Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : "Haadzihi 'Aqidatunaa"
✍🏼┃Karya : Abu Umair Majdi bin Arafat Al-Mishri Hafidzahullah
🎙┃Pemateri : Ustadz Mohammad Alif, Lc, M.Pd Hafidzahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari)
🗓┃Hari & Tanggal : Hari Jum'at,  22 Mei 2026 / 5 Dzulhijjah 1447 H
🕰┃Waktu : Ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃Tempat : Masjid Al-Qomar - Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo, Jawa Tengah 57142


Inilah Aqidah Kami - Pertemun#9 [Orang-orang yang melakukan dosa baik dosa-dosa besar (selain syirik) dan meninggal sebelum bertaubat, tidaklah kekal di neraka]

Orang-orang yang melakukan dosa baik dosa-dosa besar (selain syirik) dan meninggal sebelum bertaubat, tidaklah kekal di neraka

Orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar meskipun semuanya, tidaklah kekal di neraka, tetapi di bawah kehendak Allah ﷻ. Kalau memang harus masuk neraka karena dosa-dosa besar dan belum bertaubat, akan ada waktunya keluar dari neraka, karena adanya syafa'at, atau kebaikan yang pernah dilakukan atau ucapan kalimat laa ilaaha illallah saat hidupnya, akan bermanfaat kelak.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Pasti keluar dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kebaikan.” (HR. Bukhari)

مَنْ قَالَ لا إله إلا الله نفَعَتْهُ يَوْمًا مِنْ دَهْرِهِ أَصَابَهُ قَبْلَ ذلِكَ مَا أَصَابَهُ

Siapa pun yang mengucapkan "Tidak ada illah yang wajib disembah kecuali Allah" akan mendapatkan manfaat darinya suatu hari nanti dalam hidupnya, terlepas dari apa pun yang menimpanya sebelum itu. Hal ini disebutkan dalam hadits.

Diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Mu'jam al-Awsat (3486), al-Mu'jam al-Saghir (393), dan al-Bayhaqi dalam al-Shu'ab (97), semuanya dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.

Jika ia bertemu dengan Tuhannya dengan semua dosa kecuali menyekutukan Allah, meskipun ia dihukum karenanya, tujuan akhirnya adalah Surga. Hanya mereka yang ditakdirkan untuk neraka yang akan tetap tinggal di sana, artinya mereka yang akan tinggal di sana (karena kekafiran dan pembatal keislaman), atau mereka yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai orang yang disiksa, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi.

Prinsip akidah kita adalah mencintai sahabat Nabi ﷺ

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan makna Sahabat adalah seseorang yang bertemu / berjumpa dengan Nabi Shallallahu Alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya dan wafat di atas keislaman tersebut, walaupun sempat tercampuri murtad.

Bagian dari beriman kepada Nabi kita, ﷺ , adalah mencintai para Sahabatnya. Oleh karena itu, kami mengatakan bahwa merupakan prinsip dasar iman kita untuk mencintai semua Sahabat, karena mereka adalah golongan dan generasi terbaik setelah para Rasul. Yang terbaik di antara mereka adalah sepuluh orang yang dijanjikan Surga, dan yang terbaik di antara mereka adalah empat Khalifah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, kemudian penduduk Badar, kemudian penduduk baitur Ridwan, kemudian penduduk Uhud, kemudian semua Sahabat lainnya. Kami tidak akan menyebutkan apa yang terjadi di antara mereka, karena mereka semua telah diberi pahala.

Kami mengatakan bahwa para Sahabat dipilih oleh Allah, dan persahabatan Nabi-Nya menyertai beliau, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas mengenai firman Allah ﷻ dalam Surat An-Naml Ayat 59:

قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"

Mereka adalah para Sahabat Nabi, yang dipilih oleh Allah, dan persahabatan Nabi-Nya menyertai beliau. Mereka adalah para sahabat dan pembantu beliau, dan merekalah yang menerima Al-Quran dari beliau; mereka mengamalkannya dan membawa hadits dari beliau. Orang-orang yang mengamalkannya adalah orang-orang yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah 9:100]

Tidak seorang pun diperbolehkan untuk berbicara buruk tentang salah seorang dari mereka, karena merupakan prinsip dasar iman bahwa kita mencintai mereka. Mencintai mereka adalah perbuatan iman, dan membenci mereka karena persahabatan mereka adalah kekafiran dan kemunafikan.

Adapun perselisihan atau permusuhan yang mungkin timbul di antara mereka, itu adalah masalah hati dan tidak berkaitan dengan masalah ini. Kebencian terhadap seorang Sahabat hanya karena dia adalah seorang Sahabat—itu adalah kekafiran. Namun, kebencian yang mungkin timbul di hati sebagian orang pada masa perang, dan sebagainya, disebabkan oleh masalah duniawi di mana mereka berbuat salah. Karena itu, kita tidak menyebutkan apa yang terjadi perselisihan di antara mereka, dan kita tidak akan menceritakannya secara detail. Sebaliknya, kita akan menyebutkannya secara umum, tanpa mencela kelompok mana pun yang mengalami perselisihan tersebut. Kita mencintai dan menghormati mereka, dan kita mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, Yang Maha Tinggi, melalui kecintaan kita kepada mereka:

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".

[Al-Hashr: 10].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam syairnya:

Kecintaan kepada semua Sahabat adalah madzhabku (akidah keyakinanku) , dan dengan mencintai kerabat Nabi ﷺ aku bertawasul kepada Allah ﷻ
Dan setiap para sahabat mendapatkan kedudukan dan keutamaan yang terang benderang
Tetapi Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu’anhu adalah yang paling terbaik diantara mereka

Allah Yang Mahakuasa berfirman:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At-Taubah : 40]

Ayat ini meskipun tidak menyebut nama, namun yang dimaksud adalah Abu Bakar Radhiyallahu’anhu.

Nabi ﷺ mengatakan tentang Abu Bakar: “Apakah kalian akan meninggalkanku bersama sahabatku (Abu Bakar), sahabat yang istimewa, (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3661, 4640). Dan Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak dicukupi membantu kita, kecuali Abu Bakar; karena sesungguhnya dia mempunyai kebaikan di sisi kita, yang akan Allah beri pahala kepadanya pada Hari Kiamat. Tidak ada harta seseorang yang pernah memberi manfaat kepadaku sebanyak harta Abu Bakar. Jika aku harus memilih sahabat dekat (Khalil), aku akan memilih Abu Bakar. Sesungguhnya sahabatmu adalah sahabat Allah (Khalilullah) (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (3661) dan Ahmad (7439), keduanya dari Abu Hurairah). Kemudian beliau berkata, "Allah mengutusku, dan kalian berkata, 'Kamu berbohong,' sementara Abu Bakar berkata, 'Dia telah mengatakan kebenaran...'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (361) dari hadits Abu Darda). (Hadits).

Hingga disebutkan setiap kebaikan, Abu Bakar lah yang pertama kali melakukannya, hingga 8 pintu surga memanggilnya.

Maka, sungguh hina orang-orang yang dengan kebodohannya mencaci para Sahabat yang bahkan Nabi ﷺ sendiri yang menyanjung mereka, maka kita hendaknya selalu mendo'akan mereka Radhiyallahu’anhum dan membelanya dari perkataan orang-orang Syiah Rafidhah.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ (HR. Bukhari-Muslim).

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan.

Kemudian datang Umar al-Faruq, semoga Allah meridainya, orang ketiga umat ini setelah Nabi kita, dan sahabat dekatnya, melalui dialah Allah membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Setan takut kepadanya dan lari darinya.

Rasulullah ﷺ mendaki Gunung Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman seketika Gunung Uhud bergetar, maka nabi bersabda:

اثبُتْ أُحُد؛ فإنما عليك نبيٌّ وصدِّيق وشهيدان

“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid (maksudnya Umar dan Utsman)”. – HR. Bukhari

Kemudian Utsman, pemilik dua cahaya (Dzu Nurain), menantu Rasulullah melalui kedua putrinya, yang banyak berbakti di jalan Allah, dan mempersenjatai pasukan yang menghadapi kesulitan, yang bahkan para malaikat pun gentar.

Malaikat pun Malu pada Utsman bin Affan

Utsman bin Affan dikenal memiliki sifat pemalu. Abu Bakar pernah mengatakan ini saat Utsman belum memeluk Islam, "Tahukah engaku wahai Utsman! Menurut pandanganku, engkau adalah seorang laki-laki yang pemalu dan aku melihat bahwa sifat ini tidak akan menghantarkanmu melainkan kepada Islam."

Selain itu ada cerita menarik lain tentang sifat pemalu Utsman bin Affan:

Suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam rumahnya seraya menaikkan sedikit bagian gamisnya, sehingga nampak sebagian paha beliau. Kemudian Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk. Rasulullah mengizinkannya tanpa sama sekali mengubah posisi duduknya.

Setelah Abu Bakar pamit, tak lama kemudian Umar bin Khattab datang meminta izin masuk. Rasulullah ﷺ masih duduk dalam posisi yang sama hingga Umar pamit pergi setelah selesai menyampaikan maksud kedatangannya.

Selanjutnya giliran Utsman bin Affan yang datang. Berbeda dari sebelumnya, saat akan mengizinkan Utsman masuk, Rasulullah ﷺ terlebih dulu berdiri membetulkan pakaiannya. Baru setelah itu beliau duduk kembali.

Setelah Utsman pergi, Aisyah Radhiyallahu’anha yang melihat hal tersebut lalu bertanya pada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, engkau tidak bersikap begitu bagi kedatangan ayahku (Abu Bakar) dan Umar?" tanya Aisyah.

Rasulullah pun menjawab: "Wahai Aisyah, sesungguhnya Utsman adalah laki-laki yang pemalu. Aku khawatir bila saat ia masuk menemuiku aku dalam keadaan seperti ini, sehingga ia melihatku dan ia akan merasa malu berbicara denganku tentang sesuatu yang ia inginkan."

"Tidakkah aku merasa malu terhadap seorang laki-laki yang para malaikat pun malu kepadanya." ujar Rasulullah ﷺ.

Kemudian Ali, menantu Rasulullah melalui putrinya Fatimah dan sepupunya, Anak laki-laki pertama yang beriman dan anak yang kepadanya Nabi ﷺ berkata: “Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa.” (Diriwayatkan oleh Muslim (2404) dan At-Tirmidhi (3731) dari Sa'd ibn Abi Waqqas).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini