Sesi 1
Pendahuluan Kajian
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat iman, islam dan kesempatan yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Menuntut ilmu adalah nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”
[Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi]
Dan Orang yang dipahamkan agama, itulah yang dikehendaki kebaikan. Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).
Ilmu syar’ie adalah nikmat yang sangat berharga dibanding dengan dunia dan seisinya, lebih daripada harta, jabatan ataupun nikmat dunia lainya, meskipun seorang raja.
Imam Al Hasan Bashri rahimahullah berkata ;
لَأَنْ أَتَعَلَّمَ بَابًا مِنْ الْعِلْمِ فَأُعَلِّمَهُ مُسْلِمًا أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ تَكُونَ لِي الدُّنْيَا كُلُّهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
“Sungguh aku mempelajari satu bab Ilmu lalu aku ajarkan kepada seorang muslim itu lebih aku cintai daripada aku memiliki dunia dan seluruh isinya lalu saya infaqkan di jalan Allah Ta’ala” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab, An Nawawi 1/21)
Maka, hendaklah kita bersyukur agar Allah ﷻ tidak mencabut ilmu dari diri kita. Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)
Ilmu yang paling agung adalah ilmu akidah yang merupakan intisarinya ilmu. Dengannya kita bisa mengenal Allah ﷻ...
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ
Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu (QS. Muhammad ayat 19).
Dengan belajar akidah, kita hanya berharap dan berdo'a kepada Allah ﷻ, takut kepada Allah ﷻ. Ilmu yang benar adalah ilmu yang membimbing seseorang untuk mengenal Allah ﷻ sehingga melahirkan rasa takut (khasyyah) dan ketundukan kepada-Nya.
Maka, jika kita dimudahkan untuk belajar ilmu Tauhid, maka itulah nikmat yang paling besar yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita.
Dalam surat An-Nahl yang disebut juga surat an-Ni’am [سورة النعم] atau surat yang banyak menyebutkan kenikmatan, disebutkan bahwa nikmat tertinggi yang pertama kali Allah ﷻ sebutkan adalah nikmat tauhid.
اَنۡ اَنۡذِرُوۡۤا اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَاتَّقُوۡنِ ٢
"Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku." (QS. An-Nahl ayat 2).
Karena pentingnya tauhid, maka intisari dakwah para nabi adalah mentauhidkan Allah ﷻ. Intisari dakwah para nabi dan rasul secara umum berpusat pada empat pilar utama yang menjadi misi suci mereka dalam membimbing umat manusia. Walau disampaikan dalam waktu dan syariat yang berbeda-beda, esensi ajaran mereka tetaplah sama:
- Mentauhidkan Allah ﷻ.
- Bertaqwa kepada Allah ﷻ: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Taat kepada Rasulullah.
- Mengajak beristighfar, memohon ampun kepada Allah ﷻ.
Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu memaparkan,
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar Al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat.” (HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy)
Inilah belajar pondasi agar keimanan kita menjadi kuat, dengan kuatnya iman, maka kuatlah bangunan di atasnya. Dengan nama lain iman, yaitu tauhid, akidah, sunnah dan lainya.
Lebih-lebih pada saat ini banyak sekali penyimpangan dan kesesatan, maka jika kita tidak menguatkan akidah kita, maka kita bisa tergelincir.
Al-Imam Al-Ajurri rahimahullāh berkata: "Barang siapa yang tidak memiliki ilmu Syar'ie yang menyertainya ketika fitnah-fitnah datang, maka ia akan binasa."
(Jāmi' Kutub al-Ajurri 1/379)
*****
Kitab Aqidah Ar-Raziyain
Keistimewaan Kitab
- Kitab ini dikarang oleh dua orang ulama yang terkenal: Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi dan Abu Zur’ah Ar Razi
- Kitab ini Ringkas: Ucapan para salaf sedikit tetapi banyak berkahnya, berbeda dengan para Khalaf, banyak tulisan tetapi sedikit berkahnya.
- Bahasanya yang mudah dicerna.
- Meskipun singkat tetapi, merupakan nukilan ijmak para ulama.
Ulama tidak mungkin bersepakat dalam kebatilan. Dalam hadits disebutkan,
إِنَّ أُمَّتِى لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ
“Sesungguhnya umatku tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan.” (HR. Ibnu Majah no. 3950. Sanad hadits ini dha’if jiddan)
al-Maimuni rahimahullah berkata: Ahmad bin Hanbal pernah berpesan kepadaku,
"Hati-hatilah kamu dalam berbicara tentang suatu masalah yang kamu tidak memiliki imam (pendahulu yang alim) di dalamnya." (lihat Manaqib al-Imam Ahmad oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, hal. 245).
*****
Muqoddimah
قَالَ: أَبُو مُحَمَّدٍ، عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ ,
* سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي «أُصُولِ الدِّينِ», وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ, وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ؛
Abu Muhammad Abdurrohman (w. 327 H) putra Abu Hatim ArRozi (w. 277 H) berkata: aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ArRozi (w. 264 H) tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam pokok-pokok agama yang diyakini para ulama yang di jumpainya di seluruh negeri Islam dan dijadikan sebagai keya kinan agama. Lalu keduanya menjawab:
« أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ: حِجَازًا، وَعِرَاقًا، وَشَامًا، وَيَمَنًا؛ فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:
Kami menjumpai para ulama di seluruh negeri Islam, baik di Hijaz 1, Iroq, Syam 2, dan Yaman, bahwa keyakinan mereka adalah:
- Yaitu Makkah dan Madinah serta sekitarnya, dulu disebut Hijaz.
- Sekarang ia terbagi menjadi 4 negara yaitu Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania.
💡 Faedah:
1. Ilmu diambil dari ulama bukan otodidak. Inilah hukum asal menuntut ilmu.
Melakukan Rihlah adalah kebiasan para salaf. Pada abad ke-4 Hijriah, seorang ulama besar bernama Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah bahkan menulis sebuah kitab khusus yang mengumpulkan kisah-kisah perjuangan para ulama terdahulu dalam merantau mencari ilmu, yang berjudul Ar-Rihlatu fi Tholabil Hadits.
2. Dianjurkan belajar ke banyak ulama, sebagaimana dua ulama di atas.
Sebagaimana juga Imam Bukhari yang memiliki guru lebih dari 1000. Faedahnya agar kita tidak taashub kepada satu guru.
Kalau kamu ingin tahu kesalahan uzstadzmu, Maka belajarlah ke Ustadz lain.
3. Isi kitab ini adalah ijmak para ulama.
4. Anjuran untuk bertanya.
Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan bertanya. Obat kebodohan adalah dengan bertanya.
Ibn al-Qayyim berkata, “Nabi menyebut kebodohan sebagai penyakit, dan obatnya adalah dengan bertanya kepada para ulama.” (al-Jawāb al-Kāfī 1/8).
*****
1. Definisi Iman
الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ
Iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.
💡 Syarah #1:
Kunci kebahagiaan seorang hamba adalah iman. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat al-ashr:
وَالۡعَصۡرِۙ ١
Demi masa.
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ ٢
Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٣
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Definisi Iman:
1. Imam secara bahasa adalah Al-ikrar Al-Qalbi (penetapan hati):
- Keyakinan hati dengan membenarkan berita-berita dari Allah ﷻ. Seperti membenarkan Isi Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Amalan-amalan hati dengan tunduk terhadap perintah dan laranganNya.
2. Iman secara Istilah: Iman adalah Ucapan dan perbuatan.
Ucapan dan perbuatan, jika dirinci akan mencakup lima hal:
Ucapan mencakup dua hal:
1. Ucapan Hati: yaitu membenarkan tanpa keraguan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 15:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَٰهَدُوا بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُولَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
2. Ucapan Lisan: yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahqaf Ayat 13:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Amalan mencakup tiga hal:
1. Amalan Hati: seperti ikhlas, tawakal, roja', khauf dan lainnya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 2:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
2. Amalan lisan: seperti membaca Al-Qur'an, berdo'a dan berdzikir.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 41-42:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱذْكُرُوا ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
3. Amalan Anggota Badan: seperti shalat, umrah, haji dan puasa. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 77:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱرْكَعُوا وَٱسْجُدُوا وَٱعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَٱفْعَلُوا ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
Iman Bertambah dan Berkurang
Hal ini merupakan ijma' Para ulama dan semua dalil yang menunjukkan pertambahan bermakna juga pengurangan, karena jika bisa bertambah berarti bisa berkurang.
1. Dalil-dalil dari Al-Qur'an
Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya:
فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
“Karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka.” (QS. Ali Imran: 173)
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal ayat 2)
2. Dalil-dalil dari As-Sunnah
Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).
Karena iman itu naik dan turun, maka hendaknya kita memperhatikan iman agar selalu naik. Sesungguhnya iman bisa luntur sebagaimana baju. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُم كَمَا يَخْلَقُ الثَّوبَ الْخَلِق فَاسْأَلوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيَمَانَ فِي قُلُوبِكُم
Sesungguhnya keimanan di rongga tubuh (hati) kalian benar-benar akan menjadi usang, sebagaimana usangnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui keimanan dalam hati kalian (H.R al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih al-Jami’)
Faktor-faktor penambah iman:
Faktor-faktor penurun iman:
*****
2. Al-Qur’an Kalamullah
وَالقُرْآنُ كَلَامُ اللّهِ غَيْرِ مخْلُوقٍ بِجَمِيعِ جِهَاتِهِ.
Al-Qur’an adalah Kalamulloh, bukan makhluk dari segala sisi.
💡 Syarah #2:
Pembahasan masalah Al-Qur’an adalah kalamullah adalah pembahasan yang sangat penting karena sebab-sebab berikut:
1. Pembahasan mengenai bab aqidah adalah cabang dari rukun iman, termasuk mengenai Al-Qur’an adalah kalamullah, adalah cabang dari rukun iman, karena diantara rukun iman adalah beriman kepada Kitab-kitab Allah ﷻ. Dan salah satu kitab Allah ﷻ adalah Al-Qur’an.
2. Masalah Al-Qur’an adalah makhluk merupakan sebab terjadinya fitnah yang cukup besar yang menimpa kaum muslimin termasuk imam Ahmad rahimahullah sendiri hingga dipenjara, dan beliau bersabar pada pendapatnya bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Bahkan ada ulama yang terbunuh di penjara karena mempertahankan pendapat ini, seperti al-Buwaiti murid Imam Syafi'i Rahimahumullah.
3. Sumber aqidah dalam agama adalah Al-Qur’an, maka, jika kita tidak memahaminya aqidah tentang Al Quran, lantas dengan apa lagi kita beragama?
Pembahasan mengenai masalah ini ada dua poin penting:
1. Sifat Kalam bagi Allah ﷻ.
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkaitan dengan sifat Sifat Kalam bagi Allah ﷻ terkumpul dalam empat poin:
1. Bahwasanya Allah ﷻmemiliki sifat Kalam (berbicara).
Seperti berbicara-Nya kepada malaikat-malaikat, Nabi Adam, Nabi ﷺ dan lainnya.
Dalil dari Al-Qur'an. Allah ﷻ berfirman :
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Dan Allāh ﷻ berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya. (QS An-Nisa Ayat 64).
Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat kalam, dan Allāh ﷻ berbicara kepada Musa dengan sebenar-benar pembicaraan, تَكْلِيمًا disini adalah Maf'ul Mutlaq untuk menguatkan, bermakna taukid artinya betul-betul berbicara dengan nabi Musa alaihissalam. Karenanya, makanya nabi Musa alaihissalam bergelar Kalimullah (Nabi yang diajak bicara Allah ﷻ).
Dalam ayat ini fa'il (Pelaku) adalah Allah ﷻ, dan Musa adalah Maf'ul bih, maka Allah ﷻ berbicara kepada Musa, adapun kelompok Jahmiyah yang tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah ﷻ kepanasan dengan ayat ini.
2. Allah ﷻ berbicara dengan huruf
Ada huruf-huruf yang dipahami. Dalilnya adalah hadits Nabi ﷺ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, لاَأَقُوْلُ ألم حَرْفٌ وَلكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.
3. Allah ﷻ berbicara dengan suara yang didengar lawan bicaranya.
Diantara dalilnya adalah hadits dari Abu Sa’iid Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يقول الله عز و جل يوم القيامة: يا آدم يقول: لبيك ربنا وسعديك فينادى بصوت إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثا إلى النار
“Allah ‘Azza wa Jalla berkata di hari kiamat, ‘Wahai Adam!’ Adam menjawab, ‘Iya wahai Rabb kami.’ Maka Allah memanggil dengan suara, ‘Sesungguhnya Allah akan memasukkan dari keturunanmu ba’tsan ke dalam neraka…‘” (HR. Al-Bukhary)
4. Firman Allah ﷻ tidak sama dengan ucapan Makhluk
Dan ini berlaku juga bagi sifat-sifat Allah ﷻ yang lainnya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asyura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura: 11)
2. Tentang Al-Qur’an.
1. Definisi Al-Qur’an
Menurut Ahlussunnah, Al-Qur'an adalah:
هو كلام الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم المبدوء بسورة الفاتحة والمختوم بسورة الناس
“Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wasallam- yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.”
2. Akidah Ahlussunnah terkait tentang Al-Qur’an:
1. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an termasuk Firman Allah ﷻ
Dalilnya diantaranya dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 6:
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah ﷻ.
Dalil dari Hadits Nabi ﷺ, dari Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada orang-orang pada beberapa tempat seraya berkata,
ألَا رجُلٌ يحمِلُني إلى قومِهِ فإنَّ قُرَيشًا قد منَعوني أن أُبلِّغَ كلامَ رَبِّي.
‘Adakah seseorang yang membawa aku kepada kaumnya karena orang-orang Quraisy menghalangi aku untuk menyampaikan ucapan Rabbku.’” (HR. Abu Daud, no. 4734; Tirmidzi, no. 24, 2925. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
2. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an bukan Makhluk
Ini untuk membantah kelompok-kelompok yang menyimpang dari kalangan Jahmiyyah dan Mu'tazilah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A'raf ayat 54:
أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.
Dalam ayat ini, Al-Qur’an masuk pada kata ٱلْأَمْرُ bukan ٱلْخَلْقُ, seperti kata أَمْرُهُۥٓ dalam surat Yasin ayat 82:
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka jadilah ia.
Demikian juga seperti dalam do'a Nabi ﷺ :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan ciptaan-Nya."(HR. Muslim no. 2709 dan Ahmad no. 2/290)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:
من قال القرآن مخلوق فهو كافر
“Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka ia kafir” (Al-Ibanah Al-Kubra, 6/51-52).
Bahkan Imam Al-Lalikai Rahimahullah, menulis bahwa ada sekitar 500 ulama yang menulis bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, dan mereka berpendapat bahwa siapa yang mengingkarinya adalah kafir.
3. Dampak Negatif Paham Al-Qur’an adalah Makhluk
1. Meniadakan sifat kalam bagi Allah ﷻ
Padahal Allah ﷻ telah menetapkan di dalam Al-Qur’an, dan ada dalam hadits-hadits dan pendapat para ulama. Maka, jika kita mengingkarinya sama halnya dengan mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Penodaan terhadap sifat rububiyah Allah ﷻ
Karena jika tidak ada sifat bagi Allah ﷻ, maka itu aib. Bahkan makhluk pun jika bisu maka itu aib. Maha Suci Allah ﷻ dari segala kekurangan, karena tidak mungkin Allah ﷻ bisu, tuli dan sifat aib lainnya.
3. Tidak Mengagungkan Al-Qur’an
Mereka tidak memiliki adab terhadap Al-Qur'an, hingga mengatakan Al-Qur'an bisa direvisi, diinjak dan lainnya. Karena dia makhluk seperti lainya. Na'udzubillahmindalik.
4. Al-Qur'an tidak Dapat Dipakai Sebagai Hujjah
Inilah yang diinginkan oleh kelompok zindiq, liberal, dan lainya. Sama dengan ucapan kafir Quraisy dahulu yang, menuduh Al-Qur’an hanya perkataan manusia biasa.
5. Membacanya bukan Ibadah
Karena ini konsekuensi dari menganggap Al-Qur’an adalah makhluk. Maka, jika demikian Al-Qur’an bisa mati, dan kalau mati, maka kita tidak bisa membacanya. Jika mati bulan Sya’ban maka Ramadhan membaca apa?
6. Menuduh ulama salaf di atas kebatilan.
Karena para ulama salaf berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat An-Nisa Ayat 115:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dibaca, didengar, ditulis, atau dihafal tetap sebagai Firman Allah ﷻ
Maka ketika Al-Qur’an dibaca, didengar, ditulis, dihafal tetap Firman Allah ﷻ dan tidak berubah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-‘Ankabut Ayat 49:
بَلْ هُوَ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ ۚ
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.
Demikian juga dalam hadits keutamaan membaca Al-Qur’an, tetap sebagai kalamullah meskipun ia dibaca,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan".
*****
3. Takdir
َالْقَدَرُ خَيْرُهُ وَشَرُّهُ مِنَ اللهِ.
Takdir yang baik maupun buruk semuanya dari Alloh
💡 Syarah #3:
Urgensi Pembahasan Takdir
Mempelajari iman kepada takdir adalah hal yang sangat penting karena:
- Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman.
- Banyak ayat-ayat Al-Qur'an, hadits-hadits dan ucapan salaf tentang masalah ini.
- Adanya penyimpangan dan kesesatan dalam memahami takdir. Seperti qodariyah yang tidak percaya takdir atau Jabariyah yang berpendapat makhluk tidak punya kehendak (seperti ungkapan manusia seperti wayang, tergantung dalangnya).
Definisi Takdir
Takdir adalah Ilmu Allah ﷻ tentang semua kejadian sebelum terjadinya dan Allah ﷻ menulisnya dalam al-Lauhul Mahfudz, serta menghendaki dan menciptakannya.
Dalil-dalil Wajibnya Beriman kepada Takdir
Diantara dalil-dalil yang menyatakan wajibnya beriman kepada Qadha dan Qadar adalah :
1. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-qadar (takdir) [al-Qamar/54:49]
2. Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril, yang artinya, “(Iman itu adalah) kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim (no. 8).
3. Ijmak ulama, seperti dinukil oleh Umam An-Nawawi rahimahullah dalam Shahih Muslim 1/155 dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari 11/287. Begitu juga, Ulama-ulama lain yang selalu memasukkan masalah takdir dalam kitab-kitab mereka.
Dalam sebuah riwayat Sahih Muslim, Abdullah bin Umar bersumpah bahwa seandainya seseorang memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu menginfakkannya, Allah tidak akan menerima infak tersebut sampai ia beriman kepada takdir (qadar), baik takdir yang baik maupun yang buruk.
Disebutkan oleh Yahya bin Abdullah Salam bahwa tidak ada di bangsa Arab kecuali mereka menetapkan adanya takdir baik yang baik maupun yang buruk, yang Jahiliyah maupun Islam. Maka, beriman kepada takdir adalah fitrah, hingga kaum Jahiliyyah pun percaya. (Syarah Ushul Itiqad Ahli Sunnah wal Jama'ah 3/538).
Tingkatan Iman kepada Takdir
Tidak dikatakan beriman kepada takdir hingga tidak mengimani empat hal:
1. Al-‘Ilm (Ilmu).
Yaitu, Kita meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global dan terperinci, sebelum terjadi, ketika terjadi dan sesudah terjadi.
Firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]
2. Al-Kitaabah (Penulisan).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam Shahiihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
‘Allah mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” [HR. Muslim, (VIII/51) ]
3. Al-Masyii-ah (kehendak).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Allah.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak manusia dibawah kehendak Allah ﷻ. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir/81 : 29]
4. Al-Khalq (Penciptaan)
Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar/39 : 62]
Dan firman-Nya:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… .” [Faathir/35 : 3]
Buah Manis Beriman Kepada Takdir
Manfaat kepada takdir sangat banyak, diantaranya:
- Menunaikan ibadah kepada Allah ﷻ.
- Menumbuhkan keberanian dan tawakkal kepada Allah ﷻ. Sehingga tidak akan mempercayai hal-hal yang bersifat khurafat seperti tihyarah (merasa sial karena hewan, angka atau bulan).
- Seorang akan khawatir suul khotimah. Karena tidak ada seorang pun tahu akhir hidup kita.
- Syukur tatkala mendapatkan nikmat dan sabar tatkala mendapatkan musibah.
- Dia akan mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagian.
Kaidah-kaidah Masalah Takdir
- Pembahasan masalah takdir tidak boleh keluar dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Iman kepada takdir tidak menafikan masyiah seorang hamba. Artinya hamba tetap memiliki kehendak, memiliki pilihan yang diberikan Allah ﷻ.
- Iman terhadap takdir tidak menafikan hamba untuk berusaha. Tetap, manusia harus melakukan sebab.
Seorang yang beriman diperintahkan mengambil sebab mendapatkan kebahagiaan di akhirat dan mengambil sebab keselamatan dari adzab.
*****
Sesi ke-2
4. Sahabat
وَخَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْتَانُ بْنُ عَفَّانَ، ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضَمَلََّ عَنْشُو، وَقَالَ: وَهُمُ الخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ المَهْدِيُّونَ.
Orang terbaik dari umat Islam setelah Nabinya ﷺ adalah Abu Bakar AshShiddiq, lalu Umar bin AlKhoththob, lalu Utsman bin ‘Affan, lalu ‘Ali bin Abi Tholib —semoga keselamatan atas mereka semua—. Mereka adalah Khulafa Rosyidin Mahdiyyin.
وَأَنَّ العَشْرَةَ الَّذِينَ سَمَّهُمْ رَسُولُ اللّهِ وَشَهِدَ لَُمْ بِالجُنَّةِ عَلَى مَا شَهِدَ لَهُمْ بِهِ رَسُولُ اللهِ، يَعْنِي: فِي الفَضْل، وَقَوْلُهُ الْحَقُّ.
Bersaksi atas 10 orang yang disebut Rosululloh ﷺ dan diper saksikan sebagai penghuni Surga, seperti yang dipersaksikan sendiri oleh Rosululloh ﷺ. Sabda beliau adalah benar.3
3. Rosululloh ﷺ bersabda: “Abu Bakar di Surga, Umar di Surga, Utsman di Surga, Ali bin Surga, Tholhah di Surga, Az-Zubair di Surga, Abdurrohman bin Auf di Surga, Sa’ad di Surga, Sa’id di Surga, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarroh di Surga.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 3747) Kami meyakini mereka penghuni Surga.
وَالتَّرَخُمُ عَلَى أَصْحَابٍ مُحَمَّدِ ، وَالكَفُّ عَمَّ شَجَرَ بَيْنَهُم.
Wajib mendoakan rohmat kepada seluruh Sahabat Muhammad ﷺ serta menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di tengah mereka4
4. Karena kabar tentang perselisihan mereka tidak lepas dari beberapa hal berikut ini: (1) kebanyakan ceritanya palsu; (2) jika memang benar, sudah ditambahi atau di kurangi oleh para pendusta; Disamping itu, dosa para Sahabat sudah Alloh ampuni lewat taubatnya mereka, doa dalam ayat di atas, atau lewat amal sholih mereka, atau lewat beratnya musibah yang menimpa mereka. Apalagi setiap mereka adalah mujtahid yang jika salah mendapatkan satu pahala, dan jika benar mendapatkan dua pahala. Maka Ahlus Sunnah diam (tidak mengkritik) atas perselisihan yang terjadi di antara Ali dan Muawiyah d, dan yang semisalnya.
💡 Syarah #4:
Mempelajari aqidah tentang para sahabat Nabi ﷺ sangat penting dilakukan dilandasi dengan beberapa alasan:
- Akidah tentang para sahabat banyak disebut dalam Al-Qur’an, Sunnah dan kitab-kitab para ulama.
- Untuk membentengi diri kita dari penyimpangan-penyimpangan yang sesat dalam masalah ini, seperti penyimpangan aqidah Syiah Rafidhah yang mencela, mengkafirkan dan melaknat para sahabat. Dan aqidah mereka merajalela menyerang Kaum Muslimin, maka selayaknya kita membentengi diri kita dan kaum Muslimin.
- Meneladani dan mengikuti jejak para sahabat.
Dengan meneladani mereka, kita berharap ikut masuk ke dalam surga seperti mereka. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100]
Definisi sahabat:
Definisi sahabat terbaik adalah defenisi yang disampaikan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Ishaabah fii Tamyiz As-Shahaabah, yaitu: “Sahabat adalah siapapun yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mukmin (beriman kepadanya) walaupun pernah murtad dan meninggal dalam keadaan Islam".
Sehingga tercakup dalam definisi ini orang yang berjumpa dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bermulazamah (dalam waktu) lama atau sebentar. Maka raja Najasi karena tidak bertemu Nabiﷺ meskipun sezaman, bukan sahabat tetapi diistilahkan Mukhadram (masuk dalam Tabi'in).
Maka, Abu lahab dan Abu Jahal bukanlah sahabat karena mati dalam kekafiran, demikian juga Abdullah bin khatal juga bukan sahabat Nabi ﷺ, meskipun bertemu Nabi ﷺ, karena murtad maka dihukumi bukan sahabat.
Dan seorang sahabat bernama Asy'ats bin Qais pernah murtad sepeninggal Nabi ﷺ, namun setelah diperangi Abu Bakar Radhiyallahu’anhu Beliau masuk Islam lagi, maka disebut sebagai sahabat.
Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terkait Para Sahabat
1. Mencintai Mereka
Karena mencintai mereka adalah tanda keimanan. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”. (HR. Al-Bukhari)
Imam Malik bin Anas Rahimahullah berkata,
” كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر وعمر كما يعلمونهم السورة من القرآن “.
"Dulu para Salaf mengajarkan kepada anak-anak mereka kecintaan kepada Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana mengajarkan kepada mereka satu surat dari al-Qur’an.”
(Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah – al-Laalikaai, no. 2325)
2. Meyakini Keutamaan dan Keadilan Mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100]
Mereka adalah calon-calon penghuni surga yang selalu dipuji Nabi ﷺ sebagai manusia terbaik.
3. Meyakini bahwa Para Sahabat Bertingkat Levelnya
Jangankan para sahabat, bahkan nabi pun bertingkat, maka ada istilah ulul azmi.
Maka, para sahabat pun keutamaannya bertingkat tanpa merendahkan Keutamaan sahabat yang lain. Seperti keutamaan Abu Bakar dan Umar tentu lebih utama dari sahabat lainnya.
Maka, setelah para nabi, manusia terbaik adalah Abu Bakar dan Umar, serta ashabus syura, yaitu enam sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab untuk bermusyawarah dalam memilih khalifah selanjutnya, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
Dan mereka adalah bagian para sahabat yang dijamin masuk surga yang merupakan sahabat terbaik: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka disebutkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sebagai jaminan yang diberikan Allah ﷻ.
Tingkatan di bawahnya adalah para sahabat Ahli Badar, dimana Allah ﷻ telah mengampuni mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا
Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka [Al-Fath, 9/46].
Kemudian di bawahnya adalah para sahabat Ahli Uhud, kemudian para sahabat yang ikut Baitur Ridwan. Dan Muhajirin lebih baik dari pada Anshar.
4. Mendo'akan Mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr Ayat 10:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Maka, kita menyebut mereka dengan do'a Radhiyallahu’anhu, Radhiyallahu’anhuma, Radhiyallahu’anhum atau Radhiyallahu’anha. Sesuai yang Allah ﷻ sebut dalam surat At-Taubah ayat 100. Dan tidak perlu menyebut dengan sebutan yang tidak berdalil, seperti menyebut Ali Karomallahuwajhah karena ini merupakan kebiasaan Syi'ah Rafidhah.
5. Tidak Mencela Mereka
Bahkan mencela binatang atau manusia biasa pun kita dilarang, apalagi mencela sahabat Nabi ﷺ yang merupakan manusia terbaik.
Diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
“Barangsiapa yang mencela para Sahabatku, maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan semua manusia.” (Al-Mu’jamul Kabiir (XII/110-111, no. 12709).
Karena konsekuensi mencela sahabat adalah mencela Allah ﷻ dan Rasul-Nya, mencela sahabat Itu sendiri dan mencela syariat Islam.
6. Tidak Membicarakan Pertikaian diantara para Sahabat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِيْ فَأَمْسِكُوْا
“Apabila (perselisihan) sahabatku disebutkan, maka tahanlah (lisan-lisan kalian)…. (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (2/96, 10/198) dan lain-lain, dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dan Tsauban Radhiyallahu ‘anhu)
Sebagian ulama berkata, Ini sebuah fitnah yang telah Allah sucikan pedang-pedang kita darinya. Maka, hendaknya kita pun mengharap agar Allah mensucikan lisan-lisan kita darinya.
Apalagi banyak kisah-kisah yang sudah diselewengkan ahli sejarah. Dan merupakan tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Mereka adalah manusia biasa yang tidak maksum, tetapi kebaikan mereka begitu banyak, bagaikan air laut yang tetap suci walau ada barang najis yang mencampurinya.
*******
5. Alloh Tinggi di Atas Arsy
وَأَنَّ اللّهَ مُسْتَوِ عَلَى عَرْشِهِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ في كِتَابِهِ وَعَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ َ بلا كيفٍ, أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمً». قال تعالى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيءٌ، وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ﴾.
Meyakini bahwa Alloh ﷻ di atas Arsy, terpisah dari makhluk Nya, sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri dalam KitabNya dan lewat lisan RosulNya ﷺ, tanpa memikirkan hakikatnya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.5 “Tidak ada yang serupa dengan Alloh dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. AsySyuro: 11)6
5. Yakni Dzat Alloh di atas Arsy sementara ilmu-Nya di mana-mana menjangkau selu ruh makhluk-Nya.
6. Yakni Ahlus Sunnah menetapkan ketinggian Alloh, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, Dia tinggi sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
💡 Syarah #5:
Dengan mengimani khabar-khabar dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka kita tidak akan tersesat selamanya.
Sifat uluw ada 2 macam:
1. Ketinggian sifat, diyakini oleh semua kelompok.
2. Ketinggian Dzat, disepakati ulama Ahlussunnah tetapi diingkari oleh ahli bid'ah.
Mereka mendustakan baik secara sanad (seperti hadits dusta atau lemah) dan mendustakan secara makna (mereka merubahnya (tahrif).
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan, “Di dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya dan di atas seluruh hamba-Nya.” Selain mereka pun mengatakan bahwa ada 3000 dalil yang menunjukkan hal ini. (Bayanu Talbisil Jahmiyah, 1/555)
Dalil yang menanyakan ‘aynallah’ (di mana Allah?).
Hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim, “Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,
أَيْنَ اللَّهُ
“Di mana Allah?”
Dia menjawab,
فِى السَّمَاءِ
“Di atas langit.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,
مَنْ أَنَا
“Siapa saya?”
Budakku menjawab,
أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ
“Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”
(HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho’ [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalika’iy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw [81])
Faedah hadits:
1. Bolehnya bertanya dimana Allah ﷻ
2. Jawaban yang benar adalah Allah ﷻ di langit.
Ketika Imam Malik ditanya oleh seseorang mengenai bagaimana Allah istiwa' (bersemayam), beliau menjawab dengan prinsip yang menjadi landasan Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk seluruh sifat Allah:
- Al-Istiwa' Ma'lum (Maknanya diketahui): Arti istiwa' dalam bahasa Arab jelas dan diketahui, yaitu tinggi dan di atas ('ala, wartafa'a).
- Al-Kaif Majhul (Bagaimananya tidak diketahui): Bentuk rupa, tata cara, atau hakikat bagaimana Allah melakukannya tidak dapat dibayangkan atau tidak diketahui akal manusia karena Allah tidak memberitahukannya.
- Al-Iman Bihi Wajib (Beriman denganya adalah wajib): Wajib meyakini dan mengimani bahwa Allah benar-benar bersemayam di atas Arsy sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa menyerupai makhluk.
- As-Su'al 'Anhu Bid'ah (Bertanya tentang caranya adalah bid'ah): Mencari-cari tahu atau mempertanyakan "bagaimana" (kaifiat) bentuk dan tata cara sifat Allah adalah hal yang diada-adakan dan menyimpang (bid'ah).
3. Seluruh ulama sepakat bahwa Allah ﷻ di atas Arsy.
Para ulama telah sepakat bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Allah berada di ketinggian di atas langit sana, bukan berada di muka bumi. Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bukan di mana-mana.
4. Dikuatkan dalil Aql.
Sifat mulia adalah tinggi, bukan rendah, jika mengatakan Allah ada dimana-mana, maka menuduh Allah ditempat kotor, got, toilet dan lainya. Na'udzubillahmindalik.
5. Sesuai dengan fitrah: Seperti perkataan, doanya tembus ke langit, kita serahkan ke yang di atas, juga berdo'a menghadap ke atas.
******
6. Melihat Alloh
وَأَنَّهُ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - يُرَى فِي الْآخِرَةِ، يَرَاهُ أَهْلُ الجَنَّةِ بِأَبْصَارِهِمْ، وَيَسْمَعُونَ كَلَامَهُ كَيْفَ شَاءَ، وَكَمَا شَاء.
Meyakini bahwa Alloh akan dilihat di Akhirat oleh penduduk Surga dengan mata telanjang dan mereka mendengar ucapan Nya, bagaimana caranya dan seperti apa hakikatNya sesuai yang Alloh kehendaki.
💡 Syarah #6:
Pentingnya mempelajari Aqidah Melihat Allahﷻ di Akhirat
Pembahasan mengenai hal ini adalah pembahasan yang sangat penting dengan beberapa alasan :
1. Pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang mutawatir serta ijma' ulama.
2. Para ulama mencantumkan masalah ini dalam kitab-kitab aqidah dan sebagian ulama menulisnya dalam kitab khusus, seperti Imam Ad-Daaruquthni rahimahullah dalam kitabnya Kitabur Ru'yah, demikian juga Al-Imam Al-Ajurri (Imam Madzhab Syafi’i) yang menulis At-Tashdiiqu bin Nadzar.
3. Karena melihat Allah ﷻ adalah kenikmatan di surga yang paling tinggi. Hal ini memotivasi orang-orang yang beriman untuk semangat beramal shalih tuk menggapainya.
4. Adanya paham yang menyimpang dan sesat, seperti kelompok sufi yang para tokoh mereka mengaku melihat Allah ﷻ di dunia dan di akhirat (berlebihan), juga Jahmiyah dan Mu'tazilah, yang mengingkari orang-orang yang beriman melihat Allah ﷻ di Akhirat (tidak beriman).
Dalil-dalil Tentang Melihat Allahﷻ
1. Melihat Allah ﷻ di Akhirat.
Orang-orang yang beriman melihat Allah ﷻ di Akhirat. Ini disepakati oleh ulama.
Allah ta’ala berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Imam Syafi'i Rahimahumullah menafsirkan dengan makna terbalik (mafhum mukhalafah) mengatakan bahwa ayat ini bisa dijadikan dalil bahwa orang-orang Mukmin tidak akan terhalangi dari memandang Allah di akhirat, sebagaimana firman-Nya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya. (al-Qiyamah/75: 22-23).
Allah ta’ala berfirman:
كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (QS. Al-Muthaffifin: 15).
Demikian juga hadits-hadits tentang melihat Allah ﷻ di Surga dijelaskan dengan hadits mutawatir (memiliki banyak sekali jalur), seperti yang disampaikan dalam kitab Hadil Arwah ila Biladil Afrah oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang ini diriwayatkan dari 30 sahabat.
Contoh hadits-hadits mutawatir antara lain hadits tentang larangan berdusta atas nama Rasulullah, tentang melihat Allah ﷻ di Akhirat, syafaat, telaga, mengusap khuf (sepatu) dan lainnya.
2. Melihat Allaﷻ di dunia
Ulama sepakat, semua manusia tidak bisa melihat dengan pandangan mata. Demikian dibuktikan dengan ayat yang mengisahkan nabi Musa. Karena nikmat melihat Allah ﷻ adalah nikmat tertinggi dan hanya ada di tempat yang suci dan bersih, sementara dunia adalah tempat maksiat. Demikian juga manusia tidak akan mampu melihatnya sama seperti Musa.
3. Masalah Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ saat Isra Mi'raj.
Ini diperselisihkan para ulama menjadi dua pendapat:
1. Jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah ﷻ. Dalilnya:
Dalam hadis dari Abu Dzar, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah Nabi melihat Allah ketika isra mi’raj? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نور أنى أراه
“Ada cahaya, bagaimana aku melihat-Nya.”
Dalam riwayat lain, “Aku melihat cahaya.” (HR. Muslim 178, Turmudzi 3282, Ahmad 21392, dan yang lainnya).
2. Berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ, inilah yang disampaikan Imam Ahmad rahimahullah. Juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Jumhur ulama, yang menyatakan Nabi ﷺ tidak melihat RabbNya.
Adapun pendapat kedua, dimaknai bahwa Nabi ﷺ melihat RabbNya dengan hatinya seolah-olah melihat karena begitu dekatnya seperti halnya pada pengertian Ihsan.
Kiat-kiat Agar Dapat Melihat Allah ﷻ
1. Beriman, karena hanya orang-orang yang beriman yang mampu melihat Allah ﷻ.
2. Ihsan. Sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Yunus Ayat 26:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26).
Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ.
Bagi orang-orang yang beriman (orang-orang yang ihsan) yaitu orang-orang yang Ihsan di dunia:
- Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa dan beramal shaleh.
- Kemudian dia berbuat Ihsan kepada manusia.
3. Menjaga shalat Subuh dan Shalat Ashar
Dari sahabat Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada suatu malam, kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda,
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” (Yang beliau maksud adalah shalat subuh dan shalat ashar, pent.)
Kemudian Jarir membaca ayat,
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“(Dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya).” (QS. Qaaf: 39). (HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633)
5. Berdo'a Memohon agar Bisa melihat Wajah Allah
Karena do'a adalah kunci kebaikan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ
ᴀʟʟᴀᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪɪ ᴀꜱ-ᴀʟᴜᴋᴀ ʟᴀᴅᴢᴅᴢᴀᴛᴀɴ ɴᴀᴅᴢᴏʀɪ ɪʟᴀᴀ ᴡᴀᴊʜɪᴋᴀ ᴡᴀꜱʏ ꜱʏᴀᴜQᴏ ɪʟᴀᴀ ʟɪQᴏᴏɪᴋᴀ ꜰɪɪ ɢʜᴏɪʀɪ ᴅʜᴏʀʀᴏᴏ-ᴀ ᴍᴜᴅʜɪʀʀᴏᴛɪɴ ᴡᴀ ʟᴀᴀ ꜰɪᴛɴᴀᴛɪɴ ᴍᴜᴅʜɪʟʟᴀᴛɪɴ
“Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.” - HR. An-Nasa’i.
*****
7. Keabadian Surga dan Neraka
وَالجَنَّةُ حَقّ وَالنَّارُ حَقّ وَهُمَا مخْلُوقَانٍ لَا يَفْنَيَانِ أَبَدًا، وَالجنَّةُ ثَوَابُ لِأَوْلِيَائِهِ، وَالنَّارُ عِقَابٌ لِأَهْلِ مَعْصِيَتِهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ
Meyakini bahwa Surga benar adanya dan Neraka benar adanya, dan keduanya adalah makhluk yang tidak akan sirna selamanya. Surga adalah balasan bagi kekasih-kekasih-Nya dan Neraka adalah hukuman bagi ahli maksiat kepada-Nya, kecuali siapa yang Alloh rohmati.
💡 Syarah #7:
Pembahasan masalah ini dimasukan para ulama ke dalam kitab-kitab Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dilandasi atas tiga sebab:
1. Meyakini bahwa surga dan neraka adalah benar adanya.
2. Meyakini bahwa surga dan neraka sudah tercipta sekarang.
3. Meyakini bahwa surga dan neraka adalah kekal, tidak fana.
Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.
Abdullah Bin Rawahah dan istrinya menangis maka ia bertanya kepada istrinya, 'Mengapa engkau menangis?' Istrinya menjawab, 'saya menangis karena saya melihat engkau menangis.'
Abdullah Bin Rawahah berkata, 'saya sudah tahu bahwa saya akan melintasi neraka tetapi saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak. karena turun satu ayat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dari Allah, yang memberitahukan bahwa saya akan melintasi neraka tetapi tidak ada berita, apakah saya selamat atau tidak.'
Ayat yang dimaksud Abdullah Bin Rawahah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Dan tidak ada seorangpun dari padamu melainkan mendatangi neraka itu' (QS. Maryam : 71).
******
8. Shirot
وَالصَّرَاطُ حَقٌّ.
Meyakini bahwa Siroth7 benar adanya.
7. Nama lainnya jisr ( ) atau matn ( ) yaitu jembatan yang dibentangkan di punggung Jahannam, tidaklah penghuni Surga masuk Surga kecuali pasti melewat inya. “Masing-masing dari kalian pasti melewatinya sebagai kepastian yang sudah ditetapkan Alloh.” (QS. Maryam: 71) Sifat Shirot adalah sangat panjang, lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, miring, licin, dan sisi kanan-kirinya dikelilingi kail yang bisa mencabik-cabik setiap orang yang melewatinya.
💡 Syarah #8:
Mengimani adanya shirot hukumnya wajib. Di antara ulama berhujjah dengan firman Allâh Azza wa Jalla berikut :
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan [Maryam/19:71]
Dalam riwayat:
وَيُضْرَبُ الصِّرَأطُ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلاَ يَـَتكَلََّمُ يَوْمَئِذٍ إِلاَّ الرُسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ فَمِنْهُمْ الْمُؤُمِنُ بَقِيَ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُجَازَى حَتىَّ يُنَجَّى
Dan dibentangkanlah shirâth di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu: “Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah……di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan di antara mereka ada yang dibalasi sampai ia selamat. [HR. Muslim]
Berdasarkan beberapa dalil, dapat kita ikhtisarkan di sini sifat dan bentuk shirâth tersebut sebagaimana berikut:
1. Shirâth tersebut amat licin, sehingga sangat mengkhawatirkan siapa saja yang lewat dimana ia mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh.
2. Shirâth tersebut menggelincirkan. Para Ulama telah menerangkan maksud dari ‘menggelincirkan’ yaitu ia bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
3. Shirâth tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri, ujungnya bengkok. Ini menunjukkan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkeramannya.
4. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak, dan tersambar oleh pengait besi atau tidak, semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing orang.
5. Shirâth tersebut terbentang membujur di atas neraka Jahannam. Barang siapa terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait, maka ia akan terjatuh ke dalam neraka Jahannam.
6. Shirâth tersebut sangat halus, sehingga sulit untuk meletakkan kaki di atasnya.
7. Shirâth tersebut juga tajam yang dapat membelah telapak kaki orang yang melewatinya. Karena sesuatu yang begitu halus, namun tidak bisa putus, maka akan menjadi tajam.
Sekalipun shirâth tersebut halus dan tajam, manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allâh Azza wa Jalla Maha Kuasa untuk menjadikan manusia mampu berjalan di atas apapun.
8. Kesulitan untuk melihat shirâth karena kehalusannya, atau terluka karena ketajamannya, semua itu bergantung kepada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.
Agar kita selamat melewati jembatan shirat:
1. Beriman adalah kunci keselamatan.
2. Istiqamah di atas shiratal mustaqim.
Ustadz menyampaikan analogi atau perumpamaan saat beliau bersama para ustadz lainnya menghadiri undangan dari Rodja TV untuk mengikuti acara Daurah Pembekalan Ilmu untuk Para Ustadz ke-6 di Masjid Al-Berkah, Cileungsi. Pemateri utama dalam daurah tersebut adalah seorang ulama besar, Syeikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Hafidzahullah dan betapa perlunya kehati-hatian dalam melaluinya.
Di sela-sela daurah, Syeikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani menceritakan pengalaman pribadinya saat diajak oleh beberapa rekan untuk berwisata mengunjungi sebuah jembatan kaca.
Ketika berada di sana, sang Syeikh mengamati fenomena dan respons psikologis orang-orang yang mencoba menyeberanginya:
- Ada orang yang berjalan dengan sangat ketakutan.
- Ada yang sampai merangkak demi bisa lewat.
- Ada yang berjalan sambil memejamkan mata.
- Ada pula yang memilih mundur dan membatalkan niatnya karena tidak sanggup menahan rasa takut melihat jurang di bawah kaca.
Melihat fenomena tersebut, Syeikh Ramadhani langsung merenung dan memberikan pesan mendalam: "Subhanallah, jika ini baru jembatan dunia (jembatan kaca), lantas bagaimana dengan jembatan di akhirat (ash-shirath) kelak?"
*****
Sesi ke-3
9. Mizan
وَالمِيزَانُ حَقُّ، لَهُ كِفَّتَانٍ، تُوزَنُ فِيهِ أَعْمَالُ العِبَادِ حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا حَقُّ.
Meyakini Mizan (timbangan) benar adanya, memiliki dua daun timbangan, untuk menimbang amal-amal hamba, amal baik maupun amal buruk, dan ini benar adanya.
💡 Syarah #9:
Beriman terhadap Mizan (timbangan amal) termasuk pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, karena alasan-alasan berikut ini:
1. Telah disebutkan dalam Al-Qur’an, sunnah dan ijmak para ulama.
2. Hal ini merupakan bagian dari rukun iman, yaitu beriman kepada hari akhir, yaitu peristiwa setelah kematian.
3. Adanya kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah dan Wazaniyah.
4. Akan menumbuhkan semangat berlomba-lomba dalam beramal shalih dan waspada dari dosa dan kemaksiatan. Karena semuanya akan ditimbang.
Keimanan terhadap mizan disebutkan dalam Al-Qur’an, sunnah dan ijmak para ulama.
1. Allah Ta’ala berfirman:
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Ayat ini menunjukkan bahwa mizan ini sangat akurat dalam menimbang, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun.
2. Hadits-hadits tentang mizan derajatnya mutawatir. Salah satunya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ”. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada 2 perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah, berat di timbangan, dicintai oleh ar Rahman; subhãnallôhi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya) subhãnallõhil’adzhim (Maha Suci Allah lagi Maha Agung”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Imam Bukhari menutup kitab Shahih Bukhari dengan hadits di atas, yang menjadi dalil adanya Mizan.
Hikmah adanya Mizan:
Para ulama menyebutkan beberapa hikmah adanya mizan seperti Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah dalam Zaadul Masir Fi ilmit Tafsir menyebutkan beberapa hikmah:
1. Ujian bagi makhluk apakah beriman kepada Allah ﷻ ataukah tidak. Seperti halnya Allah ﷻ menguji manusia dengan masalah-masalah ghaib, seperti surga dan neraka termasuk mizan. Sebagai tanda kebahagian dan kesengsaraan di akhirat.
2. Menegakkan hujah kepada hamba-hamba-Nya.
3. Menunjukkan keadilan Allah ﷻ, bahwasanya Allah ﷻ tidak mendzalimi seorangpun.
Apa yang ditimbang?
Para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
1. Yang ditimbang adalah kartu (bitaqah) atau lembaran catatan amal.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 135)
Seorang ulama yang bernama Abul Hasan, Ali bin Umar al-Harrani mengatakan,
أنا حضرت رجلا في المجلس وقد زعق عند هذا الحديث ومات وشهدت جنازته وصليت عليه
Saya pernah melihat seseorang dalam suatu majlis kajian, orang ini teriak ketika mendengarkan hadis ini, lalu mati. Saya turut hadir dalam pengurusan jenazahnya dan menshalati jenazahnya. (Juz’ul Bithaqah, Hamzah al-Kinani, ket. Hadis no. 2).
2. Yang ditimbang adalah Amalan-amalannya
Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).
3. Yang ditimbang Orangnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”
Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..
فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)
“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)
Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain. Sebagian orang ada yang ditimbang amalnya, sebagian yang lain ditimbang buku catatannya, dan sebagian yang lain ditimbang dirinya.
Makanya, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, karena semua dalil-dalilnya shahih, maka semuanya akan ditimbang untuk mengkompromikan dalil-dalil tersebut.
Sifat-sifat Mizan
Tidak boleh menetapkan tentang sifat-sifat Mizan tanpa dalil. Beberapa dalil pendukung antara lain tentang sifat mizan adalah:
1. Akurat dan detail.
2. Adil
Allah ﷻ berfirman :
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
3. Di Tangan Allah ﷻ
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ، يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ
“’Arsy-Nya di atas air, dan di tangan-Nya yang lain (memegang) timbangan, yang Dia rendahkan dan Dia tinggikan.” (HR. Bukhari no. 7411)
4. Memiliki dua neraca
Seperti dijelaskan dalam hadits bitaqah di atas.
Maka, menyebutkan sifat-sifat mizan tidak boleh asal, tetapi harus berdasarkan dalil yang shahih.
Seorang Ulama Sabtuun Al-Andalusy pernah ditanya dalam suatu kajian, dalam secarik kertas: terbuat dari apakah mizan itu. Emas atau perak? Kemudian beliau menulis dibelakang kertas tersebut:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”
Artinya, bertanyalah yang ada manfaatnya bagimu... Subhanallah.
Faedah Hadits: Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, bahwa ada hadits al-Marfu' Hukman, yaitu mauquf kepada Salman Al-Farisi tetapi secara hukum sampai kepada Nabi ﷺ, Salman Al-Farisi Radhiyallahu’anhu berkata:
فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ
Andaikan langit dan bumi ditimbang, niscaya timbangan tersebut akan mencukupi.
Amalan-amalan yang Memberatkan Timbangan
Inilah hal terpenting agar membuahkan amal shaleh, amal apa yang dilakukan agar timbangan amal kita menjadi berat.
Secara umum, amal kebaikan sekecil apapun akan ditimbang. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Qari’ah Ayat 8-9:
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Adapun amalan-amalan khusus yang disebut Nabi ﷺ akan keistimewaan timbangannya antara lain:
1. Tauhid
Dalilnya hadits bitaqah yang telah disebutkan di atas.
2. Dzikir
Seperti hadits keutamaan dzikir Tasbih dan tahmid di atas.
3. Akhlak yang mulia
Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” - (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
4. Menshalati dan Mengantar Jenazah
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ شَهِدَ الجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ: وَمَا القِيرَاطَانِ قَالَ: مِثْلُ الجَبَلَيْنِ العَظِيمَيْنِ
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyalatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya, maka baginya pahala dua qirath.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
“Barangsiapa yang menyalatkan jenazah, namun ia tidak sampai ikut mengantarnya, maka baginya pahala satu qirath. Dan jika ia turut mengantarnya, maka baginya pahala dua qirath.” Kemudian ditanyakanlah, “Seperti apakah dua qirath itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Yang paling kecil di antaranya adalah seperti gunung Uhud.” (HR. Muslim no. 945)
5. Sabar ketika Anak Meninggal
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
بَخٍ بَخٍ بِخَمْسٍ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يُتَوَفَّى لِلْمُسْلِمِ فَيَحْتَسِبُهُ
Bakh, Bakh (ucapan pujian dan keridhaan). Ada 5 hal yang sungguh betapa beratnya di timbangan (amal):
1. (Ucapan) Subhanallah,
2.(Ucapan) Alhamdulillah,
3.(Ucapan) Laa Ilaaha Illallah,
4.(Ucapan) Allaahu Akbar.
5.(Kesabaran) karena seorang anak yang saleh meninggal mendahului (orangtuanya yang) muslim, kemudian orangtuanya itu bersabar (berharap pahala dari Allah)
(H.R anNasaai, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Syaikh al-Albaniy. Lafadz sesuai riwayat al-Hakim)
Imam Ahmad Rahimahullah berkata, kita percaya bahwa Allah ﷻ akan berbicara esok pada hari kiamat tanpa penerjemah. Ini menunjukkan bahwa Allah punya sifat bicara, dan tanpa penerjemah karena Allah ﷻ mengerti semua bahasa.
******
10. Haudh
وَالْخُوْضُ المكَرَّمُ بِهِ نَِبِيُّنَا حَقٌّ
Meyakini bahwa Haudh (Telaga) yang diberikan kepada Nabi kita ﷺ sebagai penghormatan adalah benar adanya.
💡 Syarah #10:
Beriman kepada Telaga Haud termasuk dalam Pokok-pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, ada tiga alasan yang melandasinya:
1. Masalah ini termasuk masalah Ghaib yang tidak Bisa Dicerna dengan Akal
Sifat-sifat orang yang bertakwa adalah percaya (beriman) dengan hal-hal yang ghaib yang tidak bisa dicerna dengan akal.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 3:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.
2. Hadits-hadits tentang Masalah ini sampai Derajat Mutawatir
Bahkan para ulama yang meneliti masalah ini mengatakan ada yang menjelaskan 40 sahabat, 50 sahabat, bahkan 80 sahabat yang meriwayatkan masalah telaga ini.
Padahal seperti yang disampaikan Imam Syafi'i dalam kitabnya Ar-Risalah, para ulama sepakat bahwa hadits Ahad (yang diriwayatkan dari satu sahabat) asalkan shahih, wajib diterima, apalagi yang mutawatir.
3. Adanya kelompok-kelompok yang mengingkari akan hal ini
Baik secara terang-terangan seperti ahli filsafat Mu'tazilah, Khawarij atau salah dalam memahaminya, seperti Syiah Rafidhah yang mengkafirkan para sahabat dengan adanya hadits tentang telaga ini.
Dalil-dalil Dalam Aqidah ini
Dalil-dalil yang melandasi akidah ini, yakni beriman kepada Telaga dilandasi kepada Al-Qur'an, Hadits maupun ijmak para ulama.
1. Dalil dari Al-Qur'an secara isyarat:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Imam Ahmad mengatakan dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ menundukkan kepala sejenak, lalu beliau mengangkat kepala seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau , "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Sesungguhnya barusan diturunkan kepadaku suatu surah" Lalu beliau membaca firmanNya: (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar), sampai akhir. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian tahu, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui" Rasulullah bersabda, ”Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku akan mendatanginya pada hari kiamat, jumlah bejana-bejananya sama dengan jumlah bintang-bintang". (Tafsir Ibnu Katsir).
- Sebagian ulama berbeda pendapat apakah ayat ini bisa dijadikan dalil tentang telaga atau tidak.
- Sebagian Ulama berpendapat bahwa ini adalah tentang sungai di surga, jadi bukan bahas tentang telaga.
- Dan sebagian lainnya berpendapat secara isyarat tentang telaga di padang Mahsyar, karena air telaga bersumber dari sungai Al Kautsar di surga, jadi secara tidak langsung juga menunjukkan tentang telaga.
2. Dalil-dalil dari hadits:
Para ulama yang meneliti masalah ini mengatakan bahwa hadits-hadits tentang telaga derajatnya mutawatir, ada yang menjelaskan 40 sahabat seperti Imam Ibnul Qayyim, 50 sahabat, bahkan 80 sahabat seperti Ibnu Hajar Al-Ashqalani.
Beda Telaga Dengan Al Kautsar
Telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memiliki dua aliran yang bersumber dari telaga al Kautsar suatu sungai yang ada di jannah. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang air di telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau menjawab,
أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
“Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Pada telaga tersebut ada dua saluran (miizaab) yang mengalirkan air yang terhubung dengan surga, salah satunya dari emas dan yang lain dari perak”. (HR Muslim no.2301)
Perbedaan Telaga Nabi ﷺ (Al-Haud) dan Sungai di surga (Al-Kautsar).
1. Al-Kautsar artinya sungai yang airnya mengalir sedangkan Al-Haud artinya telaga yang airnya tidak mengalir.
2. Sumber telaga Nabi ﷺ adalah dari sungai Al-Kautsar.
3. Al-Kautsar adalah sungai di surga sedangkan Al-Haud ada di padang mahsyar.
4. Al-Kautsar khusus untuk Nabi ﷺ sedangkan telaga adalah untuk semua nabi.
Setiap Nabi memiliki telaga (haudh). Sebagaimana pada hadits,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ لَيَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga (haudh), sesungguhnya mereka berlomba-lomba dalam banyaknya orang yang mengunjunginya dan sungguh aku berharap aku menjadi pemilik telaga (haudh) yang paling banyak pengunjungnya.”(HR Tirmidzi hlm.67/2, sahih4)
Kiat-kiat agar Bisa Menjadi Golongan Orang yang Minum dari Telaga Nabi
1. Berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan tinggalkan bid'ah
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي أَلَا إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat, salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahlul-baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku” [3/26]. (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ijtima'ul Juyusy al-Islamiyah 'ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu'aththilah menjelaskan, Nabi ﷺ memiliki dua telaga yang sangat besar, telaga di dunia adalah sunnah-sunnah Nabi ﷺ dan apa yang dibawa beliau dan telaga beliau kelak di akhirat.
2. Menghindari perbuatan-perbuatan bid'ah.
3. Memiliki hati yang bersih
Tidak ada kebencian terutama kepada para sahabat Nabi ﷺ. Karena orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai.
4. Sabar
Yaitu sabar dalam beribadah dan menjauhi maksiat dan sabar menghadapi pemimpin yang dzalim sampai berjumpa dengan Nabi ﷺ di surga.
5. Tidak mendukung kedzaliman pemimpin.
Yaitu berada di tengah-tengah tidak memberontak dan tidak mendukung kedzaliman.
Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” (HR Ahmad No: 17424)
6. Berdo'a.
Berdo'a adalah kunci kebaikan. Seperti halnya dikisahkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa nenek-nenek di Madinah dahulu berdo'a agar tidak terusir dari telaga Nabi ﷺ.
7. Menghindari hal-hal yang menyebabkan terusir dari telaga Nabi ﷺ.
- Murtad
- Bid'ah
- Perbuatan maksiat.
Sifat-sifat Telaga Nabi ﷺ
1. Luas sekali
Luas dan lebar telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sama yaitu sejauh perjalanan satu bulan. Sebagaimana di dalam hadits,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ
“Telagaku (haudh) luasnya sejauh perjalanan satu bulan, (panjang) kedua sisi telagaku sama”. (HR Muslim no.2292).
2. Bejana-bejananya sejumlah bintang di langit
Ini artinya:
- Jumlahnya sangat banyak.
- Gayungnya bercahaya.
3. Wanginya sewangi kesturi, Airnya seputih susu
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengkabarkan tentang sifat-sifat telaganya (haudh), beliau bersabda,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
“Telagaku (haudh) luasnya sejarak perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi dari pada misik, bejananya seperti bintang-bintang di langit , barang siapa yang minum dari telaga (Haudh) tersebut niscaya tidak akan merasakan haus lagi selamanya”.(HR. Bukhari no.6580 dan Muslim no.2292).
******
11. Syafa’at
وَالشَّفَاعَةُ حَقٍّ
Meyakini bahwa syafaat benar adanya.8
8. Syafaat adalah permohonan dari pihak ketiga kepada Alloh agar mengeluarkan orang dari Neraka, dan syafaat jenis ini diingkari oleh Khowarij, karena di sisi mere ka bahwa pelaku dosa besar kafir dan kekal di Neraka selamanya.
💡 Syarah #11:
Sesungguhnya masalah syafa’at termasuk pembahasan penting yang wajib diketahui oleh seorang muslim karena beberapa sebab:
1. Masalah ini termasuk cabang iman kepada hari akhir yang merupakan rukun iman
2. Mempelajarinya akan menambah iman dan cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya
3. Mengenal luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya, kasih sayang rasulullah kepada umatnya dan agungnya agama Islam
4. Banyaknya penyimpangan dalam masalah ini sehingga menjerumuskan manusia kepada kesyirikan
5. Perhatian para ulama tentang masalah ini, karena mereka selalu membahasnya dalam kitab-kitab mereka, bahkan ada yang membukukannya secara khusus.
Syarat-Syarat Syafa’at
Syafa’at memiliki dua syarat yang harus terpenuhi, jika salah satunya tidak terpenuhi maka tidak akan terwujud syafa’at, yaitu:
[Lihat al-Ala‘i al-Bahiyyah fi Syarhi Aqidah al-Wasithiyyah 1/275 oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh].
- Pertama: Izin Allah kepada pemberi syafa’at
Hal ini berdasarkan firman Allah:
مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ
Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. (QS al-Baqarah [2]: 255)
وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ
Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. (QS Saba‘ [34]: 23)
- Kedua: Ridha Allah terhadap orang yang memberi syafa’at dan yang diberi syafa’at
Di mana dia termasuk ahli tauhid yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Hal ini berdasarkan firman Allah:
يَوْمَئِذٍۢ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًۭا ﴿١٠٩﴾
Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS Thaha [20]: 109)
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرْتَضَىٰ
Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah. (QS al-Anbiya‘ [21]: 28)
Jadi, syafa’at kelak pada hari Kiamat tidak terwujudkan kecuali bagi siapa yang diizinkan oleh Allah dan diridhainya. Sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekalipun, beliau tidak bisa memberikan syafa’at begitu saja kecuali setelah diizinkan oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang panjang tentang syafa’at, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنُ لِي وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا
“Maka aku meminta izin kepada Rabbku, lalu diizinkan bagiku, dan Allah memberikan ilham kepadaku berupa pujian-pujian kepada-Nya sehingga aku memuji Allah dengannya.” (HR Bukhari 8/200, Muslim 1/180)
Dan Allah tidak ridha kecuali kepada ahli tauhid, sebagaimana dalam hadits:
أَسْعَدُ اْلنَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling berbahagia memperoleh syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhari: 99, 6570)
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat rahasia pentingnya tauhid, sebab syafa’at hanya diperoleh dengan pemurnian tauhid, siapa yang sempurna tauhidnya, maka berhak mendapat syafa’at, bukan dengan syirik seperti yang dilakukan mayoritas orang.” [Tahdzib Sunan Abu Dawud 13/56—Aunul Ma’bud].
Cintanya Nabi ﷺ kepada Umatnya
Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, Wahai Rasulullah berdoalah untukku.’ Beliau pun berkata,
اللَّهمَّ اغفِرْ لِعائشةَ ما تقدَّم مِن ذنبِها وما تأخَّر ما أسرَّتْ وما أعلَنَتْ
“Ya Allah ampunilah Aisyah dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.’
Maka Aisyah tertawa hingga kepalanya tertunduk ke pangkuannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أيسُرُّكِ دعائي
Apakah doaku membuatmu gembira?’
Aisyah pun menjawab, ‘Tentu aku sangat senang dengan doa itu.’
Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
واللهِ إنَّها لَدعائي لِأُمَّتي في كلِّ صلاةٍ
‘Demi Allah sesungguhnya itulah doaku untuk umatku di setiap shalat’.”
[HR. Al-Bazzar dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah 2254
> Kalau disebut kata syafa'at dalam kitab aqidah, maka yang dimaksud adalah syafa'at Nabi ﷺ kepada pelaku dosa-dosa besar.
Dalilnya adalah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ: شَفَاعَتِيْ لأَهْلِ اْلكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِيْ
Dari Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari umatku.”
- Shahih. Lihat takhrijnya secara lengkap dan panjang dalam buku Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy Hafidzahullah - Membela Hadits Nabi hlm. 326–329.
Dan syafa'at jenis ini diingkari oleh ahli bid'ah. Karena menurut mereka pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal di neraka.
Kiat-kiat Menggapai Syafa’at
Sekalipun syafa’at dalah dalah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman setelah mendapatkan izin dan dala-Nya, di sana ada beberapa sebab dan dalah yang menjadikan seorang dapat meraih syafa’at. Di antara dalah tersebut dalah:
1. Tauhid
Tidak ragu lagi bahwa tauhid—yaitu memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah—dalah dalah utama untuk meraih syafa’at, bahkan tauhid dalah syarat utama syafa’at sebagaimana telah lalu penjelasannya. Juga berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:
أَسْعَدُ اْلنَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling berbahagia memperoleh syafa’atku pada hari Kiamat dalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ dalah dari lubuk hatinya.” (HR Bukhari: 99, 6570)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, “Syafa’at sebabnya dalah menauhidkan (mengesakan) Allah dan memurnikan agama dan ibadah hanya kepada Allah. Semakin bertauhid seseorang, semakin berhak dia mendapatkan syafa’at.” [Majmu’ Fatawa 1/414].
2. Membaca al-Qur‘an dan mempelajarinya serta mengamalkan kandungannya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه
“Bacalah al-Qur‘an karena dia akan datang pada hari Kiamat kelak untuk memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR Muslim 1/553)
3. Berpuasa wajib dan sunnah ikhlas karena Allah ﷻ
Hal ini berdasarkan hadits:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan al-Qur‘an akan memberikan syafa’at kepada hamba kelak pada hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari syahwat di siang hari maka berilah aku syafa’at untuknya.’ Al-Qur‘an juga berkata, ‘Saya telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka berilah aku syafa’at untuknya.’ Lalu keduanya diberi syafa’at untuk pelakunya.” (HR Abu Dawud 2/119, Tirmidzi 5/164, dan dishahihkan al-Albani)
4. Do’a anak shalih
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَك
“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat hamba yang shalih di surga lalu dia mengatakan, ‘Wahai Rabbku, dari manakah kedudukan ini?’ Allah menjawab, ‘Karena sebab do’a ampunan anakmu untukmu.’” (HR Ahmad: 5092, Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan al-Albani)
5. Tinggal di kota Madinah
Hal ini berdasarkan hadits:
مَنْ صَبَرَ عَلَى لأْوَائِهَا وَشِدَّتِهَا كُنْتُ لَهُ شَهِيدًا أَوْ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَة
“Barangsiapa yang sabar menghadapi kesengsaraannya maka saya akan menjadi saksi dan pemberi syafa’at baginya kelak pada hari Kiamat.” (HR Muslim 2/1004).
6. Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Hal ini berdasarkan hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ يَقُولُ: إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوْا اللَّهَ لِيْ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِيْ إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena, barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah karena itu adalah tempat di surga yang tidak layak kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan saya berharap sayalah yang mendapatkannya, maka barangsiapa yang memintakan untukku wasilah niscaya halal syafa’at baginya.” [HR Muslim: 384].
Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada tiga sunnah yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia yaitu menjawab adzan, shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallamusai menjawab, dan memintakan wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Anehnya, engkau perhatikan sebagian orang yang meremehkan sunnah-sunnah ini adalah orang yang sangat fanatik memperjuangkan bid’ahnya shalawat muadzin secara keras usai adzan, padahal hal tersebut merupakan kebid’ahan dalam agama dengan kesepakatan ulama. Kalau mereka melakukan hal itu dengan alasan cinta Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lantas kenapakah mereka tidak menghidupkan sunnah ini dan meninggalkan bid’ah tersebut?! Kita memohon hidayah.” [Ta’liq Fadhlush Shalah ’ala Nabi hlm. 49–50].
7. Shalat manusia kepada mayit yang bertauhid
Berdasarkan hadits:
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيه
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali mereka akan memberikan syafa’at baginya.” (HR Muslim 2/654).
*****
12. Hari Kebangkitan
وَالبَعْثُ مِنْ بَعْدِ المَوْتِ حَقُّ.
Meyakini bahwa kebangkitan setelah kematian adalah benar adanya.
💡 Syarah #12:
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-Hajj Ayat 7:
وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ
Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.
Maka, kita wajib mengimaninya dan haram mengingkarinya. Firman-Nya dalam surat At-Taghabun ayat 7:
زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْا ۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ٧
Orang-orang yang kufur mengira bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu mudah bagi Allah.
Tiga taukid (penguat) dalam kalimat penegasan hari kebangkitan pada Surat At-Taghabun ayat 7 terdapat pada frasa وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ (wa rabbî latub'atsunna).
Berikut rincian tiga bentuk taukid tersebut:
- Sumpah (القسم): Penggunaan huruf sumpah pada kata و (wawu qasam) yang merujuk kepada Allah (Wa rabbî / Demi Tuhanku) untuk mengawali dan mengukuhkan berita.
- Lam Taukid (لام التوكيد): Huruf ل (lam) yang masuk pada kalimat jawab sumpah di awal kata tub'atsunna untuk memperkuat kepastian suatu peristiwa.
- Nun Taukid (نون التوكيد الثقيلة): Akhiran huruf نَّ (nun tasydid) pada kata latub'atsunna yang berfungsi sebagai penekanan mutlak bahwa kebangkitan benar-benar akan terjadi tanpa keraguan.
*****
13. Status Pelaku Dosa Besar
وَأَهْلُ الكَبَائِرِ فِي مَشِيئَةِ اللهِ. وَلَا نُكَفِّرُ أَهْلَ القِبْلَةِ بِذُنُوبِهِمْ، وَنَكِلُ أَسْرَارَهُمْ إِلَى اللهِ.
Meyakini pelaku dosa besar9 adalah di bawah kehendak Alloh ﷻ. Kami tidak mengkafirkan ahli Qiblat10 karena dosanya, dan kami serahkan rahasia11 mereka kepada Alloh ﷻ.
9 Yakni setiap dosa yang ada hukumannya di dunia seperti mencuri dan berzina, atau laknat seperti suap. Jika bertaubat maka Alloh ampuni. Jika belum bertaubat sampai mati, maka inilah yang dimaksud penulis v.
10 Yakni kaum Muslimin, mereka disebut ahli Qiblat karena dikatakan Muslim jika mengerjakan sholat. Adapula yang berpendapat, untuk membedakan diri dengan Rofidhoh yang sholatnya menghadap kuburan Husain bukan ke Ka’bah.
11 Yakni kami tidak tahu apakah Islamnya mereka karena Alloh apa tidak? Amal sho lih mereka dikerjakan karena Alloh apa tidak? Maka kami hanya menghukumi ia Muslim sebagaimana apa yang nampak atas kami, adapun isi hatinya kami serah kan kepada Alloh, karena hanya Alloh yang tahu isi hati.
💡 Syarah #13:
Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi aturan syar’i dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman: Dosa Kecil dan Dosa Besar.
Dosa besar adalah dosa yang dalam dalil disebut dengan hukuman (ancaman) khusus di dunia atau di akhirat, atau disebut sebagai dosa yang besar.
Hendaknya jangan menunjuk dosa besar kepada orang lain. Tapi tunjuklah diri kita: bukankah kita kadang riya? Hasad, namimah dan lainnya?
Ahlul kiblah maksudnya muslim. Dan kita tidak mengkafirkan mereka karena pembeda antara muslim dan kafir Adalah shalat.
وَعَنْ بُرَيْدَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : (( العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadirs ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]
Pandangan mengenai status pelaku dosa besar berbeda secara mendasar antara aliran Khawarij, Mu'tazilah, dan Ahlussunnah wal Jama'ah
- Khawarij
Kelompok ini memandang pelaku dosa besar (seperti pezina, pembunuh, atau peminum khamar) telah keluar dari Islam (kafir). Konsekuensinya di akhirat, mereka diyakini akan kekal di dalam neraka selamanya.
- Mu'tazilah
Kelompok ini mengambil posisi tengah secara definisi dunia, yaitu berada di antara dua tempat (al-manzilah bain al-manzilatain). Pelaku dosa besar dinilai bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan berstatus sebagai orang fasik. Meskipun demikian, dalam hukum akhirat, Mu'tazilah sepakat dengan Khawarij bahwa pelaku dosa besar yang tidak bertaubat akan kekal di dalam neraka.
- Ahlussunnah wal Jama'ah
Ahlussunnah berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak menjadi kafir selama ia tidak menghalalkan perbuatan dosa tersebut. Statusnya tetap dihitung sebagai seorang mukmin, tetapi imannya tidak sempurna (naqishul iman) atau disebut fasik. Di akhirat, nasib mereka diserahkan kepada Allah ta’aala—jika Allah menghendaki, Dia bisa mengampuni dan memasukkan mereka langsung ke surga, atau diazab terlebih dahulu sesuai kadar dosanya sebelum akhirnya diangkat ke surga.
Dalilnya antara lain:
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا ۚ
Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. (Al-Hujurat · Ayat 9)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ: شَفَاعَتِيْ لأَهْلِ اْلكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِيْ
Dari Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari umatku.”
- Shahih. Lihat takhrijnya secara lengkap dan panjang dalam buku Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy Hafidzahullah - Membela Hadits Nabi hlm. 326–329.
Maka, ahlul bid’ah mengingkari hadits ini.
14. Ulil Amri
وَنُقِيمُ فَرْضَ الجِهَادِ وَالحَجِّ مَعَ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ فِي كُلِّ دَهْرٍ وَزَمَانٍ. وَلا نَرَى الخُرُوجَ عَلَى الأَئِمَّةِ وَلَا القِتَالَ فِي الفِتْنَةِ، وَذَسْمَعُ وَنُطِيعُ لِمَنْ وَلَّاهُ اللهُ رَن أَمْرَنَا، وَلَا نَنْزِعُ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ، وَتَتَّبعُ السُّنَّةَ وَالجَمَاعَةَ، وَنَجْتَنِبُ الشُّذُوذَ وَالخِلَافَ وَالفُرْقَةَ.
Kami melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama para pemimpin kaum Muslimin dan berlaku selama-lamanya. Kami tidak menyakini bolehnya keluar memberontak para pemimpin, dan tidak pula ikut saling memerangi (kaum Muslimin) di masa fitnah. Kami mendengar dan patuh kepada siapa saja yang diangkat Alloh 4 untuk mengurusi kami. Kami tidak menarik tangan dari kepatuhan. Kami mengikuti Sunnah sekaligus jamaah (kaum Muslimin bersama pemimpinnya). Kami menghindari keganjilan, perselisihan, dan perpecahan.12
12. Aqidah ini untuk membantah Khowarij yang membolehkan memberontak pemimpin zolim, tidak sah sholat di belakang mereka dan tidak pula haji dan jihad.
وَأَنَّ الجِهَادَ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَ اللهُ .نَبِيَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ مَعَ أُولي الأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ لَا يُبْطِلُهُ شَيْءً. وَالحُجُّ كَذَلِكَ، وَدَفْعُ الصَّدَقَاتِ مِنَ السَّوَائِمِ إِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ.
Jihad bersama para pemimpin kaum Muslimin tetap berlaku semenjak Alloh mengutus NabiNya ﷺ hingga hari Kiamat, tidak ada apapun yang membatalkannya. Begitu juga haji dan membayar zakat kepada ulil amri dari para pemimpin kaum Muslimin.
💡 Syarah #14:
Masalah ini adalah masalah yang penting karena:
1. Ditekankan Allah ﷻ, RasulNya dan para ulama dalam kitab-kitab mereka.
2. Dengan menerapkannya akan terwujud maslahat yang besar berupa persatuan, keamanan, terjaganya nyawa dan kehormatan.
3. Adanya kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, terutama Khawarij yang suka memberontak dan kelompok lainya.
Dan hampir semua kelompok ahlil bid'ah menyimpang dalam masalah ini, maka inilah ciri khas Ahlussunnah wal Jama'ah, karena sebagai bagian dari ibadah dan mencari pahala. Bukan karena alasan dunia.
Imam Al-Lalika'i meriwayatkan dalam kitab Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah bahwa ada dua orang berpaham Khawarij yang sedang melaksanakan thawaf mengelilingi Ka'bah. Salah satu dari mereka kemudian berkata kepada temannya dengan penuh kesombongan kelompok: "Tidak ada yang masuk surga dari semua makhluk (manusia) ini selain aku dan kamu saja."
Mendengar ucapan tersebut, temannya terkejut dan langsung merenungkan betapa sempitnya pemikiran mereka. Ia kemudian menjawab dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah akal sehatnya: "Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, apakah hanya dibangun untuk aku dan kamu saja?"
Pertanyaan itu menyadarkan sang teman akan kekeliruan, kebatilan, dan keekstreman pemikiran Khawarij yang hobi mengkafirkan kaum muslimin dan memonopoli kebenaran. Seketika itu juga, ia menyadari kesesatannya, memutuskan untuk bertaubat, dan meninggalkan pemikiran Khawarij tersebut.
Prinsip-prinsip Ahlussunnah terhadap Para Pemimpin
Sesungguhnya waliyyul Amr (pemimpin) memiliki hak-hak atas rakyat yang diwajibkan oleh Islam, diantara hak-hak tersebut adalah:
1. Mendengar dan Taat kepada pemimpin
Kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa berlaku pada seluruh perkara yang bukan
maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam memaksiati Sang Khalik (Sang Pencipta).
Dalil-dalil yang menerangkan prinsip yang agung ini diantaranya adalah sebagai berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَطِيعُوا ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا ٱلرَّسُولَ وَأُولِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa': 59).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, “Ulil Amri mencakup dua golongan, yaitu ulama dan penguasa.”
وَأَنَّ الجِهَادَ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَ اللهُ .نَبِيَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ مَعَ أُولي الأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ لَا يُبْطِلُهُ شَيْءً. وَالحُجُّ كَذَلِكَ وَدَفْعُ الصَّدَقَاتِ مِنَ السَّوَائِمِ إِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ.
Jihad bersama para pemimpin kaum Muslimin tetap berlaku semenjak Alloh mengutus NabiNya ﷺ hingga hari Kiamat, tidak ada apapun yang membatalkannya. Begitu juga haji dan membayar zakat kepada ulil amri dari para pemimpin kaum Muslimin.
2. Menjaga Kehormatan penguasa dan tidak mencelanya.
Islam sangat memuliakan penguasa, hal itu karena beratnya tugas yang mereka emban dalam mengatur roda pemerintahan. Islam menempatkan mereka dalam derajat yang terhormat.
Tidak boleh bagi siapapun untuk melecehkan penguasa, baik dengan celaan, ghibah atau yang lainnya. Namun sangat disayangkan ajaran yang mulia ini sudah banyak dilupakan oleh sebagian kaum muslimin, sehingga tak aneh kalau penguasa sekarang tidak berwibawa dan mudah dijatuhkan, dicela dan direndahkan.
Ketahuilah, Rasulullah ﷺ melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau bersabda:
السُّلطانُ ظلُ اللهِ في الأرضِ فمَن أكرمَه أكرمَ اللهَ و مَن أهانَه أهانَهُ اللهُ
“Penguasa adalah merupakan naungan Allah di atas muka bumi barang siapa memuliakannya maka ia telah memuliakan Allah dan barangsiapa menghianakannya maka ia telah menghinakan Allah.” (HR Ibnu Abi ‘Ashim dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah : 1024).
3. Menasehati dengan cara yang santun
Pemimpin suatu negara adalah manusia biasa seperti kita, mereka juga terkadang salah, maka kewajiban bagi setiap muslim adalah saling memberikan nasehat dan mengingatkan. Ini adalah suatu kewajiban agama dan amalan ibadah yang sangat utama.
Tetapi Islam memberikan rambu-rambu tentang etika menasehati pemimpin agar tidak malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.” HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (II/507-508, bab Kaifa Nashiihatur Ra’iyyah lil Wulaat, no. 1096, 1097, 1098), Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/290) dari ‘Iyadh bin Ghunm Radhiyallahu anhu.
4. Bersabar atas kezhaliman pemimpin
Bersabar atas kezhaliman penguasa termasuk pokok aqidah ahlus sunnah wal Jama’ah.
Dalil-dalil dalam masalah ini sangat banyak, bahkan hadits-hadits dalam masalah ini mencapai derajat
mutawatir. Nabi ﷺ bersabda:
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات إلا مات ميتة جاهلية
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah” (HR. Bukhari no.7054,7143, Muslim no.1848, 1849).
5. Tidak Memberontak Pemimpin.
Memberontak terhadap penguasa hukumnya adalah haram bagaimanapun keadaan dan kejelekan penguasa. Hal ini untuk menjaga fasktor keamanan. Tidak boleh menyelesaikan masalah yang akibatnya menimbulkan masalah yang lebih besar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Tidak ada dalam sejarah kelompok yang memberontak penguasa kecuali menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari sebelumnya.” (Minhaj Sunnah 3/391).
6. Mendoakan kebaikan
Kebaikan penguasa adalah idaman bagi setiap muslim, karena kebaikan penguasa adalah kebaikan bagi rakyat dan Negara.
Mendo'akan kebaikan untuk pemimpin termasuk aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, amalan yang utama dan termasuk nasehat yang baik untuk mereka.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Andaikan aku punya do'a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa.” (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah 8/91).
******
Poin selanjutnya tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Ustadz karena hanya cabang dan waktu juga terbatas.
15. Masalah Klaim Beriman
وَالنَّاسُ مُؤَمَّنُونَ فِي أَحْكَامِهِمْ وَمَوَارِيثِهِمْ، وَلَا نَدْرِي مَا هُمْ عِنْدَ اللهِ رَكَ. فَمَنْ قَالَ: إِنَّهُ مُؤْمِنُ حَقًّا فَهُوَ مُبْتَدِعُ، وَمَنْ قَالَ: هُوَ مُؤْمِنُ عِنْدَ اللهِ فَهُوَ مِنَ الكَاذِبِينَ، وَمَنْ قَالَ: هُوَ مُؤْمِنُ بِاللهِ حَقًّا فَهُوَ مُصِيبُ.
Manusia adalah dianggap beriman dalam hukum dan warisan,13 dan kami tidak tahu hakikat mereka di sisi Alloh. Siapa yang mengatakan bahwa dirinya Mukmin secara hakiki maka ia mubtadi (pelaku bid'ah).14 Siapa yang mengatakan bahwa dirinya Mukmin di sisi Alloh maka ia termasuk para pendusta.15 Siapa yang mengatakan bahwa dirinya Mukmin kepada Alloh dengan hakiki maka ia benar.
13. Jika seseorang berada di negeri Muslim dan mengerjakan sholat maka ia dianggap orang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya serta berlaku hak dan kewajiban. Ia dihukumi Muslim Mukmin dan hartanya diwarisi oleh ahli warisnya dari kalangan Muslim.
14. Karena hal itu klaim atas nama Alloh dan muncul dari kesombongan. Tidak ada yang menilai keimanan seseorang kecuali Alloh semata.
15. Sama dengan sebelumnya.
16. Kesesatan Selain Ahlus Sunnah
وَالمُرْجِتَةُ المُبْتَدِعَةُ ضُلَّالُ.
Murjiah sang pelaku bid'ah adalah sesat.
وَالقَدَرِيَّةُ المُبْتَدِعَةُ ضُلَّالُ، فَمَنْ أَنْكَرَ مِنْهُمْ أَنَّ اللهَ. لَا يَعْلَمُ مَا لَمْ يَكُنْ قَبْلَ أَنْ یَكُونَ فَهُوَ كَافِر.
Qodariyah sang pelaku bid'ah adalah sesat. Siapa dari mereka yang mengingkari bahwa Alloh s tidak mengetahui apa yang belum terjadi sebelum terjadi maka ia kafir.
وَأَنَّ الجهْمِيَّةَ كُفَّارً.
Jahmiyyah adalah kafir.
وَأنَّ الرَّافِضَةَ رَفَضُوا الإِسْلَامَ.
Rofidhoh adalah orang-orang yang terlepas dari Islam (kafir).
وَالخَوَارِجَ مُرَّاقٌُ.
Orang-orang Khowarij adalah orang-orang yang melesat dari agama.
17. Al-Qur’an Bukan Makhluk
وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ القُرْآنَ تَخْلُوقُ فَهُوَ كَافِر بِاللهِ العَظِيمِ كُفْرًا يَنْقُلُ عَنِ المِلَّةِ. وَمَنْ شَكَّ في كُفْرِهٍ مِمَّنْ يَفْهَمُ فَهُوَ كَافِر.
Siapa yang meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluk maka dia kafir kepada Alloh yang Maha Agung, dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama. Siapa yang ragu atas kekafirannya padahal ia mengerti maka dia kafir.
وَمَنْ شَكَّ في كلَامِ اللهِ فَوَقَفَ شَاكًا فِيهِ يَقُولُ: لَا أَدْرِي مَخْلُوقٌ أَوْ غَيْرُ مَخْلُوقٍ فَهُوَ جهْميُّ.
Siapa yang ragu atas Kalamulloh seperti diam dengan keraguan mengatakan: "Aku tidak tahu apakah makhluk atau bukan makhluk" maka ia seorang Jahimyah.
وَمَنْ وَقَفَ فِي القُرْآنِ جَاهِلًا، عُلِّمَ وَبُدِّعَ، وَلَمَْ يُكَفَّرْ،
Siapa yang bersikap diam atas AlQur’an karena bodoh, maka ia diajari dan dibid’ahkan tetapi tidak dikafirkan.
وَمَنْ قَالَ: لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ، فَهُوَجَهْمِيٌّ، أَوْ القُرْآنُ بِلَفْظِي مَخْلُوقٌ، فَهُوَ جَهْمِيٌ.
Siapa yang mengatakan: “Lafazhku dari AlQur’an adalah makhluk” maka ia Jahmiyyah, atau mengatakan “Al-Qur’an dari lafazhku adalah makhluk” maka ia Jahmiyyah juga.
18. Julukan Jelek Ahli Bid’ah Kepada Ahlus Sunnah
قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: وَسَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ:
Abu Muhammad berkata: aku mendengar ayahku (Abu Hatim ArRozi) berkata:
وَعَلَامَةُ أَهْلِ البِدَع: الوَقِيعَةُ في أَهْلِ الأثرِ.
Tanda ahli bid’ah16 adalah merendahkan Ahli Atsar.17
16. Bid'ah adalah perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan Nabi. Bid'ah ada yang berkaitan dengan praktik ibadah dan ada yang berkaitan dengan keyakinan (i'tiqod) seperti bid'ah Khowarij, Syi'ah, Jahmiyyah, Qodariyyah, dan bid'ah ini yang maksud penulis Rahimahullah.
17. Cara mereka merendahkan adalah dengan julukan-julukan rendahan, persis seperti perilaku Abu Jahal dan kawan-kawannya ketika menjuluki Nabi sebagai orang gila, dukun, pendusta, dan tukang sya'ir.
وَعَلَامَةُ الزَّنَادِقَةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ حَشَوِيَّةٌ، يُرِيدُونَ اِبْطَالَ الآثَارِ،
Tanda orang zindiq18 adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Hasywiyyah19, dengan tujuan membatalkan atsaratsar20.
وَعَلَامَةُ الجَهْمِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ مُشبِّهَةٌ،
Tanda orang Jahmiyyah adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Musyabbihah21.
18. Jika orang munafik menampakkan kekufurannya dan permusuhannya kepada Ahlus Sunnah, ia disebut zindiq, jamaknya zanadiqoh. Mereka adalah munafik yang pura pura beragama Islam padahal benci syariat dan lebih suka memperturutkan naf sunya dalam beragama, sehingga nama lain mereka adalah ahlul ahwa (pengekor hawa nafsu).
19. Artinya kaum pinggiran, karena tidak mengerti hakikat agama dengan baik, menu rut tuduhan mereka. Yang pertama kali mengucapkan ini adalah Amr bin Ubaid: “Abdulloh bin Umar seorang hasywi (orang pinggiran).”
20. Yakni segala riwayat tentang agama, baik dari Nabi n, para Sahabatnya, maupun Tabi’in.
21. Yakni menyerupakan Sifat Alloh dengan makhluk, padahal menetapkan tidak harus menyamakan. Misalnya mengatakan si Ahmad memiliki mata dan kucing memiliki mata, sama-sama mata, tetapi beda hakikatnya, ukurannya, kekuatannya, jangkau annya, dan semisalnya. Inilah kekeliruan Jahmiyyah dalam menuduh.
وَعَلَامَةُ القَدَرِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ الأَثرِ مجَبِّرَةً.
Tanda orang Qodariyah adalah menjuluki Ahlus Atsar dengan Mujabbiroh22.
22. Yakni kaum yang meyakini perbuatan buruk itu karena dipaksa Alloh, padahal Ahlus Sunnah hanya menetapkan takdir buruk sekaligus menetapkan Alloh tidak pernah memaksa orang berbuat keburukan dan manusia memiliki pilihan, dan jika telah terjadi maka terjadi atas takdir Alloh. Inilah kekeliruan kaum Qodariyah dalam menuduh.
وَعَلَامَةُ المُرْجِئَةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ مُخَالِفَةً وَنُقْصَانِيَّةً.
Tanda orang Murjiah adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Mukholifah dan Nuqshoniyyah.
وَعَلَامَةُ الرَّافِضَةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ: ناصبة».
Tanda orang Rofidhoh adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Nashibah23
23. Yaitu kaum yang membenci Ahlul Bait, padahal Ahlus Sunnah sangat mencintai Ahlul Bait, tanpa mengkultuskan Ali
وَلَا يَلْحَقُ أَهْلَ السُّنَّةِ إِلَّا اسْمُ وَاحِدُ وَيَسْتَحِيلُ أَنْ تَجْمَعَهُمْ هَذِهِ الأَسْمَاءُ
Padahal Ahlus Sunnah tidak memiliki nama kecuali satu saja, dan mustahil disematkan nama-nama tersebut.
19. Sikap Atas Kebid’ahan dan Pelakunya
قالَ أَبُو مُحمَّدٍ: وَسَمِعْتُ أَبِي وَأَبًا زُرْعَةَ :
Abu Muhammad berkata: aku mendengar ayahku dan Abu Zur’ah:
يَأمُرَانِ بِهِجْرَانِ أَهْلِ الزَّيْغ وَالبِدَع يُغَلِّظَانِ فِي ذَلِكَ أَشَدَّ التَّغْلِيظِ.
Keduanya menyuruh agar menjauhi pelaku kesesatan dan bid'ah, dan sangat keras dalam melarang demikian.
وَيُنْكِرَانِ وَضْعَ الكُتُبِ بِرَأْيٍ فِي غَیْرِ آئَارٍ.
Keduanya mengingkari memasukkan pendapat dalam kitab- kitab bukan atsar-atsar.
وَيَنْهَيَانِ عَنْ مُجَالَسَةِ أَهْلِ الكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِي كُتُبِ المُتَكَلّمِينَ، وَيَقُولَانٍ: لَا يُفْلِحُ صَاحِبُ كُلَامِ أَبَدًا.
Keduanya melarang duduk-duduk bersama ahli kalam dan membaca kitab-kitab mutakallimin (ahli filsafat), dan keduanya berkata: "Ahli kalam tidak akan beruntung selamanya."
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم