haji-banner

Ringkasan Amalan-Amalan Haji

12 Jul 2009
  • Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), mempersiapkan diri untuk berihram sebagaimana lazimnya ketika berihram dari miqat.
  • Berihram untuk haji dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ

Yang dilanjutkan dengan memperbanyak membaca talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Bacaan talbiyah ini terus diucapkan dan tidak dihentikan kecuali jika akan melem-par Jumratul 'Aqabah.
  • Berangkat menuju Mina dan menginap disana serta melaksanakan shalat Zhuhur, 'Ashar, Maghrib, 'Isya’ dan Shubuh dengan mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat tanpa di jamak.
  • Bertolak dari Mina pada hari 'Arafah (9 Dzulhijjah) setelah matahari terbit.
  • Turun di Namirah disisi padang 'Arafah dan melaksanakan shalat Zhuhur dan 'Ashar, dijamak taqdim dan diqashar dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.
  • Melaksanakan wuquf diatas padang 'Arafah dalam kondisi tidak berpuasa. Sambil menghadap ke arah kiblat, berdo'a dengan mengangkat tangan hingga matahari terbenam.
  • Bertolak meninggalkan 'Arafah setelah matahari terbenam sambil membaca talbiyah dan berjalan dengan penuh ketenangan.
  • Shalat Maghrib dan 'Isya' dengan dijamak setelah tiba di Muzdalifah, shalat ini dilakukan dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.
  • Menginap di Muzdalifah tanpa menghidupkan malam itu dengan shalat, baca al-Qur-an atau ibadah lainnya karena hal tersebut tidak dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
  • Melaksanakan shalat Shubuh (tanggal 10 Dzulhijjah,-Pent) jika telah masuk waktunya.
  • Wuquf di Masy'aril Haram dengan menghadap ke arah kiblat sambil berdo'a, menyanjung dan mengagungkan serta mentauhidkan Allah Subhannahu wa Ta'ala hingga terang benderang.
  • Berangkat dari Muzdalifah sebelum matahari terbit dan mempercepat langkah/ kendaraan ketika tiba di tengah wadi "Muhassir".
  • Melempar Jumratul 'Aqabah pada hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah) diwaktu Dhuha dengan menggunakan 7 batu kecil. Lemparan ini boleh juga dilakukan setelah tergelincirnya matahari, dan setiap lem-paran membaca takbir " اَللَّهُ أَكْبَرُ "
  • Menghentikan bacaan talbiyah ketika me-lempar Jumratul 'Aqabah dan dengan me-lempar jumrah ini, berarti telah tahallul ashghar.
  • Pelemparan jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) pada hari-hari Tasyriq (11-12-13- Dzulhijjah) dilakukan setelah tergelincirnya matahari.
  • Bagi yang melakukan haji Tamattu' dan haji Qiran, harus menyembelih binatang hadyu berupa seekor kambing bagi setiap orang atau tujuh orang jama'ah haji ber-gabung untuk membeli seekor unta atau seekor sapi. Dan tempat penyembelihan-nya boleh di Mina dan boleh pula di Mak-kah.
  • Bagi yang tidak mampu menyembelih binatang hadyu, mereka diwajibkan ber-puasa selama 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah tiba di kampung halamannya.
  • Memakan sebagian dari daging sembelihan hadyunya.
  • Mencukur bersih rambut kepala (bagi laki-laki), adapun bagi wanita cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
  • Melaksanakan thawah ifadhah di Baitullah tanpa berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, dan tidak pula membuka pundak kanannya.
  • Bagi yang melaksanakan haji Tamattu' harus melaksanakan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah thawaf ifadhah. Adapun bagi haji Qiran yang sudah melaksanakan sa'i ketika pertama kali tiba, maka mereka tidak sa'i lagi sesudah thawaf ifadhah.
  • Disunnahkan untuk mengerjakan manasik pada hari 'Idul Adh-ha (10 Dzulhijjah) secara berurutan sebagai berikut:
o Melempar Jumratul 'Aqabah.
o Menyembelih binatang hadyu bagi haji Tamattu' dan Qiran.
o Mencukur bersih rambut kepala.
o Thawaf ifadhah.
  • Setelah thawaf ifadhah minum air zam-zam, lalu mencium Hajar Aswad.
  • Kembali ke Mina untuk menginap di sana selama hari-hari Tasyriq (11-12-13 Dzul-hijjah).
  • Melempar jumrah yang tiga pada hari-hari Tasyriq sesudah matahari tergelincir.
  • Melaksanakan thawaf wada' sebelum me-ninggalkan Makkah, kecuali bagi wanita yang sedang haidh atau nifas, maka tidak wajib bagi mereka untuk melaksanakan thawaf wada'.