Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Madrasah Ramadhan - Tarbiyah Sunnah
🎙️ Bersama Ustadz Abu Haidar As-Sundawy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
📌 Masjid Umar bin Khathab Ma'had Tarbiyah Sunnah Bandung Barat
🗓️ Bandung, 25 Ramadhan 1443 / 27 April 2022
📖Daftar Isi:



Kitab Miftah Daris Sa'adah: Muqaddimah
Karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah

Muqaddimah

Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu 'ala rasulillah, Muhammad ibn Abdillah, wa 'ala alihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumil qiyamah. Amma ba'du.

Para peserta Madrasah Ramadan di Masjid Umar Bin Khattab yang dirahmati Allah, alhamdulillah kita akan memulai pembahasan materi yang diambil dari kitab Miftah Daaris Sa'adah, karya yang disusun oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala. Sebelum masuk ke dalam isi inti materi, amat penting bagi kita untuk menyimak terlebih dahulu muqaddimah dari beliau guna memperjelas arah permasalahan yang akan dibahas.

Hikmah Diturunkannya Nabi Adam 'Alaihissalam ke Bumi

Dalam muqaddimah kitabnya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hikmah besar di balik diturunkannya Nabi Adam 'alaihissalam ke muka bumi hingga berkembang biak memiliki keturunan sampai hari kiamat kelak. Peristiwa diturunkannya Nabi Adam dari surga mengandung hikmah mendalam yang terkadang tidak sanggup dijangkau oleh akal manusia maupun dituangkan seluruhnya lewat tulisan. Peristiwa ini merupakan bukti kesempurnaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, agar kelak Nabi Adam dan keturunannya dikembalikan ke surga dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Berikut adalah beberapa hikmah diturunkannya Nabi Adam dan keturunannya ke muka bumi:

Sesuatu Baru Terasa Nikmat Setelah Sempat Hilang

Kenikmatan baru akan benar-benar terasa nilainya apabila kenikmatan tersebut sempat hilang sementara, lalu diberikan kembali dengan kadar yang jauh lebih baik. Sebagai gambaran, nikmat sehat yang kita rasakan setiap hari sering kali tidak disadari. Nikmat tersebut baru terasa begitu berharga saat Allah mencabutnya sementara melalui sakit, demam, atau batuk pilek. Demikian pula Allah menginginkan Nabi Adam dan keturunannya merasakan terlebih dahulu pahit getirnya kehidupan dunia—seperti rasa nyeri, sedih, gelisah, lelah, dan rasa kecewa. Hal ini diberikan agar manusia menyadari betapa besarnya kenikmatan hidup di surga kelak. Pepatah Arab menyatakan:

وَبِضِدِّهَـا تَتَبَيَّنُ الْأَشْيَـاءُ

Dengan mengenal kebalikan dari sesuatu, maka kebaikan sesuatu itu akan terlihat makin jelas.

Dunia sebagai Tempat Ujian dan Perintah, Bukan Surga

Allah Azza wa Jalla ingin memberikan perintah, larangan, ujian, dan godaan kepada Nabi Adam beserta keturunannya. Surga bukanlah tempat untuk ujian atau larangan. Oleh karena itu, Allah menurunkan manusia ke bumi untuk menerima perintah dan larangan tersebut. Balasan yang dicapai melalui perjuangan dan pengorbanan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada pemberian tanpa usaha.

Terujinya Keutamaan Manusia Saleh Dibanding Malaikat

Proses perjuangan di bumi inilah yang menjadikan manusia saleh bisa lebih utama daripada para malaikat. Malaikat senantiasa beribadah secara sempurna tanpa pernah berbuat dosa sedikit pun, sebagaimana firman Allah:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

Namun, ibadah malaikat bersifat jabaliyah (pembawaan alami tanpa beban kelelahan, hawa nafsu, atau godaan setan). Sementara itu, ibadah manusia bersifat ikhtisabiyah (hasil ikhtiar dan pengorbanan) di tengah keterbatasan fisik, rasa lelah, kantuk, serta godaan hawa nafsu. Keberhasilan manusia bertahan dalam ketaatan di tengah berbagai keterbatasan itulah yang membuat balasan surga begitu bernilai bagi mereka.

Terpilihnya Orang-Orang Spesial di Sisi Allah

Melalui kehidupan dunia, Allah memilih hamba-hamba-Nya yang istimewa, seperti para nabi, rasul, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Allah membiarkan mereka hidup berjuang menghadapi musuh-musuh-Nya, baik dari kalangan orang musyrik, kafir, maupun ancaman internal dari kalangan munafik dan orang fasik. Ketika mereka memprioritaskan keridaan Allah di atas jiwa dan harta mereka, Allah mengangkat derajat mereka ke tingkatan tertinggi yang tidak dapat dicapai tanpa perjuangan.

Pengaplikasian Asma'ul Husna dan Sifat Allah

Di antara Asma'ul Husna Allah, terdapat nama-nama yang bersifat muta'addi (membutuhkan objek/makhluk untuk membuktikan konsekuensi nama dan sifat tersebut). Contohnya adalah nama Allah Al-Ghaffar (Maha Pengampun), Al-Mumiit (Maha Mematikan), Al-Mu'izz (Maha Memuliakan), dan Al-Mudzill (Maha Menghinakan). Nama-nama ini tidak dapat diaplikasikan jika seluruh hamba langsung berada di surga, karena di surga tidak ada dosa, pertobatan, maupun kematian. Kehidupan dunia menjadi sarana terwujudnya konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut.

Penjelmaan Sifat Allah sebagai Al-Malik (Raja)

Salah satu sifat Allah adalah Al-Malik (Raja yang Maha Menguasai). Keberadaan seorang Raja menghendaki adanya aturan, undang-undang, perintah, larangan, serta sistem penghargaan (reward) dan sanksi bagi rakyat-Nya. Diturunkannya manusia ke bumi menjadi tempat berlakunya syariat dan hukum-hukum Allah sebagai Raja Semesta Alam.

Pentingnya Keimanan kepada Hal Gaib

Allah menempatkan manusia di dunia agar mereka dapat beriman kepada hal-hal gaib, yang merupakan ciri utama orang bertakwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

"Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib..." (QS. Al-Baqarah: 3)

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah menjelaskan bahwa iman kepada yang gaib mencakup kepercayaan penuh terhadap Rukun Iman yang enam (iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir). Beriman kepada hal gaib sewaktu di dunia sangat bernilai di sisi Allah. Adapun keimanan yang baru muncul di akhirat setelah segala kenyataan terlihat (syahadah) tidak lagi bermanfaat bagi seseorang.

Pemisahan Keturunan Berdasarkan Karakter Asalnya

Allah menciptakan Nabi Adam dari segumpal tanah yang diambil dari berbagai penjuru bumi—ada yang baik, lembut, keras, hitam, putih, maupun merah. Allah Yang Maha Mengetahui telah membedakan mana keturunan yang baik dan mana yang buruk. Allah menempatkan manusia di dunia agar terlihat mana jiwa yang layak menghuni surga dan mana yang layak menghuni neraka, sebagaimana firman Allah:


لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Anfal: 37)


Sesi Tanya Jawab

1. Pertanyaan:

Mengapa beriman kepada kitab-kitab Allah dikategorikan sebagai iman kepada hal yang gaib?

Jawaban:

Iman kepada kitab mencakup dua hal. Pertama, beriman kepada kitab-kitab sebelum Al-Qur'an yang keberadaannya saat ini tidak kita saksikan langsung secara fisik. Kedua, beriman kepada isi kandungan Al-Qur'an itu sendiri yang banyak mengabarkan perkara-perkara gaib, seperti keberadaan malaikat, jin, rahmat, ampunan Allah, hingga peristiwa hari kiamat.

2. Pertanyaan:

Bagaimana sikap kita terhadap seseorang yang pada masa mudanya jujur, namun ketika memasuki usia senja justru sering berdusta?

Jawaban:

Bagi orang tersebut, ia wajib segera bertobat dengan menghentikan dusta, menyesali perbuatannya, bertekad tidak mengulanginya, serta meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.

Adapun kewajiban kita terhadapnya meliputi:

  • Menasihatinya secara pribadi (empat mata) dengan santun tanpa mempermalukannya di depan umum.
  • Mendoakannya agar mendapatkan hidayah.
  • Membantu menguatkan imannya kembali dengan mengajak berbuat kebaikan, seperti hadir di majelis ilmu, membaca Al-Qur'an, atau berinfak, sebab dusta timbul akibat penurunan kualitas iman.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai dampak kejujuran dan kedustaan:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ ... وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga... Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena dusta itu membimbing kepada kejahatan (fujur), dan kejahatan itu membimbing ke neraka." (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

3. Pertanyaan:

Apakah diturunkannya Nabi Adam ke bumi merupakan kehendak Allah sejak awal atau semata-mata karena godaan setan?

Jawaban:

Kedua pernyataan tersebut saling melengkapi. Diturunkannya Nabi Adam adalah takdir dan kehendak Allah, yang terjadi melalui sebab godaan iblis. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah ditetapkan oleh Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا

"Tiada suatu penyakitan pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami meujudkannya." (QS. Al-Hadid: 22)

Serta ditegaskan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi." (HR. Muslim no. 2653)

Oleh karena itu, godaan iblis merupakan sebab yang telah ditakdirkan, dan terusirnya Nabi Adam ke bumi adalah akibat yang juga telah masuk dalam ketetapan Allah Azza wa Jalla.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم