Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

#Kajian 25: Bahjah Quluubil Abror

بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama:  Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H _Hafidzahullah_
🗓  | Hari : Rabu, 05 Rabi'ul Akhir 1448 / 12 Agustus 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.


📖 Hadits ke-17: Wasiat Ketakwaan dan Akhlak yang Baik

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan. Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik."

(HR. Muslim no.261, Abu Daud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasai 8/152, Ibnu Majah no. 293)

📃 Penjelasan:

Kembali kita bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kepada kita berbagai macam rezeki. Di antaranya adalah rezeki jasmani dan rezeki hati: rezeki keimanan, mengenal Islam, mengenal tauhid, dan mengenal sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kita juga tidak lupa bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kalau bukan karena Allah kemudian melalui jasa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, niscaya kita tidak akan mengenal jalan ketakwaan dan jalan hidayah.

Pada kesempatan ini kita kembali membaca kitab Bahjatu Qulubil Abrar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullahu ta'ala. Kita masih berada pada hadis ke-17.

Tiga Bagian Wasiat dalam Hadis

Pada pertemuan sebelumnya telah kita jelaskan sebagian hadis ini. Kita telah mengutip tiga ayat Al-Qur'an yang disusun oleh Syaikh As-Sa'di secara berurutan karena ketiga ayat tersebut memiliki kesesuaian dengan tiga bagian hadis.

  • Bagian pertama: "Ittaqillaha haitsu kunta" — bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
  • Bagian kedua: "Wa atbi' as-sayyi'atal hasanata tamhuha" — iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.
  • Bagian ketiga: "Wa khaliqin nasa bi khuluqin hasan" — bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.

Seakan-akan hadis ini terdiri dari tiga pembahasan yang berbeda, meskipun semuanya berkaitan erat.

Takwa dalam Setiap Keadaan

Bagian pertama adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Bukan hanya pada hari tertentu, bukan hanya dalam kondisi tertentu, tetapi dalam keadaan apa pun.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 177. Allah menjelaskan bahwa kebaikan bukan sekadar menghadapkan wajah ke arah timur atau barat.

 لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ۝١٧٧

laisal-birra an tuwallû wujûhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa lâkinnal-birra man âmana billâhi wal-yaumil-âkhiri wal-malâ'ikati wal-kitâbi wan-nabiyyîn, wa âtal-mâla ‘alâ ḫubbihî dzawil-qurbâ wal-yatâmâ wal-masâkîna wabnas-sabîli was-sâ'ilîna wa fir-riqâb, wa aqâmash-shalâta wa âtaz-zakâh, wal-mûfûna bi‘ahdihim idzâ ‘âhadû, wash-shâbirîna fil-ba'sâ'i wadl-dlarrâ'i wa ḫînal-ba's, ulâ'ikalladzîna shadaqû, wa ulâ'ika humul-muttaqûn

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut merupakan bantahan terhadap perdebatan kaum Yahudi dan Nasrani mengenai arah kiblat. Masing-masing menganggap arah kiblatnya yang paling benar. Allah menjelaskan bahwa hakikat kebajikan bukan sekadar perkara lahiriah tersebut. Hakikat kebajikan dan ketakwaan adalah iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan hari akhir, serta berbagai amal kebaikan lainnya.

Dengan demikian, ayat ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada."

Ketakwaan mencakup seluruh keadaan manusia.

Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Bagian kedua hadis adalah: "Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya."

Manusia pasti memiliki kekurangan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Karena itu, ketika seseorang melakukan kesalahan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan solusi: jangan biarkan keburukan tersebut tanpa diiringi kebaikan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran agar kita bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang telah disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.

Kemudian Allah menyebutkan karakter mereka:

"Yaitu orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan manusia."

Di akhir ayat Allah menyebutkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat tersebut juga merupakan kebaikan sosial, yaitu kebaikan dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Ini sesuai dengan bagian ketiga hadis tentang berakhlak baik kepada manusia.

Ciri-Ciri Orang Bertakwa

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah menyifati orang-orang bertakwa dengan keimanan kepada rukun-rukun iman. Mereka memiliki amalan yang lahir maupun batin, yang tampak maupun tersembunyi. Di antara bentuk ketakwaan tersebut adalah ibadah badan dan ibadah harta, bersabar dalam kesempitan dan penderitaan, bersabar dalam peperangan, memaafkan manusia, menahan gangguan mereka, serta berbuat baik kepada mereka.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia tidak berarti keluar dari ketakwaan. Orang bertakwa pun bisa jatuh dan bangun. Ia bisa salah dan lupa. Akan tetapi, orang bertakwa senantiasa istiqamah dalam bertaubat. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

"Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya."

Amal yang Menghapus Keburukan

Kebaikan yang dimaksud mencakup seluruh perkara yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah. Di antara amal yang paling besar dalam menghapus keburukan adalah taubat nasuha.

Taubat nasuha adalah taubat yang murni dan tulus. Orang yang bertaubat hanya menginginkan ampunan Allah. Bukan mencari pujian manusia, bukan mencari muka, tetapi benar-benar menginginkan maghfirah dari Allah. Karena itu, ketika seseorang melakukan maksiat, hendaknya ia segera menuju ampunan Allah. Inilah hakikat taubat.

Setelah taubat, amal berikutnya adalah istighfar.

Istighfar dilakukan dengan lisan sekaligus hati. Ketika seseorang mengucapkan, "Astaghfirullahal 'azhim," lisannya memohon ampun dan hatinya membenarkan permohonan tersebut. Istighfar merupakan doa yang mengandung permohonan ampun sekaligus pengagungan kepada Allah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun banyak beristighfar.

Tasbih atau Istighfar?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, mana yang lebih utama, tasbih atau istighfar?

Beliau menjelaskan bahwa hal tersebut disesuaikan dengan kondisi seseorang. Beliau memberikan permisalan: apabila pakaian kita kotor, apakah kita akan memberinya parfum atau mencucinya? Tentu kita mencucinya.

Demikian pula orang yang baru melakukan dosa dan maksiat. Dalam kondisi tersebut, istighfar lebih sesuai baginya. Ia memperbanyak ucapan: "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah."

Setelah melakukan dosa, seseorang membutuhkan pembersihan diri dengan istighfar.

Kafarah dan Penghapus Dosa

Di antara penghapus keburukan adalah berbagai amal yang telah ditentukan oleh syariat. Ada kafarah yang sifatnya muqaddarah, yaitu kafarah yang bentuknya telah ditentukan oleh syariat.

Misalnya, dalam beberapa perkara tertentu, syariat menetapkan kafarah berupa:

  1. Menyembelih hewan.
  2. Membebaskan budak.
  3. Berpuasa.
  4. Memberikan makan kepada orang miskin.

Kafarah tersebut tidak boleh ditentukan semaunya oleh seseorang karena bentuknya telah ditetapkan oleh syariat. Ada pula kafarah yang sifatnya lebih umum, yaitu berbagai kebaikan yang dapat menjadi sebab terhapusnya dosa.

Di antaranya adalah memaafkan manusia dan berbuat baik kepada makhluk. Termasuk pula membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, memberikan solusi, memudahkan urusan orang lain, serta meringankan beban mereka.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang memudahkan urusan seorang muslim, Allah akan memudahkan urusannya. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, Allah akan melepaskan kesulitannya di dunia dan akhirat.

Ini menunjukkan bahwa kebaikan yang kita lakukan kepada manusia dapat menjadi sebab Allah menghapus kesalahan kita.

Shalat, Jum'at, Ramadan, dan Penghapus Dosa

Di antara perkara yang menjadi penghapus dosa adalah shalat dari satu shalat menuju shalat berikutnya, Jumat menuju Jumat berikutnya, dan Ramadan menuju Ramadan berikutnya, selama dosa-dosa besar dijauhi. Menunggu shalat berikutnya juga merupakan ibadah. Seseorang mungkin secara fisik berada di pasar atau di kantor, tetapi hatinya merindukan waktu shalat berikutnya. Demikian pula seorang mukmin merindukan Jumat berikutnya dan Ramadan berikutnya.

Ini merupakan gambaran bagaimana hati seorang mukmin selalu terhubung dengan ibadah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyebutkan beberapa amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat, di antaranya menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai atau terasa berat, memperbanyak langkah menuju masjid, serta menunggu shalat berikutnya.

Bahkan menunggu shalat setelah shalat disebut sebagai ribat. Musuh kita bukan hanya musuh yang tampak. Bisa jadi setan dari kalangan manusia atau setan dari kalangan jin. Karena itu, menjaga diri dalam ketaatan merupakan bentuk perjuangan yang besar.

Musibah Juga Dapat Menjadi Penghapus Dosa

Di antara sebab Allah menghapus dosa seorang mukmin adalah musibah yang menimpanya. Seorang mukmin tidaklah tertimpa kelelahan, kesusahan, kegelisahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menjadikannya sebagai sebab terhapusnya sebagian kesalahan.

Musibah dapat berupa kehilangan sesuatu yang dicintai, kehilangan orang yang disayangi, sakit pada badan, kesulitan harta, kegelisahan hati, atau berbagai keadaan yang tidak disukai.

Namun perlu dipahami bahwa meskipun musibah dapat menjadi kafarah, kita tidak boleh meminta musibah. Musibah berada di tangan Allah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengajarkan kita untuk meminta musibah. Yang diperintahkan adalah memperbanyak amal yang menjadi sebab terhapusnya dosa.

Karena itu, jangan seseorang berkata, "Kalau begitu saya meminta musibah saja agar dosa saya dihapus." Yang benar adalah meminta kebaikan kepada Allah dan berlindung dari keburukan.

Jangan Meminta Azab

Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ada seseorang yang berdoa agar apabila Allah hendak mengazabnya, azab tersebut disegerakan di dunia dan tidak diberikan di akhirat. Secara lahiriah doa tersebut mungkin terlihat baik karena orang tersebut ingin terbebas dari azab akhirat. Namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkarinya.

Nabi mengajarkan doa:

"Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."

Ini menunjukkan bahwa sekalipun suatu musibah dapat menjadi penghapus dosa, kita tidak diperintahkan untuk memintanya. Kita diperintahkan untuk memperbanyak amal kebaikan.

Akhlak yang Baik adalah Bagian dari Ketakwaan

Setelah menjelaskan hak Allah berupa ketakwaan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik."

Akhlak yang baik sebenarnya merupakan bagian dari ketakwaan. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Berakhlak mulia juga merupakan perintah Allah. Namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut akhlak secara khusus dalam hadis ini. Hal tersebut menunjukkan betapa agungnya kedudukan akhlak.

Takwa bukan hanya menjaga hubungan dengan Allah. Takwa juga mencakup bagaimana seseorang berhubungan dengan manusia. Bisa jadi seseorang sangat baik dalam ibadah, tetapi akhlaknya kepada istri buruk. Ia mungkin rajin menghadiri kajian, tetapi mengabaikan anak dan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang ketakwaan belum sempurna.

Takwa bukan hanya tentang banyaknya shalat dan sujud. Takwa juga tercermin dalam cara kita memperlakukan istri, anak, orang tua, jamaah, dan manusia secara umum.

Takwa dalam Bermuamalah dengan Keluarga

Ketika seseorang menjadi imam, ia harus memperhatikan kondisi makmumnya. Jika di belakangnya ada orang tua, ia tidak seharusnya memperpanjang shalat tanpa kebutuhan. Jika mendengar anak menangis, seorang imam hendaknya memperhatikan perasaan ibu yang terganggu karena tangisan anaknya. Semua itu merupakan bagian dari ketakwaan.

Demikian pula ketika berada bersama anak-anak. Kita boleh bermain dengan mereka, menyesuaikan diri dengan dunia mereka, dan bercanda bersama mereka.

Sahabat Nabi pun melakukan hal demikian.

Ada kaidah: "Tempatkanlah manusia sesuai dengan kedudukannya."

Anak-anak diperlakukan sebagai anak-anak. Kita berbicara dengan bahasa yang mereka pahami dan bermain bersama mereka. Maka orang yang benar-benar bertakwa bukan hanya orang yang menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga orang yang menjaga hak orang-orang di sekitarnya.

Jika seseorang baik hubungannya dengan Allah tetapi hubungan dengan anak, orang tua, atau istrinya rusak, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam ketakwaannya.

Hakikat Akhlak yang Baik

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa awal dari akhlak yang baik adalah menahan gangguan terhadap manusia.

Termasuk akhlak yang baik adalah:

  • Memaafkan kesalahan orang lain.
  • Menahan gangguan mereka.
  • Bergaul dengan baik.
  • Bertutur kata yang lembut.
  • Menampilkan wajah yang berseri-seri.
  • Mengucapkan perkataan yang menyenangkan.
  • Membuat orang yang duduk bersama kita merasa nyaman.
  • Tidak mengucapkan perkataan yang menyakiti.

Bahkan bercanda pun termasuk dalam akhlak yang baik apabila dilakukan dengan benar.

Kalau kita hanya membalas kebaikan dengan kebaikan, itu sebenarnya lebih dekat kepada balas budi. Akhlak yang lebih tinggi terlihat ketika kita mendapatkan gangguan, tetapi kita memilih untuk bersabar dan tidak membalas dengan keburukan.

Bersabar ketika diganggu bukan berarti seseorang tidak boleh membela diri. Seseorang boleh membalas sesuai ketentuan yang dibenarkan. Namun memilih bersabar dan memaafkan merupakan akhlak yang mulia.

Bercanda Juga Bisa Menjadi Bagian dari Akhlak

Di antara bentuk akhlak yang baik adalah bercanda dengan candaan yang ringan dan benar.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bercanda. Para sahabat pernah bertanya kepada beliau karena melihat beliau bercanda. Nabi menjelaskan bahwa beliau bercanda, tetapi tidak mengatakan kecuali kebenaran.

Maka bercanda bukan berarti boleh berdusta, menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain. Candaan yang baik adalah candaan yang benar dan tidak mengandung keburukan.

Bergaul dengan Manusia Membutuhkan Kesabaran

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka.

Bergaul dengan manusia tidak selalu mudah. Ada orang yang memiliki kebiasaan buruk, ada yang keras, ada yang berbeda karakter, bahkan ada yang melakukan berbagai kemaksiatan. Namun seorang mukmin tetap berusaha bergaul dengan mereka dengan akhlak yang baik, sambil tetap menjaga prinsip agama.

Mukmin yang bergaul dengan manusia kemudian bersabar menghadapi mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka. Sebab, orang tersebut telah berusaha menunaikan hak Allah sekaligus hak hamba-hamba Allah.

Ihsan kepada Allah dan Ihsan kepada Makhluk

Ihsan ada dua.

  • Pertama, ihsan kepada Allah, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Jika kita tidak mampu demikian, maka kita yakin bahwa Allah melihat kita.
  • Kedua, ihsan kepada makhluk, yaitu memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik dan benar.

Inilah bagian penting dari ketakwaan yang dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Banyak yang Menasihati Ketakwaan, tetapi Sedikit yang Merealisasikannya

Kita sering mendengar nasihat ketakwaan, terutama dari para khatib di mimbar Jumat.

"Usikum wa nafsi bitaqwallah."

Nasihat tentang takwa terus diulang.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan bahwa beliau menasihati seseorang untuk bertakwa kepada Allah, karena Allah tidak menerima selain ketakwaan. Orang yang menasihati tentang takwa sangat banyak. Namun orang yang benar-benar merealisasikan ketakwaan tidak sebanyak itu.

Yang mampu menggabungkan hak Allah dan hak manusia dengan baik jumlahnya sedikit. Sebagian orang menjaga hubungan dengan Allah tetapi tidak menjaga hubungan dengan manusia. Sebagian lainnya sangat baik dalam hubungan sosial, tetapi melalaikan hak Allah, bahkan terjatuh dalam kesyirikan, meninggalkan kewajiban, atau melakukan perkara yang dilarang.

Keduanya merupakan kekeliruan. Yang benar adalah menjaga hak Allah sekaligus menjaga hak manusia. Inilah sikap pertengahan Ahlus Sunnah: menunaikan hak Allah dan menunaikan hak hamba.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa dengan sebenar-benar ketakwaan. Bukan hanya takwa yang diucapkan dengan lisan, tetapi takwa yang ada di dalam hati dan tampak pada anggota tubuh serta perbuatan kita.

Semoga Allah menutup seluruh urusan kita dengan kebaikan dan menutup usia kita dengan husnul khatimah.

Rangkuman:

bahjah 29 sunnah fitrah

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini