Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Islam
Kisah Ashhabul Ukhdud

Dari Shuhaib ar-Rumi Radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, 'Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku sudah dekat. Karena itu utuslah kepadaku seorang anak muda biar kuajarkan kepadanya sihir.'

Maka diutuslah seorang pemuda yang akhirnya belajar sihir dengan orang tersebut. Ketika dalam perjalanan menuju rumah tukang sihir dari rumah raja ia melewati rumah seorang rahib (pendeta). Pemuda tersebut mendatangi sang rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Sang pemuda begitu kagum dengan perkataan rahib tersebut. Setiap kali ia akan ke rumah tukang sihir ia mampir terlebih dahulu ke rumah rahib, untuk berbincang-bincang.

Suatu ketika, begitu ia sampai di rumah sang tukang sihir - karena terlambat serta merta ia dipukul. Kemudian ia mengadukan pada rahib. Sang rahib berkata, 'Jika engkau ditanya sebab keterlambatanmu dan takut dipukul tukang sihir, katakan saja padanya, 'Aku terlambat karena urusan keluargaku.' Dan jika kamu khawatir dengan keluargamu, maka katakanlah, 'Aku terlambat karena belajar dengan tukang sihir.'

Suatu kali ia menyaksikan binatang besar yang menakutkan dan menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak bisa lewat. Maka sang pemuda berkata, 'Saat ini aku akan mengetahui apakah perintah tukang sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib.' Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, 'Ya Allah, jika perintah rahib lebih Engkau cintai dan ridhai dari pada tukang sihir maka matikanlah binatang ini, sehingga manusia dapat melewati jalan ini.'

Lalu ia melemparkannya dan binatang itupun mati kemudian ia pergi. Maka ia beritahukan hal itu kepada rahib. Lalu sang rahib berkata, 'Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku, telah sampai suatu urusan sebagaimana yang aku saksikan dan kelak engkau akan diuji. Pada saat engkau diuji, ketika itu jangan tunjukkan siapa diriku dan keberadaanku.'

Selanjutnya pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya.

Alkisah ada pejabat raja yang buta. Ia mendengar tentang pemuda yang mampu mengobati berbagai penyakit. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, 'Sembuhkan aku dan kau boleh memiliki ini semua.' Pemuda itu menjawab, 'Aku tidak bisa menyembuhkan orang. Yang bisa menyembuhkan adalah Allah ﷻ. Jika anda beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepadaNya, Insya Allah Dia akan menyembuhkanmu.' Ia lalu beriman kepada Allah dan sembuh.

Kemudian ia datang menghadap raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. Sang raja bertanya, 'Siapa yang Menyembuhkan penglihatanmu?' Ia menjawab, 'Tuhanku!' Raja bertanya 'Apakah engkau mempunyai Tuhan selain aku?' Ia menjawab 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.'

Sang raja terus menerus menyiksanya, sehingga akhirnya ia menunjukkan kepada seorang pemuda yang mengajarinya. Pemuda itupun didatangkan. Sang raja berkata, 'Wahai anakku, sihirnya telah mampu menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya." Sang pemuda menangkis, 'Aku tidak mampu menyembuhkan seorangpun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah ﷻ.'

Raja pun menyiksa pemuda tersebut tanpa henti, sehingga dengan terpaksa ia memberitahukan tentang rahib. Kemudian sang rahib didatangkan, dan Raja berkata, 'Kembalilah kepada ajaran agamamu semula!' Namun ia menolak. Lalu raja meminta ajudan untuk mengambil gergaji. Kemudian gergaji itu diletakkan di tengah-tengah kepalanya, dan kepala rahib pun terbelah menjadi dua.

Kemudian pejabat kerajaan yang dulu buta dipanggil agar menghadap raja lalu dikatakan, 'Kembalilah kepada agamamu semula!' Ia menolak. Lalu ditengah kepalanya diletakkan gergaji dan dibelah menjadi dua.

Tiba giliran sang pemuda, kepadanya juga dikatakan, 'Kembalilah kepada agamamu semula!' Ia menolak. Lalu ia menyerahkannya kepada beberapa orang. Sang raja berkata, 'Bawalah ia ke gunung ini dan itu, sesampainya kalian di puncak gunung, kalau ia mau kembali kepada agamanya semula, maka lepaskanlah tetapi jika tidak maka lemparkan ke dalam jurang.'

Mereka pun berangkat dengan membawa pemuda tersebut ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdoa, 'Ya Allah, jagalah diriku dari tipu daya mereka, sesuai dengan kehendakMu.'

Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga mereka tergelincir dan selamatlah sang pemuda hingga kemudian dia pergi menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?' Pemuda menjawab, 'Allah menjagaku dari mereka.'

Sang raja kembali mengirimnya dengan beberapa pengawal dalam sebuah perahu kecil. Raja berkata, 'Jika kalian berada di tengah lautan, biarkan dia jika mau kembali kepada agama semula, jika tidak, lemparkanlah ia ke dalam lautan.'

Kemudian mereka berangkat, dan sesampainya di laut sang pemuda berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu.'

Perahu pun terbalik dan mereka semua tenggelam, sementara sang pemuda dapat datang lagi menghadap raja. Sang raja heran dan bertanya, 'Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?' Pemuda menjawab, 'Allah menjagaku dari mereka.'

Lalu sang pemuda berkata, "Wahai raja, engkau tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan.' Raja penasaran, 'Apa perintahmu?' Sang pemuda menjawab, 'Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku pada sebatang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari sarung panahku, dan letakkan di dadaku lalu ucapkan Bismillahi Robbil Ghulam (dengan nama Allah Tuhan sang pemuda), dan panahlah aku. Jika engkau berkenan melaksanakan perintahku berarti engkau berhasil membunuhku.

Maka raja mengumpulkan orang-orang di sebuah padang yang luas, dan menyalibnya pada sebatang pohon, dan mengambil panah dari sarung panahnya, kemudian meletakkannya di dadanya lalu mengucapkan, 'Bismillahi Rabbil Ghulam,' kemudian memanahnya tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang terkena panah lalu meninggal.

Menyaksikan tragedi ini maka orang-orang berkata, 'Amanna Birabbil Ghulam,' (Kami beriman kepada Tuhan pemuda tersebut, kami beriman kepada Tuhan pemuda tersebut, kami beriman kepada Tuhan pemuda tersebut).'

Lalu seseorang datang menghadap raja dan berkata, 'Tahukah Anda, sesuatu yang saat ini anda takutkan? Kini sesuatu yang sangat engkau takutkan itu telah tiba, semua orang telah beriman!'

Kemudian raja memerintahkan untuk membuat parit-parit (Ukhdud) di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Sang raja bertitah, 'Siapa yang menolak kembali kepada agamanya semula bakarlah atau lemparkanlah ke dalam parit.'

Para ajudan pun melaksanakan perintah raja. Hingga kemudian tiba giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya ibu tersebut enggan untuk terjun ke dalam bara api. Tiba-tiba saja sang bayi berkata, "Bersabarlah wahai Ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam jalan yang benar'.

📖 HR. Muslim, 3005; Ahmad, 6/16; at-Tirmidzi, 3340.

۞ PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:

  1. Zaman dulu para raja atau penguasa biasa menggunakan sihir dan dukun untuk kemaslahatan pribadinya.
  2. Pada hakikatnya sihir itu ada dan mempunyai dasar serta kaidah.
  3. Diperbolehkan bohong saat peperangan atau yang sejenisnya dalam rangka menyelamatkan jiwa.
  4. Teguh dalam keyakinan dan kebenaran.
  5. Ahlus Sunnah wal Jamaah mempercayai adanya karamah para wali.
  6. Diijabahnya do'a seorang mukmin yang shalih.
  7. Orang mukmin senantiasa mendapat cobaan. Dan musuh selalu berusaha menguasai mereka dengan melancarkan berbagai celaan.
  8. Pengorbanan jiwa dalam perang fi sabilillah tidak sama dengan bunuh diri.
  9. Gencarnya serangan yang dilancarkan orang-orang kafir terhadap orang mukmin.
  10. Allah senantiasa menjaga dan melindungi orang mukmin, sebaliknya Dia selalu menghinakan orang-orang kafir.
  11. Kewajiban untuk senantiasa bersabar dan tegar menghadapi siksaan musuh.
  12. Keutamaan berdakwah di jalan Allah. Dan seorang dai akan selalu rela dalam mengorbankan hartanya yang termahal sekalipun untuk kelancaran dakwahnya.

Disadur dari: 61 Kisah Pengantar Tidur - Diriwayatkan secara Shahih oleh Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat Karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Penerbit: Darul Haq.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم