- Kedudukan Masjid dan Keutamaan Melangkahkan Kaki Menuju Tempat Ilmu
- Majelis Ilmu sebagai Tanda Kebaikan dan Keberkahan
- Belajar Agama adalah Kebutuhan yang Wajib
- Menuntut Ilmu sebagai Bentuk Jihad dan Jalan Memperoleh Derajat Tinggi
- Ilmu Harus Disampaikan
- Keabadian Warisan Ilmu
- Semangat Para Ulama dalam Menuntut Ilmu
- Adab-Adab dalam Menghadiri Majelis Ilmu
- Penutup
- Ringkasan
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita dimudahkan untuk melaksanakan ibadah shalat Maghrib secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan majelis ilmu.
Mudah-mudahan ibadah yang telah kita lakukan tadi diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Mudah-mudahan majelis kita diberkahi oleh Allah dan kita diberikan ilmu yang bermanfaat.
Pada malam ini kita akan membicarakan seputar majelis ilmu. Kita akan membacakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan ilmu dan majelis ilmu.
Kedudukan Masjid dan Keutamaan Melangkahkan Kaki Menuju Tempat Ilmu
Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhānahu wa Ta‘ālā di muka bumi adalah masjid-masjidnya, sedangkan tempat yang paling dibenci adalah pasar-pasarnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tempat yang paling dicintai oleh Allah di muka bumi adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasarnya." (HR. Muslim, no. 671).
Mengapa demikian?
Karena di masjid, orang-orang datang untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Mereka datang untuk melaksanakan shalat, bermunajat kepada Allah, berdzikir, membaca Al-Qur'an, belajar, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya. Bahkan sebagian orang untuk tidur saja merasa tidak berani di masjid karena khawatir tanpa sengaja mengotori rumah Allah. Orang juga tidak berani membuang sampah sembarangan di masjid karena masjid adalah rumah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Berbeda dengan pasar. Di pasar, orang bersumpah dan berbohong untuk melariskan dagangannya. Orang berteriak memanggil pelanggan. Bahkan berbagai kemungkaran bisa terjadi di sana. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan tentang para pedagang, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, karena sebagian besar mereka melakukan kebohongan dan sumpah untuk melariskan dagangannya.
Karena itu, jamaah yang dimuliakan Allah, ketika kita datang ke masjid dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan bertujuan mencari ilmu serta menghadiri majelis ilmu, maka ini merupakan ibadah yang sangat agung dan sangat mulia.
Ketika kita keluar dari rumah, kita melangkahkan kaki dengan menyebut nama Allah dan bertawakal kepada-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Setiap langkah kita menuju masjid akan dihitung sebagai ibadah. Allah menghapus dosa-dosa kita, menambah pahala kita, dan mengangkat derajat kita.
Ketika sampai di masjid, kita melaksanakan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid sebagai bentuk penghormatan terhadap rumah Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kemudian dilanjutkan dengan shalat wajib berjamaah dan setelah itu menghadiri majelis ilmu.
Jadi, langkah kita keluar dari rumah menuju masjid dan majelis ilmu semuanya memiliki tujuan ibadah.
Majelis Ilmu sebagai Tanda Kebaikan dan Keberkahan
Menghadiri majelis ilmu merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia. Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam memberikan dorongan dan kabar gembira bagi para penuntut ilmu melalui beberapa hadis:
- Kemudahan Jalan Menuju Surga:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Kalau satu hadits ini kita ingat dan kita jadikan sebagai motivasi, insya Allah kita akan semakin semangat menghadiri majelis ilmu. Oleh karena itu, orang yang diberikan hidayah dan taufik oleh Allah untuk datang ke majelis ilmu, maka di situ terdapat kebaikan. Allah menginginkan kebaikan bagi dirinya.
- Tanda Allah Menginginkan Kebaikan:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, niscaya Allah akan pemahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana kita bisa memahami agama? Kita harus belajar. Kita mendatangi majelis ilmu dan hadir dalam majelis ilmu. Maka langkah kita menuju majelis ilmu merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi kita.
- Ketenangan dan Rahmat Allah:
Orang-orang yang berkumpul di rumah Allah untuk mempelajari Al-Qur'an dan ilmu agama akan diliputi oleh ketenangan jiwa (sakinah), dicurahi rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, serta namanya dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. (HR. Muslim no. 6793, Abu Daud dalam Sunannya no. 4946 dan Ibnu Majah dalam Sunannya no. 225).
Mereka datang ke masjid untuk beribadah dan belajar. Mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan dan hadits-hadits dijelaskan. Allah akan menurunkan ketenangan kepada mereka. Jiwa mereka menjadi tenang dan hati mereka menjadi tenteram.
Pagi hari seseorang mungkin pergi ke tempat kerja dan mendapatkan berbagai masalah. Sebagai bawahan, mungkin dia memiliki masalah dengan atasannya. Atasan memberikan berbagai perintah dan muncul berbagai persoalan.
Ada pula yang pergi kuliah dan mendapatkan berbagai masalah di tempat belajar. Namun ketika dia datang ke rumah Allah untuk belajar, Allah menurunkan ketenangan kepadanya. Hatinya menjadi tenang dan jiwanya tenteram.
Untuk sementara dia meninggalkan urusan dunia. Dia fokus kepada agama dan fokus untuk belajar.
Para malaikat mengelilingi mereka. Para malaikat yang tidak dapat kita lihat datang mengelilingi orang-orang yang belajar di rumah Allah. Rahmat Allah meliputi mereka. Kita semua membutuhkan rahmat Allah. Dan majelis ilmu merupakan salah satu sebab Allah memberikan rahmat kepada kita.
Bahkan Allah menyebutkan orang-orang yang hadir di majelis ilmu di hadapan para malaikat. Allah membanggakan mereka dan menyebutkan bahwa mereka hadir di majelis ilmu.
Belajar Agama adalah Kebutuhan yang Wajib
Belajar ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap Muslim sesuai dengan kebutuhan agamanya. Menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan kewajiban bagi setiap muslim. Tanpa ilmu, seorang hamba tidak dapat mengenal Rabbnya, tidak dapat meneladani Nabi-Nya, dan tidak dapat menjalankan ibadah dengan benar. Kita harus mengenal Nabi kita. Kita harus mengenal agama dan syariat kita. Semua itu dilakukan dengan belajar.
Bagaimana kita bisa shalat dengan benar kalau kita tidak memiliki ilmunya? Bagaimana kita bisa benar dalam beragama kalau kita tidak memiliki ilmu? Maka belajar adalah kuncinya. Salah satu jalannya adalah menghadiri majelis ilmu.
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan kabar gembira. Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan keutamaan kepada orang-orang yang menghadiri majelis ilmu. Kebaikan mereka disebutkan dan dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Subhanallah.
Mereka mendapatkan berbagai keutamaan tersebut hanya dengan hadir di majelis ilmu untuk belajar.
Pernah ada seorang sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa dia datang ke masjid untuk belajar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambutnya dan mengucapkan selamat datang kepada para penuntut ilmu, kepada orang-orang yang mencari ilmu dan ingin belajar.
Menuntut Ilmu sebagai Bentuk Jihad dan Jalan Memperoleh Derajat Tinggi
Kedudukan penuntut ilmu dan pengajar di masjid disetarakan dengan kedudukan seorang mujahid di jalan Allah (fī sabīlillāh).
Anas bin Malik meriwayatkan: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“ Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali. ” Sumber: Sunan al-Tirmidzi 2647. Derajat: Hasan (baik) menurut Al-Tirmidhi
Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyebutkan manusia menjadi dua golongan:
- Pertama, orang-orang yang berjihad dengan senjata di medan jihad.
- Kedua, orang-orang yang melakukan tafaqquh fiddin, yaitu mempelajari agama dan mendalami ilmu syariat.
Mereka juga berjihad, tetapi jihadnya adalah jihad ilmu. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, menjelaskan tentang keutamaan berjihad dengan ilmu dan hujjah. Jihad dengan ilmu merupakan perkara yang sangat mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi.
Di samping itu, ilmu adalah sarana utama untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā, sebagaimana firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu Harus Disampaikan
Imam at-Tirmidzi dan selain beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ، ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka karena doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
Nabi mendoakan agar Allah menjadikan wajah orang tersebut bercahaya. Orang yang mendengar hadits, menghafalnya, kemudian menyampaikannya kepada orang lain, mendapatkan keutamaan yang besar.
Maka ilmu tidak boleh berhenti pada diri kita. Ilmu harus dikembangkan, disampaikan, dan disebarkan.
Kita mengenal Imam Syafi‘i rahimahullah. Kita mengenal Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kita mengenal Imam Bukhari rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah, Imam Nawawi rahimahullah, dan para imam kaum Muslimin lainnya.
Bayangkan, mereka telah wafat ratusan tahun yang lalu. Mereka hidup pada abad kedua dan ketiga Hijriah, sedangkan kita hidup jauh setelah mereka. Namun nama mereka tetap dikenal. Kaum Muslimin terus mendoakan mereka.
Imam Syafi‘i rahimahullah. Imam Ahmad rahimahullah. Imam Bukhari rahimahullah. Imam Muslim rahimahullah. Imam Nawawi rahimahullah.
Lalu di mana orang-orang yang memiliki jabatan tinggi pada zaman mereka? Di mana para pejabat yang hidup pada zaman Imam Syafi‘i? Siapa yang mengenal mereka sekarang? Di mana orang-orang kaya dan para saudagar pada zaman Imam Bukhari? Siapa yang mengenal mereka? Banyak dari mereka telah meninggal dan tidak lagi dikenal.
Namun ketika disebut Imam Syafi‘i, kita mengatakan rahimahullah. Ketika disebut Imam Bukhari, kita mengatakan rahimahullah. Ketika disebut Imam Nawawi, kita mengatakan rahimahullah.
Allah memuliakan mereka dengan ilmu, bukan dengan harta dan jabatan.
Sampai hari ini kita membaca hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Kita mengatakan, “Rawahul Bukhari rahimahullah,” dan “Rawahul Muslim rahimahullah.”
Inilah kemuliaan ilmu.
Keabadian Warisan Ilmu
Umur manusia sangat terbatas, umumnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Namun, ilmu yang bermanfaat dapat menjadikan amalan seseorang tetap mengalir meski ia telah wafat. Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Para ulama terdahulu, seperti Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam An-Nawawi rahimahumullah, tetap dikenang dan didoakan oleh jutaan umat Islam hingga hari ini. Hal tersebut dicapai bukan karena harta atau jabatan duniawi, melainkan karena warisan ilmu yang mereka tinggalkan.
Imam Nawawi rahimahullah meninggal dunia pada usia sekitar empat puluh lima puluh tahun? Beliau hidup tidak sampai usia tua, tetapi meninggalkan karya-karya ilmu yang sangat banyak dan bermanfaat bagi umat Islam. Beliau tidak meninggalkan harta yang banyak. Beliau juga tidak meninggalkan anak.
Namun apa yang beliau tinggalkan untuk umat? Ilmu. Karena itu, setiap kali nama Imam Nawawi disebut, kaum Muslimin mendoakan beliau: “Rahimahullah.” Inilah yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu memiliki manfaat yang sangat besar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dan tidak meninggalkan harta untuk diwariskan kepada keluarga sebagaimana warisan harta biasa.
Bahkan ketika beliau meninggal, baju besi beliau masih tergadaikan kepada seorang Yahudi. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggadaikan baju besinya dan ketika beliau meninggal, baju besi tersebut masih berada pada orang Yahudi.
Nabi tidak meninggalkan harta yang menjadi warisan dunia. Warisan para nabi adalah ilmu. Siapa yang mengambil ilmu tersebut, maka dia telah mendapatkan bagian yang sangat banyak.
Jamaah yang dimuliakan Allah, menjadi pewaris para nabi dilakukan dengan belajar, menghadiri majelis ilmu, membaca, mendengar, dan mempelajari ilmu.
Semangat Para Ulama dalam Menuntut Ilmu
Bagaimana semangat para sahabat dalam menghadiri majelis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Al-Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan kisah seorang sahabat yang melakukan perjalanan selama satu bulan dari Madinah menuju Syam hanya untuk mendengarkan satu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah mendengar satu hadits tersebut, dia kembali lagi ke Madinah selama satu bulan. Dua bulan perjalanan hanya untuk mendapatkan satu hadits. Mengapa mereka melakukan itu? Karena mereka mengetahui nilai ilmu dan nilai sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Imam Bukhari rahimahullah sendiri berkeliling ke berbagai negeri kaum Muslimin untuk mencari hadits. Beliau pergi ke Syam, Irak, Mesir, Madinah, Makkah, dan berbagai negeri lainnya. Beliau menghadiri majelis-majelis ilmu dan mengambil ilmu dari para ulama. Disebutkan bahwa guru-guru Imam Bukhari sangat banyak, bahkan mencapai lebih dari seribu guru.
Bagaimana seorang Imam Bukhari berkeliling ke berbagai negeri untuk menghadiri majelis ilmu dan mengambil riwayat?
Begitu pula Imam Syafi‘i rahimahullah. Beliau belajar di Makkah, belajar di Masjidil Haram, kemudian berpindah ke Madinah dan belajar kepada Imam Malik rahimahullah. Perjalanan pada zaman itu tidaklah mudah. Mereka harus menempuh perjalanan yang jauh. Ketika panas, sangat panas. Ketika dingin, sangat dingin. Itulah perjuangan para ulama kita.
Ketika Allah memuliakan mereka di dunia dan meninggikan kedudukan mereka di hadapan manusia, itu tidak datang tanpa pengorbanan. Ada tadhiyah, ada pengorbanan, ada perjuangan. Kalau seseorang ingin sampai pada puncak dan mendapatkan sesuatu yang tinggi, dia harus berjuang dan berkorban.
Begitu pula dengan ilmu. Pengorbanan kita untuk ilmu adalah datang ke majelis ilmu. Malam ini kita berkorban. Kita tidak berada di rumah. Mungkin kita sudah pulang dari pekerjaan dalam keadaan lelah, tetapi kita tetap berusaha datang ke majelis ilmu.
Itulah pengorbanan dalam menuntut ilmu.
Adab-Adab dalam Menghadiri Majelis Ilmu
Agar ilmu yang dipelajari mendatangkan keberkahan, seorang penuntut ilmu perlu memperhatikan adab-adab berikut:
- Ikhlas karena Allah: Meniatkan menuntut ilmu semata-mata untuk mengharap keridaan Allah dan menghilangkan kebodohan dari diri sendiri serta orang lain, bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan duniawi.
Adab pertama adalah ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kita hadir di majelis ilmu karena ini merupakan ibadah. Kita menuntut ilmu sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Karena itu, niat harus benar-benar karena Allah.
Jangan datang agar dikenal. Jangan sampai kita ingin disebut sebagai orang yang rajin menghadiri kajian. Yang kita cari adalah pahala dan keridaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنَّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”
Maka tanyakan kepada diri kita masing-masing: Apa niat kita datang ke masjid? Apa niat kita menghadiri majelis ilmu? Allah akan membalas sesuai dengan niat kita.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan ancaman bagi orang yang mempelajari ilmu yang seharusnya dicari karena Allah, tetapi ternyata dia mempelajarinya demi mendapatkan keuntungan dunia.
Orang yang belajar ilmu syar‘i bukan untuk mencari wajah Allah, tetapi demi kepentingan dunia, mendapatkan ancaman yang sangat berat. Bahkan dia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.
Karena itu, ketika Allah memberikan berbagai keutamaan kepada orang yang belajar, jangan sampai kita lupa bahwa ada peringatan agar kita menjaga keikhlasan.
Al-Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa penuntut ilmu wajib mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam belajar.
Imam Ahmad rahimahullah juga menjelaskan besarnya keutamaan menuntut ilmu syar‘i. Namun syaratnya adalah niat yang lurus dan benar.
Bagaimana cara mengikhlaskan niat dalam belajar?
Tujuannya adalah mengharapkan rida Allah. Pada saat yang sama, kita belajar untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita dan membantu menghilangkan kebodohan dari orang lain.
Kita datang agar memahami agama. Agar kita mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. Agar kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
Kita pulang membawa ilmu dan mengetahui hukum berdasarkan dalil. Kita semua lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl ayat 78)
Karena itu, kita diperintahkan untuk belajar agar kebodohan dalam diri kita hilang. Setelah itu, ilmu tersebut kita ajarkan kepada keluarga kita, kepada anak-anak kita, dan kepada istri kita. Mereka adalah orang-orang yang paling utama untuk kita ajarkan ilmu syar‘i.
Maka mari kita benahi niat masing-masing. Kita hadir di majelis ilmu karena mencari rida Allah dan ingin memahami ilmu syar‘i. Kita ingin bisa shalat dengan benar. Kita ingin benar dalam bermuamalah. Kita ingin mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. Semua itu membutuhkan ilmu.
- Berpenampilan Rapi dan Bersih: Memakai pakaian terbaik, wangi-wangian, serta menjaga kebersihan diri agar tidak mengganggu malaikat maupun jamaah lain dengan bau yang tidak sedap.
Perhatikan penampilan dan pakaian kita. Gunakan pakaian yang baik dan pantas ketika datang ke majelis ilmu. Kita sedang menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala untuk beribadah dan menuntut ilmu.
Malaikat juga hadir dalam majelis ilmu. Malaikat dapat terganggu dengan bau yang tidak sedap.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh tentang orang yang makan bawang. Bawang adalah makanan yang halal. Namun ketika seseorang memakannya dan baunya mengganggu, Nabi memerintahkan agar dia tidak mendekati masjid sampai bau tersebut hilang.
Malaikat juga terganggu dengan bau yang tidak sedap. Kalau bau makanan yang halal saja perlu diperhatikan, bagaimana dengan bau yang berasal dari sesuatu yang tidak baik? Ketika kita hadir di masjid, jangan sampai orang-orang di kanan dan kiri kita merasa terganggu.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ...
"Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid... (QS. Al-A'raf ayat 31)
Allah menyukai keindahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الله جميل يحب الجمال
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud.)
Maka seorang penuntut ilmu hendaknya bersih, rapi, dan menjaga penampilannya.
Dalam hadits Jibril, Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sangat rapi. Rambutnya hitam dan pakaiannya bersih. Tidak terlihat tanda-tanda perjalanan jauh pada dirinya.
Para ulama menjelaskan bahwa ini termasuk gambaran keadaan seorang penuntut ilmu: bersih, rapi, dan siap untuk belajar.
- Mendengarkan dengan Tenang dan Khusyuk (Al-Inṣāt): Menyimak penjelasan pembicara dengan tenang, tidak mengobrol, dan menghindari hal-hal yang dapat memecah konsentrasi.
Adab berikutnya adalah memperhatikan, mendengar, dan menjaga ketenangan ketika berada di majelis ilmu.
Ketika berada di majelis ilmu, jangan sibuk berbicara dengan teman. Jangan sibuk dengan kegiatan lain. Kita datang untuk mendengar dan mengambil faedah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh tentang adab ketika menghadiri shalat Jumat.
Ketika khatib sedang berkhutbah, seseorang tidak boleh sibuk berbicara. Bahkan ketika dia menegur temannya yang sedang berbicara, dia sendiri bisa kehilangan keutamaan karena telah berbicara saat khutbah berlangsung. Maka ketika khatib sedang berkhutbah, kita diam, tenang, menghadap kepada khatib, dan memperhatikan khutbah.
Kita mengambil faedahnya dan pulang membawa ilmu. Begitu pula dengan majelis ilmu.
- Mencatat Faedah Ilmu: Mengikat ilmu dengan tulisan agar faedah yang diperoleh tidak mudah hilang atau terlepat.
Adab berikutnya adalah hendaknya kita mencatat faedah-faedah yang disampaikan. Mencatat bukan berarti wajib, tetapi merupakan kebiasaan yang baik bagi penuntut ilmu. Memang ada orang yang kuat hafalannya.
Imam Bukhari rahimahullah adalah salah satu contoh yang luar biasa. Dikisahkan bahwa beliau pernah menghadiri majelis ilmu selama beberapa hari tanpa terlihat mencatat. Teman-temannya heran dan bertanya apa yang beliau lakukan. Imam Bukhari kemudian meminta mereka membuka catatan. Beliau menyebutkan kembali hadits-hadits yang telah disampaikan dalam majelis tersebut. Bahkan jumlahnya sangat banyak.
Teman-temannya yang memiliki catatan kemudian memeriksa hafalan Imam Bukhari dan mendapati bahwa beliau mampu menyebutkan hadits-hadits tersebut dengan sangat kuat. Ini adalah keistimewaan Imam Bukhari.
Beliau juga memiliki pengalaman melakukan perjalanan untuk mencari hadits. Hadits yang didengar di suatu negeri dapat beliau hafalkan, kemudian ditulis di tempat lain. Kita tentu tidak bisa menyamakan kemampuan kita dengan Imam Bukhari.
Karena itu, jangan mengandalkan hafalan saja. Catatlah faedah-faedah dari majelis ilmu. Kalau kita tidak mencatat, mungkin ketika sampai di rumah kita lupa. Maka catat, simpan, dan sebarkan faedah tersebut.
- Mengamalkan Ilmu: Mengamalkan setiap ilmu yang telah dipelajari secara bertahap, karena pengamalan adalah kunci kuatnya hafalan dan pemahaman.
Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Apa yang kita pelajari hendaknya kita amalkan. Apa yang telah kita dengar, kita amalkan sedikit demi sedikit. Mengamalkan ilmu akan menguatkan ilmu tersebut dalam diri kita.
Siapa di antara kita yang lupa membaca Al-Fatihah? Hampir tidak ada. Kapan kita menghafal Al-Fatihah? Banyak di antara kita menghafalnya ketika masih kecil, bahkan sebelum masuk sekolah. Kita dituntun oleh ibu dan ayah kita. Sampai usia lima puluh atau enam puluh tahun, kita masih hafal Al-Fatihah.
Mengapa? Karena setiap shalat kita membacanya. Setiap hari kita mengamalkannya. Maka ilmu yang diamalkan akan semakin kuat.
- Berdoa: Senantiasa memohon kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā agar dianugerahi ilmu yang bermanfaat (‘ilman nāfi‘an).
Adab berikutnya adalah berdoa. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Allah adalah pemilik ilmu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diperintahkan untuk meminta tambahan sesuatu dalam Al-Qur'an kecuali ilmu. Maka kita harus banyak berdoa. Berdoalah kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, diberikan taufik untuk mengamalkannya, dan diberikan keistiqamahan di atas ilmu dan amal.
Penutup
Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Mudah-mudahan pembahasan yang singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan memberikan taufik untuk istiqamah di atas ilmu dan amal. Semoga Allah menjaga kita dari berbagai fitnah dan keburukan.
Jazakumullahu khairan kepada takmir masjid dan para panitia. Semoga Allah memberkahi seluruh usaha dan perjuangan antum. Semoga Allah menjadikan masjid ini makmur dengan ilmu dan ibadah.
Ringkasan

*****