بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#6: 3 Dzulhijjah 1447 / 20 Mei 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #6
Pendahuluan
Kita sekarang masuk dalam bulan Dzulhijjah, inilah hari-hari terindah dimana segala amal kebaikan dilipatgandakan.
Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan di dalam Al-Qur’an. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu” (QS Al-Fajr 1-4)
Amal-amal shalih pada hari itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala
ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﺸﺮ . ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ
“Tidak ada hari-hari dimana amal shalih di saat itu akan lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak juga berjihad fii sabilillah ?” Beliau menjawab : “Tidak" Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”. juga berjihad fii sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apapun (yaitu mati syahid)” (HR. Bukhari no. 969, hadits dari Ibnu Abbas)
Terutama Puasa Arafah – 9 Dzulhijjah
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
Dan do'a di Hari Arafah adalah mustajab.
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10: 33).
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).
Para salaf dahulu saling memperingatkan pada hari Arafah untuk sibuk dengan ibadah dan memperbanyak do’a serta tidak banyak bergaul dengan manusia.
📖 Hadits ke-9: Semua sudah Ditakdirkan
عَنْ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ، حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ، أَوِ الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ». [صحيح مسلم: 2655]
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir. Bahkan sampai kelemahan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan kelemahan." HR. Muslim no. 2655.
📃 Penjelasan:
Perawi
Perawi Abdullah bin Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhuma, keduanya bapak dan anak adalah sahabat Nabi ﷺ. Maka, kita mendo'akan agar Allah ﷻ meridhoi keduanya, kita tidak mencela dan mengkafirkan para sahabat seperti halnya orang-orang Syiah Rafidhah.
Beliau termasuk Al-Abadillah (atau Al-Abadilah Al-Arba'ah) adalah gelar untuk empat sahabat Nabi yang paling menonjol, alim, dan menjadi rujukan utama umat Islam. Nama mereka adalah Abdullah: Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair Dan Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu’anhum.
Syarah
- Kata kullu bermakna keseluruhan. Apapun yang ada di dunia, sudah ditakdirkan.
Hadits ini adalah prinsip dalam Islam berkaitan dengan masalah takdir. Dalilnya:
1. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-qadar (takdir) [al-Qamar/54:49].
2. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril, yang artinya, “(Iman itu adalah) kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim (no. 8).
3. Ijmak ulama, seperti dinukil oleh Umam An-Nawawi rahimahullah dalam Shahih Muslim 1/155 dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari 11/287. Begitu juga, Ulama-ulama lain yang selalu memasukkan masalah takdir dalam kitab-kitab mereka.
Disebutkan oleh Yahya bin Abdullah Salam bahwa tidak ada di bangsa Arab kecuali mereka menetapkan adanya takdir baik yang baik maupun yang buruk, yang Jahiliyah maupun Islam. Maka, beriman kepada takdir adalah fitrah, hingga kaum Jahiliyyah pun percaya. (Syarah Ushul Itiqad Ahli Sunnah wal Jama'ah 3/538).
Tingkatan Iman kepada Takdir
Tidak dikatakan beriman kepada takdir hingga tidak mengimani empat hal:
1. Al-‘Ilm (Ilmu).
Yaitu, Kita meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global dan terperinci, sebelum terjadi, ketika terjadi dan sesudah terjadi.
Firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]
Hal ini akan menimbulkan rasa takut pada diri kita akan ilmu Allâh terhadap apa yang kita lakukan dan ucapkan, meskipun hanya lirikan mata kita.
2. Al-Kitaabah (Penulisan).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam Shahiihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
‘Allah mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” [HR. Muslim, (VIII/51) ]
3. Al-Masyii-ah (kehendak).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Allah.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak manusia dibawah kehendak Allah ﷻ. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir/81 : 29]
4. Al-Khalq (Penciptaan)
Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar/39 : 62]
Dan firman-Nya:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… .” [Faathir/35 : 3]
Buah Manis Beriman Kepada Takdir
Manfaat kepada takdir sangat banyak, diantaranya:
- Berpahala. Karena Menunaikan ibadah kepada Allah ﷻ.
- Menumbuhkan keberanian dan tawakkal kepada Allah ﷻ. Sehingga tidak akan mempercayai hal-hal yang bersifat khurafat seperti tihyarah (merasa sial karena hewan, angka atau bulan).
- Syukur tatkala mendapatkan nikmat dan sabar tatkala mendapatkan musibah.
- Tidak merasa aman dengan dirinya. Seorang akan khawatir suul khotimah. Karena tidak ada seorang pun tahu akhir hidup kita. Seorang mukmin akan takut dan berharap.
- Dia akan mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagian.
Dialog hati dan bahagia:
Aku bertanya pada bahagia. Bahagia dimana kau berada ?? Bahagia menjawab: "Aku berada pada setiap hati seorang mukmin yang ridha dengan setiap ketentuan Allah."
Apakah kita pasrah kepada takdir?
Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami takdir. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalahan yang nyata. Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah.
Dalam sebuah hadis dari ‘Imran radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ؟
“Wahai Rasulullah, lantas untuk apa orang-orang yang beramal melakukan amalan mereka?” (HR. Bukhari no. 7551)
Pertanyaan semisal kemungkinan tidak ditanyakan sekali oleh para sahabat, sebab ada riwayat lain yang memiliki narasi semisal, seperti datang dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu. Lalu, Rasulullah menjawabnya dengan sebuah kalimat ringkas nan indah,
كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Beliau ﷺ bersabda, “Setiap orang akan dimudahkan (menuju jalan) penciptaannya.”
Tidak Boleh Beralasan dengan Takdir dalam Maksiat
Boleh beralasan takdir dalam hal musibah, tetapi tidak boleh beralasan dengan takdir dalam masalah dosa (maksiat).
Suatu saat ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh kholifah Umar, namun pencuri ini mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena takdir Allah.” Umar pun menjawab, “Dan Kami pun memotong tangan dengan takdir Allah.”
Manusia memiliki kehendak dan akal untuk memilih. Jika berdalih takdir diperbolehkan, maka tidak ada lagi hukuman, syariat, maupun kewajiban.
Maka, hadits ke-9 ini menunjukkan bahwa Takdir seluruh makhluk sudah ditentukan.
Benarlah apa yang dikatakan oleh sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan, hingga kamu menaruh tangan di pipimu adalah takdir.
*****
📖 Hadits ke-10: Berdakwah Kepada Petunjuk
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا».
[صحيح مسلم: 2674]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
[Ṣaḥīḥ Muslim - 2674]
📃 Penjelasan:
Hadits ini berisi kabar gembira dan peringatan:
- Kabar gembira kepada para penyeru kebaikan. Seperti orang yang mengambil manfaat dari postingan kebaikan di media sosial.
- Peringatan bagi siapapun yang mengajak kepada keburukan.
Maka semangatlah dalam mengajarkan kebaikan dan hati-hati terhadap penyeru keburukan.
Anas bin Malik berkata, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu kejelekan, Namun ada juga yang menjadi kunci kejelekan dan penutup pintu kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan melalui kedua tangannya. Dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kejelekan melalui kedua tangannya”. (HR Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)
Beberapa contoh dalam proyek kebaikan
1. Membantu korban bencana.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meringankan salah satu kesusahan hidup dari seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan meringankan salah satu kesusahan hidupnya pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan niscaya Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
2. Membantu janda dan anak yatim.
Hadits yang membicarakan keutamaan membantu para janda yang terlantar disebutkan berikut ini.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ ، يَشُكُّ الْقَعْنَبِىُّ – كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Al-Qa’nabi–yaitu gurunya Imam Bukhari dan Muslim–berkata, aku sangka itu seperti orang yang shalat malam yang tidak pernah merasakan lelah, dan yang berpuasa yang tidak pernah berhenti berpuasa.” (HR. Bukhari, no. 5353 dan Muslim, no. 2982)
3. Membuat lembaga pendidikan.
4. Membantu para penuntut ilmu.
5. Membangun masjid.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
6. Berdakwah dengan lisan dan tulisan.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya. [HR Muslim].”
7. Membagikan makanan dan minuman.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah hubungan kekerabatan, shalatlah di waktu malam saat manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat (H.R Ibnu Majah dari Abdullah bin Sallaam, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
8. Berbuka puasa bersama.
Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائمًا، كانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْر الصَّائمِ شيءٍ رواه الترمذي ( 807 ) وابن ماجه ( 1746 ) وصححه ابن حبان ( 8 / 216 ) والألباني في ” صحيح الجامع ” ( 6415 )
“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.”
(HR. Tirmizi, 807. Ibnu Majah, 1746. Dan dishohehkan oleh Ibnu Hibban, 8/216. Dan oleh Al-Bany di shoheh Al-Jami’, 6415).
Bekal Penting untuk Menjadi Pemegang Kunci Kebaikan
1. Ikhlas karena Allah ﷻ.
Karena salah satu syarat diterimanya amal adalah ikhlas karena Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Insan Ayat 9:
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا ٩
(Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).
2. Bekerja sama dengan Orang lain
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma'idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ٢
"Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya."
3. Akhlak yang Mulia
Akhlak mulia adalah fondasi utama dan sarana paling efektif dalam berdakwah. Dakwah dengan keteladanan—seperti kejujuran, kelembutan, dan kerendahan hati—seringkali lebih menyentuh hati dan membuka hidayah dibandingkan sekadar retorika atau perdebatan.
Dan pesan Nabi : (وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ) artinya adalah "dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (terpuji)". Kutipan ini merupakan bagian ketiga dari hadits populer (Hadits Arba'in ke-18) yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari dan Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu’anhu.
4. Memiliki ilmu agama
Inilah lentera yang menerangi proyek kebaikan yang membedakan dengan ahli bid'ah. Maka, do'a yang diajarkan Nabi ﷺ setiap pagi:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪ ᴀꜱ-ᴀʟᴜᴋᴀ ‘ɪʟᴍᴀɴ ɴᴀᴀꜰɪ’ᴀ ᴡᴀ ʀɪᴢQᴏɴ ᴛʜᴏʏʏɪʙᴀᴀ ᴡᴀ ‘ᴀᴍᴀʟᴀɴ ᴍᴜᴛᴀQᴏʙʙᴀʟᴀᴀ
“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” [HR. Ibnu Majah no 295]
Dalam do'a ini ilmu didahulukan daripada rizki dan amalan, karena kita tidak bisa membedakan rizki yang halal dan haram, serta amalan yang sunnah atau bid'ah tanpa dilandasi dengan ilmu.
5. Semangat, sabar dan Do'a
Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Nabi ﷺ :
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. (HR. Muslim no. 47).
📖 Hadits ke-11: Keutamaan Memahami Agama
Dari Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Hadits ini shahih. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (71) dan Muslim (1037, 98).
📃 Penjelasan:
Perawi Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiallahu’anhu adalah sahabat yang banyak dizalimi oleh lisan-lisan yang jahil akan sejarah. Padahal beliau adalah salah satu penulis wahyu Nabi ﷺ. Beliau adalah sosok pemimpin yang berjasa besar dalam perluasan wilayah Islam dan pembentukan angkatan laut pertama, namun kerap dituduh sebagai sosok yang haus kekuasaan.
Syarah:
- Kata man من di sini mencakup umum, siapa saja pria, wanita, tua muda, dan siapapun masuk dalam hadits ini.
- Dikehendaki : masuk dalam kategori Iradah Syar'iyyah. Yang bermakna cinta.
- Kebaikan disini bentuknya nakirah, yaitu umum. Baik masalah kebaikan dunia maupun akhirat.
Addin (Agama) dalam hal ini adalah ilmu dan amal. Karena tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan.
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: Ilmu itu untuk diamalkan dan kita mengamalkan ilmu untuk bekal kampung yang abadi yaitu akhirat.
Jadi hadits ini tanda kebaikan bagi seseorang dunia maupun akhirat, maka dia akan dimudahkan dalam kepahaman dalam agama dan mengamalkannya.
Hadits ini secara tersirat menunjukkan bahwa barang siapa berpaling dari ilmu-ilmu tersebut secara keseluruhan, hal itu sebagai pertanda bahwa Allah ﷻ tidak menginginkan kebaikan untuknya, karena dia terhalang dari sebab-sebab untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan.
Dan ini adalah salah satu dalil dari keutamaan menuntut ilmu. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sekitar 150 dalil tentang keutamaan menuntut ilmu.
Selain itu, menuntut ilmu adalah jalan menuju surga. Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Ilmu adalah warisan para nabi
Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu. Baka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Penuntut Ilmu Didoakan Penduduk Langit dan Bumi
Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”.
Dua jenis ilmu:
- Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Alqur'an dan Sunnah serta yang diamalkan.
- Ilmu yang tidak bermanfaat adalah yang tidak bersumber dari alquran dan Sunnah atau yang tidak diamalkan.
Imam Syafi’i memiliki nasehat berharga di mana beliau berkata,
العلم ما نفع، ليس العلم ما حفظ
“Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89).
Tanda ilmu yang bermanfaat
1. Semakin takut kepada Allah ﷻ
2. Mengamalkan ilmunya.
3. Menjadikan kita ingat akhirat.
4. Menjadikan akhlak semakin baik.
Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kita semuanya untuk memiliki ilmu yang bermanfaat.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم