Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #15
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى
🗓┃Ahad, 12 April 2026 / 23 Syawal 1447 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃ Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura



Ad-Daa wa Dawaa' #15: Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan terhadap Hati dan Jazad

Pertemuan 12 April 2026 / 23 Syawal 1447 H

Maksiat-maksiat itu memiliki pengaruh buruk yang tercela yang dapat membahayakan hati dan badan di dunia dan akhirat di mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, di antaranya:

1. Terhalangnya ilmu.

Karena ilmu adalah cahaya yang Allah susupkan ke dalam hati, maka kemaksiatan akan memadamkan cahaya itu.

2. Terhalangnya rizki.

Di dalam al-Musnad, dari hadits Tsauban Radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

"Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar terhalangi rizkinya disebabkan dosa yang dilakukannya." [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 90, 4022 dan lihat al-Musnad, 5/277, 280, 282].

Sebagaimana takwa mendatangkan rizki, maka meninggalkan takwa akan mendatangkan kemiskinan. Karena itu, rizki tidak dapat dilapangkan oleh suatu usaha sebagaimana yang dapat dilakukan dengan amal shalih dan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan.

3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah

Keterasingan yang dirasakan oleh pelaku maksiat dalam hatinya, keterasingan antara dirinya dengan Allah, keterasingan yang sama sekali tidak diiringi kenikmatan sedikit pun. Seandainya segala kenikmatan dunia seluruhnya terkumpul baginya, maka tidak sepadan dengan keterasingan tersebut.

Perkara ini hanya dirasakan oleh orang yang hatinya masih hidup (dan tidak dirasakan oleh orang yang hatinya mati), karena luka itu tidak menimbulkan rasa sakit pada orang mati. Dan seandainya dosa-dosa tidak ditinggalkan kecuali karena takut keterasingan tersebut akan terjadi, niscaya orang yang berakal patut meninggalkannya.

4. Keterasingan antara pelakunya dengan masyarakat, khususnya orang-orang shalih dari mereka.

Pelaku dosa merasakan ada keterasingan antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan ini, semakin jauh pula dia dari mereka dan dari pergaulan mereka dan dia terhalang dari keberkahan mengam. bil manfaat dari mereka. Sebaliknya, justru dia mendekat kepada golongan setan, dengan kadar yang sesuai dengan ukuran jauh. nya dia dari golongan ar-Rahman. Keterasingan ini pun menguat hingga akhirnya kokoh. Selanjutnya keterasingan ini terjadi antara dia dengan istrinya, anaknya, dan para kerabatnya, bahkan antara dia dengan jiwanya sendiri, dia akan merasa terasing dari jiwanya sendiri.

Salah seorang dari kalangan as-Salaf berkata,

إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.

"Sungguh aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku melihat dampak buruknya pada perilaku istri dan hewan tungganganku."

Pengaruh teman yang buruk dan baik, dijelaskan dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Lihatlah bagiamana Allah ﷻ menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Seorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”

Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”

Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”

Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dalam hadis ini terdapat isyarat agar seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

5. Urusan-urusannya berubah menjadi sulit

Sehingga tidaklah dia melakukan suatu urusan melainkan dia menemukan pintunya tertutup di depan matanya atau sulit baginya untuk melewatinya.

Hal ini sebagaimana bahwa barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Dia menjadikan urusannya mudah, dan barangsiapa mencampakkan takwa, maka Allah menjadikan urusannya Sulit. Sungguh ajaib, bagaimana seorang hamba bisa menemukan pintu-pintu kebaikan namun kemaslahatan tertutup paginya dan jalan-jalannya sulit dilaluinya, sementara dia tidak mengetahui dari mana kesulitan itu datang (dan apa sebabnya)?

6. Maksiat menghadirkan kegelapan ke dalam hati pelakunya

Pelaku maksiat merasakan kegelapan di dalam hatinya sebagaimana merasakan gelapnya malam jika telah larut. Kegelapan karena maksiat ini di dalam hatinya bagaikan gelapnya ruangan bagi matanya. Ketaatan adalah cahaya dan maksiat adalah kegelapan. Jika kegelapan menguat, maka kebingungan juga bertambah sehingga pelakunya terjatuh dalam berbagai bid’ah dan perkara yang membinasakan, sedangkan ia tidak menyadarinya. Keadaannya seperti orang buta yang berjalan keluar sendirian pada malam yang gelap gulita. Kegelapan maksiat akan menguat hingga terlihat di mata, lalu menguat lagi sampai menyelimuti wajah dan menjadi tanda hitam, hingga setiap orang mampu melihatnya.

‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma berkata:

“Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar di wajah, cahaya di hati, kelapangan dalam rizki, kekuatan pada tubuh, serta cinta di hati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian di hati para makhluk.”

7. Maksiat melemahkan hati dan badan.

Dampak buruk maksiat dengan melemahnya hati merupakan perkara yang tampak dengan jelas, bahkan akan senantiasa memperlemahnya hingga berhasil memadamkan cahaya hati secara keseluruhan. Adapun pengaruhnya yang melemahkan badan dikarenakan kekuatan seorang Mukmin bersumber dari hati. Jika hatinya kuat, maka badannya juga demikian.

Adapun orang yang berdosa adalah orang yang paling lemah ketika dibutuhkan, meskipun memiliki tubuh yang kuat. Kekuatan tersebut justru tidak hadir pada saat dirinya benar-benar membutuhkan. Perhatikanlah, kekuatan tubuh kaum Persia dan Romawi yang justru melukai diri mereka sendiri pada waktu mereka benar-benar membutuhkannya, hingga mereka dikalahkan oleh orang-orang beriman dengan kekuatan hati dan tubuh mereka.

*****

Pertemuan 18 April 2026 / 29 Syawal 1447 H

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #16
🗓┃Ahad, 18 April 2026 / 29 Syawal 1447 H



8. Tertutupnya pintu ketaatan.

Seandainya tidak ada hukuman untuk dosa kecuali dihalanginya pelakunya dari ketaatan yang menggantikan dosa tersebut, diputusnya jalan ketaatan yang lainnya, sehingga jalan ketaatan ketiga tertutup baginya dengan sebab dosa tersebut, selanjutnya ketaatan keempat, dan begitu seterusnya, lalu dengan sebab dosa tersebut terputuslah darinya ketaatan-ketaatan yang banyak, di mana setiap ketaatan itu lebih baik baginya daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya (tentu itu sudah cukup).

Ini seperti seorang laki-laki yang menyantap sebuah makanan yang membuatnya sakit berkepanjangan yang mencegahnya untuk menyantap berbagai ragam makanan yang lebih lezat daripadanya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Salah satu penyebab tidak bangun shalat malam adalah karena dosa-dosa.

Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.” (Hilyatul Auliya 2/148; Shifatush Shafwah 3/234).

Demikian juga seseorang terhalang dari shalat fajar dan sunnah sebelum fajar. Padahal hal ini lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Dosa dan maksiat dapat menghalangi seseorang dari jihad, baik jihad secara fisik (berperang) maupun jihad melawan hawa nafsu.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 2/146 ) :

ببعض ذنوبهم السالفة، كما قال بعض السلف: إن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، وإن من جَزَاء السيئةَ السيئة بعدها

“(Mereka digelincirkan syetan dan kalah) disebabkan karena dosa-dosa mereka yang terdahulu (sebelum berperang), sebagaimana perkataan para ulama salaf : “Sesungguhnya balasan dari perbuatan baik adalah kebaikan sesudahnya, dan sesungguhnya balasan perbuatan jelek adalah kejelekan sesudahnya.“

Salah satu bentuk jihad adalah menuntut ilmu. Dalam hadits menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Syaikh Al Albani).

9. Kemaksiatan itu memangkas umur dan menghapus keberkahannya

Karena sebagaimana kebaikan itu menambah umur, maka sebaliknya, kekejian itu memangkas umur.

Inti masalah ini adalah bahwa umur manusia adalah durasi masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan berjalan menuju Tuhannya, merasakan nikmat cintaNya, dan dzikir kepadaNya, serta mendahulukan keridhaanNya.

Sebagaimana kebaikan dalam menyambung silaturahim. Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

10. Kemaksiatan menumbuhkan kemaksiatan lain yang sepertinya.

Sebagian dari kemaksiatan melahirkan sebagian kemaksiatan lainnya, hingga sulit bagi seorang hamba untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya, sebagaimana salah seorang dari kalangan as-Salaf berkata, "Sesungguhnya di antara hukuman atas keburukan adalah keburukan sesudahnya, dan sesungguhnya di antara balasan kebaikan adalah kebaikan sesudahnya." (Urwah Ibnu Zubair - Fuqaha Sab'ah).

Seorang hamba terus-menerus berusaha keras dalam melaksanakan ketaatan, menyukai dan mencintainya, serta mementing kannya, hingga akhirnya Allah ﷻ dengan rahmatNya mengirimkan para malaikat yang mendorongnya kepada ketaatan dengan dorongan yang kuat, menganjurkannya, membangunkannya dari ranjang dan tempat duduknya untuk menuju kepadanya.

Sebaliknya seorang hamba terus-menerus berbuat kemaksiatan mencintai dan mementingkannya, hingga akhirnya Allah mengirimkan setan-setan kepadanya, maka mereka mendorong kepada kemaksiatan dengan sangat kuat.

Yang pertama menguatkan bala tentara ketaatan dengan bala bantuan, maka mereka menjadi penolongnya yang terbesar, sedangkan yang kedua menguatkan bala tentara kemaksiatan dengan bala bantuan, maka mereka adalah para pendukungnya.

Maka, teruslah beramal sampai Allah ﷻ mengambil nyawa kita.

Ada seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lantas apa gunanya beramal?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla apabila menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, hingga ia mati dalam keadaan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga, lalu ia dimasukkan ke dalam surga dengan amalan tersebut. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan penduduk neraka, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka dengan amalan tersebut.’”

HR. Abu Daud, no. 4703 dan Ahmad, 1:158. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini shahih.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini