Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Bismillah

‎Menjadi Sebab Terbukanya Pintu-Pintu Kebaikan #1
Risalah dari Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahumullah
 
🎙️ Pemateri :  Ustadz Abu Ubaid Rizqi, BA, M.Pd Hafidzahullah
▪️ Alumnus LIPIA Jakarta
▪️ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
‎🗓️ Hari & Tanggal :  Jumat, 2 Oktober 2026 | Ba'da Magrib - Isya
‎🕌 Tempat :  Masjid Ar Rahman Surakarta 

Menjadi Kunci Terbukanya Pintu Kebaikan dan Tertutupnya Pintu Keburukan

 1. Manusia yang Menjadi Kunci Kebaikan dan Kunci Keburukan

Ketika kebaikan-kebaikan tersebut terwujud dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, pada saat yang sama keburukan pun akan tertutup. Inilah karakter sebagian manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang pertama.

Namun, Rasulullah ﷺ juga menyebutkan adanya golongan manusia yang justru menjadi kunci terbukanya keburukan dan tertutupnya kebaikan.

Ada orang yang kehadirannya membuat orang-orang di sekitarnya bersemangat melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Bahkan, sebelum orang tersebut berbicara atau mengajak kepada sesuatu, kehadirannya saja sudah memberikan dorongan kepada orang lain untuk melakukan keburukan.

Sebaliknya, ada orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa segan melakukan kemaksiatan. Belum mengatakan apa-apa, belum memberikan nasihat, tetapi orang-orang di sekitarnya sudah merasa tidak enak apabila hendak melakukan keburukan.

Inilah orang yang menjadi kunci tertutupnya keburukan sekaligus terbukanya kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مِفْتَاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مِفْتَاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

"Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci kebaikan melalui kedua tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci keburukan melalui kedua tangannya." (HR. Ibnu Majah (no. 237) serta beberapa perawi hadits lainnya, dan dinilai hasan (baik) oleh Syaikh Al-Albani)

Betapa beruntungnya orang yang Allah jadikan sebab terbukanya kebaikan bagi orang lain. Orang-orang terinspirasi melakukan hal-hal positif karena melihat dirinya.

Sebagai contoh, seorang santri yang pulang ke kampung halamannya. Anak-anak di sekitarnya melihat akhlak dan perilakunya yang baik, kemudian muncul keinginan dalam diri mereka untuk mengikuti jejaknya.

Mereka berkata, "Bu, aku ingin seperti Mas Fulan. Aku juga ingin sekolah di pondok."

Padahal, santri tersebut belum pernah mengajak mereka untuk mondok. Belum pernah menawarkan atau mempromosikan pesantren. Akan tetapi, akhlak, sikap, dan cara berinteraksinya telah menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan.

Inilah salah satu bentuk nyata menjadi kunci terbukanya kebaikan.

Sebaliknya, orang yang menginspirasi keburukan, mengajak orang lain melakukan kemaksiatan, atau menjadi sebab tertutupnya jalan kebaikan bagi orang lain, termasuk orang yang mendapatkan ancaman dalam hadis tersebut.

Contohnya, para pembuat konten yang menyebarkan tontonan tidak bermanfaat, bahkan mengandung kemaksiatan. Mereka memiliki ide yang kemudian diikuti oleh banyak orang, sehingga kemaksiatan yang semula dilakukan oleh satu orang menyebar kepada banyak orang.

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim berusaha menjadi sumber inspirasi kebaikan, bukan justru menjadi sebab tersebarnya keburukan.

2. Sebaik-baik Manusia adalah yang Diharapkan Kebaikannya

Terdapat hadis lain yang menguatkan makna pembahasan ini. Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخِيَارِكُمْ مِنْ شِرَارِكُمْ؟

"Maukah aku beritahukan kepada kalian siapa orang terbaik di antara kalian dan siapa orang terburuk di antara kalian?"

Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaan tersebut hingga tiga kali. Kemudian para sahabat menjawab:

قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: خِيَارُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشِرَارُكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang kebaikannya diharapkan dan keburukannya dapat dipastikan tidak akan muncul. Sedangkan seburuk-buruk kalian adalah orang yang kebaikannya tidak dapat diharapkan dan keburukannya tidak dapat dirasa aman." (HR. At-Tirmidzi no. 2263).

Hadis ini memberikan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Misalnya, ketika sebuah kepanitiaan Iduladha menunjuk seseorang sebagai ketua panitia. Begitu orang tersebut ditunjuk, orang-orang di sekitarnya merasa tenang. Mereka berkata, "Kalau dia yang menjadi ketua, insyaallah acaranya akan berjalan dengan baik."

Mengapa demikian? Karena selama ini orang tersebut dikenal amanah, bertanggung jawab, dan memiliki kemampuan mengemban tugas. Orang lain dapat berharap kebaikan darinya dan tidak khawatir terhadap keburukannya.

Sebaliknya, apabila seseorang ditunjuk menjadi ketua panitia, kemudian orang-orang justru merasa khawatir karena mengetahui bahwa orang tersebut kurang amanah, tidak bertanggung jawab, atau tidak dapat dipercaya, maka ini merupakan gambaran orang yang tidak diharapkan kebaikannya.

Contoh lain adalah dalam urusan utang-piutang.

Ada orang yang apabila meminjam uang, orang lain merasa tenang karena mengetahui bahwa dirinya amanah. Kalaupun mengalami kesulitan mengembalikan pinjaman sesuai waktu yang dijanjikan, dia akan memberikan kabar dan menjelaskan keadaannya. Dia tidak menghilang begitu saja.

Sebaliknya, ada orang yang apabila meminjam uang, orang-orang sudah merasa khawatir karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pinjaman tersebut biasanya tidak dikembalikan. Inilah perbedaan orang yang diharapkan kebaikannya dengan orang yang tidak dapat dipercaya.

Seorang muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang keberadaannya mendatangkan ketenteraman, kebaikan, dan manfaat bagi orang lain.

3. Perumpamaan Teman yang Baik dan Teman yang Buruk

Rasulullah ﷺ juga memberikan perumpamaan tentang pengaruh seseorang terhadap orang lain melalui hadis yang sangat masyhur, yaitu perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk.

Biasanya, ketika membahas hadis ini, kita lebih sering melihatnya dari sisi orang yang mendapatkan manfaat ketika berteman dengan orang saleh. Akan tetapi, ada sisi lain yang juga penting, yaitu bagaimana seseorang menjadi pihak yang memberikan manfaat kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

"Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi, engkau bisa membelinya, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan aroma tidak sedap darinya."

(HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu'anhu).

Hadis ini biasanya kita pahami dari sisi orang yang mendapatkan manfaat. Ketika berteman dengan pembawa minyak wangi, kita mendapatkan salah satu dari beberapa manfaat:

  • Kita mendapatkan minyak wangi secara cuma-cuma.
  • Kita bisa membeli minyak wangi darinya.
  • Sekalipun tidak mendapatkan minyak wangi, kita tetap memperoleh aroma harum dari keberadaannya.

Namun, dalam pembahasan ini, kita juga perlu melihat dari sisi sebaliknya: bagaimana menjadi orang yang memberikan manfaat sebagaimana pembawa minyak wangi tersebut.

Orang yang memiliki minyak wangi biasanya senang berbagi. Dia bisa memberikannya secara cuma-cuma, menawarkan kepada orang lain, atau setidaknya memberitahukan tempat membelinya.

Demikian pula seorang muslim. Hendaknya dia menjadi orang yang senang berbagi manfaat dan menyebarkan kebaikan. Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan manfaat dari orang lain, tetapi pikirkan pula bagaimana keberadaan kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

4. Seorang Muslim Harus Bersemangat Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan

Sesungguhnya setiap muslim yang benar-benar menginginkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi dirinya di dunia maupun akhirat, ketika mendengar hadis-hadis tersebut, semestinya hatinya tergerak.

Ketika mendengar sabda Rasulullah ﷺ tentang orang-orang yang menjadi kunci terbukanya kebaikan, seharusnya kita memiliki keinginan kuat untuk menjadi bagian dari golongan tersebut.

Terlebih ketika mendengar sabda Nabi ﷺ:

فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مِفْتَاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ

"Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci kebaikan melalui kedua tangannya."

Seorang muslim yang menginginkan keberuntungan akhirat tentu berharap agar dirinya termasuk orang yang disebutkan dalam hadis tersebut.

Hatinya tergugah, jiwanya bersemangat, dan muncul keinginan kuat untuk menjadi sebab terbukanya pintu-pintu kebaikan bagi orang lain. Pada saat yang sama, dia tidak ingin menjadi orang yang membuka pintu keburukan.

Keinginan tersebut bukan sekadar harapan, tetapi harus diwujudkan melalui perbuatan nyata.Investasi yang pahalanya terus mengalir setelah kematian.

Kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan adanya amalan yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.

Beliau ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."

(HR. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu).

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim bukan hanya memikirkan investasi untuk masa tua di dunia, tetapi juga harus memikirkan investasi untuk kehidupan setelah kematian. Ketika seseorang telah meninggal dunia, dia tidak lagi bisa melakukan amal. Namun, ada pahala yang tetap mengalir karena kebaikan yang pernah dia tanamkan selama hidupnya.

Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu tersebut diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Kemudian, orang-orang yang pernah menerima ilmu darinya terus mengamalkannya. Selama ilmu tersebut memberikan manfaat, dengan izin Allah, pahala akan terus mengalir kepada orang yang mengajarkannya.

Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun

Tidak ada seorang muslim pun yang benar-benar menginginkan kebaikan bagi dirinya melainkan dia berharap menjadi sebab terbukanya pintu kebaikan bagi orang lain. Kebaikan tersebut tidak harus berupa perkara besar. Bahkan, sesuatu yang sederhana pun dapat menjadi sebab tersebarnya kebaikan.

Sebagai contoh, ketika pulang ke kampung halaman, kita mendapati kebiasaan masyarakat yang ketika berpapasan hanya saling menyapa dengan sapaan biasa.

Kemudian kita membiasakan diri mengucapkan salam:

"Assalamu'alaikum, Pak."

"Assalamu'alaikum, Bu."

Awalnya mungkin terasa canggung karena belum terbiasa. Akan tetapi, ketika terus dilakukan, masyarakat di sekitar kita mulai mengikuti kebiasaan tersebut. Lama-kelamaan, kebiasaan mengucapkan salam menjadi sesuatu yang biasa di lingkungan tersebut.

Ketika kita sudah tidak berada di kampung itu lagi, entah karena kembali ke pesantren, pindah ke kota lain, atau bahkan meninggal dunia, kebiasaan tersebut masih terus dilakukan oleh masyarakat. Maka, insyaallah, kebaikan yang dahulu kita ajarkan menjadi sebab pahala yang terus mengalir.

Demikian pula ketika seseorang mengajarkan anak-anak membaca Iqra. Dia mengajarkan huruf alif, ba, ta, tsa, jim, ha, dan seterusnya.

Mungkin terlihat sederhana. Namun, dari pengajaran tersebut, seorang anak akhirnya mampu membaca Al-Qur'an. Setiap kali anak itu membaca Al-Qur'an, terdapat harapan pahala bagi orang yang dahulu mengajarkannya, sesuai dengan keikhlasan dan amal yang diterima Allah.

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Seorang muslim hendaknya selalu berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang membuka pintu kebaikan dan tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendapatkan ancaman kecelakaan sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ.

5. Jangan Menjadi Orang yang Menghalangi Kebaikan Orang Lain

Allah telah mengancam orang yang menjadi sebab tersebarnya keburukan dan tertutupnya pintu kebaikan bagi orang lain.

Sangat disayangkan, terkadang seseorang justru menjadi penghalang kebaikan melalui ucapan dan sikapnya, meskipun mungkin dia tidak menyadarinya.

Contoh sederhana dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Ada seseorang yang sebelumnya jarang melaksanakan salat berjamaah di masjid. Suatu ketika, dia mulai berusaha memperbaiki diri dan datang untuk shalat berjamaah. Namun, ketika bertemu temannya, dia justru mendapatkan komentar: "Wah, tumben ke masjid!"

Komentar tersebut mungkin dimaksudkan sebagai candaan. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki mental yang kuat untuk menerima komentar semacam itu. Akibatnya, orang yang semula mulai bersemangat melakukan kebaikan justru merasa malu. Akhirnya, dia enggan kembali ke masjid.

Orang yang melontarkan komentar tersebut secara tidak langsung telah menjadi sebab tertutupnya pintu kebaikan bagi orang lain.

Sikap tidak ramah dapat menghalangi orang mengenal kebaikan

Contoh lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah sikap sebagian orang yang sudah mengenal sunnah terhadap orang-orang yang baru datang menghadiri kajian. Ada seseorang yang masih awam, belum mengenal sunnah dengan baik, kemudian datang ke masjid untuk mengikuti kajian. Akan tetapi, dia justru mendapatkan sambutan yang kurang menyenangkan.

Penampilannya diperhatikan dari atas sampai bawah. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang bertanya dari mana asalnya, bahkan sekadar senyuman pun tidak dia dapatkan. Akhirnya, orang tersebut merasa tidak nyaman dan enggan kembali ke masjid itu.

Pernah diceritakan tentang seorang bapak dari wilayah Solo bagian utara, sekitar Kalioso. Dia bertanya apakah di wilayahnya terdapat majelis kajian lain selain masjid yang pernah dia datangi.

Ketika ditanya alasannya, dia menceritakan bahwa saat datang ke masjid tersebut, penampilannya diperhatikan dari atas sampai bawah. Tidak ada yang menyambutnya dengan ramah.

Alhamdulillah, bapak tersebut masih memiliki semangat untuk mencari masjid lain yang menyelenggarakan kajian. Namun, bayangkan apabila orang tersebut memiliki mental yang lebih lemah. Bisa jadi dia akan berpikir:

"Ternyata orang-orang yang katanya mengenal sunnah sikapnya seperti ini."

Akhirnya, dia tidak mau lagi mengikuti kajian, tidak jadi mengenal sunnah, dan tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar agama dengan baik. Sikap seperti ini secara tidak langsung dapat menjadi sebab tertutupnya pintu kebaikan.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap kepada orang lain. Jangan sampai kita menggembosi semangat seseorang untuk melakukan kebaikan melalui:

  • Cara kita memandang dan memperlakukannya.
  • Cara kita menyambut orang yang baru datang ke masjid.
  • Komentar-komentar yang merendahkan atau mempermalukannya.
  • Candaan yang justru membuat seseorang malu untuk memperbaiki diri.
  • Sikap tidak ramah kepada orang yang belum mengenal agama dengan baik.

Tidak semua orang memiliki mental yang sama. Ada orang yang tetap tenang ketika mendapatkan komentar tidak menyenangkan. Namun, ada pula orang yang semangatnya langsung surut hanya karena satu komentar.

Jangan sampai ucapan dan perilaku kita menjadi sebab seseorang meninggalkan kebaikan yang sebelumnya ingin dia lakukan.

6. Keinginan Menjadi Pembuka Kebaikan Harus Diwujudkan dengan Usaha

Keinginan untuk menjadi pembuka kebaikan bagi orang lain tidak cukup hanya berada di dalam hati.Seseorang harus benar-benar berusaha mewujudkan sebab-sebab yang mengantarkannya menjadi orang yang membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan.

Tidak cukup hanya memiliki cita-cita. Harus ada pemahaman yang benar, usaha yang nyata, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Secara umum, ada tiga hal yang harus dilakukan:

Pertama: Memahami urgensi dan keutamaan menjadi pembuka kebaikan.

Kita harus memahami mengapa menjadi pembuka kebaikan merupakan perkara yang sangat penting. Kita juga perlu mengetahui keutamaan dan pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang menjadi sebab tersebarnya kebaikan.

Dengan pemahaman tersebut, diharapkan muncul motivasi yang kuat untuk melakukannya.

Kedua: Melakukan sebab-sebab yang mengantarkan kepada tujuan tersebut.

Setelah memahami keutamaannya, kita harus melakukan tindakan nyata. Jangan hanya memiliki semangat dan keinginan, tetapi tidak melakukan apa pun.

Ketiga: Terus memohon pertolongan kepada Allah.

Kita tidak boleh mengandalkan kemampuan diri sendiri. Semua kebaikan terjadi atas pertolongan dan taufik Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketiga perkara ini harus berjalan bersama-sama.

Jika seseorang hanya memahami keutamaannya tetapi tidak mau berusaha, pemahaman tersebut tidak akan menghasilkan perubahan. Jika seseorang hanya bersemangat melakukan sesuatu tanpa memahami urgensi dan keutamaannya, semangatnya bisa cepat melemah.

Demikian pula, apabila seseorang hanya berdoa tanpa memahami perkara yang hendak dicapai dan tanpa melakukan usaha, hasilnya tidak akan maksimal.

Maka, pahami keutamaannya, lakukan sebab-sebabnya, dan teruslah memohon pertolongan kepada Allah.

7. Bagaimana Menjadi Kunci Terbukanya Pintu Kebaikan?

Inilah pembahasan inti dari risalah yang sedang dijelaskan, yaitu bagaimana agar seseorang menjadi kunci terbukanya pintu kebaikan bagi orang lain.

Poin pertama: Meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik Zat yang Membukakan Kebaikan

Perkara pertama yang harus dipahami adalah bahwa Allah Azza wa Jalla merupakan sebaik-baik Zat yang membukakan pintu kebaikan.

Tidak ada yang mampu membukakan segala kebaikan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah adalah Al-Fattah, salah satu nama Allah yang mulia.

Kita harus meyakini bahwa Al-Fattah adalah Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

"Dan Dialah Yang Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui." (QS. Saba' [34]: 26).

Nama Al-Fattah menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat Al-Fath, yaitu membuka dan memberikan jalan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.

Setiap nama Allah menunjukkan sifat kesempurnaan yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh:

  • Al-Ghafur menunjukkan sifat maghfirah (ampunan).
  • Ar-Rahman menunjukkan sifat rahmah (kasih sayang).
  • As-Sami' menunjukkan sifat sama' (mendengar).
  • Al-Fattah menunjukkan sifat Al-Fath (membuka).

Ini merupakan bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu menetapkan nama dan sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur'an maupun melalui hadis Rasulullah ﷺ yang sahih, tanpa mengubah maknanya, menolaknya, menyerupakan dengan makhluk, ataupun mempertanyakan hakikat caranya.

Nama Al-Fattah di dalam Al-Qur'an

Nama dan makna Al-Fattah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, di antaranya:

1. QS. Al-A'raf [7]: 89

Allah berfirman:

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

"Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang terbaik."

2. QS. Saba' [34]: 26

Allah berfirman:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

"Katakanlah, 'Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui.'"

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah Zat yang memberikan keputusan dan membuka jalan kebaikan sesuai dengan kehendak dan ilmu-Nya.

Tiga bentuk Allah membukakan kebaikan bagi hamba-Nya

Para ulama menjelaskan bahwa makna Al-Fath mencakup beberapa bentuk pemberian kebaikan dari Allah kepada para hamba-Nya.

1. Allah membukakan kebaikan melalui syariat-Nya

Allah membukakan pintu kebaikan bagi para hamba melalui syariat yang diturunkan-Nya.

Al-Qur'an dan syariat Islam bukan diturunkan untuk menyusahkan manusia, tetapi menjadi petunjuk yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan.

Allah berfirman:

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah." (QS. Thaha [20]: 2).

Allah juga berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

"Maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha [20]: 123).

Dengan mengikuti petunjuk Allah, seorang hamba akan mendapatkan jalan keselamatan. Inilah salah satu bentuk Allah membukakan pintu kebaikan bagi manusia melalui syariat-Nya.

2. Allah membukakan kebaikan melalui ganjaran dan balasan-Nya

Allah membukakan berbagai kebaikan bagi hamba-Nya melalui pahala dan ganjaran yang diberikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Setiap pahala yang Allah janjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh merupakan bentuk kemurahan dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya.

3. Allah membukakan kebaikan melalui ketetapan-Nya yang bersifat kauni

Allah juga membukakan kebaikan melalui ketetapan dan takdir-Nya yang pasti terjadi. Terkadang, ketetapan Allah berupa sesuatu yang tidak kita sukai. Kita mengalami kesulitan, kehilangan, musibah, atau harus meninggalkan sesuatu yang kita cintai.

Namun, di balik ketetapan tersebut, Allah dapat menyiapkan kebaikan yang jauh lebih besar. Sebagai contoh adalah peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah.

Meninggalkan kota kelahiran dan tanah air bukanlah perkara ringan. Makkah merupakan negeri yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ.

Ketika meninggalkan Makkah, beliau bersabda:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

"Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang terbaik dan negeri Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu."

(HR. At-Tirmidzi no. 3925; diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah no. 3108. Hadis ini dinilai sahih).

Peristiwa hijrah tentu merupakan sesuatu yang berat bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Namun, di balik peristiwa tersebut Allah telah menyiapkan kebaikan yang sangat besar.

Di Madinah, kaum muslimin mendapatkan kesempatan untuk beribadah dengan lebih leluasa. Dakwah Islam berkembang, kaum muslimin semakin kuat, dan agama Islam tersebar luas. Bahkan, setelah itu Allah mengaruniakan kemenangan berupa Fathu Makkah.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang tidak kita sukai belum tentu buruk bagi kehidupan kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan kebaikan yang jauh lebih besar melalui peristiwa tersebut.

Demikian pula dalam kehidupan kita. Terkadang kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, tetapi kemudian Allah membukakan jalan lain yang jauh lebih baik.

Dalil bahwa hanya Allah yang mampu membukakan dan menahan rahmat

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada seorang pun yang sanggup melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fatir [35]: 2).

Ayat ini menegaskan bahwa segala kebaikan yang diperoleh manusia sejatinya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jika Allah membukakan pintu rahmat dan kebaikan bagi seseorang, tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Sebaliknya, apabila Allah menahan sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu memberikannya tanpa izin-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita ingin menjadi pembuka kebaikan bagi orang lain, jangan sampai melupakan bahwa Allah-lah yang sesungguhnya membukakan pintu kebaikan tersebut.

Kita hanyalah hamba yang Allah jadikan sebagai perantara dan sebab tersebarnya kebaikan.

8. Mengamalkan Nama-Nama Allah dalam Berdo'a dan Beribadah

Setelah memahami bahwa Allah adalah Al-Fattah, sebaik-baik Zat yang membukakan kebaikan, seorang muslim wajib mengenal nama-nama Allah yang indah dan mengamalkannya dalam ibadah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf [7]: 180).

Ayat ini memerintahkan kita agar berdoa kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa doa dalam ayat tersebut mencakup dua macam.

A. Doa Mas'alah (دعاء المسألة)

Doa mas'alah adalah doa yang berisi permohonan dan permintaan kepada Allah.

Salah satu bentuk pengamalannya adalah menyebut nama Allah yang sesuai dengan permohonan yang kita sampaikan.

Misalnya:

  • Ketika memohon ampunan, kita berdoa dengan menyebut nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun).
  • Ketika memohon rezeki, kita berdoa dengan menyebut nama Allah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).
  • Ketika memohon rahmat, kita berdoa dengan menyebut nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Contoh lainnya adalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Aisyah Radhiyallohu'anha ketika mencari malam Lailatulqadar.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku." (HR. At-Tirmidzi no. 3513).

Dalam doa tersebut, kita memohon ampunan dengan menyebut nama Allah Al-'Afuww, yaitu Zat Yang Maha Pemaaf.

Inilah salah satu bentuk mengamalkan Asmaul Husna dalam doa permohonan.

B. Doa Ibadah (دعاء العبادة)

Doa ibadah adalah beribadah kepada Allah dengan mengamalkan konsekuensi dan kandungan nama-nama-Nya.

Artinya, kita tidak hanya menyebut nama Allah ketika berdoa, tetapi juga menjadikan keimanan terhadap nama-nama tersebut sebagai pendorong untuk melakukan ketaatan.

Sebagai contoh, Allah memiliki nama As-Sami' (السَّمِيعُ), yaitu Maha Mendengar.

Ketika mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar, seorang muslim hendaknya menjaga setiap perkataannya. Dia tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang diridai Allah. Bahkan ketika sedang sendirian dan tidak ada seorang pun yang mendengarnya, dia tetap menjaga lisannya karena mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar segala sesuatu.

Demikian pula ketika berzikir dalam kesendirian, dia tetap yakin bahwa Allah mendengar zikir tersebut.

Inilah makna doa ibadah: beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya.

Dengan demikian, firman Allah:

فَادْعُوهُ بِهَا

"Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu."

Mencakup dua bentuk doa, yaitu doa permohonan dan doa ibadah.

Kutipan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: فَادْعُوهُ بِهَا، يَتَنَاوَلُ دُعَاءَ الْمَسْأَلَةِ وَدُعَاءَ الْعِبَادَةِ

"Firman Allah: 'Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu', mencakup doa permohonan dan doa ibadah."

Sumber: Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, penjelasan QS. Ali Imran, hlm. 238, Dar Ibnul Jauzi. Saaid

9. Penutup: Memohon kepada Allah agar Dijadikan Pembuka Kebaikan

Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa menjadi kunci terbukanya pintu kebaikan merupakan perkara yang sangat agung.

Akan tetapi, kita tidak boleh menyandarkan kemampuan tersebut kepada diri sendiri. Allah-lah yang membukakan segala kebaikan. Dia adalah Al-Fattah, Zat yang memiliki kekuasaan untuk membuka dan menahan segala rahmat.

Oleh karena itu, hendaknya kita:

  • Memahami keutamaan menjadi pembuka kebaikan dan penutup keburukan.
  • Berusaha menjadi pribadi yang kebaikannya diharapkan dan keburukannya tidak dikhawatirkan.
  • Menyebarkan kebaikan melalui ucapan, akhlak, ilmu, dan tindakan.
  • Tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
  • Tidak menjadi penghalang orang lain dalam melakukan kebaikan.
  • Mengamalkan nama-nama Allah dalam doa dan ibadah.
  • Senantiasa memohon pertolongan Allah agar dimudahkan menjadi sebab tersebarnya kebaikan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjadi kunci terbukanya kebaikan dan tertutupnya keburukan. Jangan sampai kehadiran kita justru menjadi sebab orang lain menjauh dari kebaikan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