Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Ramadhan: Apa yang disiapkan?
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA. hafizhahullah (Pembina Yayasan Amal Abadi Indonesia, Yufid TV & ANB Channel).
🗓️┃ Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Januari 2026 M / 28 Rajab 1447
🕌┃ Tempat : Kediaman dr. Arif Nurudin - Colomadu
📖┃ Daftar Isi :



Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu dan mengingatkan pentingnya makanan bagi hati.

Allah ﷻ memberikan perumpamaan dengan firman-Nya:

اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗ

"Dia telah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air itu di lembah-lembah sesuai dengan ukurannya. (QS. Ar-Ra'd Ayat 17)

Hati memerlukan siraman nutrisi berupa ilmu yang diamalkan sehingga terhindar dari penyakit endemik yang menjadi akar segala masalah berupa kesyirikan. Maka, ilmu yang bermanfaat akan menghasilkan iman yang kuat.

Ramadhan: Apa yang disiapkan?

Allah ﷻ memberi perumpamaan dalam Al-Qur’an dalam Surat Ibrahim Ayat 24:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ. تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Jika, iman kuat, maka imbasnya akan terlihat dalam akhlaknya, muamalahnya, dan segala aktivitas kehidupannya. Dia akan selalu bermanfaat bagi manusia lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289)

Dia akan berakhlak yang baik dan tidak menggangu mereka. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ فُلانَةً تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ ، وَتَفْعَلُ ، وَتَصَّدَّقُ ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا خَيْرَ فِيهَا ، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، قَالُوا : وَفُلانَةٌ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ ، وَتَصَّدَّقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلا تُؤْذِي أَحَدًا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Pernah dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan yang rajin tahajud, rajin puasa sunnah, banyak kebaikannya, dan dia bersedekah, tetapi perempuan ini suka menyakiti tetangganya (dengan lisannya).” Rasulullah mengomentari, “Perempuan itu tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia termasuk penghuni Neraka.” Mereka berkata, “Ada seorang perempuan lain yang shalatnya hanya yang lima waktu, menyedekahkan sesuatu yang sedikit, tapi dia tidak pernah menyakiti tetangganya?” Rasulullah mengomentari, “Dia termasuk dari penduduk Surga.”

(HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 119 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala)

Wanita ini mengerjakan sholat pada malam hari, di siang hari dia berpuasa, dia juga memiliki amalan-amalan sholih dan dia juga memperbanyak dari ibadah shodaqoh, hanya saja dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya. Misalnya dia suka mencela atau ghibah dan lainnya dari berbagai macam penyakit lisan. Maka Nabi mengatakan : “Perempuan itu tidak ada kebaikan pada dirinya”.

Dan ini merupakan peringatan yang keras bagi siapa saja yang memiliki sifat ini yaitu menyakiti tetangga dengan lisannya. Dan apabila terkumpul pada diri seseorang bahwa dirinya suka menyakiti tetangga dengan lisan dan juga tangannya, maka ini adalah kejahatan diatas kejahatan dan kejelekan di atas kejelekan. Yang mengindikasikan amalan-amalannya tidak diterima.

Kemudian, menjelang Ramadhan bulan yang mulia, apa yang harus kita persiapkan?

1. Berdo'a kepada Allah ﷻ

Agar bisa dipertemukan dengan bulan yang mulia ini. Karena Allah ﷻ banyak memberikan kesempatan untuk melipatgandakan amal.

Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – yang mengatakan,

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa beliau mengatakan,

Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

Allahumma sallimni ilaa Ramadhana wa sallimni Ramadhana Wa tasallamhu minni mutaqabbala

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Ini tidak mengherankan, karena satu Ramadhan bisa meningkatkan derajat di surga yang begitu tinggi. Kita lihat hadits Thalhah saat bermimpi dalam kisah berikut:

Ucap Rasulullah ﷺ membenarkan mimpi Thalhah.

Di sebuah malam, Thalhah bin Ubaidillah, sahabat Rasulullah yang setia, terbaring dalam tidur yang nyenyak, bermimpi melihat hal aneh.

Dalam mimpi itu, ia berdiri di depan pintu surga, di mana dua sosok muncul di hadapannya. Mereka adalah dua orang dari Yaman yang pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan memeluk Islam pada waktu yang sama. Salah satu di antara mereka jauh lebih giat beribadah, lebih lama mencurahkan waktu dan tenaga untuk berjuang di jalan Allah. Ia pergi berperang, berkorban nyawa di medan jihad, syahid di sana, dan meninggalkan dunia ini dalam kesyahidan yang mulia. Sementara yang satu lagi, meskipun tak seaktif yang pertama, ia tetap istiqamah, namun ia masih diberi waktu hidup setahun lagi. Tak ada yang tahu bahwa kehidupan singkat mereka berdua akan memberikan pelajaran penting tentang keutamaan Ramadhan.

Dalam mimpinya, Thalhah melihat sosok yang keluar dari pintu surga dan memberikan izin kepada yang meninggal belakangan. Dengan kebingungan, Thalhah menyaksikannya dipersilakan masuk ke dalam surga. Kemudian, sosok itu kembali, dan memberi izin kepada yang syahid, yang sudah lebih dulu menghadap Allah. Lalu sosok ini kembali dan mendekati Thalhah seraya berkata, “Kembalilah, karena waktumu belum tiba.”

Thalhah terbangun dari tidurnya, ia tak bisa menahan rasa takjub dan kebingungannya. Ia menceritakan apa yang ia lihat dalam tidurnya kepada orang-orang di sekitarnya, membuat mereka semua juga takjub dengan kejadian yang begitu luar biasa itu. Berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau pun bertanya dengan lembut:

مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ

“Kenapa kalian heran?”

Mereka menjawab:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا ثُمَّ اسْتُشْهِدَ، وَدَخَلَ هَذَا الْآخِرُ الْجَنَّةَ قَبْلَهُ

“Wahai Rasulullah, orang yang lebih giat beribadah, yang lebih lebih dahulu meninggal dan syahid di jalan Allah, justru masuk surga setelah orang yang lebih lama hidup dan baru meninggal setelahnya?!”

Beliau ﷺ menjelaskan:

أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ

“Bukankah orang yang hidup lebih lama itu telah menjalani hidupnya selama satu tahun lebih lama? Sehingga bisa berpuasa di bulan Ramadhan? Dan mendirikan shalat sepanjang tahun?”

Mereka terdiam, menyadari betapa besar keutamaan bulan Ramadan dan betapa berharganya setiap detik dan waktu yang diberikan oleh Allah. Rasulullah ﷺ melanjutkan:

فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jarak antara keduanya, antara yang lebih lama hidup dan yang syahid, lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.”

(HR. Ibnu Majah, no. 3925, Ahmad, no. 1403, Ibnu Hibban, no. 2982 dengan penyesuaian).

Maka, berdoalah seperti do'a diriwayatkan Yahya bin Abi Katsir di atas. Karena:

  1. Tidak ada yang bisa menjamin umur kita sampai Ramadhan.
  2. Agar dimudahkan dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
  3. Agar amalan-amalan ibadah diterima di sisi Allah ﷻ.

2. Membersihkan hati sebelum Ramadhan

Memperbanyak istighfar sebelum Ramadhan sangat dianjurkan untuk membersihkan hati, menghapus dosa, dan membuka pintu rahmat Allah, agar kita bisa memasuki bulan suci dengan jiwa yang bersih dan siap meraih keutamaan Ramadhan, dengan memohon ampunan atas kesalahan masa lalu dan mempersiapkan diri untuk ibadah lebih baik.

Karena penghalang dalam ketaatan adalah banyaknya dosa-dosa yang telah dilakukan. Dosa yang menumpuk membuat hati terasa keras dan enggan beribadah. Shalat, tilawah, dan ibadah lainnya terasa berat atau bahkan membosankan.

Seperti halnya orang-orang yang akan umrah, membersihkan diri terlebih dahulu di miqat dalam jarak yang jauh.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 46:

۞ وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ۝٤٦

Seandainya mereka mau berangkat (sejak semula), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”

Dalam ayat ini Allah ﷻ tidak menghendaki orang-orang munafik bersama barisan kaum muslimin. Demikian juga jika bulan ibadah di bulan Ramadhan, banyak manusia rajin ibadah, tetapi sebagian orang dibuat malas untuk beribadah. Na'udzubillahmindalik.

Maka, cari penyebab Kenapa Allah ﷻ membenci kita. Maka perbanyak istighfar. Amalkan istighfar rutin di waktu-waktu mustajab seperti setelah shalat fardhu, malam hari, dan terutama saat sahur, serta mohon ampunan atas kesalahan dan maksiat.

3. Persiapan pemanasan ibadah

Persiapan "pemanasan" ibadah sebelum Ramadan, khususnya pada bulan Sya'ban, sangat dianjurkan agar tubuh dan jiwa tidak kaget saat memasuki bulan suci. Rasulullah ﷺ mencontohkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amal sebelum Ramadan tiba.

Maka bulan Sya'ban dijuluki sebagai bulan para ahli Al-Qur'an (Syahrul Qurra') karena pada bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak membaca dan mendalami Al-Qur'an, sebagai persiapan spiritual menyambut bulan Ramadhan, dengan para ulama terdahulu seperti Amr bin Qais menutup tokonya untuk fokus mengaji. Sya'ban juga disebut bulan "menyiram tanaman amal" untuk mempersiapkan panen di Ramadhan, di mana amal-amal diangkat ke Allah ﷻ.

4. Buat Target dalam Ramadhan

Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hambal rahimahumallah suatu hari meminta nasihat ke Abahnya mengatakan: “Berikan aku nasihat Wahai Abiku.”

Beliau berkata:

“يا بني انو الخير فإنك لا تزال بخير ما نويت الخير”.

Anakku, tetaplah meniatkan kebaikan. Kamu akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat baik.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 6491), Muslim (no. 131 [207]) dan Ahmad (I/310, 361).

Maka, buat target untuk mengejar amalan-amalan di bulan Ramadhan yang akan datang, seperti target membaca Al-Qur’an. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan kita.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم