ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi : Bertahan dalam Ketakwaan walau tidak di Bulan Ramadhan
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., M.Pd hafidzahullah
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Selasa, 11 Syawal 1447 / 31 Maret 2026
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
Daftar Isi:
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mendo'akan kita setelah berlalunya bulan Ramadhan: Taqobbalallahu minna wa minkum Shaalihul A'mal. Semoga Allah ﷻ mengabulkan segala amal shalih saya dan anda semuanya. Aamiin.
Hendaknya diterimanya amalan menjadi perhatian kita semua, sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu:
“Hendaknya kalian menjadi orang yang lebih memperhatikan apakah amalnya diterima dari hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian mendengar firman Allah tabaraka wa ta’ala:
قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ
“Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [al-Maa’idah/5: 27]. (Tafsir al-Qurthubi 7/411).
Sebagaimana do'a yang sering dipanjatkan Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا، ورِزقًا طيِّبًا، وعَملًا مُتقَبَّلًا
“ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA ‘ILMAN NAFI’AN WA RIZQAN THAYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN.” (Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”) [Hadits Hassan Riwayat Ummu Salamah Radhiyallahu'anha].
Inti dari kajian ini adalah Istiqamah setelah Ramadhan. Kemudahan beramal setelah Ramadhan hendaklah dipertahankan, jangan sampai kita termasuk dari kelompok yang disebutkan ulama sebagai seburuk-buruk kaum.
يَتَعَبَّدُوْنَ فِي رَمَضَان وَيَجْتَهِدُوْنَ فِي الأَعْمَالِ، فَإِذَا انْسَلَخَ تَرَكُوْا! قَالَ: بِئْسَ القَوْم قَوْمٌ لَا يَعْرِفُوْنَ اللَّهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ
Pernah dikatakan kepada Bisyr al-Hafiy, bahwasanya ada sebuah kaum yang hanya beribadah pada bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Ketika Ramadhan berakhir mereka pun meninggalkan amal. Maka Bisyr mengatakan: “Seburuk-buruknya kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja.” (Miftahul Afkar: 2/283).
Makna Istiqamah
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat tahun 795 H) berkata menjelaskan makna istiqomah dengan mengatakan: “Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama”.
[Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, juz 1, hlm. 510, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bajis].
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. [Fush-shilat/41:6].
Iman Ibnu Rajab berkata: “Di dalam firman Allâh ‘maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya’, merupakan isyarat bahwa pasti terjadi kekuarangan di dalam (menjalankan) istiqomah yang diperintahkan, maka diperbaiki dengan istighfar yang mengharuskan taubat dan ruju' menuju istiqomah". (Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, juz 1, hlm. 510).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”
Urgensi Istiqamah
1. Istiqamah merupakan perintah Allah ﷻ
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. [Fush-shilat/41:6].
Allah ﷻ juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat As-Syura ayat 15:
وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ
Dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan...
Fawaid ayat:
- Allah ﷻ menyuruh kita istiqamah.
- Istiqamah nya dalam hal yang diperintahkan.
Maka, tidak ada istiqamah dalam hal kemaksiatan. - Agama dan ibadah berdiri di atas prinsip adanya perintah.
2. Istiqamah adalah hal yang paling sering diminta Rasulullah ﷺ
Do'a yang sering Rasulullah ﷺ panjatkan :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
3. Merupakan Wasiat Rasulullah ﷺ
Hal ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. [HR Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972].
Keuntungan Istiqamah
1. Kebahagian Dunia dan Akhirat
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 30:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Momen kabar gembira ini, dijelaskan oleh para ulama adalah:
1. Disaat sakaratul maut.
2. Di padang mahsyar.
2. Kelapangan Rezeki
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Jin Ayat 16:
وَأَلَّوِ ٱسْتَقَٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَٰهُم مَّآءً غَدَقًا
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu pernah mengatakan : Dimana ada air, disitu ada kehidupan...
3. Kelapangan Dada (Ketentraman hati)
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Penghidupan yang baik menurut para ulama: barangsiapa yang istiqamah, maka dia telah melakukan amalan shalih. Dan orang-orang yang beramal shalih akan mendapatkan kehidupan yang baik, maknanya ketenangan hati dan tentram.
4. Istiqamah menjadikan amalan kita amalan yang terbaik di hadapan Allah ﷻ
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’
Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim no. 783]
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, dalam hadits ini Nabi ﷺ menganjurkan agar konsisten dalam beramal, dan sesungguhnya amalan yang sedikit tetapi konsisten, jauh lebih baik dari pada amalan yang banyak tetapi terputus, karena yang sedikit tetapi konsisten, akan menjadikanmu selalu dalam kondisi taat kepada Allah ﷻ.
5. Istiqamah Hakekatnya adalah Investasi di Sisi Allah ﷻ
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”
(HR. Bukhari, no. 2996)
Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,
وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا
“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136).
Sebab-sebab Keistiqamahan
1. Mengikhlaskan Amalan karena Allah ﷻ
Ikhlas adalah fondasi utama yang menyebabkan seseorang mampu istiqamah (konsisten) dalam beramal saleh. Saat niat ibadah murni hanya karena Allah (ikhlas), seseorang tidak mudah goyah oleh pujian atau celaan manusia, menjadikannya teguh di jalan ketaatan. Tanpa ikhlas, amal rentan terhenti karena riya' atau hilangnya apresiasi manusia.
Ikhlas menjadikan setiap amalan hanya mengharapkan pahala dari Allah ﷻ, tanpa ketergantungan kepada makhluk. Dengannya seseorang akan beramal dengan mudah dan ringan.
Sebaliknya, hilangnya ikhlas—seperti adanya rasa riya, sum'ah (ingin didengar), atau ujub (bangga diri)—dapat menyebabkan seseorang berhenti beramal atau menjadi "mantan" orang saleh.
2. Berusaha mencari Teman dan Lingkungan yang baik
Teman yang baik adalah faktor utama dalam menjaga istiqamah (konsistensi dalam kebaikan) karena lingkungan yang shalih memotivasi ibadah, mengingatkan saat lalai, dan menegur saat salah. Sahabat baik menularkan kebiasaan positif seperti tilawah dan shalat berjamaah, serta berperan sebagai pengingat akhirat.
Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surat Az-Zukhruf Ayat 67:
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
3. Berdo'a Memohon Pertolongan agar Tetap Istiqamah
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nur Ayat 14:
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِى مَآ أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
Berdoa memohon istiqamah adalah ikhtiar penting agar hati tetap teguh dalam ketaatan. Doa utama yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah "Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi 'ala diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu). Bacalah doa ini terutama setelah shalat, saat sujud, atau pagi dan sore.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم