Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

#Kajian 7: Bahjah Quluubil Abror

بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 18 Rajab 1447 / 07 Januari 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 | Daftar Isi:



 Hadits Ke-Empat: Sifat Penghuni Surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الجَنَّةَ، قَالَ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا».
[صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري: 1397]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- beliau berkata, Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Tunjukilah aku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku masuk surga." Beliau bersabda, "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat wajib, membayar zakat fardu, dan berpuasa di bulan Ramadan." Laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah lebih dari hal itu." Tatkala ia pergi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat laki-laki penghuni surga, maka lihatlah orang itu." (Muttafaqun 'alaih)

HR. Al-Bukhari no.1333 dan Muslim no.14.

Pada hadits ini tidak disebut haji, karena pada saat itu belum ada syariát haji, ulama berbeda pendapat dan menyebutkan bahwa syari'at haji, ada pada tahun 6 atau 7 Hijriyah.

Terdapat banyak hadits yang menjelaskan pokok landasan yang besar ini.(seperti pada hadits Arba'in #22). Kandungan hadits-hadits itu semuanya sama atau hampir sama, yaitu barang siapa menunaikan apa yang Allah wajibkan kepadanya berdasarkan kewajiban yang bersifat umum dan kewajiban yang bersifat khusus karena sebab-sebab tertentu yang barang siapa terdapat padanya faktor kewajiban ini, dia wajib untuk melakukannya. Barang siapa menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, dia berhak untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Barang siapa memiliki sifat seperti ini, dia telah berhak menyandang nama Islam dan Iman (yakni dia seorang muslim dan mukmin). Sehingga dia termasuk dari golongan orang-orang yang bertakwa dan beruntung. Serta termasuk bagian dari orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus.

Dan yang serupa dengan hadits ini atau yang semakna dengannya yaitu (hadits kelima).

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Fathir ayat 32-33:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ. جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.

Pada ayat ini terdapat kata يَدْخُلُونَهَا yaitu ketiga golongan tersebut masuk ke dalam surga :

1. Dzalim linafsihi - mendzalimi diri sendiri, seperti yang disebutkan dalam surat At-Taubah At-Taubah · Ayat 102

وَاٰخَرُوْنَ اعْتَرَفُوْا بِذُنُوْبِهِمْ خَلَطُوْا عَمَلًا صَالِحًا وَّاٰخَرَ سَيِّئًاۗ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١٠٢

(Ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosanya. Mereka mencampuradukkan amal yang baik dengan amal lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2. Muqtasid: Golongan Pertengahan dengan mencukupkan diri dengan meninggalkan hal haram dan menjalankan hal wajib.

3. Saabiqun bilkhoirat: orang yang berlomba-lomba untuk meraih kebaikan; mereka adalah orang-orang memiliki semangat tinggi, jiwa yang damai, dan ruh yang selalu rindu kepada keutamaan; sungguh itu merupakan karunia yang besar dan kemuliaan yang agung.

💡 Faedah Hadits:

1. Dalam hadits ini ada kewajiban yang sifatnya umum dan khusus. Beberapa ibadah yang disebutkan secara khusus menunjukkan statusnya yang sangat penting serta dianjurkan, dan tidak berarti yang lainnya tidak wajib.

2. Dianjurkan memotivasi beramal dengan mengharap surga. Hal ini bertentangan dengan kelompok sufi yang memotivasi ibadah hanya berlandaskan cinta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata :

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa cinta, maka ia adalah zindiq, barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan raja’, maka ia adalah murji’. Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.” (al-‘Ubuudiyyah (hal. 161-162) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

  • Zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid
  • Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.
  • Haruriy adalah orang dari golongan Khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.

Maka, pilar-pilar ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan). Rasa cinta harus dibarengi dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’.

Hadits ke-lima: Istiqamah

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]

Sahabat ini memohon kepada Nabi ﷺ untuk diberi satu ucapan bermanfaat yang mencakup kebaikan-kebaikan yang bisa mengantarkan pelakunya kepada kebahagiaan. Maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk beriman kepada Allah yang mencakup segala hal yang wajib untuk diyakini berupa keimanan, pokok-pokok dan cabang-cabangnya seperti amalan-amalan hati, ketundukan, dan menyerakan diri kepada Allah secara lahir dan batin.

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah:

تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.

“Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”

"Dia bertambah dan berkurang, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan".

Setelah itu, istiqamah dan kokoh di atas iman tersebut sampai ajal menjemputnya. Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istigamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih. Dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.” (Fushshilat: 30)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa buah dari keimanan dan keistiqamahan adalah selamat dari segala kejelekan serta diraihnya surga dan segala sesuatu yang sukai.

Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur'an dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa iman mencakup segala yang ada di dalam hati berupa keyakinan keyakinan yang benar dan mencakup amalan-amalan hati seperti kecintaan kepada kebaikan, takut dari kejelekan, keinginan untuk melakukan kebaikan, dan benci terhadap kejelekan. Iman juga mencakup amalan-amalan anggota tubuh. Tidaklah sempurna perkara-perkara tersebut kecuali dengan senantiasa kokoh di atasnya.

Jika istiqomahnya sudah mencapai level ketiga, maka dia akan menjadi wali Allah ﷻ yang Dia akan mencintainya...

Seperti halnya apa yang Rasulullah ﷺ sampaikan kepada Sahabat Abdullah Ibnu Umar.

وعن سالم بن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهم عن أبيه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل» قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا.
[صحيح] - [متفق عليه]

Dari Sālim bin Abdillah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- dari bapaknya bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia shalat di sebagian malam." Sālim berkata, "Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit."
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Abdullah bin Umar adalah seorang lelaki saleh dan beliau menganjurkannya untuk melaksanakan shalat malam. Sejak itu, Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.

🔰 JIKA AKU MENCINTAINYA

إِنَّ اللَّه تَعَالَى قَالَ: منْ عادى لي وَلِيّاً. فقدْ آذنتهُ بالْحرْب. وَمَا تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ: وَمَا يَزالُ عَبْدِي يتقرَّبُ إِلى بالنَّوافِل حَتَّى أُحِبَّه، فَإِذا أَحبَبْتُه كُنْتُ سمعهُ الَّذي يسْمعُ بِهِ، وبَصره الَّذِي يُبصِرُ بِهِ، ويدَهُ الَّتي يَبْطِش بِهَا، ورِجلَهُ الَّتِي يمْشِي بِهَا، وَإِنْ سأَلنِي أَعْطيْتَه، ولَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَّنه رواه البخاري.

Allah berfirman dalam hadits qudsi,“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa beribadah dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia menyentuh dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, pasti akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi." (HR. Bukhari)

Syaikh Binbaz rahimahullah menjelaskan makna menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki adalah membimbingnya dan menjadikan setiap gerak-geriknya dalam ketaatan kepada Allah.

📝 Faidah Hadits:

  1. Haramnya memusuhi wali Allah dan termasuk dosa besar. Yang dimaksud dengan wali Allah adalah setiap mukmin yang bertakwa.
  2. Agungnya pahala amalan wajib dan ia jauh lebih dicintai daripada amalan sunnah.
  3. Anjuran untuk memperbanyak amalan sunnah karena dapat mendatangkan kecintaan Allah.
  4. Ganjaran apabila Allah telah mencintai seorang hamba adalah diberikan taufik dan bimbingan pada setiap gerakannya agar selalu berada dalam ketaatan dan keridhaan-Nya. Permintaannya dikabulkan, dan diberi perlindungan apabila meminta perlindungan.
  5. Di antara kunci keistiqamahan adalah memperbanyak amalan sunnah setelah menjaga amalan wajib.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini