Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Bismillah

🎙️ Bersama: Syaikh Abu Hazim Ramadhan Abkar حفظه الله
📆 Kamis, 13 Agustus 2026 Muhadharoh Santriwati (Akhwat)
📖 Merekah di Taman Ilmu: Menjadi Muslimah yang Bertumbuh dengan Sabar 
📍 Masjid Al Madinah Grenjeng
🎧 Penerjemah: Ustadz Jauhari, Lc. حفظه الله


Pentingnya Menuntut Ilmu Syari

Termasuk nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui beliau, Allah melimpahkan warisan mulia berupa Al-Qur'an dan Sunnah. Siapa pun yang mengambilnya akan memperoleh bagian keberkahan yang sangat besar. Warisan ini tidak dapat diraih melainkan melalui satu jalan utama, yaitu menuntut ilmu syari.

Allah memerintahkan umat manusia untuk memiliki ilmu, sebagaimana firman-Nya:

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

"Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah..."

Ayat tersebut menggunakan bentuk perintah (fi'il amr) yang menunjukkan kewajiban. Perintah ini dipertegas oleh Rasulullah melalui sabdanya bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dari hukum dasar ini, kewajiban mempelajari ilmu terbagi menjadi dua bagian:

  • Fardu Ain: Ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim tanpa terkecuali, seperti tauhid dasar, sunnah Nabi, dan tata cara ibadah harian seperti salat.
  • Fardu Kifayah: Ilmu yang kewajiban mempelajarinya gugur bagi sebagian orang apabila sudah ada orang lain yang melaksanakannya.

Keutamaan dan Kedudukan Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas belajar biasa, melainkan sebuah bentuk ibadah yang sangat mulia. Imam Ahmad menegaskan bahwa tidak ada amalan yang dapat menandingi keutamaan menuntut ilmu jika niatnya benar. Ketika ditanya bagaimana cara meluruskan niat, beliau menjelaskan bahwa seseorang harus berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.

Kedudukan menuntut ilmu sangat istimewa di dalam Islam:

  • Didahulukan dari Ibadah Sunnah: Aktivitas menuntut ilmu memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan ibadah-ibadah sunnah seperti salat sunnah atau puasa sunnah.
  • Meneladani Para Nabi: Menuntut ilmu merupakan jalan hidup para nabi dan orang-orang saleh. Nabi Musa, misalnya, menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu kepada Nabi Khidir.
  • Jalan Menuju Surga: Rasulullah menyampaikan bahwa siapa pun yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.
  • Pewaris Para Nabi: Para nabi tidak mewariskan harta berupa dinar maupun dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, ia telah mengambil bagian warisan yang sangat melimpah.

Puncak dari menuntut ilmu adalah agar hamba dapat mengenali Allah (ma'rifatullah) dengan sebenar-benarnya, sehingga dapat beribadah secara benar dan memiliki rasa takut yang tulus kepada-Nya. Allah memuji para ulama karena hanya orang berilmulah yang benar-benar takut kepada Allah, dan Allah bahkan menyandingkan persaksian para ulama dengan persaksian Diri-Nya serta para malaikat.

Tantangan dan Kesabaran dalam Menuntut Ilmu

Proses menuntut ilmu memerlukan perjuangan panjang, pengorbanan, dan kesabaran ekstra. Ilmu tidak bisa diperoleh secara instan; ia ibarat pohon kurma yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bertumbuh hingga akhirnya berbuah manis.

Seorang penuntut ilmu perlu bersabar dalam tiga fase utama:

  1. Sabar Saat Menerima Pelajaran (Talaqqi)
    Proses belajar menuntut seseorang mengorbankan waktu luang dan rasa nyaman. Sering kali jadwal belajar bertepatan dengan waktu-waktu yang berat, seperti setelah Subuh atau larut malam. Pembatasan waktu tidur untuk belajar diperbolehkan dalam syariat. Selain itu, proses talaqqi sering menuntut seseorang melakukan perjalanan jauh (safar), meninggalkan rumah, keluarga, dan kemudahan hidup demi mendatangi majelis ilmu.
  2. Sabar dalam Menghafal dan Memurajaah
    Menuntut ilmu adalah perjuangan pribadi (amrun syakhsi). Manfaat ilmu sangat bergantung pada kesungguhan individu dalam mengulang (murajaah) dan menghafal. Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin pernah menegaskan bahwa ilmu yang benar-benar melekat adalah ilmu yang dihafalkan. Mengulang hafalan berarti mengulang-ulang kesulitan, dan di situlah letak ujian kesabaran yang sesungguhnya. Meskipun menghafal di masa muda diibaratkan memahat di atas batu, tidak ada kata terlambat untuk belajar di usia tua, sebagaimana banyak ulama besar memulainya pada usia matang.
  3. Sabar dalam Mengamalkan dan Menghadapi Lingkungan
    Ilmu yang telah didapatkan harus diwujudkan dalam pengamalan sehari-hari. Penuntut ilmu juga dituntut bersabar ketika berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang, karakter, dan pemikiran yang beragam.

Menuntut ilmu adalah jalan panjang yang penuh dengan pengorbanan. Namun, dengan niat yang lurus dan kesabaran yang gigih, proses ini akan membawa seorang hamba pada kemuliaan di dunia dan kemudahan jalan menuju surga di akhirat.

*****

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم