haji-banner

Mengenal Miqat

12 Jul 2009
Dalam pelaksanaan ibadah haji, ada dua miqat:

1. Miqat Zamani.

Yaitu ketentuan waktu, yang mana pelaksanaan manasik haji tidak sah, kecuali pada waktu-waktu tersebut.

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah menerangkan mengenai hal ini dalam al-Qur-an dengan firman-Nya:
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, katakanlah: 'Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…'" (QS. Al-Baqarah: 189).

Juga firman-Nya:
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi…" (QS. Al-Baqarah: 197).

Apakah yang dimaksud dengan "bulan-bulan yang dimaklumi" pada ayat diatas?
'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallaahu anhu berkata:

أَشْهُرُ الْحَجِّ شَوَّالٌ وَ ذُوالْقَعْدَةِ وَ عَشْرٌ مِنْ ذِى الْحَجَّةِ

"Bulan-bulan haji itu adalah Syawwal, Dzulqa'dah dan sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah."

'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu berkata:

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ لاَ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ إِلاَّ فِيْ أَشْهُرِ الْحَجِّ

"Termasuk Sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , tidak berihram untuk ibadah haji, kecuali pada bulan-bulan haji."

Selengkapnya: Mengenal Miqat

Makna "Haji Mabrur"

12 Jul 2009
Dalam menjelaskan hadits:
وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

"Dan haji mabrur itu tiada balasan bagi-nya melainkan Surga", Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata: '(Makna) yang paling benar dan paling masyhur bagi kata "al-mabrur" yaitu (ibadah haji) yang tidak dicemari oleh perbuatan dosa'. Kata tersebut terambil dari kata"al-birr" yang bermakna "ketaatan".

Selanjutnya beliau mengatakan: "Ada juga orang yang mengartikannya dengan 'al-maqbul' yaitu haji yang diterima, dan di antara tanda terkabulnya adalah kondisinya (setelah kembali dari ibadah tersebut) menjadi lebih baik daripada sebelumnya, serta tidak mengulangi lagi perbuatan maksiat".

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani , berkata: "Haji mabrur yaitu haji yang tidak tercemar oleh perbuatan dosa sedikit-pun". Ada juga yang mengatakan: "Haji yang maqbul (diterima) yang merupakan imbalan bagi suatu perbuatan kebajikan.

Selanjutnya beliau mengatakan: "Haji mabrur tidak akan terwujud kecuali jika terpelihara dari segala bentuk bid'ah dan hal-hal yang merupakan tradisi manusia, serta terlaksana dari hasil usaha yang halal, yang dengannya ia berupaya untuk menjalankan kewajiban agama dan melaksanakan perintah-perintah Allah Tabaaraka wa Ta'ala" .