Bismillah
Daftar Isi:
Menjaga Semangat Ibadah Pasca-Ramadan dan Pengantar Kitab Bulughul Maram
Bertemu dengan bulan Ramadan merupakan tanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesempatan besar kepada kita untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala, menggapai surga, serta meraih ampunan-Nya (maghfirah). Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata:
قَيِّدُوا نِعَمَ اللهِ بِالشُّكْرِ
Qayyidū ni’amallāhi bisy-syukr.
"Ikatlah nikmat-nikmat Allah itu dengan bersyukur."
Para ulama menyebut syukur sebagai hāfiz (penjaga), sebab bersyukur dapat menjaga nikmat-nikmat yang ada agar tidak hilang atau dicabut oleh Allah Subhanahu wa Ta me masa Ta'ala.
Kewajiban Pasca-Ramadan
Setidaknya ada tiga kewajiban utama yang harus kita perhatikan setelah berpisah dengan bulan Ramadan:
- Banyak Berdoa agar Amal Diterima
Kita perlu terus memohon agar Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan menerima seluruh amal ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan, meskipun kita menyadari bahwa amal tersebut sangat sedikit dan tidak sebanding dengan melimpahnya nikmat yang telah diberikan-Nya.
Dahulu para sahabat Nabi dan ulama salaf usai melaksanakan salat Idulfitri saling mendoakan:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Taqabbalallāhu minnā wa minkum.
"Semoga Allah menerima amal ibadah dari kami dan dari kalian."
Seorang muslim hendaknya berada di antara dua rasa: rajā’ (berharap amalnya diterima) dan khauf (khawatir amalnya tertolak). Ini adalah cermin sifat mukmin sejati. Sifat ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim alaihis-salām dan Nabi Ismail alaihis-salām. Setelah membangun Ka'bah—sebuah amalan yang sangat mulia—mereka tidak serta-merta merasa pasti amalnya diterima, melainkan berdoa sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 127:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Rabbanā taqabbal minnā innaka antas-samī’ul-’alīm.
"Ya Tuhan kami, terimalah (amalan) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)
Diterimanya amal ibadah merupakan anugerah yang sangat besar, bahkan lebih berharga daripada dunia beserta isinya. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma pernah menyatakan:
"Andaikan aku tahu ada satu amal ibadahku—baik salat maupun puasa—yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka itu jauh lebih aku cintai daripada dunia dan isinya."
Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surat Al-Ma'idah ayat 27:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn.
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma'idah: 27)
- Istiqamah dalam Ketaatan
Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak sebatas di bulan Ramadan saja. Batas akhir (finish) beribadah bukanlah tanggal 1 Syawal, melainkan kematian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hijr ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Wa’bud rabbaka hattā ya’tiyakal-yaqīn.
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal/kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Para ulama menafsirkan al-yaqīn dalam ayat tersebut sebagai al-maut (kematian). Perintah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beribadah hingga akhir hayat ini juga berlaku bagi seluruh umatnya. Rabb yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Rabb yang sama yang kita sembah di bulan-bulan lainnya.
- Istikamah Menuntut Ilmu Agama
Menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat utama karena ilmu adalah sumber dari segala kebaikan di dunia dan akhirat. Rabī’ah ar-Ra’yi rahimahullah (guru Imam Malik) pernah menyatakan:
الْعِلْمُ وَسِيلَةٌ إِلَى كُلِّ فَضِيلَةٍ
Al-’ilmu wasīlatun ilā kulli fadhīlah.
"Ilmu adalah sarana menuju setiap keutamaan."
Apapun status, gelar, dan profesi kita, meluangkan waktu untuk belajar ilmu agama adalah kewajiban agar kita tidak menjadi hamba yang bodoh (jahil). Tanpa ilmu agama, manusia tidak dapat beribadah dengan benar. Padahal, tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Az-Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budūn.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)
Sufyan bin Uyainah rahimahullah pernah menjelaskan bahwa tujuan menuntut ilmu adalah agar kita dapat bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Tips Menjaga Semangat Menuntut Ilmu
Guna menjaga konsistensi (istikamah) belajar setelah masa liburan, beberapa langkah berikut perlu diterapkan:
- Memperbaiki dan Meluruskan Niat
Menuntut ilmu adalah ibadah, dan ibadah tidak akan diterima kecuali dilakukan secara ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Ahmad rahimahullah berkata:
الْعِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ
Al-’ilmu lā ya’diluhū syai’un liman shahhat niyyatuh.
"Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apa pun bagi orang yang niatnya benar."
Imam Malik rahimahullah juga menegaskan bahwa segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah akan bertahan lama (mā kāna lillāhi baqiya).
- Memperbanyak Doa Memohon Ilmu Berbermanfaat
Ilmu adalah anugerah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
سَلُوا اللهَ عِلْمًا نَافِعًا
Salullāha ‘ilman nāfi’ā.
"Memohonlah kalian kepada Allah ilmu yang bermanfaat." (HR. Ibn Majah no. 3843, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala secara khusus memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu melalui doa dalam Surat Taha ayat 114:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Wa qur rabbi zidnī ‘ilmā.
"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Taha: 114)
Waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa antara lain saat bersujud, ketika azan dikumandangkan, serta saat hujan turun.
- Mengingat Keutamaan Menuntut Ilmu
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Miftāh Dāris-Sa’ādah mencantumkan lebih dari 150 keutamaan menuntut ilmu. Di antaranya:
- Jalan menuju surga:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Man salaka tharīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhallāhu lahū bihī tharīqan ilal-jannah.
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim no. 2699)
-
- Tanda kebaikan dari Allah:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Man yuridillāhu bihī khairay yufaqqih-hu fid-dīn.
"Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam agama." (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
-
- Ilmu adalah warisan para nabi:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَوِّرِثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
Wa innal-’ulamā’a waratsatul-anbiyā’, wa innal-anbiyā’a lam yuwarritsū dīnāran wa lā dirhamā, wa innamā warratsul-’ilm.
"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu." (HR. Abu Daud no. 3641, Tirmidzi no. 2682, dinilai shahih oleh Al-Albani)
-
- Didoakan oleh seluruh makhluk di langit dan di bumi:
وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ
Wa innal-’ālima layastaghfiru lahū man fis-samāwāti wa man fil-ardhi hattal-hītānu fil-mā’.
"Sesungguhnya seorang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan-ikan di dalam air." (HR. Abu Daud no. 3641)
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan rahasia mengapa hewan hingga ikan memohonkan ampunan bagi penuntut ilmu: sebab penuntut ilmu mengajarkan kebaikan kepada seluruh makhluk, termasuk larangan menzalimi hewan dan lingkungan. Balasan yang diterima sesuai dengan jenis amalan yang dilakukan (al-jazā'u min jinsil-'amal).
-
- Bersabar dalam Proses Belajar
Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran dalam meluangkan waktu, menyimak penjelasan, fokus memahami materi, mencatat faedah, menghafal, mengulang (murāja'ah), serta menyebarkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
Qayyidul-’ilma bil-kitāb.
"Ikatlah ilmu itu dengan tulisan." (HR. Al-Hakim, dinilai shahih oleh Al-Albani)
- Mencari Teman Gaul yang Saleh
Pengaruh teman sangat besar terhadap keistikamahan seseorang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Ar-rajulu ‘alā dīni khalīlihī falyandzhur ahadukum may yukhālil.
"Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Yahya bin Mu'adz rahimahullah pernah menyampaikan bahwa sebaik-baik teman adalah yang senantiasa mengajak pada kebaikan, seperti ajakan untuk salat, berpuasa, dan menuntut ilmu agama.
*****
Pengantar Kajian Kitab Bulughul Maram
Setelah menyelesaikan pembahasan kitab ‘Umdatul Ahkām karya Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah, kita akan melanjutkan kajian fikih ke jenjang berikutnya, yaitu kitab Bulūghul Marām min Adillatil Ahkām karya Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah.
- Biografi Ringkas Penulis
- Nama Lengkap: Kunyah beliau adalah Abul Fadhl, dengan nama lengkap Ahmad bin Ali al-Kinani al-Asqalani (dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al-Asqalani).
- Kelahiran dan Masa Kecil: Beliau lahir di Kairo, Mesir pada bulan Syakban tahun 773 H. Beliau tumbuh sebagai seorang anak yatim piatu setelah kedua orang tuanya wafat saat beliau masih kecil, lalu diasuh oleh saudarinya.
- Perjalanan Tuntut Ilmu: Beliau dikenal sangat cerdas, menghafal Al-Qur'an dan hadis sejak kecil, serta aktif melakukan rihlah (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu. Beliau berguru kepada lebih dari 630 ulama, di antaranya Al-Hafiz Al-Iraqi, Al-Haitami, Al-Bulqini, dan Ibnul Mulaqqin.
- Karya Monumental: Beliau menulis sekitar 300 judul kitab. Karya paling fenomenal di antaranya adalah Fathul Bārī (Syarah Sahih Bukhari), Al-Isābah fī Tamyīzis-Shahābah, serta Bulūghul Marām.
- Wafat: Beliau wafat pada hari Sabtu, 18 Zulhijah tahun 852 H.
- Keistimewaan Kitab Bulughul Maram
Secara historis, kitab ini awalnya disusun oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar khusus untuk putranya yang bernama Muhammad agar dihafal dan dipelajari. Meskipun sang putra hanya menghafal sebagian, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kitab ini sangat berkah dan dimanfaatkan oleh umat muslim serta penuntut ilmu di seluruh dunia hingga saat ini.
Beberapa keistimewaan utama kitab Bulūghul Marām:
- Sistematis: Disusun secara rapi mengikuti urutan bab fikih (diawali bab bersuci/thahārah, salat, zakat, puasa, haji, jual beli, dan seterusnya).
- Memuat Banyak Hadis: Berisi sekitar 1.577 hadis hukum fikih.
- Cakupan Riwayat Luas: Tidak terbatas pada riwayat Imam Bukhari dan Muslim saja, melainkan mencakup riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibn Majah, Al-Hakim, At-Thabarani, Ad-Daruqutni, dan lainnya.
- Ringkas dan Praktis: Ditiadakan jalur sanad panjang dan hanya menyantumkan perawi dari tingkatan sahabat serta mukharrij hadisnya, sehingga memudahkan penuntut ilmu untuk fokus memahami isi hukum dan mengamalkannya.
- Mendapat Perhatian Luas Para Ulama: Banyak disyarah oleh para ulama terkemuka, seperti kitab Subulussalām karya Imam Ash-Shan'ani, Taisīrul Ahkām karya Syekh Abdullah Al-Bassam, Minhatul 'Allām karya Syekh Abdullah Al-Fauzan, serta Fathu Dzil Jalāli wal Ikrām karya Syekh Ibnu Utsaimin.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mengaruniakan ilmu yang bermanfaat dan memberikan keistikamahan kepada kita untuk terus berada di jalan menuntut ilmu (thalabul 'ilmi) hingga akhir hayat.