kategori-buku

Buku: Tanya Jawab Masalah Nikah, dari A sampai Z

14 Jan 2012

masalah-nikahPenulis: Syaikh Abu Abdillah Mustahafa al-Adawi
Judul Asli: Ahkam An Nikah wa Az Zifaf
Penerbit: Media Hidayah

Resensi:

Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah terjemahan dari kitab Ahkam An Nikah wa Az Zifaf karya Abu Abdillah Mushthofa bin Al Adawi. Buku ini membahas permasalahan nikah dan masalah-masalah yang terkait dengannya yang disajikan dalam bentuk tanya jawab.

Beberapa kaidah yang ada di buku ini, antara lain memuat pertanyaan sebagai berikut:

Tanya: Bagaimanakah sifat wanita (calon isteri) yang seharusnya diperhatikan oleh seorang lelaki yang ingin menikah?

Jawab : Secara umum, sifat-sifat yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Memiliki agama yang baik1. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya kurang lebih demikian:

 “Sesungguhnya hamba sahaya (budak) yang mukminah (beriman) itu lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menyenangkan hatimu.” (QS. Al-Baqarah:221) Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya kurang lebih demikian: “Wanita-wanita yang baik-baik itu untuk lelaki-lelaki yang baik-baik dan lelaki baik-baik itu untuk wanita-wanita yang baik-baik.” (QS. An Nur:26) Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya kurang lebih demikian: “Oleh karena itu wanita yang shalilhah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).(QS. An Nisa’:34)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya kurang lebih demikian:

Pilihlah wanita yang memiliki agama yang baik, semoga engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Kalau seandainya wanita itu memiliki agama yang baik, cantik, dari keturunan yang baik-baik dan kaya maka wanita itu lebih baik daripada wanita yang memiliki agama yang baik saja. Maksudnya adalah kalau memang ada wanita yang memiliki agama yang baik dan cantik maka itu lebih baik daripada wanita yang memiliki agama yang baik akan tetapi kurang cantik. Demikian pula kalau ada wanita yang memiliki agama yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik maka dia lebih baik daripada wanita yang hanya memiliki agama yang baik seperti wanita tadi. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

Wanita itu umumnya dinikahi karena empat perkara: harta, cantik, keturunan, dank arena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama yang baik, semoga engkau beruntung.” [HR al-Bukhari].

3. Dianjurkan memilih wanita yang pengasih dan lembut dan alangkah bagusnya kalau sekiranya wanita itu dari Quraisy. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang artinya kurang lebih demikian,

Sebaik-baik wanita adalah yang mengendarai unta (wanita Arab). Wanita Quraisy yang baik adalah yang paling sayang kepada anak kecil dan yang paling bisa menjaga harta suaminya.” Shahîh diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahîh-nya (5082)

4. Dianjurkan untuk memilih gadis2. Hal ini didasarkan pada uraian tentang keutamaan menikah dengan gadis di atas.

5. Dianjurkan memilih wanita yang cantik, taat dan bisa memegang amanah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengumpulkan jalur-jalur periwayatannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dia bercerita bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang bagaimana wanita yang baik itu? Beliau menjawab yang artinya kurang lebih demikian,

“Wanita yang menyenangkan suaminya tatkala dipandang, taat kepada suaminya tatkala diperintah, tidak menyelisihi sesuatu yang dibenci suaminya yang ada pada dirinya dan tidak khianat dengan harta suaminya.”

6. Dianjurkan memilih wanita yang sayang suami dan bisa menghasilkan banyak keturunan, karena adanya dorongan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk itu.

7. Dianjurkan memilih wanita yang tidak memiliki cacat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang artinya kurang lebih demikian:

Larilah dari penyakit lepra seperti lari dari singa.”

Catatan:

  1. Tercakup pula di sini adalah sifat amanah, shalat malam, hafalan Al-Qur’an, pengetahuan agama dan sebagainya.
  2. Kecuali kalau ada alasan kuat untuk menikah dengan janda sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.