بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃ Materi : Sirah Nabawiyah - Perang Hunain [Kitab "Arrahiq Al Makhtum" - Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubaraktury رحمه الله تعالى]
🎙┃ Pemateri : Ustadz Iqbal Muammar hafizhahullah.
🗓┃ Hari/Tanggal : Ahad, 18 Januari 2026 M / 29 Rajab 1447 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
Perang Hunain juga merupakan salah satu perang yang diabadikan oleh al-Qur`an dalam surat At-Taubah.
Sebagian mufassirin menyebut bahwa surat At-Taubah masih gandeng dengan surat Al-Anfal, maka tidak ada basmalah. Dan surat Al-Anfal mengabadikan perang Badar. Maka, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebut perang Badar hingga Hunain.
Dalam surat Al-Anfal isinya tentang kemenangan dan kejayaan, sementara dalam surat At-Taubah menyebut kesedihan, kekalahan di Hunain dan kemunafikan, bahkan surat ini diawali dengan Allah ﷻ dan Rasul-Nya berlepas diri:
بَرَاۤءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ
Maka, kita sebagai penuntut ilmu hendaklah mencontoh Rasulullah ﷺ sebagai orang yang paling takwa, karena beristighfar yang paling banyak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud, bukan setiap hari, tetapi setiap majelis. Maka, jika ada 3 majelis, istighfar beliau lebih dari 300 kali.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 24:
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
Qul ing kāna ābā`ukum wa abnā`ukum wa ikhwānukum wa azwājukum wa 'asyīratukum wa amwāluniqtaraftumụhā wa tijāratun takhsyauna kasādahā wa masākinu tarḍaunahā aḥabba ilaikum minallāhi wa rasụlihī wa jihādin fī sabīlihī fa tarabbaṣụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Imam Ibnul asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir, menyebutkan bahwa manusia tidak akan lepas dari 8 hal yang disebut dalam ayat di atas.
Jika 8 hal ini lebih dicintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan ini tidak lepas dari tipu daya iblis.
Imam Ibnu Abid Dunya (Ibn Abi ad-Dunya) memiliki kitab "Makaayid asy-Syaithaan" (Tipu Daya Setan), Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memiliki kitab berjudul Ighatsatul Lahfan min Masha-yidisy Shaytan (إغاثة اللهفان من مصائد الشيطان) dan Imam Ibnul Jauzi memiliki "Talbis Iblis" (Penipuan Iblis), semuanya membahas mengenai program tipu daya syaitan.
Karena 10 generasi awal, semenjak penciptaan Adam tidak ada kesyirikan, dan timbul setelah zaman Nabi Nuh alaihissalam.
Diantara tipu daya syaitan adalah merubah nama-nama dosa dan menghiasinya dengan nama yang menarik. Seperti judi dahulu dinamakan kismah (sumbangan), bahkan merubah ciptaan Allah ﷻ dengan operasi plastik.
Demikian juga umat Islam digoda pada perang Hunain. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
Allâh telah menolong kalian dalam banyak kesempatan. Dan ingatlah ketika perang Hunain, saat kalian merasa takjub dengan banyaknya jumlah kalian. Akan tetapi itu tidak berguna sedikitpun bagi kalian, sehingga bumi terasa sempit bagi kalian dan kalian lari tunggang-langgang. [at-Taubah/9:25].
Setelah kota Mekah takluk di tangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ternyata masih ada sejumlah kabilah Arab yang belum menyerah, seperti Bani Tsaqîf, Hawazin, dan sejumlah kabilah lainnya. Semua kabilah tadi akhirnya bersatu untuk melawan kaum Muslimin, sembari mengerahkan anak-anak, kaum wanita, dan harta benda mereka.
Tak lama berselang, ada seorang penunggang kuda menghampiri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Aku habis melewati bukit ini dan itu, dan tiba-tiba kudapati Bani Hawazin mengerahkan seluruh personel mereka termasuk anak-anak, kaum wanita, dan ternak mereka, lalu berkumpul di Hunain,” [nama sebuah lembah yang berjarak 26 Km di sebelah timur Mekah. Saat ini lokasi tersebut dikenal dengan nama (الشَّرَائِع)].
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum mendengar berita tersebut, dan menimpali, “Itulah ghanimah kaum Muslimin besok, insya Allâh Azza wa Jalla.” [HR Abu Dawud, no. 2503 dan dishahihkan oleh al-Albani].
Begitu mendengar gerakan mereka, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengutus Abdullah bin Abi Hadrad al- Aslami untuk klarifikasi berita tersebut. Setelah nyata kebenaran berita dan maksud mereka maka Rasûlullâh bersiap-siap untuk perang.
Melihat jumlah pasukan kaum Muslimin yang banyak saat itu, ada seseorang yang berkomentar, “Kita tidak akan kalah hari ini karena kekurangan pasukan”.[1] Memang, 12 ribu personel merupakan jumlah yang spektakuler dan belum pernah ada dalam perang-perang sebelumnya.
[1] Akan tetapi riwayat ini sanadnya dha’if walaupun cukup terkenal dalam sejarah. Bahkan dalam Sirah Ibnu Hisyam ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa yang mengucapkan kata-kata tadi adalah Rasulullah sendiri. Ini jelas riwayat batil yang kontradiksi dengan apa yang kita kenal dari pribadi Rasulullah yang demikian kuat tawakkalnya kepada Allah. Lihat Marwiyyat Ghazwati Hunain 1/113-114 dan 136-137.
Sifat ujub inilah yang menjadi penyebab utama hampir kalahnya kaum muslimin. Karena kemenangan peperangan adalah dari Allah ﷻ bukan usaha manusia.
Maka, jangan bangga dengan jumlah. Dalam Islam tidak mengenal elektabilitas atau keahlian berperang. Tetapi kemenangan karena iman dan taqwa dan kekalahan musuh karena maksiat mereka. Inilah nasehat indah dari Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu saat memimpin perang.
Inilah salah satu hikmah hampir kalahnya kaum muslimin pada perang Hunain, sebagai bahan ibrah bagi kita.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم