Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #18
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى
🗓┃ Ahad, 20 Juni 2026 / 06 Muharram 1448 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃ Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura

Ad-Daa wa Dawaa' #17: Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan terhadap Hati dan Jazad

Telah dijelaskan beberapa poin pengaruh dosa dan kemaksiatan bagi hati dan badan:

  1. Terhalangnya ilmu.
  2. Terhalangnya rizki.
  3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah
  4. Keterasingan antara pelakunya dengan masyarakat, khususnya orang-orang shalih dari mereka.
  5. Urusan-urusannya berubah menjadi sulit, sehingga tidaklah dia melakukan suatu urusan melainkan dia menemukan pintunya tertutup di depan matanya atau sulit baginya untuk melewatinya.
  6. Maksiat menghadirkan kegelapan ke dalam hati pelakunya
  7. Maksiat melemahkan hati dan badan.
  8. Tertutupnya pintu ketaatan.
  9. Kemaksiatan itu memangkas umur dan menghapus keberkahannya
  10. Kemaksiatan menumbuhkan kemaksiatan lain yang sepertinya.
  11. Melemahkan keinginan hati hamba untuk berbuat kebaikan dan menguatkan keinginan untuk berbuat kemaksiatan.
  12. Tercabutnya perasaan dari dalam hati bahwa kemaksiatan itu buruk, akibatnya ia menjadi adat kebiasaan baginya, sehingga dia tidak memandang buruk kemaksiatan yang dilakukannya sekalipun masyarakat memelototi dan mencibirnya.
  13. Ada Dosa yang Merupakan Warisan dari Umat Terdahulu.
  14. Kemaksiatan merupakan sebab hinanya hamba di sisi Tuhannya dan jatuhnya harga dirinya di MataNya.

Selanjutnya:

15. Seorang hamba senantiasa berbuat maksiat hingga maksiat itu menjadi remeh baginya dan kecil menurut hatinya dan ini adalah pertanda kebinasaan, karena semakin kecil dosa dalam pandangan hamba, maka ia semakin besar di sisi Allah.

Al-Bukhari telah menyebutkan dalam Shahihnya, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu, dia berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6308.

16. Bahwa dampak buruk kemaksiatannya menimpa makhluk Allah lainnya berupa manusia dan hewan-hewan, sehingga celakalah dia dan orang lain karena dampak buruk dosa-dosa dan kezhalimannya.

Mujahid berkata, "Sesungguhnya hewan-hewan melaknat para pelaku kemaksiatan dari kalangan manusia manakala kekeringan panjang melanda dan hujan tertahan. Hewan-hewan itu berkata, "Ini akibat buruk dari kemaksiatan manusia'."

Efek dosa juga berupa Allah ﷻ akan menahan hujan dari muka bumi dan sulitnya hidup serta kekejaman penguasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَقَالَ ‏ “‏ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا ‏.‏ وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ ‏.‏ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ ‏.‏ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dari Abdillah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bersabda, “Wahai kaum muhajirin! Ada lima hal jika menimpa kalian, dan aku memohon perlindungan dari Allâh agar lima hal tersebut tidak kalian temukan;

  1. Tidaklah perbuatan keji muncul pada suatu kaum kemudian mereka terang-terangan melakukannya kecuali akan tersebar pada mereka penyakit levra dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak pernah ada pada orang-orang sebelum mereka.
  2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran niscaya mereka akan ditimpa musim kekeringan dan kezhaliman para pemimpin.
  3. Tidaklah mereka enggan untuk mengeluarkan zakat harta mereka kecuali Allâh Azza wa Jalla akan enggan untuk menurunkan hujan dari langit, kalau bukan karena hewan ternak, mereka tidak akan mendapatkan hujan.
  4. Tidaklah pula mereka melanggar janji Allâh dan Rasul-Nya kecuali Allâh akan menjadikan musuh mereka berkuasa atas mereka, musuh yang akan merampas sebagian harta benda yang mereka miliki
  5. Apabila para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allâh, atau mereka memilah-milah apa yang telah Allâh turunkan, niscaya Allâh akan menghadirkan permusuhan diantara mereka.

[Dikeluarkan oleh Ibnu Mâjah dan dishahihkan oleh Imam al-Albani rahimahullah].

17. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan, dan ini pasti, karena seluruh kemuliaan ada di balik ketaatan kepada Allah.

Allah ﷻ berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًاۗ

"Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemulian itu semuanya adalah milik Allah." (Fathir: 10).

Maksudnya, hendaknya dia mencarinya dengan menaati Allah, karena dia tidak akan mendapatkannya kecuali di dalam bingkai ketaatan kepada Allah.

Dalam kehidupan nyata, amalan shaleh melahirkan kemuliaan dunia dan akhirat, orang-orang yang shaleh dan berilmu akan dipandang hormat di masyarakat dan sebaliknya, orang-orang yang fajir akan dipandang rendah di masyarakat.

Sebagaimana contoh yang disebut dalam Al-Qur'an:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا ۝٧٩

Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.

Di antara doa salah seorang dari kalangan as-Salaf,

اللَّهُمَّ أَكْرِمْنِي بِطَاعَتِكَ وَلَا تُذِلِّنِي بِمَعْصِيَتِكَ

"Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadaMu dan jangan menghinakanku dengan kemaksiatan kepadaMu."

Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, "Sekalipun baghal mereka membawa mereka dengan tegap dan kuda mereka membawa mereka dengan cepat, namun kehinaan kemaksiatan tidak memisahkan diri dari hati mereka. Allah tidak menghendaki selain menghinakan orang yang mendurhakaiNya."

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,

Aku melihat dosa-dosa mematikan hati | Kecanduan dosa-dosa seringkali menyebabkan kehinaan | Meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan bagi hati | Menentang hawa nafsu adalah kebaikan bagi dirimu | Tidaklah ada yang merusak agama melainkan para raja, | Para ulama buruk, dan ahli ibadah yang jahil.

Ada tiga poin pokok dari syair Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah:

  1. Hati menjadi mati dan rusak yang tidak ada harapan untuk diobati. Nasehat dari siapapun tidak akan mempan dan mewariskan kehinaan.
  2. Hidupnya hati dengan melakukan amalan-amalan Shalih.
  3. Sebab rusaknya agama: penguasa, ulama yang buruk dan ahli ibadah yang jahil.

Mendo'akan Penguasa

Lihatlah para salaf dahulu bermuamalah dengan pemimpin tanpa memberontak kepada mereka, ketika pemimpin buruk mereka tidak memberontak dan mendo'akan kebaikan kepada mereka dan wajib mendoakan pemimpin dengan kebaikan, sebagaimana Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata, "Seandainya aku memiliki satu do'a yang mustajab, niscaya aku tidak akan menjadikannya kecuali untuk pemimpin."

Alasannya adalah jika seorang pemimpin menjadi baik, amanah, dan bertakwa, maka kebaikannya akan memberikan dampak positif kepada seluruh rakyat dan wilayah yang dipimpinnya. Hal ini juga menjadi pedoman bagi para ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, yang meyakini pentingnya mendoakan pemerintah demi kemaslahatan bersama.

Maka hendaklah kita selalu berdo'a:

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا وَلَا يَرْحَمُنَا

Allahumma laa tusallith 'alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa

“Yaa Allah -dikarenakan dosa-dosa kami- janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’

“Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” [Shahih adabul mufrad (47/66)]

Ulama-ulama yang Buruk

Banyak diantara kita yang syirku tha'ah, yaitu mengikuti fatwa ulama yang menyimpang. Mereka adalah orang yang menyalahgunakan ilmu agamanya untuk mencari keuntungan duniawi, popularitas, atau mengejar kekuasaan, alih-alih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitakan tentang orang-orang Yahudi dan Nashâra yang telah mengangkat orang-orang ‘alim dan rahib-rahib mereka sebagai “tuhan-tuhan” selain Allâh. Dia Azza wa Jalla berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allâh, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Maha suci Allâh dari apa yang mereka persekutukan. [at-Taubah/9:31]

Ayat ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Adi bin Hâtim Radhiyallahu anhu sebagai berikut :

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةَ ((اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ)) قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

Dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku ada (kalung) salib yang terbuat dari emas. Maka beliau bersabda, ‘Hai ‘Adi, buanglah berhala itu darimu!” Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an) dalam surat Barâ’ah (at-Taubah, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allâh”, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka). Akan tetapi jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap halal. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram”. [HR. Tirmidzi, no: 3095; dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]

Ahli Ibadah yang Jahil

Agama sangat menekankan kedudukan ilmu di atas amal. Ahli ibadah yang bodoh (jahil) adalah seseorang yang giat beribadah namun tidak mendasarinya dengan ilmu agama yang benar. Dalam Islam, fenomena ini sangat berbahaya karena ibadah tanpa tuntunan rentan disusupi kesesatan, kesombongan, atau bahkan merusak akidah.

18. Kemaksiatan merusak akal, karena akal memiliki cahaya, dan kemaksiatan memadamkan cahaya akal, dan ini pasti. Bila cahaya akal dipadamkan, maka ia melemah dan berkurang.

Salah seorang dari kalangan as-Salaf berkata, "Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah kecuali akalnya telah hilang."

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini