Kategori Akhlak

Cara bergaul seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.
Kajian Islam

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Kajian Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#14 dan 15 | Oleh: Sulthan Bin Abdullah Al-‘Umary Hafidzahullah
Download Kitab: s-alamri.com

🎙| Bersama: Al Ustadz Abu Adib Hafidzahullah
🗓 | Hari/Tanggal: Rabu, 28 Jumadil Awwal 1447 / 19 November 2025
🕰 | Waktu: ba'da maghrib - isya
🕌 | Tempat: Jajar Islamic Center Surakarta


 


Akhlak Seorang Muslim terhadap Diri Sendiri

Daftar Isi:

خَلْقُ الْمُسْلِمِ مَعَ اَلنَّفْسِ

Akhlak Seorang Muslim terhadap Dirinya Sendiri

١. الحرصُ على سلامةِ دينِكَ من الشركِ والبِدَعِ والمَعَاصِي.

1. Menjaga iman dari kemusyrikan, bid'ah, dan dosa.

📃 Penjelasan:

Kesyirikan adalah kezaliman terbesar yang dilakukan manusia. Kesyirikan adalah kegelapan dan penyebab bencana bagi manusia. Dan diantara bencana yang diakibatkan oleh kesyirikan adalah terhapusnya pahala amalan shalih dan tidak diterimanya amalan-amalan pelaku kesyirikan. Sungguh ini bencana yang besar!

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an yang mulia:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65).

Seseorang yang bertauhid dengan benar akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk.” (Al An’am: 82).

Tauhid adalah sumber rasa aman, sedangkan syirik adalah sumber ketakutan. Allah Ta’ala berfirman,

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (Ali Imran: 151).

Bid'ah juga perkara yang mungkar dan mendatangkan laknat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Orang yang mengada-adakan dalam agama, suatu bid’ah yang tidak sejalan dengan syariat, maka dosanya ditimpakan padanya, amalnya tertolak, dan ia mendapatkan ancaman, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللّهِ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka ia mendapatkan laknat Allah.” [Muttafaq ‘alaih: al-Bukhari, no. 1870; dan Muslim, no. 1370]

Maka, indikator sehatnya jiwa kita adalah dari hati, jika hati sakit, maka amalan-amalan kita menjadi rusak dan jauh dari kebenaran. Berikut indikasi Tanda hati sudah rapuh:

  1. Jika Berbuat dosa tidak ada rasa takutnya.
  2. Berbuat kebaikan tidak masuk ke hatinya.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” [HR. Bukhari no. 6308]

Kita pun harus waspada dengan berbagai perkara yang bisa merusak hati. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan ada lima perkara yang bisa merusak hati, yaitu:

  1. Terlalu banyak bergaul.
  2. Terlalu banyak Berangan-angan dengan dunia
  3. Banyak makan
  4. Banyak tidur
  5. Menggantungkan hati pada selain Allah

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Siapa saja yang ingin Allah bukakan hatinya dan Allah beri ilmu hendaknya suka menyendiri, sedikit makan, tidak bergaul dengan orang-orang yang kurang berakal dan tidak bergaul dengan sebagian orang yang berilmu yang tidak memiliki sikap objektif dan tidak memiliki adab.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 159)

Penjelasan Poin#1 ini telah diterangkan pada pertemuan sebelumnya ...

٢. تنقيةُ القلبِ مِن الأمْرَاضِ كَالْحَسَدِ والحِقْدِ والبَغْضَاء.

2. Mensucikan hati dari penyakit rohani seperti dengki, kedengkian, dan kebencian.

📃 Penjelasan:

Mengapa kita harus memiliki perhatian yang besar terhadap hati? Yang pertama karena hati adalah sumber. Kalau dia baik, maka seluruh jasad kita akan baik. Dan kalau dia rusak, maka seluruh jasad kita akan rusak. Di dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad kita ini ada segumpal daging, kalau dia baik maka akan baik seluruh jasad, dan kalau dia rusak maka akan rusak seluruh jasad. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tersebut adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyakit hati adalah penyakit batin yang merusak keimanan, seperti iri dengki (hasad), sombong (takabur), dan pamer (riya').

Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit jasmani, karena penyakit jasmani hanya membinasakan tubuh di dunia, sementara penyakit hati membinasakan jiwa di dunia dan akhirat.

Mengobati penyakit hati dalam Islam dapat dilakukan dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, memperbanyak zikir dan istigfar, serta menjalankan ibadah dan amal saleh. Beberapa cara spesifik termasuk membaca Al-Qur'an dengan tadabbur, berpuasa, shalat malam, dan menjaga hubungan baik dengan sesama dengan cara berpikir positif dan ikhlas.

Di akhirat kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa yang akan bermanfaat di akhirat kelak adalah qalbun salim (jantung/hati yang selamat). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Hari dimana tidak akan bermanfaat saat itu harta dan juga anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah ‘Azza wa Jalla di hari kiamat dalam keadaan dia memiliki jantung yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88)

٣. البُعْدُ عَنْ أَمَاكِنِ الفِتَنِ لِكَيْ تَنْجُو مِنْ خَطَرِها.

3. Menghindari godaan agar terhindar dari bahayanya.

📃 Penjelasan:

Iblis telah berjanji untuk menyesatkan anak-anak Adam. Dimana iblis bersumpah dengan berkata:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ﴿١٧﴾

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf[7]: 17)

Maka iblis pun berusaha dengan seluruh kemampuannya, mengerahkan bala tentaranya untuk menggoda dan menyesatkan anak Adam agar menjadi teman-temannya di neraka.

Maka kewajiban kita adalah mempelajari langkah-langkah iblis. Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitab Fathul Bari syarah shahih Bukhari menyebutkan bahwa jihad ada empat martabat, dua diantaranya :

  • Pertama, jihad melawan diri sendiri dengan cara menuntut ilmu dan mengamalkannya serta menyebarkannya.
  • Kedua, berjihad melawan setan. Yaitu dengan cara mempelajari langkah-langkah setan tersebut. Siapapun diantara kita yang ingin selamat dari pada godaan setan, hendaklah kita pelajari dan pahami dengan betul tentang was-was dan godaan-godaan iblis kepada manusia, agar terhindar dari Syirik, bid'ah, dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil dan melalaikan waktu dari hal-hal yang mubah.


٤. محاسبةُ النَّفْس، لتكتَشِفَ عيُوبُها ثم تبدأً بإصْلَاحِها.

4. Introspeksi untuk mengidentifikasi kekurangan diri dan kemudian mulai memperbaikinya.

📃 Penjelasan:

Introspeksi dalam Islam dikenal sebagai muhasabah, yaitu proses mengevaluasi diri untuk mengidentifikasi kekurangan, kemudian memperbaikinya. Proses ini dilakukan dengan memeriksa niat, perbuatan, dan pikiran, lalu menindaklanjutinya dengan tindakan nyata seperti tobat, meminta maaf, bersedekah, dan berkonsultasi dengan orang saleh agar menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah ﷻ.

Allah ﷻ memerintahkan kita untuk selalu bermuhasabah, firman-Nya dalam Surat Az-Zumar Ayat 53:

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

٥. مُجَاهَدةُ النَفْسِ علَى الأعْمَالِ الصَّالِحَةِ، قَال تَعَالَى: ﴿وَالَِّينَ جَهَدُ واْفِينَا لَنَهَدِيَهُمْ سُبلَنَاً وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِينَ﴾ (سورة المنكبوت:آية ٦٩].

5. Berusaha melawan hawa nafsu untuk beramal saleh.

Allah ﷻberfirman: Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat Al-ankabut: Ayat 69).

📃 Penjelasan:

Kita diharuskan bermujahadah, memperbaiki dan melanggengkan amal. Maka berusahalah mengerjakan amal dengan sungguh-sungguh dengan mengilmui dan mengamalkannya.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut Ayat 69:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Agar semangat dan bersungguh-sungguh:

  1. Menuntut ilmu syar’i agar tahu mana yang baik dan buruk. Ilmu adalah mashdar kebaikan. Maka kebaikan akan didapat dengan belajar.
  2. Menjauhi apa yang Allah ﷻ haramkan.

٦. الصبرُ على الطاعةِ، قالَ تَعالَى: ﴿ وَٱصْطَبِرْ لِعِبَٰدَتِهِ [سورة مريم:آیة ٦٥].

6. Sabar dalam ketaatan.

Allah ﷻ berfirman: Dan berikanlah kesabaran kepada hamba-hamba-Nya. (Surat Maryam: Ayat 65).

📃 Penjelasan:

Sabar itu ada tiga macam, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi takdir.

Dan sabar dalam ketaatan ada tiga:

  • Sabar sebelum beramal
  • Sabar ketika beramal
  • Sabar setelah beramal

Sabar dalam ketaatan kepada Allah yaitu seseorang bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Dan perlu diketahui bahwa ketaatan itu adalah berat dan menyulitkan bagi jiwa seseorang. Terkadang pula melakukan ketaatan itu berat bagi badan, merasa malas dan lelah (capek).

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron [3] : 200).

٧. الصبرُ عن المعصِيَةِ، لأَنَّ الصَّبْرَ عنْها أيسرُ منَ الصَّبْرِ عَلَى عذابِ الله تَعَالی.

7. Sabar dalam menjauhi dosa, karena sabar dalam menjauhi dosa lebih mudah daripada sabar dalam menanggung azab Allah ﷻ.

📃 Penjelasan:

Penghuni neraka tidak akan sabar menghadapi siksaan, tetapi tidak ada pilihan lain dari Allah ﷻ.

Firman-Nya dalam Al-Quran Surat As-Sajdah Ayat 20:

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَآ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ ٢٠

Adapun orang-orang yang fasik (kafir), tempat kediaman mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab neraka yang dahulu selalu kamu dustakan.”

٨. القراءةُ في سِيَرِ الأنبياءِ والصالحين للاقتداءِ بهم.

8. Membaca kisah para nabi dan orang-orang saleh untuk meneladani mereka.

📃 Penjelasan:

Sifat jiwa cenderung mengikuti apa yang sering dibaca karena pikiran bawah sadar akan menyerap dan menginternalisasi informasi, ide, dan sudut pandang dari materi yang sering dikonsumsi. Kebiasaan membaca materi tertentu dapat membentuk pola pikir, keyakinan, dan bahkan memengaruhi perilaku seseorang.

Maka, memilih bacaan yang positif dan inspiratif dapat membantu membangun pola pikir yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup Anda secara keseluruhan.

Maka, jika kita selalu membaca kisah-kisah para nabi dan orang-orang shalih akan membentuk karakter sesuai dengan apa yang dicontohkan para generasi salaf.

٩. الدعاءُ بأن يصلحَ اللهُ نفسَك، قالَ تعَالَى: ﴿اَدْعُونيِ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ [سورة غافر: آية ٦٠].

9. Berdoa kepada Allah agar selalu memperbaiki jiwamu.

Allah ﷻ berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do'amu" [Surat Ghafir: Ayat 60].

📃 Penjelasan:

Doa penting dalam Islam karena merupakan ibadah fundamental, sarana komunikasi langsung dengan Allah, dan "senjata" bagi seorang Muslim untuk meminta petunjuk, perlindungan, dan pertolongan. Melalui doa, seorang Muslim mengokohkan keimanan, memperlihatkan kerendahan hati, dan menumbuhkan rasa ketergantungan kepada Allah ﷻ.

Salah satu do'a yang bagus untuk dibaca:

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Allaahumma rohmataka arjuu, falaa takilnii ilaa nafsii thorfata 'ain, wa ashlih lii sya'nii kullah, laa ilaaha illaa anta.

Ya Allah, rahmatMu yang aku harapkan, maka jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku meskipun sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Mudah-mudahan dengan do'a ini akan memperbaiki semua keadaan kita.

Do’a lainnya yang sudah sepatutnya kita hafal dan amalkan karena begitu ringkas namun kandungannya amat mendalam. Inilah do’a agar baik dalam amalan akhir.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

Allahumma ahsin ‘aqibatanaa fil umuuri kullihaa, wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzabil akhiroh.

Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat.

Demikian juga do'a-do'a dalam Al-Qur’an yang banyak disebutkan. Seperti:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Rabbanā lā tuzig qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb

Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".

Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu.

١٠ .اختيارُ الصَدِيقِ الذي يَخْشَى اللهَ، لأنَّ المَرءَ على دينِ خَلِيلِه.

10. Memilih teman yang bertakwa, karena seseorang dipengaruhi oleh agama teman dekatnya.

📃 Penjelasan:

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

١١. عدمُ العُجْبِ بِعَمَلكَ الصَّالحِ، قالَ تعَالى: ﴿وَلَولَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمُ وَرَحْمَتُهُ, مَا زَكَنى مِنكُم مِنْ أَحَدٍ أَبدًا﴾ [سورة النور: آية ٢١].

11. Tidak sombong dengan amal salehnya.

Allah ﷻ berfirman: Dan seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu suci selama-lamanya. [Al-Qur'an 24:21]

📃 Penjelasan:

Terkadang kita merasa telah banyak berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an, lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti dirinya. Atau bahkan menganggap mereka lemah dan tak berguna. Tak sadar bahwa perasaan seperti ini bisa membatalkan amalnya.

Sabda Nabi ﷺ,

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa, maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub! ujub!” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 5303)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

من علامات السعادة والفلاح: أن العبد كلما زيد في علمه زيد في تواضعه ورحمته وخوفه وحذره، وكلما زيد في عمره نقص من حرصه، وكلما زيد في ماله زيد في سخائه وبذله، وكلما زيد في قدره وجاهه زيد في قربه من الناس وقضاء حوائجهم والتواضع لهم

“Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba adalah setiap kali ditambah ilmunya (oleh Allah), maka akan bertambah pula ketawadhu’an, kasih sayang, ketakutannya (kepada Allah), dan juga sikap kehati-hatiannya. Dan setiap kali ditambah umurnya, maka semakin berkurang ketamakannya (terhadap dunia). Setiap kali ditambah hartanya, maka bertambah pula kedermawan dan kemuharan hatinya. Dan setiap kali ditambah kemampuan dan kedudukannya, maka bertambah pula kedekatannya dengan manusia, membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, dan bersikap rendah hati terhadap mereka.” (Al-Fawaid halaman 155)

Contohlah Hasan Al-Bashri yang mengatakan, "Jika bertemu orang tua, ingatlah bahwa mereka telah banyak beribadah/beramal dan usianya lebih tua. Jika bertemu anak kecil, ingatlah mereka belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara diri kita telah banyak bermaksiat."

Nasihat ini menekankan sikap rendah hati dan muhasabah diri (introspeksi) dengan membandingkan diri pada orang yang lebih baik dari kita (orang tua) dan yang lebih suci dari kita (anak kecil).


🗓 | Kajian Hari/Tanggal: Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 / 26 November 2025


Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan untuk istiqomah dalam menuntut ilmu, yang dengannya bisa diamalkan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:

ليس العلم بكثرة الرواية ولكن العلم الخشية

"Ilmu itu bukanlah banyaknya (hafalan) riwayat, melainkan rasa takut (kepada Allah)." (Al Fawa'id, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

ORANG YANG TAKUT KEPADA ALLAH, itulah ORANG YANG BERILMU, yang dengan ilmunya menyampaikan mereka kepada RASA TAKUT KEPADA ALLAH.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang TAKUT KEPADA ALLAH di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu)." (Fathir: 28).

Melanjutkan pembahasan mengenai akhlak terhadap diri sendiri:

١٢. الحذرُ مِن الوساوِسِ والخَواطرِ السَّيِئَةِ.

12. Waspada terhadap bisikan dan pikiran jahat.

📃 Penjelasan:

Was-was dan bisikan yang buruk keluar dari hati dan berperan terhadap pikiran. Sementara hati dipengaruhi oleh kebiasaan, jika diisi yang baik, maka output nya pun baik namun sebaliknya jika diisi dengan kebiasaan buruk, maka record dari hati pun akan negative.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hati yang sehat lebih mengutamakan hal bermanfaat daripada hal berbahaya.” Tanda-tanda hati yang sehat adalah selalu mengutamakan yang bermanfaat seperti beriman kepada Allah Ta’ala, belajar, dan menuntut ilmu syar’i, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan sebagainya.

أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ.“ رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati ada tiga macam:

  • Pertama: Hati yang sehat dan selamat, yaitu hati yang selalu menerima, mencintai dan mendahulukan kebenaran. Pengetahuannya tentang kebenaran benar-benar sempurna, juga selalu taat dan menerima sepenuhnya.
  • Kedua: Hati yang keras, yaitu hati yang tidak menerima dan taat pada kebenaran.
  • Ketiga: Hati yang sakit, jika penyakitnya kambuh maka hati­nya menjadi keras dan mati, dan jika ia mengalahkan penyakit hatinya maka hatinya menjadi sehat dan selamat.

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- berkata: “Hati itu seperti panci, dia akan mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisannya itu ibarat timbanya.

Maka tunggulah seseorang sehingga dia berbicara, karena lisannya akan mengambilkan untukmu apa yang ada dalam hatinya; bisa jadi rasanya manis, atau kecut, atau tawar, atau asin.
Lisannya akan mengabarimu tentang rasa hatinya”. (Hilyatul Aulia)

١٣ . طلَبُ العِلْمِ الشَّرْعِي، لأنهُ يخبرُك بكيْفيَّةِ إصْلاحِ نفسِكَ.

13. Menuntut ilmu agama, karena ia akan mengajarkanmu cara memperbaiki diri.

📃 Penjelasan:

Menuntut ilmu agama adalah penting karena ia mengajarkan cara memperbaiki diri, memahami perintah Allah, dan menjalani hidup yang bermakna. Ilmu agama menuntun seseorang untuk menjadi lebih baik, lebih bijak, dan lebih bertakwa, sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan benar dan mencapai ridha Allah ﷻ.

Syaikh Sholih Al ‘Ushoimi berkata,

وإنما ينال المرأ العلم على قدر إخلاصه

“Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 25). Artinya, semakin seseorang ikhlas dalam belajar, maka semakin mudah meraih ilmu. Jika semakin mudah, maka ia pun akan terus semangat dalam belajar.

Yang dimaksud ikhlas dalam belajar -sebagaimana kata Syaikh Sholih Al ‘Ushoimi-:

a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.
b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain.
c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.
d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.

Syaikh Sholih Al ‘Ushoimi lalu berkata,

فالعلم شجرة والعمل ثمرة وإنما يراد العلم بالعمل

“Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan.”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 27).

١٤. النفسُ تَحْتَاجُ لشَيءٍ مِنَ المُبَاحِ لكيلا تملَّ مِن العبادةِ والجدّ.

14. Jiwa membutuhkan sesuatu yang mubah agar tidak jemu beribadah dan berikhtiar.

📃 Penjelasan:

Karena hal tersebut dapat memberikan jeda dan menyegarkan pikiran. Kegiatan mubah seperti makan, minum, berkebun, atau berolahraga dapat diniatkan sebagai cara untuk menambah kekuatan agar dapat terus menjalankan ibadah dan ikhtiar.

Niat adalah kunci yang menentukan apakah suatu perbuatan mubah menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang mubah bisa berubah hukumnya menjadi wajib atau haram tergantung pada niat dan dampaknya.

Hal yang terbaik adalah pertengahan.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً (سورة البقرة: 143)

“Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian” (QS Al Baqarah: 143).

١٥. تنويعُ الْعِباداتِ يصلحُ النَّفْسَ.

15. Beragam ibadah menyucikan jiwa.

📃 Penjelasan:

Ibadah menyucikan jiwa karena menjadi sarana untuk membersihkan hati dari sifat-sifat buruk dan mendekatkan diri kepada Allah, melalui amalan seperti shalat, zakat, puasa, zikir, dan ibadah haji. Dengan melakukan ibadah dengan khusyuk dan ikhlas, seseorang dapat menghilangkan sifat riya, ujub, dan iri, serta menumbuhkan nilai-nilai luhur seperti sabar, ikhlas, dan takwa.

Agar hati sehat:

1. Selalu dalam ketaatan

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى ﴿١٤﴾

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), (QS. Al-A'la ayat 14).

2. Jangan merusak hati, karena merusak hati melalui perbuatan dosa akan meninggalkan "bintik hitam" yang jika menumpuk akan menutupi dan mengeraskan hati. Sebaliknya, jika melakukan dosa, bertaubat dan memohon ampunan (istighfar) akan membersihkan hati dari bintik-bintik tersebut.

Hati yang telah "tertutup" oleh dosa akan kehilangan cahayanya. Hal ini menyebabkan seseorang menjadi tidak peka terhadap nasihat, tidak tergerak untuk taat, dan tidak merasa takut lagi untuk berbuat dosa.

3. Bertaubat untuk membersihkan hati.

Hati ibarat sebuah kaca yang bening, jika kaca tersebut terus-menerus dibersihkan maka kaca akan bening dan mengkilap. Sebaliknya jika kaca tersebut tidak dibersihkan dari noda-noda yang menempel, maka kaca itu menjadi kusam dan buram.

١٦. الفتورُ واردٌ عَلى كلِّ نَفْسٍ وَلَكِنِ احْذَر أنْ يَسْتَمِرَ مَعَكَ.

16. Kelesuan tidak dapat dihindari setiap orang, tetapi jangan biarkan ia terus berlanjut.

📃 Penjelasan:

Kemunafikan dan kekerasan hati adalah penyakit hati, tetapi keduanya tidak selalu saling terkait. Tidak semua orang yang hatinya keras adalah munafik, dan seseorang yang merasakan ada penyakit di hatinya tidak otomatis dianggap kurang ikhlas atau berbuat riya’.

Sebagai contoh, dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Tirmizi, sahabat Hanzhalah dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma sempat merasa takut terjebak dalam kemunafikan.

Ketika Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar dalam keadaan menangis, ia berkata, “Apa yang terjadi padamu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Abu Bakar. Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun, ketika kami kembali kepada keluarga dan mengurusi hal-hal duniawi, kami melupakan banyak dari hal tersebut.”

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, kami pun merasakan hal yang sama. Mari kita pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ketika mereka menemui beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Rasulullah. Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami melihatnya dengan jelas. Namun, ketika kami kembali, kami tenggelam dengan urusan keluarga dan dunia, dan melupakan banyak hal.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian selalu berada dalam keadaan seperti ketika bersama saya, para malaikat akan menjabat tangan kalian di majelis-majelis kalian, di jalan-jalan, dan di tempat tidur kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” (HR. At-Tirmidzi)

Kewajiban seorang muslim adalah memanfaatkan masa-masa semangatnya untuk beribadah sebagai bekal bagi saat-saat ia mengalami penurunan semangat. Ketika berada dalam kondisi penurunan semangat, ia tidak boleh meninggalkan kewajiban atau jatuh dalam hal yang terlarang.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إنَّ لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فمن كانت شِرَّتُه إلى سنَّتي فقد أفلح ، ومن كانت فَتْرَتُه إلى غيرِ ذلك فقد هلكَ

“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap semangat ada masa penurunannya. Barangsiapa yang pada masa penurunan semangatnya tetap mengikuti sunahku, maka ia telah beruntung. Dan barangsiapa yang pada masa itu, menyimpang darinya, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)

١٧. إذا أذنبتَ فبادرْ بِالاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَةِ والنَّدَم، وفِي الحَدِيث (الندم توبة) صحیح ابن ماجه ٣٤٤٨.

17. Jika kamu berbuat dosa, segeralah mencari ampunan, bertaubat, dan rasakan penyesalan.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadits, "Penyesalan adalah taubat." (Sahih Ibnu Majah 3448)

📃 Penjelasan:

Istighfar adalah Thalabul maghfirah (mencari ampunan Allah).

اَلْمَغْفِرَةُ هِيَ وِقَايَةُ شَرِّ الذُّنُوْبِ مَعَ سِتْرِهَا

Maghfirah adalah perlindungan dari keburukan dosa-dosa bersama dengan penutupannya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٦﴾ الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Wahai Rabb kami! Sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh), dan yang memohon ampun di waktu sahur. [Ali Imrân/3:16-17]

Sabda Rasulullah ﷺ :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ =رواه الترمذي وابن ماجه واحمد=

Dari Anas radhiyallahu’anhu, berkata: Bersabda Rasulullah ﷺ , “Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik dari orang yang bersalah adalah yang bertaubat. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap perbuatan yang kita lakukan memiliki konsekuensi yang dapat dirasakan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sebuah kutipan dari kitab "Al-Bidayah wan Nihayah" karya Ibnu Katsir, menggambarkan dengan jelas bagaimana dosa dan maksiat dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan kita:

إني لأعصي الله فأعرف ذلك في خلق حماري وخادمي وامرأتي وفأر بيتي.

"Sungguh aku benar-benar bermaksiat kepada Allah lalu aku mengetahui hal itu berakibat pada berubahnya perilaku keledai tungganganku (kendaraan), pembantuku, istriku, dan munculnya tikus di rumahku."

Syarat-syarat taubat:

Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa taubatan nasuha, taubat yang serius, syaratnya ada lima, di antaranya:

⑴ Ikhlas karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Yang menggerakkan kita bertaubat bukan faktor duniawi, bukan faktor yang lainnya, tapi semata-mata karena Allāh Ta’āla.
⑵ Dia menyesal dengan perbuatan tersebut dengan penyesalan yang mendalam dari hatinya.
⑶ Dia tinggalkan perbuatan maksiatnya.
⑷ Dia berazam untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
⑸ Dia lakukan di waktu masih diterimanya taubat.

Secara umum, taubat akan berakhir ketika matahari muncul di barat.

Sehingga Allāh berfirman dalam ayat:

يَأْتِىَ بَعْضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِى بَعْضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَـٰنُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِىٓ إِيمَـٰنِهَا خَيْرًۭا

”Hari ketika telah datang tanda-tanda ayat Allāh yaitu munculnya matahari dari barat, maka tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha (dia tidak beramal yang baik).” (QS. Al An’ām: 158)

Secara pribadi taubat itu akan tertutup ketika nyawa sudah sampai di: يُغَرْغِرْ (tenggorokan) atau sakaratul maut. Di antaranya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam katakan bahwasanya pintu taubat akan diterima oleh Allāh, akan senantiasa dibuka oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

”Sesungguhnya Allāh menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR At Tirmidzi no. 3537)

Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat dosa. Karena Allah berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31) (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah, tentang pembahasan isi khutbatul hajah).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

خُلُق المُسْلِمِ مَعَ القُرآنِ

Akhlak seorang Muslim dengan Al-Qur'an

١. مَحَبَّثُهُ لأنَّهُ كلامُ اللهِ تَعالى.

1. Mencintainya karena ia adalah firman Allah Ta'ala.

📃 Penjelasan:

Mencintai Al-Qur'an berarti membaca, memahami, dan mengamalkan isinya sebagai bukti cinta kepada Allah ﷻ. Cara melakukannya adalah dengan rutin berinteraksi dengan Al-Qur'an, meniatkan ibadah karena Allah, memahami keutamaan Al-Qur'an, dan berdoa agar dimudahkan dalam mencintainya.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Thaha Ayat 124:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

٢. اعْتِقَادُ فَضْلهِ وعلوِّ مكانتِه، وأنَّه أفضَلُ الكُتُبِ المُنزّلة.

2. Keyakinan akan keutamaannya dan tingginya kedudukannya, serta bahwa itu adalah kitab yang paling utama yang diturunkan.

📃 Penjelasan:

Keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci yang paling utama diturunkan, memiliki kedudukan tertinggi, dan merupakan petunjuk hidup adalah inti dari ajaran Islam. Keutamaan utamanya adalah sebagai kalam Allah yang terjaga kemurniannya, pemberi petunjuk (hudan), pembeda (furqan), sumber ketenangan hati, serta pembenar kitab-kitab sebelumnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan kepada para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia. Karena di dalam al-Qur’an terdapat nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat, penyembuh bagi penyakit hati, yaitu kelemahan iman, keragu-raguan dan kerancuan dalam memahami agama, serta penyakit syahwat yang merusak hati. Juga terdapat petunjuk, yaitu bimbingan bagi orang yang merenungkan, memahami, dan mengikuti al-Qur’an ke jalan yang bisa mengantarkannya ke surga, serta sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla yang terkandung di dalamnya.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini