بسم الله الرحمن الرحيم
🎙| Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘| Materi : Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Berburuk Sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
🗓 | Hari : Selasa, 19 Rabi'ul Akhir 1448 / 29 September 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 | Daftar Isi:
Kitab Tauhid Bab 59 | Larangan Berburuk Sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Pembahasan bab ke-59 dari Kitabut Tauhid karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu taala berfokus pada larangan berburuk sangka (su'udzon) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tujuan utama pembahasan ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai hukum berprasangka buruk kepada Allah, sekaligus menegaskan bahwa husnudzon (berbaik sangka) merupakan kewajiban tauhid. Prasangka buruk dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan dapat membatalkannya secara keseluruhan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِّنكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
"Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu berupa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka berbantah-bantah dengan Allah tanpa alasan yang benar, seperti persangkaan jahiliah. Mereka berkata: 'Apakah ada bagi kita sesuatu bagian dari urusan ini?' Katakanlah: 'Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: 'Sekiranya ada bagi kita sesuatu bagian dari urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah: 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati." (QS. Ali 'Imran: 154)
Ayat ini menceritakan kondisi para sahabat dan kaum munafik seusai Perang Uhud:
Perkataan kaum munafik yang mempertanyakan peran mereka dalam keputusan perang memiliki dua maksud jahat:
Sisi pendalilan (wajhul istidlal) dari ayat ini yang menunjukkan keharaman berburuk sangka kepada Allah meliputi tiga hal:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
"Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk dan Allah murka kepada mereka dan melaknat mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Fath: 6)
Sisi pendalilan keharaman berburuk sangka dari ayat ini meliputi:
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan QS. Ali 'Imran: 154 bahwa prasangka buruk kaum munafik pada peristiwa Perang Uhud mencakup tiga perkara utama:
Prasangka semacam ini dikatakan buruk (QS. Al-Fath: 6) karena tidak pantas dialamatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta bertentangan dengan hikmah, kesempurnaan terpuji-Nya, dan janji-Nya yang pasti benar. Siapa saja yang beranggapan bahwa kebatilan akan menang secara permanen atas kebenaran hingga kebenaran lenyap tak berbekas, maka ia telah berprasangka dengan prasangka orang-orang kafir.
Berburuk sangka kepada Allah terbagi menjadi dua tingkatan berdasarkan dampaknya terhadap keimanan:
Ibnu Qayyim menegaskan bahwa mayoritas manusia tidak luput dari prasangka buruk kepada Allah, baik terkait takdir yang menimpa dirinya maupun takdir yang terjadi pada orang lain. Untuk membentengi diri dari penyakit hati ini, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:
Hendaknya setiap muslim yang menginginkan keselamatan senantiasa menginspeksi hatinya, bertobat, dan memohon ampunan atas setiap terdetiknya prasangka yang tidak layak terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
بسم الله الرحمن الرحيم
🎙| Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘| Materi : Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Mencela Angin
🗓 | Hari : Selasa, 11 Rabi'ul Akhir 1448 / 22 September 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 | Daftar Isi:
Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Mencaci Maki Angin
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita akan satu faedah dari Bab 57: dari hadits Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu
Maka, apapun yang kita lakukan, baik urusan dunia maupun akhirat kita, jika diniatkan karena untuk mengikuti hadits ini, maka akan bernilai ibadah, meskipun dalam urusan yang mubah.
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.”
(HR. Turmudzi, dan hadits ini ia nyatakan shahih)
Bab ini menjelaskan kepada kita tentang larangan mencela angin, maka celaan kita kepada angin hukumnya haram.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ushoimiy mengatakan bahwa hadits ini mauquf kepada Ubay bin Ka’ab, tetapi marfu' secara hukum, karena ada hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Angin itu adalah bagian dari rahmat Allah. Ia bisa datang membawa rahmat dan bisa datang membawa azab. Jika kalian melihat angin, janganlah kalian memakinya! Mintalah kepada Allah kebaikannya dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya! "
[Diriwayatkan oleh Nasā`i, Abu Daud dan Ahmad]
Mencaci-maki angin adalah kesalahan. Haram hukumnya mencaci-maki angin meskipun terkadang ia menghancurkan, keharaman hal ini ditinjau dari dua sisi:
إنما نهى عن سبها لأن سب المخلوق سب لخالقه، فلو وجدت قصرا مبنيا وفيه عيب فسببته، فهذا السب ينصب على من بناه
Dilarang mencela angin, karena mencela makhluk sama dengan mencela khalik (pencipta)nya. Jika engkau mendapati sebauh istana dan ternyata ada aibnya lalu engkau mencelanya maka celaan itu akan tertuju kepada orang yang membangunnya. (Al-Qaulul Mufid: 2/379)
Jika kita mencela angin karena Allah ﷻ maka hukumnya kafir, namun jika hanya angin yang dicela, maka ini merupakan akhlak yang buruk kepada Allah ﷻ.
Hukum mencela angin sama dengan mencela waktu (masa), Jangan mencela masa, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kamu mencela masa, karena Allâh adalah masa!” [HR. Muslim, 2246
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr [15] ayat 22).
- Firman-Nya dalam Q.S. Al-A'raf Ayat 57:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)...”
- Firman-Nya dalam surat Al-Furqan Ayat 48
وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً طَهُورًا
Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,
Allah ﷻ menganugerahkan mukjizat kepada Nabi Sulaiman alaihi salam berupa kemampuan mengendalikan angin, sebagaimana dalam surat Shad ayat 36:
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ
"Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki."
Firman-Nya dalam surat Ar-Rum Ayat 48:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ
“Allah-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya berkeping-keping; lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
Dalam surat Al-Ahzab ayat 9:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ ٩
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Kaum 'Aad dibinasakan oleh Allah ﷻ dengan azab berupa angin topan yang sangat kencang dan dingin selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Allah7 berfirman dalam Surah Al-Ahqaf ayat 24:
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًۭا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَـٰذَا عَارِضٌۭ مُّمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ رِيحٌۭ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
"Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.' (Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih." (QS. Al-Ahqaf: 24)
Dalam Shahih Al-Bukhari hadis nomor 1035
٢٥ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (نُصِرۡتُ بِالصَّبَا)
25. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku ditolong dengan angin Shaba”
١٠٣٥ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (نُصِرۡتُ بِالصَّبَا، وَأُهۡلِكَتۡ عَادٌ بِالدَّبُورِ). [الحديث ١٠٣٥ - أطرافه في: ٣٢٠٥، ٣٣٤٣، ٤١٠٥].
1035. Muslim telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku ditolong dengan angin Shaba (angin timur laut) dan kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin Dabur (angin barat daya).”
Angin adalah udara yang berhembus dan merupakan anugerah dari Allah ﷻ yang mengandung oksigen dan kita bisa memanfaatkannya, di planet lain seperti Mars penuh dengan Carbon Dioksida yang mengandung racun. Dan yang mengatur angin hanyalah Allah ﷻ.
Berikut beberapa do'a yang bisa dibaca ketika angin kencang:
1. Riwayat Ibnu Majah:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dari angin ini, dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya."
(HR. Ibnu Majah 2/1228, dalam Shahih Ibnu Majah 2/305)
2. Dalam Sunan al-Tirmizi, dari Ubai bin Ka'ab dengan redaksi lain. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam: janganlah kalian mencaci angin. Lalu apabila engkau melihat yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحَ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحَ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya." (HR. Al-Tirmidzi)
3. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya." (HR. Muslim, no. 2122, Kitab Shalatil Istisqa', bab berlindung saat melihat angin (kencang)l.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ushoimiy Hafidzahullah mengatakan, makna hadits ini adalah:
Wallahu a‘lam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
بسم الله الرحمن الرحيم
🎙| Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘| Materi : Kitab Tauhid Bab 57 | Ucapan “Seandainya” (Law)
🗓 | Hari : Selasa, 04 Rabi'ul Akhir 1448 / 15 September 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 | Daftar Isi:
Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, kama yuhibbu rabbuna wa yardha. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Shalawatullahi wa salamuhu 'alaihi wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Allahumma inna nas'aluka 'ilman nafi'an, wa a'udzu bika min 'ilmin la yanfa'. Allahumma zidna 'ilman ya Rabbal 'alamin. Allahumma arinal haqqa haqqaw warzuqnattiba'ah, wa arinal bathila bathilaw warzuqnajtinabah. Rabbisyrah li shadri wa yassir li amri wahlul 'uqdatam mil lisani yafqahu qauli. Amin.
Kaum muslimin, muslimat, serta para penuntut ilmu rahimani wa rahimakumullah.
Alhamdulillah, atas taufik dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita dapat berkumpul di masjid ini untuk melanjutkan kajian rutin membaca Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullahi 'Alal 'Abid karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala.
Saat ini kita telah sampai pada Bab ke-57, yaitu bab yang membahas tentang hukum-hukum penggunaan lafaz "lau" (seandainya). Dan kami telah menjelaskan dua dalil:
يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “seandainya kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tak akan terkalahkan) dan tidak ada yang terbunuh di antara kita di sini (perang Uhud). Katakanlah: “Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu, dan membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati.” (QS. Ali Imran: 154).
الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا ۗ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang: “seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran: 168)
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah mempelajari tiga dalil yang dibawakan oleh penulis. Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kata "seandainya" (lau) dalam bahasa Arab memiliki beberapa perincian hukum:
📖 Dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaulul Mufid: 2/361-363.
Diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”
Pada kesempatan kali ini, kita akan membaca dalil ketiga yang dibawakan oleh penulis:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Apabila sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan: 'Seandainya aku berbuat begini dan begitu, tentu akan begini dan begitu.' Akan tetapi katakanlah: 'Qaddarallahu wa maa syaa-a fa'al' (Allah telah menakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia kerjakan). Karena sesungguhnya kata 'seandainya' itu membuka pintu amalan setan."
(HR. Muslim)
Penulis rahimahullah membawakan potongan hadits ini sesuai dengan topik bab. Adapun matriks awal dari hadits ini sebenarnya memiliki keterkaitan erat, di mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan..."
Apa yang dimaksud dengan "kuat" dalam hadits ini?
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaulul Mufid menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kuat imannya, bukan sekadar kuat fisiknya.
Tentu kita tidak menafikan bahwa fisik yang kuat memiliki manfaat jika digunakan untuk ketaatan. Namun, pondasi utamanya tetaplah kekuatan iman. Fisik yang kuat baru akan membuahkan kebaikan apabila dibimbing oleh iman. Sebaliknya, jika seseorang memiliki fisik yang kuat tetapi digunakan untuk bermaksiat, maka kekuatan tersebut justru menjadi keburukan baginya.
Oleh karena itu, kebaikan yang disifati Nabi secara mutlak dalam hadits ini kembali kepada kekuatan iman. Adapun kelemahan fisik sering kali berada di luar kendali manusia (seperti sakit, cacat, atau bawaan lahir), sehingga tidak bisa dihakimi secara mutlak bahwa pemiliknya kurang dicintai Allah.
Kendati demikian, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan (wafi kullin khair) bahwa pada setiap mukmin—baik yang kuat maupun lemah imannya—tetap terdapat kebaikan selama ia menjaga keimanannya.
Dari sabda Nabi "Ihris 'ala ma yanfa'uk" (Bersemangatlah meraih apa yang bermanfaat bagimu), terdapat tiga faedah penting:
Dalam urusan dunia dan akhirat, tentu kebaikan akhirat jauh lebih utama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧
"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 17)
Untuk urusan akhirat, syariat memerintahkan kita untuk "bersegera" (sari'u) dan "berlomba-lomba" (sabiqu). Sementara untuk urusan dunia, batasannya adalah "jangan lupakan bagianmu" (wala tansa nasibaka minaddunya).
Perintah berikutnya adalah "Wasta'in billah" (Dan mohonlah pertolongan kepada Allah). Isti'anah ini dilakukan melalui dua cara:
Meminta bantuan kepada sesama makhluk dalam hal yang mereka mampu hukumnya boleh dan tidak merusak keikhlasan, selama kita meyakini bahwa manusia hanyalah sebab, sedangkan penentu takdir sepenuhnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda "Wala ta'jaz" (Dan janganlah engkau merasa lemah).
Larangan ini ditujukan bagi orang yang sebenarnya mampu, tetapi enggan berusaha karena malas atau putus asa. Apabila seseorang memang benar-benar tidak mampu secara fisik (seperti orang sakit yang tidak bisa shalat berdiri), maka ia mendapatkan keringanan (rukhsyah) dalam syariat dan tidak termasuk dalam larangan ini.
Seorang muslim yang memiliki iman yang kuat tidak boleh mudah menyerah. Ia harus terus berjuang dan bersabar menempuh proses selama hal tersebut berada pada jalan ketaatan.
Bagian akhir hadits mengatur sikap kita ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan:
"Apabila sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan: 'Seandainya aku berbuat begini dan begitu...' Akan tetapi katakanlah: 'Qaddarallahu wa maa syaa-a fa'al'."
Ketika seseorang mengalami kegagalan, biasanya muncul dua pengandaian yang bersumber dari bujukan setan:
Ucapan "seandainya" dalam kondisi ini dilarang karena membuka pintu amalan setan. Setan menginginkan agar seorang mukmin larut dalam kesedihan, penyesalan, dan prasangka buruk terhadap takdir Allah.
Dengan mengucapkan "Qaddarallahu wa maa syaa-a fa'al", seorang mukmin menyerahkan seluruh keputusan kepada Allah. Pengakuan terhadap takdir ini akan melapangkan dada, mengikis rasa sesak di hati, dan menjadi puncak dari kekuatan iman.
Demikian pembahasan yang dapat kita sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah senantiasa menguatkan iman kita dan membimbing kita untuk selalu ridha atas takdir-Nya.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
بسم الله الرحمن الرحيم
🎙Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘 Materi : Kitab Tauhid Bab 44 | Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu" - Pertemuan 1-2
🗓 Hari : Selasa, 8 Sya’ban 1447 / 27 Januari 2026 | 15 Sya’ban 1447 / 3 Februari 2026
🕰 Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 Daftar Isi:
٤٣ - قول: ماشاء الله وشئت
Bab 44: Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu".
Pada bab sebelum-sebelumnva telah kita sebutkan berbagai macam bentuk orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan bagi Allah ﷻ. Di antara bentuk mengambil tandingan bagi Allah adalah dengan mengatakan, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu".
Secara umum, perkataan semacam ini dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis:
Qutaibah berkata:
أَنَّ يَهُوْدِيًّا أَتَى النَّبِيَّ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُشْرِكُوْنَ تَقُوْلُوْنَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَتَقُوْلُوْنَ: وَالْكَعْبَةِ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ إِذَا أَرَادُوْا أَنْ يَحْلِفُوْا أَوْ يَقُوْلُوْا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَأَنْ يَقُوْلُوْا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ
“Bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah, lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik, kalian mengucapkan: ‘atas kehendak Allah dan kehendakmu’ dan mengucapkan: ‘demi Ka’bah’, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan: ‘demi Rabb Pemilik ka’bah’, dan mengucapkan: ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu’. (HR. An Nasa’i dan ia nyatakan sebagai hadits shahih)
Selengkapnya: Kitab Tauhid Bab 44 | Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu"
بسم الله الرحمن الرحيم
🎙Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘 Materi : Kitab Tauhid Bab 43 | Orang Yang Tidak Puas Terhadap Sumpah dengan Nama Allah - Pertemuan 1 dan 2
🗓 Hari : Selasa, 1 Sya’ban 1447 / 20 Januari 2026
🕰 Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 Daftar Isi:
مَاجَاءُ فِيمَنْ لَمْ يَقْنَعْ بِالْحَلْفِ بااَللَّهِ
Orang Yang Tidak Puas Terhadap Sumpah dengan Nama Allah
Maksud dari bab ini adalah tentang seorang yang tidak mau menerima atau puas dengan sumpah orang lain kepadanya, meskipun orang tersebut telah bersumpah dengan nama Allah ﷻ. Sikap seperti ini adalah sikap yang mencoreng kemurnian tauhid seseorang. Sikap yang tepat bagi seseorang jika ada orang lain yang telah bersumpah dengan nama Allah ﷻ, maka dia harus terima sumpah tersebut sebagai bentuk pengagungannya terhadap Allah ﷻ. Adapun Jika dia tidak menerima sumpah dengan nama Allah tersebut tanpa sebab, maka itu menunjukkan tauhidnya bermasalah dan pengagungannya terhadap Allah kurang.
Pembahasan kita pada bab ini adalah juga tentang bagaimana mencapai kemurnian tauhid. Sebagaimana kita ketahui bahwa barangsiapa ang memiliki tauhid yang sempurna, maka dia akan masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Oleh karena itu seorang hendaknya berusaha menjaga kemurnian tauhidnya sebisa mungkin. Jika seseorang merasa bahwa ada sedikit noda pada tauhidnya, maka hendaknya dia segera mencari tahu dan membersihkannya. Di antara hal yang dapat mengotori kemurnian tauhid adalah seorang tidak menerima sumpah orang lain yang diucapkan dengan nama Allah .
Selengkapnya: Kitab Tauhid Bab 43 | Orang Yang Tidak Puas Terhadap Sumpah dengan Nama Allah ﷻ