بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 7: 3 Rabi'ul Awal 1447 / 27 Agustus 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
وَالقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ وَلَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَلَا يَضْعُفُ أَنْ يَقُولَ: لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، فَإِنَّ كَلَامَ اللَّهِ لَيْسَ بِبَائِنٍ مِنْهُ، وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ، وَإِيَّاكَ وَمُنَاظَرَةَ مَنْ أَحْدَثَ فِيهِ، وَمَنْ قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيْرِهِ، وَمَنْ وَقَفَ فِيهِ، فَقَالَ: «لَا أَدْرِي مَخْلُوقٌ أَوْ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَإِنَّمَا هُوَ كَلَامُ اللَّهِ»؛ فَهَذَا صَاحِبُ بِدْعَةٍ مِثْلُ مَنْ قَالَ: «هُوَ مَخْلُوقٌ»، وَإِنَّمَا هُوَ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ.
(11) Al-Quran adalah Kalamullah (ucapan Allah) bukan makhluk. (12) Tidak boleh kamu lemah mengatakan ia bukan makhluk, karena Kalamullah bagian dariNya, dan tidak ada apapun yang berasal dari bagianNya adalah makhluk. (13) Hindarilah mendebat orang yang melakukan penyimpangan dalam perkara ini dan orang yang mengatakan “Lafazhku dari membaca Al-Quran adalah makhluk”, begitu pula orang yang ragu-ragu hingga mengatakan “Aku tidak tahu ia mahluk atau bukan makhluk, yang jelas ia Kalamullah,” orang ini adalah pengikut bid’ah, mirip orang yang mengatakan Al-Quran makhluk. Sungguh Al-Quran hanyalah Kalamullah, bukan makhluk.
Pembahasan masalah Al-Qur’an adalah kalamullah adalah pembahasan yang sangat penting karena sebab-sebab berikut:
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 6: 27 Safar 1447 / 20 Agustus 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
Ustadz mengingatkan kembali untuk selalu bersyukur agar kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat seperti air yang menyuburkan tanaman.
Benarlah apa yang dikatakan Ibnu Faris Rahimahullah:
إذَا كُنْتَ تُؤذَى بِحَرِّ المَصِيف ... وَيُبْسِ الخَرِيفِ وَبَرْدِ الشِّتَا
وَيُلْهِيْكَ حُسْنُ زَمَانِ الرَّبِيْع ... فَأَخْذُكَ لِلْعِلْمِ قُلْ لِي مَتَى؟
Jika kamu tersiksa dengan teriknya musim panas ... gersangnya musim gugur dan dinginnya musim dingin.
Dan juga terlenakan dengan indahnya musim semi ... Maka katakan kepadaku, kapan kamu akan belajar ilmu?
Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَمِنَ السُّنَّةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي مَنْ تَرَكَ مِنْهَا خَصْلَةً - لَمْ يَقْبَلْهَا وَيُؤْمِنْ بِهَا - لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهَا:
Termasuk Sunnah-Sunnah (Akidah) yang jika ditinggalkan satu saja ―tidak diterima maupun tidak diimani― maka ia bukan termasuk Ahlus Sunnah adalah:
Syaikh memulai dengan menyebut bahwa poin selanjutnya adalah pokok akidah (beliau menyebut Sunnah) yang dengannya menjadi pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah. Seperti halnya, seorang ulama Abdul Wahid As-Sirozi Rahimahullah yang menulis Kitab juzun fiihi imtihanu mina sunny wal bid'i yang membahas masalah pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah.
Dan landasan dari Pokok-pokok tersebut adalah Al-Qur’an dan sunnah serta ijmak ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata:
Barangsiapa yang menyelisihi Al-Qur'an yang jelas, dan menyelisihi hadits-hadits Nabi ﷺ yang banyak dan menyelisihi kesepakatan para salaful ummah, perselisihan-perselisihan yang tidak dianggap maka dia diperlakukan seperti ahlul bid'ah. (Majmu' Fatawa 24/96).
Hal ini kaidah secara umum, adapun menghukumi kesalahan individu maka dilihat keadaannya, perlu kehati-hatian. Maka imam Ahmad berkata: Mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah adalah perkara yang berat. (As Sunnah, 513 karya Al Khallal).
Maka, apa yang akan disampaikan Imam Ahmad rahimahullah selanjutnya adalah Pokok-pokok akidah yang membedakan antara Ahlussunnah dan ahlul bid'ah, siapa yang mengimaninya dan menerimanya maka dia ahli Sunnah, namun jika tidak menerimanya, maka dia adalah ahlul bid'ah.
الإِيمَانُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَالتَّصْدِيقُ بِالأَحَادِيثِ فِيهِ وَالإِيْمَانُ بِهَا، لَا يُقَالُ «لِمَ» وَلَا «كَيْفَ»، إِنَّمَا هُوَ التَّصْدِيقُ بِهَا وَالإِيمَانُ بِهَا.
(8) Beriman terhadap takdir yang baik maupun yang jelek, mempercayai semua hadits tentangnya dan mengimaninya. Tidak dibantah dengan pertanyaan “Kenapa” dan “Bagaimana”, akan tetapi wajib dipercaya dan diimani.
Selengkapnya: Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #6 | Pokok Aqidah #1: Beriman kepada Takdir
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 5: 20 Safar 1447 / 13 Agustus 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
Daftar Isi:
Tidak ada Qiyas dalam Aqidah & Sunnah Tidak Boleh Dibantah dengan Permisalan, Akal dan Hawa Nafsu
Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَلَيْسَ فِي السُّنَّةِ قِيَاسٌ، وَلَا تُضْرَبُ لَهَا الأَمْثَالُ، وَلَا تُدْرَكُ بِالعُقُولِ وَلَا الأَهْوَاءِ، إِنَّمَا هِيَ الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الهَوَى.
(6) Tidak ada analogi (qiyas) dalam Sunnah. (7) Sunnah tidak boleh dibantah dengan permisalan dan tidak boleh dibantah dengan akal dan hawa nafsu. Akan tetapi Sunnah disikapi dengan ittiba (diikuti dan diterima) dan meninggalkan hawa nafsu.
Maksud beliau tidak ada qiyas (analogi) dalam masalah akidah karena aqidah itu bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ bukan berdasarkan akal. Akal sifatnya terbatas dan akal digunakan untuk memahami sumber dalil yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan menghakimi keduanya.
Jadi maksud beliau adalah qiyas (analogi) yang batil, seperti menganalogikan Allah ﷻ dengan makhluk.
Demikian juga menganalogikan hukum dunia dengan alam barzakh. Seperti orang-orang zindiq yang manganalogikan dengan alam dunia, sehingga mereka tidak percaya dengan azab kubur.
Maka, selama sudah ada ada dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka tidak ada analogi-analogi yang melibatkan akal yang memiliki keterbatasan, tugas kita hanya sami'na wa atha'na.