Bismillah
Pengaruh Keshalihan Orang Tua Terhadap Keshalihan Anak | Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M. A.
Daftar Isi:
Jika Ingin Memiliki Anak yang Saleh, Jadilah Orang Tua yang Saleh
Pendahuluan
Setiap orang tua tentu menginginkan anak yang saleh, rajin beribadah, berbakti kepada orang tua, serta memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Namun, kebahagiaan orang tua tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan duniawi anaknya. Jabatan tinggi, kekayaan, dan kedudukan di tengah masyarakat tidak selalu menjamin kebahagiaan apabila anak tidak memiliki kesalehan dan kurang berbakti kepada orang tuanya.
Bayangkan dua orang anak. Anak pertama memiliki jabatan tinggi dan kehidupan dunia yang mapan, tetapi kurang memperhatikan orang tuanya. Sementara itu, anak kedua hidup sederhana, tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi sangat perhatian, berbakti, dan senantiasa membantu orang tuanya. Tentu, anak yang kedua dapat memberikan kebahagiaan yang sangat besar bagi orang tuanya.
Kesalehan anak merupakan nikmat yang luar biasa. Anak yang saleh bukan hanya membahagiakan orang tuanya ketika masih hidup, melainkan juga dapat memberikan manfaat setelah orang tuanya meninggal dunia. Bahkan, dengan izin Allah, kesalehan anak dapat menjadi sebab terangkatnya derajat orang tua di akhirat.
Oleh karena itu, apabila kita menginginkan anak yang saleh, salah satu usaha terpenting yang harus dilakukan adalah memperbaiki kesalehan diri kita sendiri.
1. Anak yang Saleh Menjadi Kebahagiaan bagi Orang Tua
Kesalehan anak terlihat dalam ketaatannya kepada Allah, kesungguhannya beribadah, serta baktinya kepada kedua orang tua. Anak yang saleh akan berusaha memperhatikan kebutuhan orang tuanya, terutama ketika mereka sudah lanjut usia, sakit, atau membutuhkan pertolongan. Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan pendidikan agama dan tidak terbiasa berbakti bisa jadi kurang memperhatikan orang tuanya ketika mereka membutuhkan bantuan. Karena itu, orang tua hendaknya tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi anak, tetapi juga bersungguh-sungguh membimbingnya agar menjadi hamba Allah yang taat.
Anak yang saleh juga dapat menjadi amal jariah bagi orang tuanya. Ketika orang tua telah meninggal dunia, doa dan amal kebaikan anaknya tetap memberikan manfaat dengan izin Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).
Anak yang saleh juga dapat mendidik keturunannya menjadi saleh. Dengan demikian, manfaat pendidikan dan keteladanan orang tua dapat berlanjut kepada generasi berikutnya. Pahala dari amal anak dan keturunannya yang saleh merupakan karunia Allah yang sangat diharapkan.
2. Anak yang Saleh Dapat Mengangkat Derajat Orang Tua
Manfaat anak yang saleh tidak terbatas di dunia. Dengan izin Allah, anak yang saleh juga dapat menjadi sebab terangkatnya derajat orang tua di akhirat.
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
“Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucunya itu dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.” (QS. At-Tur [52]: 21)
Ayat ini menjelaskan karunia Allah kepada orang-orang beriman, yaitu dipertemukannya mereka dengan keturunan mereka yang mengikuti keimanan. Allah memberikan karunia tersebut tanpa mengurangi pahala amal mereka sedikit pun.
Dalam ceramah ini dijelaskan bahwa apabila seorang anak memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, sementara orang tuanya berada pada kedudukan yang lebih rendah, Allah dapat mengangkat derajat orang tuanya sebagai bentuk karunia-Nya. Bukan anaknya yang harus diturunkan kepada derajat orang tuanya, melainkan orang tuanya yang diangkat oleh Allah.
Karena itu, mendidik anak agar menjadi saleh merupakan investasi akhirat yang sangat berharga. Kesalehan anak bukan hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi sebab kebaikan bagi kedua orang tuanya.
3. Kesalehan Orang Tua Merupakan Sebab Penting Kesalehan Anak
Apabila kita sangat mengharapkan anak yang saleh, kita harus melakukan usaha untuk mewujudkannya. Salah satu sebab terkuat yang memengaruhi kesalehan anak adalah kesalehan orang tuanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari, no. 1358; HR. Muslim, no. 2658).
Hadis ini menunjukkan besarnya pengaruh orang tua terhadap agama dan perkembangan anak. Anak membutuhkan bimbingan, pendidikan, dan teladan sejak kecil. Apabila orang tua memperhatikan agama dan mendidik anak dengan baik, hal itu menjadi sebab kuat bagi tumbuhnya kesalehan anak.
Sebaliknya, ketika orang tua mengabaikan pendidikan agama, tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban Islam, serta membiarkan anak tumbuh tanpa bimbingan, anak lebih rentan mengalami penyimpangan.
Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam pembahasan pendidikan anak bahwa kerusakan pada banyak anak berkaitan dengan kelalaian orang tua yang tidak mendidik mereka sejak kecil. Dalam transkrip ceramah, perkataan beliau disampaikan dengan redaksi:
وَأَكْثَرُ الْأَوْلَادِ إِنَّمَا جَاءَ فَسَادُهُمْ مِنْ قِبَلِ الْآبَاءِ
“Kebanyakan kerusakan anak-anak berasal dari pihak orang tua.”
Redaksi Arab ini mengikuti kutipan dalam transkrip dan perlu dicocokkan kembali dengan teks asli kitab sebelum digunakan sebagai kutipan ilmiah yang persis.
Tentu, hal ini bukan berarti semua anak pasti mengikuti keadaan orang tuanya. Ada anak yang menjadi saleh meskipun orang tuanya menentang dakwah, sebagaimana Ikrimah bin Abi Jahl yang masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi ﷺ, sedangkan ayahnya merupakan salah seorang penentang utama dakwah beliau. Sebaliknya, putra Nabi Nuh عليه السلام tidak mengikuti keimanan ayahnya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa hidayah berada di tangan Allah. Meskipun demikian, orang tua tetap berkewajiban berusaha mendidik anak sebaik mungkin dan tidak menjadikan pengecualian sebagai alasan untuk mengabaikan pendidikan agama.
4. Menjadi Orang Saleh Tidak Harus Menunggu Kaya atau Memiliki Jabatan
Menjadi orang saleh tidak harus menunggu kaya, mempunyai jabatan tinggi, atau belajar bertahun-tahun terlebih dahulu. Kesalehan dimulai dengan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan berusaha menjadikan seluruh kehidupan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Karena itu, orang tua yang ingin memiliki anak saleh hendaknya memulai dengan memperbaiki ibadahnya sendiri, menjaga shalat, mempelajari agama sesuai kemampuan, menjaga akhlak, serta berusaha menjauhi maksiat.
Kesalehan bukan sekadar penampilan atau pengakuan manusia. Kesalehan harus tercermin dalam ketaatan kepada Allah dan perilaku sehari-hari.
5. Keteladanan Orang Tua Lebih Kuat daripada Sekadar Nasihat
Anak membutuhkan teladan nyata. Ketika masih kecil, orang yang paling dekat dan paling sering diamati anak biasanya adalah orang tuanya. Karena itu, perilaku orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter anak.
Nasihat yang disampaikan melalui perilaku nyata sering kali lebih mudah diterima daripada nasihat yang tidak sesuai dengan perbuatan pemberinya.
Sebagai contoh, orang tua yang merokok tetapi melarang anaknya merokok akan kesulitan menjelaskan larangan tersebut apabila tidak memberikan contoh yang baik. Demikian pula orang tua yang terus-menerus bermain gim di telepon genggam, tetapi melarang anaknya melakukan hal yang sama tanpa memberikan alasan dan teladan, dapat menghadapi penolakan.
Anak akan lebih mudah menerima nasihat tentang shalat apabila melihat orang tuanya menjaga shalat. Anak akan lebih mudah dibimbing membaca Al-Qur'an apabila melihat orang tuanya juga mencintai Al-Qur'an. Anak akan lebih mudah belajar kejujuran, kesabaran, dan kepedulian apabila semua itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari keluarganya.
Oleh karena itu, sebelum menuntut anak memperbaiki diri, orang tua hendaknya terlebih dahulu memeriksa dan memperbaiki perilakunya sendiri.
6. Menciptakan Lingkungan Rumah yang Mendukung Kesalehan
Kesalehan orang tua akan memengaruhi suasana rumah. Orang tua yang berusaha menaati syariat akan berusaha membangun lingkungan keluarga yang mendukung ketaatan kepada Allah.
Rumah hendaknya menjadi tempat yang menumbuhkan iman, ilmu, dan akhlak yang baik. Di antaranya dengan:
- Membiasakan shalat dan ibadah bersama keluarga sesuai tuntunan syariat.
- Membiasakan membaca dan mempelajari Al-Qur'an.
- Menghadirkan kajian, bacaan, dan media yang bermanfaat bagi pendidikan agama.
- Menjaga ucapan, perilaku, serta adab di dalam rumah.
- Mengarahkan penggunaan televisi, telepon genggam, internet, dan gim agar tidak melalaikan kewajiban atau merusak akhlak.
- Membiasakan pakaian, pergaulan, dan kegiatan keluarga yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Pendidikan anak bukan hanya dilakukan melalui ceramah atau nasihat khusus. Suasana yang mereka lihat dan rasakan setiap hari juga merupakan bagian dari pendidikan.
7. Amal Saleh Orang Tua Dapat Menjadi Sebab Penjagaan Allah terhadap Anak
Di antara pelajaran penting dalam kisah Nabi Musa dan Khidir عليهما السلام adalah bahwa kesalehan orang tua dapat menjadi sebab datangnya penjagaan dan kebaikan dari Allah kepada keturunannya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)
Dalam kisah tersebut, Khidir menegakkan kembali dinding yang hampir roboh agar harta milik kedua anak yatim itu tetap terjaga sampai mereka dewasa. Allah menyebutkan bahwa ayah kedua anak tersebut adalah orang yang saleh.
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan antara kesalehan ayah dan penjagaan Allah terhadap kepentingan anak-anaknya. Namun, penjagaan Allah tidak berarti bahwa setiap anak dari orang tua saleh pasti terbebas dari semua ujian. Orang tua tetap harus berikhtiar, mendidik, dan bertawakal kepada Allah.
Allah juga memberikan arahan kepada orang-orang yang mengkhawatirkan keadaan keturunan mereka setelah meninggal dunia.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa' [4]: 9).
Ayat ini mengingatkan orang tua agar bertakwa kepada Allah dan menjaga perkataan mereka. Apabila kita mengkhawatirkan masa depan anak, jangan hanya mengandalkan harta atau kedudukan. Perbaikilah ketakwaan, pendidikan, dan tanggung jawab kita dalam membimbing keluarga.
8. Orang Tua yang Saleh Akan Banyak Mendoakan Anak
Usaha mendidik anak harus disertai doa. Orang tua yang menginginkan kesalehan anaknya hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar anak-anaknya mendapatkan hidayah, memiliki akhlak yang baik, dan istiqamah dalam ketaatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga doa yang mustajab, tidak diragukan lagi: doa orang tua, doa orang yang sedang bepergian, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud, no. 1536. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama).
Karena doa orang tua memiliki kedudukan yang besar, biasakan mendoakan anak dalam berbagai kesempatan. Ketika anak hendak berangkat sekolah, ketika selesai shalat, atau ketika kita teringat kepada mereka, mohonkanlah kebaikan kepada Allah.
Sebaliknya, orang tua harus berhati-hati agar tidak mudah mendoakan keburukan ketika sedang marah. Anak merupakan amanah dan aset yang sangat berharga. Jangan sampai lisan yang seharusnya digunakan untuk mendoakan kebaikan justru menjadi sebab datangnya keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan atas anak-anak kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan atas harta kalian. Jangan sampai kalian bertepatan dengan suatu waktu ketika Allah diminta memberikan sesuatu, lalu Dia mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim, no. 3009).
Hadis ini merupakan peringatan agar orang tua menjaga lisannya, khususnya ketika emosi. Didiklah anak dengan tegas apabila diperlukan, tetapi jangan menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk melontarkan doa yang buruk.
9. Kesalehan Orang Tua Membentuk Kebanggaan dan Identitas Anak
Anak yang melihat orang tuanya sebagai pribadi yang baik, jujur, bertanggung jawab, dan taat kepada Allah dapat tumbuh dengan rasa hormat serta kebanggaan terhadap keluarganya. Ia memiliki teladan yang ingin diikuti dan kehormatan keluarga yang ingin dijaga.
Al-Qur'an menggambarkan bagaimana Maryam عليه السلام ditegur oleh kaumnya ketika mereka mengira telah melihat sesuatu yang tidak pantas pada dirinya.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
“Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk dan ibumu bukanlah seorang perempuan pezina.” (QS. Maryam [19]: 28)
Ucapan kaumnya tersebut menunjukkan bahwa mereka mengaitkan perilaku Maryam dengan kehormatan keluarganya. Ayat ini perlu dipahami sesuai konteks kisah Maryam dan tidak berarti bahwa kemuliaan keluarga menjamin setiap keturunannya pasti saleh.
Pelajaran yang dapat diambil dalam konteks pendidikan keluarga adalah bahwa orang tua hendaknya membangun kehormatan melalui ketaatan, akhlak, dan tanggung jawab. Anak perlu melihat bahwa kemuliaan sejati bukan sekadar kekayaan atau kedudukan, melainkan kebaikan yang diridai Allah.
10. Memilih Lingkungan dan Pergaulan yang Baik bagi Anak
Kesalehan orang tua juga terlihat dari kesungguhannya memperhatikan lingkungan anak. Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak bergaul, bagaimana kegiatan hariannya, apa yang dipelajari, serta apa yang dikonsumsi melalui media digital.
Lingkungan yang baik dapat membantu anak terbiasa melakukan kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat memberikan pengaruh negatif apabila anak tidak memiliki bekal iman dan pengawasan yang memadai.
Karena itu, orang tua hendaknya mempertimbangkan dengan saksama pilihan sekolah, pendidikan agama, kegiatan harian, teman pergaulan, dan penggunaan gawai. Pondok pesantren, sekolah dengan pendidikan agama yang baik, atau program belajar terarah dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan keadaan masing-masing keluarga.
Perhatian orang tua tidak berhenti ketika anak mulai dewasa. Ketika anak hendak menikah, orang tua juga hendaknya membantu memilih pasangan yang baik agama dan akhlaknya, dengan tetap memperhatikan kerelaan serta hak anak.
Tujuannya bukan sekadar membatasi anak, melainkan membantu mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendukung keimanan dan tanggung jawab.
11. Menjaga Kehalalan Nafkah bagi Keluarga
Kesalehan orang tua juga tampak dari kehati-hatiannya dalam mencari dan memberikan nafkah. Orang tua hendaknya berusaha memperoleh rezeki melalui jalan yang halal serta menjauhi penghasilan yang haram.
Nafkah bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan fisik keluarga. Orang tua juga perlu memperhatikan keberkahan harta yang digunakan untuk membesarkan dan mendidik anak.
Penghasilan yang diperoleh melalui jalan yang haram dapat membawa dosa dan mudarat. Oleh sebab itu, jangan sampai keinginan memenuhi kebutuhan keluarga membuat seseorang meremehkan batas-batas yang telah Allah tetapkan.
Mencari nafkah halal, menunaikan kewajiban, dan menghindari kezaliman merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. Semua itu perlu disertai pendidikan, doa, dan keteladanan agar anak tumbuh dengan pemahaman agama yang benar.
Penutup
Apabila kita menginginkan anak yang saleh, berbakti, bermanfaat bagi keluarga, serta menjadi kebaikan bagi kaum muslimin, mulailah dengan memperbaiki diri sendiri.
Kesalehan orang tua dapat memberikan pengaruh besar melalui berbagai jalan:
- Orang tua menjadi teladan nyata bagi anak.
- Kesalehan orang tua membantu membentuk suasana rumah yang baik.
- Amal saleh orang tua dapat menjadi sebab penjagaan dan kebaikan dari Allah bagi keturunannya.
- Orang tua yang saleh akan banyak mendoakan anak-anaknya.
- Akhlak dan kehormatan orang tua dapat menjadi teladan yang ingin diikuti anak.
- Orang tua akan lebih memperhatikan lingkungan, pendidikan, dan pergaulan anak.
- Orang tua akan berusaha memberikan nafkah yang halal dan berkah.
Namun, kita harus selalu ingat bahwa hidayah berada di tangan Allah. Kesalehan orang tua bukan jaminan mutlak bahwa semua anak pasti saleh. Ada anak para nabi yang tidak mengikuti keimanan orang tuanya, dan ada pula orang saleh yang berasal dari keluarga yang menentang kebenaran. Karena itu, tugas kita adalah berikhtiar, mendidik, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.
Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, menjadikan kita orang tua yang saleh, menganugerahkan kepada kita keturunan yang saleh dan salehah, serta menjadikan anak-anak kita penyejuk mata dan pemberi manfaat di dunia maupun di akhirat. Amin, wahai Rabb seluruh alam.
*****
Poster Ringkasan

*****