Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menciptakan kegelapan dan cahaya. Namun, orang-orang kafir justru berpaling dari-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, yang diutus oleh Allah menjelang datangnya hari kiamat. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Semoga shalawat dan salam juga tercurah kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Saudara-saudaraku yang mulia, saat ini kita berada di salah satu majelis ilmu dan halaqah dzikir. Kita memohon kepada Allah ﷻ agar memberikan pahala atas setiap langkah ketaatan yang kita lakukan, serta menjadikan majelis ini sebagai saksi kebaikan bagi kita kelak di hari kiamat, bukan sebagai penuntut yang memberatkan kita.
Selengkapnya: Keutamaan Al-Qur'an dan Bahaya Meninggalkannya
Kajian ini diawali dengan penerjemahan dari apa yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Hilal Al-Muthairi hafizhahullahu ta'ala. Beliau membuka ceramah dengan menyampaikan khutbatul hajah, membaca tiga ayat tentang perintah bertakwa, serta menyampaikan salam kepada para hadirin.
Beliau juga memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, semoga Dia menjadikan majelis kita ini sebagai majelis yang diberkahi, serta mengalirkan keberkahan bagi majelis dan seluruh hadirin yang hadir di dalamnya."
Suatu ketika, terlihat uban pada jenggot dan rambut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sahabat pun bertanya:
"Engkau telah beruban, wahai Rasulullah."
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
"Surah Hud dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban."
Para ulama menjelaskan bahwa ayat dari Surah Hud yang menyebabkan beliau beruban adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
“Maka tetaplah engkau (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan ditolong.” (QS. Hud: 112–113)
Adapun yang dimaksud dengan "saudara-saudara Surah Hud" adalah surah-surah yang membahas kengerian hari kiamat, seperti Surah At-Takwir, Al-Infitar, Al-Qari'ah, An-Naba' (Amma Yatasa'alun), dan Al-Haqqah.
Istiqamah di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta keteguhan dalam menjalankannya merupakan tuntutan yang sangat berat sekaligus memiliki urgensi agung. Oleh sebab itu, setiap muslim senantiasa memohon petunjuk di setiap rakaat salatnya melalui Surah Al-Fatihah:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Ihdinas-siratal-mustaqim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus).
Makna kalimat ini adalah memohon bimbingan, petunjuk, dan keteguhan di atas jalan yang lurus tanpa kebengkokan. Para ulama menafsirkan as-siratal-mustaqim sebagai agama Islam maupun Al-Qur'an, di mana seluruh makna ini saling melengkapi.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membuat satu garis lurus di atas tanah, lalu membuat garis-garis lain di sebelah kanan dan kirinya. Beliau bersabda bahwa garis lurus di tengah adalah jalan Allah, sedangkan garis-garis di sampingnya adalah jalan-jalan setan.
Beliau kemudian membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-An'am mengenai sepuluh wasiat penting. Sahabat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu pernah berkata:
قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى وَصِيَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِيْ عَلَيْهَا خَاتَمُهُ فَلْيَقْرَأْ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ تَعَالَوا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ….﴾ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْاهُ …﴾ الآيات
"Barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang seolah-olah dimeteraikan dengan stempel beliau, maka bacalah firman Allah ini:"
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mererafkan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An'am: 153)
Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata:
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan jawaban yang ringkas namun sarat makna:
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
Istiqamah adalah wujud nyata dari keimanan yang diresapi, diamalkan, dan dipertahankan. Bagi orang-orang yang istiqamah, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyiapkan surga yang penuh kenikmatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَۚ ١٣ اُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّةِ خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَا ۚ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ ١٤
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13–14)
Bahkan menjelang wafat (sakaratul maut), Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus para malaikat turun untuk menenangkan hati hamba-hamba-Nya yang istiqamah, menghapus rasa takut akan masa depan dan rasa sedih atas apa yang ditinggalkan, serta memberikan kabar gembira berupa surga.
Pondasi utama istiqamah seorang muslim terletak pada hatinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا مُسْتَقِيمًا
“Allahumma inni as-aluka qalban mustaqiman”
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hati yang istiqamah).
Beliau juga sering berdoa sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu'anhu:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqallibal-qulub, thabbit qalbi 'ala dinik”
(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu / di atas ketaatan kepada-Mu).
Hati dinamakan qalbun karena sifatnya yang mudah berbolak-balik (yataqallab). Hati merupakan tempat pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba-Nya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Apabila hati seseorang telah istiqamah, maka seluruh anggota badannya—baik lisan, penglihatan, pendengaran, tangan, maupun kaki—akan ikut terarah pada ketaatan.
يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ ٨٨ اِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍؕ ٨٩
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ١٠
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta. [QS. Al-Baqarah: 10].
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٢٢
Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan.
Para ulama menekankan bahwa fitnah syubhat jauh lebih berbahaya daripada fitnah syahwat.
Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan rohani dan hati harus jauh lebih besar dibandingkan perhatian terhadap jasad fisik.
Agar seorang muslim dapat meraih dan mempertahankan sifat istiqamah, berikut adalah beberapa langkah kunci yang dapat diamalkan:
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥٣
Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢
Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Menjaga istiqamah adalah perkara agung dan membutuhkan kesabaran yang ekstra. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa dagangan Allah—yaitu surga—sangatlah mahal nilainya.
Kajian ini diakhiri dengan rangkaian doa keselamatan, keteguhan iman, kelapangan rezeki kebaikan dunia dan akhirat, serta ungkapan terima kasih kepada para hadirin dan panitia penyelenggara.

*****
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Bismillah
Termasuk nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui beliau, Allah melimpahkan warisan mulia berupa Al-Qur'an dan Sunnah. Siapa pun yang mengambilnya akan memperoleh bagian keberkahan yang sangat besar. Warisan ini tidak dapat diraih melainkan melalui satu jalan utama, yaitu menuntut ilmu syari.
Selengkapnya: Merekah di Taman Ilmu: Menjadi Muslimah yang Bertumbuh dengan Sabar
Kajian Kitab Syarhus Sunnah