Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Faedah-Faedah di Balik Kisah Juraij, Seorang Ahli Ibadah

Kisah Juraij dan Pelajaran Penting dalam Kehidupan Seorang Muslim

Ustadz Abu Faza Ridwan, Lc., M.H. Hafidzahullah | Masjid Al-Ikhlas Singopuran

Mukadimah

Alhamdulillāh, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alā atas berbagai macam nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Di antara seluruh nikmat tersebut, nikmat terbesar adalah nikmat hidayah, nikmat taufik, nikmat mengenal tauhid, dan nikmat berada di atas sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu bentuk syukur atas nikmat tersebut adalah dengan menuntut ilmu, mempelajari Al-Qur’an, dan mempelajari hadis Rasulullah ﷺ. Kita memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan berilmu, mengenal tauhid, serta berpegang teguh dengan hadis Nabi ﷺ.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah kisah yang mungkin sudah pernah kita dengar, yaitu kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Kita akan menggali berbagai faedah dan pelajaran penting di balik kisah tersebut.

1. Kisah sebagai Salah Satu Metode Dakwah dan Nasihat

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menggunakan salah satu metode dakwah yang sangat menarik, yaitu menyampaikan kisah. Metode ini dilakukan dengan menceritakan peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ۝ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A‘raf: 175–176)

Di dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menceritakan kisah agar manusia mau mengambil pelajaran dan berpikir.

Para ulama menjelaskan bahwa kisah merupakan salah satu metode yang sangat ampuh untuk memberikan nasihat. Terkadang seseorang sulit menerima nasihat yang disampaikan secara langsung. Namun, ketika disampaikan melalui sebuah kisah yang benar, hatinya bisa tersentuh, air matanya mengalir, dan ia mulai merenungkan kehidupannya.

Kisah yang dimaksud tentu bukan dongeng atau cerita yang tidak jelas sumbernya, melainkan kisah yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis yang sahih.

Diriwayatkan sebuah perkataan ulama:

حِكَايَاتُ الصَّالِحِينَ جُنْدٌ مِنْ جُنُودِ اللَّهِ يُثَبِّتُ اللَّهُ بِهَا الْمُؤْمِنِينَ

Kisah-kisah orang saleh merupakan salah satu tentara Allah yang dengannya Allah menguatkan hati orang-orang beriman.

Kisah-kisah tersebut juga dapat membangkitkan semangat, memperkuat tekad, dan memotivasi orang-orang saleh untuk bersabar serta istiqamah dalam ketaatan.

2. Tiga Bayi yang Dapat Berbicara Ketika Masih dalam Buaian

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan bahwa ada tiga bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian.

Dalam hadis disebutkan:

لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ

Tidak ada yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga orang.

Tiga bayi tersebut adalah:

Pertama, Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam.

Allah mengabadikan kisah beliau ketika masih bayi dalam Surah Maryam ayat 30. Ketika Maryam membawa Nabi Isa kepada kaumnya, mereka mempertanyakan keadaan Maryam. Kemudian, dengan izin Allah, Nabi Isa yang masih bayi berbicara:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30).

Perhatikan bagaimana ucapan Nabi Isa ketika masih bayi. Beliau berbicara dengan kalimat yang jelas dan penuh makna, bukan seperti ucapan seorang anak kecil pada umumnya. Semua itu merupakan mukjizat yang Allah berikan kepadanya.

Kedua, bayi dalam kisah Juraij.

Bayi ini akan menjadi bagian utama pembahasan kita. Dengan izin Allah, ia berbicara dan menjelaskan siapa ayah kandungnya, sehingga terbongkarlah fitnah yang ditujukan kepada Juraij.

Ketiga, bayi dalam kisah seorang ibu dari kalangan Bani Israil.

Ketika seorang ibu sedang menyusui bayinya, lewatlah seorang lelaki berkuda dengan penampilan gagah dan menarik. Sang ibu berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah anakku seperti lelaki tersebut.”

Namun, bayi itu melepaskan mulutnya dari susuan dan berkata:

“Ya Allah, jangan jadikan aku seperti lelaki itu.”

Kemudian lewat seorang budak wanita yang dituduh berzina dan mencuri. Orang-orang mencaci dan menyakitinya. Sang ibu berdoa agar anaknya tidak menjadi seperti wanita tersebut. Namun, bayinya kembali melepaskan susuan dan berkata:

“Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu.”

Sang ibu heran dan bertanya mengapa anaknya berdoa demikian.

Bayi tersebut menjelaskan bahwa lelaki berkuda tadi adalah seorang yang zalim dan sombong. Adapun wanita yang dituduh berzina dan mencuri itu sebenarnya adalah wanita salehah yang difitnah oleh masyarakat.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa penilaian manusia tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Seseorang yang tampak terhormat belum tentu baik di sisi Allah, sedangkan seseorang yang direndahkan masyarakat belum tentu buruk di hadapan-Nya.

Rasulullah ﷺ menyebutkan kisah-kisah tersebut sebagai bukti kekuasaan Allah. Dalam riwayat yang kita bahas, perhatian kita akan tertuju kepada bayi kedua, yaitu bayi yang berbicara dalam kisah Juraij.

3. Siapakah Juraij?

Juraij adalah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Dalam bahasa Arab, terdapat perbedaan antara istilah ‘alim dan ‘abid.

  • ‘Alim adalah orang yang memiliki ilmu agama, memahami Al-Qur’an dan hadis, serta mengetahui hukum-hukum agama.
  • ‘Abid adalah orang yang tekun beribadah, rajin melakukan ketaatan, dan dikenal sebagai ahli ibadah. Juraij dikenal sebagai Juraij al-‘Abid, yaitu Juraij sang ahli ibadah.

Pada suatu hari, ibunya datang untuk menjumpainya. Sang ibu sangat rindu ingin melihat wajah anaknya. Ia pun memanggil Juraij ketika anaknya sedang melaksanakan salat sunah.

Juraij mendengar panggilan ibunya. Namun, saat itu ia sedang menghadap Allah dalam salat. Ia pun bimbang dan bertanya kepada dirinya sendiri:

“Wahai Rabbku, apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau melanjutkan shalatku?”

Ia kemudian memilih melanjutkan salatnya.

Ibunya kembali memanggil untuk kedua kalinya. Juraij masih berada dalam salatnya dan kembali menghadapi kebimbangan yang sama.

Ketika panggilan ketiga tidak juga mendapatkan jawaban, sang ibu merasa kecewa. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa kejadian ini berlangsung selama tiga hari. Akhirnya, sang ibu mendoakan keburukan untuk anaknya.

Doa sang ibu adalah:

“Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan Juraij sebelum Engkau memperlihatkan kepadanya wajah para wanita pezina.”

Doa tersebut kelak benar-benar terjadi, sebagaimana yang akan kita lihat pada akhir kisah ini.

4. Fitnah Wanita dan Terbongkarnya Kedustaan terhadap Juraij

Suatu ketika, ada seorang wanita pezina yang sangat cantik di kalangan Bani Israil. Kecantikannya dikenal luas dan menjadi pembicaraan masyarakat.

Ketika mendengar orang-orang membicarakan kesalehan dan ketekunan ibadah Juraij, wanita tersebut merasa tertantang. Ia ingin membuktikan apakah dirinya mampu menggoda Juraij.

Wanita itu kemudian mendatangi tempat ibadah Juraij dan berusaha merayunya. Namun, Juraij menolak godaan tersebut. Bahkan, ia tidak tertarik untuk memandang wanita itu.

Merasa gagal dan kecewa, wanita tersebut kemudian mendatangi seorang penggembala kambing. Ia melakukan zina dengan laki-laki tersebut hingga hamil dan melahirkan seorang anak.

Setelah melahirkan, ia menuduh Juraij sebagai ayah dari bayi tersebut. Ia menyebarkan berita bahwa anak itu merupakan hasil hubungannya dengan Juraij.

Masyarakat yang sebelumnya mengenal Juraij sebagai seorang ahli ibadah menjadi marah. Mereka merasa telah ditipu oleh kesalehan yang selama ini ditampakkan Juraij.

Tanpa melakukan tabayun dan mencari kebenaran terlebih dahulu, mereka mendatangi tempat ibadah Juraij, menghancurkannya, kemudian memaksa Juraij keluar. Mereka memukul dan mencacinya.

Juraij kemudian dibawa untuk dimintai pertanggungjawaban. Dalam keadaan tersebut, ia meminta izin untuk berwudu dan melaksanakan salat dua rakaat.

Setelah selesai salat, Juraij mendatangi bayi yang menjadi sumber tuduhan tersebut. Ia menyentuhkan jarinya kepada bayi itu, lalu bertanya:

مَنْ أَبُوكَ يَا غُلَامُ؟

“Wahai anak kecil, siapakah ayahmu?”

Dengan izin Allah, bayi tersebut menjawab:

الرَّاعِي

“Penggembala kambing.”

Seketika itu pula, terbongkarlah kedustaan wanita tersebut. Orang-orang akhirnya mengetahui bahwa Juraij tidak bersalah dan bahwa wanita itu telah memfitnahnya.

Masyarakat pun menyesal. Mereka mendekati Juraij, meminta maaf, dan menawarkan untuk membangun kembali tempat ibadahnya menggunakan emas.

Namun, Juraij menolak. Ketika mereka menawarkan perak, ia juga menolaknya. Ia hanya meminta agar tempat ibadahnya dibangun kembali sebagaimana semula, yaitu dari tanah.

Demikianlah kisah Juraij sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam hadis sahih.

Sumber hadis:

  • Shahih al-Bukhari, hadis no. 3436, Kitab Ahadits al-Anbiya’.
  • Kisah ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim, hadis no. 2550, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab.

5. Juraij Meninggalkan Perdagangan Dunia dan Memilih Ibadah

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan kisah Juraij secara lebih terperinci dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari.

Di antara riwayat dan penjelasan yang disebutkan dalam pembahasan tersebut adalah bahwa Juraij sebelumnya dikenal sebagai seorang pedagang. Namun, perdagangan yang dijalaninya tidak selalu menghasilkan keuntungan. Terkadang ia mendapatkan keuntungan, tetapi pada kesempatan lain ia mengalami kerugian.

Akhirnya, ia bertekad untuk mencari perdagangan yang tidak akan pernah merugi.

Perdagangan apakah yang tidak akan merugi?

Bukan perdagangan dengan sesama manusia, karena dalam perdagangan antarmanusia seseorang bisa mengalami kerugian, ditipu, atau kehilangan hartanya. Akan tetapi, perdagangan dengan Allah Jalla wa ‘Alā.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir: 29–30).

Inilah perdagangan yang sesungguhnya tidak akan merugi, yaitu beramal saleh dengan mengharapkan pahala dari Allah.

Sebagai contoh, ketika seseorang hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah, niat dan langkahnya menuju masjid sudah mengandung pahala.

Setiap langkahnya dapat menjadi sebab penghapusan dosa dan peninggian derajat. Ketika ia sampai di masjid, duduk menunggu salat, para malaikat mendoakannya selama ia berada di tempat salatnya dan belum berhadas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا

“Shalat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan dibandingkan salatnya di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima kali lipat.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Shahih al-Bukhari no. 647 dan Shahih Muslim no. 649, dengan perbedaan redaksi dan penomoran menurut edisi).

Belum lagi pahala kesabaran yang Allah janjikan tanpa batas.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Juraij akhirnya memilih mengabdikan dirinya untuk beribadah.

Mengenal Rahbaniyah atau Kerahiban

Pola kehidupan Juraij ini berkaitan dengan praktik yang dikenal dengan istilah rahbaniyah, yaitu kehidupan kerahiban. Seseorang memutuskan diri dari berbagai kesibukan dunia, tidak menikah, dan menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menyendiri di tempat ibadah.

Namun, pola kerahiban seperti ini bukanlah ajaran yang diperintahkan dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kehidupan kerahiban), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi mereka sendiri yang mengada-adakannya untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (QS. Al-Hadid: 27).

Dalam syariat Islam, tidak dibenarkan seseorang meninggalkan seluruh hak dan tanggung jawabnya dengan alasan ingin beribadah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا رَهْبَانِيَّةَ فِي الْإِسْلَامِ

“Tidak ada kehidupan kerahiban dalam Islam.”

Riwayat ini disebutkan dalam sejumlah kitab hadis dengan pembahasan mengenai rahbaniyah. Adapun maknanya ditegaskan oleh ajaran Nabi ﷺ yang melarang sikap berlebihan dalam ibadah dan meninggalkan hak-hak diri serta keluarga.

6. Uzlah: Menjauh dari Lingkungan yang Penuh Fitnah

Sebagian ulama menyimpulkan bahwa Juraij hidup pada masa setelah Nabi Isa ‘alaihissalam. Pada masa itu, praktik kerahiban dikenal di kalangan sebagian Bani Israil.

Kondisi masyarakat ketika itu juga dipenuhi berbagai kemungkaran. Bahkan, orang-orang yang gemar melakukan kemaksiatan justru membicarakan kesalehan Juraij dengan maksud mencari cara untuk merusak ibadahnya.

Karena itu, Juraij memilih menyendiri di tempat ibadahnya.

Dalam pembahasan ini terdapat pelajaran mengenai uzlah, yaitu menjauhkan diri dari lingkungan yang dapat merusak agama.

Ketika fitnah tersebar luas dan seseorang khawatir agamanya rusak apabila terus berada di tengah lingkungan tersebut, menjauh dari lingkungan itu dapat menjadi pilihan yang dibenarkan.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan keadaan seorang muslim pada masa fitnah yang memilih menjauh untuk menyelamatkan agamanya.

Beliau bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ

“Hampir tiba suatu masa ketika harta terbaik seorang muslim adalah kambing yang ia bawa ke puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan. Ia pergi membawa agamanya untuk menyelamatkan diri dari berbagai fitnah.”

(HR. al-Bukhari no. 19, dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu).

Hadis ini menunjukkan bahwa pada keadaan tertentu, menjauh dari lingkungan yang penuh fitnah merupakan pilihan untuk menjaga agama.

Namun, apakah kita dianjurkan untuk selalu menyendiri pada zaman sekarang?

Jawabannya tidak. Selama masih banyak saudara muslim yang saleh, masjid masih ramai dengan orang-orang yang beribadah, dan kita masih dapat membangun lingkungan yang baik, justru kita dianjurkan untuk bergaul dengan mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”

(HR. Ibnu Majah no. 4032 dan at-Tirmidzi no. 2507, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ahli hadis).

Dengan demikian, seorang muslim hendaknya membangun lingkungan yang baik, saling menasihati, saling membantu dalam ketaatan, dan memberikan pengaruh positif kepada masyarakat.

Jangan sampai kita justru memilih kesendirian, padahal masih banyak orang saleh yang dapat menjadi teman dalam kebaikan.

7. Doa Orang Tua Termasuk Doa yang Mustajab

Salah satu pelajaran penting dari kisah Juraij adalah tentang mustajabnya doa orang tua.

Ibunda Juraij mendoakan agar anaknya tidak meninggal sebelum melihat wajah para wanita pezina. Doa tersebut ternyata benar-benar dikabulkan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak diragukan lagi: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.”

(HR. Abu Dawud no. 1536, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Hadis ini menjadi peringatan bagi setiap orang tua agar berhati-hati dalam mengucapkan doa kepada anak-anaknya.

Ketika sedang marah, jangan mudah melontarkan doa keburukan. Biasakan mendoakan kebaikan, meskipun anak sedang melakukan kesalahan.

Misalnya, ketika anak pulang terlambat, tidak disiplin, atau melakukan sesuatu yang membuat kita marah, jangan mendoakan keburukan. Doakan agar Allah memperbaiki keadaannya, menjadikannya anak yang saleh, dan memberikan kepadanya ilmu yang bermanfaat.

Kita tidak pernah tahu kapan doa itu akan dikabulkan Allah.

Karena itu, orang tua hendaknya membiasakan diri berada di lingkungan yang baik. Sebab, lingkungan yang saleh akan membantu seseorang membiasakan lisannya mengucapkan perkataan yang baik.

Kebaikan dapat menular, sebagaimana keburukan juga dapat menular.

Sebagai contoh, ketika seseorang sedang marah atau terkejut, kebiasaan lisannya akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Jika ia terbiasa bersama orang-orang saleh, perkataan yang keluar pun lebih mudah berupa kalimat yang baik.

Kisah yang sering disampaikan dalam masalah ini adalah tentang Syaikh Abdurrahman as-Sudais, imam Masjidil Haram, yang pernah menceritakan doa orang tuanya agar kelak ia menjadi imam Masjidil Haram.

Hal ini menjadi pengingat bahwa doa orang tua merupakan sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan doa kebaikan untuk anak-anak kita.

8. Allah Memperlihatkan Karamah kepada Hamba-Nya yang Saleh

Kisah Juraij juga menjadi dalil bahwa karamah para wali Allah benar-benar ada.

Apakah yang dimaksud dengan karamah?

Karamah adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh, bukan seorang nabi, sebagai bentuk kemuliaan dari Allah.

Kita perlu membedakan tiga istilah berikut:

  • Mukjizat: Kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul sebagai bukti kebenaran risalah mereka.
  • Irhas: Kejadian luar biasa yang Allah tampakkan pada diri seseorang yang kelak menjadi nabi, sebelum ia diangkat menjadi nabi.
  • Karamah: Kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh dan bukan nabi.

Dalam kisah Juraij, karamahnya adalah ketika Allah menjadikan bayi yang masih sangat kecil dapat berbicara untuk membela Juraij dan membongkar kedustaan wanita yang memfitnahnya.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini adanya karamah para wali Allah. Karamah merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi atas kehendak Allah.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Karamah terbesar bukanlah kemampuan melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti terbang di udara, berjalan di atas air, atau tidak terbakar ketika terkena api.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

أَعْظَمُ الْكَرَامَةِ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ

“Karamah yang paling besar adalah senantiasa berpegang teguh dengan istiqamah.”

(Sumber: Dinukil dalam pembahasan istiqamah, antara lain dalam Majmu‘ al-Fatawa dan disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan karamah para wali).

Inilah karamah yang seharusnya kita cari. Kita tidak dituntut untuk mencari kemampuan luar biasa, tetapi berusaha agar selalu istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Seseorang yang mampu mempertahankan agamanya di tengah fitnah, tetap menjaga salatnya, menjauhi maksiat, dan berpegang teguh dengan sunnah, sesungguhnya telah mendapatkan nikmat yang sangat besar.

Perbedaan Karamah dan Sihir

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang dapat melakukan sesuatu di luar kebiasaan manusia, tetapi orang tersebut bukan orang saleh?

Kita tidak boleh langsung menyebutnya sebagai karamah.

Jika kejadian tersebut dilakukan dengan bantuan setan dan jin, melalui praktik-praktik kesyirikan, maka hal itu termasuk sihir.

Sihir dapat digunakan untuk memisahkan suami dan istri yang sebelumnya saling mencintai. Akibatnya, suami memandang istrinya dengan kebencian, merasa jijik, dan tidak lagi menyukainya. Demikian pula sebaliknya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102).

Tidak sedikit orang yang melakukan praktik sihir dengan penampilan seperti ahli ibadah. Mereka mengenakan pakaian putih, sorban, dan atribut keagamaan lainnya. Bahkan, praktik sihir tersebut diberi nama yang seolah-olah Islami.

Ada yang menyebutnya peninggalan Nabi Sulaiman, sabuk Nabi Sulaiman, tabut Nabi Musa, atau istilah-istilah lain yang tidak memiliki dasar syariat.

Ada pula benda-benda yang ditulisi huruf Arab, tetapi isinya tidak jelas dan bercampur dengan simbol-simbol tertentu.

Semua itu tidak boleh langsung dianggap sebagai karamah. Kita harus menimbangnya dengan Al-Qur’an dan sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65).

Karena itu, seseorang yang mengaku dapat mengetahui perkara gaib, mengetahui isi hati manusia secara mutlak, atau mengetahui kejadian yang belum terjadi, tidak boleh begitu saja dipercaya.

Kita harus membedakan antara karamah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh dengan sihir yang dilakukan melalui bantuan setan.

9. Keutamaan Orang Berilmu Dibandingkan Ahli Ibadah

Pelajaran berikutnya dari kisah Juraij adalah pentingnya ilmu agama.

Juraij adalah seorang ahli ibadah. Ia rajin melaksanakan salat dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Namun, ketika ibunya datang memanggilnya, ia menghadapi kebimbangan antara memenuhi panggilan ibunya atau melanjutkan salat sunahnya.

Di sinilah terlihat pentingnya ilmu.

Seandainya Juraij memiliki ilmu yang cukup mengenai hukum-hukum agama, ia akan mengetahui bagaimana menentukan prioritas antara perkara wajib dan perkara sunah.

Secara umum, apabila seseorang dihadapkan pada dua perkara, yaitu kewajiban dan amalan sunah, maka perkara wajib harus didahulukan.

Jangan sampai seseorang sibuk mengerjakan amalan sunah, tetapi justru meninggalkan kewajiban.

Sebagai contoh, ketika seseorang sedang melaksanakan salat sunah, kemudian orang tuanya memanggil dan membutuhkan responsnya, ia perlu memahami hukum dan keadaan yang sedang dihadapi. Jika panggilan tersebut berkaitan dengan kebutuhan mendesak dan tidak ada alasan syar'i untuk mengabaikannya, ia harus mendahulukan kewajiban memenuhi kebutuhan orang tuanya.

Demikian pula dalam masalah salat Jumat.

Ketika khatib telah memulai khutbah, seorang muslim wajib memperhatikan khutbah tersebut. Jika seseorang baru datang ke masjid, ia tetap disyariatkan melaksanakan salat tahiyatul masjid secara ringkas, sebagaimana perintah Nabi ﷺ kepada Sulaik al-Ghathafani.

Adapun menjawab azan hukumnya sunah. Karena itu, seseorang perlu memahami kapan harus menjawab azan dan kapan harus memperhatikan khutbah.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa seorang muslim membutuhkan ilmu agar dapat menempatkan setiap ibadah sesuai dengan tuntunan syariat.

Jangan Hanya Menjadi Ahli Ibadah, tetapi Jadilah Orang Berilmu dan Ahli Ibadah

Jangan hanya bercita-cita menjadi ahli ibadah tanpa memperhatikan ilmu. Bercita-citalah menjadi seorang ‘alim ‘abid, yaitu orang yang berilmu sekaligus tekun beribadah.

Sebab, ada ibadah yang tidak diterima atau tidak mendapatkan pahala sebagaimana yang diharapkan apabila dilakukan tanpa mengikuti tuntunan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang melaksanakan salat malam, tetapi yang ia dapatkan dari salat malamnya hanyalah begadang.”

(HR. Ibnu Majah no. 1690, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga mempelajari ilmu yang benar mengenai tata cara dan syarat diterimanya ibadah.

Ibadah harus dilandasi keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Jangan sampai kita merasa telah banyak beramal, padahal yang diperoleh hanya rasa lelah karena ibadah tersebut tidak sesuai dengan tuntunan agama.

10. Mengambil Ilmu Harus dari Sumber yang Terpercaya

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai orang-orang yang mengaku memiliki karamah, termasuk berbagai cerita luar biasa yang sering disampaikan oleh sebagian tokoh agama.

Bagaimana sikap kita terhadap cerita-cerita semacam itu? Apakah orang yang mempercayainya bisa terjatuh dalam kesyirikan?

Perlu diketahui bahwa banyak kisah yang beredar di tengah masyarakat sebenarnya merupakan kisah palsu. Bahkan, sebagian di antaranya sangat jelas kedustaannya.

Hal ini mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah ﷺ mengenai munculnya para pendusta menjelang datangnya hari kiamat.

Kita tidak boleh mudah percaya terhadap cerita yang tidak jelas sumbernya, sekalipun disampaikan oleh seseorang yang mengenakan pakaian seperti ulama atau ahli ibadah.

Dalam sejarah Islam, terdapat orang-orang yang dikenal sebagai qushshash, yaitu para tukang cerita. Mereka menyampaikan berbagai kisah kepada masyarakat di pasar, kampung, dan tempat-tempat umum.

Sebagian dari mereka sengaja menyampaikan kisah-kisah yang menarik agar masyarakat kagum dan memberikan imbalan kepada mereka.

Ada pula yang berani mengaku sebagai ulama besar, padahal sebenarnya bukan. Bahkan, pernah terjadi seseorang mengaku sebagai Imam Ahmad bin Hanbal, sementara Imam Ahmad sendiri berada di tempat yang sama dan mendengarkan cerita orang tersebut.

