#Kajian 16: Bahjah Quluubil Abror
بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, Selasa, 3 Dzulhijjah 1447 / 19 Mei 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 Hadits ke-11: Keutamaan Memahami Agama
Dari Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama”
📖 Muttafaqun ‘alaihi.
📃 Penjelasan:
Perawi Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiallahu’anhu adalah sahabat yang banyak dizalimi oleh lisan-lisan yang jahil akan sejarah. Padahal beliau adalah salah satu penulis wahyu Nabi ﷺ. Beliau adalah sosok pemimpin yang berjasa besar dalam perluasan wilayah Islam dan pembentukan angkatan laut pertama, namun kerap dituduh sebagai sosok yang haus kekuasaan.
Muawiyah dikenal sebagai sosok yang cerdas, penyantun, adil, dan sangat pandai mengatur administrasi pemerintahan serta menyatukan umat Islam. Dipercaya oleh Rasulullah, Utsman bin Affan dan juga oleh Umar ibn Khattab sebagai pemimpin selama 12 tahun untuk memimpin wilayah Syam (Suriah dan sekitarnya). Ia diangkat menggantikan saudaranya, Yazid bin Abu Sufyan yang wafat, dan berhasil memimpin wilayah strategis tersebut dengan cakap.
Maka, tidaklah mungkin Muawiyah seorang sahabat yang buruk. Hingga Nabi ﷺ mengingatkan: Jangan mencela sahabatku...
Hadits ini termasuk yang menerangkan keutamaan ilmu yang paling agung. Dijelaskan di dalamnya bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan bahwasanya Allah menginginkan kebaikan untuknya.
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzahullah menjelaskan bahwa mafhum mukhalafah (Penjelasan terbalik) dari hadits ini adalah siapa yang Allah ﷻ tidak inginkan seseorang kebaikan, maka Allah ﷻ jadikan ia tidak paham tentang urusan agamanya. Allah ﷻ akan biarkan tersesat agamanya.
Maka, sebagian kita mungkin diberi keahlian apapun tentang urusan dunia, akan tetapi dia tidak paham tentang urusan agamanya. Maka, berhati-hatilah, barangkali Allah ﷻ tidak menghendaki kebaikan padanya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 7:
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ ٧
Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.
Hassan Al-Bashriy Rahimahullah tatkala menjelaskan ayat ini mengatakan, ada orang kafir yang menimbang barang dagangan tidak perlu menakar dengan timbangan dinar atau dirham, cukup dengan menakar dengan tangan sudah tepat. Menunjukkan keahlian dengan detail, tetapi ketika ditanya masalah agama, maka dia tidak tahu.
Al-fiqhu fiddin (pemahaman dalam perkara agama) mencakup pemahaman dalam pokok pokok keimanan, syari'at-syari'at Islam dari hukum-hukumnya, serta mencakup hakikat ihsan. Karena sesungguhnya agama itu mencakup 3 hal tersebut (Islam, Iman dan Ihsan). Sebagaimana yang terkandung dalan hadits Jibril, yaitu ketika dia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang iman, Islam dan ihsan. Maka Nabi ﷺ memberikan jawaban berupa definisi dari masing. masingnya. Lalu beliau Allah ﷻ menafsirkan iman dengan pokok-pokoknya yang enam, menafsirkan Islam dengan pilar-pilarnya yang lima, dan menafsirkan Ihsan dengan,
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”
HR. Al-Bukhari (no. 50) dan Muslim (no.10).
Maka, kita dilarang menoleh dalam shalat, sebagaimana hadits:
وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الالْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang menoleh dalam shalat.” Beliau bersabda, “Ia adalah copetan yang dilakukan setan pada shalat seorang hamba.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 751]
Termasuk juga dalam makna hadits ini adalah memahami urusan akidah (Fiqhul Akbar), mengetahui jalan yang ditempuh oleh salaf, melaksanakannya secara lahir dan batin, serta mengetahui jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang menyimpang beserta penjelasan tentang penyimpangannya terhadap al-Kitab dan as-sunnah.
Maka, tatkala kita belajar perlu mempelajari dua sisa yang berlainan, seperti akidah dan syirik, sunnah dan bid'ah, juga seluruh penunjang (ilmu alat).
Demikian pula memahami ilmu fikih, pokok-pokok dan cabang: cabangnya, hukum-hukum ibadah dan mu'amalah, tentang jinayat (Hukum-hukum pidana), dan selainnya.
Termasuk juga dalam hal ini adalah memahami hakikat-hakikat iman, mengetahui jalan dan aturan menuju Allah yang sesuai dengan syari'at yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-sunnah.
Demikian juga mempelajari seluruh penunjang yang membantu dalam memahami agama, seperti ilmu-ilmu bahasa Arab dengan berbagai macam dan ragamnya.
Maka barang siapa Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam perkara-perkara ini dan Allah akan memberikan taufik untuknya.
Hadits ini secara tersirat menunjukkan bahwa barang siapa berpaling dari ilmu-ilmu tersebut secara keseluruhan, hal itu sebagai pertanda bahwa Allah ﷻ tidak menginginkan kebaikan untuknya, karena dia terhalang dari sebab-sebab untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan.
****
📖 Hadits ke-12: Mukmin yang Kuat
Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan loyo/malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa yang Dia inginkan, maka Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.”
(HR. Muslim no. 2664. Lihat Syarh Nawawi, jilid 8, hal. 260.)
📃 Penjelasan:
Hadits ini menunjukkan bahwa ada mukmin yang kuat dan lemah, menunjukkan iman juga ada yang kuat dan lemah, bertambah dan berkurang, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Berbeda dengan kelompok ahlul bid'ah.
Murji’ah:
- Definisi iman hanyalah pembenaran dalam hati, atau pembenaran dengan hati dan lisan saja, tanpa memasukkan amalan.
- Amalan tidak masuk dalam hakikat iman, juga bukan bagian dari iman. Jika amalan ditinggalkan seluruhnya, iman tidak akan hilang seluruhnya.
- Pelaku maksiat tetap dikatakan sebagai seorang mukmin yang sempurna imannya.
- Amalan hanya masuk dalam kewajiban iman dan buahnya, amalan bukanlah masuk dalam hakikat iman.
- Iman tidaklah bertambah dan tidak berkurang. Karena iman hanyalah pembenaran dengan hati yang tidak bisa masuk penambahan ataukah pengurangan.
Mu’tazilah:
- Dalam masalah takdir, Mu’tazilah adalah Qadariyyah yaitu menolak takdir.
- Mirip dengan Khawarij yaitu menganggap pelaku dosa besar kekal dalam neraka, namun mereka tidak berani mencap kafir. Itulah mengapa Mu’tazilah disebut “bancinya Khawarij” (Mukhanits Al-Khawarij).
- Orang mukmin dianggap tidak masuk neraka, namun cuma mendatangi saja. Karena kalau masuk neraka, tak mungkin keluar lagi dari neraka sama sekali.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم