بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 19: Rabu, 25 Rajab 1447 / 14 Januari 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
وَالرَّجْمُ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَا وَقَدْ أُحْصِنَ إِذَا اعْتَرَفَ أَوْ قَامَتْ عَلَيْهِ بَيِّنَةٌ. وَقَدْ رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَقَدْ رَجَمَتِ الأَئِمَّةُ الرَّاشِدُونَ.
(49) Rajam (hukuman pezina dengan dilempar batu hingga mati) adalah benar adanya, yaitu atas siapa yang sudah menikah, jika ia mengaku sendiri atau terdapat bukti (hamil). Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menegakkan rajam, begitu pula Khulafa Rasyidun.
Selengkapnya: Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #19 | Bab 16: Kebenaran Hukum Rajam
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 18: Rabu, 18 Rajab 1447 / 07 Januari 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
وَلَا نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ القِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ، نَرْجُو لِلصَّالِحِ، وَنَخَافُ عَلَيْهِ، وَنَخَافُ عَلَى المُسِيءِ المُذْنِبِ، وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللَّهِ.
(44) Kami tidak bersaksi atas siapapun dari ahli Qiblat (kaum Muslimin) karena amal yang dikerjakannya bahwa ia masuk Surga atau Neraka. Akan tetapi kami berharap Surga bagi orang shalih sekaligus mengkhawatirkannya masuk Neraka, dan kami juga mengkhawatirkan orang jelek yang berdosa sekaligus mengharapkan rahmat Allah atasnya.
وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِذَنْبٍ يَجِبُ لَهُ بِهِ النَّارُ تَائِبًا غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتُوبُ عَلَيْهِ، وَيَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ، وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ.
(45) Siapa yang bertemu Allah membawa dosa yang mengancamnya masuk Neraka, dalam keadaan bertaubat dan tidak terus-menerus berbuat dosa, maka Allah menerima taubatnya, dan Dia menerima taubat dari para hambaNya dan memaafkan dosa-dosa.
وَمَنْ لَقِيَهُ وَقَدْ أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فِي الدُّنْيَا؛ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ، كَمَا جَاءَ فِي الخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
(46) Siapa yang bertemu Allah sementara dosanya sudah ditegakkan had atasnya di dunia maka hal itu menjadi kaffarot (penebus dosanya), sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي قَدِ اسْتَوْجَبَ بِهَا العُقُوبَةَ؛ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.
(47) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan masih bergelimang dosa tanpa bertaubat dari dosa yang mengancamnya akan disika, maka urusannya (dosanya diampuni atau tidak) terserah Allah. Terserah Allah menghendaki menyiksanya atau mengampuninya.
وَمَنْ لَقِيَهُ كَافِرًا عَذَّبَهُ وَلَمْ يَغْفِرْ لَهُ.
(48) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan kafir maka ia pasti disiksa dan tidak akan diampuni.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 17: Rabu, 26 Jumadil Akhir 1447 / 17 Desember 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
Melanjutkan pembahasan pada pertemuan sebelumnya:
Pemimpin yaitu orang yang mengurusi urusan kaum Muslimin, dialah yang disepakati rakyat baik diangkat secara sukarela, kesepakatan, penunjukan bahkan meskipun dengan kudeta. Maka, siapapun yang menang diakui meskipun caranya kita tidak menyetujuinya.
وَمَنْ خَرَجَ عَلَى إِمَامِ المُسْلِمِينَ - وَقَدْ كَانَ النَّاسُ اجْتَمَعُوا عَلَيْهِ وَأَقَرُّوا لَهُ بِالخِلَافَةِ بِأَيِّ وَجْهٍ كَانَ بِالرِّضَا أَوْ بِالغَلَبَةِ - فَقَدْ شَقَّ هَذَا الخَارِجُ عَصَا المُسْلِمِينَ، وَخَالَفَ الآثَارَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَإِنْ مَاتَ الخَارِجُ عَلَيْهِ؛ مَاتَ مِيتَةَ جَاهِلِيَّةٍ.
(39) Siapa yang memberontak pemimpin kaum Muslimin, sementara manusia telah menyepakatinya dan mengakui kepemimpinannya dengan cara apapun, dengan kerelaan maupun kudeta, maka si Khowarij itu telah mematahkan persatuan kaum Muslimin, menyelisihi hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika si Khowarij ini mati di atas itu maka ia mati seperti matinya orang Jahiliyah.
وَلَا يَحِلُّ قِتَالُ السُّلْطَانِ وَلَا الخُرُوجُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ وَالطَّرِيقِ.
(40) Tidak boleh bagi siapapun memerangi penguasa dan tidak boleh pula memberontaknya. Siapa yang melakukan itu maka ia seorang mubtadi, tidak di atas Sunnah dan jalan yang lurus.