Kisah semacam ini menjadi peringatan agar kita tidak mudah terpukau dengan cerita yang luar biasa.

Perkataan Muhammad bin Sirin tentang Pentingnya Memilih Sumber Ilmu

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Oleh karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

(Sumber: Muqaddimah Shahih Muslim, Bab Bayan Anna al-Isnad min ad-Din, dan Sunan ad-Darimi no. 424).

Perkataan ini sangat penting untuk kita perhatikan.

Agama tidak boleh diambil dari sembarang orang. Kita harus memperhatikan siapa yang menyampaikan ilmu, bagaimana pemahamannya, serta apakah dalil yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan menggunakan prinsip, “Ambil baiknya, buang buruknya,” sementara kita sendiri belum memiliki ilmu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jika seseorang sering menyampaikan hadis palsu, kisah dusta, atau cerita yang tidak jelas asal-usulnya, jangan mudah mengambil ilmu darinya.

Kita harus melakukan tabayun dan memeriksa sumber berita yang disampaikan.

Bagaimana Jika Seseorang Mendatangi Dukun?

Perlu dibedakan antara orang yang mempercayai kisah dusta karena ketidaktahuannya dengan orang yang sengaja mendatangi dukun untuk meminta bantuan perkara gaib.

Jika seseorang mendatangi dukun atau peramal dan bertanya tentang sesuatu, terdapat ancaman yang sangat keras dalam hadis Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi seorang peramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, salatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”

(HR. Muslim no. 2230, dari sebagian istri Nabi ﷺ).

Adapun apabila seseorang membenarkan pengakuan dukun mengenai perkara gaib, terdapat ancaman yang lebih berat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ

“Barang siapa mendatangi seorang dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

(HR. Abu Dawud no. 3904 dan at-Tirmidzi no. 135; diriwayatkan pula dalam Musnad Ahmad).

Hadis ini merupakan ancaman yang sangat serius. Karena itu, seorang muslim tidak boleh mendatangi dukun, mempercayai ramalan, atau meminta bantuan mereka untuk mengetahui perkara gaib.

Perlu juga dipahami bahwa tidak setiap orang yang mempercayai cerita palsu otomatis jatuh ke dalam kesyirikan. Hukum mempercayai cerita dusta berbeda dengan hukum membenarkan pengakuan dukun mengenai perkara gaib. Keduanya harus dibedakan sesuai dengan jenis keyakinan dan perbuatannya.

Wallahu a‘lam.

11. Penutup: Beberapa Pelajaran Penting dari Kisah Juraij

Dari keseluruhan kisah Juraij, terdapat sejumlah pelajaran yang dapat kita ambil:

1. Kisah merupakan metode dakwah yang efektif. Kisah yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis dapat menyentuh hati serta menguatkan keimanan seseorang.

2. Jangan tertipu dengan penampilan. Orang yang terlihat terhormat belum tentu baik di sisi Allah, sedangkan orang yang dituduh buruk belum tentu bersalah.

3. Jangan mudah memfitnah orang saleh. Masyarakat dalam kisah Juraij terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa melakukan tabayun.

4. Doa orang tua memiliki kedudukan yang besar. Karena itu, orang tua hendaknya membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya.

5. Karamah para wali benar-benar ada. Namun, karamah terbesar adalah istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.

6. Karamah harus dibedakan dari sihir. Tidak semua kejadian luar biasa merupakan karamah. Kita harus mengukurnya berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah.

7. Ilmu harus mendahului amal. Seorang muslim hendaknya tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga memahami tuntunan agama agar ibadahnya benar.

8. Pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Bergaullah dengan orang-orang saleh yang dapat membantu kita istiqamah dalam ketaatan.

9. Jangan mudah mengambil ilmu dari sembarang orang. Periksa sumber berita, hadis, dan kisah yang disampaikan. Jangan sampai kita menyebarkan kedustaan atas nama agama.

10. Jangan mudah tertipu oleh orang yang mengaku mengetahui perkara gaib. Pengetahuan tentang perkara gaib merupakan kekhususan Allah, sedangkan dukun dan peramal wajib dijauhi.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu, rajin beribadah, istiqamah di atas sunnah, serta diberikan lingkungan pergaulan yang saleh.

Wallāhu a‘lam.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 *****

Kisah juraij