ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
📚┃Materi : Membeli Surga Dua Kali
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mufy Hanif Thalib, Lc. M.A. Hafidzahullah
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Ba'da Maghrib], 25 September 2026 M / 14 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕌┃Tempat : Masjid Abdurrahman Jihad - Borneo Flasher Boyolali
📖┃Daftar Isi:
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memohon pertolongan, ampunan, serta perlindungan kepada Allah dari keburukan diri dan keburukan amal perbuatan kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menawarkan kepada kita nikmat yang sangat dahsyat: surga yang seluas langit dan bumi. Sampai saat ini, tidak ada seorang pun manusia yang sanggup mengukur secara pasti berapa luas, lebar, tinggi, maupun volume langit dan bumi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran: 133)
Selengkapnya: Membeli Surga Dua Kali: Kesungguhan Para Sahabat Mengejar Keselamatan Akhirat
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
📚 ┃Sebelum Aku Kembali
🎙┃ Ustadz Ammi Nur Baits, BA Hafidzahullah
🗓️┃Sabtu, 19 September 2026 M / 08 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕰️┃ Ba'da Maghrib
🕌┃ Masjid Karima Utama Kartasura
📖┃ Daftar Isi:
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dalam majelis ilmu, majelis yang dikelilingi para malaikat.
Allah memiliki malaikat khusus yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari ahli dzikir, ketika para malaikat mendapati suatu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka saling memanggil dan berseru, "Marilah kalian menuju kebutuhan kalian." Sebagaimana dalam hadits panjang berikut ini:
عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ – وَهُوَ أعْلَم – : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي ؟! قَالَ : يقُولُونَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ : فَمَاذَا يَسْأَلُونَ ؟ قَالَ : يَقُولُونَ : يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْها ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ : يَقُوْلُ : فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ : فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا . فَيَقُولُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ )) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’”
Bismillah
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarokan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.
Segala puji hanya milik Allah. Dialah satu-satunya yang Maha Berhak menerima pujian. Bukan kita, bukan pula pujian untuk membesarkan ego pribadi. Semua prasangka kehebatan dan kepintaran diri tidak memiliki nilai di hadapan Allah.
Banyak manusia merencanakan sesuatu hanya demi meninggikan diri dan mengharapkan pujian. Buanglah semua itu, karena hal tersebut justru dapat membahayakan keselamatan kita di akhirat kelak. Kebaikan yang mampu kita lakukan hari ini murni terjadi karena petunjuk dan taufik dari Allah, bukan semata-mata karena kecerdasan atau kehebatan kita. Inilah makna sejati dari Alhamdulillah.
Allahumma sholli 'ala Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Meski telah berlalu lebih dari 1.400 tahun, ajaran Nabi Muhammad tetap terjaga kemurniannya hingga saat ini. Ini menjadi bukti nyata bahwa satu-satunya jalan kebenaran hanyalah jalan yang dibawa oleh beliau.