhala-berhala dalam bentuk planet-planet. Mereka menganggap planet-planet itu mempunyai pengaruh terhadap alam semesta dan isinya.

Maka mereka membuatkan rumah-rumah untuknya serta memasang juru kuncinya. Mereka pun berselisih pandang tentang penyembahannya; ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan dan ada pula yang menyembah planet-planet lain, sampai mereka membuat piramida-piramida, dan masing-masing planet ada piramidanya sendiri-sendiri. Ada pula golongan yang menyembah api, yaitu kaum Majusi.

Juga ada kaum yang menyembah sapi, seperti yang ada di India; ke­lompok yang menyembah malaikat, kelompok yang menyembah po­hon-pohon dan batu besar. Juga ada yang menyembah makam atau kuburan yang dikeramatkan. Semua ini penyebabnya karena mereka membayangkan dan menggambarkan benda-benda tersebut mempunyai sebagian dari sifat-sifat rububiyah. Ada pula yang menganggap berhala-berhala itu mewakili hal-hal yang ghaib.

Imam Ibnul Qayyim berpendapat: “Pembuatan berhala pada mulanya adalah penggambaran ter­hadap tuhan yang ghaib, lalu mereka membuat patung berdasarkan bentuk dan rupanya agar bisa menjadi wakilnya serta mengganti kedudukannya. Kalau tidak begitu, maka sesungguhnya setiap orang yang berakal tidak mungkin akan memahat patung dengan tangannya sendiri kemudian meyakini dan mengatakan bahwa patung pahatannya sendiri itu adalah tuhan sembahannya.” [2]

Begitu pula para penyembah kuburan, baik dahulu maupun sekarang, mereka mengira orang-orang mati itu dapat membantu mereka, juga dapat menjadi perantara antara mereka dengan Allah dalam pemenuhan hajat-hajat mereka. Mereka mengatakan: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

Sebagaimana halnya sebagian kaum musyrikin Arab dan Nasrani mengira tuhan-tuhan mereka adalah anak-anak Allah. Kaum musyrikin Arab menganggap malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Orang Nasrani menyembah Isa Alaihissalam atas dasar anggapan ia sebagai anak laki-laki Allah.

Sanggahan Terhadap Pandangan Yang Batil Di Atas Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menyanggah pandangan-pandangan tersebut:

  1. Sanggahan terhadap para penyembah berhala:
    “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengang­gap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (An-Najm: 19-20)Tafsir ayat tersebut menurut Imam Al-Qurthubi, “Sudahkah eng­kau perhatikan baik-baik tuhan-tuhan ini. Apakah mereka bisa men­datangkan manfaat atau madharat, sehingga mereka itu dijadikan se­bagai sekutu-sekutu Allah?”

    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apakah yang kamu sem­bah?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya’. Berkata Ibrahim: ‘Apa­kah berhala-berhala itu mendengar (do’a) mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka men­jawab: ‘(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian’.” (Asy-Syu’ara: 69-74)

    Mereka sepakat, berhala-berhala itu tidak bisa mendengar permo­honan, tidak bisa mendatangkan manfaat dan madharat. Akan tetapi mereka menyembahnya karena taklid buta kepada nenek moyang mereka. Sedangkan taklid adalah hujjah yang batil.

  2. Sanggahan terhadap penyembah matahari, bulan dan bintang.
    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bin­tang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya.” (Al-A’raf: 54)”Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah.” (Fushshilat: 37)
  3. Sanggahan terhadap penyembah malaikat dan Nabi Isa atas dasar anggapan sebagai anak Allah.
    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
    “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, …” (Al-Mu’minun: 91)
    “Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempun­yai isteri.” (Al-An’am: 101)
    “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 3-4)

[1] Lihat Madarijus Salikin, I, hal. 68.
[2] Ighatsatul Lahfan, II, hal. 220.

6. Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah

Sesungguhnya alam semesta ini: langit, bumi, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia seluruh-nya tunduk kepada Allah dan patuh kepada perintah kauniyah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa …” (Ali Imran: 83)

“… bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadaNya.” (Al-Baqarah: 116)

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (An-Nahl: 49)

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gu-nung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan seba-gian besar daripada manusia?” (Al-Hajj: 18)

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Ar-Ra’d: 15)

Jadi seluruh benda alam semesta ini tunduk kepada Allah, patuh kepada kekuasaanNya, berjalan menurut kehendak dan perintahNya. Tidak satu pun makhluk yang mengingkariNya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna.

Penciptanya sama sekali tidak memiliki sifat kurang, lemah dan cacat. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya ber-tasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Al-Isra’: 44)

Jadi seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah Allah. Semuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, baik secara keadaan maupun ucapan. Orang yang berakal pasti semakin merenungkan makhluk-makhluk ini, semakin yakin itu semua diciptakan dengan hak dan untuk yang hak. Bahwasanya ia diatur dan tidak ada pengaturan yang keluar dari aturan Penciptanya. Semua meyakini Sang Pencipta dengan fitrahnya.

Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka tunduk menyerah, pasrah dan terpaksa dari berbagai segi”, di antaranya:

  1. Keyakinan bahwa mereka sangat membutuhkanNya.
  2. Kepatuhan mereka kepada qadha’, qadar dan kehendak Allah yang ditulis atas mereka.
  3. Permohonan mereka kepadaNya ketika dalam keadaan darurat atau terjepit.

Seorang mukmin tunduk kepada perintah Allah secara ridha dan ikhlas. Begitu pula ketika mendapatkan cobaan, ia sabar menerima-nya. Jadi ia tunduk dan patuh dengan ridha dan ikhlas.” [1] Sedangkan orang kafir, maka ia tunduk kepada perintah Allah yang bersifat kauni (sunnatullah).

Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda adalah ketundukan mereka kepada Allah. Dan masing-masing benda bersujud menurut kesesuaiannya, yaitu suatu sujud yang sesuai dengan kon­disinya serta mengandung makna tunduk kepada Ar-Rabb. Dan ber­tasbihnya masing-masing benda adalah hakikat, bukan majaz, dan itu sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 83)

Dengan mengatakan, “Allah Subhannahu wa Ta’ala menyebutkan ketundukan benda-benda secara sukarela dan terpaksa, karena seluruh makhluk wajib beribadah kepadaNya dengan penghambaan yang umum, tidak peduli apakah ia mengakuiNya atau mengingkariNya. Mereka semua tunduk dan diatur. Mereka patuh dan pasrah kepadaNya secara rela maupun terpaksa.”[2]

Tidak satu pun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir dan qadhaNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam. Semua milikNya. Dia bebas berbuat terhadap ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya. Semua adalah ciptaanNya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan dan dikendalikanNya. Dialah Yang Mahasuci, Mahaesa, Mahaperkasa, Pencipta, Pembuat dan Pembentuk.

[1] Majmu’ Fatawa, I, hal. 45.
[2] Majmu’ Fatawa, X, hal. 200.

7. Manhaj Al-Qur’an Dalam Menetapkan Wujud dan Keesaan Al-Khaliq

Manhaj Al-Qur’an dalam menetapkan wujud Al-Khaliq serta kee­saanNya adalah satu-satunya manhaj yang sejalan dengan fitrah yang lurus dan akal yang sehat. Yaitu dengan mengemukakan bukti-bukti yang benar, yang membuat akal mau menerima dan musuh pun menyerah.

Di antara dalil-dalil itu adalah:

1. Sudah menjadi kepastian, setiap yang baru tentu ada yang mengadakan.

Ini adalah sesuatu yang dimaklumi setiap orang melalui fitrah, bahkan hingga oleh anak-anak. Jika seorang anak dipukul oleh seseorang ketika ia tengah lalai dan tidak melihatnya, ia pasti akan berkata, “Siapa yang telah memukulku?” Kalau dikatakan kepadanya, “Tidak ada yang memukulmu”, maka akalnya tidak dapat menerima-nya. Bagaimana mungkin ada pukulan tanpa ada yang melakukannya. Kalau dikatakan kepadanya, “Si Fulan yang memukulmu”, maka kemungkinan ia akan menangis sampai bisa membalas memukulnya.

Karena itu Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath-Thur: 35)

Ini adalah pembagian yang membatasi, yang disebutkan Allah dengan shighat istifham inkari (bentuk pertanyaan menyangkal), guna menjelaskan bahwa mukadimah ini sudah merupakan aksioma (ke­benaran yang nyata), yang tidak mungkin lagi diingkari.

Dia berfir­man, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun?” Maksudnya tanpa pencipta yang menciptakan mereka, ataukah mereka mencipta­kan diri mereka sendiri? Tentu tidak. Kedua hal itu sama-sama batil. Maka tidak ada kemungkinan lain kecuali mereka mempunyai pen­cipta yang menciptakan mereka yaitu Allah Subhannahu wa Ta’ala, dan tidak ada lagi pencipta lainNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah …” (Luqman: 11)
“… perlihatkan kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi …” (Al-Ahqaf: 4)
“… apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaanNya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa”. (Ar-Ra’d: 16)
“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali ti­dak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka ber­sa-tu untuk menciptakannya.” (Al-Hajj: 73)
“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (An-Nahl: 20)
“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 17)

Sekalipun sudah ditantang berulang-ulang seperti itu, namun ti­dak seorang pun yang mengaku bahwa dia telah menciptakan sesuatu. Pengakuan atau dakwaan saja tidak ada, apalagi menetapkan dengan bukti. Jadi, ternyata benar hanya Allah-lah Sang Pencipta, dan tidak ada sekutu bagiNya.

2. Teraturnya semua urusan alam, juga kerapiannya adalah bukti paling kuat yang menunjukkan bahwa pengatur alam ini hanyalah Tuhan yang satu, yang tidak bersekutu atau pun berseteru.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicipta­kannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.” (Al-Mu’minun: 91)

Tuhan yang hak harus menjadi pencipta sejati. Jika ada tuhan lain dalam kerajaannya, tentu tuhan itu juga bisa mencipta dan berbuat. Ketika itu pasti ia tidak akan rela adanya tuhan lain bersamanya. Bahkan, seandainya ia mampu mengalahkan temannya dan menguasai sendiri kerajaan serta ketuhanan, tentu telah ia lakukan.

Apabila ia ti­dak mampu mengalahkannya, pasti ia hanya akan mengurus kerajaan miliknya. Sebagaimana raja-raja di dunia mengurus kerajaannya sendiri-sendiri. Maka terjadilah perpecahan, sehingga harus terjadi salah satu dari tiga perkara berikut ini:

  1. Salah satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam sendirian.
  2. Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan penciptaan, sehingga terjadi pembagian (kekuasaan).
  3. Kedua-duanya berada dalam kekuasaan seorang raja yang bebas dan berhak berbuat apa saja terhadap keduanya. Dengan demikian maka dialah yang menjadi tuhan yang hak, sedangkan yang lain adalah hambanya.

Dan kenyataannya, dalam alam ini tidak terjadi pembagian (kekuasaan) dan ketidakberesan. Hal ini menunjukkan pengaturnya adalah Satu dan tak seorang pun yang menentangNya. Dan bahwa Ra­janya adalah Esa, tidak ada sekutu bagiNya.

3. Tunduknya makhluk-makhluk untuk melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri serta mematuhi peran yang diberikanNya.

Tidak ada satu pun makhluk yang membangkang dari melaksanakan tugas dan fungsinya di alam semesta ini. Inilah yang dijadikan hujjah oleh Nabi Musa Alaihissalam ketika ditanya Fir’aun: “Berkata Fir’aun: ‘Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa? Musa berkata: ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian member­inya petunjuk’.” (Thaha: 49-50)

Jawaban Musa sungguh tepat dan telak, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk ke­jadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” Maksudnya, Tuhan kami yang telah menciptakan semua makhluk dan memberi masing-masing makhluk suatu ciptaan yang pantas untuknya; mulai dari ukuran, be-sar, kecil dan sedangnya serta seluruh sifat-sifatnya. Kemudian menunjukkan kepada setiap makhluk tugas dan fungsinya.

Petunjuk ini adalah hidayah yang sempurna, yang dapat disaksikan pada setiap makhluk. Setiap makhluk kamu dapati melaksanakan apa yang men­jadi tugasnya. Apakah itu dalam mencari manfaat atau menolak bahaya. Sampai hewan ternak pun diberiNya sebagian dari akal yang mem-buatnya mampu melakukan yang bermanfaat baginya dan mengusir bahaya yang mengancamnya, dan juga mampu melakukan tugasnya dalam kehidupan. Ini seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya …” (As-Sajdah: 7)

Jadi yang telah menciptakan semua makhluk dan memberinya si­fat penciptaan yang baik, yang akan manusia tidak bisa mengusulkan yang lebih baik lagi, juga yang telah menunjukkan kepada kemaslahatannya masing-masing adalah Tuhan yang sebenarnya.

MengingkariNya adalah mengingkari wujud yang paling agung. Dan hal itu merupakan kecongkakan atau kebohongan yang terang-terangan. Allah memberi semua makhluk segala kebutuhannya di dunia, kemudian menunjukkan cara-cara pemanfaatannya. Dan tidak syak lagi jika Dia telah memberi setiap jenis makhluk suatu bentuk dan rupa yang sesuai dengannya.

Dia telah memberi setiap laki-laki dan perempuan bentuk yang sesuai dengan jenisnya, baik dalam pernika­han, perasaan dan unsur sosial. Juga telah memberi setiap anggota tu­buh bentuk yang sesuai untuk suatu manfaat yang telah ditentukan-Nya.

Semua ini adalah bukti-bukti nyata bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah Tuhan bagi segala sesuatu, dan Dia yang berhak disembah, bukan yang lain. “Pada setiap benda terdapat bukti bagiNya, yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa.” Kemudian, tak diragukan lagi, maksud penetapan rububiyah Allah atas makhlukNya dan keesaanNya dalam rububiyah adalah untuk menunjukkan wajibnya menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagiNya, yakni tauhid uluhiyah.

Seandainya seseorang mengakui tauhid rububiyah tetapi tidak mengimani tauhid uluhiyah, atau tidak mau melaksanakannya, maka ia tidak menjadi muslim dan bukan ahli tauhid, bahkan ia adalah kafir jahid (yang menentang). Dan tema inilah yang akan kita bahas pada pasal berikutnya, insya Allah.

8. Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah

Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dan itulah tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.

Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)

Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba.

Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah den­gan yang lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya. Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah.

Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadha­ratannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya.

Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini. Dia juga me­merintahkan RasulNya untuk ber-hujjah atas mereka seperti itu. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi ti­dak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mu’minun: 84-89)

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; …” (Al-An’am: 102)

Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56)

Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memerangi mereka.

Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, …” (Az-Zukhruf: 87)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (Az-Zukhruf: 9)

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (Yunus: 31)

Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur’an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui haki­kat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.

Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan, penghormatan, rasa takut, do’a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus kepada Allah semata. Juga secara akal, syara’ dan fitrah, tidak mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selainNya.

9. Makna Tauhid Uluhiyah, Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul

Uluhiyah adalah ibadah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat).

Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiya’: 25)

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” (Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (men-jalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11)

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sendiri bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kewajiban awal bagi setiap mukallaf adalah bersaksi laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta mengamalkannya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu…”. (Muhammad: 19)

Dan kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk Islam ada- lah mengikrarkan dua kalimah syahadat. Jadi jelaslah bahwa tauhid uluhiyah adalah maksud dari dakwah para rasul. Disebut demikian, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya, “Allah”, yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah). Juga disebut “tauhid ibadah”, karena ubudiyah adalah sifat ‘abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena keter-gantungan mereka kepadanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikias-kan, tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbedaan mendasar.

Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selainNya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya.”[1]

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa mereali-sasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. (An-Nisa’: 48, 116)

“…seandainya mereka mempersekutukan Alah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak …”. (An-Nisa’: 36)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan kamu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya …” (Al-Isra’: 23)

“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu dari Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan kamu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak …’.” (Al-An’am: 151)

[1] Majmu Fatawa, /24.

10. Makna Syahadatain, Rukun, Syarat, Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya

Pertama: Makna Syahadatain

A. Makna Syahadat “La ilaaha illallah”

Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhannahu wa Ta’ala , menta’ati hal terse-but dan mengamalkannya.

La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”.

Khabar “َLa” harus ditaqdirkan “al haq” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu ke-batilan yang nyata.

Kalimat “La ilaaha illallah” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

  1. “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”
    Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.
  2. “Tidak ada pencipta selain Allah”
    Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.
  3. “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”
    Ini juga sebagian dari makna tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup

Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) adl “tidak ada sesembahan yang hak selain Allah” seperti tersebut di atas.

B. Makna Syahadat “Anna Muhammadarrasulullah”

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

Kedua: Rukun Syahadatain

A. Rukun “Laa ilaaha illallah” ada dua:

  1. An-Nafyu (peniadaan): membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.
  2. Al-Itsbat (penetapan): menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat …” (Al-Baqarah: 256)

Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua.

Begitu pula firman Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam : “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sem-bah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. (Az-Zukhruf: 26-27)

Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

B. Rukun Syahadat Muhammadarrasulullah

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat hamba dan utusanNya. Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang pa-ling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini. “Al-’abdu” di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” (Al-Kahfi: 110)

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan se-benar-benarnya, dan karenanya Allah Subhannahu wa Ta’ala memujinya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.” (Az-Zumar: 36)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) …” (Al-Kahfi: 1)

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” (Al-Isra’: 1)

Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Persaksian untuk Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhannahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan.

Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam me-na’wil-kan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

Ketiga: Syarat-Syarat Syahadatain

A. Syarat-syarat “La ilaa ha illallah”

Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya.

Secara global tujuh syarat itu adalah:

1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).
2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Syarat Pertama: ‘Ilmu (Mengetahui). Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). (Az-Zukhruf: 86)

Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Sean-dainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

Syarat kedua: Yaqin (yakin). Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mere-ka tidak ragu-ragu …” (Al-Hujurat: 15)

Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” (HR. Al-Bukhari) Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.

Syarat Ketiga: Qabul (menerima). Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta’ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (Ash-Shafat: 35-36)

Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna laa ilaaha illallah.

Syarat keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat). Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22)

Al-’Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).

Syarat Kelima: Shidq (jujur). Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 8-10)

Syarat keenam: Ikhlas. Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itban, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Syarat ketujuh: Mahabbah (kecintaan). Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaima-na mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.

B. Syarat Syahadat “Muhammadanrasulullah”

Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang ghaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.

Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

Keempat: Konskuensi Syahadatain

A. Konsekuensi “La ilaa ha illallah”

Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala ma-cam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah. Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah.

Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya. Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid’ah. Mereka me-nolak para da’i yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah semata.

B. Konsekuensi Syahadat “Muhammadanrasulllah”

Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang di-larangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal bid’ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang.

Kelima: Yang Membatalkan Syahadatain

Yaitu hal-hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat sya-hadat itulah yang membuat seseorang masuk dalam Islam. Mengucapkan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi’ar-syi’ar Islam.

Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha’ dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul “Bab Riddah (kemurtadan)”. Dan yang terpenting adalah sepuluh hal, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.” (An-Nisa’: 48)

“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu de-ngan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Ma’idah: 72)

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain.

2. Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara. Ia berdo’a kepada mereka, meminta syafa’at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma’.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau mem-benarkan madzhab mereka, dia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah, mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir.

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sekali pun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

7. Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (barangkali yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Barangsiapa melakukan atau meridhainya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala “… sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada se-orangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya co-baan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.” (Al-Baqarah: 102)

8. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Ma’idah: 51)

9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam , seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa Alaihissalam , maka ia kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan/ melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajadah: 22)

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang ber-canda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksaNya yang pedih.”[1]

[1] Majmu’ah At-Tauhid An-Najdiyah, hal. 37-39.

11. Tasyri’

Tasyri’ adalah hak Allah Subhannahu wa Ta’ala. Yang dimaksud dengan tasyri’ adalah apa yang diturunkan Allah Subhannahu wa Ta’ala untuk hambaNya berupa manhaj (jalan) yang harus mereka lalui dalam bidang aqidah, muamalat dan sebagainya. Termasuk di dalamnya masalah penghalalan dan pengharaman.

Tidak seorang pun berwenang menghalalkan kecuali apa yang sudah dihalalkan Allah, juga tidak boleh mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan Allah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” (An-Nahl: 116)

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang ditu-runkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal’. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Allah telah melarang penghalalan dan pengharaman tanpa dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan Dia menyatakan bahwa hal itu adalah dusta atas nama Allah. Sebagaimana Dia telah memberitahu-kan bahwa siapa yang mewajibkan atau mengharamkan sesuatu tanpa dalil maka ia telah menjadikan dirinya sebagai sekutu Allah dalam hal tasyri’.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21)

Siapa yang menta’ati musyarri’ (yang membuat syari’at) selain Allah maka ia telah menyekutukan Allah. “… dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121)

Maksudnya adalah orang-orang yang menghalalkan bangkai-bangkai yang sudah diharamkan Allah. Maka siapa yang menta’ati mereka dia adalah musyrik. Sebagaimana Allah memberitahukan bahwa siapa yang menta’ati para ulama dan rahib-rahib dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka ia telah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Dia Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Ketika Adiy bin Hatim Radhiallaahu anhu mendengar ayat ini, ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berkata kepadanya: “Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya?!” Ia menjawab, “Ya. benar.” Maka beliau bersabda, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullaah berkata, “Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dan pendeta dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Karena akhir ayat tersebut berbunyi: “… padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Senada dengan itu adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguh-nya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121)

Hal ini banyak menimpa orang-orang yang bertaklid kepada ulama mereka. Karena mereka tidak melihat dalil lagi, meskipun ulama yang diikutinya itu telah menyalahi dalil. Dan ia termasuk jenis syirik ini. Maka menta’ati dan konsisten terhadap syari’at Allah serta meninggalkan syari’at-syari’at lainnya adalah salah satu keharusan dan konsekuensi dari laa ilaaha illallah. Dan hanya Allah-lah tempat kita memohon pertolongan.

12. Ibadah: Pengertian, Macam Dan Keluasan Cakupannya

A. Definisi Ibadah

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta’ala , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dazariyat: 56-58)

Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkannya; karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari’atNya.

Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari’at-kanNya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari’atNya, maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya

Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil dan membaca Al-Qur’an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya, khasyyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepadaNya, ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hu-kumNya, ridha dengan qadha’-Nya, tawakkal, mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya.

Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar-syi’ar yang biasa dikenal.

13. Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah

Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam: “Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan ta’at. Kemudian manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah yang disyari’atkan adalah sikap pertengahan. Antara meremehkan dan malas dengan sikap ekstrim serta melampaui batas.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman kepada NabiNya Shallallaahu alaihi wa Salam: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112)

Ayat Al-Qur’an ini adalah garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu dengan beristiqamah dalam melaksanakan ibadah pada jalan tengah, tidak kurang atau lebih, sesuai dengan petunjuk syari’at (sebagaimana yang diperintahkan padamu). Kemudian Dia menegaskan lagi dengan firmanNya: “Dan jangalah kamu melampaui batas.”

Tughyan adalah melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta mengada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw. Ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengetahui bahwa tiga orang dari sahabat nya melakukan ghuluw dalam ibadah, di mana seorang dari mereka berkata, “Saya puasa terus dan tidak berbuka”, dan yang kedua berkata, “Saya shalat terus dan tidak tidur”, lalu yang ketiga berkata, “Saya tidak menikahi wanita”. Maka beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

“Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ada dua golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah:

Golongan pertama: Yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syi’ar-syi’ar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah, di kantor, di toko, di bidang sosial, politik, juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya. Memang masjid mempunyai keistimewaan dan harus dipergunakan dalam shalat fardhu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan muslim, baik di masjid maupun di luar masjid.

Golongan kedua: Yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas ekstrim; yang sunnah mereka angkat sampai menjadi wajib, sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi sesat dan salah orang yang menyalahi manhaj mereka, serta menyalahkan pemahaman-pemahaman lainnya. Padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dan seburuk-buruk perkara adalah yang bid’ah.

14. Syarat Diterimanya Ibadah

Agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan ada syarat:
1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
2. Sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam .

Syarat pertama adalah konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illa-llah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepadaNya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya ta’at kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112)

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahuwa muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam.

Syaikhul Islam mengatakan: “Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, tidak dengan bid’ah.” Sebagaimana Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Pada yang pertama, kita tidak menyembah kecuali kepadaNya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad adalah utusanNya yang menyampaikan ajaranNya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta menta’ati perintahnya. Beliau telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau mengatakan bahwa bid’ah itu sesat.

*(Al-Ubudiyah, hal. 103; ada dalam Majmu’ah Tauhid, hal. 645.)

15. Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan). Rasa cinta harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:

“Dia mencintai mereka dan mereka mencintaiNya.” (Al-Ma’idah: 54)

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Dia Subhannahu wa Ta’ala berfirman menyifati para rasul dan nabiNya: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (Al-Anbiya’: 90)

Sebagian salaf berkata: “Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb (cinta) saja maka ia zindiq. Zindiq adalah istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid (pen).[1]

Siapa yang menyembahNya dengan raja’ (harapan) saja maka ia adalah murji’. Murji’ adalah orang Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman. Iman hanya dengan hati (pen.).[2]

Dan siapa yang menyembahNya hanya dengan khauf (takut) saja, maka ia adalah haruriy. Haruriy adalah orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir (pen).[3]

Siapa yang menyembahNya dengan hubb, khauf dan raja’ maka ia adalah mukmin muwahhid.” Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Risalah Ubudiyah.

Beliau juga berkata: “Dien Allah adalah menyembahNya, ta’at dan tunduk kepadaNya. Asal makna ibadah adalah adz-dzull (hina). Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna dzull dan hubb. Yakni mengandung makna dzull yang paling dalam dengan hubb yang paling tinggi kepadanya. Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya, maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya.

Dan jika ia menyukai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya, maka ia pun tidak menghamba (menyembah) kepadanya. Sebagaimana seorang ayah mencintai anak atau rekannya. Karena itu tidak cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi hendaknya Allah lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah lebih diagungkan dari segala sesuatu. Tidak ada yang berhak mendapat mahabbah (cinta) dan khudhu’ (ketundukan) yang sempurna selain Allah. Majmu’ah Tauhid Najdiyah, 542.[4]

Inilah pilar-pilar kehambaan yang merupakan poros segala amal ibadah. Ibnu Qayyim berkata dalam Nuniyah-nya: “Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepadaNya, beserta kepatuhan penyembahNya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah, perintah rasulNya. Bukan hawa nafsu dan syetan.”

Ibnu Qayyim menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah Subhannahu wa Ta’ala dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari’atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari’atkan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam itulah yang memutar orbit ibadah. Ia tidak diputar oleh bid’ah, nafsu dan khurafat.

16. Tingkatan Dien

A. Definisi Tingkatan Dien

Dien adalah keta’atan. Dien juga disebut millah, dilihat dari segi keta’atan dan kepatuhan kepada syari’at.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Sedangkan tingkatan dien itu adalah:

1. Islam
Menurut bahasa, Islam berarti masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’ Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadaNya, ta’at dan membebaskan diri dari syirik dan para pengikutnya.

2. Iman
Menurut bahasa, iman berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut syara’, berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan perbuatan dengan anggota badan.

3. Ihsan
Menurut bahasa, ihsan berarti berbuat kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji.
Dan kata-kata ihsan mempunyai dua sisi:
Pertama, Memberikan kebaikan kepada orang lain.
Kedua, Memperbaiki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikkannya.

Sedangkan ihsan menurut syara’ adalah sebagaimana yang di-jelaskan oleh baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dalam sabdanya: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak bisa melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar)

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh Allah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112)

Agama Islam mencakup ketiga istilah ini, yaitu: Islam, iman dan ihsan. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ketika datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam di hadapan para sahabatnya dan bertanya tentang Islam, kemudian tentang iman dan ihsan. Lalu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjelaskan setiap dari pertanyaan tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Inilah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan dien kalian.” Jadi Rasulullah menjadikan dien itu adalah Islam, iman dan ihsan. Maka jelaslah agama kita ini mencakup ketiga-tiganya. Dengan demikian Islam mempunyai tiga tingkatan: Pertama ada- lah Islam, kedua iman dan ketiga adalah ihsan.* (Lihat Majmu’ Fatawa, 8/10 dan 622 )

B. Keumuman dan Kekhususan dari Ketiga Tingkatan Tersebut

Islam dan iman apabila disebut salah satunya secara terpisah maka yang lain termasuk di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara keduanya ketika itu. Tetapi jika disebut keduanya secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri, sebagaimana yang ada dalam hadits Jibril.

Di mana Islam ditafsiri dengan amalan-amalan lahiriah atau amalan-amalan badan seperti shalat dan zakat. Sedangkan iman ditafsiri dengan amalan-amalan hati atau amalan-amalan batin seperti membenarkan dengan lisan, percaya dan ma’rifat kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan seterusnya.

Adapun keumuman dan kekhususan antara ketiganya ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah sebagai berikut: “Ihsan itu lebih umum dari sisi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada iman. Iman itu lebih umum dari segi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada Islam. Ihsan mencakup iman, dan iman mencakup Islam. Para muhsinin lebih khusus daripada mukminin, dan para mukmin lebih khusus dari para muslimin.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 7/10 )

Oleh karena itu para ulama muhaqqiq mengatakan, “Setiap mukmin adalah muslim, karena sesungguhnya siapa yang telah mewujudkan iman dan ia tertancap di dalam sanubarinya maka dia pasti melaksanakan amalan-amalan Islam sebagaimana yang telah disabda-kan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :
“Ingatalah sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal darah, jika ia baik maka menjadi baiklah jasad itu semuanya, dan jika ia rusak maka rusaklah jasad itu semuanya. Ingatlah, dia itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tidak setiap muslim itu mukmin, karena bisa jadi imannya sangat lemah, sehingga tidak bisa mewujudkan iman dengan bentuk yang sempurna, tetapi ia tetap menjalankan amalan-amalan Islam, maka menjadilah ia seorang muslim, bukan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Orang-orang Arab Badwi itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah: ‘Kami telah tunduk’, …” (Al-Hujurat: 14)

Mereka bukanlah orang munafik secara keseluruhan, demikian menurut yang paling benar dari dua penafsiran yang ada, yakni perkataan Ibnu Abbas dan lainnya, tetapi iman mereka lemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… dan jika kamu ta’at kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; ..” (Al-Hujurat: 14)

Maksudnya tidaklah pahala mereka dikurangi berdasarkan iman yang ada pada diri mereka yang cukup sebagai syarat untuk diterimanya amalam mereka dan diberi balasan pahala. Seandainya mereka tidak memiliki iman, tentu mereka tidak akan diberi pahala apa-apa.*(Syarah Arba’in, Ibnu Rajab, hal. 25-26.)

Maka jelaslah bahwa dien itu bertingkat, dan sebagian tingkatan-nya lebih tinggi dari yang lain. Pertama adalah Islam, kemudian naik lagi menjadi iman, dan yang paling tinggi adalah ihsan.

17. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya

A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

B. Manhaj salaf (para sahabat, tabi’in dan ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal asma’ dan sifat allah.

Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, juga af’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya. Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts maka Allah Subhannahu wa Ta’ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.

Sesungguhnya Allah adalah yang memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada batas di atasNya. Dan mustahil baginya mengalami huduts, karena mustahil bagiNya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

Madzhab salaf adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

18. Asma’ Husna Dan Sifat Kesempurnaan, Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya

Pertama: Asma’ Husna

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:

1. Menetapkan nama-nama (asma’) untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala , maka siapa yang menafikannya berarti ia telah menafikan apa yang telah ditetapkan Allah dan juga berarti dia telah menentang Allah Subhannahu wa Ta’ala .

2. Bahwasanya asma’ Allah Subhannahu wa Ta’ala semuanya adalah husna. Maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekedar nama-nama kosong yang tak bermakna atau tak mengandung arti.

3. Sesungguhnya Allah memerintahkan berdo’a dan ber-tawassul kepadaNya dengan nama-namaNya. Maka hal ini menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada do’a yang disertai nama-namaNya.

4. Bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma’Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk itu.

Ilhad menurut bahasa berarti condong. Ilhad di dalam asma’ Allah berarti menyelewengkannya dari makna-makna agung yang dikandungnya kepada makna-makna batil yang tidak dikandungnya. Sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang men-ta’wil-kannya dari makna-makna sebenarnya kepada makna yang mereka ada-adakan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik) …”. (Al-Isra’: 110)

Diriwayatkan, bahwa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam sedang mengucapkan dalam sujudnya, “Ya Allah, ya Rahman”. Maka ia berkata, “Sesungguhnya Muhammad mengaku bahwa dirinya hanya menyembah satu tuhan, sedangkan ia memohon kepada dua tuhan.”

Maka Allah menurunkan ayat ini. Demikian seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir. Maka Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk memanjatkan do’a kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya sesuai dengan keinginannya. Jika mereka mau, mereka memanggil, “Ya Allah”, dan jika mereka menghendaki boleh memanggil, “Ya Rahman” dan seterusnya.

Hal ini menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahwasanya masing-masing dari namaNya bisa digunakan untuk berdo’a sesuai dengan maqam dan suasananya, karena semuanya adalah husna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang baik).” (Thaha: 8)

“… Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Hasyr: 24)

Maka barangsiapa menafikan asma’ Allah berarti ia berada di atas jalan orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang’, mereka menjawab: ‘Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?’, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” (Al-Furqan: 60)

Dan termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: ‘Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia …’.” (Ar-Ra’d: 30)

Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah, uluhiyah, asma’ dan sifatNya. Maka hal ini menunjukkan bahwa rububiyah dan uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma’ dan sifat Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dan juga, bahwasanya sesuatu yang tidak memiliki asma’ dan sifat tidaklah layak menjadi Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).

Kedua: Kandungan Asma’ Husna Allah

Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung.

Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmah; As-Sami’ dan Al-Bashir menun-jukkan sifat mendengar dan melihat; Al-’Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas; Al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); Al-Khaliq menunjukkan Dia menciptakan; dan Ar-Razzaq menunjuk-kan Dia memberi rizki dengan jumlah yang banyak sekali.

Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan sifat dari sifat-sifatNya. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti Al-’Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.”

Ibnul Qayyim berkata, “Nama-nama Rabb Subhannahu wa Ta’ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaanNya, karena ia diambil dari sifat-sifatNya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan.

Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “Ya Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah Al-Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al-Mani’ (Yang Menolak) …” dan yang semacamnya.

Lagi pula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang DiriNya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk DiriNya dan telah ditetapkan oleh RasulNya untukNya, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mem-punyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)

Dari sini diketahui bahwa Al-Qawiy adalah salah satu nama-namaNya yang bermakna “Dia Yang Mempunyai Kekuatan”. Begitu pula firman Allah: “… Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya …” (Fathir: 10)

“Al ‘aziiz” adalah “Yang Memiliki Izzah (kemuliaan)”. Sampai akhirnya Ibnu Qoyyim berkata: “… juga seandainya asma-Nya tidak mengandung makna dan sifat maka tidak boleh mengabari tentang Allah dengan fi’il (kata kerja)nya. Maka tidak boleh dikatakan “Dia mendengar”, “Dia melihat”, “Dia mengetahui”, “Dia berkuasa” dan “Dia ber-kehendak”. Karena tetapnya hukum-hukum sifat adalah satu cabang dari ketetapan sifat-sifat itu. Jika pangkal sifat tidak ada maka mustahil adanya ketetapan hukumya.”

Ketiga: Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah

Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian:

Bagian pertama, adalah sifat dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya. Seperti ilmu, kekuasan, mendengar, melihat, kemuliaan, hikmah, ketinggian, keagungan, wajah, dua tangan, dua mata.

Bagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari Kiamat.

Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi’liy.

A. Al-qudrah (berkuasa)

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 120) “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 20)
“Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)
“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu’.” (Al-An’am: 65)
“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-kannya (hidup sesudah mati).” (Ath-Thariq: 8)

Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja, sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat ‘ajz (lemah) dan lughub (letih). Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (Fathir: 44)

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja. “Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)

Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan penglihatannya, menciptakan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrahNya yang menunjukkan keagunganNya.

B. Al-iradah (berkehendak)

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya.” (Al-Maidah: 1)
“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj: 14)
“Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya.” (Al-Buruj: 16)
“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)

Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala yakni di antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ahlus-Sunnah wal Jama’ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

a. Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat dalam ayat: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit …” (Al-An’am: 125)

Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi’ah (kehendak Allah), tidak ada bedanya antara masyi’ah dan iradah kauniyah.

b. Iradah Syar’iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

Perbedaan antara keduanya ialah:

Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyah tidak harus terjadi; bisa terjadi bisa pula tidak.

Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar’iyah hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.

Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat lainnya untuk ujian dan cobaan.

Adapun iradah syar’iyah maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahala.

C. Al-’Ilmu (Ilmu)

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata …” (Al-Hasyr: 22)
“… Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi …” (Saba’: 3)
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi.” (Al-Hujurat: 18)
“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran: 5)
“… dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah …” (Al-Baqarah: 255)
“Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)

Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)

Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)…?” (Al-Mulk: 14)

Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini dengan sangat teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu, seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) …” (Al-An’am: 59)

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (At-Taghabun: 4)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Kaum Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci. Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri.

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (Al-Mulk: 14)

D. Al-Hayat (Hidup)

Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat dengan ‘ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) …” (Al-Baqarah: 255)
“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia …” (Ghafir: 65)
“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati …” (Al-Furqan: 58)

Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah “Al-Ismul A’zham” (nama yang paling agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat fi’liyah.

Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian, tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab kelangsungan dan kebaikan.

E. As-Sam’u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa’: 58)
“… Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Thaha: 46)

Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta’ala menangkap semua suara, baik yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pendengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadalah: 1)
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” (Az-Zukhruf: 80)

Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (Al-’Alaq: 14)

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy-Syu’ara: 218-219)

“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu …’.” (At-Taubah: 105)

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Ali Imran: 5)

Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka terhadap berhala. “Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat.” (Maryam: 42)
“Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a) mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya)?” (Asy-Syu’ara: 72)

F. Al-Kalam (Berbicara)

Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ salaf dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa didengar.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.” (An-Nisa’: 87)
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122)
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisa’: 164)
“… Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) …” (Al-Baqarah: 253)
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa …” (Ali Imran: 55)
“Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).” (Maryam: 52)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa …” (Asy-Syu’ara: 10)
“Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka …” (Al-Qashash: 62)
“…supaya ia sempat mendengar firman Allah…” (At-Taubah: 6)
“…padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah…” (Al-Baqarah: 75)

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkataan), kalam (pembicaraan), nida’ (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi’liyah, karena berkaitan dengan masyi’ah dan qudrah-Nya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?” (Al-A’raf: 148)

Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

G. Al-Istiwa’ ‘Alal-’Arsy (Bersemayam Di Atas ‘Arsy)

Ia adalah termasuk sifat fi’liyah. Allah Subhannahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arsy, pada tujuh tempat di dalam kitabNya.

  1. Surat Al-A’raf: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy …” (Al-A’raf: 54)
  2. Surat Yunus: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy …” (Yunus: 3)
  3. Surat Ar-Ra’d: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy …” (Ar-Ra’d: 2)
  4. Surat Thaha: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy …” (Thaha: 5)
  5. Surat Al-Furqan: “… kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah …” (Al-Furqan: 59)
  6. Surat As-Sajdah: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy.” (As-Sajdah: 4)
  7. Surat Al-Hadid: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy …” (Al-Hadid: 4)

Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa’ datang dalam bentuk dan lafazh yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta’wil, yaitu ketinggian dan keluhuranNya di atas ‘Arsy. ‘Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk.

Sedangkan bersemayamnya Allah di atasnya ialah yang sesuai dengan keagunganNya. Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara)nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab.

H. Al-’Uluw (Tinggi) Dan Al-Fawqiyyah (Di Atas)

Dua sifat Allah yang termasuk dzatiyah adalah ketinggianNya di atas makhluk dan Dia di atas mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255)
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (Al-A’la: 1)
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.” (Al-Mulk: 16)

Maksudnya “Dzat yang ada di atas langit” apabila yang dimaksud dengan sama’ (dalam ayat tersebut) adalah langit, atau “Dzat yang di atas” jika yang dimaksud dengan sama’ adalah sesuatu yang ada di atas. Sebagaimana Dia menggambarkan tentang diangkatnya apa-apa kepadaNya: “… sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu …” (Ali Imran: 55)
“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya.” (An-Nisa’: 158)
Dan tentang shu’ud (naik)nya sesuatu kepadaNya: “… KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya.” (Fathir: 10)
Dan tentang ‘uruj (naik)nya sesuatu kepadaNya: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan …” (Al-Ma’arij: 4)
‘Uruj dan shu’ud adalah naik. Dalil-dalil semacam ini menunjuk-kan kepada ‘uluw (ketinggian) Allah di atas makhlukNya.

Begitu pula fawqiyah-Nya ditetapkan oleh berbagai dalil, di antaranya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya …” (Al-An’am: 18)
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka.” (An-Nahl: 50)

Perbedaan antara ‘uluw dan istiwa’ adalah bahwasanya ‘uluw ada-lah sifat dzat, sedangkan istiwa’ adalah sifat fi’il. ‘Uluw mempunyai tiga makna: – ‘Uluwudz-Dzat (DzatNya di atas makhluk) – ‘Uluwudz-Qahr (kekuatanNya di atas makhluk) – ‘Uluwul-Qahr (kekuasaanNya di atas makhluk). Kesemuanya itu adalah sifat yang benar untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala .

I. Al-Ma’iyyah (Kebersamaan)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah berdasarkan dalil yang banyak sekali. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (At-Taubah: 40)
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (Al-Hadid: 4)
“… sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (Thaha: 46)

Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala selalu bersama hambaNya, di mana pun mereka berada. Arti ma’iyah: Ma’iyah Allah terhadap makhlukNya ada dua macam:
Ma’iyah umum bagi semua makhlukNya. Maksudnya, pengetahuan Allah terhadap amal perbuatan hamba-hambaNya, gerakan yang zhahir dan yang batin, perhitungan amal dan pengawasan ter-hadap mereka. Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada …” (Al-Hadid: 4)

Ma’iyah khusus untuk orang-orang mukmin. Maknanya, pengawasan dan pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan dan penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuh mereka. “… “Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (Thaha: 46)
“… Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita …” (At-Taubah: 40)

Catatan Penting: Dari uraian di atas, jelaslah makna Ma’iyah Allah terhadap hambaNya bukan berarti “Allah bercampur dengan mereka melalui DzatNya”, Mahasuci Allah dari hal tersebut, karena hal itu adalah “madzhab hululiyah” yang sesat, batil dan kufur. Karena Allah di atas para hambaNya dan Maha tinggi di atas mereka, tidak bercampur DzatNya dengan mereka, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan Dia bersama mereka dengan ilmuNya, mengetahui segala hal ihwal mere-ka, mengawasi mereka dan mereka tidak sedikit pun bisa menghilang dari pandangan Allah.

Ma’iyah dapat digunakan untuk kebersamaan yang mutlak, sekali pun tidak ada sentuhan atau percampuran. Anda mengatakan, “barang/harta saya ada bersama saya”). Padahal harta tersebut ada di atas kepala anda atau di atas kendaraan anda atau di atas kuda anda. Anda mengatakan, “Kami terus saja berjalan, dan rembulan bersama kami”, padahal dia ada di langit, akan tetapi ia tetap menerangi dan tidak hilang dari pandangan anda, sedang yang sampai hanyalah cahaya dan penerangannya saja.

J. Al-Hubb (Cinta) Dan Ar-Ridha (Ridha)

Ia adalah dua sifat yang tetap bagi Allah dan termasuk sifat fi’liyah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin …” (Al-Fath: 18)
“… Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terha-dapNya …” (Al-Maidah: 119)
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (An-Najm: 26)
“… maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya …” (Al-Maidah: 54)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)
“… sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Dalam ayat-ayat ini terdapat ketetapan adanya sifat mahabbah dan ridha bagi Allah. Bahwasanya Dia mencintai sebagian manusia dan meridhai mereka. Dan Dia mencintai sebagian amal dan akhlak, yaitu cinta dan ridha yang hakiki yang sesuai dengan keagunganNya Yang Mahasuci.

Tidak seperti cintanya makhluk untuk makhluk atau ridhanya. Di antara buah cinta dan ridha ini ialah terwujudnya taufiq dan pemuliaan serta pemberian nikmat kepada hamba-hambaNya yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan bahwa terwujudnya cinta dan ridha dari Allah untuk hambaNya adalah dikarenakan amal shalih yang di antaranya adalah takwa, ihsan dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi …” (Ali Imran: 31)
“Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan melaksanakan ibadah-ibadah ‘sunnah’ sehingga Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari)

K. As-Sukhtu (Murka) Dan Al-Karahiyah (Benci)

Sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang mukmin dan meridhainya, maka Dia juga memurkai orang-orang kafir dan munafik, membenci mereka dan membenci amal perbuatan mereka.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka …” (Al-Ma’idah: 80)
“… tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka …” (At-Taubah: 46)

Murka dan benci adalah dua sifat yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Di antara dampak dari keduanya adalah terjadinya berbagai musibah dan siksaan terhadap orang-orang yang dimurkaiNya dan dibenci perbuatannya.

L. Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadaani (Dua Tangan) Dan Al-’Ainaani (Dua Mata)

Ini adalah sifat-sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagunganNya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.” (Al-Qashash: 88)

Dua ayat tersebut menekankan wajah untuk Allah. Kita menetapkannya untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala sesuai dengan keagunganNya sebagaimana Dia sendiri menetapkan untukNya. Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (Al-Ma’idah: 64)
“… apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. …”. (Shaad: 75)

Dua ayat tersebut menetapkan dua tangan untuk Allah. Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, …” (Ath-Thur: 48)
“Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami …” (Al-Qamar: 14)
“… dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu.” (Thaha: 39)

Disebutkan lafazh ‘ain (mata) dan a’yun (beberapa mata) sesuai dengan apa yang disandarkan kepadanya, berbentuk tunggal atau jamak sesuai dengan ketentuan bahasa Arab. Dan disebutkan dalam sunnah yang suci sesuatu yang menunjukkan makna tatsniyah (dua).

Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda ketika menyifati Dajjal yang mengaku sebagai tuhan, “Sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta sebelah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini jelas, bahwa maksudnya bukanlah menetapkan satu mata, karena mata yang sebelah jelas cacat (buta). Mahasuci dari hal yang demikian. Maka dalam ayat-ayat dan hadits tersebut terdapat penetapan terhadap dua mata bagi Allah, sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain.

M. Al-’Ajab (Heran)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya, sebagaimana yang ada dalam beberapa nash-nash shahih dan sharih (jelas). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Tuhan kita merasa heran terhadap keputus asaan hamba-hambaNya padahal telah dekat perubahan (keadaan dari kesulitan kepada kemudahan) olehNya. Dia melihat kepadamu yang dalam keadaan sempit (susah) dan berputus asa. Dia pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolonganNya untukmu adalah dekat.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Dalam hadits ini terdapat sifat heran dan tertawa, yaitu dua sifat Allah dari sifat-sifat fi’liyah-Nya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain. Tidaklah keherananNya sama dengan keheranan makhluk, dan tidaklah pula tertawaNya sama dengan tertawanya makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya.

N. Al-Ityan Dan Al-Maji’ (Datang)

Keduanya adalah sifat fi’liyah Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dia berfirman: “Janganlah (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajr: 21-22)
“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, …” (Al-Baqarah: 210)
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. …” (Al-An’am: 158)

Ayat-ayat tersebut menetapkan sifat ityan dan maji’ bagi Allah yaitu datang dengan DzatNya secara sebenarnya untuk memutuskan hukum antara hamba-hambaNya pada hari Kiamat, sesuai dengan ke-agunganNya. Sifat datang dan mendatangi itu tidak sama dengan sifat makhluk. Mahasuci Allah dengan hal itu.

15. Al-Farah (Gembira)

Al-Farah adalah sifat yang tetap bagi Allah. Ia merupakan salah satu dari sifat fi’liyah-Nya sesuai dengan keagunganNya. Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwasanya Allah sangat bergembira karena taubat seorang hambaNya. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
“Allah amat gembira karena taubat hamba melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian karena (telah menemukan) kendaraannya (kembali).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kegembiraan Allah ini adalah kegembiraan berbuat baik dan sayang, bukan kegembiraan seorang yang membutuhkan kepada taubat hambaNya yang bisa diambil manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ketaatan hambaNya. Akan tetapi Dia bergembira untuk itu karena kebaikanNya, sayangNya dan anugerahNya kepada pada hambaNya yang mukmin; sebab Dia mencintai dan menginginkan kebaikan serta keselamatan hamba dari siksaan-Nya.

Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah menyalahi AhlusSunnah wal Jama’ah dalam hal sifat-sifat Allah.
Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta’wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta’wil yang batil. Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lainNya).

Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut mereka- atau harus di-ta’wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.

Bantahan Terhadap Mereka
1. Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …” (Al-A’raf: 3)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin se-sudahku.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)
Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; …” (Al-Hasyr: 7)

Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi’in dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak berselisih sedikit pun di dalamnya. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Manusia banyak berselisih pendapat dalam banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan para sahabat dan tabi’in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan imrar (membiarkan apa adanya) disertai dengan pemahaman makna-makna lafazh-nya bahwa hal tersebut telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah dan RasulNya menjelaskan dengan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa ahlul ilmi.”

Sedangkan Rasulullah telah bersabda, “Kewajiban kalian adalah mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin.” Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.

2. Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta’wil-nya (penyerahan makna kepada Allah), tentu Allah dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang kita tidak paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah Mahasuci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam RasulNya adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.

3. Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Sesungguhnya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma’dum (sesuatu yang tidak ada).

Maka barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan untuk diriNya, berarti ia telah mencampakkan sifat-sifat Allah, telah membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.

4. Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya. Makhluk mempunyai sifat-sifat khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.

Jika dikatakan, “Sesungguhnya ‘Arsy itu adalah sesuatu yang wujud” dan “sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud”, ini tidak mengharuskan keduanya sama dalam “sesuatu dan wujud”, juga dalam hakikat dan kaifiyat. Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.

5. Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.

6. Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah kesempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.

7. Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu. Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?

8. Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi keempat syarat berikut ini:
a. Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan di-ta’wil-kan kepadanya.
b. Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahir-nya kepada makna yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahir-nya.
c. Menjawab dalil-dalil yang bertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya mendakwakan ta’wil.
d. Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya. Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat tersebut.

19. Buah Tarbiyah Tauhid Asma’ Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat

Sesungguhnya iman dengan asma’ dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu’amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.

A. Pengaruhnya Dalam Bermu’amalah Dengan Allah

Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifatNya, juga menge-tahui madlul (arti dan maksud)nya secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu’ kepadaNya, takut dan mengharapkanNya, tunduk dan memohon kepadaNya serta bertawassul kepadaNya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.

Sebagaimana Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu …” (Al-A’raf: 180)

Jika ia mengetahui bahwa Rabb-nya sangat dahsyat adzabNya, Dia bisa murka, Mahakuat, Mahaperkasa dan Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia kehendaki, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak satu pun terlepas dari ilmuNya, maka hal itu akan membuatnya ber-muraqabah (merasa diawasai Allah), takut dan menjauhi maksiat terhadapNya.

Jika ia mengetahui Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang, Mahakaya, Mahamulia, senang pada taubat hambaNya, mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat, maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabb-nya dan tidak akan berputus asa dari rahmatNya.

Jika ia mengetahui Allah adalah yang memberi nikmat, yang menganugerahi, dan yang hanya di tanganNya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segalanya, Dia yang memberi rizki, membalas dengan kebaikan, dan memuliakan hambaNya yang mukmin, maka hal itu akan membawanya pada mahabbah kepada Allah dan ber-taqarrub kepadaNya serta mencari apa yang ada di sisiNya dan akan berbuat baik kepada sesamanya.

B. Pengaruhnya Dalam Bermu’alah Dengan Makhluk

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah adalah Hakim yang Mahaadil, tidak menyukai kezhaliman, kecurangan, dosa dan permu-suhan; dan Dia Maha Membalas dendam terhadap orang-orang zhalim atau orang-orang yang melampaui batas atau orang-orang yang ber-buat kerusakan, maka ia pasti akan menahan diri dari kezhaliman, dosa, kerusakan dan khianat.

Dan dia akan berbuat adil atau obyektif sekali pun terhadap dirinya sendiri, juga akan bergaul dengan teman-temannya dengan akhlak yang baik. Dan masih banyak lagi pengaruh-pengaruh terpuji lainnya karena mengetahui nama-nama Allah dan beriman kepadaNya.

Demikianlah, Allah memperkenalkan DiriNya dengan nama-nama itu agar hambaNya mengenalNya dan memohon kepadaNya sesuai dengan isi kandungannya dan agar berbuat baik kepada hamba-Nya yang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Sayangilah orang yang ada di bumi, maka engkau akan disa-yangi oleh yang ada di langit.”

Wabillahit-taufiq wal hidayah.

20. Al-Wala’ Wal Bara'

Definisi al-wala’ wal bara’

Wala’ adalah kata mashdar dari fi’il “waliya” yang artinya dekat. Yang dimaksud dengan wala’ di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka.

Sedangkan bara’ adalah mashdar dari bara’ah yang berarti memutus atau memotong. Maksudnya di sini ialah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.

Kedudukan Al-Wala’ Wal Bara’ Dalam Islam

Di antara hak tauhid adalah mencintai ahlinya yaitu para muwahhidin, serta memutuskan hubungan dengan para musuhnya yaitu kaum musyrikin. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beri-man menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 55-56)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka men-jadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia …” (Al-Mumtahanah: 1)
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pe-lindung bagi sebagian yang lain.” (Al-Anfal: 73)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah tentang wajibnya loyalitas kepada orang-orang mukmin, dan memusuhi orang-orang kafir; serta kewajiban menjelaskan bahwa loyal kepada sesama umat Islam adalah ke-bajikan yang amat besar, dan loyal kepada orang kafir adalah bahaya besar.

Kedudukan al-wala’ wal bara’ dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam: “Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ibnu Jarir)

Dan dengan al-wala’ wal bara’-lah kewalian Allah dapat tergapai. Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu: “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Allah hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak shalat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir)

Maka jelaslah bahwa menjalin wala’ atau loyalitas dan ukhuwah selain karena Allah tidak ada gunanya di sisi Allah Subhannahu wa Ta’ala .

21. Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala’ wal bara’

Mudahanah dan kaitannya dengan al-wala’ wal bara’

Mudahanah artinya berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, bermurah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah.

Kaitan mudahanah dengan al-wala’wal bara’ tampak dari arti dan definisi yang kita paparkan tersebut, yaitu meninggalkan pengingkaran terhadap orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya. Bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka dan berpura-pura baik kepada mereka.

Hal ini berarti meninggalkan cinta karena Allah dan permusuhan karena Allah. Bahkan ia semakin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak. Maka orang penjilat atau mudahin seperti ini termasuk dalam firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).” (Al-Ma’idah: 78-80)

Mudarah serta pengaruhnya terhadap al-wala’ wal bara’

Mudarah adalah menghindari mafsadah (kerusakan) dan kejahatan dengan ucapan yang lembut atau meninggalkan kekerasan dan sikap kasar, atau berpaling dari orang jahat jika ditakutkan kejahatannya atau terjadinya hal yang lebih besar dari kejahatan yang sedang dilakukan.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sejahat-jahat kamu adalah orang-orang yang ditakuti manusia karena mereka khawatir akan kejahatannya.” (HR. Ibnu Abu Dunya dengan redaksi senada)

Dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwasanya seorang laki-laki meminta izin masuk menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, seraya berkata, “Dia saudara yang jelek dalam keluarga”. Kemudian ketika orang itu masuk dan menghadap Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau berkata kepadanya dengan ucapan yang lembut. Maka Aisyah berkata, “Engkau tadi berkata tentang dia seperti apa yang engkau katakan”. Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah membenci ‘fuhsy’ (ucapan keji) dan ‘tafahuhusy’ (berbuat keji).” (HR. Ahmmad dalam Musnad)

Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah berbuat mudarah dengan orang tadi ketika dia menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam -padahal orang itu jahat- karena beliau menginginkan kemaslahatan agama. Maka hal itu menunjukkan bahwa mudarah tidak bertentangan dengan al-wala’ wal bara’, kalau memang mengandung kemaslahatan lebih banyak dalam bentuk menolak kejahatan atau menundukkan hatinya atau memperkecil dan memeperingan kejahatan.

Ini adalah salah satu metode dalam berdawah kepada Allah. Termasuk di dalamnya adalah mudarah Nabi terhadap orang-orang munafik karena khawatir akan kejahatan mereka dan untuk menundukkan hati mereka dan orang lain.

22. Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah

Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah

1. Sikap Nabi Ibrahim Alaihissalam dan pengikutnya terhadap kaumnya yang kafir.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’.” (Al-Mutahanah: 4)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhannahu wa Ta’ala berkata kepada hamba-hambaNya yang mukmin yang diperintahkanNya untuk memerangi, memusuhi dan menjauhi orang-orang kafir, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia”, maksudnya adalah pengikut-pengikutnya yang mukmin. “Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah’,” maksudnya, kami melepaskan diri dari kalian dan dari tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah.

“Kami ingkari (kekafiran) mu”, maksudnya dien-mu dan jalanmu. “Dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya”, maksudnya telah disyari’atkan permusuhan dan kebencian -mulai dari sekarang- antara kami dan kalian selama kalian tetap kafir. Maka selamanya kami berlepas diri dari kalian serta membenci kalian.

“Sampai kamu beriman kepada Allah saja”, maksudnya sampai kalian mentauhidkan Allah semata, tanpa syirik dan membuang semua tuhan yang kalian sembah bersamaNya. Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa al-wala’ wal bara’ ada-lah ajaran Nabi Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikutinya.

Allah menceritakan hal tersebut agar kita mencontohnya. Dia berfirman, “Telah terdapat bagimu teladan yang baik.” Dan pada penutup ayat, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada tela-dan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi terpuji.” (Al-Mumtahanah: 6)

2. Sikap orang-orang Anshar Terhadap Saudara-sauda-ranya dari Kaum Muhajirin.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Maksudnya, orang-orang yang tinggal di Darul Hijrah, yaitu Madinah, sebelum kaum Muhajirin, dan kebanyakan mereka beriman sebelum Muhajirin, mereka mencintai dan menyayangi orang-orang yang berhijrah kepada mereka, karena kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, dengan membagikan harta benda mereka tanpa merasa iri terhadap keutamaan yang diberikan kepada Muhajirin daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri juga sangat membutuhkan. Ini adalah puncak itsar (mengutamakan saudara) dan wala’ kepada Allah terhadap para penolong Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

3. Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap kemunafikan ayahnya yang berkata dalam salah satu pertempuran.

“Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” (Al-Munafiqun: 8)

Dia menginginkan al-a’azzu (orang yang kuat) adalah dirinya sedangkan al-adzallu (yang lemah) adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Ia mengancam akan mengusir Rasulullah dari Madinah. Maka ketika hal itu didengar oleh anaknya, Abdullah, seorang mukmin yang taat dan jujur, dan dia mendengar bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ingin membunuh ayahnya yang mengucapkan kata-kata penghinaan tersebut, juga kata-kata lainnya, maka Abdullah menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya mendengar bahwa anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay, ayah saya. Jika anda benar-benar ingin melakukannya, maka saya bersedia membawa kepalanya kepada anda”. Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Bahkan kita akan bergaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal bersama kita.”

Maka tatkala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan para sahabat kembali pulang ke Madinah, Abdullah bin Abdullah berdiri menghadang di pintu kota Madinah dengan menghunus pedangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya. Maka ketika ayahnya lewat, ia berkata kepada ayahnya, “Mundur!” Ayahnya bertanya keheranan, “Ada apa ini, jangan kurang ajar kamu!” Maka ia menjawab, “Demi Allah, jangan melewati tempat ini sebelum Rasulullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz (yang mulia) dan engkau adalah adz-dzalil (yang hina).”

Maka ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam datang padahal beliau berada di pasukan bagian belakang, Abdullah bin Ubay mengadukan anaknya kepada beliau. Anaknya, Abdullah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , dia tidak boleh memasuki kota sebelum Anda mengizinkannya.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pun mengizinkannya, lalu Abdullah berkata, “Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengizinkan maka lewatlah sekarang.”

23. Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat

Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat

Penjelasan di atas adalah tentang pemberian wala’ kepada sesama mukmin sejati dan permusuhan kepada kafir sejati. Adapun golongan ketiga yaitu orang mukmin yang banyak melakukan dosa besar, pada dirinya terdapat iman dan kefasikan, atau iman dan kufur kecil yang tidak sampai pada tingkat murtad. Bagaimana hukumnya dalam hal ini?!
Jawabannya adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi wala’) dan mu’adah (dimusuhi). Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada kebaikan, melarangnya dari kemung-karan dan mengucilkannya bilamana pengucilan itu memang membu-atnya jera dan malu.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Apabila berkumpul pada diri seseorang kebaikan dan kejahatan, ketakutan dan kemaksiatan, atau sunnah dan bid’ah, maka dia berhak mendapatkan permusuhan dan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang ada padanya. Maka berkumpullah pada diri orang tersebut hal-hal yang mewajibkan pemuliaan dan mengharuskan penghinaan.

Maka dia berhak mendapatkan ini dan itu. Seperti pencuri miskin; dia dipotong tangannya karena mencuri, lalu ia diberi harta dari baitul mal yang bisa mencukupinya. Inilah hukum asal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berbeda dengan Khawarij, Mu’tazilah dan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Mereka hanya mengelompokkan manusia dalam dua golongan: orang-orang yang dapat pahala saja atau mendapat siksa saja.” Ini sangatlah jelas bagi masalah yang sangat penting ini.

24. Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka

A. Hukum Menyambut dan Bergembira dengan Hari Raya Mereka

Sesungguhnya di antara konsekuensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan kepadanya; “Apakah di sana ada berhala dari berhala-hala orang Jahiliyah yang disembah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari-hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatilah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan, tidak boleh menyembelih untuk Allah di tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka atau menjadi wasilah yang menghantar-kan kepada syirik.

Begitupula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka. Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka.

Dan di antaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para sahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan: Pertama: Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti Ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiasaan salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka.

Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketepatan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihinya telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apa pun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Kedua: karena hal itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu.” Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin ber-tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah atau pun yang lain-nya.

Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak atau pun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu. Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh.

Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan, “Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi.” Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti negara-negara ‘ajam (non-Islam) dan melakukan perayaan Nairuz dan Mihrajan serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.”

B. Hukum Ikut Merayakan Pesta, Walimah, Hari Bahagia atau Hari Duka Mereka Dengan Hal-hal yang Mubah serta Ber-ta’ziyah pada Musibah Mereka.

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahni’ah) atau ucapan bela-sungkawa (ta’ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala’ dan mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti pengagungan (penghormatan) terhadap mereka.

Maka hal itu diharamkan berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaimana haram mengucapkan salam terlebih dahulu atau membuka jalan bagi mereka. Ibnul Qayyim berkata, “Hendaklah berhati-hati jangan sampai ter-jerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, “Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu”, atau “memberkatimu dalam agamamu”, atau berkata, “Semoga Allah memuliakanmu”.

Kecuali jika berkata, “Semoga Allah memuliakanmu dengan Islam”, atau yang senada dengan itu. Itu semua tahni’ah dengan perkara-perkara umum. Tetapi jika tahni’ah dengan syi’ar-syi’ar kufur yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “Selamat hari raya Natal” umpamanya atau “Berbahagialah dengan hari raya ini” atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman.

Sebab itu sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka kepada salib; bah-kan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada memberikan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina atau yang sebangsanya.

Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang yang melakukan bid’ah, maksiat atau pun kekufuran maka dia telah menantang murka Allah. Para ulama wira’i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang haram), mereka senantiasa menghindari tahni’ah kepada para pemimpin zhalim atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen atau mufti; demi untuk menghin-dari murka Allah dan laknatNya.

Dari uraian tersebut jelaslah, memberi tahni’ah kepada orang-orang kafir atas hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandung makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni’ah atas hari-hari raya mereka atau syi’ar-syi’ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhawatirkan pelakunya jatuh pada kekufuran.

25. Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir

A. Dalam bidang bisnis atau pekerjaan

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disem-bunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (Ali Imran: 118)

Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, “Janganlah engkau menjadikan orang-orang non muslim sebagai wali, orang kepercayaan atau orang-orang pilihan, karena mereka tidak segan-segan melakukan apa-apa yang membahayakanmu.”

Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan, “Para peneliti telah mengetahui bahwa orang-orang ahli dzimmah dari Yahudi dan Nashrani mengirim berita kepada saudara-saudara seagamanya tentang rahasia-rahasia orang Islam. Di antara bait-bait yang terkenal adalah: “Setiap permusuhan dapat diharapkan kasih sayangnya, kecuali permusuhan orang yang memusuhi karena agama.”

Karena itulah mereka dilarang memegang jabatan yang membawahi orang-orang Islam dalam bidang pekerjaan, bahkan mempekerjakan orang Islam yang kemampuannya masih di bawah orang kafir itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi umat Islam dalam agama dan dunia mereka. Sedikit tapi dari yang halal diberkati Allah, sedangkan banyak tapi dari yang haram dimurkai Allah.”

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan:

1. Tidak boleh mengangkat orang kafir untuk kedudukan yang membawahi orang-orang Islam, atau yang memungkinkan dia mengetahui rahasia-rahasia umat Islam; misalnya para menteri atau para penasihat, atau juga diangkat menjadi pegawai pemerintahan di daerah negara Islam.

Karena Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” (Ali Imran: 118)

2. Diperbolehkan mengupah orang-orang kafir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan yang tidak menimbulkan suatu bahaya dalam politik negara Islam, umpamanya menjadi guide (penunjuk jalan), pemborong konstruksi bangunan, proyek perbaikan jalan, dan sejenisnya dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu untuk itu.

Karena baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah mengupah seorang laki-laki musyrik dari Bani Ad-Diil sebagai penunjuk jalan ketika berhijrah ke Madinah. (HR. Al-Bukhari)

B. Dalam urusan perang

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dan yang benar adalah diperbolehkan, apabila diperlukan dalam keadaan darurat, juga bila orang yang dimintai pertolongan dari mereka itu dapat dipercaya dalam masalah jihad.

Ibnul Qayyim berkata tentang manfaat perjanjian Hudaibiyah: “Di antaranya, bahwa meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya dalam hal jihad adalah diperbolehkan ketika benar-benar diperlukan, dan pada orang (musyrik) itu juga terdapat maslahah yaitu dia dekat dan mudah untuk bercampur dengan musuh dan dapat mengambil kabar dan rahasia mereka.

Juga diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat, Imam Zuhry meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW meminta pertolongan kepada orang-orang Yahudi dalam perang Khaibar (tahun 7 H), dan Sofwan bin Umaiyah ikut serta dalam perang Hunain padahal ia pada saat itu musyrik.

Termasuk darurat misalnya jumlah orang-orang kafir lebih banyak dan sangat ditakutkan, dengan syarat dia berpandangan baik terhadap kaum muslimin. Adapun jika tidak diperlukan maka tidak diperbolehkan meminta bantuan kepada mereka, karena orang kafir itu sangatlah dimungkinkan berkhianat dan bisa jadi menjadi senjata makan tuan, oleh karena buruknya hati mereka.

Tapi yang tampak dari ucapan Syaikh Ibnu Taimiyah adalah boleh meminta pertolongan kepada mereka secara mutlak.

26. Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir

Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Iqamah atau bertempat tinggal terus-menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan.

Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari negara kafir menuju negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa uzdur syar’i. Juga mengharamkan seorang muslim bepergian ke negara kafir kecuali karena alasan syar’i dan mampu menunjukkan ke-Islamannya, kemudian jika selesai tujuannya maka ia harus segera kembali ke negara Islam.

Adapun pekerjaan seorang muslim kepada orang kafir yang tidak bersifat melayani seperti menjahit atau membangun tembok dan lain sebagainya dari setiap pekerjaan yang ada dalam tanggungannya, maka hal ini diperbolehkan, karena tidak ada unsur penghinaan.

Hal ini berdasarkan riwayat Ali Radhiallaahu anhu, ia berkata:
“Saya bekerja untuk seorang perempuan Yahudi dengan upah setiap timba air ditukar dengan sebutir kurma. Kemudian saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan aku bawakan beberapa butir kurma lalu beliau pun memakan sebagian kurma terse-but bersama saya.” (HR. Al-Bukhari)

“Dan Khabbab bekerja untuk Al-’Ash bin Wa’il di Makkah sedang Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengetahuinya dan beliau pun menyetujuinya.” (HR. Al-Bukhari)

Hal ini menunjukkan dibolehkannya pekerjaan serupa ini, karena ia merupakan akad tukar-menukar seperti halnya jual beli, tidak mengandung penghinaan terhadap muslim, tidak menjadikannya sebagai abdi dan tidak bertentangan dengan sifat bara’-nya dari mereka dan dari agama mereka.

Adapun yang mengutamakan bekerja pada orang-orang kafir dan bertempat tinggal (menetap) bersama mereka daripada bekerja dan ber-iqamah di tengah-tengah kaum muslimin, ia memandang kebolehan wala’ kepada mereka dan ridha terhadap agama mereka maka tidak syak lagi bahwa hal itu adalah murtad, keluar dari Islam.

Apabila ia melakukan hal yang demikian itu karena tamak terhadap dunia atau kekayaan yang melimpah di negara mereka dengan perasaan benci kepada agama mereka dan tetap menjaga agamanya, maka hal itu diharamkan dan dikhawatirkan membawa dampak buruk terhadap dirinya, yang akhirnya menjadikannya ridha dengan agama mereka.

27. Hukum Meniru Kaum Kuffar, Macam-Macam Dan Dampaknya

A. Hukumnya

Meniru kaum kuffar dalam hal-hal yang menjadi kekhasan mereka atau adat mereka adalah haram dan diancam dengan ancaman yang keras, karena itu merupakan bentuk wala’ kepada mereka. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)

Kemudian keharamannya berbeda-beda menurut mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkannya serta dampak-dampak yang disebabkan olehnya.

B. Macam-macamnya

Meniru dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka terbagi menjadi beberapa bagian; ada yang kufur, ada yang mengarah kepada kekufuran atau kefasikan dan ada yang makksiat biasa.

Bagian Pertama: Meniru mereka dalam ajaran atau bagian dari agama mereka yang batil, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, atau mengkultuskan sebagian makhluk dengan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan kecil di samping Allah dengan beri’tikaf di atas kuburan mereka, atau mentaati mereka dalam penghalalan dan pengharaman, serta menghu-kumi selain apa yang diwahyukan oleh Allah, ini adalah kufur kepada Allah atau merupakan wasilah yang menghantarkan kepada kekufuran.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat ibadah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) mereka mempertuhankan Al-Masih putra Maryam …” (At-Taubah: 31)

Maka perbuatan mereka menjadikan para pendeta sebagai tuhan selain Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah kufur. Sedangkan mendirikan bangunan di atas kuburan adalah penghantar kepada kekufuran.

Bagian Kedua: Meniru mereka dalam bid’ah-bid’ah yang mereka adakan dalam agama mereka dalam hari-hari raya yang batil, ini hukumnya adalah haram.

Bagian Ketiga: Meniru mereka dalam adat istiadat dan akhlak mereka yang buruk serta budaya mereka yang kotor, juga penampilan mereka yang tercela, seperti mencukur jenggot, mengumbar aurat dan lain sebagainya.
Ini adalah permasalahan yang sangat luas dan semua itu adalah haram hukumnya, termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, “Siapa yang bertasyabbuh dengan suatu kaum maka ia termasuk golongannya.”

Karena menyerupai mereka secara lahir menunjukkan wala’ mereka secara batin. Adapun hal-hal yang bukan menjadi ciri khas mereka, bahkan merupakan hal-hal milik bersama semua manusia, seperti mempelajari industri yang sangat bermanfaat, membangun kekuatan, memanfaat-kan apa yang dibolehkan Allah, semisal perhiasan yang telah dikeluarkan untuk para hambaNya, memakan hasil-hasil bumi yang baik; maka semua ini tidak disebut taqlid (meniru), bahkan termasuk ajaran agama kita.

Dan pada dasarnya ia adalah milik kita, sedangkan mereka dalam hal ini hanya mengikuti kita. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?’ Kata-kanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat’.” (Al-A’raf: 32)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi …” (Al-Anfal: 60)
“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mem-pergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Hadid: 25)

C. Beberapa dampak negatif taqlid

1. Taqlid kepada kuffar mengandung wala’ kepada mereka, karena menyerupai mereka dalam lahirnya menunjukkan rasa kecintaan kepada mereka dalam batinnya. Seandainya membenci mereka, tentu tidak mau menirunya.

2. Taqlid kepada kuffar menunjukkan kekagumannya kepada mereka dan apa yang ada pada mereka serta ketidaksenangannya kepada ajaran Islam dan penghinaannya kepada orang-orang Islam.

3. Taqlid kepada kuffar mengandung makna pengekoran kepada mereka dan peleburan syakhshiyah (kepribadian) umat Islam serta penghancuran eksistensi mereka.

4. Taqlid kepada kuffar melemahkan kaum muslimin dan menjadikan mereka bergantung kepada musuh-musuh mereka serta menjadikan mereka malas berproduksi, dan pada akhirnya senang meminta balas kasihan kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.

5. Taqlid kepada kuffar berarti ikut membantu mereka dalam menghidupkan dan mengembangkan bid’ah serta kemusyrikan mereka.

6. Taqlid kepada kuffar merusak agama kaum muslimin dengan terciptanya berbagai bid’ah dengan khurafat yang diambil dari agama kaum kuffar.

28. Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk

Yaitu melampaui batas dalam menyenangi dan menggandrungi perkara-perkara sepele yang tidak banyak artinya, dan menggelutinya sampai lupa kepada Allah, lalai dari ketaatan kepadaNya serta lalai dan meninggalkan amal usaha yang berguna bagi dunia dan agama-nya.

Mereka melakukan hal ini sebagai akibat dari kekosongan hidup yang dialaminya; hidup tanpa aqidah, tanpa ibadah dan tanpa kebajikan yang ditabungkan untuk akhirat. Mereka melakukan karena terpedaya dan terkecoh oleh bangsa-bangsa lain yang terus-menerus mengupayakan untuk menjauhkan mereka dari agama dan akhirat mereka.

Apapun yang memalingkan dari agama dan ibadah adalah haram hukumnya, sekali pun bernilai materi yang tinggi seperti harta kekayaan. Allah telah mengharamkan perbuatan menyibukkan diri dengan materi yang jauh dari akhirat. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (Al-Munafiqun: 9)

Maka bagaimanakah dengan hal-hal yang tidak bernilai, tidak berharga dan tidak berfaedah?

Di antara hal-hal ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang mereka sebut sebagai dunia seni; seni suara, seni musik, seni tari, seni drama, dunia pentas dan panggung serta gedung-gedung bioskop yang banyak didatangi oleh orang-orang yang bingung, jauh dari jalan kebenaran dan jalan yang serius dalam kehidupan.

2. Menggeluti dunia gambar, fotografi, lukisan dan pembuatan patung-patung dan lain sebagainya yang mereka sebut-sebut sebagai seni yang indah.

3. Banyak di antara pemuda yang hidupnya mati-matian demi menggeluti beberapa cabang olah raga, sampai ia lupa kepada Allah, lupa ketaatan, menelantarkan shalat dan lupa kewajiban-kewajiban lain dalam rumah maupun sekolah. Semestinya yang lebih pantas bagi mereka adalah mengarahkan perhatian pada apa yang baik bagi umat dan tanah airnya serta berjuang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.

Di antara hal-hal tersebut di atas ada yang diharamkan dalam agama, ada pula yang dibolehkan sebatas tidak mengalahkan apa yang lebih bermanfaat daripadanya. Apalagi umat Islam dewasa ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dari para musuhnya. Tentu yang lebih utama adalah menghemat waktu dan kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan ini, untuk memadamkan atau memperkecil pengaruh dan bahayanya. Orang-orang Islam sebenarnya tidak mempunyai waktu luang untuk bersantai-ria dengan segala macam hiburan itu. Dan Allah-lah tempat kita meminta pertolongan.

29. Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya

Di antara sikap wala’ dan mahabbah karena Allah antar-umat Islam adalah seorang muslim harus mempedulikan urusan masyarakatnya secara umum dan mempedulikan urusan saudaranya sesama muslim secara khusus.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sa-yang dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu anggota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya itu menanggungnya, tidak tidur malam dan demam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah gambaran masyarakat muslim. Adapun gambaran antar-pribadi muslim adalah seperti yang disabdakan oleh baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :
“Orang mukmin satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain. Dan beliau merajutkan antara jari-jemarinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka kewajiban kaum muslimin, baik secara individu maupun kelompok adalah memperhatikan berbagai problema yang ada di antara mereka, dan problema yang ada antara mereka dengan musuh-musuh mereka, sehingga mereka mau menjalin ukhuwah Islamiyah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu …” (Al-Anfal: 1)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antar-kedua saudaramu …” (Al-Hujurat: 10)

Dan hendaknya mereka memperhatikan jihad melawan musuh-musuh mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 123)

Maksudnya ialah mempersiapkan diri sebelum berjihad dengan menyelesaikan berbagai problematika yang mengganjal, menyatukan barisan, memperbaiki kondisi dan mempersiapkan segala peralatan. Maka barangsiapa yang tidak mempedulikan problematika kaum muslimin, bahkan bersikap pasif, maka hal itu menunjukkan lemahnya iman, atau juga berarti bahwa dia itu munafik yang memberikan wala’ kepada kuffar.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu’min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukan-kah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’.” (An-Nisa’: 141)

Allah Subhannahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa sikap kaum munafik terhadap per-masalahan umat Islam adalah pasif, menunggu dan menonton siapa yang menang akan menjadi kawan. Adapun mukmin yang benar selalu memiliki karakter nasihat (kesetiaan), baik dalam ucapannya, amalnya dan kiprahnya dalam masya-rakatnya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
“Agama itu adalah nasihat (kesetiaan).” Beliau mengucapkan tiga kali. Kami bertanya, “Untuk siapa ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah mudah-mudahan Allah Subhannahu wa Ta’ala memperbaiki kondisi umat Islam dengan meluruskan aqidah mereka, memperbaiki bangsa dan para pemimpin mereka, dan semoga menyatukan hati mereka serta membulatkan tekad mereka. Semoga shalawat serta salam tetap tercurah untuk Nabi kita Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam beserta keluarga dan sahabatnya. Amin

 

Kitab Tauhid Jilid 2

 

kitab-tauhid-jilid-2

1. Makna Iman

Definisi Iman

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah: membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi’i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.

Penjelasan Definisi Iman

“Membenarkan dengan hati” maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

“Mengikrarkan dengan lisan” maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat “Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

“Mengamalkan dengan anggota badan” maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.

Dalil-dalil Kaum Salaf

1. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan tiada kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (menyatakan), Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (Al-Muddatstsir: 31)

2. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan se-bagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfal: 2-4)

3. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, 1/63)

4. Sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, riwayat Abu Sa’id Al-Khudry, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hen- daklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, 1/69)

Bagaimana Dalil-dalil Tersebut Menunjukkan bahwa Iman Dapat Bertambah dan Berkurang

Dalil Pertama: Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman orang-orang mukmin, yaitu dengan persaksian mereka akan kebenaran nabinya berupa terbuktinya kabar beritanya sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Dalil kedua: Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman dengan mendengarkan ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang disifati oleh Allah, yaitu mereka yang jika disebut nama Allah tergeraklah rasa takut mereka sehingga mengharuskan mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.

Mereka itulah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengharapkan selainNya, tidak menuju kecuali kepadaNya dan tidak mengadukan hajatnya kecuali kepada-Nya. Mereka itu orang-orang yang memiliki sifat selalu melaksanakan amal ibadah yang di syariatkan seperti shalat dan zakat. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman, dengan tercapainya hal-hal tersebut baik dalam i’tiqad maupun amal perbuatan.

Dalil ketiga: Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari cabang-cabang yang bermacam-macam, dan setiap cabang adalah bagian dari iman yang keutamaannya berbeda-beda, yang paling tinggi dan paling utama adalah ucapan “la ilaha illallah” kemudian cabang-cabang sesudahnya secara berurutan dalam nilai dan fadhilah-nya sampai pada cabang yang terakhir yaitu menyingkirkan rintangan dan gangguan dari tengah jalan.

Adapun cabang-cabang antara keduanya adalah shalat, zakat, puasa, haji dan amalan-amalan hati seperti malu, tawakkal, khasyyah (takut kepada Allah) dan sebagainya, yang kesemuanya itu dinamakan iman. Di antara cabang-cabang ini ada yang bisa membuat lenyapnya iman manakala ia ditinggalkan, menurut ijma’ ulama; seperti dua kalimat syahadat. Ada pula yang tidak sampai menghilangkan iman me-nurut ijma’ ulama manakala ia ditinggalkan; seperti menyingkirkan rintangan dan gangguan dari jalan.

Sejalan dengan pengamalan cabang-cabang iman itu, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, maka iman bisa bertambah dan bisa berkurang.

Dalil keempat: Hadits Muslim ini menuturkan tingkatan-tingkatan nahi munkar dan keberadaannya sebagai bagian dari iman. Ia menafikan (meniadakan) iman dari seseorang yang tidak mau melakukan tingkatan terendah dari tingkatan nahi munkar yaitu mengubah kemungkaran dengan hati. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat hadits: “Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).

Berdasarkan hal ini maka tingkatan di atasnya adalah lebih kuat keimanannya. Wallahu a’lam!

2. Hakekat Iman

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada me-reka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya.” (Al-Anfal: 2-4)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal: 74)

Dalam ayat-ayat yang pertama Allah menyebutkan orang-orang yang lembut hatinya dan takut kepada Allah ketika namaNya dise-but, keyakinan mereka bertambah dengan mendengar ayat-ayat Allah. Mereka tidak mengharapkan kepada selainNya, tidak menyerahkan hati mereka kecuali kepadaNya, tidak pula meminta hajat kecuali ke-padaNya.

Mereka mengetahui, Dialah semata yang mengatur kerajaanNya tanpa ada sekutu. Mereka menjaga pelaksanaan seluruh ibadah fardhu dengan memenuhi syarat, rukun dan sunnahnya. Mereka adalah orang mukmin yang benar-benar beriman. Allah menjanjikan mereka derajat yang tinggi di sisiNya, sebagaimana mereka juga memperoleh pahala dan ampunanNya.

Kemudian dalam ayat yang kedua Allah menyifati para sahabat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, baik Muhajirin maupun Anshar dengan iman yang sebenar-benarnya, karena iman mereka yang kokoh dan amal perbuatan mereka yang menjadi buah dari iman tersebut.

Telah kita ketahui bersama lafazh iman, baik secara bahasa maupun munurut istilah. Sebagaimana kita juga mengetahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah memasukkan amal ke dalam makna iman, dan bahwa iman itu bisa bertambah, juga bisa berkurang.

Bertambah karena bertambahnya amal shalih dan keyakinan dan berkurang karena berkurangnya hal tersebut. Kemudian kita juga mengetahui sebagian besar dalil-dalilnya. Berikut ini kita akan menambah keterangan tentang makna Islam dan iman.

Islam Dan Iman

Di dalam Islam dan iman terkumpul agama secara keseluruhan. Sebagaimana Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membedakan makna Islam, iman dan ihsan. Dalam hadits Jibril, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa ia berkata,

“Ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pada suatu hari keluar berkumpul dengan para sahabat, tiba-tiba datanglah Jibril dan bertanya, “Apakah iman itu?” Beliau menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan engkau beriman dengan hari Kebangkitan.” Dia bertanya lagi, “Apakah Islam itu?” Beliau menjawab, “Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak berbuat syirik kepadaNya, engkau mendirikan shalat, membayar zakat yang diwajibkan, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.” Dia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Beliau menjawab, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguh-nya Ia melihatmu.” Dia bertanya lagi, “Lalu kapankah Kiamat tiba?” Beliau menjawab, “Orang yang ditanya tentang Kiamat tidak lebih mengetahui daripada si penanya. Tetapi saya beritahukan kepadamu beberapa tandanya, yaitu jika wanita budak melahirkan tuannya, jika para penggembala unta hitam telah berlomba-lomba meninggikan bangunan. (Ilmu tentang) hari Kiamat termasuk dalam lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” Kemudian dia pergi, lalu nabi bersabda, “Kembalikan dia!” Tetapi orang-orang tidak melihat sesuatu. Beliau kemudian bersabda, “Dia ada-lah Jibril, datang kemari untuk mengajari manusia tentang agama-nya.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab Su’alu Jibril An-Nabi wa anil Iman wal Islam wal Ihsan, no. 50).

Islam

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam banyak menamakan beberapa perkara dengan sebutan Islam, umpamanya: taslimul qalbi (penyerahan hati), Salama-tunnas minal lisan wal yad (tidak menyakiti orang lain dengan lisan dan tangan), memberi makan, serta ucapan yang baik.

Semua perkara ini, yang disebut Rasulullah sebagai Islam mengandung nilai penyerahan diri, ketundukkan dan kepatuhan yang nyata. Hukum Islam terwujud dan terbukti dengan dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.

Ini semua adalah syiar-syiar Islam yang paling tampak. Seseorang yang melaksanakannya berarti sempurnalah peng-hambaannya. Apabila ia meninggalkannya berarti ia tidak tunduk dan berserah diri. Lalu penyerahan hati, yakni ridha dan taat, dan tidak menggang-gu orang lain, baik dengan lisan atau tangan, ia menunjukkan adanya rasa ikatan ukhuwah imaniyah.

Sedangkan tidak menyakiti orang lain merupakan bentuk ketaatan menjalankan perintah agama, yang memang menganjurkan kebaikan dan melarang mengganggu orang lain serta memerintahkan agar mendermakan dan menolong serta men-cintai perkara-perkara yang baik. Ketaatan seseorang dengan berbagai hal tersebut juga hal lainnya adalah termasuk sifat terpuji, yakni jenis kepatuhan dan ketaatan, dan ia merupakan gambaran yang nyata ten-tang Islam.

Hal-hal tersebut mustahil dapat terwujud tanpa pembenaran hati (iman). Dan berbagai hal itulah yang disebut sebagai Islam.

Iman

Kita telah mengetahui jawaban Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hadits Jibril . Beliau juga menyebut hal-hal lain sebagai iman, seperti akhlak yang baik, bermurah hati, sabar, cinta Rasul Shalallaahu alaihi wasalam, cinta sahabat, rasa malu dan sebagainya. Itu semua adalah iman yang merupakan pembenaran batin.

Tidak ada sesuatu yang mengkhususkan iman untuk hal-hal yang bersifat batin belaka. Justru yang ada adalah dalil yang menunjukkan bahwa amal-amal lahiriah juga disebut iman. Sebagiannya adalah apa yang telah disebut Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagai Islam.

Beliau telah menafsirkan iman kepada utusan Bani Abdil Qais dengan penafsiran Islam yang ada dalam hadits Jibril. Sebagaimana yang ada dalam hadits syu’abul iman (cabang-cabang iman). Rasululah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Yang paling tinggi adalah ucapan, ‘La ilaha illallah’ dan yang paling rendah meyingkirkan gangguan dari jalan.”

Padahal apa yang terdapat di antara keduanya adalah amalan lahiriah dan batiniah. Sudah diketahui bersama bahwa beliau tidak memaksudkan hal-hal tersebut menjadi iman kepada Allah tanpa disertai iman dalam hati, sebagaimana telah dijelaskan dalam banyak dalil syar’i tentang pentingnya iman dalam hati.

Jadi syiar-syiar atau amalan-amalan yang bersifat lahiriah yang disertai dengan iman dalam dada itulah yang disebut iman. Dan makna Islam mencakup pembenaran hati dan amalan perbuatan, dan itulah istislam (penyerahan diri) kepada Allah.

Berdasarkan ulasan tersebut maka dapat dikatakan, sesungguhnya sebutan Islam dan iman apabila bertemu dalam satu tempat maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan lahiriah, sedangkan iman ditafsirkan dengan keyakinan-keyakinan batin. Tetapi, apabila dua istilah itu di-pisahkan atau disebut sendiri-sendiri, maka yang ditafsiri dengan yang lain.

Artinya Islam itu ditafsiri dengan keyakinan dan amal, sebagaimana halnya iman juga ditafsiri demikian. Keduanya adalah wajib, ridha Allah tidak dapat diperoleh dan siksa Allah tidak dapat dihindarkan kecuali dengan kepatuhan lahiriah disertai dengan keyakinan batiniah. Jadi tidak sah pemisahan antara keduanya.

Seseorang tidak dapat menyempurnakan iman dan Islamnya yang telah diwajibkan atasnya kecuali dengan mengerjakan perintah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Sebagaimana kesempurnaan tidak mengharuskan sampainya pada puncak yang dituju, karena adanya bermacam-macam tingkatan sesuai dengan tingginya kuantitas dan kualitas amal serta keimanan. Wallahu a’lam!

3. Rukun Iman dan Cabang-cabangnya

Rukun-rukun Iman

Yang dimaksud rukun iman adalah sesuatu yang menjadi sendi tegaknya iman.
Rukun iman ada enam:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada para malaikat
3. Iman kepada kitab-kitab samawiyah
4. Iman kepada para rasul
5. Iman kepada hari Akhir
6. Iman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.

Dalilnya adalah jawaban Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika Jibril bertanya padanya tentang iman:
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para rasulNya, kepada hari akhir Akhir dan engkau ber-iman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” (HR. Al-Bukhari, I/19,20 dan Muslim , I/37)

Cabang-cabang Iman

Cabang-cabang iman bermacam-macam, jumlahnya banyak, lebih dari 72 cabang. Dalam hadits lain disebutkan bahwa cabang-cabangnya lebih dari 70 buah.

Dalil cabang-cabang iman adalah hadits Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
“Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, I/63)

Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menjelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah tauhid, yang wajib bagi setiap orang, yang mana tidak satu pun cabang iman itu menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut. Adapun cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin, di antaranya dengan menyingkirkan duri atau batu dari jalan mereka.

Lalu, di antara ke dua cabang tersebut terdapat cabang-cabang lain seperti cinta kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, cinta kepada saudara muslim seperti mencintai diri sendiri, jihad dan sebagainya. Beliau tidak menjelaskan cabang-cabang iman secara keseluruhan, maka para ulama berijtihad menetapkannya.

Al-Hulaimi, pe-ngarang kitab “Al-Minhaj” menghitungnya ada 77 cabang, sedangkan Al-Hafizh Abu Hatim Ibnu Hibban menghitungnya ada 79 cabang iman. Sebagian dari cabang-cabang iman itu ada yang berupa rukun dan ushul, yang dapat menghilangkan iman manakala ia ditinggalkan, seperti mengingkari adanya hari Akhir; dan sebagiannya lagi ada yang bersifat furu’, yang apabila meninggalkannya tidak membuat hilang-nya iman, sekalipun tetap menurunkan kadar iman dan membuat fasik, seperti tidak memuliakan tetangga.

Terkadang pada diri seseorang terdapat cabang-cabang iman dan juga cabang-cabang nifak (kemunafikan). Maka dengan cabang-cabang nifak itu ia berhak mendapatkan siksa, tetapi tidak kekal di Neraka, karena di hatinya masih terdapat cabang-cabang iman. Siapa yang seperti ini kondisinya maka ia tidak bisa disebut sebagai mukmin yang mutlak, yang terkait dengan janji-janji tentang Surga, rahmat di Akhirat dan selamat dari siksa. Sementara orang-orang mukmin yang mutlak juga berbeda-beda dalam tingkatannya.
Wallahu a’lam!

4. Hal-hal yang Membatalkan Iman

Pembatal iman atau “nawaqidhul iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk didalamnya yakni antara lain:

1. Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari kekhususan-kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempu-nyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24)

2. Sombong serta menolak beribadah kepada Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan me-nambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripadaNya.” (An-Nisa’: 172-173)

3. Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai (pertolongan) selain Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah’. Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya baik di langit dan tidak (pula) di bumi? Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (Yunus: 18)

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang meraka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Radu: 14)

4. Menolak sesuatu yang ditetapkan Allah untuk diriNya atau yang ditetapkan oleh RasulNya.

Begitu pula orang yang menyifati seseorang (makhluk) dengan sesuatu sifat yang khusus bagi Allah, seperti ilmu Allah. Termasuk juga menetapkan sesuatu yang dinafikan Allah dari diriNya atau yang telah dinafikan dariNya oleh RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam.

Allah berfirman kepada Rasulnya: “Katakanlah, Dialah Allah, yang Mahaesa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4)

“Hanya milik Allah asma’ husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)

5. Mendustakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang sesuatu yang beliau bawa.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya); kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan mambawa mu’jizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaanKu.” (Fathir: 25-26)

6. Berkeyakinan bahwa petunjuk Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak sempurna atau menolak suatu hukum syara’ yang telah Allah turunkan kepadanya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah itu lebih baik, lebih sempurna dan lebih memenuhi hajat manusia, atau meyakini kesamaan hukum Allah dan RasulNya dengan hukum yang selainnya, atau meyakini dibolehkannya berhukum dengan selain hukum Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak ber-hakim kepada thagut itu, padahal mereka telah diperintah meng-ingkari thagut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

7. Tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu tentang kekafiran mereka, sebab hal itu berarti meragukan apa yang dibawa oleh baginda Rasul Shalallaahu alaihi wasalam.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…dan mereka berkata, Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.” (Ibrahim: 9)

8. Mengolok-olok atau mengejek-ejek Allah atau Al-Qur’an atau agama Islam atau pahala dan siksa dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam atau seorang nabi, baik itu gurauan maupun sungguhan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

9. Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang muslim.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi pemimpin yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

10. Meyakini bahwa orang-orang tertentu boleh keluar dari ajaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau.

Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

11. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya serta tidak mau mengamalkannya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

Inilah sebagian pembatal-pembatal iman yang paling nyata. Masih banyak pembatal-pembatal iman yang lain seperti sihir, menolak Al-Qur’an baik sebagian maupun keseluruhannya, atau meragukan ke-mu’jizatannya atau menghina mushaf atau sebagiannya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah disepakati keharamannya seperti zina atau khamar, atau menghujat agama serta mencelanya.
Na’udzu billah min dzalik. Wallahu a’lam!

5. Hukum Pelaku Dosa Besar

Dosa Terbagi Menjadi Dosa Besar Dan Kecil

1. Dosa Besar (Kabirah)

Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had di dunia atau yang diancam oleh Allah dengan Neraka atau laknat atau murkaiNya. Adapula yang berpendapat, dosa besar adalah setiap maksiat yang dilakukan seseorang dengan terang-terangan (berani) serta meremehkan dosanya.

Contoh dosa besar adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan. Mereka bertanya, ‘Apa itu?’ Beliau menjawab, Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan, menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari kemaksiatan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Dosa Kecil (Shaghirah)

Yaitu segala dosa yang tidak mempunyai had di dunia, juga tidak terkena ancaman khusus di akhirat. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa kecil adalah setiap kemaksiatan yang dilakukan karena alpa atau lalai dan tidak henti-hentinya orang itu menyesali perbuatannya, sehingga rasa kenikmatannya dengan maksiat tersebut terus memudar.

Contoh dosa kecil adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didusta-kanya.” (HR. Muslim, no. 2657)

Dalil pembagian dosa menjadi besar dan kecil adalah firman Allah: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).” (An-Nisa’: 31)

“(Yaitu) orang yang mejauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunanNya.” (An-Najm: 32)

Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka berkata: “Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus.”

Madzhab Ahlus Sunnah Tentang Pelaku Dosa Besar

Sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir jika dia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia adalah mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. Apabila berkehendak, Dia mengampuninya dan apabila Ia berkehendak pula, maka Ia menyiksa di Neraka karena dosanya, kemudian Ia mengeluarkannya dan tidak menjadikannya kekal di Neraka.

Berbeda dengan kelompok-kelompok sesat yang ekstrim dalam hal ini. Mereka adalah:

1. Murji’ah: Golongan yang menyatakan maksiat tidak membahayakan (berpengaruh buruk) bagi orang beriman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.

2. Mu’tazilah: Mereka yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar ini tidak mukmin dan tidak juga kafir, tetapi ia berada pada tingkatan yang ada diantara dua tingkatan tersebut. Namun demikian, apabila ia keluar dari dunia tanpa bertaubat maka ia kekal di Neraka.

3. Khawarij: Mereka mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dan kekal di Neraka.

Dalil-dalil Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah berhujjah dengan dalil-dalil yang banyak sekali dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, di antaranya:

1. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah me-nyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujarat: 9-10)

Segi istidlal (pengambilan dalil)-nya: Allah tetap mengakui ke-manan pelaku dosa peperangan dari orang-orang mukmin dan bagi para pembangkang dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Dia menjadikan mereka menjadi bersaudara. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan antara saudara-saudara mereka seiman.

2. Abu Said Al-Khudri Radhiallaahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Allah memasukkan penduduk Surga ke Surga. Dia memasukkan orang-orang yang Ia kehendaki dengan rahmatNya. Dan Ia memasukkan penduduk Neraka. Kemudian berfirman, ‘Lihatlah, orang yang engkau dapatkan dalam hatinya iman seberat biji sawi maka keluarkanlah ia.’ Maka dikeluarkanlah mereka dari Neraka dalam keadaan hangus terbakar, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh di pinggir aliran air. Tidakkah engkau melihat bagaimana ia keluar berwarna kuning melingkar?” (HR. Muslim, I/172 dan Bukhari, IV/158)

Segi istidlal-nya, adalah tidak kekalnya orang-orang yang berdosa besar di Neraka, bahkan orang yang dalam hatinya terdapat iman yang paling rendah pun akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan kemaksiatan dengan melakukan berbagai larangan serta meninggalkan kewajiban-kewajiban.

6. Dampak Maksiat Terhadap Iman

Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui adalah 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan “la ilaha illallah” dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan.

Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang berupa mengerjakan (kebaikan) maupun me-ninggalkan (larangan). Karena itu maksiat juga berbeda-beda. Dan maksiat berarti keluar dari ketaatan. Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa membatalkan iman.

Sebagaimana Allah menceritakan tentang Fir’aun dengan firmanNya: “Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.” (An-Nazi’at: 21)

Dan terkadang maksiat itu tidak sampai pada derajat tersebut sehingga tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi iman. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini kehalalannya, maka hilang rasa takut, khusyu’ dan cahaya dalam hatinya; sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya.

Lalu jika ia bertaubat kepada Allah dan mela-kukan amal shalih maka kembalilah khasyyah dan cahaya itu ke dalam hatinya. Apabila ia terus melakukan kemaksiatan maka bertambahlah kotoran dosa itu di dalam hatinya sampai menutupi serta menguncinya -na’udzubillah!-. Maka ia tidak lagi mengenal yang baik dan tidak me-ngingkari kemungkaran.

Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh Allah dalam Al-Quran: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14, HR. Ahmad, II/297)

Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Se-makin bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka buruklah pohon itu.

Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dalam kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut. Wallahu a’lam!

 

Kitab Tauhid Jilid 3

 

Kitab_Tauhid_3

1.1. Penyimpangan dalam Kehidupan Manusia

Pada asalnya, manusia adalah bertauhid. Dan bertauhid merupakan fitrah yang dikaruniakan Allah Subhanahu waTa’ala untuk manusia. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." (Ar-Rum: 30).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Artinya:"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (beragama Islam ed.), maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Karena itu, syirik adalah unsur luar yang menyusup terhadap fitrah tersebut. Dan pertama kali, syirik serta penyimpangan akidah itu terjadi pada kaum Nuh. Mereka menyembah patung-patung. Lalu datanglah Amru bin Luhay al-Khuza'i, dan mengubah agama Ibrahim serta membawa patung-patung ke tanah Arab, dan ke tanah Hijaz secara khusus, sehingga patung-patung itu pun disembah selain Allah Ta’ala. Selanjutnya perbuatan syirik itu menyebar ke negeri suci tersebut dan negeri-negeri tetangganya, sampai kemudian Allah Ta’ala mengutus NabiNya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menyeru manusia kepada tauhid dan mengikuti agama Ibrahim. Beliau berjuang keras sampai akidah tauhid dan agama Ibrahim kembali lagi dianut. Beliau menghancurkan patung-patung, dengannya Allah Ta’ala menyempurnakan agama ini serta menyempurnakan nikmatNya untuk segenap alam. Demikianlah, generasi-generasi pertama yang diutamakan dari umat ini berjalan di atasnya, sampai kemudian kebodohan (tentang agama) merajalela pada generasi-generasi akhir dan unsur-unsur asing dari agama-agama lain merasukinya, sehingga kembali merebaklah kesyirikan di tengah-tengah umat. Hal yang juga disebabkan oleh da’i-da’i sesat dan didirikannya bangunan-bangunan di atas kuburan sebagai bentuk pengagungan kepada para wali dan orang-orang shalih dengan dalih cinta kepada mereka, hingga dibangun di atas kuburan mereka bangunan-bangunan peringatan, dan dijadikan sembahan-sembahan selain Allah Ta’ala dengan segala bentuk pendekatan, baik dengan do’a, memohon pertolongan, menyembelih (kurban) atau nadzar karena kedudukan mereka. Ini adalah perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Adapun terhadap tauhid rububiyah, maka mereka mengakuinya. Dan tidak ada manusia yang mengingkari rububiyah kecuali sedikit sekali, seperti Fir'aun, orang-orang atheis dan komunis pada zaman ini. Tetapi pengingkaran mereka tersebut hanyalah karena kesombongan mereka. Jika tidak, tentu mereka mau tidak mau akan mengakuinya dalam hati dan sanubari mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
Artinya: "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14).

1.2. Syirik, Definisi dan Jenisnya

A. Definisi Syirik

Syirik yaitu menyamakan selain Allah ‘Azza waJalla dengan Allah ’Azza waJalla dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah Subhanahu waTa’ala, seperti berdoa kepada selain Allah Ta’ala di samping berdo’a kepada Allah Subhanahu waTa’ala, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdoa dan sebagainya kepada selainNya.

Karena itu barangsiapa menyembah selain Allah Subhanahu waTa’ala berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu adalah kezhaliman yang paling besar. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (Luqman: 13).

Allah Subhanahu waTa’ala tidak akan mengampuni orang musyrik, jika ia meninggal dunia dalam kesyirikannya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa': 48).

Surga pun diharamkan atas orang musyrik. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah: 72).

Dan Syirik menghapuskan pahala segala amal kebaikan. Allah q berfirman,

Artinya:"Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88).

Artinya:"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Jika kamu menyekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65).

Artinya:"Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian." (At-Taubah: 5).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَإِذَا قَالُوْهَا عَصَمُوْا مِنّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا.

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka menyatakan, 'Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah.' Jika mereka telah menyatakannya, niscaya darah dan harta mereka aku lindungi kecuali karena haknya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, syirik adalah dosa yang paling besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ: اْلإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ.

"Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab, "Ya, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Syirik adalah suatu kekurangan dan aib yang Allah Ta’ala menyucikan diri dari keduanya. Karena itu, barangsiapa berbuat syirik kepada Allah Subhanahahu waTa’ala, berarti dia menetapkan untuk Allah Azza waJalla apa yang dia menyucikan diri dari padanya. Dan ini adalah puncak pembangkangan, kesombongan, dan permusuhan kepada Allah Ta’ala.

B. Jenis Syirik

Syirik ada dua jenis: Syirik Besar dan Syirik Kecil

SYIRIK BESAR

Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, seperti berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala atau mendekatkan diri kepadanya dengan menyembelih kurban dan nadzar untuk selain Allah Subhanahu waTa’ala , baik untuk kuburan, jin dan setan. Termasuk juga takut kepada orang-orang telah mati, jin atau setan, bahwa mereka bisa membahayakan atau membuatnya sakit, juga mengharapkan sesuatu kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala , yang tidak kuasa melakukannya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , berupa pemenuhan kebutuhan dan menghilangkan kesusahan, hal yang saat ini dilakukan di sekeliling bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan para wali dan orang-orang shalih di sebagian wilayah Islam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah'." (Yunus: 18).

Syirik besar ada empat macam:

1. Syirik Dakwah (doa):

Yaitu di samping dia berdoa kepada Allah Subhanahu waTa'ala ia berdoa kepada selainNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah de-ngan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menye-lamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mem-persekutukan (Allah)." (Al-Ankabut: 65).

2. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan:

Yaitu ia menujukan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nis-caya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usaha-kan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

3. Syirik Keta'atan:

Yaitu menaati selain Allah q dalam hal maksiat kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-Taubah: 31).

4. Syirik Kecintaan (Mahabbah):

Yaitu menyamakan selain Allah Subhanahu waTa’ala dengan Allah Subhanahu waTa’ala dalam hal kecintaan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandi-ngan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah." (Al-Baqarah: 165).

SYIRIK KECIL

Syirik Kecil tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan perantara (wasilah) kepada syirik besar. Syirik kecil ada dua macam.

1. Syirik Nyata (Zhahir):

Yaitu syirik dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik." (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan-nya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).

Termasuk di dalamnya adalah ucapan, مَا شَاءَ اللّٰهُ وَشِئْتَ (atas kehendak Allah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kehendakmu). Ibnu Abbas radiyAllahu ‘anhu menuturkan,

لَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ فَقَالَ: أَجَعَلْتَنِيْ لِله نِدًّا قُلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ.

"Ketika ada seseorang berkata kepada Nabi, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu', maka ketika itu beliau bersabda, 'Apakah engkau menjadikan diriku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah, 'Hanya atas kehendak Allah saja'." (HR. an-Nasa'i).
Termasuk pula ucapan, "Kalau bukan karena Allah Subhanahu waTa’ala dan karena si fulan." Yang benar adalah hendaknya diucapkan,

مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ فُلاَنٌ

"Atas kehendak Allah Subhanahu waTa’ala kemudian kehendak si fulan."

وَلَوْلاَ اللَّهُ ثُمَّ فُلاَنٌ

"Kalau bukan karena Allah Subhanahu waTa’ala kemudian karena si fulan."
Sebab kata ثُمَّ (kemudian) menunjukkan tertib berurut, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Subhanahu waTa’ala .
Sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 29).

Sedangkanوَ (dan) maka untuk menunjukkan kebersamaan dan persekutuan, tidak menunjukkan tertib berurut. Termasuk dalam larangan ini adalah ucapan 'Tidak ada penolong bagiku kecuali Allah Subhanahu waTa’ala dan engkau', 'Ini adalah atas berkah Allah Subhanahu waTa’ala dan berkahmu.'
Adapun yang berbentuk perbuatan adalah seperti memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, atau menggantungkan tamimah(1) karena takut kena 'ain (penyakit mata ed.) atau perbuatan lainnya, jika ia berkeyakinan bahwa perbuatannya tersebut merupakan sebab-sebab pengusir atau penangkal mara bahaya, maka ia termasuk syirik kecil. Sebab Allah Subhanahu waTa’ala tidak menjadikan sebab-sebab (hilangnya mara bahaya) dengan hal-hal tersebut. Sedangkan jika ia berkeyakinan bahwa hal-hal tersebut bisa menolak atau mengusir mara bahaya, maka ia adalah syirik besar, sebab ia berarti menggantungkan diri kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala .

2. Syirik tersembunyi (Khafi):

Yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti ingin dipuji orang (riya') dan ingin didengar orang (sum'ah). Seperti melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu waTa’ala , tetapi untuk mendapatkan pujian manusia, misalnya dengan memperbagus shalatnya atau bersedekah agar dipuji dan disanjung karenanya, atau ia melafazhkan dzikir dan memperindah suaranya dalam bacaan (al-Qur'an) agar didengar orang lain, sehingga mereka menyanjung atau memujinya. Jika riya itu mencampuri (niat) suatu amal, maka amal itu menjadi tertolak. Karena itu, ikhlas dalam beramal adalah sesuatu yang niscaya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia berbuat syirik sedikit pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ.

Artinya:"Yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Beliau menjawab, "Yaitu riya'." (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan al-Bagha-wi dalam Syarhus Sunnah).

Termasuk di dalamnya adalah motivasi amal untuk kepentingan duniawi, seperti orang yang menunaikan haji atau berjihad untuk mendapatkan harta benda. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ.

Artinya:"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan celakalah hamba khamilah(1) jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah." (HR. al-Bukhari).

* (1)Khamishah dan khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan diberi sulaman atau garis-garis yang menarik dan indah. Maksud ungkapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam -wallahu a'lam- dengan sabdanya tersebut adalah untuk menunjukkan orang yang sangat ambisi dengan kekayaan duniawi, sehingga menjadi hamba harta benda. Mereka itulah orang-orang yang celaka dan sengsara. (pent).

1.3. Kufur, Definisi dan Jenisnya

A. Definisi Kufur

Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara', kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

B.Jenis Kufur

Kufur ada dua jenis: Kufur Besar dan Kufur Kecil

KUFUR BESAR

Kufur besar bisa mengeluarkan seorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam:

1. Kufur karena mendustakan, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?" (Al-Ankabut: 68).

2. Kufur karena enggan dan sombong, padahal membenarkan, dalilnya firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Tunduklah kamu kepada Adam.' Lalu mereka tunduk kecuali Iblis; ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 34).

3. Kufur karena ragu, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri; ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.' Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, 'Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun'." (Al-Kahfi: 35-38).

4. Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 3).

5. Kufur karena nifaq, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara lahirnya, lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti." (Al-Munafiqun: 3).

KUFUR KECIL

Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur 'amali. Kufur 'amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya,

Artinya:"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 83).

Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

Artinya:"Mencaci orang Islam adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُم رِقَابَ بَعْضٍ.ٍ

Artinya: "Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala . Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Artinya:"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik." (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).
Yang demikian itu karena Allah Subhanahu waTa’ala tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh." (Al-Baqarah: 178).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash(1).
AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)." (Al-Baqarah: 178).
Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas -tanpa diragukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujurat: 9-10).(1)

Kesimpulan Perbedaan antara Kufur Besar dengan Kufur Kecil:

1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

2. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah Subhanahu waTa’ala memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.

3. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

4. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapa pun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya.

Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dengan syirik kecil.

1.4. Nifaq, Definisi dan Jenisnya

A. Definsi Nifaq

Nifaq secara bahasa berasal dari kata النّافِقَاءُ (nafiqa') yaitu salah satu lobang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu maka akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata النفق (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.

Nifaq menurut syara' yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

B. Jenis Nifaq

Nifaq ada dua jenis : Nifaq I'tiqadi dan Nifaq 'Amali.

Nifaq I'tiqadi (Keyakinan)

Nifaq I'tiqadi (keyakinan) yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan keluar dari agama dan pelakunya berada di dalam kerak neraka. Allah Subhanahu waTa’ala menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama umat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala , malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam:

  1. Mendustakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
  2. Membenci Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
  3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .
  4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .

Nifaq 'Amali ( perbuatan)

Nifaq amali (perbuatan) yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan perantara (wasilah) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

"Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya; bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang." (Muttafaqun 'alaih).

Terkadang pada diri seorang hamba berkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, kebiasaan-kebiasaan iman dan kebiasaan-kebiasaan kufur dan nifaq. Karena itu, ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, seperti malas dalam melakukan shalat berjamaah di masjid. Ini adalah di antara sifat orang-orang munafiq. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, karena itulah sehingga para sahabat begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya".

Perbedaan antara Nifaq Besar dengan Nifaq Kecil :

  1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
  2. Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan, bukan dalam hal keyakinan. 
  3. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang mukmin. 
  4. Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sehingga Allah Subhanahu waTa’ala menerima taubatnya.

1.5. Penjelasan Hakikat Jahiliyah, Kefasikan, Kesesatan Keluar dari Keislaman (Riddah), Macam-macam dan Hukumnya

A . Jahiliyah

Jahiliyah adalah keadaan yang ada pada bangsa Arab sebelum Islam, yakni kebodohan tentang Allah, para RasulNya dan syariat agama. Ia berasal dari kata al- jahl (kebodohan) yaitu ketiadaan ilmu. Jahiliyah terbagi menjadi dua macam:

Pertama, Jahiliyah 'Ammah (Jahiliyah Umum).

Yaitu yang terjadi sebelum diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan ia telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam .

Kedua, Jahiliyah Khashshah (Jahiliyah Khusus).

Yakni yang terjadi pada sebagian negara, sebagian daerah dan sebagian orang. Jahiliyah jenis ini masih ada hingga sekarang. Karena itu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ فِيْ أُمَّتِيْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ.

"Ada empat (perkara) dalam umatku yang termasuk perkara jahiliyah." (HR .Muslim).

Dan beliau shallallaahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiyallaahu 'anhu.

إِنَّكَ امْرُءٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ.

"Sesungguhnya engkau adalah seorang yang masih memiliki (sifat) jahiliyah" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, nyatalah kesalahan orang yang mengenelarisir jahiliyah pada zaman sekarang hingga mengatakan, jahiliyah pada abad ini atau yang semisalnya. Yang benar adalah hendaknya dikatakan, jahiliyah sebagian orang yang hidup di abad ini, atau mayoritas yang hidup di abad ini. Adapun mengeneralisir jahiliyah, maka hal itu tidak benar dan tidak diperbolehkan, sebab dengan diutusnya Nabi shallallaahu alaihi wasallam berarti jahiliyah secara umum itu telah hilang.

B . Kefasikan

Secara bahasa kefasikan اْلفِسْقُ(al-fisq) adalah al-khuruj (keluar). Sedangkan yang dimaksud kefasikan menurut syara' adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Kefasikan ada dua macam :

Pertama, Kefasikan yang membuatnya keluar dari agama, yakni kufur. Karena itu orang kafir juga disebut orang fasik, maka ketika menyebut Iblis, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka ia berbuat fasik (mendurhakai) perintah Rabbnya." (Al-Kahfi: 50).

Kefasikan Iblis di atas adalah kekufurannya, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan adapun orang-orang fasik maka tempat mereka adalah neraka." (As-Sajdah: 20).

Yang dimaksud orang-orang fasik di atas adalah orang-orang kafir, hal itu sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu waTa’ala sesudahnya:

Artinya:"Setiap kali mereka hendak keluar dari padanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya'." (As-Sajdah: 20).

Kedua, kefasikan yang tidak membuat seseorang keluar dari agama, sehingga orang-orang fasik dari kaum muslimin disebut al-'ashi (pelaku maksiat), dan kefasikan itu tidak mengeluarkannya dari Islam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan orang- orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 4).

Artinya:"Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengucapkan ucapan-ucapan kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (Al-Baqarah : 197).

Dalam menafsirkan kata-kata fasik dalam ayat di atas, para ulama mengatakan, ia adalah perbuatan maksiat.(1)

C. Kesesatan

Kesesatan (الضَّلاَلُ) adalah berpaling dari jalan yang lurus. Ia adalah lawan dari petunjuk (الْهِدَايَةُ), Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya ia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya ia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri." (Al-Isra': 15).

Kesesatan dinisbatkan kepada beberapa makna:

1. Terkadang diartikan kekufuran (الْكُفْرُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa': 136).

2.Terkadang diartikan kemusyrikan (الشِّرْكُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya"Barangsiapa menyekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa': 116) .

3. Terkadang diartikan menyalahi (kebenaran), tetapi di bawah kekufuran, sebagaimana dikatakan, الْفِرَقُ الضَّالَّةُ (kelompok-kelompok yang sesat), artinya yang menyalahi (kebenaran).

4. Terkadang diartikan kesalahan (الْخَطَأ), sebagaimana ucapan Musa alaihissalam,

Artinya:"Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf (salah)." (As-Syu'ara: 20).

5. Terkadang diartikan lupa(النِّسْيَانُ) , Allah Subhanahu waTa’alaberfirman,

"Supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya" (Al- Baqarah : 282).

6. Terkadang diartikan hilang dan tidak ada (الضَّيَاعُ وَالْغَيْبَةُ), seperti dikatakan,ضَالَّةُ اْلإِبِلِ (unta yang hilang).

D. Riddah, Macam- macam dan Hukumnya

Secara bahasa riddah (الرِّدَّة) artinya kembali (الرُّجُوْعُ). Dan menurut istilah syara, riddah berarti kufur setelah Islam, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" (Al-Baqarah: 217)

Riddah ada empat macam:

1. Riddah dengan ucapan. Seperti mencaci Allah Subhanahu waTa’ala atau RasulNya shallallaahu alaihi wasallam atau malaikat-malaikatNya atau salah seorang dari rasulNya. Atau mengaku mengetahui ilmu ghaib atau membenarkan orang yang mengaku nabi. Atau berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala atau memohon pertolongan kepadanya, sesuatu yang tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala atau berlindung kepadanya dalam hal yang juga tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala.

2. Riddah dengan perbuatan. Seperti sujud kepada patung, pohon, batu, kuburan, dan memberikan sembelihan untuknya. Termasuk juga membuang mushaf al-Qur'an di tempat-tempat yang kotor, melakukan sihir, mempelajari dan mengajarkannya serta memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan meyakini kebolehannya.

3. Riddah dengan kepercayaan (i'tiqad). Seperti kepercayaan adanya sekutu bagi Allah Subhanahu waTa’ala atau kepercayaan bahwa zina, khamar dan riba adalah halal. Atau percaya bahwa roti adalah haram, shalat adalah tidak wajib atau hal semisalnya yang telah disepakati kehalalan, keharaman atau kewajibannya secara ijma' (konsensus) yang pasti, yang tak seorang pun tidak mengetahuinya.

4. Riddah dengan keraguan tentang sesuatu sebagaimana yang disebutkan di atas. Seperti ragu tentang diharamkannya syirik atau diharamkannya zina atau khamr. Atau ragu tentang halalnya roti atau ragu terhadap risalah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam atau risalah nabi-nabi selainnya, atau ragu tentang kebenarannya, ragu tentang agama Islam atau ragu tentang kesesuaian dengan zaman sekarang.

Konsekuensi Hukum Setelah Terjadinya Riddah

1. Yang bersangkutan diminta untuk bertaubat. Jika bertaubat dan kembali kepada Islam dalam masa tiga hari, maka taubatnya diterima kemudian ia dibiarkan (tidak dibunuh).

2. Jika ia tidak mau bertaubat, maka ia wajib dibunuh, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam ,

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ.

"Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia." (HR. al-Bukhari dan Abu Daud).

3. Dilarang membelanjakan hartanya di saat ia dalam masa diminta untuk bertaubat, jika ia masuk Islam kembali, maka harta itu miliknya, jika tidak maka harta itu menjadi rampasan (fai') Baitul Mal sejak ia dibunuh atau mati karena riddah. Pendapat lain mengatakan, begitu ia jelas-jelas murtad, maka hartanya dibelanjakan untuk kemaslahatan umat Islam.

4. Terputusnya hak waris mewarisi antara dirinya dengan keluarga dekatnya, ia tidak mewarisi harta mereka dan mereka tidak mewarisi hartanya.

5. Jika ia mati atau dibunuh dalam keadaan Riddah, maka ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dikubur di kuburan umat Islam. Sebaiknya ia dikubur dikuburan orang-orang kafir atau dipendam dalam tanah, di mana saja, selain di kuburan umat Islam.


2.1 Mengaku Mengetahui Ilmu Ghaib dengan Membaca Telapak Tangan, Cangkir atau Lainnya

Yang dimaksud "ghaib" adalah apa yang tersembunyi dari manusia tentang perkara-perkara yang akan datang atau yang telah lalu dan apa yang tidak mereka lihat. Ilmu ghaib ini khusus milik Allah Subhanahu waTa’ala semata, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Tidak seorang pun di langit dan bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (An-Naml: 65).

Maka, tak seorang pun mengetahui yang ghaib kecuali Allah Subhanahu waTa’ala semata, namun terkadang Allah Subhanahu waTa’ala memperlihatkan apa yang dikehendakiNya dari yang ghaib kepada rasul-rasulNya untuk suatu hikmah dan kemaslahatan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhaiNya." (Al-jin : 26-27).

Artinya, Allah Subhanahu waTa’ala tidak memperlihatkan sesuatu pun dari masalah ghaib kecuali kepada orang yang dipilihNya untuk mengemban risalahNya. Allah Subhanahu waTa’ala memperlihatkan kepadanya apa yang dikehendakiNya dari masalah ghaib. Karena bukti kenabiannya adalah mukjizat, dan di antara mukjizat itu adalah mengabarkan tentang masalah ghaib yang diperlihatkan AllahSubhanahu waTa’ala kepadanya. Dan hal ini berlaku umum bagi rasul (utusan Allah), baik dari jenis malaikat maupun dari jenis manusia. Dan selain mereka tidak diperlihatkan masalah ghaib, berdasarkan dalil yang membatasinya. Maka barangsiapa mengaku mengetahui ilmu ghaib, dengan cara apapun, padahal ia bukan orang yang dipilih Allah Subhanahu waTa’ala sebagai Rasul, maka ia adalah pendusta dan kafir, baik ia mengakunya melalui membaca telapak tangan atau cangkir atau perdukunan, sihir, ilmu nujum atau lainnya. Inilah yang terjadi dari sebagian ahli sihir dan para dajjal yang mengabarkan keadaan barang-barang yang hilang dan raib serta sebab-sebab sebagian penyakit. Misalnya dia mengatakan, fulan melakukan ini dan itu terhadapmu, sehingga kamu sakit karenanya. Padahal sesungguhnya itu terjadi karena pekerjaan jin dan setan, tetapi mereka menampakkan kepada manusia bahwa hal itu terjadi karena pekerjaan-pekerjaan tersebut, untuk menipu dan mengaburkan pandangan manusia.

Terkadang, mereka mengabarkan hal tersebut melalui ilmu astrologi/perbintangan (nujum), yaitu menjadikan letak bintang-bintang sebagai bukti akan terjadinya berbagai peristiwa di bumi. Misalnya mereka mengatakan, barangsiapa menikah dengan orang yang berbintang ini dan itu maka akan terjadi padanya begini dan begitu. Atau mengatakan, barangsiapa melakukan perjalanan dengan orang yang berbintang ini, maka akan terjadi padanya sesuatu ini, atau barangsiapa dilahirkan dengan bintang ini dan itu, maka akan terjadi padanya kebahagiaan atau kesengsaraan ini. Demikian seperti yang dimuat pada sebagian majalah murahan dari berbagai bentuk takhayul dan dongeng seputar bintang-bintang dan nasib yang terjadi karenanya.

Sebagian orang-orang bodoh dan yang lemah iman malahan terkadang pergi kepada ahli nujum dan bertanya kepada mereka tentang masa depannya, apa yang bakal menimpanya, tentang pernikahannya dan sebagainya. Padahal barangsiapa mengaku mengetahui ilmu ghaib atau membenarkan/percaya kepada orang yang mengaku hal tersebut, maka dia adalah musyrik dan kafir, sebab dia mengaku bersekutu dengan Allah Subhanahu waTa’ala dalam hal yang merupakan kekhususan bagiNya. Dan bintang-bintang itu adalah mahluk yang tunduk kepada Allah Subhanahu waTa’ala yang tidak memiliki sesuatu urusan apa pun. Ia tidak menunjukkan kesengsaraan atau kebahagiaan dan kematian atau kehidupan. Tetapi, semuanya itu hanyalah pekerjaan setan yang mencuri dengar tentang ketentuan (takdir) Allah Subhanahu waTa’ala.

2.2 Sihir, Perdukunan dan Peramalan

Sihir, perdukunan dan peramalan adalan perkara-perkara syaithaniyah dan diharamkan. Perkara-perkara itu bisa mengurangi kesempurnaan akidah atau membatalkannya, karena berbagai hal tersebut tidak terjadi kecuali dengan perkara kemusyrikan.

A. Sihir

Sihir secara bahasa berarti sesuatu yang halus dan lembut sebabnya. Disebut sihir karena ia terjadi dengan perkara yang tersembunyi yang tidak terjangkau oleh penglihatan manusia.

Sedangkan menurut syariat sihir adalah ‘azimah, Ruqyah, buhulan (tali), ucapan, obat-obatan dan asap kemenyan. Sihir memiliki hakikat. Di antaranya ada yang mempengaruhi jiwa dan badan, sehingga membuat orang sakit, membunuh, memisahkan antara suami dengan istrinya, dan semua itu terjadi dengan taqdir kauniyah Allah Subhanahu waTa’ala. Ia adalah perbuatan setan. Dan sebagian besar dari padanya tidak dapat diperoleh kecuali melalui syirik dan mendekatkan diri kepada ruh-ruh jahat dengan sesuatu yang disenanginya, serta mendapatkan pelayanan (khidmah)nya dengan menyekutukannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Karena itu pembawa Syariat menyebutkan bersama dengan syirik. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam bersabda,

اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ، قَالُوْا: وَمَا هِيَ.. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ.

"Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran." Para sahabat bertanya, "Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu syirik kepada Allah Subhanahu waTa’ala, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah Subhanahu waTa’ala kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu tentangnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sihir masuk dalam syirik dari dua sisi:

Pertama, karena di dalamnya terdapat permintaan pelayanan (istikhdam) dari setan-setan serta ketergantungan dan kedekatan dengan mereka melalui sesuatu yang mereka cintai agar setan-setan itu memberikan pelayanan kepada tukang sihir. Dan sihir itu sendiri adalah dari ajaran setan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (Al-Baqarah: 102).

Kedua, di dalamnya terdapat pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan pengakuan berserikat dengan Allah Subhanahu waTa’ala dalam hal itu. Ini adalah kekufuran dan kesesatan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat." (Al-Baqarah: 102).

Jika demikian, tidak diragukan lagi bahwa sihir adalah kekufuran dan kemusyrikan yang bisa membatalkan akidah, serta orang yang melakukannya wajib dibunuh. Demikian itulah, sebagaimana para pembesar sahabat radiyallaahu anhum telah membunuh para tu-kang sihir.

Ironinya, pada saat ini banyak orang yang meremehkan masalah sihir dan para pelakunya. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya sebagai salah satu jenis ilmu yang mereka bangga dengannya. Mereka memberikan motivasi kepada para pelakunya. Bahkan juga hadiah-hadiah, sehingga diadakanlah berbagai acara perayaan, pertemuan dan perlombaan untuk para tukang sihir yang dihadiri oleh ribuan penonton dan penggemar. Ini adalah suatu kebodohan dalam beragama serta menganggap remeh urusan akidah, bahkan hal itu justru memberikan dukungan kepada orang-orang yang mempermainkan akidah.

B. Perdukunan dan peramalan

Keduanya adalah pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan perkara-perkara yang ghaib, seperti mengabarkan apa yang akan terjadi di muka bumi dan apa akibatnya, menunjukan di mana tempat sesuatu yang hilang. Kesemuanya itu melalui permohonan bantuan setan-setan yang mencuri dengar dari langit. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Apakah akan aku beritakan padamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta." (Asy-Syu'-ara': 221-223).

Hal itu karena setan mencuri kalimat dari ucapan malaikat kemudian disampaikan ke telinga dukun, dan dukun tersebut berbohong dengan kalimat (yang diterimanya itu) sebanyak seratus kali kebohongan. Lalu, orang-orang mempercayainya disebabkan oleh satu kalimat (yang benar tersebut) yang didengar oleh setan dari langit. Padahal Allah Subhanahu waTa’ala sendirilah yang mengetahui ilmu ghaib. Barangsiapa yang mengaku berserikat denganNya dalam sesuatu dari ilmu ghaib, baik dengan pendukunan atau lainnya, atau dia membenarkan orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, maka berarti ia telah menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu waTa’ala dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagiNya.

Pendukunan tidak lepas dari kemusyrikan, sebab ia adalah mendekatkan diri kepada setan-setan dengan apa yang mereka cintai. Ia adalah syirik dalam rububiyah Allah Subhanahu waTa’ala karena mengakui bersekutu dengan Allah Subhanahu waTa’ala dalam masalah ilmuNya. Juga termasuk syirik dalam uluhiyah Allah Subhanahu waTa’ala karena dia mendekat-kan diri kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala dengan suatu bentuk ibadah.

Dari Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam bahwa beliau bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.

Artinya:"Barangsiapa mendatangi dukun dan ia mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasalam ." (HR. Abu Daud).

Di antara hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah bahwa para tukang sihir, dukun dan peramal itu memper-mainkan akidah umat Islam, di mana mereka menampakkan diri seakan-akan sebagai tabib (dokter), sehingga mereka memerintah-kan kepada orang yang sakit agar menyembelih kurban untuk selain Allah Subhanahu waTa’ala. Misalnya agar menyembelih kambing atau ayam dengan ciri-ciri tertentu. Atau menuliskan untuk mereka tulisan mantra-mantra (thalasim) syirik dan permohonan perlindungan syaithaniyah dalam bentuk bungkusan yang dikalungkan di leher mereka atau diletakkan di laci atau rumah mereka.

Sebagian lagi menampakkan diri sebagai pemberi berita tentang hal-hal yang ghaib dan tempat-tempat barang yang hilang. Lalu, orang-orang bodoh datang bertanya kepadanya tentang barang-barang yang hilang, kemudian mereka memberitakan (keberadaan) barang tersebut atau mendatangkannya dengan bantuan pembantu-pembantunya dari setan. Sebagian mereka menampakkan diri sebagai wali yang memiliki karamah dan hal-hal di luar kebiasaan manusia (khawariqul 'adah), seperti masuk ke dalam api tetapi tidak terbakar, memukul dirinya dengan pedang (kekebalan), atau dilindas mobil tetapi tidak apa-apa atau hal lain dari keanehan-keanehan yang hakikatnya adalah sihir dan perbuatan setan yang diperjalankan melalui tangan mereka untuk membuat fitnah di antara manusia. Atau bisa jadi, hanya perkara ilusi yang tidak ada hakikatnya, bah-kan hanyalah tipuan halus dan licik yang mereka lakukan di depan penglihatan, seperti perbuatan para tukang sihir Fir'aun dengan tali-tali dan tongkat-tongkat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah menceritakan perdebatannya dengan para tukang sihir Batha'ihiyah Ahmadiyah (ar-Rifa'iyah) berkata, "Syaikh Batha'ihiyah itu berkata dengan suara lantang, 'Kami bisa berbuat begini dan begitu.' Ia mengaku memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa, seperti tidak terbakar oleh api dan sejenisnya, serta mereka mengaku bahwa hal-hal tersebut hanya mereka yang memiliki. Karena itu, pantas bagi orang lain menyerahkan keadaannya kepada mereka, karena kekhususan tersebut. Maka aku (Syaikhul Islam) menyeru dengan suara lantang campur marah, 'Aku tantang setiap orang Ahmadiy (pengikut tukang sihir al-Batha'ihiyah al-Ahmadiyah) dari penjuru Timur hingga Barat bumi. Apapun yang mereka bisa lakukan berkaitan dengan api, maka sesungguhnya aku bisa melakukan sebagaimana yang kalian lakukan, dan barangsiapa terbakar, berarti dia kalah.' Mungkin (waktu itu) saya berkata, 'Dan semoga ia (yang kalah) dilaknat Allah Subhanahu waTa’ala, tetapi tentu setelah tubuh kita dimandikan dengan cuka dan air panas. lalu para penguasa (amir) bertanya kepadaku tentang hal itu. Maka kukatakan, 'Sebab mereka memiliki tipu daya dalam bersentuhan dengan api, di mana bahannya mereka bikin dari lemak katak, kulit kelapa, dan batu pelicin.' Maka gemparlah manusia ketika itu. Lalu ia (Syaikh Batha'ihiyah) menampakkan kekuatannya dalam hal api seraya berkata (kepadaku), 'Aku dan kamu mari bergulung-gulung di tanah setelah tubuh kita dipoles dengan belerang (untuk dibakar).' Maka aku tantang, 'Ayo berdiri!' Demikian aku ulang-ulang tantangan agar ia berdiri. Kemudian ia mengacungkan tangannya seraya menampakkan akan me-lepas bajunya. Maka kukatakan, 'Tidak, sampai kamu mandi dengan air panas dan cuka!' Tiba-tiba ia tampak ragu seperti kebiasaan mereka (pengikut Batha'ihiyah). Seraya berkata, 'Siapa yang mencintai amir, maka hendaklah ia membawakan kayu kesini,' atau ia berkata, 'Seikat kayu bakar.' Maka aku sergah, ini hanya akan mengulur-ulur waktu dan mencerai beraikan keru-munan orang, sedang tujuan belum dicapai. Karena itu ambillah lentera yang telah dinyalakan kemudian marilah kita masukkan jariku dan jarimu di dalamnya, namun setelah dibasuh (dengan air panas dan cuka). Maka siapa yang jarinya terbakar, mudah-mudahan ia dapat laknat Allah Subhanahu waTa’ala,' atau kukatakan, 'Berarti ia kalah.' Setelah aku katakan demikian, tiba-tiba ia berubah dan menjadi hina." Maksud dari padanya adalah untuk menjelaskan bahwa para dajjal itu membohongi manusia dengan berbagai tipuan halus dan licik.

2.3 Mempersembahkan Kurban, Nadzar atau Hadiah untuk Tempat-tempat yang Diziarahi, Kuburan serta Mengagungkannya

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menutup segala pintu yang mengakibatkan kepada kemusyrikan serta memperingatkan dari padanya dengan peringatan yang sangat keras. Di antaranya adalah masalah kuburan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan beberapa ketentuan untuk menjaga agar kuburan tidak disembah dan agar orang-orang tidak berlebihan terhadap mereka yang dikuburkan, di antara-nya adalah:

1. Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan agar kita tidak berlebihan terhadap para wali dan orang-orang shalih, sebab hal itu menyebabkan penyembahan kepada mereka. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ.

"Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu." (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbasradiyallaahu ‘anhumaa ).

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ.

"Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, 'Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan RasulNya)'." (HR. al-Bukhari).

2. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang membangun bangunan di atas kubu-ran, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu al-Hayyaj al-Asadi, ia berkata, Ali bin Abi Thalib radiyallallaahu ‘anhu berkata kepadaku,

أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِيْ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللَّهِ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ.

"Ketahuilah sesungguhnya aku mengutusmu sebagaimana dulu Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam mengutusku yaitu, jangan engkau tinggalkan patung-patung melainkan engkau hancurkan, tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan (dengan tanah)." (HR. Muslim).
Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam juga melarang mengapur dan mendirikan ba-ngunan di atasnya. Dari jabir radiyallaahu ‘anhu, ia berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللَّهِ عَنْ تَجْصِيْصِ الْقَبْرِ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ بِنَاءٌ.

"Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membangun bangunan di atasnya." (HR. Muslim).

3. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan dari shalat di kubu-ran. Dari Aisyah radiyallaahu ‘anhaa, dia berkata, "Takkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutup kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan nafas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda,

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلىَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

"Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah." (Muttafaq 'alaih)

Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.
Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوْا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّيْ أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat Ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu." (HR. Muslim).

Menjadikan sebagai tempat ibadah maknanya adalah shalat di kuburan, meskipun tidak dibangun tempat ibadah (masjid) di atasnya. Sebab setiap tempat yang dituju untuk shalat di dalamnya, maka ia adalah tempat ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا.

"Dan dijadikan untukku tanah sebagai tempat sujud dan alat ber-suci." (HR. al-Bukhari ).

Dan jika dibangun masjid di atasnya, maka tentu persoalan menjadi lebih besar.

Adapun mempersembahkan nadzar dan kubur untuk tempat-tempat yang diziarahi, maka ia adalah syirik besar. Sebab ia menyelisihi petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hal yang wajib dilakukan terhadap kuburan, yakni hendaknya tidak dibangun suatu bangunan di atasnya, juga tidak didirikan masjid di atasnya. Karena, ketika di atasnya dibangunkan kubah dan di sekelilingnya didirikan tempat ibadah serta tempat-tempat ziarah, maka orang-orang bodoh akan menyangka bahwa orang-orang yang dikubur di dalamnya bisa memberikan manfaat atau mudharat, dan bahkan mereka bisa menolong orang yang meminta pertolongan kepada mereka, serta bisa memenuhi hajat orang yang bersandar kepada mereka. Karena itu mereka mempersembahkan nadzar dan kurban kepada mereka, sehingga pada akhirnya menjadi berhala-berhala yang disembah selain Allah Subhanahu waTala, padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَللّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًًا يُعْبَدُ.

"Ya Allah, janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah." (HR. Malik dan Ahmad).

Dan tidaklah beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berdoa dengan doa ini kecuali ka-rena bakal terjadi tindakan seperti itu, selain terhadap kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ini benar-benar terjadi di banyak negara-negara Islam. Adapun kuburan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka ia dijaga oleh Allah Subhanahu waTala berkat doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebab kuburan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di dalam rumahnya, dan tidak berada di dalam masjid, serta ia dikelilingi dengan tembok-tembok. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam Qashidah Nuniyahnya,

فَاســتَجَابَ رَبُّ الْعَـالَمِيْنَ دُعَـاءَهُ وَأَحَاطَـهُ بِثَلاَثَــةِ الْجُدْرَانِ

"Maka Rabb semesta alam mengabulkan doanya (Nabi), dan kuburannya dikeliling oleh tiga tembok.

2.4 Mengagungkan Berhala-berhala dan Patung-Patung Peringatan

 اَلتَّمَـاثِيْلُ adalah bentuk jama' dari تِمْثَـال yaitu gambar fisik dalam bentuk manusia atau hewan atau makhluk lainnya yang memiliki ruh. Sedangkan وَالنُّصُـبُ pada asalnya maknanya adalah tanda dan batu-batu yang dahulu orang-orang musyrik Arab mempersembahkan kurban di sisinya. Sedang yang dimaksud والنُّصُبُ التِّذْكَارِيَّـةُ (patung-patung peringatan) adalah patung-patung dan gambar-gambar yang didirikan di tanah lapang atau di tempat lainnya untuk menghidupkan peringatan terhadap pemimpin atau pahlawan yang diagungkan dengan gambar-gambar mereka.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah melarang menggambar sesuatu yang memiliki ruh (jiwa). Sebab syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi adalah disebabkan oleh gambar dan memajangnya. Yakni, dahulu kala pada zaman kaum Nuh terdapat orang-orang shalih. Ketika mereka meninggal dunia kaumnya sangat sedih atas kematian mereka. Lalu setan membisikkan kepada mereka, “Dirikanlah patung-patung pada tempat yang mereka pernah mengadakan pertemuan di sana, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka”. Orang-orang itupun melaksanakan bisikan setan tersebut, tetapi patung-patung mereka ketika itu belum disembah. Hingga setelah orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dunia dan ilmu agama dilupakan orang barulah patung-patung tadi disembah." (HR. al-Bukhari).

Dan ketika Allah Subhanahu waTa’ala mengutus Nabi Nuh ’alaihissalam ia melarang syirik tersebut, yang disebabkan oleh patung-patung yang didirikan, namun kaumnya enggan menerima dakwahnya, bahkan tetap bersikeras menyembah patung-patung yang didirikan tersebut yang kemudian berubah menjadi berhala-berhala. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, 'Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan (terutama) janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, maupun Nasr." (Nuh: 23).

Itulah nama-nama orang-orang besar (shalih) yang digambar sesuai dengan bentuk mereka sebagai media untuk mengenang dan mengagungkan mereka. Maka lihatlah, akibat dari patung-patung peringatan dalam hal menyekutukan Allah Subhanahu waTa’ala dan menentang rasul-rasulNya, suatu hal yang menyebabkan mereka dibinasakan dengan bencana taufan, dimurkai Allah Subhanahu waTa’ala , juga dibenci mahlukNya. Ini juga menunjukkan kepada kita betapa bahayanya masalah gambar dan mendirikan patung-patung. Karena itulah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melaknat para perupa (tukang gambar), mengabarkan bahwa mereka adalah orang yang paling berat siksaannya pada Hari Kiamat, memerintahkan agar gambar-gambar itu dihancurkan juga menyatakan bahwa para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Semua itu karena kerusakan serta besarnya bahaya yang ditimbulkannya terhadap umat dalam hal akidah mereka. Gambar-gambar itu hukumnya sama saja, baik untuk sekedar gambar-gambar (kenangan) atau patung-patung (peringatan) dalam tempat-tempat dan rusaknya akidah. Jika orang-orang kafir pada saat ini melakukan pekerjaan tersebut, itu adalah karena mereka tidak memiliki akidah yang semestinya mereka jaga. Karena itu, umat Islam tidak boleh menyerupai dan ikut andil dengan mereka dalam pekerjaan ini, untuk menjaga akidah mereka yang merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan mereka di lapangan atau taman-taman. Semuanya itu adalah haram menurut syariat, karena merupakan sarana menuju syirik.

2.5 Mengolok-olok Agama dan Melecehkan Kehormatannya

Mengolok-olok agama hukumnya adalah murtad dan keluar dari agama secara keseluruhan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66).

Ayat ini menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah Subhanahu waTa’ala adalah kekufuran, mengolok-olok Rasul adalah kekufuran, dan mengolok-olok ayat-ayat Allah Subhanahu waTa’ala adalah kekufuran. Karena itu, barangsiapa mengolok-olok salah satu dari perkara tersebut berarti ia telah mengolok-olok semuanya. Apa yang terjadi pada orang-orang munafik adalah mereka mengolok-olok Rasul dan para sahabatnya, lalu turunlah ayat ini.

Mengolok-olok ada dua macam: Secara terus terang dan secara tidak terus terang.

Pertama, mengolok-olok secara nyata (terus terang), seperti yang karenanya ayat di atas turun. Yakni ucapan mereka belum pernah kami melihat seperti para ahli baca al-Qur'an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan, atau ucapan-ucapan lain yang bersifat pengolok-olok. Seperti ucapan sebagian mereka, 'Agama kalian ini adalah agama kelima'. Atau ucapan mereka yang lain, 'Agama kalian adalah agama kuno’. Atau ucapan sebagian lain jika melihat orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran,'Telah datang kepada kalian ahli agama' Semuanya dalam nada mengejek mereka atau ucapan-ucapan lain yang tidak terhitung kecuali dengan susah payah yang lebih besar dari ucapan yang karenanya ayat di atas turun kepada mereka.

Kedua, mengolok-olok secara tidak terus terang dan contohnya banyak tidak terhitung. Seperti dengan mengedipkan mata, menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, meremehkan dengan isyarat tangan ketika membaca Kitabullah atau Sunnah RasulNya, atau ketika melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Termasuk di dalamnya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian mereka bahwa Islam tidak sesuai untuk abad 20, tetapi hanya cocok dan sesuai untuk abad-abad pertengahan, Islam adalah terbelakang dan kuno, di dalamnya terdapat kekerasan dan kebengisan dalam memberikan hukuman Had dan sangsi, Islam menganiaya wanita dan hak-haknya karena membolehkan menceraikannya dan berpoligami. Juga termasuk ucapan mereka, memutuskan hukum dengan undang-undang buatan manusia lebih baik daripada berhukum dengan Islam. Mereka juga memberikan kepada orang yang menyeru kepada tauhid dan mengingkari ibadah kepada keburukan-keburukan dengan julukan ekstrimis, atau ingin memecah belah jama'ah umat Islam. Atau mengatakan, "Ini adalah wahabi atau madzhab kelima," serta ucapan-ucapan lain yang kesemuanya merupakan pelecehan terhadap agama dan pemeluknya, serta olok-olok terhadap akidah yang benar, la haula wala quwwata illa billah.Termasuk di antaranya adalah olok-olok mereka terhadap orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam seraya mengatakan, "Agama itu tidaklah di rambut," sebagai olok-olokan terhadap orang yang memanjangkan jenggotnya, serta ucapan-ucapan buruk lainnya.

2.6 Memutuskan Hukum dengan Selain Apa yang Diturunkan Allah Subhanahu waTa'ala

Di antara konsekuensi beriman kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan beribadah kepadaNya adalah tunduk kepada hukum-hukumNya, rela dengan syariatNya dan kembali kepada kitabNya dan Sunnah RasulNya ketika terjadi perselisihan pendapat, perselisihan dalam hal-hal prinsip, perseteruan, perselisihan dalam hal darah, harta dan hak-hak lainnya. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu waTa’ala adalah hakim dan kepadaNyalah hukum diputuskan. Maka kewajiban setiap hakim adalah memutuskan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan kewajiban rakyat adalah meminta agar (permasalahannya) diputuskan sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kitabNya maupun Sunnah RasulNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman dalam kaitannya dengan hak penguasa:

Artinya:"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (An-Nisa': 58).

Lalu dalam kaitannya dengan hak rakyat, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59).

Lalu Allah Subhanahu waTa’ala menjelaskan bahwa iman itu tidak dapat bertemu dengan tindakan meminta hukum kepada selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala . Firman Allah Ta’ala ,

Artinya:"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah meng ingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (An-Nisa: 60).

Sampai kepada firmanNya,

Artinya:"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa': 65).

Allah Subhanahu waTa’ala meniadakan iman dan menguatkan hal itu dalam bentuk sumpah terhadap orang yang tidak memutuskan hukum kepada RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan rela dengan hukumnya serta menyerah kepadanya dengan sepenuhnya, sebagaimana Dia Subhanahu waTa’ala juga menghukumi kafir, zhalim dan fasik terhadap para penguasa yang tidak memutuskan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala . Firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma'idah : 44)

Artinya:"Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim." (Al-Ma'idah: 45).

Artinya:"Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma'idah : 47).

Kita wajib memutuskan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan berhukum kepadanya dalam segala perselisihan pendapat (ijtihadiyah) antar ulama. Kita tidak boleh menerima pendapat mereka kecuali apa yang berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah tanpa fanatik terhadap madzhab tertentu atau memihak kepada seorang imam, juga dalam berperkara di hadapan hakim dan dalam semua persengketaan masalah hak, tidak saja dalam masalah-masalah pribadi, sebagaimana yang ada di negara-negara yang mengaku berlandaskan Islam, sebab Islam adalah satu kesatuan, tidak terpisah-pisah. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan." (Al-Baqarah: 208).

Artinya:"Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?" (Al-Baqarah : 85).

Demikian juga, para pengikut madzhab hendaknya mengembalikan pendapat-pendapat para imam mereka kepada al-Qur'an dan as-Sunnah, lalu apa yang sesuai dengan keduanya mereka ambil dan apa yang menyelisihi keduanya mereka tolak tanpa fanatik atau memihak. Apalagi dalam perkara-perkara akidah, sebab para imam rahimahullaah mewasiatkan demikian dan demikianlah madzhab mereka secara keseluruhan. Maka, siapa yang menyelisihi hal ini berarti ia bukan para pengikut imam tersebut, meskipun mengaku pengikut mereka. Inilah yang disinyalir Allah Subhanahu waTa’ala dalam firmanNya,

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam." (At-Taubah: 31).

Ayat di atas tidaklah khusus bagi orang-orang Nasrani, tetapi juga bagi mereka yang melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka. karena itu, barangsiapa menyelisihi apa yang diperintahkan Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya yakni dengan memutuskan hukum di antara sesama manusia dengan selain yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala atau mencari hukum tersebut karena mengikuti hawa nafsu dan keinginannya sendiri, maka berarti dia telah melepaskan ikatan Islam dan Iman dari lehernya, meskipun dia mengaku sebagai seorang mukmin.

Hukum Orang yang Memutuskan Hukum dengan Selain Apa yang Diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al- Ma'idah: 44).

Dalam ayat yang mulia di atas Allah Subhanahu waTa’ala menegaskan bahwa memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala adalah kekufuran. Kekufuran tersebut bisa merupakan kekufuran besar yang menyebabkan keluar dari agama, dan bisa kekufuran kecil yang tidak mengeluarkan dari agama. Hal itu sesuai dengan keadaan sang hakim; jika dia meyakini bahwa memutuskan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah wajib dan ia bebas memilih (dalam hal hukum) atau melecehkan hukum-hukum Allah Subhanahu waTa’ala dan meyakini bahwa hukum selain dari perundang-undangan dan peraturan buatan manusia lebih baik dari padanya dan bahwa hukum-hukum Allah Subhanahu waTa’ala tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang, atau dia menginginkan dengan memutuskan hukum berdasarkan selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala agar disenangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka ini adalah kekufuran besar. Dan jika ia meyakini kewajiban untuk memutuskan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan dia mengetahuinya dalam perkara ini, tetapi dia berpaling dari padanya, sedang dia mengakui bahwa dia pantas mendapat hukuman, maka dia adalah orang yang bermaksiat dan termasuk kekufuran kecil. Namun,jika dia tidak mengetahui hukum Allah Subhanahu waTa’ala dalam perkara tersebut, padahal dia sudah berijtihad dan berusaha keras untuk mengetahui hukum tersebut lalu dia salah (dalam memutuskan hukum), maka ia berhak mendapat satu pahala atas ijtihadnya dan kesalahannya diampuni.(1)
Hal di atas jika dalam memutuskan hukum yang sifatnya kasuistik (sesuai dengan kasus tertentu). Akan tetapi dalam persoalan hukum yang sifatnya umum, maka persoalannya menjadi berbeda. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika seorang hakim memutuskan hukum yang sifatnya umum dan menyangkut dien kaum muslimin, lalu dia menjadikan yang haq sebagai yang batil dan yang batil menjadi yang haq yang sunnah sebagai bid'ah dan yang bid'ah sebagai sunnah, yang ma'ruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai yang ma'ruf, melarang apa yang diperintahkan Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya serta memerintahkan yang dilarang Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, maka ini adalah jenis lain yang hanya Allah Subhanahu waTa’ala , Rabb semesta alam yang akan menghukuminya, sesembahan segenap rasul, Penguasa di Hari Pembalasan, dan bagiNyalah segala puji, di dunia maupun akhirat.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"BagiNyalah putusan hukum, dan hanya kepadaNyalah kamu dikembalikan." (Al-Qashash: 88).

Artinya:"Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Fath: 28).

Maka barangsiapa yang menyelewengkan syariat Islam dan menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai penggantinya, maka ini adalah pertanda bahwa dia berpendapat bahwa undang-undang tersebut lebih baik dan lebih maslahat dari pada syariat Islam, dan tentu tidak diragukan lagi ini adalah kekufuran besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari din (agama) dan bisa menggugurkan tauhid.

2.7 Mengaku Memiliki Hak Membuat Syariat Menghalalkan dan Mengharamkan

Membuat hukum-hukum syariat yang berlaku bagi semua hamba dalam ibadah, muamalah dan segenap perkara mereka, serta memutuskan persengketaan dan menyelesaikan perseteruan di antara mereka adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala semata, Rabb segenap manusia dan Pencipta segala makhluk. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (Al-A'raf: 54).

Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi hambaNya sehingga meletakkan syariat demi kebaikan mereka. Dengan rububiyahNya Allah meletakkan syariat untuk mereka dan karena posisinya sebagai hamba maka mereka menerima hukum-hukumNya, dan maslahatnya adalah untuk manusia itu sendiri. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59).

Artinya:"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah, Tuhanku." (Asy-Syura: 10).

Allah Subhanahu waTa’ala mengingkari jika para hamba menjadikan selainNya sebagai pembuat syariat, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (Asy-Syura: 21).

Maka barangsiapa menerima syariat selain syariat Allah berarti ia telah menyekutukan Allah Subhanahu waTa’ala. Dan apa-apa yang disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala serta RasulNya dari berbagai ibadah, maka ia termasuk bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru dalam perkara kami ini (agama) yang tidak termasuk daripadanya maka ia tertolak." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

"Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak didasari agama kami maka ia tertolak." (HR. Muslim).

Dan apa yang tidak disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala serta RasulNya, baik dalam hal politik atau hukum di antara sesama manusia maka ia adalah hukum Thaghut dan hukum Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma'idah: 50).

Demikian pula dalam hal menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, ia adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala, dan tak seorang pun boleh berserikat denganNya dalam hal tersebut. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At- Taubah: 31).

Di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat ini di hadapan 'Adi bin Hatim ath-Tha'i radiyallaahu ‘anhu, maka ia berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami tidaklah menyembah mereka!' Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya,

أَلَيْسَ يُحِلُّوْنَ لَكُمْ مَاحَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّوْنَهُ، وَيُحَرِّمُوْنَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُوْنَهُ، قَالَ: بَلَى، قَالَ النَّبِيُّ فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ.

“Bukankah mereka itu menghalalkan bagi kalian apa yang telah diharamkan Allah, lalu kamu pun menghalalkannya, dan mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamu pun mengharamkannya?' Ia berkata, 'Tentu.' Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Itulah ibadah (penyembahan) kepada mereka'." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Jarir dan lainnya).

Maka mentaati mereka dalam menghalalkan dan mengharamkan sesuatu selain dari pada Allah Subhanahu waTa’ala adalah bentuk ibadah kepada mereka serta suatu kesyirikan. Dan ia termasuk syirik besar yang menghilangkan tauhid, dan itulah kandungan syahadat La Ilaha Illallah(1), sebab di antara kandungannya yaitu bahwa menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala semata. Jika demikian hukum terhadap orang yang mentaati ulama dan ahli ibadah dalam hal penghalalan dan pengharaman yang menyelisihi syariat Allah Subhanahu waTa’ala, padahal mereka lebih dekat terhadap ilmu dan dien, bahkan terkadang kesalahan mereka itu karena ijtihad mereka yang tidak benar, tetapi mereka tetap berpahala karenanya, lalu bagaimana pula halnya dengan mereka yang mentaati para hakim dalam undang-undang buatan manusia yang dibuat oleh orang-orang kafir dan atheis, undang-undang dibawa ke negara-negara kaum muslimin dan menjadi pemutus hukum di antara mereka sungguh tiada daya kekuatan kecuali karena pertolongan Allah Subhanahu waTa’ala.

Hal di atas sungguh berarti telah menjadikan orang-orang kafir sebagai sesembahan selain Allah Subhanahu waTa’ala. Sebab mereka meletakkan hukum-hukum untuk ia terapkan, yang menghalalkan baginya sesuatu yang haram, lalu hal itu dijadikannya sebagai pemutus hukum di antara manusia.

2.8 Bergabung dengan Madzhab-madzhab Atheis (Ilhad) dan Kelompok-kelompok Jahiliyah

Pertama Ikut bergabung dengan madzab-madzab (paham-paham) atheis seperti komunisme, sekulerisme, materialisme dan paham-paham kufur lainnya adalah kufur dan keluar dari Islam. Jika orang-orang bergabung dengan paham-paham tersebut mengaku Islam, maka ia termasuk nifaq akbar (kemunafikan besar). Karena sesungguhnya orang-orang munafik itu mengaku Islam secara lahiriyah, tetapi secara batiniyah (sesungguhnya) mereka bersama orang-orang kafir. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al- Baqarah: 14).

Artinya:"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) besertamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' " (An-Nisa': 141).

Orang-orang munafik penipu, masing-masing mereka memiliki dua wajah; wajah untuk menghadapi orang orang beriman dan wajah untuk berpaling pada kawan-kawannya dari kalangan orang-orang atheis. Mereka juga memiliki dua lisan; lisan yang secara lahiriah diterima oleh umat Islam dan lisan yang mengungkapkan tentang rahasia mereka yang tersembuyi. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al-Baqarah: 14).

Mereka berpaling dari al-Qur'an dan as-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan para pengikutnya. Mereka enggan tunduk terhadap hukum kedua wahyu tersebut karena merasa bangga terhadap ilmu yang mereka miliki, padahal memperbanyak ilmu tersebut tidak bermanfaat, kecuali malah menambah keburukan dan kesombongan. Karena itu, engkau melihat mereka senantiasa mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu yang nyata. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Rtinya:"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (Al-Baqarah: 15).

Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Tau-bah: 119).

Madzab-madzab atheis tersebut adalah madzab-madzab yang menyimpang, karena didirikan di atas kebatilan. Komunisme misalnya, mengingkari wujud Pecipta Subhanahu waTa’ala dan memerangi agama-agama samawiyah. Barangsiapa rela dengan akalnya untuk hidup tanpa akidah serta mengingkari kepastian hukum-hukum akal, maka berarti ia menafikan akalnya. Lalu sekulerisme mengingkari agama-agama dan hanya bersandar kepada materi yang tidak memiliki orientasi dan tujuan dalam hidup ini, selain kehidupan hewani. Kapitalisme yang dipentingkan hanya mengumpulkan harta dari mana saja, tanpa memperdulikan halal-haram, kasih sayang dan cinta kepada orang-orang fakir dan miskin. Dasar perekonomiannya adalah riba yang berarti memerangi Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, dan karenanya negara serta pribadi menjadi hancur dan menghisap darah rakyat miskin. Karena itu, setiap orang yang berakal, apalagi yang memiliki sedikit iman tak mungkin rela hidup berdasarkan madzab-madzab ini, hidup tanpa akal, agama, tujuan yang benar yang senantiasa diupayakan dan di pertahankan. Madzab-madzab ini masuk ke negara-negara Islam saat mayoritas mereka kehilangan dien yang lurus dan terdidik di atas kelalaian serta hidup sekedar menjadi penurut dan pengekor.

kedua Bergabung dengan kelompok-kelompok Jahiliyah serta fanatik terhadap rasialisme adalah suatu kekufuran dan kemurtadan dari Islam. Sebab Islam menolak fanatisme dan kebangkitan Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (Al-Hujurat: 13).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ غَضِبَ لِعَصَيِبَّةٍ.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (Ashabiyah), tidak termasuk golongan kami orang yang membunuh karena ashabiyah, dan tidak termasuk golongan kami orang yang marah karena ashabiyah." (HR. Muslim).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِاْلآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ، وَلاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلىَ عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.

"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang celaka. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam (non Arab) kecuali dengan takwa." (HR. at-Tirmidzi dan lainnya).

Hizbiyah (fanatik kelompok) inilah yang memecah belah umat Islam, padahal Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita bersatu dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta melarang berpecah belah dan berselisih. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103).

Sesungguhnya Allah Subhanahu waTa’ala menginginkan agar kita menjadi satu kelompok (jamaah, hizb) yang satu, yaitu hizbullah yang beruntung. Tetapi, dunia Islam setelah itu diinvasi oleh Barat, baik secara politik maupun budaya, sehingga mereka tunduk kepada ashabiyah darah, ras/gender dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Lalu rakyatnya dengan semangat menghidup-hidupkan ashabiyah tersebut yang sudah dipadamkan oleh Islam, mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi'ar-syi'arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa yang oleh Islam selalu dinamai dengan Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala memberi nikmat kepada umat Islam untuk keluar dari masa Jahiliyah dan menganjurkan mereka agar mensyukuri nikmat tersebut.

Naluri seorang mukmin adalah hendaknya ia tidak menyebut tentang Jahiliyah, baik masa silam maupun yang terdekat kecuali dengan perasaan kebencian, ketidaksukaan, kemarahan dan hati yang menggeram. Bukankah seorang bekas penghuni penjara yang disiksa kemudian dilepaskan, lalu ketika diceritakan hari-hari penahanannya, penyiksaan dan penghinaan terhadap dirinya hatinya begitu menggeram menahan luapan amarah. Dan bukankah seorang yang telah sembuh dari sakitnya yang parah dan lama bahkan hampir saja ia mati pada hari-hari sakitnya itu, lalu ketika diingatkan ia menjadi gundah hati dan wajahnya pucat pasi? Sungguh wajib dipahami bahwa hizbiyah-hizbiyah tersebut adalah suatu adzab yang diturunkan Allah atas orang-orang yang berpaling dari syariatNya dan mengingkari agamaNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Dia yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain."[i/] (Al-An'am: 65).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ.

"Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak memutuskan hu-kum dengan Kitabullah, maka Allah akan menjadikan siksaan di antara mereka." (HR. Ibnu Majah).

Sesungguhnya fanatik terhadap golongan-golongan menyebabkan ditolaknya kebenaran yang ada pada orang lain, sebagaimana keadaan orang-orang Yahudi, yang kepada mereka Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kepada al-Qur'an yang diturunkan Allah,' mereka berkata, 'Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.' Dan mereka kafir kepada al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka." (Al-Baqarah: 91).

Juga sama dengan keadaan orang-orang Jahiliyah yang menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada mereka, karena fanatik dengan apa yang ada pada nenek moyang mereka.

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah,' mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'." (Al-Baqarah: 170).

Para pengikut hizbiyah tersebut ingin menjadikan hizbiyahnya sebagai ganti dari Islam yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada manusia.

2.9 Pandangan Materialistis terhadap Kehidupan dan Bahaya-bahayanya

Ada dua sudut pandang terhadap kehidupan dunia. Pertama, pandangan materialistis; dan kedua, pandangan yang benar. Masing-masing sudut pandang tersebut memiliki pengaruhnya tersendiri.

A. Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia

Yaitu pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Subhanahu waTa’alaq menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11).

Allah Subhanahu waTa’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Subhanahu waTa’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).

Artinya:"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7).

Demikianlah, Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala.

Di antara manusia dan jumlah mereka mayoritas ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!" (Al-An'am: 29).

Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).

Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al- Furqan: 44).

Allah Subhanahu waTa’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Ruum: 6-7).

Meskipun mereka ahli di bidang berbagai penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu waTa’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28).
Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79).

Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Ironisnya, mereka tidak meniru dalam kesemangatan mereka, dalam mempersiapkan kekuatan serta hal-hal bermanfaat lainnya, misalnya di bidang penemuan-penemuan dan teknologi.

B. Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan

Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Subhanahu waTa’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman kepada penduduk surga,

Artinya:"(Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)." (Al-Haqqah: 24).

2.10 Tentang Ruqyah dan Tamimah

A. Ruqyah

الرُّقَى adalah jama' dari رُقْيَـةٌ artinya mantera atau jampi-jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena musibah, misalnya orang terkena penyakit panas, kemasukan jin atau musibah lainya. Ruqyah juga disebut azimah, terdiri atas dua macam: Yang bebas dari unsur syirik dan yang tidak lepas dari unsur syirik.

Pertama, ruqyah yang bebas dari unsur syirik

Yaitu dengan membacakan kepada si sakit sebagian ayat-ayat al-Qur'an atau dimohonkan perlindungan untuknya dengan Asma' dan sifat Allah Subhanahu waTa’ala. Hal ini dibolehkan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah meruqyah (menjampi) dan beliau memerintahkan untuk meruqyah serta membolehkannya.

Dari Auf bin Malik radiyallaahu ‘anhu ia berkata, "Kami diruqyah ketika masa Jahiliyah, lalu kami tanyakan, 'Wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bagaimana pendapat baginda tentang hal itu?' Maka beliau bersabda,

اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَالَمْ تَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

"Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku, tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik." (HR. Muslim).

As-Suyuthi berkata, "Para ulama sepakat tentang dibolehkannya ruqyah bila memenuhi tiga syarat.
Pertama, hendaknya dilakukan dengan kalamullah (al-Qur'an) atau dengan Asma' dan sifatNya.
Kedua, hendaknya dengan bahasa Arab atau yang diketahui maknanya.
Ketiga, hendaknya di yakini bahwa ruqyah tersebut tidak terpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah Subhanahu waTa’ala.(1)

Caranya, hendaknya dibacakan kemudian dihembuskan kepada si sakit, atau dibacakan di air kemudian air itu diminumkan kepada si sakit, sebagaimana disebutkan dalam hadits Tsabit bin Qais.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِيْ قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

"Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengambil tanah dari lembah Bathhan lalu diletakkannya di gelas, kemudian beliau menyemburkan air padanya (orang yang sakit) dan menuangkannya di atasnya." (HR. Abu Daud).

Kedua, ruqyah yang tidak lepas dari unsur syirik

Ruqyah jenis ini di dalamnya terdapat permohonan pertolongan kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, yaitu dengan berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, meminta pertolongan dan berlindung kepadanya, misalnya meruqyah dengan nama-nama jin, atau nama-nama malaikat para nabi dan orang-orang shalih. Hal ini termasuk berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, dan ia adalah syirik besar. Termasuk ruqyah jenis ini adalah yang dilakukan dengan selain bahasa Arab atau yang tidak dipahami maknanya, sebab ditakutkan akan kemasukan unsur kekufuran atau kesyirikan sedang ia tidak mengetahuinya. Ruqyah jenis ini adalah ruqyah yang dilarang.

B. Tamimah

التّمَائِمُ adalah jama' dari تَمِيْمَـةٌ yaitu sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit 'ain (kena mata), dan terkadang juga dikalungkan pada leher orang-orang dewasa dan wanita.

Tamimah ada dua macam: Tamimah dari al-Qur'an dan tamimah selain dari al-Qur'an.

Pertama, Tamimah dari al-Qur'an
Yakni dengan menuliskan ayat-ayat al-Qur'an atau Asma' dan Sifat Allah Subhanahu waTa’ala kemudian dikalungkan di leher untuk memohon kesembuhan dengan perantaraannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengalungkan Tamimah jenis ini dalam dua pendapat.

Pendapat pertama, ia dibolehkan. Ini adalah pendapat sekelompok sahabat, di antaranya Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radiyallaahu ‘anhu. Ini pulalah makna tekstual apa yang diriwayatkan Aisyah. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Ja'far al-Baqir dan Ahmad bin Hanbal , menurut salah satu riwayat dari beliau. Mereka mengkhususkan hadits yang melarang mengalungkan tamimah pada tamimah yang di dalamnya terdapat syirik.

Pendapat kedua, ia dilarang. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sekelompok sahabat, di antaranya adalah Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radiyallaahu ‘anhumaa. Ini pulalah pendapat Hudzaifah, Uqbah bin Amir dan Ibnu Ukaim. Sekelompok tabi'in juga menguatkan pendapat ini, di antaranya para sahabat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu dan Ahmad rahimahullaah dalam suatu riwayat yang kemudian dipilih oleh sebagian besar pengikutnya dan para ulama muta'akhkhirin memastikan pendapat ini dengan mendasarkan pada riwayat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu , ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.

"Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah (pelet) adalah syirik." (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Pendapat kedua adalah yang benar karena tiga alasan:

1. Keumuman larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , serta tak ada dalil yang menghususkanya.
2. Untuk tindakan prefentif, karena hal itu menyebabkan dikalungkannya sesuatu yang tidak dibolehkan.

3. Bahwasanya jika ia mengalungkan sesuatu dari ayat al-Qur'an maka hal itu menyebabkan pemakaiannya menghinakan, misalnya dengan membawanya waktu buang hajat, istinja'(1) atau lainnya.(2)

Kedua, Tamimah selain dari al-Qur'an.

Tamimah jenis ini biasanya dikalungkan pada leher seseorang, seperti tulang, rumah kerang, benang, sandal, paku, nama-nama setan dan jin serta jimat. Tak diragukan lagi bahwa ini adalah diharamkan dan termasuk syirik, sebab menggantungkan kepada selain Allah, Asma', sifat dan ayat-ayatNya.

Kewajiban setiap Muslim adalah menjaga akidahnya dari sesuatu yang akan merusaknya atau mengurangi kesempurnaannya. Karena itu hendaknya ia tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak diperbolehkan, tidak pergi kepada orang-orang yang sesat dan tukang sulap untuk mengobati penyakit-penyakit mereka, sebab justru mereka itu yang menyebabkan sakitnya hati dan akidahnya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah Subhanahu waTa’ala, niscaya cukuplah baginya.

Sebagian orang ada yang menggantungkan berbagai hal tersebut pada dirinya, sementara ia tidak dalam keadaan sakit. Ia hanyalah sakit ilusi yakni ketakutan terhadap orang yang iri hati dan dengki. Atau ia menggantungkan berbagai hal tersebut di mobil, kendaraan, pintu rumah dan tokonya. Semua ini merupakan bukti kelemahan akidah serta tawakalnya kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Sungguh, kelemahan akidah itulah hakikat sakit yang sesungguhnya yang wajib diobati dengan mengetahui tauhid dan akidah yang benar.

2.11 Bersumpah dengan Nama Selain Allah Ta'ala, Bertawasul dan Meminta Pertolongan kepada Selain Allah Ta'ala

A. Bersumpah dengan Nama Selain Allah

Sumpah (الحلـف) adalah penegasan keputusan dengan menyebutkan nama yang diagungkan secara khusus. Sedangkan pengagungan itu adalah hak Allah semata, karena itu tidak dibolehkan bersumpah dengan selainNya. Para ulama secara ijma' (konsensus) menyatakan bahwa sumpah itu tidak dibolehkan kecuali dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala atau dengan Asma' dan sifatNya, dan secara ijma’ pula mereka menyatakan dilarangnya bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Subhanahu waTa’ala .(1) Bersumpah dengan nama selain Allah adalah syirik, berdasarkan riwayat Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau berlaku syirik."(HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).

Dan ia termasuk syirik kecil, tetapi jika yang dijadikan sebagai sumpah itu diagungkan oleh orang yang bersumpah sampai ke derajat menyembahnya maka ia adalah syirik besar.

Bersumpah adalah pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah dan tidak pantas kecuali dengan nama Allah. Oleh karena itu, sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala hendaknya dimuliakan, tidak memperbanyak sumpah denganNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jagalah sumpahmu." (Al- Ma'idah: 89).

Artinya, jangan bersumpah kecuali dalam keadaan membutuhkanya dan dalam keadaan benar serta jujur. Karena memperbanyak sumpah atau berdusta di dalamnya menunjukkan pelecehan terhadap Allah serta tidak mengagungkanNya, dan hal itu menafikan kesempurnaan tauhid. Dalam hadits disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ أُشَيْمِطٌ زَانٍ وَعَاثِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، وَجَاءَ فِيْهِ: وَرَجُلٌ جَعَلَ اللَّهَ بِضَاعَتَهُ لاَ يَشْتَرِيْ إِلَّا بِيَمِيْنِهِ وَلَا يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ.

"Tiga orang, yang mereka itu tidak diajak bicara dan tidak disucikan Allah (pada Hari Kiamat) dan mereka menerima adzab yang pedih, yaitu orang yang sudah beruban (tua) yang melakukan zina, orang melarat yang congkak dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli dan tidak pula menjual kecuali dengan bersumpah." (HR. ath-Thabrani dengan sanad shahih).

Hadits di atas memberikan ancaman yang keras terhadap orang yang banyak bersumpah, sesuatu yang menunjukkan haramnya hal tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap Nama Allah Subhanahu waTa’ala dan pengagungan terhadapNya.

Demikianlah pula diharamkan bersumpah dengan nama Allah secara dusta, yakni al-yamin al-ghamus. Dan Allah Subhanahu waTa’ala telah menyifati orang-orang munafik bahwasanya mereka itu bersumpah secara dusta, padahal mereka mengetahuinya.

Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan,

1. Haram bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala , seperti bersumpah dengan amanah, Ka'bah atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , dan bahwa semua itu adalah syirik.

2. Haram bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala secara dusta dengan sengaja, dan itulah yang disebut dengan al-yamin al-ghamus.

3. Haram memperbanyak sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala , meskipun benar, jika hal itu tidak diperlukan.

4. Dibolehkan bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala jika benar dan dalam keadaan dibutuhkan.

B. Tawassul

Yaitu mendekatkan diri dan berupaya sampai kepada sesuatu, wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan kepada orang lain.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya." (Al-Ma'idah: 35).

Yakni dengan mentaatiNya dan mengikuti keridhaanNya. Tawassul ada dua macam: Tawassul yang dibolehkan dan tawassul yang tidak dibolehkan.

Pertama, tawassul yang dibolehkan

Tawassul yang dibolehkan ada beberapa macam:

1. Tawassul kepada Allah dengan Asma' dan SifatNya, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan hal tersebut dalam firmanNya,

Artinya:"Hanya milik Allah Asma'ul Husna (nama-nama yang indah) maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma'ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Asma'Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180).

2. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,

Artinya:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193).

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits tentang tiga orang yang keruntuhan batu besar sehingga menutup pintu gua (tempat mereka singgah), dan mereka tidak bisa keluar daripadanya, lalu mereka bertawassul dengan amal shalih mereka, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala membukanya dan mereka keluar pergi.

3. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mentauhidkanNya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yunus ’alaihissalam,

Artinya:"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau." (Al-Anbiya': 87).

4. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menampakkan kelemahan, hajat dan kebutuhan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana dikatakan oleh Ayyub ’alaihissalam,

Artinya:"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (Al-Anbiya' : 83).

5. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan doa orang-orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdoa untuk mereka, dan ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka meminta kepada pamannya, Abbas Radiyallaahu ‘anhu, lalu ia pun berdoa untuk mereka.

6. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mengakui dosa-dosa.Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku'." (Al-Qashash: 16)

Kedua, Tawassul yang tidak diperbolehkan

Tawassul yang tidak diperbolehkan ada empat macam:

1. Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati. Ini tidak boleh. Karena mayit tidak mampu berdoa seperti ketika dia masih hidup. Meminta syafaat kepada orang mati juga tidak dibolehkan. Karena Umar bin al-Khaththab, Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan para sahabat yang bersama mereka, juga para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas dan Yazid bin al-Aswad Radiyallallahu ‘anhumaa. Mereka tidak bertawassul, meminta syafaat dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik di kuburan beliau atau di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pangganti (dengan orang yang masih hidup) seperti al-Abbas dan Yazid. Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, "Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan NabiMu, sehingga Engkau memberi kami hujan, dan kini kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami." Mereka menjadikannya sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak bisa bertawassul dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bertawassul dengan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian itu jika diperbolehkan. Dan mereka meninggalkan hal tersebut merupakan bukti tidak dibolehkannya bertawassul dengan orang-orang mati, baik dengan meminta doa atau syafaat kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafaat kepada orang mati atau hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya.

2. Tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau kedudukan selainnya. Ini tidak boleh. Adapun hadits yang berbunyi,

إَذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ، فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيْمٌ

"Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah kepadaNya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung."

Hadits di atas adalah hadits yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimuat dalam kitab-kitab umat Islam yang menjadi sandaran, juga tidak seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits.( 2) Dan jika tidak ada satu pun dalil shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

3. Tawassul dengan dzat makhluk-makhluk. Ini tidak boleh. Sebab jika ba' (اَلْـبَاءُ ) tersebut untuk sumpah maka berarti sumpah dengannya terhadap Allah Subhanahu waTa’ala . Jika sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan syirik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, lalu bagaimana sumpah makhluk terhadap al-Khaliq (Sang Pencipta).

Dan jika ba' tersebut menunjukan sebab (لِلسَّبَبِيَّةِ) maka sungguh Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya doa dan ia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hambaNya.

4. Tawassul dengan hak makhluk. Ini tidak boleh pula karena dua alasan.

Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala tidak wajib memenuhi hak atas seseorang (makhluk), tetapi sebaliknya Allah Subhanahu waTa’ala yang menganugerahi hak tersebut kepada makhlukNya sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 47).

Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah Subhanahu waTa’ala adalah karena anugerah dan nikmat, dan tidak karena balasan setara sebagaimana makhluk kepada makhluk yang lain.

Kedua, yang dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada hambaNya adalah hak khusus bagi dirinya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia bukan yang berhak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dia dengan hal tersebut, dan tidak bermanfaat untuknya sama sekali.
Adapun hadits yang berbunyi,

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ.

"Aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon." (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Maka ini adalah hadits yang tidak tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam sanadnya terdapat Athiyyah al-Aufi dan ia adalah perawi dha'if yang disepakati kedha'ifannya, demikian seperti yang dikatakan oleh para ahli hadits. Jika demikian halnya, maka tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah penting ini, yang termasuk masalah akidah.

C. Hukum Isti'anah dan Istighatsah dengan Makhluk

Istianah artinya, meminta pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsah berarti meminta dihilangkannya kesulitan (kesukaran). Isti'anah dan istighatsah kepada makhluk ada dua macam:

Pertama, isti'anah dan istighatsah kepada makhluk yang ia mampu melakukannya. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (Al-Ma'idah: 2).
Dan dalam kisah Musa Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya." (Al-Qashash: 15).

Juga seperti seseorang yang meminta bantuan kawan-kawannya dalam peperangan atau lainnya dari hal-hal yang bisa dilakukan oleh makhluk.

Kedua, isti'anah dan istighatsah kepada mahluk dalam hal yang manusia tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana isti'anah dan istighatsah kepada orang-orang mati atau isti'anah dan istighatsah terhadap orang dalam hal yang ia tidak mampu kecuali Allah, misalnya dalam menyembuhkan penyakit, menghilangkan kesusahan dan menolak bahaya. Isti'anah dan istighatsah jenis ini tidak dibolehkan bahkan termasuk syirik besar.

Pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ada seorang munafik yang menyakiti orang mukminin. Maka sebagian sahabat mengatakan, 'Bangkitlah bersama kami untuk beristighatsah kepada Rasullullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari orang-orang munafik ini!' Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ.

"Sesungguhnya istighatsah itu tidak (boleh dimintakan) kepadaku, tetapi istighatsah itu kepada Allah." (HR. ath-Thabrani).

Jika dalam perkara yang bisa dilakukan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya itu dijawab demikian, maka bagaimana pula dengan istighatsah kepada beliau setelah beliau wafat, serta dimintai perkara-perkara yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala ? Dan jika hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tentu orang lain lebih tidak pantas lagi.


3.1 Kewajiban Mencintai dan Mengagungkan Rasul dan Larangan Berlebihan dalam Memujinya serta Kedudukan Beliau

A. Kewajiban Mencintai dan Mengagungkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Pertama-tama, wajib bagi setiap hamba mencintai Allah ’Azza wazalla, dan ini merupakan bentuk ibadah yang paling agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165).
Karena Dia Subhanahu waTa’ala adalah Rabb yang memberi anugerah kepada segenap hambaNya dengan berbagai nikmat, baik lahir maupun batin. Selanjutnya, setelah mencintai Allah Subhanahu waTa’ala , kita wajib mencintai RasulNya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebab beliau adalah orang yang menyeru kepada Allah Subhanahu waTa’ala , yang mengenalkan kepadaNya, yang menyampaikan syariatNya dan yang menjelaskan hukum-hukum-Nya. Karena itu, kebaikan yang diperoleh kaum mukminin, baik dunia maupun akhirat, adalah dari usaha Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan tidaklah seseorang masuk Surga, kecuali dengan menaati dan mengikutinya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dalam suatu hadits disebutkan,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ؛ أَنْ يَكُوْنَ اللّهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِيْ الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار.ِ

"Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka." (Muttafaq 'alaih).

Maka, mencintai Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam berarti mencintai Allah ’Azza waJalla, bahkan suatu keharusan dalam mencintai Allah Subhanahu waTa’ala serta ia memiliki kedudukan kedua setelah mencintaiNya. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan perlunya kecintaan secara khusus kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan wajibnya mendahulukan kecintaan kepadanya dari pada kecintaan kecintaan kepada yang lain selain Allah Subhanahu waTa’ala , beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

"Tidaklah sempurna iman dari salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan segenap manusia." (Muttafaq 'alaih).

Bahkan terdapat hadis yang menyatakan tentang wajibnya setiap mukmin untuk lebih mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari pada mencintai dirinya sendiri.


أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ، فَقَالَ: اْلآنَ يَا عُمَرُ.

"Bahwasanya Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.' Maka Nabi bersabda, 'Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, (tidaklah sempurna imanmu) sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.' Lalu Umar berkata kepada Nabi, 'Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah), kini menjadi orang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi bersabda, 'Sekarang (telah benar engkau) wahai Umar'." (HR. al-Bukhari).

Berdasarkan hadits di atas, maka mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebab mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah Subhanahu waTa’ala. Mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, adalah cinta karena Allah Subhanahu waTa’ala . Ia bertambah dengan bertambahnya kecintaan kepada Allah Subhanahu waTa’ala dalam hati seorang mukmin, dan berkurang dengan berkurangnya kecintaan kepada Allah Subhanahu waTa’ala . Dan setiap orang yang mencintai karena Allah Subhanahu waTa’ala , maka sesungguhnya dia mencintai karenaNya dan untukNya.

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan adanya pengagungan, ketundukan dan keteladanan kepada beliau serta mendahulukan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam atas segala ucapan makhluk, serta mengagungkan sunnah-sunnahnya.

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Setiap kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya dibolehkan untuk mengikuti kecintaan dan pengagungan kepada Allah Subhanahu waTa’ala . seperti mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya ia adalah penyempurna kecintaan dan pengagungan kepada Dzat yang mengutusnya. Umatnya mencintai beliau shallallaahu ‘alaihi wasall karena Allah Subhanahu waTa’ala mencintainya, dan mereka mengagungkan serta memuliakan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam karena Allah Subhanahu waTa’ala memuliakannya. Maka ia adalah kecintaan karena Allah Subhanahu waTa’ala , sehingga ia termasuk konsekuensi dalam kecintaan Allah Subhanahu waTa’ala ."

Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu waTa’ala meletakkan kewibawaan dan kecintaan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam karena itu, tidak ada manusia pun yang lebih dicintai dan disegani dalam hati para sahabat radiyallaahu ‘anhum kecuali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
'Amr bin al-'Ash radiyallaahu ‘anhu setelah masuk Islam berkata, "Sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang lebih aku benci dari pada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam." Namun setelah ia masuk Islam, tidak ada seorang manusia pun yang lebih ia cintai dan lebih ia agungkan dari pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia mengatakan, "Seandainya saya diminta agar menggambarkan pribadi beliau kepada kalian, tentu saya tidak mampu melakukannya, sebab saya tidak pernah menajamkan pandanganku kepada beliau sebagai pengagungan kepada beliau."

'Urwah bin Mas'ud radiyallaahu ‘anhu berkata kepada kaum Quraisy, "Wahai kaumku, demi Allah, aku telah diutus ke Kisra, Kaisar dan raja-raja, namun aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh segenap rakyatnya seperti pengagungan para sahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam . Demi Allah, mereka tidak memandang tajam kepadanya sebagai bentuk pengagungan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam , serta tidaklah beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam , berdahak kecuali di tadah telapak tangan salah seorang dari mereka, kemudian ia dilumurkan pada wajah dan dadanya. Lalu bila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu, maka mereka hampir saja berbunuh-bunuhan karena berebut bekas air wudhunya."

B. Larangan Ghuluw dan Berlebih-lebihan dalam Memuji

Ghuluw artinya, melampaui batas. Dikatakan غَلاَ غُـلُوًّا jika ia melampaui batas dalam ukuran. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu." (An-Nisa: 171).

Sedangkan ithra' artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya. Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajat sebagai hamba dan Rasul Allah Subhanahu waTa’ala , menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat ilahiyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ubudiyah kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala .

Dan yang dimaksud dengan ithra dalam hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau telah melarang hal tersebut dengan sabdanya,

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ.

"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, 'Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan RasulNya)'." (Muttafaq 'alaih).

Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara batil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Nashrani terhadap Isa ’Alaihissalam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat ilahiyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabbku memberi sifat kepadaku. Maka katakanlah, hamba Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Ketika sebagian sahabat radiyallaahu ‘anhum berkata kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, "Engkau adalah sayyid (penghulu) kami " Spontan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,

السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

"Sayyid (penghulu) itu adalah Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi." (HR. Abu Daud).

Demikian pula ketika mereka mengatakan, "Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya " Serta merta beliau shallallaahu ‘alaihi wasallama mengatakan,

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ

"Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syetan." (HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).

Sebagian orang berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah! Wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid (penghulu) kami dan putera penghulu kami!" Maka seketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَبْدُاللَّهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِيْ الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللَّهُ.

"Wahai manusia, ucapkanlah dengan ucapan (yang biasa) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syetan! Aku (tak lebih) adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tak suka kalian menyanjungku di atas derajat yang Allah berikan kepadaku." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i).

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasalla membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti, 'Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.' Padahal sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. Selanjutnya beliau mengarahkan mereka agar menyifati beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba, di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan akidah. Dua sifat itu adalah Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan RasulNya). Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak suka disanjung lebih dari apa yang Allah Subhanahu waTa’ala berikan dan Allah Subhanahu waTa’ala ridhai. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut, sehingga mereka berdoa kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah Subhanahu waTa’ala . hal itu sebagaimana dilakukan ketika peringatan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dalam kasidah atau nasyid (nyanyian-nyanyian, di mana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhanahu waTa’ala dengan hak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Al-Allamah Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kasidah nuniyahnya berkata,

للَّه حَقٌّ لاَ يَكُـوْنُ لِغَـيْرِهِ وَلِعَبْدِهِ حَقٌّ هُمَا حَقَّانِ
لاَ تَجْعَلُوْا الْحَقَّيْنِ حَقَّا وَاحِدًا مِنْ غَيْرِ تَمْيِيْزٍ وَلاَ فُرْقَانِ

"Allah memiliki hak yang tidak dimiliki selainNya dan bagi hamba juga ada haknya, ia adalah dua hak (yang berbeda).
Maka jangan jadikan dua hak itu sebagai satu hak, tanpa memisahkan dan membedakannya."

C. Penjelasan Tentang Kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Dibolehkan memberi penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan memujinya sebagaimana pujian yang diberikan Allah Subhanahu waTa’ala , serta mengingatkan kedudukan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallamnyang Allah Subhanahu waTa’ala karuniakan kepadanya dan meyakini hal tersebut. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memiliki kedudukan yang tinggi. Beliau adalah hamba Allah Subhanahu waTa’ala , RasulNya dan orang pilihanNya di antara segenap makhlukNya, bahkan beliau adalah makhluk yang paling mulia secara mutlak. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah Subhanahu waTa’ala segenap manusia, kepada seluruh golongan jin dan manusia. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul yang paling mulia dan penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Allah telah melapangkan dadanya, meninggikan sebutan untuknya serta menjadikan rendah dan hina orang yang melanggar perintahnya. Beliaulah orang yang memiliki kedudukan mulia sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Al-Isra':79).
Maksudnya, kedudukan yang diberikan Allah Subhanahu waTa’ala berupa pemberian syafaat kepada manusia pada Hari Kiamat, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala meringankan mereka dari beratnya mauqif. Kedudukan tersebut hanya khusus diberikan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, tidak kepada nabi-nabi yang lain. Dan beliau adalah makhluk yang paling takut dan bertakwa kepada Allah Subhanahu waTa’ala . Allah Subhanahu waTa’ala melarang meninggikan suara di hadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memuji orang-orang yang merendahkan suara di hadapan beliau. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya disisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al- Huju-rat: 2-5).

Sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala juga memanggil beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan ungkapan يا أَيُّهَا النَّبِيُّ، يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ(wahai Nabi, wahai Rasul). Dan Allah Subhanahu waTa’ala serta para malaikatNya telah bershalawat kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta memerintahkan para hambaNya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firmanNya,

artinya:"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56).
Tetapi tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam memuji beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari al-Qur'an dan as-Sunnah.

Termasuk mengagungkan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah mengagungkan sunnahnya dan keyakinan tentang wajibnya mengamalkan sunnah tersebut, dan bahwa ia menduduki kedudukan kedua setelah al-Qur'anul Karim dalam hal kewajiban mengagungkan dan mengamalkannya, sebab ia merupakan wahyu dari Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 3-4).

Karena itu tidak boleh membuat keraguraguan di dalamnya, apalagi melecehkannya. Dan tidak boleh membicarakan tentang keshahihan atau kedhaifannya, baik dari segi jalan, sanad atau penjelasan maknamaknanya kecuali berdasarkan ilmu dan kehati-hatian. Pada zaman ini banyak orang-orang bodoh yang melecehkan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, terutama dari kalangan anak-anak muda yang baru pada tahap awal belajar. Mereka dengan mudahnya menshahihkan atau mendhaifkan hadits-hadits, dan menilai cacat kepada para perawi tanpa ilmu kecuali dari membaca buku-buku. Sungguh hal tersebut berbahaya bagi mereka dan umat. Karena itu hendaknya mereka bertakwa kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan menahan diri pada batasnya.

3.2 Kewajiban Menaati dan Meneladani Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Kita wajib menaati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan menjalankan apa yang diperitahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah Subhanahu waTa’ala. Dalam banyak ayat al-Qur'an, Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita untuk menaati beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam . Di antaranya ada yang dibarengi dengan perintah taat kepada Allah Subhanahu waTa’alaq, sebagaimana FirmanNya,

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya." (An-Nisa': 59).

Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Disamping itu, terkadang perintah tersebut disampaikan dalam bentuk tunggal, tidak dibarengi perintah kepada yang lain, sebagaimana dalam firmanNya,

Artinya: "Barangsiapa menaati Rasul maka sesungguhnya ia telah menaati Allah." (An-Nisa': 80).

Artinya:"Dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (An-Nur: 56).

Terkadang pula Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang mendurhakai RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana dalam firmanNya,

Artinya: "Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur: 63).

Artinya, hendaklah mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid'ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. Allah Subhanahu waTa’ala telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sebab hamba mendapat kecintaan Allah Subhanahu waTa’ala dan ampunan dosa-dosanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Katakanlah, 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'." (Ali Imran: 31).

Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan ketaatan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai peunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk." (An-Nur: 54).

Artinya: "Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Qashash: 50).

Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab: 21).

Dalam al-Qur'an, Allah Subhanahu waTa’ala telah menyebutkan ketaatan kepada Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dan meneladaninya sebanyak 40 kali. Demikianlah, karena jiwa manusia lebih membutuhkan untuk mengetahui apa yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bawa dan mengikutinya dari kebutuhan kepada makanan dan minuman. Sebab jika seseorang tidak mendapat makanan dan minuman, ia hanya berakibat mati di dunia, sementara jika tidak menaati dan mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam , maka akan mendapat siksa dan kesengsaraan abadi.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kita mengikutinya dalam melakukan berbagai ibadah, dan hendaknya ibadah itu dilakukan sesuai dengan cara yang telah beliau contohkan. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

"Shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat." (HR. al-Bukhari).

خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ

"Ambillah dariku manasik (ibadah-ibadah)mu." (HR Muslim).

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak didasari agama kami maka amalan itu tertolak." (Muttafaq 'alaih).

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

"Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku." (Muttafaq 'alaih).

Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang menunjukkan perintah mengikuti Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan larangan menyelisihinya.

3.3 Dianjurkan Bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Di antara hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala atas umatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56).

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah Subhanahu waTa’ala kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah pujian atas beliau di hadapan para malaikatNya, sedang shalawat malaikat berarti mendoakan dan shalawat umatnya berarti permohonan ampun untuknya.

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu waTa’ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan rasulNya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam di tempat yang tertinggi, bahwasanya dia memujinya dihadapan para malaikat yang terdekat, dan bahwa para malaikat mendoakan untuknya, lalu Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan segenap penghuni alam dunia untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam di alam yang tertinggi dengan alam terendah (dunia).

Adapun makna سَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا "Ucapkanlah salam untuknya" adalah berilah beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan, صَلَّى الله عَلَيهِ (semoga shalawat dilimpahkan untuknya) saja atau hanya mengucapkan عَلَيْهِ السَّلاَمُ (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan) saja. Hal itu karena Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diperintahkan syariat pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah mu'akkadah. Dalam kitab Jala'ul Afham, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada 41 waktu (tempat). Beliau memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyariatkannya bershalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir qunut, lalu ketika khutbah, seperti khutbah Jum'at, hari raya dan istisqa', lalu setelah menjawab mu'adzin, ketika (hendak) berdoa, ketika masuk dan keluar dari masjid juga ketika menyebut nama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. setelah itu Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau menyebutkan ada 40 manfaat.

Di antara manfaat itu adalah:

1. Shalawat merupakan bentuk kataatan kepada perintah Allah Subhanahu waTa’ala .

2. Mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah Subhanahu waTa’ala bagi yang bershalawat sekali untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.

3. Diharapkan dikabulkannya doa apabila didahului dengan shalawat tersebut.

4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam jika ketika mengucapkan shalawat dibarengi dengan permohonan wasilah (derajat yang tinggi di surga) untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.

6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.

Semoga Shalawat dan salam dilimpahkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallamyang mulia ini.

3.4 Keutamaan Ahlul Bait dan kewajiban Kepada Mereka Tanpa Menguranginya atau Berlebih-lebihan

Ahlul bait adalah keluarga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diharamkan bagi mereka untuk menerima shadaqah (zakat). Mereka adalah keluarga Ali radiyallaahu ‘anhu, keluarga Ja'far, keluarga Aqil, keluarga al-Abbas, keturunan al-Harits bin Abdil Muththalib serta isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan putera-puteri beliau.

Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Sesuatu yang tidak diragukan lagi dari perenungan terhadap al-Qur'an adalah bahwa isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam itu termasuk dalam firmanNya,

Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).

Sebab pembicaraan masalah tersebut berkaitan dengan mereka. Karena itu Allah Subhanahu waTa'ala berfirman sesudahnya,

Artinya: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)." (Al-Ahzab: 34).

Artinya, amalkanlah apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumah kalian, baik al-Qur'an maupun as-Sunnah. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Lalu ingatlah nikmat yang diberikan Allah Subhanahu waTa’ala khusus kepada kalian di antara manusia. Dan bahwasanya wahyu itu diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala di rumah kalian, tidak di rumah orang lain. Dan Aisyah binti Abu Bakar radiyallaahu ‘anhaa adalah yang paling utama dari mereka dengan nikmat tersebut serta yang paling istimewa menerima rahmat yang banyak tersebut. Sebab tidak pernah turun wahyu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di tempat tidur perempuan selain tempat tidur Aisyah radiyallaahu ‘anhu. Demikian seperti disebutkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Sebagian ulama mengatakan, hal itu karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menikah dengan gadis selainnya dan tidak ada laki-laki lain yang tidur di tempat tidurnya selain beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam (maksudnya, Aisyah radiyallaahu ‘anhaa tidak menikah dengan selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ). Karena itu, adalah tepat jika Aisyah radiyallaahu ‘anhu dikhususkan dengan keistimewaan dan kedudukan yang tinggi tersebut.

Selanjutnya, jika para isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk keluarga (ahlul bait) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam maka para kerabatnya lebih berhak untuk mendapatkan sebutan ahlul bait. Demikian sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Ahlus sunnah wal Jamaah mencintai Ahlul bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , setia kepada mereka dan selalu menjaga wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diucapkannya pada hari Ghadir Khum (nama tempat):

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ

"Aku mengingatkan kalian kepada Allah dalam hal ahli baitku." (HR. Muslim).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mencintai ahlul bait dan memuliakan mereka, sebab hal itu termasuk kecintaan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Tetapi hal itu harus dengan syarat bahwa mereka mengikuti sunnah dan berada dalam agama yang lurus. Sebagaimana para salaf mereka seperti al-Abbas dan putra putrinya serta Ali radiyallaahu ‘anhu dan putra putrinya. Adapun mereka yang menyelisihi sunnah dan tidak berada dalam agama yang lurus, maka kita tidak boleh setia kepada mereka, meskipun mereka itu termasuk ahlul bait.

Jadi, sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap ahlul bait adalah sikap adil dan inshaf (lurus/jalan tengah). Mereka setia kepada ahlul bait yang berpegang teguh pada agama dan lurus dengannya, serta berlepas diri dari yang menyelisihi sunnah dan berpaling dari agama, meskipun ia termasuk ahlul bait keberadaannya sebagai ahlul bait dan kedekatannya dengan Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dari sisi kekerabatan sungguh tidak bermanfaat sedikit pun untuknya, sampai ia berada pada agama yang lurus.

Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu meriwayatkan, "Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ayat,

Artinya: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Asy-Syu'ara': 214).
Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اِشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُوْلِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَاشِئْتِ مِنْ مَالِيْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.

 "Wahai segenap kaum Quraisy! -atau kalimat sejenis-, belilah diri kalian sendiri, sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagi kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Mintalah kepadaku harta bendaku sesukamu, tetapi sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah." (HR. al-Bukhari).

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

"Barangsiapa amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepat amalnya." (HR.Muslim).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam hal ini, juga dalam hal-hal lain selalu berada dalam manhaj yang adil dan jalan yang lurus, tidak meremehkan juga tidak berlebih-lebihan.

3.5 Keutamaan Para Sahabat dan yang Wajib Diyakini tentang Mereka serta Madzhab Ahlus Sunnah dalam Peristiwa Mereka

A. Yang Dimaksud Sahabat dan yang Wajib Diyakini Tentang Mereka

Sahabat ( الصَّحَابَـةُ ) adalah bentuk jama' dari shahabi (صَحَـابِيْ), sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan demikian.

Yang wajib diyakini tentang mereka yaitu bahwa para sahabat adalah sebaik-baiknya umat dan generasi, karena mereka terlebih dahulu beriman, menemani Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, berjihad bersama beliau, dan membawa serta menyampaikan syariat kepada orang-orang sesudah mereka. Allah Subhanahu waTa’ala memuji mereka dalam firman-Nya,

Artinya: "Orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100).

Juga dalam firmanNya,

Artinya: "Muhammad itu dalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al- Fath: 29).

Dan dalam firmanNya,

Artinya: "(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirn); atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al- Hasyr: 8-9).

Dalam ayat-ayat tersebut di atas Allah Subhanahu waTa’ala memuji orang-orang Muhajirin dan Anshar serta memberi mereka sifat sebagai orang-orang yang bersegera kepada kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan bahwa Dia telah meridhai mereka dan menyediakan untuk mereka surga-surga. Sifar-sifat lain yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada mereka adalah:

1. Mereka saling berkasih sayang di antara mereka dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

2. Mereka adalah orang-orang yang banyak ruku' dan sujud.

3. Mereka adalah orang-orang yang baik dan bersih hatinya.

4. Mereka adalah orang-orang yang dikenal dengan ketaatan dan keimanannya dan bahwa Allah Subhanahu waTa’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat NabiNya shallallaahu ‘alaihi wasallam, sehingga menjadi marah musuh-musuh dari orang-orang kafir.

Di samping itu, Allah Subhanahu waTa’ala juga menyebutkan bahwa kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan harta benda mereka karena Allah Subhanahu waTa’ala, untuk menolong AgamaNya serta untuk mencari anugerah dan keridhaanNya. Dan mereka memang benar-benar demikian lalu Allah Subhanahu waTa’ala juga menyebutkan bahwa kaum Anshar adalah penduduk Darul Hijrah (kampung tempat hijrah), kaum yang beriman dan terpercaya. Allah ta'ala menyifati mereka dengan cinta kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin, lebih mengutamakan mereka daripada diri mereka sendiiri serta hati mereka bersih dari sifat kikir, sehingga mereka menjadi orang-orang yang beruntung.

Demikian itulah keutamaan mereka secara umum. Di samping itu, mereka memiliki keutamaan khusus dan masing-masing mereka berbeda derajat keutamaannya dari yang lain. Yakni berdasarkan permulaan masuk kepada Islam, jihad dan hijrah.

Adapun sahabat yang paling utama adalah Khulafa' Rasyidin yang empat, yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radiyallaahu ‘anhum. Selanjutnya enam sahabat lain dari sepuluh sahabat yang dikabarkan pasti masuk surga bersama mereka. Yakni Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa'd bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid radiyallaahu ‘anhum. Kemudian orang-orang Muhajirin lebih utama dari pada orang-orang Anshar. Juga para sahabat yang mengikuti perang Badar dan Bai'atur Ridhwan lebih utama dari sahabat yang lain. Dan sahabat yang masuk Islam sebelum dibebaskannya kota Makkah dan ikut berperang (jihad) lebih utama daripada sahabat yang masuk Islam setelah pembebasan kota Makkah.

B. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Hal Peperangan dan Fitnah yang Terjadi di Antara Para Sahabat

Dalam hal ini ada dua kaidah penting:

Pertama : Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersikap diam terhadap apa yang terjadi di antara para sahabat serta tidak membahasnya. Sebab jalan yang selamat dalam menyikapi hal seperti ini adalah diam seraya berkata,

Artinya: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Kedua : Menjawab berbagai atsar yang diriwayatkan tentang kejelekan para sahabat melalui beberapa argumen:

1. Sesungguhnya di antara atsar tersebut terdapat atsar yang didustakan dan diada-adakan oleh musuh-musuh mereka untuk memperburuk nama baik mereka.

2. Sesungguhnya di antara atsar tersebut ada yang telah ditambah, dikurangi maupun diubah dari aslinya, sehingga di dalamnya terdapat kedustaan. Atsar tersebut telah diubah, karena itu, tidak perlu diperhitungkan.

3. Di antara atsar shahih mengenai hal tersebut, yang jumlahnya sedikit, sesungguhnya mereka dalam hal tersebut bisa dimaklumi karena ada dua kemungkinan. Yakni sebagai mujtahid yang benar atau sebagai mujtahid yang salah. Berbagai hal tersebut masih dalam ruang ijtihad, di mana jika seorang mujtahid benar maka dia mendapat dua pahala dan jika ia salah maka memperoleh satu pahala dan kesalahannya diampuni. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

"Jika seorang hakim berijtihad dan benar maka dia memperoleh dua pahala. Jika ia berijtihad dan salah maka ia memperoleh satu pahala." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Amr bin al-Ash radiyallaahu ‘anhu).

4. Sesungguhnya mereka adalah manusia biasa. Karena itu adalah wajib jika salah seorang mereka bersalah, sebab mereka tidak suci dari dosa, sebagai pribadi-pribadi. Akan tetapi apa yang terjadi pada mereka telah banyak peleburnya, di antaranya:

Pertama, bisa jadi ia telah bertaubat dari padanya, dan taubat itu menghapus kejelekan betapa pun kejelekan itu adanya. Demikian sebagaimana disebutkan dalam berbagai dalil.

Kedua, bahwasanya mereka memiliki keutamaan dan anugerah yang mewajibkan diampuninya dosa yang mereka lakukan, jika itu memang ada. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." (Hud: 114).

Di samping itu mereka adalah sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan berjihad bersama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuatu yang bisa melebur kesalahan yang tidak seberapa.

Ketiga, bahwasanya kebaikan mereka itu dilipatgandakan lebih banyak dari selain mereka, bahkan tak seorang pun yang menyamai keutamaan mereka. Dan telah dengan tegas diberitakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi. Dan bahwa satu mud yang disedekahkan oleh salah seorang dari mereka itu lebih utama dari satu gunung emas yang disedekahkan oleh selain mereka. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala meridhai mereka.

Musuh-musuh Allah Subhanahu waTa’ala telah memanfaatkan apa yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah perselisihan dan peperangan sebagai alasan untuk mencela dan melecehkan kemuliaan para sahabat. Program keji ini telah dilancarkan oleh sebagian penulis kontemporer, di mana mereka berbicara tentang apa yang tidak mereka ketahui. Mereka menempatkan diri sebagai hakim di antara para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang membenarkan sebagian mereka dan menyalahkan sebagian yang lain tanpa dalil. Bahkan berdasarkan kebodohan dan mengikuti hawa nafsu serta dengan mengulang-ulang apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tendensius dan penuh kedengkian dari kalangan orientalis dan murid-muridnya. Upaya mereka itu berhasil membuat keraguan sebagian pemuda Islam yang masih dangkal pengetahuan sejarahnya tentang umat dan generasi terdahulunya yang mulia, bahkan sebaik-baik generasi. Pada tingkat selanjutnya, mereka ingin mencaci Islam, memecah belah persatuan umat Islam, serta menaruh sikap benci di hati generasi akhir dari umat ini kepada generasi terdahulunya, sehingga tak lagi mengikuti jejak para salaf shalih dan mengamalkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang," (Al- Hasyr: 10).

3.6 Larangan Mencaci Sahabat dan Para Imam

A. Larangan Mencela Sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Salah satu prinsip-prinsip utama yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah (kewajiban) selamatnya hati dan lidah mereka (dari mencela) sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang telah disifatkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala dalam firmanNya,

Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Hal ini juga termasuk bentuk kepatuhan terhadap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dalam sabdanya,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, kalaupun sekiranya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu mud atau setengah mud dari salah seorang mereka." (Mutafaq 'alaih).

Ahlus Sunnah menerima semua yang disebutkan dalam kitab dan sunnah tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ

"Sebaik- sebaik kalian adalah generasiku." (HR. al-Bukhari).

Dan ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan bahwasanya semuanya (tempatnya) di neraka kecuali satu golongan saja, lalu para sahabat bertanya kepada beliau tentang golongan yang satu ini. Beliau menjawab,

هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

"Mereka adalah orang yang berada pada (jalan) seperti (jalan) yang aku dan sahabat-sahabatku berada di atasnya hari ini." (HR. Ahmad dan lainnya).

B. Larangan Mencela Para Imam Dari Ulama Umat Ini

Setelah para sahabat, yang menduduki tingkatan berikutnya dalam keutamaan, kemuliaan dan derajat yang tinggi adalah para imam dari kalangan tabi'in dan para pengikut mereka dari generasi-generasi berikutnya dan juga orang-orang yang datang setelah mereka yang mengikuti dengan baik jejak para sahabat radiyallaahu ‘anhum sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah." (At-Taubah: 100).

Oleh karena itu, tidak boleh kita mencaci dan mencela mereka semua, sebab mereka adalah tokoh-tokoh petunjuk jalan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa': 115).

Ibnu Abil Izz -pensyarah kitab Thahawiyah- berkata, "Diwajibkan bagi setiap muslim, setelah dia memberikan kesetiaan dan kecintaannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, untuk memberikan kesetiaan dan kecintaannya pula kepada orang-orang mukmin. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Qur'an, khususnya kesetiaan dan kecintaan itu diberikan kepada mereka yang termasuk pewaris para nabi (ulama) yang mereka dijadikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala seperti bintang-bintang yang bisa dijadikan patokan arah dalam kegelapan di darat maupun di laut, dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa mereka mendapat hidayah dan pengetahuan (tentang syariat).

Merekalah para pengganti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam umatnya dan merekalah yang menghidupkan kembali sunnah-sunnah (ajaran) beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah mati (ditinggalkan). Dengan mereka kitab al-Qur'an menjadi tegak dan dengan Kitab al-Qur'an mereka bangkit, dengan mereka kitab al-Qur'an dapat berbicara (pada kita), dan dengan kitab al-Qur'an mereka berbicara. Mereka semua telah bersepakat dengan penuh keyakinan atas wajibnya (seorang muslim) mengikuti ajaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi bila ada pendapat yang dikemukakan salah seorang mereka ternyata bertentangan dengan hadits shahih, maka tentu saja ada sesuatu alasan baginya untuk meninggalkannya.

Alasan-alasan itu ada tiga yaitu:

1. Dia tidak meyakini bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda demikian.

2. Dia tidak meyakini bahwa sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, itu dimaksudkan untuk masalah tertentu.

3. Keyakinan bahwa hukum tersebut telah dihapus.

Mereka itu berjasa pada kita semua, merekalah yang lebih dahulu memeluk Islam dan menyampaikan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kita. Merekalah yang menjelaskan kepada kita hal-hal yang tidak kita ketahui dari syariat ini, maka Allah Subhanahu waTa’ala pun ridha kepada mereka dan menjadikan mereka ridha (kepadaNya).

Artinya: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al- Hasyr: 10).

Melecehkan ulama, hanya Karena keliru dalam berijtihad adalah sikap orang-orang ahli bid'ah dan juga termasuk strategi musuh-musuh umat Islam untuk menimbulkan keraguan dalam agama Islam dan membangkitkan permusuhan di kalangan umat Islam, serta untuk memutuskan hubungan antara generasi Islam masa kini dengan pendahulu-pendahulunya, juga guna memecah belah antara kaum muda dan para ulama seperti yang terjadi sekarang ini. Oleh karenanya, hendaklah sadar para pelajar-pelajar muda yang melecehkan kedudukan ulama ahli fikih, juga melecehkan pengetahuan fikih Islam, tidak acuh untuk mempelajarinya dan mengambil manfaat dari kebenaran yang ada di dalamnya. Hendaklah mereka bangga dengan fikih mereka dan menghormati para ulama; janganlah mereka tertipu dengan propaganda-propaganda yang menyesatkan. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberikan TaufikNya.


4.1 Definisi Bid'ah, Macam-macam dan Hukum-hukumnya

A. Pengertian Bid'ah

Bid'ah dalam bahasa: diambil dari kata الْبِدْعُ, artinya membuat sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya, misalnya Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "(Allah) Pencipta langit dan bumi." (Al-Baqarah: 117).

Maksudnya: Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Katakanlah, 'Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul." (Al- Ahqaf: 9).

Maksudnya: Bukanlah aku yang pertama kali membawa risalah dari Allah Subhanahu waTa’ala kepada para hambaNya, akan tetapi sudah banyak rasul-rasul yang mendahuluiku.

Bila dikatakan: اِبْتَدَعَ فُلاَنٌ بِدْعَةً artinya, si fulan itu memulai sebuah methode/cara yang belum pernah ada yang melakukan sebelumnya.

Ibtida' (membuat sesuatu yang baru) itu ada dua macam:

Pertama: Membuat sesuatu yang baru dalam hal adat (atau urusan keduniaan), seperti penemuan-penemuan modern. Hal ini boleh-boleh saja, karena hukum asal dalam adat itu adalah mubah.

Kedua: Membuat sesuatu yang baru dalam agama dan hal ini haram hukumnya. Karena, hukum asal dalam hal keagamaan adalah tauqif (terbatas pada apa yang diajarkan oleh syariat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang membuat ajaran baru dalam agama kami ini yang bukan darinya, maka dia adalah tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak didasari oleh agama kami, maka dia tertolak." (HR. Muslim).

B. Macam-Macam Bid'ah

Bid'ah dalam agama ada dua macam:

Pertama: Bid'ah Qauliyah I'tiqadiyah (bid'ah pandangan dalam keyakinan), seperti; Perkataan kelompok Jahmiyah, Mu'ta-zilah serta seluruh kelompok sesat lainya dan keyakinan-keyakinan mereka.

Kedua: Bid'ah dalam ibadah, seperti ibadah kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan bentuk ibadah yang tidak diajarkan. Bid'ah ini banyak bagiannya:

Bagian pertama: Bid'ah yang terjadi pada asal usul ibadah. Misalnya dengan membuat ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syariat, membuat shalat yang tidak ada ajaran syariatnya atau puasa yang tidak ada ajaran syariatnya atau perayaan-perayaan yang tidak ada syariatnya seperti perayaan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan lain sebagainya.

Bagian kedua: Bid'ah berupa penambahan terhadap ibadah yang memang disyariatkan. Misalnya menambah rakaat kelima pada shalat Zhuhur atau Ashar.

Bagian ketiga: Bid'ah yang terjadi pada cara pelaksanaan ibadah yang disyariatkan, misalnya melaksanakan ibadah tersebut dengan cara yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan. Seperti; membaca dzikir dengan cara koor (bersama-sama) dan berlagu, juga seperti; memperketat diri dalam melaksanakan ibadah sampai batas keluar dari yang di contohkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Bagian keempat: Bid'ah berupa pengkhususan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah yang disyariatkan, sementara syariat Islam tidak mengkhususkan waktu tersebut. Seperti mengkhususkan hari Nishfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban) untuk berpuasa dan shalat malam. Ibadah puasa dan shalat malam itu, memang disyariatkan akan tetapi pengkhususan waktu tertentu membutuhkan dalil lagi.

C. Hukum Bid'ah Dalam Agama

Setiap bid'ah dalam agama adalah haram dan sesat berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .

"Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, (sebab) sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدّ ٌ.

"Barangsiapa yang membuat ajaran baru dalam agama kami ini yang bukan darinya, maka dia adalah tertolak." (Muttafaq 'alaih).

Dan dalam sebuah riwayat lain,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak didasari oleh agama kami, maka dia tertolak." (HR. Muslim).

Kedua hadits di atas menunjukan bahwa setiap yang diada-adakan dalam hal agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah sesat tertolak. Artinya, bahwa bid'ah dalam ibadah dan keyakinan (i'tiqad) hukumnya haram. Hanya saja keharaman tersebut bobotnya berbeda sesuai dengan jenis bid'ahnya. Ada yang bid'ah yang hukumnya jelas-jelas kafir, seperti; thawaf di kuburan untuk bertaqarub kepada penghuni kuburan tersebut juga mempersembahkan kurban dan nadzar untuk kuburan, berdoa (memohon sesuatu) pada penghuni kuburan dan meminta pertolongan kepada mereka, juga seperti perkataan-perkataan ekstrimis kelompok Jahmiyah dan Mu'tazilah. Dan ada bid'ah yang dapat menyampaikan pada perbuatan syirik. Seperti membangun di atas kuburan atau melakukan shalat dan berdoa di kuburan. Ada pula bid'ah yang termasuk perbuatan dosa dan penyimpangan dari segi akidah, seperti bid'ah kaum Qadariyah dan Murji'ah dalam perkataan dan akidah mereka yang bertentangan dengan dalil-dalil syar'i. Lalu ada pula bid'ah yang termasuk perbuatan maksiat seperti tidak mau kawin atau berpuasa di tengah terik matahari dan lain sebagainya.

PERHATIAN

Barangsiapa membagi bid'ah kepada bid'ah hasanah (yang baik) dan bid'ah sayyi'ah (yang jelek), maka dia telah melakukan kekeliruan dan menyalahi sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .

"Sesungguhnya setiap bid'ah itu adalah sesat." (HR. Ahmad)

Di sini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, telah menetapkan hukum bahwa setiap bid'ah adalah sesat, sementara dia mengatakan bahwa tidak semua bid'ah itu sesat, tapi ada bid'ah yang hasanah (baik). Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Syarah al- Arba'in, berkata, "Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ termasuk kalimat pendek tapi mencakup banyak hal, tak ada satu hal pun yang keluar dari hadits ini. Hadits ini merupakan hadits pokok dari dasar-dasar agama, dan hampir serupa dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ .

"Barangsiapa yang membuat ajaran baru dalam agama kami ini yang bukan darinya, maka dia adalah tertolak." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maka setiap orang yang membuat sesuatu (dari dirinya) lalu menisbatkannya pada agama. Padahal tidak ada suatu dasar pun dalam agama yang dapat dijadikan rujukan dalam hal tersebut maka sesuatu itu termasuk kesesatan. Agama tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Baik hal tersebut berkaitan dengan akidah, amalan atau perkataan yang zhahir maupun batin.

Satu-satunya dalil yang selama ini mereka jadikan sebagai hujjah bahwa bid'ah hasanah itu ada adalah perkataan Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhutentang shalat tarawih berjamaah, yaitu:

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هذِهِ .

"Ini adalah sebaik-baik bid'ah."

Mereka juga berhujjah bahwa ada beberapa hal yang termasuk baru diadakan tapi tidak ditolak oleh ulama salaf, misalnya, pengumpulan al-Qur'an dalam satu kitab, dan penulisan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Hujjah ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya hal di atas ada dasarnya dalam syariat Islam, oleh karena itu dia tidak dianggap barang baru.

Adapun perkataan umar radiyallaahu ‘anhu نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ (ini adalah sebaik-baik bid'ah), maka yang dimaksud di sini adalah bid'ah dari segi bahasa bukan dalam pengertian agama. Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dalam agama sebagai tempat rujukan, kemudian hal tersebut diistilahkan sebagai bid'ah, maka yang dimaksud adalah bid'ah dalam pengertian bahasa bukan dalam pengertian syariat. Karena bid'ah dalam pengertian syariat adalah sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam agama sebagai tempat rujukannya, adapun pengumpulan al-Qur'an dalam satu kitab mempunyai dasar dalam agama, sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan agar al-Qur'an itu ditulis. Hanya saja tulisan-tulisan tersebut terpencar-pencar maka dikumpulkan oleh para sahabat radiyallaahu ‘anhum dalam satu mushaf, agar bisa terjaga, sedangkan tentang shalat tarawih berjamaah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri telah pernah melakukannya bersama para sahabat selama beberapa malam. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak melaksanakannya bersama mereka, karena khawatir akan diwajibkan pada mereka. Selanjutnya para sahabat melakukan shalat tarawih tepisah-pisah sendiri-sendiri semasa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam hidup hingga beliau wafat sampai akhirnya Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhum mengumpulkan mereka kembali pada satu imam, seperti pada awalnya mereka lakukan bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan ini tidak termasuk bid'ah dalam agama. Begitu pula penulisan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mempunyai dasar dalam agama, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk dituliskan beberapa hadits guna diberikan kepada sebagian sahabat yang memintanya dari beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Adapun pelarangan untuk menulisnya secara umum pada masa beliau, didasarkan pada kekhawatiran akan adanya hal-hal yang bukan dari al-Qur'an akan bercampur dengannya. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam wafat, habislah masa pelarangan tersebut karena al-Qur'an sendiri telah sempurna dan ditulis sebelum wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka umat Islam setelah itu mulai menulis hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam agar tidak hilang. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberikan ganjaran kebaikan bagi mereka karena jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, sebab mereka telah menjaga Kitab Tuhan mereka dan sunnah Nabi mereka dari kepunahan dan perbuatan orang yang usil.

4.2 Timbulnya Bid'ah dalam Kehidupan Kaum Muslimin dan Penyebab-penyebabnya

A. Timbulnya Bid'ah dalam Kehidupan Kaum Muslimin

Dalam hal ini ada dua permasalahan:

Pertama, waktu timbulnya Bid'ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, "Ketahuilah bahwa semua bid'ah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan ibadah, terjadi pada umat Islam ini masa akhir-akhir kepemimpinan Khulafa'ur Rasyidin, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ .

"Barangsiapa di antara kalian yang hidup (lama), maka dia akan melihat banyak perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa'ur Rasyidin yang mendapatkan hidayah." (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Dan para sahabat telah menolak dan menentang para pelaku bid'ah ini.

Kedua, Tempat Timbulnya Bid'ah.

Ada perbedaan di antara negeri-negeri Islam sehubungan sebagai tempat timbulnya berbagai bid'ah. Negeri-negeri besar yang dihuni oleh para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memancar darinya (cahaya) ilmu dan iman, ada lima negeri: Mekkah, Madinah, Kufah, Basrah dan Syam. Dari sanalah keluarnya al-Qur'an, hadits, fikih dan ibadah berikut masalah-masalah keislaman lainnya. Dan keluar pula dari negeri-negeri tersebut -terkecuali Madinah- berbagai bid'ah dalam masalah ushul (dasar agama). Dan timbulnya bid'ah itu dipengaruhi oleh jauh atau dekatnya sebuah daerah dari madinah.

Kota Madinah sendiri selamat dari timbulnya berbagai macam bid'ah ini, dan bila ada seseorang yang mengerjakan (bid'ah), maka sesungguhnya -di mata penduduk Madinah- mereka terhina dan tercela.

Adapun pada tiga generasi terbaik pertama, pada masa itu, di Madinah tidak terdapat sama sekali bid'ah yang terang-terangan. Dan tidak ada pula bid'ah dalam masalah ushuluddin (dasar agama) sama sekali yang terdapat di negeri-negeri lainnya.

B. Penyebab Timbulnya Bid'ah

Tidak diragukan lagi bahwa dengan berpegang teguh kepada kitab dan sunnah seseorang dapat selamat, tidak jatuh pada perbuatan bid'ah dan kesesatan.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-jalanNya." (Al- An'am: 153).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memperjelas hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'udz, dia berkata,

"Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat garis untuk kita, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "ini adalah jalan Allah." Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat banyak garis disebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Ini adalah jalan-jalan (lain) dan pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak orang-orang kepadanya." Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat,

Artinya: "Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa" (Al-An'am: 153).

Maka barangsiapa berpaling dari Kitab dan Sunnah, niscaya dia akan tertarik oleh berbagai jalan yang menyesatkan dan bid-'ah-bid'ah yang diadakan-adakan.

Penyebab yang mendorong timbulnya bid'ah dapat disimpulkan sebagai berikut: "Ketidaktahuan terhadap hukum agama, mengikuti hawa nafsu, fanatisme terhadap pendapat dan tokoh tertentu meniru-niru orang kafir."

Selanjutnya kita akan membahas penyebab-penyebab tersebut walaupun tidak terlalu rinci.

1. Ketidaktahuan Terhadap Hukum Agama

Setiap kali bertambah panjang perjalanan masa dan bertambah jauh manusia dari ajaran-ajaran risalah Islam. Maka akan bertambah sedikitlah ilmu dan tambah meluaslah kebodohan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوْا .

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu itu dengan langsung mencabutnya dari hamba-hambaNya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama sehingga bila tidak tersisa seorang alim pun, maka manusia akan mengangkat peminpin yang bodoh, lalu mereka (para pemimpin) ditanya kemudian mereka menjawab tanpa didasari ilmu pengetahuan, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan." (HR. al-Bukhari).

Dan tidak ada yang memberantas bid'ah kecuali ilmu dan ulama. Bila ilmu dan ulama sudah tidak ada, maka akan timbul dan merebaklah berbagai macam bid'ah dan bertambah giatlah para pelakunya.

2. Mengikuti Hawa Nafsu

Barangsiapa berpaling dari Kitab dan Sunnah berarti ia telah mengikuti hawa nafsunya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun" (Al-Qashash: 50).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)." (Al-Jatsiyah: 23).

Dan perbuatan-perbuatan bid'ah tidak lain hanyalah hasil yang diperturutkan.

3. Fanatisme Terhadap Pendapat dan Tokoh Tertentu

Fanatisme ini dapat menghalangi seseorang dari mengikuti dalil dan mengetahui kebenaran. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan apabila dikatakan pada mereka,'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, Mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Al-Baqarah:170).

Dan begitulah sifat orang-orang yang fanatik pada zaman sekarang ini, dari sebagian pengikut aliran-aliran Sufi dan orang-orang Quburiyyin (tukang ziarah dan tawassul ke kuburan). Bila mereka diajak untuk mengikuti Kitab dan Sunnah dan meninggalkan apa yang mereka kerjakan yang bertentangan dengan keduanya (Kitab dan Sunnah) mereka mengeluarkan hujjah dengan madzhab-madzhab mereka dan dengan pendapat guru-guru, orang tua dan nenek moyang mereka.

4. Meniru-niru orang kafir

Hal yang satu ini termasuk yang paling dapat menjerumuskan seseorang dalam perbuatan bid'ah, sebagaimana disinyalir dalam hadits Abu Waqid al-Laitsy yang berkata,

"Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ke perang Hunain, (saat itu) kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik (saat itu mempunyai pohon bidara yang mereka sering menetap lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut di kenal dengan nama Dzatul Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatul Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) mempunyai juga Dzatul Anwath. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Allahu Akbar, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh kaum Bani Israil kepada Musa,

Artinya: "Buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)." Musa menjawab, "Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan)." (Al-A'raf: 138).

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ .

'Sungguh kalian akan mengikuti jalan kaum sebelum kalian.' (HR. at-Tirmidzi)."

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa meniru-niru orang kafir adalah suatu hal yang mendorong kaum Bani Israil untuk meminta permintaan jelek mereka, yaitu menuntut Nabi Musa ’alaihissalam untuk membuatkan bagi mereka tuhan-tuhan berhala yang dapat mereka sembah. Dan ini pulalah yang mendorong sebagian sahabat meminta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan bagi mereka sebuah pohon yang dapat diminta berkahnya dari selain Allah Subhanahu waTa’ala. Dan ini pulalah yang yang terjadi sekarang ini. Di mana sebagian kaum muslimin senang meniru-niru kaum kuffar dalam praktek-praktek bid'ah dan kesyirikan.

4.3 Sikap Terhadap Pelaku Bid'ah dan Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menyanggah Pelaku Bid'ah

A. Sikap Ahlus Sunnah wal Jama'ah Terhadap Pelaku Bid'ah

Ahlus Sunnah wal Jama'ah senantiasa membantah dan menentang para pelaku bid'ah dan selalu mencegah mereka untuk melakukannya, Perhatikanlah beberapa contoh di bawah ini:

1. Dari Ummu ad- Darda radiyallaahu ‘anhaa, Dia berkata, "Abu ad-Darda' radiyallaahu ‘anhu datang menemuiku dalam keadaan jengkel. Lalu aku bertanya, "Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Demi Allah, aku tidak melihat mereka -sedikit pun- berada pada ajaran Muhammad, hanya saja mereka semua melakukan shalat." (HR. al-Bukhari).

2. Dari Umar bin Yahya radiyallaahu ‘anhu, dia bekata, "Aku mendengar ayahku menceritakan dari bapaknya, dia berkata, 'Adalah kami sedang duduk-duduk di pintu (rumah) Abdullah bin Mas'ud radiyallaahu ‘anhu sebelum shalat Zhuhur -(biasanya) bila dia keluar dari rumahnya kami pun pergi bersamanya ke masjid-, tiba-tiba datang Abu Musa al-Asy'ari dan berkata, 'Adakah Abu Abdir Rahman (Abdullah bin Mas'ud ) telah keluar pada kalian?' Kami menjawab, 'Belum.' Lalu dia pun duduk bersama kami sampai akhirnya Abdullah bin Mas'ud keluar. Setelah dia keluar, kami berdiri menemuinya dan Abu Musa al-Asy'ari berkata, 'Wahai Abu Abdir Rahman, tadi aku melihat di masjid suatu perkara yang aku mengingkari, dan alhamdulillah aku tidak melihatnya kecuali kebaikan.' Dia bertanya, 'Apa itu?' Abu Musa menjawab, 'Bila kau masih hidup niscaya kau akan melihatnya sendiri.' Abu Musa lalu berkata, 'Aku melihat di masjid beberapa kelompok orang yang duduk dalam bentuk lingkaran sambil menunggu (waktu) shalat. Dalam setiap lingkaran itu ada seseorang laki-laki dan tangan-tangan mereka ada batu-batu kecil, orang laki-laki itu berkata, 'Bacalah Takbir 100 kali,' mereka pun bertakbir 100 kali, kemudian mereka berkata lagi, 'Bacalah Tahlil 100 kali,' mereka pun bertahlil 100 kali, kemudian mereka berkata lagi, 'Bacalah Tasbih 100 kali,' mereka pun bertasbih 100 kali.' Abdullah bin Mas'ud bertanya, 'Apa yang kamu katakan pada mereka?' Abu Musa menjawab, 'Aku tidak mengatakan apapun pada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu!' Abdullah bin Mas'ud menjawab, 'Tidakkah kamu perintahkan pada mereka untuk menghitung kesalahan-kesalahan mereka, dan kau beri jaminan bagi mereka, bahwa tidak ada sedikit pun dari kebaikan mereka yang akan hilang begitu saja.' Kemudian dia pergi dan kami pun ikut bersamanya, hingga tiba di salah satu kelompok dari kelompok-kelompok (yang ada di masjid) dan berdiri di hadapan mereka, lalu berkata, 'Apa yang sedang kalian kerjakan?' Mereka menjawab, 'Ya Abu Abdir Rahman, (ini adalah) batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, tasbih dan tahmid.' Abdullah bin Ma'ud berkata, 'Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian. Aku akan menjamin bahwa tidak ada sedikit pun dari kebaikan-kebaikan kalian yang akan hilang begitu saja. Celaka kalian wahai umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, alangkah cepatnya kebinasaan kalian, lihat sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masih banyak, baju-baju beliau belum rusak dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah yang jiwaku berada ditanganNya, sungguh, (apakah) kalian ini ada pada ajaran yang lebih baik dari ajaran Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam ataukah kalian sedang membuka pintu kesesatan.' Mereka menjawab, 'Demi Allah, wahai Abu Abdir Rahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.' Abdullah bin Mas'ud berkata, 'Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak dapat meraihnya, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami bahwa ada sekelompok orang yang membaca al-Qur'an tapi hanya sebatas kerongkongan mereka saja. Demi Allah, aku tidak tahu, barangkali sebagian besar mereka dari kalian-kalian ini.' Kemudian dia pergi dan Amr bin Maslamah berkata, 'Kami lihat sebagian besar mereka memerangi kita pada perang Nahrawan bersama dengan kelompok Khawarij'." (HR. ad-Darimi).
P]3. Ada seorang laki-laki yang datang kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah, dia bertanya, "Dari mana saya akan mulai berihram?" Imam Malik menjawab, "Dari miqat yang ditentukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau berihram dari sana." Dia bertanya lagi, "Bagaimana jika aku berihram dari tempat yang lebih jauh dari itu?" Dijawab, "Aku tidak setuju itu." Tanyanya lagi, "Apa yang tidak kau suka dari itu?" Imam Malik berkata, "Aku takut kau terjatuh pada sebuah fitnah!" Dia berkata lagi, "Fitnah apa yang terjadi dalam menambah kebaikan?" Imam Malik berkata, "Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

[iArtinya: ]'Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih.' (An-Nur: 63).

Dan Fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau dikhususkan dengan sebuah karunia yang tidak diberikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ?"

Ini hanya sekedar contoh, dan kita lihat para ulama masih tetap menentang para pelaku bid'ah di setiap masa, alhamdulillah.

B. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Menyanggah Para Pelaku Bid'ah

Manhaj mereka dalam hal ini di dasarkan pada Kitab dan Sunnah. Manhaj yang mantap dan tidak terbantah, di mana pertama kali mereka mengungkapkan syubhat-syubhat para pelaku bid'ah kemudian membantahnya (satu persatu). Dan dengan berdasar kepada Kitab dan Sunnah, mereka mengungkapkan kewajiban berpegang teguh kepada ajaran-ajaran syari'at dan kewajiban meninggalkan berbagai macam bid'ah serta hal-hal yang diada-adakan. Ulama Ahlus Sunnah telah mengeluarkan banyak karya dalam hal ini. Dan di dalam buku-buku aqidah, mereka juga membantah para pelaku bid'ah yang berkaitan dengan iman dan aqidah. Bahkan, ada yang menulis karya-karya khusus untuk hal tersebut. Misalnya, Imam Ahmad 5rahimahullah yang menulis buku khusus membantah kelompok Jahmiyah, begitu pula para imam lainnya, seperti Utsman bin Said ad-Darimirahimahullah. Hal semacam ini dapat kita temui pula dalam karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah, juga karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan yang lainnya. Di mana dalam karya-karya tadi disebutkan sanggahan terhadap banyak aliran, juga sanggahan terhadap orang-orang Quburiyyun dan kelompok Sufiyah. Adapun buku-buku yang khusus membantah para pelaku bid'ah, maka banyak sekali jumlahnya.

Dan alhamdulilah para ulama masih terus menolak praktek-praktek bid'ah dan menulis bantahan-bantahan terhadap para pelaku bid'ah melalui media koran, majalah dan siaran-siaran, dan khutbah-khutbah Jum'at, berbagai macam seminar dan ceramah-ceramah yang mempunyai pengaruh besar dalam menyadarkan kaum muslimin, mengikis bid'ah dan membantah ahli-ahli bid'ah.

 

Jadwal Kajian Rutin Ba'da Maghrib di Masjid Al-Sofwa :: Telah Terbit Buku Paket SDU dan SDIT Edisi Revisi Tahun Akademik 2011/2012 ::

Kajian Islam

 

Pasal ini terdiri dari:

Pasal 1 : Definisi Bid'ah, Macam-macam dan Hukum-hukumnya.

Pasal 2 : Timbulnya Bid'ah dalam Kehidupan Kaum Muslimin dan Penyebab-penyebabnya.

Pasal 3 : Sikap Terhadap Pelaku Bid'ah dan Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menyanggah Pelaku Bid'ah.

Pasal 4 : Beberapa Contoh Bid'ah Masa Kini.

a. Perayaan Bertepatan dengan Kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Pada Bulan Rabi'ul Awal.

b. Tabarruk (Mengambil Berkah) dari Tempat-tempat Tertentu, Barang-barang Peninggalan, dan dari Orang-orang Baik, yang Hidup atau pun yang Sudah Meninggal.

c. Bid'ah Dalam Hal Ibadah Taqarrub Kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Hit : 0 | IndexJudul | IndexSubjudul | kirim ke teman | versi cetak 

 

4.4 Beberapa Contoh Bid'ah Masa Kini

Di antaranya adalah:

A. Perayaan bertepatan dengan kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi'ul Awal.

B. Tabarruk (mengambil berkah) dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan, dan dari orang-orang yang baik, yang hidup atau pun yang sudah meninggal.

C. Bid'ah dalam hal ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Bid'ah-bid'ah modern banyak sekali macamnya, seiring dengan berlalunya zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru (da’i) yang mengajak kepada bid'ah dan penyimpangan, dan merebaknya tasyabuh (meniru) orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan maupun ritual agama mereka. Hal ini menunjukkan kebenaran (fakta) sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ,

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

"Sungguh kalian akan mengikuti jalan kaum sebelum kalian." (HR. at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya).

A. Perayaan Bertepatan dengan Kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada Bulan Rabi'ul Awal.

Merayakan kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah bid'ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan as-Salafush Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam baru terjadi setelah abad keempat Hijriyah. Imam Abu Ja'far Tajuddin berkata, "Saya tidak tahu bahwa perayaan ini mempunyai dasar dalam Kitab dan Sunnah dan tidak ada pula keterangan yang dinukil bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh dari seorang para ulama yang merupakan panutan dalam beragama, yang sangat kuat dan berpegang teguh terhadap atsar (keterangan) generasi terdahulu. Perayaan itu tiada lain adalah bid'ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan dan merupakan tempat pelampiasan nafsu yang sangat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hobi makan."

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa ’alaihissalam atau karena alasan cinta kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , mereka menjadikan kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sebuah perayaan. Padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan. Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama Salaf (terdahulu), jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu akan lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan hormat pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat dari perbuatan baik. Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tercermin dalam meniru menaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik.

B. Tabarruk (Mengambil Berkah) dari Tempat-tempat Tertentu, Barang-barang peninggalan, dan dari Orang-orang Baik, yang Masih Hidup ataupun yang Sudah Meninggal

Termasuk di antara bid'ah juga adalah tabbarruk (mengharapkan berkah) dari makhluk. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari watsaniyah (pengabdian terhadap makhluk) dan juga dijadikan jaringan bisnis untuk mendapatkan uang dari orang-orang awam. Tabarruk artinya memohon berkah, dan berkah artinya tetapnya dan bertambahnya kebaikan yang ada pada sesuatu. Dan memohon tetap dan bertambahnya kebaikan tidaklah mungkin bisa diharapkan kecuali dari yang memiliki dan mampu untuk itu dan dia adalah Allah Subhanahu waTa’ala. Allah-lah yang menurunkan berkah dan mengekalkannya. Adapun makhluk, dia tidak mampu menetapkan dan mengekalkannya, Maka, praktek tabarruk dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan dan orang-orang baik, baik yang hidup ataupun yang sudah meninggal tidak boleh dilakukan, karena praktek ini bisa termasuk syirik bila ada keyakinan bahwa barang-barang tersebut dapat memberikan berkah, atau termasuk media menuju syirik, bila ada keyakinan bahwa menziarahi barang-barang tersebut, memegangnya dan mengusapnya merupakan penyebab untuk mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu waTa’ala. Adapun tabarruk yang dilakukan para sahabat dengan rambut, ludah dan sesuatu yang terpisah/terlepas dari tubuh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana disinggung terdahulu hal tersebut hanya khusus Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di masa hidup beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan saat beliau berada di antara mereka; dengan dalil bahwa para sahabat radiyallaahu ‘anhum tidak bertabarruk dengan bekas kamar dan kuburan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam setelah wafat. Mereka juga tidak pergi ke tempat-tempat shalat atau tempat-tempat duduk untuk bertabarruk, apalagi kuburan-kuburan para wali. Mereka juga tidak bertabarruk dari orang-orang shalih seperti Abu Bakar, Umar radiyallaahu ‘anhumaa dan yang lainnya dari para sahabat yang mulia. Baik semasa hidup atau pun setelah meninggal. Mereka tidak pergi ke Gua Hira untuk shalat dan berdoa di situ, dan tidak pula tempat-tempat yang lainnya, seperti gunung-gunung yang katanya di sana terdapat kuburan nabi-nabi dan lain sebagainya, tidak pula ke tempat yang dibangun di atas peninggalan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Selain itu, tidak ada seorang pun dari ulama salaf yang mengusap-usap dan menciumi tempat-tempat shalat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam , di Madinah atau pun di Makkah. Apabila tempat yang pernah di injak kaki Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mulia dan juga yang dipakai untuk shalat, tidak ada syariat yang mengajarkan umat beliau untuk mengusap-usap atau menciuminya, maka bagaimana bisa dijadikan hujjah untuk tabarruk, dengan mengatakan bahwa (si fulan yang wali) -bukan lagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam - pernah shalat dan tidur di sana?! Para ulama telah mengetahui secara pasti berdasarkan dalil-dalil dari syariat Islam, bahwa menciumi dan mengusap-usap sesuatu untuk bertabarruk tidaklah termasuk syariat Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .

C. Bid'ah dalam Hal Ibadah dan Taqarrub kepada Allah Subhanahu waTa’ala

Bid'ah-bid'ah yang berkaitan dengan ibadah, pada saat itu cukup banyak. Pada dasarnya ibadah itu bersifat tauqif (terbatas pada ada dan tidak adanya dalil), oleh karenanya tidak ada sesuatu yang disyari'atkan dalam hal ibadah, kecuali dengan dalil. Sesuatu yang tidak ada dalilnya termasuk kategori bid'ah, bedasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak didasari oleh agama kami, maka dia tertolak." (HR. Muslim).

Ibadah-ibadah yang banyak dipraktekkan pada masa sekarang ini, sungguh banyak sekali, di antaranya: Mengeraskan niat ketika shalat. Misalnya dengan suara keras:

نَوَيْتُ أَنْ أُصَلِّيَ لله كَذَا وَكَذَا .

"Aku berniat untuk shalat ini dan itu karena Allah."

Ini termasuk bid'ah, karena tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan karena Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu'." (Al-Hujurat: 16).

Niat itu tempatnya adalah hati. Jadi dia adalah aktifitas hati bukan aktifitas lisan. Termasuk juga dzikir berjamaah setelah shalat. Sebab yang disyariatkan yaitu bahwa setiap pembaca dzikir yang diajarkan itu sendiri-sendiri, di antaranya juga adalah meminta membaca surat al-Fatihah pada kesempatan-kesempatan tertentu dan setelah membaca doa serta yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Termasuk pula dalam kategori bid'ah, mengadakan acara duka cita untuk orang-orang yang sudah meninggal, membuatkan makanan, menyewa tukang-tukang baca dengan dugaan bahwa hal tersebut dapat memberikan manfaat kepada si mayit. Semua itu adalah bid'ah yang tidak mempunyai dasar sama sekali dan termasuk beban dan belenggu yang Allah Subhanahu waTa’ala sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu.

Termasuk bid'ah pula yaitu perayaan-perayaan yang diadakan pada kesempatan-kesempatan keagamaan, seperti Isra' Miraj dan hijrah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Perayaan-perayaan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dalam syari'at, termasuk juga hal-hal yang dilakukan khusus pada bulan Rajab, shalat sunnah dan puasa khusus. Sebab tidak ada bedanya dengan keistimewaannya dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, baik dalam pelaksanaan umrah, puasa dan shalat, menyembelih kurban dan lain sebagainya.

Yang termasuk bid'ah pula yaitu dzikir-dzikir sufi dengan segala macamnya. Semuanya bid'ah dan diada-adakan karena dia bertentangan dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan baik dari segi redaksinya, bentuk pembacaannya dan waktu-waktunya.

Di antaranya pula adalah mengkhususkan malam Nishfu Sya'ban dengan ibadah tertentu seperti shalat malam dan berpuasa pada siang harinya. Tidak ada keterangan yang pasti dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang amalan khususnya untuk saat itu, termasuk bid'ah pula yaitu membangun di atas kuburan dan menjadikannya seperti masjid serta menziarahinya untuk bertabarruk dan bertawassul kepada orang mati dan lain sebagainya dari tujuan-tujuan lain yang berbau syirik.

Akhirnya, kami ingin mengatakan bahwa bid'ah-bid'ah itu ialah penghantar pada kekafiran. Bid'ah adalah menambah-nambahkan ke dalam agama ini sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya. Bid'ah lebih jelek dari maksiat besar sekalipun. Setan akan bergembira dengan terjadinya praktek bid'ah melebihi kegembiraannya terhadap maksiat yang besar. Sebab, orang yang melakukan maksiat, dia tahu apa yang dia lakukannya itu maksiat (pelanggaran), maka (ada kemungkinan) dia akan bertaubat. Sementara orang yang melakukan bid'ah, dia meyakini bahwa perbuatannya itu adalah cara mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu waTa’ala, maka dia tidak akan bertaubat. Bid'ah-bid'ah itu akan mengikis sunnah-sunnah dan menjadikan pelakunya enggan untuk mengamalkannya.

Bid'ah akan dapat menjauhkan dari Allah Subhanahu waTa’ala dan akan mendatangkan kemarahan dan siksaanNya serta menjadi penyebab rusak dan melencengnya hati dari kebenaran.

Sikap Terhadap Ahli Bid'ah

Diharamkan mengunjungi dan duduk-duduk dengan ahli bid'ah, kecuali dengan maksud menasehati dan membantah bid'ahnya. Kerena bergaul dengan ahli bid'ah akan berpengaruh negatif, dia akan menularkan permusuhannya pada yang lain. Kita wajib memberikan peringatan kepada masyarakat dari mereka dan bahaya mereka. Apalagi kita sudah bisa menyelamatkan dan mencegah mereka dari praktek bid'ah. Dan kalau tidak, maka diharuskan kepada para ulama dan pemimpin umat Islam untuk menentang bid'ah-bid'ah dan mencegah para pelakunya serta meredam bahaya mereka. Karena bahaya mereka terhadap Islam sangatlah besar. Suatu hal yang perlu pula untuk diketahui, bahwa negara-negara kafir sangat mendukung para pelaku bid'ah dan membantu mereka untuk menyebarluaskan bid'ah-bid'ah mereka dengan berbagai macam cara, sebab di dalamnya terdapat proses penghangusan Islam dan perusakan terhadap gambaran Islam yang sebenarnya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu waTa’ala, semoga Dia akan menolong agamaNya, meninggikan kalimatNya, serta menghinakan musuh-musuhNya.

Semoga shawalat dan salam tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam , keluarga dan sahabat-sahabat beliau.


5.1 Madzhab Salaf Mengenal Para Wali

Di antara prinsip dasar Akidah Ahlussunah wal jama'ah adalah meyakini dan membenarkan adanya karomah bagi para wali Allah Subhanahu waTa’ala.

Karomah adalah hal atau peristiwa luar biasa (khawariqul 'adah) yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada para waliNya. Karomah itu adalah merupakan perkara yang terjadi di luar kebiasaan, tidak biasa bagi manusia biasa.

Auliya' adalah bentuk jamak (plural) dari kata waliy, yaitu orang mukmin yang bertakwa, sebagaimana ditegaskan di dalam firmanNya,

Artinya: "Ingatlah, bahwa sesungguhnya para wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (Yunus: 62-63).

Disebut waliy adalah sebagai pecahan dari kata al-wala' yang berarti cinta dan kedekatan. Maka yang disebut waliyullah itu adalah siapa saja yang mencintai Allah Subhanahu waTa’ala dengan cara mematuhi segala apa saja yang dicintaiNya dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadanya dengan menjalankan apa saja yang Dia ridhai.

A. Pembagian Kelompok Manusia Mengenai Karomah Para Wali

Terhadap masalah Karomah para wali ini, manusia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

Kelompok pertama: Orang-orang yang menafikan atau tidak mempercayainya, seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan sebagian kelompok di dalam sekte Asya'irah. Syubhat atau alasan mereka adalah bahwasanya jikalau hal-hal khawariq (peristiwa-peristiwa luar biasa) boleh terjadi pada para wali niscaya tidak bisa dibedakan antara nabi dengan lainnya, sebab perbedaan antara seorang nabi dengan lainnya itu adalah mukjizat yang merupakan hal atau peristiwa di luar kebiasaan.

Kelompok kedua: Orang-orang yang ekstrem atau berlebihan di dalam menetapkan dan meyakini Karomah. Mereka berasal dari kelompok Tarekat Sufi dan Quburiyyin (pemuja kuburan), mereka datang kepada manusia dengan menampakkan khawariq syaithani (hal-hal yang bersifat di luar kebiasaan namun berasal dari setan), seperti anti bakar, anti bacok, menaklukkan ular berbisa dan perilaku-perilaku aneh lainnya yang diklaim oleh pemuja kuburan (quburiyyun) yang mereka sebut khawariq.

Kelompok ketiga: Orang-orang yang beriman dan meyakini adanya karomah para wali berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan Sunnah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ahlus Sunnah memberikan tanggapan terhadap orang-orang yang tidak meyakininya dengan dalil dan hujjah man'ul isytibah (tidak ada kekaburan) antara nabi dengan lainnya. (Mereka menjelaskan) bahwasanya, ada perbedaan-perbedaan besar antara para nabi dengan lainnya, yang tidak khawariqul 'adat, dan bahwasanya wali tidak mendakwakan kenabian. Dan kalau sekiranya ia mendakwakan kenabian, niscaya keluar dari wilayah kewalian dan menjadi pendakwa dusta, bukan seorang wali.

Dan adalah termasuk sunnatullah terungkapnya kepalsuan si pendusta, sebagaimana terjadi pada sang pendusta Musailamah dan lainnya.

Ahlus Sunnah juga memberikan tanggapan terhadap orang-orang yang ekstrem di dalam menetapkan dan meyakini karomah. Mereka (menjelaskan bahwa khawariq syaithani) itu adalah perbuatan para tukang tenung dan dajjal. Mereka bukan para wali Allah Subhanahu waTa’ala, melainkan para wali setan, dan yang terjadi pada mereka tiada lain adalah kedustaan dan perbuatan dajjal atau fitnah bagi mereka dan lainnya dan sebagai istidraj.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam masalah ini mempunyai kitab yang sangat berharga, namanya adalah al-Furqan Baina Auliya' ar-Rahman wa Auliya' asy-Syaithan.

B. Macam-macam Karomah:

Karomah itu ada yang berwujud pengetahuan dan kasyf (mengetahui rahasia ghaib), seperti dapat mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar oleh selain dia, atau dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain, baik dalam keadaan jaga maupun tidur, atau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain. Karomah juga ada yang berwujud kemampuan dan dapat mempengaruhi.

Sebagai contoh untuk macam yang pertama adalah ucapan Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, "Wahai pasukan, (berlindunglah) ke balik bukit." Pada saat itu beliau berada di Madinah, sedangkan pasukan berada di bukit di daerah Masyriq (negeri Syam).

Juga pemberitaan yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallaahu ‘anhu bahwa bayi yang berada dalam kandungan istrinya adalah perempuan. Juga berita yang disampaikan oleh Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu tentang orang yang akan lahir dari anak keturunannya menjadi seorang yang adil, dan juga kisah tentang orang yang menemani nabi Musa ’alaihissalam dan pengetahuannya tentang kondisi pemuda laki-laki.

Sedangkan contoh untuk macam yang kedua, yaitu kisah tentang orang yang mempunyi pengetahun tentang al-Kitab, ia dapat membawa singgasana milik Ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman ’alaihissalam, kisah Ashabul kahfi, kisah Maryam dan kisah Khalid bin al-Walid yang minum racun tetapi tidak terjadi bahaya pada dirinya.

Di antara Karomah yang disebutkan di dalam al-Qur'an adalah yang dijelaskan tentang kehamilan Maryam tanpa melalui hubungan dengan laki-laki manapun, apa yang disebutkan di dalam surah al-Kahfi tentang Ashabul Kahfi, kisah orang shalih yang mendampingi nabi Musa dan kisah tentang Dzul Qarnain.

Di antara contoh karomah yang disebutkan dengan sanad-sanad shahih dari para sahabat dan kaum Tabi'in adalah seperti Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu dapat melihat pasukan kaum muslimin padahal ia sedang berada di atas mimbar di Madinah dan pasukan sedang berada di Nahawan di wilayah Masyriq, di mana pada saat itu beliau menyerukan kepada pasukan itu, "Wahai pasukan, (berlindunglah ke balik) bukit." Pasukan itu pun mendengarnya dan dapat memahami arahan dari Umar sehingga dapat selamat dari tipu muslihat musuh.

Karomah tetap ada pada umat ini hingga hari kiamat kelak selagi kewaliyan dengan syarat-syaratnya masih ada pada mereka. Para wali Allah Subhanahu waTa’ala itu adalah orang-orang yang bertakwa dan beriman, mereka tidak mengklaim kewalian dan kewalian mereka tidak membuat mereka meninggalkan sedikitpun dari kewajiban-kewajiban agama dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Wallahu a'lam.

5.2 Karakteristik Ahlus Sunnah wal jama'ah

Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama'ah adalah :

1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, "Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf."

3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama'ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

"Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa'ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid'ah (hal baru) itu adalah sesat."( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, "Hasan Shahih.")

Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa'ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa'ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa'ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa'ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan.

4. Termasuk karakteristik mereka juga adalah menjunjung tinggi Kitabullah dan Sunnah RasulNya, mereka selalu lebih mendahulukan keduanya di dalam penggunaan dalil (istidlal) dan berpanutan kepada keduanya daripada pendapat orang dan perbuatannya, karena mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah perkataan (firman) Allah Subhanahu waTa’ala, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala tegaskan,

Artinya: "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (An-Nisa': 87).

Dan juga:

[Artinya: "Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?" (An-Nisa': 122).

5. Sepakat untuk mengamalkan al-Qur'an dan as-Sunnah serta bersatu pada al-haq (kebenaran) dan saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan takwa. Hal ini telah melahirkan wujudnya ijma', sedangkan ijma' merupakan sumber ketiga di dalam ilmu dan agama. Para ulama ushul telah mendefinisikan ijma' sebagai berikut: Kesepakatan ulama di zamannya atas suatu perkara agama sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; ijma' adalah hujjah yang pasti (qath'i) yang wajib diamalkan sesudah dua sumber utamanya, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah.

Termasuk karakteristiknya juga adalah mengukur dengan tiga landasan tersebut semua ucapan (pendapat) manusia dan perbuatan mereka baik lahir maupun batin yang ada hubungannya dengan masalah agama.

5.3 Akhlak dan Budi Pekerti Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Ahlus Sunnah wal Jama'ah selalu memperindah diri mereka dengan akhlaqul karimah dan budi pekerti yang mulia yang merupakan penyempurna akidah. Dan di antara buahnya adalah:

1. Selalu beramar ma'ruf dan nahi munkar, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala ungkapkan tentang mereka, seraya berfirman,

Artinya:"Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).

Ma'ruf adalah sebutan untuk segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu waTa’ala, seperti iman dan amal shalih. Sedangkan Munkar (kemungkaran) adalah sebutan untuk segala sesuatu yang tidak disukai Allah Subhanahu waTa’ala dan dicegahNya, berdasarkan bimbingan syariat agama, yaitu dengan tangan, lalu dengan lisan dan kemudian dengan hati sesuai dengan kemampuan dan maslahat. Ini tentu sangat berbeda dengan sekte Mu'tazilah yang berpandangan bahwa amar ma'ruf dan nahi munkar itu adalah keluar (membelot dan menentang) dari para pemimpin (pemerintah).

2. Ahlus Sunnah berpandangan: melaksanakan ibadah Haji, shalat Jum'at dan shalat 'Id itu harus dilaksanakan bersama para umara', apakah mereka sebagai orang shalih ataupun sebagai orang fajir; dan mereka berkeyakinan bahwa kewajiban penegakkan syi'ar ini (amar ma'ruf dan nahi munkar) dilakukan bersama aparat pemerintah kaum muslimin, shalih ataupun fajir, apakah mereka adalah orang-orang yang shalih konsisten kepada din(agama) maupun fasik yang kefasikannya tidak sampai menyebabkan keluarnya dari Islam, (yang demikian itu) demi persatuan dan menghindari perpecahan dan perselisihan, dan juga karena pemimpin yang fasik itu tidak boleh diturunkan dari jabatannya karena kefasikannya dan tidak boleh membangkang terhadap dia, sebab akan berakibat hilangnya hak-hak dan pertumpahan darah.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Hampir tidak ada suatu kelompok yang membangkang terhadap pemimpin (penguasa) melainkan pembangkangannya itu menimbulkan kerusakan lebih besar daripada upaya pelengserannya. Sedangkan Ahlu Bid'ah berpandangan, para penguasa wajib diperangi dan ditentang (khuruj) apabila mereka melakukan kezhaliman atau telah diduga melakukan kezhaliman. Mereka berpandangan demikian sebagai wujud dari amar ma'ruf dan nahi munkar.

3. Di antara ciri Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah mereka selalu memelihara jamaah, melaksanakan shalat wajib secara berjamaah (di masjid), melaksanakan shalat Jum'at dan lain-lain, sebab hal-hal tersebut merupakan syi'ar-syi'ar Islam yang paling agung, ketaatan kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya.

4. Mereka selalu memberikan nasihat kepada umat, karena mereka memandang nasihat merupakan bagian dari Dinul Islam. Nasihat adalah keinginan tercapainya kebaikan bagi yang diberi nasihat dan membimbingnya menuju kemaslahatannya. Jadi, Ahlus sunnah wal Jama'ah selalu menghendaki kebaikan bagi umat dan membimbing mereka menuju apa yang menjadi maslahat baginya.

5. Termasuk ciri dan sifat Ahlus sunnah adalah saling tolong menolong di dalam kebajikan dan berempati (kasihan) terhadap penderitaan orang lain sesama mereka. Mereka benar-benar meyakini makna sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيُشْبِكُ بَيْنَ أَصَابِعِه.ِ

"Seorang mukmin terhadap saudara mukmin lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan bagian yang lain." (Beliau bersabda) sambil merangkai jari-jari tangan beliau yang satu kepada jari-jari tangannya yang lain." (Muttafaq alaih).

Sabda beliau juga,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فيِ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اْلوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ.

"Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling cinta-mencintai, sayang menyayangi dan saling tenggang rasa adalah bagaikan tubuh yang satu, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dan tidak bisa tidur." (Muttafaq alaih).

6. Ciri Ahlus Sunnah juga adalah keteguhan pendirian di dalam berbagai cobaan, mereka menyuruh bersabar di kala mendapat cobaan, bersyukur di saat lapang dan ridha terhadap pahitnya ketentuan Allah Subhanahu waTa’ala.

Sabar ketika mendapat cobaan adalah menahan diri dari rasa sedih, menahan lisan dari keluhan dan rasa tidak rela, menahan anggota tubuh (tangan) dari perbuatan (jahiliyah, seperti) memukul-mukul pipi dan merobek-robek baju di bagian dada.

-Bala' adalah cobaan berupa musibah dan kesengsaraan.

-Bersyukur di saat lapang, artinya, menggunakan nikmat yang dikaruniakan Allah Subhanahu waTa’ala pada jalan ketaatan kepadaNya.

-Kelapangan yang dimaksud adalah berlimpahruahnya kenikmatan.

-Ridha terhadap getirnya Qadha' (ketetapan) Allah Subhanahu waTa’ala. Artinya, kita tidak murka dan murung karenanya.

-Qadha' artinya kehendak Allah Subhanahu waTa’ala yang berhubungan dengan segala sesuatu sebagaimana adanya.

-Murr al-Qadha' (getirnya ketetapan), artinya segala sesuatu yang tidak disukai yang menimpa pada seseorang, seperti sakit, kemiskinan, gangguan orang lain, panas, dingin dan bencana-bencana lainnya.

7. Ahlus Sunnah sangat memperhatikan akhlaqul Karimah. Mereka mempercantik diri dengan akhlak mulia dan mengajak orang lain untuk berakhlak mulia. Mereka mengajak kepada amal-amal yang terbaik, seperti keberanian, kejujuran dan amanah. Mereka sangat meyakini sabda Rasulullah Subhanahu waTa’ala,

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata, "Hasan Shahih.")

Mereka benar-benar meyakini hadits tersebut dan mengamalkan kandungannya. أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا artinya: yang lebih lembut, lebih ramah dan lebih indah akhlaknya.

Ahlus Sunnah mengajak untuk bermuamalat (bergaul) dengan sesama manusia dengan cara yang terbaik, memberikan hak-hak kepada pemiliknya, dan mereka juga melarang sifat-sifat tercela, seperti sombong (takabbur) dan mengganggu orang lain. Mereka menyerukan kepada anda agar menjalin silaturahim dengan orang yang memutus hubungan dengan anda. Maksudnya adalah berlaku baik terhadap orang yang berlaku buruk kepada anda; memberi kepada orang yang bakhil kepada anda. Anda keluarkan pemberian, berupa pemberian sukarela, hadiah dan lain-lain, kepada orang pelit terhadap anda. Perbuatan seperti itu termasuk ihsan; dan anda juga memaafkan orang yang menzhalimi anda, baik pada harta, darah ataupun kehormatan, karena sikap seperti itu dapat menimbulkan rasa cinta kasih dari pelaku kezhaliman itu dan mendatangkan pahala dari Allah Subhanahu waTa’ala.

Ahlus Sunnah memerintahkan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala, seperti memberikan hak kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka mengajak untuk berbakti kepada ibu dan bapak (kedua orang tua) dengan cara patuh kepada mereka di dalam masalah yang tidak berupa kemaksiatan, berbuat baik kepada mereka dalam bentuk ucapan dan perbuatan; bersilaturrahim, yakni berbuat baik kepada kaum kerabat dekat, baik terhadap tetangga dengan mengorbankan kebaikan dan tidak mengganggu mereka; dan berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, dengan cara mengelola dan membina keadaan mereka dan harta mereka serta berbelas kasih kepada mereka. Juga berbuat ihsan kepada kaun dhu'afa (fakir dan miskin) dengan cara memberi sedekah dan bersikap ramah kepada mereka; berbuat ihsan kepada musafir, ramah kepada apa saja yang dimiliki, termasuk kepada hewan ternak sendiri. Ramah atau bersikap lembut itu lawan dari sikap kasar.

Ahlus Sunnah mencegah sikap membangga-banggakan diri, sombong dan zhalim. Maksud membangga-banggakan diri dan sombong adalah membangga-banggakan kehormatan dan kelebihan, seperti kedudukan dan keturunan. Zhalim artinya, penganiayaan terhadap orang lain dan melecehkannya, seperti mereka lebih mulia daripada orang lain dan menganggap remeh mereka serta menyakiti mereka dengan haq ataupun tidak haq. Sebab, orang yang melecehkan orang lain dengan haq, maka ia telah berbangga diri; dan jika melecehkan dengan cara tidak haq maka ia telah berbuat zhalim. Kedua-duanya tidak boleh dilakukan.

Ahlus Sunnah sangat mengajak kepada akhlak yang mulia, yaitu akhlak yang terpuji dan melarang akhlak yang buruk dan rendahan.

Semua apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Ahlus Sunnah dan apa yang mereka perintahkan dan apa yang mereka larang sebagaimana tersebut di atas dan hal-hal yang tidak disebutkan, semuanya mereka ambil dari al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka sama sekali tidak mengada-ada (melakukan bid'ah) dari sisi mereka sendiri dan tidak bertaklid kepada siapa-siapa, sebab Allah Subhanahu waTa’ala telah berfirman,

Artinya:"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (An-Nisa’: 36).

Hadits-hadits yang semakna dengan ayat di atas sangat banyak sekali, di antaranya adalah yang telah tersebut di atas.

Keunggulan Ahlus Sunnah wal jama'ah yang Teragung:

Yaitu bahwa jalan mereka adalah al-Islam. Islamlah madzhab dan jalan mereka menuju Allah Subhanahu waTa’ala di saat terjadi iftiraq (perpecahan) sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang akan terjadi pada umat ini; mereka konsisten kepada Islam dan mereka menjadi golongan yang selamat (firqah Najiyah) di antara firqah-firqah yang ada, dan mereka pulalah jamaah yang konsisten berpegang teguh kepada ajaran yang dianut oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, yaitu Islam yang murni dari segala noda syirik dan bid'ah. Maka dari itu mereka berhak menyandang julukan "Ahlus Sunnah wal Jama'ah", dan di antara mereka ada orang-orang yang shiddiq yang benar-benar telah mencapai peringkat kejujuran dan keimanan, ada syuhadayang gugur di jalan Allah Subhanahu waTa’ala dan orang-orang shalih yang banyak mempunyai amal shalih. Di antara mereka juga ada yang sebagai tokoh-tokoh panutan, lentera terang di kegelapan malam yang mempunyai banyak kelebihan dan keunggulan.

Jadi, di dalam Ahlus Sunnah terdapat para tokoh ulama terkemuka yang mempunyai segala sifat terpuji, baik secara teori (ilmu) maupun amalan. Terdapat pemuka-pemuka agama di dalam Ahlus Sunnah, seperti empat tokoh panutan terkemuka (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad rahimahumullaah) berserta lain-lainnya. Merekalah golongan yang mendapat pertolongan Allah (ath-Tha'ifah al-Manshurah). Maksudnya: Ahlus Sunnahlah ath-Tha'ifah al-Manshurah yang disebut di dalam hadits, "Akan tetap ada segolongan dari umatku..." yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

Akhirnya, kami memohon kepada Allah Subhanahu waTa’ala semoga Dia membela agamaNya dan meninggikan kalimahNya dan mengalahkan musuh-musuhnya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabat beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.