Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
E-book Islam Resensi Buku Islam Penerbit Buku

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

📘 | Materi : Kitab Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu
📖 | Karya: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah | Download Ringkasan Kitab  | Ustadz Yazid Dalam Kenangan
🎙| Bersama: Ustadz Ustadz Yunan Hilmi, Lc Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 27 Rabiul Awal 1448 H / 09 September 2026 M
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.


Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, setiap bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Mensyukuri Nikmat Majelis Ilmu

Kaum muslimin dan muslimat, jamaah Masjid Al-Ikhlas rahimakumullah.

Alhamdulillah, pada malam hari ini Allah memberikan kesempatan dan nikmat kepada kita untuk melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Al-Ikhlas. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita. Kita juga patut mensyukuri nikmat berupa ilmu dan kesempatan menghadiri majelis ilmu. Maka niatkanlah semuanya untuk menggapai rida Allah dan mengharap wajah Allah Ta'ala.

Sesungguhnya segala amal ibadah tanpa keikhlasan karena Allah Ta'ala akan menjadi sia-sia. Kita juga memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar dimudahkan dalam mencerna ilmu yang disampaikan oleh para ustaz, ilmu yang kita baca, kita dengar, dan kita simak. Tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan mampu mencerna dan memahami ilmu tersebut dengan baik.

Kajian Kitab Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu

Pada kajian perdana ini, insyaallah kita akan membaca sebuah buku berjudul Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, karya Al-Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullahu ta'ala.

Namun sebelum itu, izinkan kami sedikit membacakan biografi beliau. Mungkin di antara kita sudah pernah membaca biografi beliau yang ditulis oleh beberapa asatizah dan tersebar di media sosial.

Setelah merangkum dari beberapa sumber, mudah-mudahan informasi ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan menumbuhkan semangat untuk mengikuti, minimal, semangat beliau dalam menuntut ilmu, mendakwahkan ilmu, mengamalkan ilmu, dan menjadi sosok yang sangat produktif dalam menulis.

Biografi Ringkas Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullahu ta'ala bernama lengkap Yazid bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Muhammad bin Awad bin Abdullah bin Al-Jawwas, Abu Fathi. Kunyah beliau adalah Abu Fathi, yaitu nama anak pertama beliau. Beliau rahimahullah merupakan keturunan keluarga Jawas yang berasal dari Hadramaut, Yaman.

Beliau lahir di Tanah Abang, Jakarta, pada 1 Oktober 1962 Masehi, bertepatan dengan 2 Jumadal Ula 1382 Hijriah. Beliau adalah anak kedua dari sebelas bersaudara dalam keluarga yang sederhana. Ayah beliau adalah seorang pedagang kaki lima yang menjual kopi di pasar.

Sejak kecil, beliau belajar membaca Al-Qur'an kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Umar Jawas. Masa kecil beliau di Jakarta dilalui sebagaimana anak-anak Jakarta pada umumnya. Setiap hari beliau sering menemani ayahnya berjualan keliling di Pasar Tanah Abang.

Kecintaan kepada Ilmu dan Buku

Ada sebuah tulisan dari Ustaz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizhahullahu ta'ala yang berjudul Kenanganku Bersama Al-Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Tentunya tidak semua tulisan tersebut akan kita bacakan. Kita mengambil beberapa bagian yang mudah-mudahan dapat memberikan ibrah dan manfaat.

Beliau menukil perkataan Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah: "Tatkala saya diberi kabar kematian seorang ahli sunah, seakan-akan saya kehilangan sebagian anggota tubuh saya." Perkataan ini terdapat dalam Syarah Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah, jilid 1 halaman 60, dan juga dalam Hilyatul Auliya, jilid 3 halaman 9.

Ustaz Yazid rahimahullah meninggal dunia pada hari Kamis, 11 Juli 2024.

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai ibrah dari tulisan Ustaz Abu Ubaidah hafizhahullahu ta'ala.

Beliau menceritakan bahwa sebelum berangkat ke Qasim, Saudi Arabia, mereka sempat tinggal beberapa waktu di Priok. Mereka diajak oleh seorang teman, Ustaz Ridwan Abu Raihanah, untuk menghadiri majelis Sahih Bukhari bersama Ustaz Abdul Hakim Amir Abdat di Pramuka dan Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di Masjid Dewan Dakwah.

Kalau tidak salah, pada waktu itu Ustaz Yazid mengajarkan kitab Fathul Majid. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya mengajarkan ilmu di Bogor, tetapi juga berdakwah ke berbagai daerah.

Ketika belajar di Unaizah, Ustaz Abu Ubaidah pernah mengisi kajian di Islamic Center Unaizah. Beliau mendapati banyak buku karya Ustaz Yazid rahimahullah dan kaset-kaset kajian beliau terpajang di sana. Ustaz Yazid rahimahullah pernah menjadi dai di Maktab Jaliat Islamic Center Unaizah pada masa Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah masih hidup. Beliau juga menimba ilmu secara langsung dari Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ta'ala.

Ustaz Abu Ubaidah juga menuturkan bahwa Ustaz Yazid sangat mencintai buku. Beliau sering membeli kitab-kitab ulama ketika umrah. Ustaz Abu Ja'far pernah bercerita bahwa ketika Ustaz Yazid melakukan umrah, beliau sering memesan beberapa kitab dalam jumlah yang tidak sedikit. Kecintaan beliau terhadap buku sangat besar. Beliau menyediakan waktu khusus untuk membaca dan mengalokasikan beberapa jam dalam sehari untuk membaca. 

Inilah salah satu kebiasaan yang hendaknya kita tiru. Setelah belajar kepada Syekh Ibnu Utsaimin di Unaizah, beliau tetap meneruskan kebiasaan baik para ulama, yaitu muthala'ah al-kutub, membaca kitab-kitab para ulama. Ustaz Abu Ubaidah juga menuturkan bahwa Ustaz Syahrul Fatwa pernah dipanggil oleh Ustaz Yazid ke rumahnya. Saat itu Ustaz Yazid membaca sebuah referensi tentang fikih wanita yang ditulis oleh Ustaz Syahrul Fatwa. Karena penasaran dengan buku aslinya, beliau meminta penulisnya datang ke rumah dengan membawa buku tersebut.

Ini menunjukkan betapa tingginya kecintaan beliau terhadap kitab dan ilmu.

Produktif Menulis

Ustaz Yazid termasuk ustaz yang sangat produktif dalam menulis buku. Ustaz Abu Ubaidah sering menganjurkan murid dan jamaahnya untuk membaca buku-buku beliau karena bermanfaat, ilmiah, penuh dengan dalil dan referensi yang jelas, sistematis, serta mudah dipahami.

Ustaz Yazid juga dikenal sebagai seorang yang karim dan dermawan. Hal ini sudah masyhur bagi orang-orang yang mengenal beliau.

Dalam sebuah kesempatan setelah talk show di TV Roja tentang pendaftaran santri baru Al-Furqan sekaligus informasi mengenai rencana pembangunan Masjid Jami' Al-Furqan, wakil bidang dakwah dan sosial, Akh Abdul Malik, memberitahu Ustaz Abu Ubaidah bahwa Ustaz Yazid baru saja menelepon dan mentransfer sejumlah dana untuk pembangunan masjid.

Ustaz Abu Ubaidah juga menyebutkan bahwa Ustaz Yazid sangat perhatian kepada murid dan asatizah lainnya. Setiap bertemu, beliau bertanya dan menitipkan salam kepada para ustaz. Di antara pesan beliau adalah agar para pendakwah juga peduli dan memperhatikan para santri serta alumni.

Shalat Jenazah Ustaz Yazid

Ketika Ustaz Yazid hendak disalatkan, begitu banyak asatizah, para dai, kaum muslimin, dan jamaah yang datang untuk menyalatkan beliau. Kaum muslimin datang dari berbagai penjuru Indonesia. Lautan manusia memenuhi tempat pelaksanaan salat jenazah beliau.

Sebelum salat jenazah dimulai, Ustaz Abdul Hakim Abdat mengingatkan bahwa kita semua sedih karena kehilangan Ustaz Yazid. Namun, kita harus tetap menjunjung tinggi sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mengatakan bahwa orang yang akan kita salatkan ini telah menghabiskan waktunya untuk mengajarkan sunah Nabi, yaitu Ustaz Yazid rahimahullah.

Putra beliau, Ustaz Fatih Jawas, juga mengingatkan jamaah agar tenang dan tidak berlebihan terhadap jenazah beliau, seperti mencium-cium atau mengusap jenazah.

Hal tersebut memberikan kesan tersendiri bagi Ustaz Abu Ubaidah. Beliau mengatakan bahwa pada saat penyelenggaraan salat jenazah tersebut, jamaah kembali diingatkan tentang tauhid dan sunah yang merupakan inti dakwah Ustaz Yazid rahimahullah, yang sering beliau ulang dalam kajian dan karya tulisnya.

Yaitu agar kita tidak berlebih-lebihan terhadap jenazah maupun orang saleh.

Kesaksian dan Kebaikan yang Dikenang

Ustaz Abu Ubaidah juga menuliskan beberapa kabar baik yang disampaikan tentang Ustaz Yazid rahimahullah setelah beliau meninggal.

Di antaranya apa yang disampaikan oleh Syekh Abdul Karim Ar-Ruhaili hafizhahullahu ta'ala, bahwa beliau meninggal di atas tauhid dan sunah. Beliau meninggal setelah menunaikan haji terakhirnya pada tahun 2024. Beliau juga sabar menghadapi sakit yang dideritanya. Semoga sakit tersebut menjadi pelebur dosa dan pengangkat derajat beliau.

Beliau meninggalkan banyak karya tulis dan rekaman kajian yang insyaallah akan menjadi amal yang terus memberikan manfaat setelah beliau meninggal dunia. Beliau sangat produktif. Dari berbagai informasi yang beredar, karya tulis beliau berjumlah lebih dari 50 buku dan banyak di antaranya mendapatkan sambutan luas dari masyarakat. Buku-buku beliau sarat dengan dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, ditulis secara sistematis dan mudah dipahami.

Beliau juga didoakan oleh banyak orang, baik secara langsung maupun melalui berbagai media. Tidak hanya para asatizah dan dai di Indonesia, tetapi juga sejumlah masyaikh dan ulama di Timur Tengah yang mengenal beliau. Beliau disalatkan oleh kaum muslimin dalam jumlah yang sangat banyak.

Ustaz Badrus Salam yang memandikan jenazah beliau juga menceritakan bahwa wajah beliau terlihat cerah ketika meninggal dunia.

Banyak orang mengenang jasa dan kebaikan beliau. Ada yang bercerita kepada Ustaz Abu Ubaidah bahwa dirinya meninggalkan rokok setelah dinasihati Ustaz Yazid. Ada pula yang meninggalkan pekerjaan di bank setelah mendapatkan nasihat dari beliau. Bahkan seorang tukang parkir yang tidak begitu mengenal dunia kajian pernah mengatakan setelah salat Subuh bahwa ustaz yang akan disalatkan tersebut adalah ustaz sejati, ustaz akhirat, bukan ustaz dunia.

Ini menunjukkan betapa luasnya manfaat dakwah beliau.

Kesimpulan tentang Ustaz Yazid

Ustaz Abu Ubaidah kemudian menyampaikan kesimpulannya tentang Ustaz Yazid rahimahullah: Nahsabuhu kadzalik wa la nuzakki 'alallahi ahada.

Beliau adalah seorang pendakwah tauhid dan sunah. Beliau sangat bersemangat dalam menuntut ilmu dan mencintai kitab-kitab para ulama. Beliau sangat peduli kepada murid-murid dan keluarganya. Beliau dikenal sebagai orang yang karim, dermawan, dan sering membantu tanpa pamrih. Beliau produktif menulis buku-buku yang bermanfaat, yang insyaallah akan terus menjadi amal yang memberikan manfaat setelah beliau wafat. Beliau juga banyak melahirkan para ustaz dan menjadi sebab banyak orang mendapatkan hidayah.

Mudah-mudahan apa yang kita simak dari biografi singkat beliau menjadi pelecut semangat bagi kita.

Di balik dakwah beliau, ada berbagai aktivitas yang tentu menyita waktu: mengurus rumah tangga, membaca, beribadah, menulis, dan aktivitas lainnya. Beliau sangat perhatian dalam menulis sehingga karya-karyanya begitu banyak dan memberikan manfaat yang luas.

Inilah yang hendaknya kita contoh: bagaimana beliau begitu kuat dalam menulis. Dengan tulisan, ilmu seseorang dapat terus memberikan manfaat meskipun ia telah meninggal dunia. Tulisan-tulisannya dapat dibaca oleh generasi setelahnya dan menjadi amal yang terus mengalir.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan banyak kebaikan kepada umat ini.

Mukadimah Kitab Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu

Selanjutnya kita masuk kepada mukadimah kitab yang akan kita pelajari, yaitu Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu.

  • Ustaz Yazid rahimahullah membuka kitabnya dengan pujian kepada Allah:

"Segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk."

Beliau kemudian bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, yaitu Adam. Dan Allah menciptakan pasangannya, yaitu Hawa, dari dirinya. Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar."

Kemudian beliau menyebutkan:

فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

"Sungguh sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, yaitu Al-Qur'an, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu As-Sunnah. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, setiap bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka."

Kewajiban Menuntut Ilmu

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi menjadi dua:

  • Pertama: Ilmu yang Wajib Dipelajari

Hukumnya wajib, seperti ilmu tentang salat, zakat, dan puasa. Seseorang wajib mengetahui tata cara salat karena tanpa mengetahui tata caranya dia tidak akan mampu melaksanakan shalat dengan benar. Demikian pula dengan zakat dan puasa.

Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib.

  • Kedua: Fardu Kifayah

Ada pula ilmu yang hukumnya fardu kifayah, seperti ilmu mengenai pembagian berbagai hak, pelaksanaan hukum-hukum hudud dan qisas, serta cara mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Tidak mungkin semua orang mempelajari seluruh bidang ilmu tersebut. Karena itu, Allah memberikan kemudahan kepada sebagian orang untuk mempelajarinya dan menjalankan tugas tersebut.

Adapun setiap muslim hendaknya mengambil bagian dari ilmu yang wajib baginya. Jika kita masih belum memahami seluk-beluk salat, maka hendaknya kita belajar. Jika belum memahami puasa dan zakat, maka hendaknya kita membaca dan mengikuti kajian.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar sampai kita benar-benar memahami kewajiban tersebut dengan baik.

Ilmu yang Bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah

Ketahuilah bahwa menuntut ilmu merupakan kemuliaan yang sangat besar dan memiliki kedudukan tinggi. Laki-laki dan wanita diwajibkan menuntut ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ilmu adalah qala Allah wa qala Rasuluhu shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukan sekadar informasi yang berseliweran, cerita-cerita yang tidak jelas, ataupun berita di media sosial yang tidak memiliki sandaran dan referensi yang benar.

Seorang muslim hendaknya menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu yang benar. Umur kita terbatas. Bahkan jika seluruh umur kita digunakan untuk belajar, kita tetap tidak akan mampu menguasai seluruh ilmu Allah. Kita masih membutuhkan tidur, istirahat, makan, minum, mandi, dan kebutuhan lainnya.

Namun terkadang membaca buku baru beberapa halaman sudah mengantuk. Sementara ketika membuka telepon genggam, membaca pesan di grup WhatsApp atau berbagai berita, kita bisa bertahan sampai tengah malam. Maka kita perlu mengevaluasi diri dan memprioritaskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.

Dengan ilmu yang dipelajari, seseorang akan mampu mengerjakan amal saleh yang mengantarkannya kepada surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ

"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Dengan ilmu, seseorang mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. Dengan demikian, dia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupannya.

Adapun orang yang tidak memiliki ilmu, bagaimana dia akan mengetahui mana yang halal dan mana yang haram? Bisa jadi sesuatu yang haram justru dia lakukan karena mengira hal tersebut diperbolehkan.

Karena itu, banyak kaum muslimin yang belum memahami hukum-hukum agama. Misalnya, ketika keluar dari masjid ada sebagian wanita muslimah yang tidak menutup aurat. Bisa jadi mereka tidak mengetahui kewajiban tersebut. Bisa jadi suaminya juga tidak mengetahuinya sehingga membiarkannya.

Dengan belajar dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, kita mengetahui kewajiban-kewajiban yang harus kita laksanakan, termasuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Ilmu yang Dibutuhkan Setiap Muslim

Kewajiban menuntut ilmu mencakup seluruh individu muslim dan muslimah. Baik seseorang sebagai orang tua, anak, pedagang, karyawan, dosen, dokter, profesor, maupun profesi lainnya, dia wajib mengetahui ilmu yang berkaitan dengan muamalahnya dengan Allah. Bagaimana tata cara salat? Bagaimana ibadah yang benar? Bagaimana menjaga hati agar tetap ikhlas karena Allah Ta'ala?

Ilmu tentang tauhid, rukun Islam, rukun iman, akhlak, adab, dan muamalah dengan makhluk semuanya telah diatur dalam Islam dengan sangat baik.

Karena itu, hendaknya kita berhati-hati dari perkara yang tidak memiliki dalil. Kita khawatir ketika menyampaikan perkara yang tidak memiliki dalil, kemudian orang lain mengikutinya, maka dosa tersebut terus mengalir kepada orang yang menyampaikannya. Maka penting bagi kita untuk memastikan: apakah sesuatu yang kita pelajari dan kita dakwahkan benar-benar memiliki dalil yang sahih atau tidak?

Majelis Ilmu sebagai Taman-Taman Surga

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, ”Halaqah-halaqah dzikir (ilmu).” (HR. Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562).

Majelis ilmu termasuk di dalamnya. Ketika berada di majelis ilmu, hendaknya kita memperbanyak zikir dengan mendengarkan dan mempelajari ilmu, bukan malah sibuk berbicara atau melakukan hal-hal yang mengganggu jalannya majelis.

Ustaz Yazid rahimahullah termasuk orang yang sangat tegas dalam masalah ini. Beliau sangat memperhatikan ketenangan majelis ilmu. Bahkan beliau pernah mengingatkan agar jamaah yang membawa anak kecil menjaga agar anak tersebut tidak mengganggu jalannya kajian. Tujuannya adalah menghormati majelis ilmu.

Ketika menghadiri majelis ilmu, hendaknya kita fokus, mencatat, menulis, dan mendengarkan. Dengan demikian, kita memuliakan ilmu, memuliakan majelis ilmu, memuliakan orang-orang yang belajar bersama kita, serta menghormati orang yang menyampaikan ilmu. Harapannya, keberkahan ilmu dapat kita peroleh. Semoga hal ini semakin menumbuhkan semangat kita dalam menuntut ilmu.

Majelis Zikir adalah Majelis Ilmu

Atha bin Abi Rabah, seorang tabi'in yang wafat pada tahun 114 Hijriah, menjelaskan bahwa majelis-majelis zikir yang dimaksud adalah majelis-majelis yang membahas halal dan haram. Yaitu majelis yang mengajarkan bagaimana seseorang membeli dan menjual, berpuasa, mengerjakan salat, menikah, bercerai, melaksanakan haji, dan berbagai perkara lainnya.

Islam mengajarkan berbagai perkara secara rinci. Bahkan adab seorang muslim ketika masuk kamar mandi, adab makan dan minum, hubungan suami istri, tidur, dan bercermin pun diajarkan. Jika demikian lengkapnya ajaran Islam, maka hendaknya kita bertanya ketika ada suatu amalan yang dianggap penting tetapi tidak memiliki dasar dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jika suatu amalan merupakan ibadah, tentu harus ada dalilnya. Jika tidak memiliki dasar, hendaknya ditinggalkan.

Bahaya Mengamalkan Bidah

Salah satu bahaya bidah adalah pelakunya dapat terus-menerus mengamalkannya karena menganggapnya sebagai ibadah. Berbeda dengan orang yang melakukan maksiat dan mengetahui bahwa perbuatannya merupakan dosa. Pelaku bidah terkadang justru menganggap apa yang dilakukannya sebagai amal saleh yang mendatangkan pahala.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa pelaku bidah sering kali lebih sulit untuk bertobat, sebab dia tidak merasa bahwa dirinya melakukan kesalahan. Maka kita harus berhati-hati.

Ketika menghadiri suatu acara atau mengikuti suatu amalan, jangan sekadar ikut-ikutan. Kita perlu mengetahui dasar dan dalilnya. Jika ada orang yang mengingatkan, hendaknya kita menerimanya terlebih dahulu. Bisa jadi orang tersebut mengingatkan karena sayang kepada kita agar tidak terjerumus ke dalam perkara yang tidak memiliki dasar. Sangat disayangkan jika umur kita dihabiskan untuk melakukan kebiasaan tertentu yang kita kira merupakan ibadah dan akan mendapatkan pahala, padahal ternyata tidak memiliki dasar dari syariat.

Pentingnya Adab bagi Penuntut Ilmu

Ustaz Yazid rahimahullah kemudian menjelaskan bahwa buku yang ada di hadapan pembaca merupakan buku yang membahas Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu.

Di dalamnya beliau menjelaskan keutamaan mempelajari adab-adab dalam menuntut ilmu serta berbagai adab Islam yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu. Beliau menjelaskan masalah adab karena perkara ini sangat penting.

Banyak penuntut ilmu yang lupa atau tidak memberikan perhatian terhadap masalah adab sehingga menjadi seorang penuntut ilmu yang kaku, kasar, tidak memiliki adab, bahkan bersikap kurang ajar kepada orang tua dan guru atau ustaz yang telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepadanya. Wallahul musta'an.

Ilmu yang banyak tidak akan memberikan manfaat yang sempurna jika tidak disertai adab dan akhlak. Seseorang mungkin memiliki hafalan Al-Qur'an, hafalan hadis, hafalan matan yang banyak, dan belajar kepada banyak ulama. Namun jika dia tidak memiliki adab kepada guru yang dahulu mengajarkan ilmu kepadanya, maka ada masalah besar dalam proses belajarnya.

Buku ini menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki adab dan akhlak para penuntut ilmu serta menjadi peringatan bagi mereka dalam rangka saling menolong dalam kebaikan dan saling menasihati karena Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman tentang ta'awun 'alal birri wat-taqwa, yaitu saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. 

Inilah yang seharusnya menjadi pedoman kita dalam bermuamalah. Hendaknya kita saling membantu dalam kebaikan, ketakwaan, dan amal saleh, bukan sebaliknya. 

Mudah-mudahan amal ini diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjadi timbangan kebaikan bagi penulisnya pada hari kiamat. Semoga dengan menuntut ilmu syar'i dan mengamalkannya, Allah Azza wa Jalla memudahkan jalan kita menuju surga-Nya.

Penutup Mukadimah

Semoga selawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

Buku ini ditulis di Bogor pada hari Selasa, 19 Muharram 1431 Hijriah, bertepatan dengan 5 Januari 2010 Masehi. Penulisnya adalah Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Abu Fathi, rahimahullahu ta'ala.

Inilah mukadimah dari beliau. Mukadimah penting untuk kita baca agar kita memahami tujuan beliau menulis risalah ini. Terkadang kita melewatkan mukadimah begitu saja. Padahal dari mukadimah dan daftar isi, biasanya kita dapat memahami kandungan dan maksud dari sebuah buku secara garis besar.

Mudah-mudahan Allah memudahkan kita untuk melanjutkan pembahasan ini pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami ilmu ini dengan baik dan kemudian mengamalkannya. Kajian ini juga merupakan bagian dari upaya melestarikan keilmuan beliau rahimahullahu ta'ala. Masyaallah, kita melihat betapa luas khazanah keilmuan beliau dan betapa banyak karya-karya yang beliau tinggalkan.

Kita berusaha mengambil sedikit demi sedikit mutiara ilmu beliau. Semoga menjadi kebaikan bagi kita dan juga bagi beliau rahimahullahu ta'ala.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

******