ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Hadits ke-5: Anjuran Menjilati Jari Sesudah Makan
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu, yang dengannya akan sangat bermanfaat di saat banyaknya fitnah bertebaran.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian makan makanan jangan dia usap tangannya sampai dia menjilat tangannya tersebut. Atau dia menjilatkan tangannya tersebut.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
📖 Kata Ibnu Hajar, “Diriwayatkan oleh Imām Bukhari dan Imām Muslim.”
Selengkapnya: Kitabul Jami' #7: Hadits ke-6 – Anjuran Menjilati Jari Sesudah Makan
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Hadits ke-5: Adab-adab dalam Majelis
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah seseorang memaksa saudaranya berdiri dari tempat duduknya, agar ia dapat menempati tempat duduk saudaranya tersebut. Akan tetapi hendaknya mereka saling melapangkan dan merenggangkan (sehingga saudaranya yang baru datang bisa duduk).”
📖 HR. Bukhari No. 6269 dan Muslim No. 2177
📃 Penjelasan:
Hadits ini kembali menjelaskan kepada kita akan keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan Islam. Hadist ini mengajarkan dua adab penting kepada kita, yaitu:
1. Adab Pertama: Bagaimana seharusnya sikap seorang yang baru datang ke sebuah majelis?
Seorang yang baru datang ke suatu majelis, hendaknya duduk di tempat yang ia dapatkan atau tempat yang masih kosong. Dia harus rela menempati tempat mana pun yang masih kosong, karena dia memang datang terlambat. Islam melarangnya dari memaksakan diri untuk mendapatkan tempat yang diinginkan dengan cara melangkahi orang-orang yang terlebih dahulu datang, atau dengan cara menyuruh orang lain berpindah dari tempat duduknya, sehingga ia bisa menempatinya.
Selengkapnya: Kitabul Jami' #6: Hadits 5 – Adab-adab dalam Majelis
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Hadits ke-4: Larangan Berbisik Antara Dua Orang ketika Sedang Bertiga
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه -قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.
Dari Ibnu Mas’ūd radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” - (HR. Imām Bukhāri dan Imām Muslim dan lafazhnya adalah terdapat dalam Shahīh Muslim).
📃 Penjelasan:
Hadits yang mulia ini menunjukkan salah satu sisi keagungan Islam. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala hal sampai pada hal-hal yang bahkan dianggap sepele, seperti adab makan, adab minum, dan lain-lain, termasuk di antaranya adab bergaul.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah/5: 3]
Selengkapnya: Kitabul Jami' #5: Hadits 4 – Larangan Berbisik Antara Dua Orang Ketika Sedang Bertiga