بسم الله الرحمن الرحيم
📚 Kajian Kitab Fawaid Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah Karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Muhsin Rahimahullah
🎙┃ Ustadz Mohammad Alif, Lc., M.Pd حفظه الله تعالى
🗓️┃Jum'at, 10 Juli 2026 M / 25 Muharram 1448 H
🕰️┃ Ba'da Maghrib
🕌┃ Masjid Al-Qomar Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo
📖┃ Daftar Isi:
📖 Hadits ke-21: Jalan Menuju Surga
الحَدِيْثُ الحَادِي وَالعِشْرِيْنَ
عَنْ أَبيْ عَبْدِ اللهِ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَرَأَيْتَ إِذا صَلَّيْتُ المَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الحَلاَلَ، وَحَرَّمْتُ الحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلى ذَلِكَ شَيئاً أَدْخُلُ الجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ”رَوَاهُ مُسْلِمٌ
وَمَعْنَى حَرَّمْتُ الحَرَامَ اِجْتَنَبْتُهُ، وَمَعْنَى أَحْلَلْتُ الحَلالَ فَعَلْتُهُ مُعْتَقِداً حِلَّهُ
Hadits Kedua puluh satu
Dari Abu ‘Abdillah Jarir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda (kabarkan padaku), apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”
📗 HR. Muslim, no. 15.
Makna “Aku mengharamkan yang haram”, ialah aku menjauhinya. Dan makna “Aku menghalalkan yang halal” ialah aku menghalalkannya lalu melakukannya dengan meyakini kehalalannya. Wallahu a’lam.
💡 Penjelasan:
Hadits ini menjelaskan tentang amalan-amalan dasar sebagai syarat masuk surga. Dan sahabat selalu menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat yaitu surga, bukan perkara dunia.
Tujuan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah masuk surga, itu tujuan utamanya. Tujuan utama mereka hidup bukanlah untuk memperbanyak harta, memiliki banyak anak, tidak untuk bermegah-megahan dalam hal dunia.
Dan mereka mencukupkan pada sunnah-sunnah Nabi ﷺ bukan pada perkara-perkara bid'ah.
💡 Faedah Hadits:
- Orang yang melaksanakan kewajiban dan menjaga diri dari hal-hal yang haram, pasti akan masuk surga.
- Boleh meninggalkan perkara-perkara yang hukumnya tatawu' (Sunnah) dengan syarat tidak menganggap enteng atau meremehkan perkara-perkara sunnah. Karena amalan-amalan sunnah adalah penghapus dosa dan penyempurna amalan-amalan wajib.
- Di sini melihat keadaan seseorang, bisa jadi penanya baru masuk Islam, sehingga imannya mantap.
- Ini menunjukkan besarnya kedudukan shalat lima waktu, besarnya perkara-perkara yang halal dan menjauhi perkara yang haram.
- Sesungguhnya dengan menjauhi perkara-perkara yang haram dan makan makanan yang halal, merupakan kunci kebaikan bagi setiap pribadi muslim dan masyarakat.
💡 Kaidah nabawiyah:
لَمْ أَزِدْ عَلى ذَلِكَ شَيئاً
Aku cukupkan yang seperti itu dan tidak menambahkan sedikitpun
*****
📖 Hadits ke-22: Perintah Istiqamah
الحَدِيْثُ الثَّانِي وَالعِشْرُوْنَ
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Hadits Kedua puluh dua
Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
📗 HR. Muslim, no. 38.
💡 Penjelasan:
Dari hadits ini tercakup pengertian iman yaitu amalan lisan (Katakanlah: aku beriman kepada Allah), hati dan perbuatan (istiqamahlah).
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)
Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat di atas, ia pun berdo’a, “Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 245).
💡 Faedah Hadits:
-
Hadits ini adalah perintah kepada kita semua, meskipun redaksinya untuk sahabat Sufyan bin ‘Abdillah Ats-Tsaqafi, yaitu perintah istiqamah. Maknanya bersikap benar, lurus dan pertengahan pada perkara niat, ucapan dan perbuatan.
-
Perintah untuk menjauhi perkara yang diharamkan dan menjauhi segala perkara yang menyelisihi syariat baik dari ucapan atau perbuatan.
-
Boleh untuk berfatwa (menjawab pertanyaan) secara ijmal (global) jika orang yang bertanya paham tanpa diperinci.
-
Hadits ini menetapkan keumuman istiqamah dalam amalan.
💡 Kaidah nabawiyah:
قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ
Katakanlah Aku beriman Kepada Allah ﷻ kemudian Istiqamahlah.
*****
📖 Hadits ke-23: Keutamaan Bersuci, Shalat, Sedekah, Sabar, Shahibul Qur'an
الحَدِيْثُ الثَّالِثُ وَالعِشْرُوْنَ
عَنْ أَبِي مَالِكٍ الحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:) الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَو مُوْبِقُهَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Hadits Kedua puluh tiga
Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan. Ucapan subhanallah (Mahasuci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri.’” (HR. Muslim)
✍️ [HR. Muslim, no. 223]
📃 Penjelasan:
Hadits ini diawali dengan fiqh agar setiap muslim mengilmui dirinya dengan hal-hal yang kecil sebelum hal-hal yang besar seperti halnya jihad. Sehingga, seseorang tidak berjihad sementara hal-hal bersuci masih belum paham.
Bacaan alhamdulillah memenuhi timbangan. Sedangkan bacaan subhanallah dan alhamdulillah memenuhi langit dan bumi, bisa jadi dengan dua bacaan tersebut bersama-sama atau salah satunya.
Shalat adalah cahaya, yaitu cahaya pada hati, tubuh dan cahaya pada wajah. Cahaya ini adalah hidayah dan juga akan menjadi cahaya di alam kubur dan pada hari kiamat.
Sedekah adalah bukti benarnya iman seseorang karena biasanya jiwa bersifat pelit dengan harta. Sifat orang munafik biasa beramal atas dasar riya’. Ia sulit bersedekah karena pelitnya pada harta.
Sabar disebut dhiya' bukan nur, yaitu cahaya yang panas sebagaimana sabar memerlukan perjuangan seperti halnya melawan panas.
💡 Faedah Hadits:
-
Hadits ini menetapkan adanya timbangan dimana amalan-amalan hamba akan ditimbang pada hari kiamat. Timbangan hakiki yang memiliki dua mata timbangan. Yang ditimbang amalan-amalan hamba, anggota badan, catatan-catatan amal dan kartu Laa ilaaha illallah.
-
Keutamaan bersuci dan ini adalah setengah keimanan.
-
Keutamaan tasbih dan tahmid.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)
-
Besarnya pahala shalat dan sedekah serta kesabaran.
Hadits dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Hendaklah Engkau memperbanyak sujud (perbanyak salat) kepada Allah. Karena tidaklah Engkau memperbanyak sujud karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.” (HR. Muslim no. 488)
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Sedekah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api” [Shahih at-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani].
Sabar ada tiga, dalam ketaatan, meninggalkan kemaksiatan dan dalam menghadapi musibah.
-
Orang yang beramal sesuai dengan Al-Qur’an akan menghantarkan ke dalam surga.
-
Sesungguhnya setiap orang itu ada yang berusaha membinasakan dirinya dan ada yang berusaha membahagiakan dirinya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)
💡 Kaidah nabawiyah:
القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
Al-Qur'an bisa menjadi pembela atau musuh bagi pembacanya.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم