Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #17
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى
🗓┃ Ahad, 16 Mei 2026 / 28 Dzulqa’dah 1447 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃ Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura


Ad-Daa wa Dawaa' #17: Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan terhadap Hati dan Jazad

Telah dijelaskan beberapa poin pengaruh dosa dan kemaksiatan bagi hati dan badan:

  1. Terhalangnya ilmu.
  2. Terhalangnya rizki.
  3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah
  4. Keterasingan antara pelakunya dengan masyarakat, khususnya orang-orang shalih dari mereka.
  5. Urusan-urusannya berubah menjadi sulit, sehingga tidaklah dia melakukan suatu urusan melainkan dia menemukan pintunya tertutup di depan matanya atau sulit baginya untuk melewatinya.
  6. Maksiat menghadirkan kegelapan ke dalam hati pelakunya
  7. Maksiat melemahkan hati dan badan.
  8. Tertutupnya pintu ketaatan.
  9. Kemaksiatan itu memangkas umur dan menghapus keberkahannya
  10. Kemaksiatan menumbuhkan kemaksiatan lain yang sepertinya.

Selanjutnya:

11. Melemahkan keinginan hati hamba untuk berbuat kebaikan dan menguatkan keinginan untuk berbuat kemaksiatan.

Ini termasuk yang paling dikhawatirkan terhadap hamba, bahwa kemaksiatan itu melemahkan keinginan hati hamba untuk berbuat kebaikan dan menguatkan keinginan untuk berbuat kemaksiatan, serta melemahkan keinginan untuk bertaubat sedikit demi sedikit, hingga akhirnya keinginan bertaubat itu lenyap sama sekali dari hati seorang hamba.

Seandainya setengah dari dirinya mati (lumpuh), niscaya dia tetap tidak bertaubat kepada Allah. Dia banyak beristighfar dan bertaubat dengan taubatnya para pendusta, yakni taubatnya hanya di bibir saja, sementara hatinya sudah terbelenggu oleh kemaksiatan, terus berulang kali melakukannya dan bertekad mengulanginya saat ada kesempatan. Ini termasuk penyakit terbesar dan paling dekat kepada kehancuran.

12. Tercabutnya perasaan dari dalam hati bahwa kemaksiatan itu buruk, akibatnya ia menjadi adat kebiasaan baginya, sehingga dia tidak memandang buruk kemaksiatan yang dilakukannya sekalipun masyarakat memelototi dan mencibirnya.

Hal ini di kalangan orang-orang fasik merupakan puncak tindakan maksiat tanpa rasa malu dan sempurnanya kenikmatan, hingga salah seorang dari mereka membanggakan kemaksiatan yang dilakukannya. Dia menceritakan segala kemaksiatannya kepada orang yang tidak mengetahuinya. Dia berkata, "Wahai Fulan, aku melakukan ini dan itu."

Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintu ampunan menjadi sulit diraih.

كَمَا قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرُونَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَسْتُرَ اللَّهُ عَلَى الْعَبْدِ ثُمَّ يُصْبِحُ يَفْضَحُ نَفْسَهُ وَيَقُولُ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، فَهَتَكَ نَفْسَهُ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ» .

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,  “Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Termasuk dalam kategori ini adalah seseorang yang pada malam hari Allah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia sendiri yang membuka aibnya dengan berkata, ‘Hai Fulan, aku telah melakukan ini dan itu pada hari ini.’ Maka ia sendiri yang merusak penutup yang Allah berikan atasnya.” (HR. Bukhari, no. 5721 dan Muslim, no. 2990).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” HR. At-Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Majah (no. 4251), Ahmad (III/198), al-Hakim (IV/244), dari Anas z, dan dihasankan oleh al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4391).

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian. (HR. Muslim no. 6737)

13. Ada Dosa yang Merupakan Warisan dari Umat Terdahulu.

Di antara dampak buruk dari maksiat adalah bahwa setiap perbuatan dosa merupakan warisan dari umat-umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah.

- Perbuatan kaum Nabi Luth (liwath, homoseksual) adalah warisan dari kaum Luth.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 82-83:

فَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ مَّنْضُوْدٍ ۝٨٢ مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَۗ وَمَا هِيَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ بِبَعِيْدٍࣖ ۝٨٣

Maka, ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya (negeri kaum Lut) dan Kami menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi. (Batu-batu itu) diberi tanda dari sisi Tuhanmu. Siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim.

Para ulama sepakat bahwa hukum liwath adalah hukum mati. Hanya mereka berbeda pendapat bagaimana cara membunuhnya, ada yang berpendapat:
1. Dirajam.
2. Dilemparkan dari tempat yang tertinggi.
3. Dibakar.
4. Semua hukuman di atas.

Dan berbeda dengan perzinaan biasa, hukuman liwath tidak membedakan antara yang sudah nikah atau belum.

Demikian juga, menuduh liwath dosanya lebih berat daripada menuduh zina.

- Kecurangan dalam timbangan dan ukuran, yaitu mengambil lebih dari hak dan memberikan kurang dari kewajiban, adalah warisan dari kaum Nabi Syu’aib.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 84:

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ ۝٨٤

Kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan! Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang meliputi (dan membinasakanmu, yaitu hari Kiamat).

- Kesombongan di muka bumi dengan melakukan kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr Ayat 9 - 13:

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ ۝٩ وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ ۝١٠ الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ ۝١١ فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ ۝١٢ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ ۝١٣

(Tidakkah engkau perhatikan pula kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah. dan Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar). yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu banyak berbuat kerusakan di dalamnya (negeri itu), maka Tuhanmu menimpakan cemeti azab (yang dahsyat) kepada mereka?

- Kesombongan dan keangkuhan adalah warisan dari kaum Nabi Hud.

Surat Al-Haqqah Ayat 6:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا۟ بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

Maka, orang yang melakukan dosa seperti ini seolah-olah sedang mengenakan pakaian dari umat-umat tersebut, yang notabene adalah musuh Allah.

14. Kemaksiatan merupakan sebab hinanya hamba di sisi Tuhannya dan jatuhnya harga dirinya di MataNya.

Al-Hasan al-Bashri berkata, "Mereka itu hina di sisi Allah, maka mereka mendurhakaiNya. Seandainya mereka itu mulia di sisiNya, niscaya Allah menjaga mereka."

Bila seorang hamba menjadi hina di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang memuliakannya. Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ

"Dan barangsiapa yang dihinakan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." (Al-Hajj: 18).

Sekalipun orang-orang menghormati pelaku kemaksiatan secara lahir karena mereka membutuhkannya atau karena mereka takut terhadap keburukannya, namun di hati mereka, dia adalah manusia paling hina dan paling rendah.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini