ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Setiap SELASA ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
📖┃ Daftar Isi:
باب ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر
Pertemuan#19: Bab Keterangan Bahwa Bid'ah itu Lebih Berat Bahayanya Dibandingkan Dosa-dosa Besar
📖 40. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
باب ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر
Bab Keterangan Bahwa Bid'ah itu Lebih Berat Bahayanya Dibandingkan Dosa-dosa Besar (https://shamela.ws/book/11221/11#p1).
📃 Penjelasan:
Bid’ah secara bahasa adalah sesuatu yang diadakan tanpa contoh sebelumnya, termasuk dalam hal ini adalah Firman Allah ﷻ:
بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
“(Allah) Pencipta langit dan bumi (dengan penciptaan yang bagus dan indah tanpa contoh sebelumnya).” (Al-Baqarah: 117).
Yakni Allah ﷻ menciptakan dan mengadakan langit dan bumi dari ketiadaan. Jadi bid’ah adalah sesuatu yang diadakan. Ini secara bahasa.
Adapun secara syariat, maka ia adalah mengada-ada sesuatu yang baru dalam agama yang tidak memiliki dasar dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Misalnya mengadakan ibadah yang tidak memiliki dasar, karena asas ibadah adalah tauqifiyah, sehingga memerlukan dalil dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Adapun apa yang tidak berdasarkan dalil, maka ia adalah bid’ah yang tercela dan tertolak, karena Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah ﷻ berfirman,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmatKu bagi kalian.” (Al-Ma’idah: 3).
Allah menyatakan bahwa Dia telah menyempurnakan agang Ini sebelum Rasulullah ﷺ wafat. Maka tidaklah Rasulullah ﷺ Wafat kecuali agama ini sudah sempurna bagi umat. Jadi apapun yang diada-adakan sesudahnya di dalam agama, maka ia tertolak.
Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718]
Dalam riwayat Muslim, disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim, no. 1718]
Barangsiapa mengada-adakan dalam ajaran agama Nabi ﷺ atau melakukan satu amalan yang tidak berdasarkan perintah Nabi ﷺ , maka ia tidak diterima di sisi Allah, ia tertolak atas pelakunya sekalipun pelakunya memiliki niat yang baik dan menginginkan pahala. Ini bukan alasan yang benar untuk berbuat bid’ah, sekalipun niat pelakunya baik, atau ingin mendekatkan diri kepada Allah, seraya dia berkata, “Ini merupakan tambahan kebaikan” Kami menjawab, “Ini tambahan keburukan, bukan kebaikan.”
Kebaikan adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, oleh karena itu, beliau bersabda,
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah).” (HR. Muslim, no. 867)
Ini menunjukkan bahwa bid’ah adalah keburukan, sekalipun pelakunya menyangkanya baik.
Kemudian sabda Nabi ﷺ,
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
“Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan erat) di neraka.” (HR. Muslim no. 867 dan HR. An Nasa’i no. 1578 dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu)
Setiap bid’ah adalah kesesatan. Jadi tidak ada bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), sebagaimana yang disuarakan oleh sebagian pelaku bid’ah yang hendak melariskan bid’ah mereka, dengan alasan bahwa ia adalah bid’ah hasanah, bukan bid’ah sayyiah (buruk) padahal Rasulullah ﷺ telah menyatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan, tidak ada bid’ah hidayah atau kebaikan. Seandainya amal itu memang baik, niscaya Allah sudah mensyariatkannya bagi hamba-hambaNya, karena Allah ﷻ tidak meninggalkan sesuatu yang baik bagi hamba-hambaNya kecuali Dia pasti telah mensyariatkannya bagi mereka. Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan sesuatu dari agama ini kecuali beliau telah menjelaskannya, beliau tidak menyembunyikan sesuatu pun darinya, beliau telah menyampaikan dengan penyampaian yang nyata.
Nabi ﷺ bersabda,
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ
“Berpeganglah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Rasyidin yang diberi hidayah sesudahku, berpeganglah kepadanya, gigitlah ia dengan gigi geraham, dan jauhilah hal-hal yang diada-adakan.” [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676].
- Rasyid: Orang yang tahu akan kebenaran dan dia mengikutinya.
- Mahdiyin: Orang-orang yang mendapat petunjuk.
Di dalam hadits ini terkandung peringatan,
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
"Karena sesungguhnya semua ajaran baru yang dibuat-buat adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah kesesatan."
Tidak ada kebaikan apa pun dalam bid'ah, bahkan semuanya adalah kesesatan berdasarkan kesaksian Rasulullah ﷺ. Siapa yang mendatangkan sebuah ibadah atau amal dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, namun tidak ada dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya yang mendasarinya, maka ia adalah bid'ah ia adalah kesesatan dan keburukan, tidak mengandung kebaikan sebagaimana yang diklaim oleh para pelaku bid'ah yang mengada-adakan dzikir-dzikir atau ibadah-ibadah atau puasa atau shalat atau doa-doa atau hari raya atau selainnya, mereka menyangka bahwa hal itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah, dan bahwa ia disyariatkan. Ini batil dan tertolak atas pelakunya.
Tidak ada sedikit pun kebaikan di dalam bid'ah. Tidaklah suatu bid'ah terjadi kecuali sunnah yang sepertinya terangkat. Agama ini -segala puji hanya bagi Allah - telah sempurna. Pintu selalu terbuka bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan di atas jalan Rasulullah ﷺ.
Adapun mendatangkan hal-hal yang tidak berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, maka ia tertolak.
Oleh karena itu, para ulama memberikan perhatian terhadap masalah ini, dengan cara memperingatkan kaum Muslimin akan (bahaya) bid'ah. Mereka menyusun buku-buku dalam masalah ini, ada yang panjang dan ada yang ringkas. Di antaranya adalah Al-I'tisham, karya Imam asy-Syathibi'; Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah; al-Bida' wa an-Nahyu Anha, karya Muhammad bin Wadhdhah; al-Ba'its ala Inkar al-Bida wa al-Hawadits, karya Abu Syamah, dan masih banyak lagi buku buku yang panjang dan yang ringkas. Peringatan terhadap bid'ah ini juga disebutkan di dalam buku-buku syarah hadits Nabi ﷺ.
Bid'ah adalah keburukan. Ahli bid'ah merupakan ahli kesesatan. Bid'ah itu memerangi as-Sunnah, karena itu engkau mendapati para pelakunya membenci as-Sunnah dan mencintai bid'ah, mereka rajin menghidupkan bid'ah. Manakala as-Sunnah hadir, mereka bermalas-malasan mengamalkannya, dan as-Sunnah terasa berat bagi mereka. Hal ini adalah sesuatu yang sudah dimaklumi dari orang-orang ahli bid'ah, bahwa mereka hanya giat dan rajin dalam urusan bid'ah dan musim-musim (momen-momen) bid'ah. Adapun dalam urusan as-Sunnah, maka mereka adalah para pemalas. Ini adalah hukuman dari Allah ﷻ, karena siapa yang meninggalkan kebenaran maka dia akan diuji dengan kebatilan.
Masalah bid'ah tidak patut diremehkan, selamanya, karena ia berbahaya bagi agama dan kaum Muslimin. Bid'ah menggerus agama sedikit demi sedikit, sehingga bid'ah menggantikan posisi agama. Inilah yang setan inginkan bagi manusia, setan ingin menjauhkan manusia dari syariat Allah kepada bid'ah. Inilah yang diinginkan setan dari jenis jin dan manusia, yaitu menjauhkan manusia dari syariat Allah kepada bid'ah.
Kemudian sebagian atau kebanyakan dari mereka memiliki kepentingan di balik bid'ah, karena mereka makan dan hidup dari bid'ah. Mereka memiliki kepentingan dunia, dan dengannya mereka tetap bisa memimpin orang-orang. Allah ﷻ berfirman,
وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ
"Sekiranya mereka benar-benar ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata, "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (At-Taubah: 59).
Niscaya Allah memuliakan mereka, dan mencukupi mereka. Tidak disangsikan lagi bahwa kemuliaan dan ketinggian di dunia dan akhirat adalah dengan berpegang teguh kepada as-Sunnah dan mencampakkan bid'ah. Ini adalah bab besar, patut diberi perhatian yang cukup. Karena itu penulis berkata "Bab Keterangan Bahwa Bid'ah Itu Lebih Berat Daripada Dosa-dosa Besar"
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم