بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pembahasan tentang kedudukan ulama hadits, sejumlah tuduhan terhadap Syekh Al-Albani, serta adab dalam membela kebenaran
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wa bihi nasta‘inu ‘ala umurid-dunya wad-din. Wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, wa man tabi‘ahum bi ihsanin ila yaumid-din. Amma ba‘du.
Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qauli. Allahumma inna nas’aluka ‘ilman nafi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. Allahummanfa‘na bima ‘allamtana, wa ‘allimna ma yanfa‘una, wa zidna ‘ilma.
Wahai saudara-saudara sekalian, kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Alhamdulillah, kita tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat, rahmat, dan taufik-Nya yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara nikmat Allah yang sangat besar adalah ketika kita dimudahkan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, taman-taman surga, dengan harapan memperoleh ilmu yang bermanfaat, bertambahnya iman, dan semakin besarnya semangat untuk beribadah kepada Allah. Semoga semua itu menjadi sebab kita memperoleh surga-Nya.
Selengkapnya: Membela Kehormatan Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan: 2 Jumadil Awwal 1447 / 24 Oktober 2025
Tempat: Masjid Nuur 'alaa Nuur - Masnan Tambun Bekasi
Daftar Isi:
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu yang merupakan bagian dari ibadah yang sangat mulia.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semakin bertakwa. Sungguh benar apa yang disampaikan Sufyan As-Tsauri Rahimahullah,
«إِنَّمَا يُتَعَلَّمُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللَّهُ بِهِ وَإِنَّمَا فُضِّلَ الْعِلْمُ عَلَى غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ يُتَّقَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ»
Sesungguhnya ilmu dipelajari agar (kita) bertaqwa kepada Allah dengannya (yakni mengamalkannya). Dan sesungguhnya ilmu diutamakan atas selainnya karena dengannya (tumbuh) ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. [Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih 1/665 no. 1159]
Dan kali ini kita akan membahas Pelajaran-Pelajaran Penting Dari Kehidupan Ulama Madzhab. Empat imam mazhab dalam fikih Islam adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hanbali.
Bagaimana Doa Salaf saat FitnahIbrahîm At-Taimy (w: 192H) berdoa,
اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي بِدِينِكَ وَبِسُّنَّةِ نَبِيِّكَ، مِنَ الِاخْتِلَافِ فِي الْحَقِّ، وَمِنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى، وَمِنْ سُبُلِ الضَّلَالَةِ، وَمِنْ شُبُهَاتِ الْأُمُورِ، وَمِنَ الزَّيْغِ وَالْخُصُومَاتِ
“Ya Allah, jagalah saya dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” [Disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 2333, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/143 (Tahqîq Masyhûr Hasan)]
Imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Khurasâny berkata,
اعْلَمُ أَنِّي أَرَى أَنَّ الْمَوْتَ الْيَوْمَ كَرَامَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ عَلَى السُّنَّةِ , فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , فَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو وَحْشَتَنَا , وَذَهَابَ الْإِخْوَانِ , وَقِلَّةَ الْأَعْوَانِ , وَظُهُورَ الْبِدَعِ , وَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو عَظِيمَ مَا حَلَّ بِهَذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ ذَهَابِ الْعُلَمَاءِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ , وَظُهُورِ الْبِدَعِ
“Ketahuilah bahwa saya melihat kematian pada hari ini adalah suatu karamah bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas Sunnah. Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râjiûn ‘Sesunggunya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya’. Kepada Allah kami mengeluhkan kehambaran kami, berpulangnya segenap kawan, sedikitnya penolong, dan tampaknya bid’ah-bid’ah. Kepada Allah kami mengeluhkan besarnya (musibah) yang menimpa umat ini dengan kepergian ulama dan ahlussunnah, dan tampaknya berbagai bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhâh dalam Al-Bida’ no. 97]
Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi bin Qayidah Al-Hamdany Al-Wadi'I Al-Khilaly rahimahullah.
Kelahirannya
Beliau rahimahullah dilahirkan pada tahun 1352 H di Damaj Yaman di sebuah lingkungan Zaidiyah (Salah satu sekte Syi'ah) yang bercirikan tasawuf, mu'tazilah, dan berbagai bid'ah lainnya.
Pertumbuhan Ilmiahnya
Beliau rahimahullah memulai pelajarannya di Maktab di sebuah desa yang bernama Al-Wathan Damaj Yaman beberapa lama kemudian berhenti karena tidak ada yang membantunya belajar.
Kemudian beliau safar ke Riyadh Saudi Arabia dan tinggal di sana sekitar sebulan setengah. Ketika cuaca Riyadh berubah maka beliau berangkat ke Makkah. Beliau meminta petunjuk kepada sebagian penceramah tentang kitab-kitab yang bermanfaat yang akan beliau beli, maka beliau dinasehati agar membeli kitab Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadhush Shalihin, dan Fathul Majid.
Beliau bekerja sebagai penjaga sebuah gedung di Hajun sambil menelaah kitab-kitab tersebut. Beliau sangat tertarik dengan kandungan kitab-kitab tersebut karena apa yang dilakukan manusia di negerinya sangat berbeda dengan yang ada dalam kitab-kitab tersebut.
Setelah beberapa lama beliau pulang ke negerinya Yaman dan mulai mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Seperti menyembelih untuk selain Alloh, meminta kepada orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan, dan kesyirikan-kesyirikan lainnya.
Reaksi yang muncul dari kaumnya begitu keras, lebih-lebih dari orang Syi'ah yang memandang Syaikh Muqbil sudah mengganti agamanya sehingga pantas dibunuh. Mereka memaksa Syaikh Muqbil untuk belajar di Masjid Jami' Al-Hadi untuk menghilangkan syubhat-syubhatnya.
Nasab dan Kelahirannya
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.
Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H.
Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah seorang panglima.
Masa Menuntut Ilmu
Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.