Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 24 Rajab 1447 / 13 Januari 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.




 [التَّمسُّكُ بالكِتابِ والسُّنَّةِ]

Berpegang Teguh pada Kitab dan Sunnah

               ١-  تمسك بحبلِ الله واتبعِ الهُدى .. ولا تكُ بدعيا لعلك تُفلحُ 

1. Berpegang teguhlah pada tali Allah dan ikutilah petunjuk, dan jangan menjadi pengikut ahli bid’ah, agar kamu bahagia

Syarah:

Penulis - semoga Allah merahmatinya - memulai nadhamnya dengan mengatakan: (Berpegang teguhlah pada tali Allah): artinya: Wahai Muslim, berpegang teguhlah pada tali Allah, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, dengan mengambil dari firman Allah Yang Maha Kuasa:

وَأَعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اَللهِ جَمِيعًا وَلَا تَغَرَّقُوأْ

“Dan berpegang teguhlah pada tali Allah, kalian semua, dan janganlah kalian bercerai berai” [Al Imran: 103], dan dari firman-Nya,

 فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat. [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676 dan lainnya dari sahabat Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu].

Ayat ini diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah, dan tali Allah adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah, atau dengan kata lain, kita katakan: Tali Allah adalah wahyu-Nya yang Dia turunkan. sampai kepada Rasul-Nya, baik itu Al-Qur'an maupun Sunnah.

Perkataannya: تَمَسَّكْ بِحَبْلِ اللهِ  (Berpegang teguhlah pada tali Allah): artinya: berpegang teguhlah padanya, sebagaimana firman Allah Yang Maha Kuasa: وَأَعْتَصِمُوا يِحَبْلِ اللهِ {Dan berpegang teguhlah pada tali Allah}. Dan Nabi, seandainya bukan karena beliau, akan berkata:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ.

Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara untuk kalian, dan membenci tiga perkara untuk kalian; maka untuk kalian, Dia ridha kalian menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan agar kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah belah, dan agar kalian saling memberikan nasihat (taat) kepada orang yang Allah jadikan dia sebagai pengurus urusan kalian (waliyul amr, umara`). ( Diriwayatkan oleh Muslim (10) (1715) dari hadits Abu Hurairah, semoga Allah meridainya).

Ketiga hal ini termasuk berpegang teguh pada tali Allah; karena hal itu melindungi dari perpecahan dan perselisihan. Perselisihan dan perpecahan hanya terjadi karena kurangnya ketaatan pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya; seperti perpecahan di antara Ahli Kitab, meskipun Allah menurunkan Taurat dan Injil kepada mereka, tetapi ketika mereka tidak berpegang teguh pada tali Allah mereka menjadi terpecah belah dan berselisih. Itulah sebabnya Dia berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ 

Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang sangat berat. [Al Imran: 105] Inilah jalan orang-orang Ahli Kitab; mereka meninggalkan Kitab Allah mereka dan kemudian terpecah belah.

Ini adalah akibat yang tak terhindarkan bagi siapa pun yang tidak mengambil agama dan akidahnya dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Hasilnya adalah perpecahan dan ketidakbersatuan. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

وَاِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ. فَتَقَطَّعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًاۗ كُلُّ حِزْبٍ ۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Akulah Allahmu. Maka, bertakwalah kepada-Ku. Lalu mereka (para pengikut rasul) terpecah belah dalam urusan (agama)-nya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing). [Al-Mu'minun: 52-53].

Setiap kelompok telah menciptakan doktrin dan metodologinya sendiri, berbeda dari yang lain. Dengan demikian, timbul cobaan besar dan banyak kejahatan, tanpa ada yang melindungi mereka. Tidak ada cara untuk mencapai hal ini kecuali dengan berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan terutama pada dasar dan landasannya, yaitu keyakinan yang dengannya Allah mempersatukan manusia. Sebagaimana firman Allah Yang Maha Agung:

وَاِنْ يُّرِيْدُوْٓا اَنْ يَّخْدَعُوْكَ فَاِنَّ حَسْبَكَ اللّٰهُۗ هُوَ الَّذِيْٓ اَيَّدَكَ بِنَصْرِهٖ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَۙ . وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Jika mereka hendak menipumu, sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu. Dialah yang memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin. Dia (Allah) mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Seandainya engkau (Nabi Muhammad) menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. [QS. Al-Anfal ayat 61-62].

Jadi, banyaknya pemberian dan kekayaan tidak mempersatukan hati. Sebaliknya, hal itu justru meningkatkan kebencian dan permusuhan. Berapa pun uang yang Anda belanjakan, Anda tidak akan mempersatukan hati. Sebaliknya, yang mempersatukan hati adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Dan Allah ﷻ telah memperingatkan kita tentang apa yang terjadi pada umat terdahulu ketika mereka terpecah belah setelah datangnya bukti-bukti yang jelas kepada mereka.

Allah Yang Maha Agung berfirman:

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُۗ 

Tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahlulkitab, melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. [Al-Bayyinah: 4]

Mereka tidak mempunyai alasan. Karena Allah telah menjelaskannya kepada mereka, tetapi mereka mengabaikan bukti yang jelas ini dan terpecah belah. Allah Yang Maha Agung berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang terpecah belah dan berselisih setelah datangnya bukti-bukti yang jelas kepada mereka.” [Al-Imran: 105].

Dan Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةًۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ 

Manusia itu (dahulunya) umat yang satu (dalam ketauhidan). (Setelah timbul perselisihan,) lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidak ada yang berselisih tentangnya, kecuali orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). [Al-Baqarah: 213]

Dan karena alasan ini, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam biasa mengucapkan doanya di malam hari ketika beliau hendak shalat:

اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مِ

Ya Allah! Allah Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Zat Yang mengetahui perkara gaib dan tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh Muslim (200) (770) dari hadits Aisyah, semoga Allah meridainya.) Ini adalah doa agung yang dengannya Allah melindungi Muslim dari hawa nafsu, fitnah, dan keburukan.

Kemudian penulis, semoga Allah Yang Maha Kuasa merahmatinya, berkata: (وَانَبعِ الهُدَى) (Dan petunjuk pun mengalir): dan petunjuk itu adalah petunjuk yang dibawa Muhammad. Sebagaimana firman Allah Yang Maha Kuasa:

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ 

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. [At-Taubah: 33]

Petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, dan agama yang benar adalah amal saleh.

Maka, Nabi selalu berdo’a:

اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا، ورِزقًا طيِّبًا، وعَملًا مُتقَبَّلًا

“ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA ‘ILMAN NAFI’AN WA RIZQAN THAYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN.”

 “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

Dan kita membaca di akhir Al-Fatihah:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan jalan orang-orang yang sesat.” [Al-Fatihah: 2] 6-7]

  • Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah: Mereka adalah orang-orang yang menggabungkan ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh.
  • Orang-orang yang ditimpa murka Allah: Mereka adalah orang-orang yang memperoleh ilmu tetapi mengabaikan amal. Seperti kaum Yahudi.
  • Orang-orang yang sesat: Mereka adalah orang-orang yang berbuat amalan tetapi mengabaikan ilmu, seperti kaum Sufi dan orang-orang yang beribadah tanpa pengetahuan [Nasrani].

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم