#Kajian 9: Bahjah Quluubil Abror
بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 9 Sya'ban 1447 / 28 Januari 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 | Daftar Isi:
📖 Hadits ke-6: Sifat Seorang Muslim
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .”
(Muttafaqun 'alaihi. HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Dan tambahan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,
و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم
“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”
Dan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqi,
و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
“Dan yang disebut dengan orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan jiwanya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah .”
📃 Penjelasan Lanjutan:
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang makna hijrah yang hukumnya wajib bagi setiap muslim. Yaitu berhijrah dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Kewajiban ini tidak akan gugur dari seorang mukalaf (orang dewasa yang wajib menajalankan hukum agama) dalam keadaan apa pun. Karena Allah telah mengharamkan bagi seluruh hamba-Nya melakukan perbuatan-perbuatan haram dan kemaksiatan.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ…
Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian …. (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337).
Salah seorang ulama berkata: “Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa larangan itu lebih berat daripada perintah, karena tidak ada rukhshah (dispensasi) untuk mengerjakan salah satu dari larangan-larangan, sedangkan perintah dikaitkan sesuai dengan kemampuan.” Perkataan tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad.
Hijrah dibagi menjadi tiga:
- Hijratul makan (tempat): Hijrah dari tempat yang buruk ke negeri yang aman.
- Hijratul amal: Hijrah dari amalan yang buruk dan dibenci Allah ﷻ dan Rasul-Nya, baik itu berupa kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau mengikuti hawa nafsu.
- Hijratul Amil: Meninggalkan teman-teman yang buruk.
Adapun hijrah dalam pengertian khusus, maknanya adalah berpindah dari negeri kufur atau bid'ah ke negeri Islam dan sunnah. Hijrah khusus ini merupakan salah satu bagian dari hijrah dalam pengertian umum. Hijrah yang khusus ini tidak diwajibkan kepada setiap orang. Akan tetapi diwajibkan ketika ada sebab-sebab yang telah ma'ruf dalam syari'at.
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang makna dari mujahid (orang yang berjihad), yaitu orang yang bersungguh-sungguh melawan jiwanya untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Karena jiwa itu condong kepada sifat malas untuk melakukan kebaikan, dan mendorong kepada kejelekan, serta cepat terpengaruh ketika ditimpa musibah. Jiwa pun butuh kesabaran dan kesungguhan dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan teguh di atasnya. Demikian pula membutuhkan kesungguhan agar tidak berbuat kemaksiatan kepada Allah dan menjauhinya. Serta bersungguh-sungguh dalam bersabar terhadap takdir-takdir yang telah Allah tentukan.
Mujahid yang sesungguhnya adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan jiwanya dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas. Dengan demikian, jiwanya bisa menegakkan kewajiban dan tugasnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yusuf Ayat 53:
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Ulama mengingatkan kita tentang pentingnya mengendalikan nafsu. Seperti halnya bayi, jika terus dibiarkan, maka ia akan seterusnya menyusu. Namun jika disapih, ia akan berhenti, meskipun awalnya diiringi rengekan yang tiada henti.
Tiga tingkatan jiwa manusia, manusia memiliki tiga macam jiwa:
- Jiwa 1: نَفْسٌ مُطْمَئِنَّةٌ (nafs muṭma’innah, jiwa yang tenang),
- Jiwa 2: نَفْسٌ لَوَّامَةٌ (nafs lawwāmah, jiwa yang suka mencela), dan
- Jiwa 3: نَفْسٌ أَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ (nafs ammārah bis-sū’, jiwa yang memerintahkan kepada keburukan).
Di antara jenis jihad yang paling mulia adalah bersungguh-sungguh melawan jiwanya untuk memerangi para musuh (dengan senjata) dan melawan mereka dengan ucapan dan perbuatan. Karena berjihad di jalan Allah itu merupakan puncak tertinggi dalam agama.
Rasulullah ﷺ telah bersabda :
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ
“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dalam kitab Zaadul Ma'ad (Jilid 3) karya Imam Ibnu al-Qayyim, jihad dibagi menjadi empat tingkatan utama berdasarkan objeknya:
1. Jihad melawan hawa nafsu (jiwa) untuk mempelajari agama, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan bersabar.
2. Jihad melawan setan dengan menolak keraguan dan syahwat.
3. Jihad melawan orang-orang kafir dengan hati, lisan, harta, dan jiwa (fisik).
4. Jihad melawan orang-orang munafik dengan lisan dan argumen.
Sehingga, hadits ini menjelaskan bahwa barang siapa menegakkan kandungan-kandungannya, sungguh dia telah menegakkan agama seluruhnya. Yaitu barang siapa kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya, kemudian jiwa dan harta manusia aman darinya, lalu ia berhijrah (menjauh) dari segala yang dilarang oleh Allah, bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Allah, maka dia tidak menyisakan sedikit pun dari kebaikan agama dan dunia baik yang nampak atau yang tersembunyi kecuali dia telah melakukannya. Dan tidaklah ada sedikitpun kejelekan kecuali dia telah meninggalkannya.
Wallahul muwaffiq wahdah (Allah lah satu-satunya yang memberika taufik).
*****
📖 Hadits ke-7: Sifat Orang Munafik
Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat sifat, siapa yang keempat-empatnya ada padanya maka ia adalah seorang munafik sejati. Dan siapa yang memiliki salah satu darinya, maka pada dirinya ada salah satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya, yaitu: Jika diberi amanah, ia berkhianat; Jika berbicara, ia berdusta; Jika membuat perjanjian, ia mengingkari; Dan jika berselisih, ia berbuat curang atau melampaui batas.”
(HR. Bukhari no. 34, Muslim no. 58)
📃 Penjelasan:
Kemunafikan merupakan pangkal dari kejelekan. Maknanya menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejelekan. Termasuk dalam pengertian ini adalah kemunafikan akbar dalam bentuk keyakinan, yaitu menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Kemunafikan jenis ini akan mengeluarkan pelakunya dari agama secara total, dan akan menempatkannya di dasar neraka.
Nifaq (kemunafikan) dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Nifaq I'tiqadi (keyakinan/besar)
- Pengertian: Kemunafikan keyakinan di mana seseorang berpura-pura beriman secara lahiriah, tetapi batinnya kafir.
- Dampak: Mengeluarkan pelakunya dari agama Islam (murtad) dan pelakunya kekal di neraka.
2. Nifaq 'Amali (perbuatan/kecil)
- Pengertian: Melakukan perbuatan atau perilaku yang menyerupai orang munafik, namun iman masih ada di dalam hati.
- Dampak: Tidak mengeluarkan dari Islam, tetapi merupakan perantara (wasilah) menuju nifaq besar.
Allah ﷻ telah menyifati orang-orang munafik dengan seluruh sifat keburukan berupa kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok agama dan pemeluknya, merendahkan mereka, dan mereka benar-benar condong untuk bersama musuh-musuh Islam, karena mereka itu selalu membantu mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik itu selalu ada di setiap zaman terutama zaman sekarang yang berkembang padanya sikap materialistis, penyimpangan agama, dan kebebasan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم