Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Bismillah

‎Menjadi Sebab Terbukanya Pintu-Pintu Kebaikan #2
Risalah dari Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahumullah
 
🎙️ Pemateri :  Ustadz Abu Ubaid Rizqi, BA, M.Pd Hafidzahullah
▪️ Alumnus LIPIA Jakarta
▪️ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
‎🗓️ Hari & Tanggal :  Jumat, 16 Oktober 2026 / 5 Jumadil Awal 1448 | Ba'da Magrib - Isya
‎🕌 Tempat :  Masjid Ar Rahman Surakarta 

Kaidah-kaidah Menjadi Kunci Pembuka Kebaikan

Jemaah rahimakumullah, mari kita melanjutkan kajian dari risalah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Badr hafizhahullah Ta'ala, dalam pembahasan tentang kaidah-kaidah menjadi kunci pembuka kebaikan.

Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah hadis yang memberikan motivasi besar kepada kita agar menjadi orang-orang yang membawa kebaikan bagi orang lain.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ، مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.

"Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Sebaliknya, di antara manusia ada pula orang-orang yang menjadi kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui kedua tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan melalui kedua tangannya."

Sumber: Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Muqaddimah, Bab Man Kana Miftahan lil Khair, hadis no. 237. Catatan: sanad riwayat ini dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadis karena Muhammad bin Abi Humaid, meskipun terdapat riwayat pendukung dengan makna serupa.

Hadis ini mengajarkan bahwa manusia bisa mengambil salah satu dari dua peran: menjadi pembuka kebaikan atau justru pembuka keburukan.

Contoh sederhananya, seseorang mengawali sebuah kebaikan yang kemudian diikuti oleh banyak orang. Tadinya teman-temannya belum tertarik menghadiri kajian, tetapi karena melihat dirinya bersemangat menghadiri majelis ilmu, mereka pun tergerak untuk ikut hadir.

Bahkan, terkadang seseorang tidak perlu banyak berbicara untuk menginspirasi orang lain. Sikap dan kebiasaannya saja sudah dapat menjadi sebab orang lain melakukan kebaikan.

Sebaliknya, ada pula orang yang kehadirannya justru menjadi sebab terbukanya pintu kemaksiatan. Tadinya teman-temannya tidak terpikir melakukan suatu pelanggaran, tetapi karena pengaruh dirinya, mereka akhirnya ikut melakukannya.

Dengan istilah sekarang, masing-masing kita bisa menjadi seorang influencer. Pertanyaannya, apakah kita memberikan pengaruh dalam kebaikan atau justru dalam keburukan?

Tentu yang kita harapkan adalah menjadi orang yang memberikan pengaruh positif, mengajak orang lain kepada perkara yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

1. Kaidah Pertama: Bersandar Penuh kepada Allah dalam Membuka Pintu Kebaikan

Kaidah pertama yang harus kita pahami adalah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan sebaik-baik pembuka kebaikan.

Syaikh Abdurrazzaq menjelaskan:

وَلِهَذَا فَالْخُطْوَةُ الْأُولَى فِي هَذَا الْبَابِ أَنْ يَلْجَأَ مَنْ أَرَادَ لِنَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ إِلَى الْفَاتِحِ سُبْحَانَهُ، وَإِلَى خَيْرِ الْفَاتِحِينَ، مُتَوَسِّلًا إِلَيْهِ، مُتَذَلِّلًا بَيْنَ يَدَيْهِ، طَامِعًا فِي نَوَالِهِ جَلَّ وَعَلَا، صَادِقًا مَعَهُ سُبْحَانَهُ.

"Oleh karena itu, langkah pertama dalam perkara ini bagi siapa saja yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan adalah kembali dan bersandar kepada Allah Yang Maha Membukakan. Ia memohon kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, mengharapkan karunia-Nya, serta bersungguh-sungguh dan jujur dalam hubungannya dengan Allah."

Artinya, siapa pun yang ingin menjadi pembuka kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, harus benar-benar menggantungkan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jangan sampai kita merasa terlalu percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Misalnya, seseorang dikaruniai kemampuan berbicara di depan umum, komunikasi yang bagus, serta kemampuan menyampaikan nasihat dengan baik. Semua itu merupakan nikmat dari Allah. Akan tetapi, jangan sampai kelebihan tersebut membuatnya lupa untuk tetap bergantung kepada Allah.

Ketika kita ingin menasihati teman, jangan hanya mengandalkan kemampuan komunikasi. Sebab, yang mampu membukakan hati teman kita agar menerima nasihat hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Demikian pula orang tua yang diuji dengan kondisi anak-anaknya. Nasihat sudah berulang kali disampaikan, tetapi anak belum juga menunjukkan perubahan. Jangan sampai orang tua berhenti berdoa.

Teruslah memohon kepada Allah agar Dia membukakan hati anak-anak kita untuk menerima nasihat dan mengamalkan kebaikan.

Kita tidak boleh merasa bahwa kemampuan diri sendiri sudah cukup sehingga tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang berharap kepada-Nya.

Perhatikan kisah Hajar 'alaihassalam ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama putranya, Ismail, yang saat itu masih bayi, di sebuah lembah tandus yang tidak memiliki tanaman.

Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk meninggalkan keduanya di tempat tersebut.

Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."  (QS. Ibrahim [14]: 37).

Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar bertanya apakah Allah yang memerintahkan beliau melakukan hal tersebut. Setelah mendapatkan jawaban bahwa itu memang perintah Allah, Hajar mengatakan:

إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا

"Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami."

Inilah keyakinan yang luar biasa. Meskipun keadaan yang dihadapi sangat berat, Hajar yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya.

Demikian pula ketika Allah memerintahkan kita untuk berdoa, memohon, dan menggantungkan harapan kepada-Nya. Kita tidak akan pernah rugi dengan bersandar kepada Allah.

Sebaliknya, apabila kita menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia, kita pasti akan menjumpai kekecewaan.

Berbuat baiklah karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan manusia

Ketika berbuat baik kepada orang lain, jangan menggunakan prinsip jual beli. Jika seseorang berbuat baik kepada kita, lalu kita membalasnya dengan kebaikan, tetapi ketika dia tidak berbuat baik kita pun berhenti berbuat baik, berarti sikap kita masih dikendalikan oleh perlakuan orang lain.

Seharusnya, kita berbuat baik karena menyadari bahwa Allah memerintahkan kita untuk melakukannya. Bagaimana orang lain merespons kebaikan kita bukanlah tujuan utama. Kita tidak sedang mengejar pujian atau balasan manusia, tetapi mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Terkadang seseorang kecewa setelah berbuat baik karena orang yang dibantunya ternyata tidak membalas dengan kebaikan. Hal itu terjadi karena masih ada harapan mendapatkan balasan dari manusia.

Jika sejak awal tujuan kita hanya mencari ridha Allah, maka ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita, kita tidak perlu terlalu kecewa.

Semua kebaikan berasal dari Allah

Syaikh Abdurrazzaq menjelaskan bahwa terbukanya pintu kebaikan seluruhnya berasal dari Allah.

Di antara bentuk kebaikan yang Allah bukakan bagi seorang hamba adalah:

1. Dibukakan ilmu yang bermanfaat.

Allah memudahkan seseorang mempelajari bahasa Arab, menghafalkan Al-Qur'an, memahami agama, dan memperoleh berbagai ilmu yang bermanfaat.

Semua itu bukan terjadi secara kebetulan, melainkan karena kemudahan dari Allah.

2. Dibukakan kesempatan melakukan amal saleh.

Kita dimudahkan melaksanakan salat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur'an, dan melakukan berbagai amal kebaikan.

Di luar sana mungkin ada orang seusia kita yang tidak mendapatkan kemudahan untuk melakukan hal-hal tersebut. Ada yang masih sibuk dengan aktivitas duniawi, bahkan meninggalkan salat.

Karena itu, jangan merasa bahwa kita mampu melakukan amal saleh semata-mata karena kehebatan diri sendiri.

3. Dibukakan akhlak yang mulia.

Kemampuan bersikap santun kepada orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghormati guru, dan menjaga adab merupakan karunia Allah.

Sebagian salaf berkata:

إِنَّ هَذِهِ الْأَخْلَاقَ مِنَ اللَّهِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا وَهَبَهُ مِنْهَا

"Sesungguhnya akhlak-akhlak ini merupakan karunia dari Allah. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menganugerahkan kepadanya akhlak-akhlak tersebut."

Akhlak mulia merupakan nikmat yang sangat besar. Kita berharap kemampuan menjaga adab dan berperilaku baik menjadi bagian dari karunia Allah kepada kita.

Pemateri kemudian menceritakan pengalamannya ketika dahulu mengajar di Bekasi. Pada suatu musim ujian kelulusan, terdapat pertukaran pengawas antarsekolah. Beliau mendapat tugas mengawasi ujian di sebuah SMA negeri.

Beliau merasa sangat terkejut melihat interaksi sebagian siswa dengan gurunya. Ada ucapan dan perilaku siswa yang menurut beliau tidak pantas dilakukan kepada seorang guru. Bahkan, sikap sebagian guru juga memperlihatkan keadaan yang memprihatinkan.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa akhlak yang baik bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Ketika Allah memudahkan kita menjaga adab dan menghormati orang lain, itu merupakan karunia yang patut disyukuri.

Tidak ada kebaikan yang dapat kita raih tanpa pertolongan Allah

Syaikh Abdurrazzaq menegaskan:

لَا يُمْكِنُ أَنْ تَنَالَ عِلْمًا، أَوْ تَكْتَسِبَ فَهْمًا، أَوْ تُحَقِّقَ خُلُقًا، أَوْ تَقُومَ بِعِبَادَةٍ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ إِلَّا إِذَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكَ

"Engkau tidak mungkin memperoleh ilmu, mendapatkan pemahaman, mewujudkan akhlak yang baik, melaksanakan ibadah, atau meraih perkara lainnya, kecuali apabila Allah membukakan jalan kemudahan untukmu."

Untuk memperbaiki diri sendiri saja kita masih membutuhkan pertolongan Allah. Terlebih lagi ketika ingin membukakan pintu kebaikan bagi orang lain. Tentu kita semakin membutuhkan pertolongan-Nya.

Perkataan Mutarrif bin Abdillah tentang kebutuhan hati kepada Allah

Dalam pembahasan ini, pemateri membawakan perkataan seorang ulama tabiin, Mutarrif bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah.

Beliau berkata:

لَوْ أُخْرِجَ قَلْبِي فَجُعِلَ فِي يَسَارِي، وَجِيءَ بِالْخَيْرِ فَجُعِلَ فِي يَمِينِي، مَا اسْتَطَعْتُ أَنْ أُولِجَ قَلْبِي مِنْهُ شَيْئًا حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ يَضَعُهُ

"Seandainya hatiku dikeluarkan dan diletakkan di tangan kiriku, kemudian seluruh kebaikan didatangkan dan diletakkan di tangan kananku, niscaya aku tidak mampu memasukkan sedikit pun dari kebaikan itu ke dalam hatiku sampai Allah sendiri yang meletakkannya."

Sumber: Dinukil dari Mutarrif bin Abdillah dalam Hilyatul Auliya' wa Thabaqatul Ashfiya' karya Abu Nu'aim Al-Ashbahani, biografi Mutarrif bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir.

Perkataan ini menggambarkan betapa besarnya kebutuhan manusia kepada pertolongan Allah.

Bayangkan, hati yang menjadi tempat masuknya berbagai kebaikan sudah berada di tangan kiri. Sementara seluruh kebaikan, mulai dari tauhid, akhlak mulia, dan berbagai ajaran Islam, berada di tangan kanan.

Keduanya sudah berdekatan. Namun, seseorang tetap tidak mampu memasukkan kebaikan itu ke dalam hatinya kecuali apabila Allah yang memasukkannya.

Artinya, untuk diri sendiri saja kita tidak boleh mengandalkan kemampuan pribadi. Kita tetap harus bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."  (QS. An-Nur [24]: 21).

Kita mampu melaksanakan ibadah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki diri karena karunia dan rahmat Allah. Allah-lah yang menyucikan hati siapa saja yang Dia kehendaki.

Rasulullah ﷺ pun tetap berdoa agar hati manusia mendapatkan hidayah

Perhatikan kisah seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta izin untuk melakukan zina.

Para sahabat yang mendengar permintaan tersebut merasa marah. Namun, Rasulullah ﷺ tidak langsung mencela pemuda itu. Beliau mengajaknya berpikir dengan pendekatan yang bijaksana.

Rasulullah ﷺ bertanya:

أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟

"Apakah engkau suka jika zina dilakukan terhadap ibumu?"

Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu."

Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya tentang putrinya, saudara perempuannya, bibinya dari pihak ayah, dan bibinya dari pihak ibu. Setiap kali ditanya, pemuda tersebut selalu menjawab tidak.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa orang lain pun tidak menyukai hal yang sama terjadi kepada ibu, putri, saudara perempuan, maupun kerabat perempuan mereka.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya pada pemuda tersebut dan berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

"Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kehormatannya."

Sumber: Musnad Ahmad, hadis no. 22211; Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (8/162), no. 7679. Riwayat ini dinilai sahih oleh Syaikh Muqbil Al-Wadi'i dalam Ash-Shahih Al-Musnad, no. 500.

Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menggabungkan dua perkara:

  • Memberikan nasihat dengan cara yang bijaksana sehingga pemuda tersebut memahami kesalahannya.
  • Mendoakan pemuda itu agar Allah mengampuni dosanya, menyucikan hatinya, dan menjaga kehormatannya.

Padahal nasihat Rasulullah ﷺ sudah menyentuh hati pemuda tersebut. Namun, beliau tidak merasa cukup hanya dengan memberikan nasihat. Beliau tetap memohon kepada Allah agar hati pemuda itu benar-benar diperbaiki.

Jika Rasulullah ﷺ saja tetap berdoa setelah memberikan nasihat terbaik, bagaimana dengan kita?

Cara kita berdakwah, mengingatkan, dan menasihati orang lain tentu tidak sebaik Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, kita jauh lebih membutuhkan pertolongan Allah.

Mendengar kebenaran belum tentu mendapatkan taufik untuk mengamalkannya

Seseorang terkadang mendengarkan banyak nasihat yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kehidupan agama dan dunianya. Akan tetapi, jiwanya tidak tergerak untuk mengamalkan nasihat tersebut.

Nasihat hanya didengar, tetapi tidak diwujudkan dalam perbuatan. Seolah-olah masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Karena itu, dalam kajian ini dibawakan sebuah doa yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:

رَبَّنَا أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai suatu kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya."

Mengetahui kebenaran saja belum cukup. Kita juga membutuhkan pertolongan Allah agar mampu mengikuti dan mengamalkannya.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan makna ar-rusyd:

أَنْ يَعْرِفَ الْعَبْدُ الْحَقَّ وَيَتَّبِعَهُ

"Seorang hamba mengetahui kebenaran dan mengikutinya."

Dengan demikian, orang yang mendapatkan petunjuk bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga berusaha mengikuti kebenaran tersebut.

Taufik untuk mengamalkan kebenaran tetap berada di tangan Allah.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

2. Kaidah Kedua: Mentauhidkan Allah dan Memurnikan Ibadah Hanya kepada-Nya

Setelah menjelaskan pentingnya bersandar kepada Allah, Syaikh Abdurrazzaq melanjutkan pembahasan tentang kaidah kedua agar seseorang menjadi kunci pembuka kebaikan.

Kaidah tersebut adalah:

Tauhidullah wa ikhlashud din lillah.

Yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memurnikan seluruh ibadah hanya untuk-Nya.

Beliau menjelaskan:

أَنَّ أَعْظَمَ مَفَاتِيحِ الْخَيْرِ وَأَجَلَّهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ تَوْحِيدُ اللَّهِ وَإِخْلَاصُ الدِّينِ لِلَّهِ

"Sesungguhnya kunci pembuka kebaikan yang paling agung dan paling mulia secara mutlak adalah mentauhidkan Allah dan memurnikan agama hanya untuk Allah."

Tauhid merupakan kunci seluruh kebaikan. Bahkan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan:

التَّوْحِيدُ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ وَفَلَاحٍ

"Tauhid adalah pokok segala kebaikan dan keberuntungan."

Beliau juga menyampaikan:

فَمَنْ لَا تَوْحِيدَ لَهُ فَلَا خَيْرَ وَلَا فَلَاحَ لَهُ

"Barang siapa tidak memiliki tauhid, maka tidak ada kebaikan dan keberuntungan baginya."

Tauhid adalah kunci pembuka surga

Pemateri kemudian membawakan sebuah hadis:

مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

"Kunci pembuka surga adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah."

Hadis ini disebutkan dalam Musnad Al-Bazzar dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu. Pemateri menjelaskan bahwa sanad riwayat ini memiliki catatan kelemahan, meskipun maknanya benar dan didukung oleh banyak dalil lain.

Salah satu hadis sahih yang menunjukkan keutamaan kalimat tauhid adalah hadis dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengenai zikir setelah berwudu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ الْوُضُوءَ، أَوْ فَيُسْبِغُ الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

"Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudu kemudian menyempurnakan wudunya, lalu mengucapkan, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah,' melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga. Ia dipersilakan masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya."

Sumber: HR. Muslim, Kitab Ath-Thaharah, Bab Dzikir yang Dianjurkan Setelah Wudu, hadis no. 234, dari Umar bin Khattab melalui riwayat Uqbah bin Amir.

Hadis ini menunjukkan keutamaan tauhid dan kalimat syahadat. Seseorang yang menyempurnakan wudu kemudian mengucapkan syahadat tersebut mendapatkan kabar gembira berupa dibukakannya delapan pintu surga.

Dengan demikian, tauhid merupakan kunci pembuka surga. Barang siapa tidak membawa kunci ini, maka dia tidak akan mendapatkan jalan masuk ke dalam surga.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan menyombongkan diri terhadapnya:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." Sumber: QS. Al-A'raf [7]: 40.

Perumpamaan tersebut menunjukkan sesuatu yang mustahil terjadi. Seekor unta tidak mungkin masuk ke dalam lubang jarum. Demikian pula orang-orang yang mendustakan ayat Allah dan menyombongkan diri terhadap kebenaran tidak akan masuk surga selama mereka berada dalam kekufuran tersebut.

Kebaikan duniawi tidak menggantikan iman dan tauhid

Pada zaman sekarang, terkadang kita mendengar syubhat yang mempertanyakan mengapa seseorang yang berjasa besar bagi umat manusia, tetapi tidak memeluk Islam, tidak mendapatkan surga. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa seseorang seperti Albert Einstein memiliki jasa besar bagi ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Apakah tidak mungkin dia masuk surga hanya karena tidak beragama Islam?

Pertanyaan semacam ini bisa memberikan pengaruh kepada orang awam apabila tidak dipahami dengan benar. Jawabannya, sebanyak apa pun jasa seseorang dalam urusan dunia, kebaikan tersebut tidak dapat menggantikan kewajiban beriman kepada Allah dan menerima agama yang dibawa Rasul-Nya.

Untuk memudahkan pemahaman, pemateri memberikan beberapa perumpamaan.

Pertama, perumpamaan karyawan SPBU.

Misalnya, seseorang sedang berlibur. Di dekat rumahnya terdapat sebuah SPBU. Kemudian, dengan inisiatif sendiri, dia ikut membantu mengisi bensin, melayani pelanggan, dan menjalankan pekerjaan dengan baik selama satu bulan. Bahkan, dia menerapkan pelayanan yang ramah kepada pelanggan.

Ketika akhir bulan tiba, seluruh karyawan menerima gaji. Orang tersebut ikut mengantre dan meminta gaji dengan alasan telah bekerja selama satu bulan.

Apakah dia berhak mendapatkan gaji dari perusahaan tersebut? Tentu tidak. Sebab, dia tidak terdaftar sebagai karyawan perusahaan itu.

Kedua, perumpamaan seorang santri.

Ada seorang anak dari luar pondok yang ikut belajar di sebuah pesantren. Dia mengikuti pelajaran, mengerjakan ujian, bahkan seluruh jawabannya benar. Ketika pembagian rapor tiba, dia meminta rapor dan menuntut agar dinobatkan sebagai juara pertama.

Apakah dia berhak? Tidak, karena dia bukan santri yang terdaftar di lembaga tersebut.

Dari kedua perumpamaan ini, kita memahami bahwa urusan dunia saja memiliki ketentuan dan persyaratan. Maka, perkara akhirat tentu lebih utama untuk diperhatikan ketentuannya.

Kebaikan yang dilakukan seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban tauhid dan iman.

Tidak cukup hanya mengucapkan Laa Ilaaha Illallah

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُؤْمِنَةٌ

"Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman."

Dalam kajian, pemateri kemudian menegaskan bahwa kalimat tauhid adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Laa ilaaha illallah merupakan kunci pembuka surga. Akan tetapi, kunci tersebut tidak akan berfungsi apabila seseorang tidak memenuhi persyaratan yang terkandung di dalamnya.

Mengucapkan kalimat tauhid bukan sekadar mengucapkan rangkaian kata dengan lisan. Ada konsekuensi dan tuntutan yang harus dipenuhi.

Di sinilah pentingnya memahami syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah.

Perumpamaan kunci yang memiliki gerigi

Imam Al-Bukhari rahimahullah membawakan sebuah perkataan dari Wahb bin Munabbih, seorang ulama tabiin.

Beliau pernah ditanya:

أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحَ الْجَنَّةِ؟

"Bukankah Laa Ilaaha Illallah merupakan kunci surga?"

Wahb bin Munabbih menjawab:

بَلَى، وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ، فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ، وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

"Benar. Akan tetapi, tidak ada kunci melainkan memiliki gerigi. Jika engkau datang membawa kunci yang memiliki gerigi, pintu itu akan dibukakan untukmu. Namun, jika tidak, pintu itu tidak akan dibukakan untukmu."

Sumber: Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jana'iz, Bab tentang Jenazah dan Orang yang Ucapan Terakhirnya Laa Ilaaha Illallah. Atsar Wahb bin Munabbih tercantum sebelum hadis no. 1180 dalam penomoran yang umum digunakan.

Perkataan ini memberikan gambaran yang sangat mudah dipahami. Sebuah kunci tidak cukup hanya berbentuk seperti kunci. Kunci tersebut harus memiliki gerigi yang sesuai dengan lubang kunci agar dapat membuka pintu.

Demikian pula kalimat Laa Ilaaha Illallah. Kalimat tersebut adalah kunci surga, tetapi harus disertai dengan pemenuhan syarat-syaratnya.

Pemateri memberikan perumpamaan lain menggunakan kendaraan bermotor dengan sistem keyless. Seseorang mungkin membawa remote motor, tetapi apakah motornya pasti bisa dinyalakan? Belum tentu. Apalagi jika remote yang dibawa ternyata remote AC. Tentu motor tersebut tidak akan menyala.

Motor akan menyala jika remote yang digunakan memang sesuai dengan sistem kendaraannya.

Begitu pula kalimat Laa Ilaaha Illallah. Kalimat tersebut akan menjadi kunci pembuka surga apabila seseorang benar-benar merealisasikan tuntutan dan syarat-syaratnya.

Karena itu, jangan hanya memperhatikan pengucapan kalimat tauhid, tetapi pelajarilah pula kandungan dan konsekuensinya.

Pembahasan tentang syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ini akan dilanjutkan pada pertemuan kajian berikutnya.

3. Penutup dan Kesimpulan Pembahasan

Dari pembahasan ini, terdapat dua kaidah penting yang perlu kita perhatikan agar Allah menjadikan kita sebagai kunci pembuka kebaikan:

1. Bersandar penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kita tidak mungkin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, memiliki akhlak mulia, melaksanakan ibadah, atau memberikan hidayah kepada orang lain tanpa pertolongan Allah.

Oleh karena itu, jangan pernah meninggalkan doa dan jangan mengandalkan kemampuan diri sendiri.

2. Merealisasikan tauhid dan memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah.

Tauhid merupakan pokok segala kebaikan dan kunci pembuka surga. Kalimat Laa Ilaaha Illallah harus diwujudkan dalam keyakinan, perkataan, dan amalan, serta disertai pemenuhan syarat-syaratnya.

Kita berharap Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang membuka pintu kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Jangan sampai kehadiran kita justru menjadi sebab terbukanya pintu keburukan.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengetahui kebenaran, mencintainya, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. هَدَانَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ أَجْمَعِينَ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والله الموفق والهادي.