Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Selasa, 1 Sya’ban 1447 / 20 Januari 2026
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.



Pertemuan#27: Penjelasan Mengenai Agama yang Lurus [Tafsir Surat Ar-Rum ayat 30]

 

📖 56. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:

وقوله تعالى :

Dan Firman-Nya:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠ 

 Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

📃 Penjelasan:

Firman Allah ﷻ dalam surat Ar-Rum ayat 30-32:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاۗ كُلُّ حِزْبٍ ۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ ۝٣٢

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat) kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.

Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya dengan perkara-perkara yang tersebut dalam ayat yang mulia ini. Syaikh bermaksud untuk menyebutkan apa yang hadir tentang tafsir ayat ini dari hadits-hadits Nabi ﷺ dan atsar-atsar yang diriwayatkan. Allah memerintahkan NabiNya, Muhammad ﷺ , dengan FirmanNya, فَاَقِمْ وَجْهَكَ - "Maka tegakkan (hadapkan)lah wajahmu" yakni ikhlaskanlah amalmu. Menegakkan wajah dan menyerahkannya bermakna mengikhlaskan amal, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ

"Tidak demikian, (akan tetapi) barangsiapa menyerahkan diri (sepenuhnya) kepada Allah, dan dia berbuat baik, maka dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati." (Al-Baqarah : 112).

Firman Allah ta'ala: " أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ Menyerahkan diri (sepenuhnya) kepada Allah," yakni memurnikan amalnya dari noda syirik. وَهُوَ مُحْسِنٌ "dan dia berbuat baik" yakni mengikuti Rasulullah ﷺ dan memurnikan amalnya dari bid'ah dan hal-hal yang diada-adakan. Bila dua syarat ini terwujud, mengikhlaskan niat kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ dalam sebuah amal, niscaya amalnya bersih dari syirik dan bebas dari bid'ah dalam agama. Inilah yang Allah terima.

"Maka tegakkan (hadapkan) wajahmu kepada agama (Islam) فَاَقِمْ وَجْهَكَ : agama yang Allah perintahkan kepadamu untuk dipegang teguh, yaitu beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Agama adalah Tauhid, yaitu amal, ia adalah shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya yang disyariatkan oleh Allah. Ini adalah agama.

Firman Allah ﷻ "Yang lurus" الْقَيِّمُۙ, adalah suatu sifat bagi agama, yakni seimbang, yang tidak ada sikap berlebihan padanya dan tidak pula meremehkan, bahkan sebaliknya ia adalah agama yang lurus, seimbang di antara dua sisi: di antara berlebih-lebihan dan menyepelekan, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ

"Dan bahwasanya inilah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah ia!" (Al-An'am: 153).

Kata مُسْتَقِيْمًا "lurus" juga bermakna seimbang antara berlebih-lebihan dan meremehkan, antara melampaui batas dan menggampangkan. Inilah agama yang dengannya Allah mengutus para rasul, dan penutup mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Firman Allah Ta’ala, فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ "Maka tegakkan (hadapkan) lah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam)", Kata حَنِيْفًاۗ "lurus", bermakna yang menghadap kepada Allah yang berpaling dari selain Allah. Di ayat lain,

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ الْقَيِّمِ

"(Karena itu,) maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam)." (Ar-Rum: 43).

Kata الحنيف dan الْقَيِّمُۙ bermakna sama, yaitu yang menghadap kepada Allah, yang berpaling dari selain Allah, sehingga dia tidak berdoa kepada selain Allah bersama (doa) kepada Allah. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ

“dan ikutilah dengan teguh) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu," yakni, bahwa agama Islam ini adalah fitrah yang Allah menciptakan manusia di atasnya. Jadi fitrah di sini adalah agama Islam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1385: dan Muslim, no. 2658: dari Hurairah].

Pada asalnya, seseorang adalah Muslim, dan bahwa dia difitrahkan di atas Islam, yaitu mengikhlaskan agama kepada Allah. Ini adalah asal pada manusia, lalu bila manusia menyimpang, maka penyimpangan itu muncul padanya disebabkan pendidikan buruk yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya.

Kedua orangtuanyalah yang merubah fitrahnya yang telah Allah ciptakan untuknya. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia difitrahkan di atas Islam, yaitu mengikhlaskan amal dan ibadah kepada Allah, seandainya dia selamat dari pendidikan buruk dan kedua orangtuanya yang kafir, niscaya dia akan menuju agama Islam, mengikuti para rasul, akan tetapi dia menyimpang karena ulah para penyeru kepada kesesatan.

Kemudian Allah ta'ala لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ "Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah," tidak ada yang menciptakan manusia di atas kesyirikan selamanya dan tidak seorang pun yang mampu menciptakan manusia di atas kesyirikan, bahkan sebaliknya Allahlah yang menciptakannya di atas Tauhid, tidak seorang pun yang mampu merubah penciptaan ini, tetapi Dia (mampu) merubah makhluk, tidaklah manusia diciptakan melainkan di atas agama Islam, karena itu ada penjelasan di dalam hadits,

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

"Kedua orangtuanya yang meyahudikannya, menasranikannya atau memajusikannya, seperti hewan yang diciptakan melahirkan hewan (yang sehat dan lengkap), adakah kamu melihatnya cacat telinga?" (HR Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Seperti anak kambing yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan lengkap, dengan anggota tubuh yang sehat, tidak ada cacat padanya, dengan dua telinga, kemudian pemiliknya yang memotong telinganya, yakni membelahnya, jadi tidak ada kambing yang lahir dengan telinga terbelah, sebaliknya ia lahir dalam keadaan utuh sempurna, kemudian pemiliknya yang membelah kedua telinganya, mereka yang merubahnya sesudah penciptaan mereka merubah makhluk, bukan penciptaan. Penciptaan Allah ﷻ itu tidak bisa dirubah.

Kambing lahir dengan sepasang telinga, tanduk, telapak kaki, dan anggota-anggotanya, lalu bila ia mengalami pincang atau terbelah telinganya atau patah tanduknya, maka ia disebabkan oleh tindakan manusia, maka demikian juga لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ "tidak ada perubahan pada ciptaan Allah." Perubahan itu hanya untuk makhluk.

Adapun penciptaan maka ia khusus prerogatif Allah ﷻ, tidak ada yang turut campur tangan padanya.

"Itulah agama yang lurus." ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ Ini yang Allah wahyukan kepadamu, yaitu mengesakan Allah ﷻ dengan ibaah, dan meninggalkan ibadah kepada selainNya, adalah الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ "agama yang lurus," yakni yang lurus seimbang yang tidak ada kebengkokan di dalamnya, tidak melampaui batas dan tidak menggampangkan, tidak berlebih-lebihan dan tidak menyepelekan.

"Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ Mereka jahil terhadap agama ini, karena itu mereka terjatuh ke dalam apa yang mereka telah terjatuh ke dalamnya, berupa kesesatan dan penyimpangan, dan bila tidak demikian maka agama adalah lurus dan seimbang, dan bila terjadi penyimpangan, maka ia berasal dari ulah manusia.

Tetapi kebanyakan manusia - وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَاسِ Lihatlah Firman Allah ﷻ "kebanyakan أَكْثَرَ ." Ia menunjukkan bahwa jumlah besar (mayoritas) tidaklah dijadikan hujjah manakala mereka berada di atas kesesatan dan kesalahan, akan tetapi yang dijadikan hujjah adalah siapa yang berada di atas kebenaran sekalipun sedikit (minoritas). Siapa yang berada di atas kebatilan tidak bisa dijadikan hujjah walaupun berjumlah banyak, "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui " وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ mereka tidak mengetahui agama yang lurus seimbang, karena itu mereka terjatuh ke dalam apa yang mereka terjatuh ke dalamnya, yaitu kesesatan dan penyimpangan dari agama ini.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم