BERSAMA SATUKAN BANGSA
Menjaga Persaudaraan, Menyatukan Hati, dan Membangun Kehidupan yang Harmonis
Penceramah: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. hafizhahullah
Tempat: Lapangan Desa Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo
Hari/Tanggal: Jumat, 27 Jumadilawal 1448 H / 6 November 2026 M
Daftar Isi:
Muqaddimah: Mensyukuri Nikmat Allah dan Nikmat Menuntut Ilmu
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Segala puji bagi Allah Jalla Jalaluh. Karena karunia dan nikmat-Nya, kita dapat hadir di tempat ini. Kita bisa duduk, berdiri, berjalan, dan melakukan berbagai aktivitas. Semua itu merupakan karunia dari Sang Pencipta.
Namun, banyak di antara manusia yang kurang menyadari nikmat tersebut. Mereka tidak mensyukuri nikmat bisa duduk, berdiri, berjalan, bahkan bernapas.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7).
Di antara nikmat Allah yang sangat agung adalah nikmat mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu agama. Oleh karena itu, hendaknya kita mensyukuri kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu ini.
1. Kebersamaan Bukan Sekadar Berkumpul Secara Fisik
Jemaah rahimakumullah,
Tema kajian kita adalah “Bersama Satukan Bangsa.”
Ketika berbicara tentang kebersamaan, ada satu hal yang perlu kita renungkan: apakah kita yang hadir di tempat ini sudah saling mengenal? Apakah kita sudah mengenal orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri kita?
Jangan sampai kebersamaan kita hanya sebatas jasad. Kita duduk berdekatan, tetapi hati kita berjauhan. Secara fisik kita bersama, tetapi secara batin tidak ada rasa persaudaraan.
Untuk menggambarkan pentingnya saling mengenal, kita perlu memulai dari hal sederhana. Kenalkan diri kepada orang di sebelah kita. Tanyakan namanya, dari mana asalnya, dan siapa orang yang duduk di sampingnya.
Boleh jadi dari perkenalan sederhana itu muncul hubungan persaudaraan yang panjang. Bahkan, mungkin menjadi hubungan keluarga melalui pernikahan.
Semoga Allah memudahkan mereka yang belum menikah untuk segera menikah dan mengaruniakan keturunan yang saleh kepada mereka yang belum memiliki anak.
Namun, kebersamaan sejati bukan hanya tentang saling mengenal nama. Ada landasan yang jauh lebih kuat, yaitu keyakinan bahwa sesama orang beriman adalah saudara.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini mengingatkan bahwa persaudaraan kaum mukminin bukan sekadar slogan. Persaudaraan tersebut harus diwujudkan dalam sikap, kasih sayang, kepedulian, dan usaha memperbaiki hubungan ketika terjadi perselisihan.
2. Seluruh Manusia Berasal dari Satu Keluarga: Keturunan Adam dan Hawa
Sebelum ada negara Indonesia, Malaysia, Palestina, Arab Saudi, Amerika, dan negara-negara lainnya, Allah telah menciptakan manusia pertama, yaitu Nabi Adam alaihissalam.
Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagai pasangannya. Dari keduanya, berkembanglah seluruh umat manusia yang ada di muka bumi.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (QS. An-Nisa: 1).
Ayat ini sering dibacakan oleh Rasulullah ﷺ ketika menyampaikan khutbah. Beliau mengingatkan umat manusia tentang asal-usul mereka.
Kita semua berasal dari satu keluarga besar, yaitu keturunan Nabi Adam alaihissalam dan Hawa.
Dalam surah Al-Hujurat, Allah kembali mengingatkan manusia tentang asal-usul dan tujuan keberagaman mereka.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (QS. Al-Hujurat: 13).
Perhatikan tujuan Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Allah menyebutkan:
لِتَعَارَفُوا
Agar kalian saling mengenal.
Dahulu tidak ada suku Jawa, Madura, Sunda, Arab, atau bangsa Eropa. Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Kemudian Allah menjadikan mereka berkembang menjadi berbagai bangsa dan suku.
Keberagaman bukanlah alasan untuk saling membanggakan diri, merendahkan orang lain, atau merasa lebih mulia daripada kelompok yang berbeda.
Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman seharusnya menjadi sarana untuk saling mengenal dan bekerja sama, bukan untuk saling merendahkan.
Ketika seseorang mengatakan dirinya berasal dari Solo, Semarang, Medan, atau daerah lainnya, itu hanyalah identitas untuk saling mengenal.
Lantas, siapa yang paling mulia?
Allah telah menjawabnya dalam ayat tersebut: orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah, bukan orang yang paling tinggi kedudukan sukunya, bangsanya, hartanya, atau keturunannya.
3. Kemuliaan Tidak Diukur dari Suku, Warna Kulit, dan Harta
Bangsa Arab dahulu dikenal memiliki fanatisme kesukuan yang kuat. Bahkan, ada kebiasaan membanggakan nasab dan merendahkan orang yang dianggap memiliki keturunan lebih rendah.
Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar meninggalkan kebanggaan jahiliah semacam ini.
Beliau menjelaskan bahwa seluruh manusia berasal dari Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
Wahai manusia! Ketahuilah bahwa Rabb kalian satu dan bapak kalian satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada keutamaan orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. (HR. Ahmad, Al-Musnad; diriwayatkan dalam khutbah Nabi pada Haji Wada, dengan beberapa perbedaan redaksi).
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa Allah tidak menilai manusia berdasarkan penampilan dan kekayaan mereka.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian. (HR. Muslim no. 2564).
Karena itu, jangan merasa lebih mulia hanya karena memiliki wajah yang rupawan, kulit yang putih, pakaian yang bagus, kendaraan yang mahal, telepon genggam terbaru, atau perhiasan yang banyak.
Semua itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Allah melihat hati dan amal perbuatan kita.
4. Tujuan Manusia Diciptakan adalah untuk Beribadah kepada Allah
Jika seluruh manusia berasal dari satu keluarga, lalu untuk apa Allah menciptakan mereka?
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Kemudian Allah menjelaskan bahwa Dia tidak membutuhkan rezeki dan makanan dari makhluk-Nya.
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 57).
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 58).
Tujuan utama penciptaan manusia bukan sekadar bersenang-senang, mengumpulkan kekayaan, membangun kekuasaan, atau mengejar kedudukan duniawi. Tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah semata.
Kita bisa melihat bagaimana kaum-kaum terdahulu mengalami kehancuran ketika mendustakan para rasul dan menolak tauhid. Kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, serta Fir'aun dan pengikutnya menjadi pelajaran bagi manusia.
Mereka memiliki kekuatan dan kemakmuran, tetapi ketika menentang perintah Allah, datanglah azab yang membinasakan mereka.
Karena itu, landasan pertama dalam menjaga persatuan adalah menjaga tauhid.
Persatuan tidak boleh dibangun dengan mengorbankan prinsip agama. Kita harus bersatu di atas ketaatan kepada Allah, bukan sekadar berkumpul karena kepentingan dunia.
5. Persatuan Umat Islam Harus Dibangun di Atas Tauhid
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS. Ali Imran: 103).
Ayat ini merupakan perintah agar kaum muslimin berpegang teguh kepada agama Allah dan tidak terpecah belah.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita mengenal berbagai organisasi kemasyarakatan, yayasan, kelompok dakwah, dan partai. Semua itu merupakan wadah.
Jangan sampai wadah tersebut berubah menjadi alasan untuk memutus persaudaraan.
Seseorang mungkin mengenakan seragam organisasi tertentu, sementara orang lain mengenakan seragam yang berbeda. Namun, selama mereka masih beragama Islam, mereka tetap memiliki hak persaudaraan sebagai sesama muslim.
Jangan sampai seseorang hanya menganggap saudara orang-orang yang berada dalam kelompoknya sendiri, sedangkan orang di luar kelompoknya dianggap bukan saudara.
Rasulullah ﷺ memang telah mengabarkan bahwa umat Islam akan mengalami perpecahan menjadi 73 golongan. Akan tetapi, peringatan tentang perpecahan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menzalimi atau menghilangkan hak persaudaraan kaum muslimin.
Persaudaraan harus tetap dijaga, disertai komitmen untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Di antara hak paling besar seorang muslim terhadap saudaranya adalah mendapatkan kecintaan dan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri. (HR. Al-Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).
Bagaimana jika saudara kita melakukan kemaksiatan?
Kita tetap menginginkan kebaikan untuknya. Kita membenci kemaksiatan yang dilakukannya, tetapi tetap mengharapkan agar dia mendapatkan hidayah dan kembali kepada ketaatan.
Inilah bentuk kecintaan yang dibangun di atas keimanan.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa ikatan keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
6. Enam Hak Seorang Muslim atas Muslim Lainnya
Dalam rangka menjaga persaudaraan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, kita harus mengetahui hak-hak sesama muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ
Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam. (HR. Muslim no. 2162).
Apa saja keenam hak tersebut?
- Apabila bertemu, hendaklah mengucapkan salam.
- Apabila diundang, hendaklah memenuhi undangannya.
- Apabila dimintai nasihat, hendaklah memberikan nasihat.
- Apabila bersin lalu mengucapkan hamdalah, hendaklah mendoakannya.
- Apabila sakit, hendaklah menjenguknya.
- Apabila meninggal dunia, hendaklah mengantarkan jenazahnya.
Enam hak ini jangan hanya dihafalkan. Kita harus berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
A. Mengucapkan Salam Ketika Bertemu
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ
Apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya. (HR. Muslim no. 2162).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengucapkan permisi, monggo, atau nuwun sewu ketika melewati seseorang. Ungkapan tersebut merupakan bagian dari tata krama masyarakat yang boleh dilestarikan selama tidak bertentangan dengan agama.
Namun, jangan sampai kita melupakan salam yang merupakan hak saudara sesama muslim.
Ucapkanlah:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
Semoga keselamatan tercurah kepada kalian.
Salam mengandung doa keselamatan dan merupakan bentuk penghormatan kepada sesama muslim.
Ketika Rasulullah ﷺ pertama kali datang ke Madinah, beliau memberikan nasihat yang sangat indah untuk membangun persaudaraan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan salatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. At-Tirmidzi no. 2485).
Perhatikan bahwa salah satu nasihat pertama Rasulullah ﷺ adalah menyebarkan salam.
Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan masuk surga sampai beriman, dan tidak akan mencapai kesempurnaan iman sampai saling mencintai.
لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan sempurna imannya sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim no. 54).
Ada adab dalam mengucapkan salam. Di antaranya, yang muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, orang yang berjalan kepada orang yang duduk, orang yang berkendaraan kepada orang yang berjalan, dan kelompok yang sedikit kepada kelompok yang lebih banyak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
Hendaklah yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, orang yang berjalan kepada orang yang duduk, dan kelompok yang sedikit kepada kelompok yang banyak. (HR. Al-Bukhari no. 6231 dan Muslim no. 2160).
Jangan sampai kita hanya mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal. Ketika bertemu sesama muslim di jalan, di masjid, atau di lingkungan tempat tinggal, biasakanlah menyebarkan salam.
Bahkan ketika melewati gang perumahan menggunakan mobil, sesekali turunkan kaca jendela. Sapa saudara-saudara kita dengan salam. Tidak mengapa sedikit udara dingin dari pendingin mobil keluar, selama kita mendapatkan pahala karena menyebarkan salam.
Islam mengajarkan kebersamaan yang sesungguhnya, bukan kebersamaan yang hanya terlihat dari luar.
B. Memenuhi Undangan
Hak kedua adalah memenuhi undangan saudara sesama muslim.
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ
Apabila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. (HR. Muslim no. 2162).
Terlebih lagi undangan walimah pernikahan. Apabila seseorang diundang dan tidak memiliki halangan, hendaknya dia berusaha memenuhi undangan tersebut.
Namun, perlu diperhatikan bahwa undangan yang dihadiri tidak boleh mengandung kemaksiatan. Demikian pula, seseorang tidak dibebani untuk memenuhi undangan yang mengharuskannya melakukan perjalanan jauh tanpa mempertimbangkan kemampuan dan keadaannya.
Memenuhi undangan merupakan bentuk penghormatan dan menjaga hubungan baik antarsesama.
C. Memberikan Nasihat dengan Jujur dan Amanah
Hak ketiga adalah memberikan nasihat ketika saudara kita memintanya.
وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ
Apabila dia meminta nasihat kepadamu, berikanlah nasihat kepadanya. (HR. Muslim no. 2162).
Dalam kehidupan sehari-hari, hak ini sering kali diabaikan. Salah satu akibatnya adalah munculnya penipuan dan ketidakjujuran dalam hubungan sosial maupun perdagangan.
Misalnya, seseorang ingin membeli motor bekas. Dia bertanya kepada penjual tentang kondisi motor tersebut. Penjual mengetahui bahwa motor itu memiliki kekurangan, tetapi dia sengaja menyembunyikannya.
Ketika yang bertanya adalah temannya sendiri, penjual mungkin akan berkata jujur. Namun, ketika yang bertanya orang lain, dia justru mengatakan bahwa motornya sangat bagus.
Mengapa bisa demikian?
Karena dia tidak memperlakukan orang lain sebagaimana dia memperlakukan saudaranya sendiri.
Padahal, seorang muslim harus memberikan nasihat dengan jujur, baik kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Contoh yang sangat indah dapat kita lihat dari kisah sahabat Nabi, Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu anhu.
Suatu ketika Jarir mengutus seseorang untuk membeli seekor kuda. Orang yang diutusnya mendapatkan seekor kuda dengan harga 300 dirham.
Ketika kuda itu diperlihatkan kepada Jarir, beliau memeriksa kondisinya dan menilai bahwa kuda tersebut sebenarnya layak dihargai lebih tinggi.
Beliau bahkan menawarkan harga 400 dirham, kemudian menaikkannya lagi hingga 800 dirham.
Orang yang membawa kuda tersebut merasa heran. Mengapa majikannya justru menawar lebih tinggi daripada harga yang diminta penjual?
Jarir menjelaskan bahwa dirinya pernah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk senantiasa memberikan nasihat kepada setiap muslim.
بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap muslim. (HR. Al-Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56, dengan perbedaan redaksi).
Inilah akhlak seorang muslim. Kejujuran tidak boleh hanya diberikan kepada orang yang dekat dengan kita.
Rasulullah ﷺ juga pernah mendatangi pasar dan memeriksa dagangan seorang penjual makanan. Beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan dan mendapati bagian dalamnya basah.
Penjual itu menjelaskan bahwa makanan tersebut terkena hujan.
Rasulullah ﷺ kemudian menegur mengapa bagian yang basah tidak diletakkan di atas agar pembeli mengetahuinya.
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Barang siapa menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami. (HR. Muslim no. 102).
Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita tidak melakukan kecurangan dalam perdagangan.
Jangan sampai barang yang dijual terlihat bagus di bagian atas, tetapi bagian bawahnya sengaja diisi barang yang rusak atau berkualitas buruk.
Baik dalam jual beli, pekerjaan, maupun hubungan sosial, seorang muslim harus menjaga kejujuran dan amanah.
D. Mendoakan Saudara yang Bersin
Hak keempat adalah mendoakan saudara kita ketika dia bersin dan mengucapkan hamdalah.
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ
Apabila dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia. (HR. Muslim no. 2162).
Ketika seseorang bersin kemudian mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Segala puji bagi Allah.
Maka orang yang mendengarnya dianjurkan menjawab:
يَرْحَمُكَ اللَّهُ
Semoga Allah merahmatimu.
Kemudian orang yang bersin menjawab:
يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.
Ini merupakan adab sederhana yang sering kita lupakan.
Kadang-kadang ketika sedang makan di restoran atau berada di suatu tempat, terdengar seseorang bersin dari sudut ruangan. Apabila dia mengucapkan alhamdulillah, jangan ragu untuk mendoakannya.
Ada kisah tentang seseorang yang sedang memancing di sebuah danau. Tiba-tiba dia mendengar seseorang bersin dan mengucapkan alhamdulillah dari pinggir danau.
Dia kemudian mengambil perahunya dan mendatangi orang tersebut hanya untuk mengucapkan yarhamukallah.
Ketika ditanya mengapa dia bersusah payah melakukan hal itu, dia menjelaskan bahwa mendoakan orang yang bersin merupakan hak saudaranya. Bisa jadi orang yang didoakannya memiliki doa yang mustajab dan akan mendoakan kebaikan baginya.
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa hak sesama muslim harus diperhatikan, meskipun tampak sederhana.
E. Menjenguk Saudara yang Sakit
Hak kelima adalah menjenguk saudara yang sedang sakit.
وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ
Apabila dia sakit, jenguklah dia. (HR. Muslim no. 2162).
Sebagian orang hampir tidak pernah menjenguk saudaranya yang sakit. Ketika mendengar seseorang sakit, dia hanya berkata, nanti kalau sudah meninggal saya akan ikut salat jenazahnya.
Padahal, ketika masih hidup dan sedang sakit, orang tersebut membutuhkan perhatian, doa, dan dukungan.
Menjenguk orang sakit merupakan bentuk kepedulian yang dapat memperkuat hubungan persaudaraan.
Tidak harus membawa sesuatu yang mahal. Kehadiran, doa, dan perkataan yang menenangkan sudah menjadi bentuk kebaikan yang sangat berarti.
Jangan menunggu seseorang meninggal dunia baru kita menunjukkan kepedulian kepadanya.
F. Mengantarkan Jenazah Saudara Sesama Muslim
Hak keenam adalah mengantarkan jenazah ketika saudara kita meninggal dunia.
وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya. (HR. Muslim no. 2162).
Dalam masyarakat, kita sering melihat banyak orang ikut mengantarkan jenazah sampai ke pemakaman. Namun, terkadang mereka justru tidak ikut melaksanakan salat jenazah.
Padahal, salat jenazah memiliki keutamaan yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ
Barang siapa menghadiri jenazah sampai disalatkan, maka dia mendapatkan satu qirath. Barang siapa menghadirinya sampai jenazah tersebut dimakamkan, maka dia mendapatkan dua qirath. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945).
Para sahabat bertanya tentang ukuran dua qirath tersebut.
مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
Seperti dua gunung yang sangat besar. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945, dengan perbedaan redaksi).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ukuran satu qirath seperti Gunung Uhud.
Karena itu, jangan hanya bersemangat mengantarkan jenazah sampai pemakaman, tetapi berusahalah juga mengikuti salat jenazahnya.
Enam hak ini harus kita jaga. Jangan sampai kita meremehkan hak orang lain, karena kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.
7. Menjaga Hak Orang yang Berbeda Agama
Jemaah rahimakumullah,
Indonesia tidak seluruh penduduknya beragama Islam. Kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara kita yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan agama lainnya.
Bagaimana sikap seorang muslim terhadap mereka?
Islam mengajarkan keadilan, menjaga perjanjian, dan tidak menzalimi orang lain, termasuk orang yang berbeda agama.
Rasulullah ﷺ memberikan ancaman keras terhadap orang yang membunuh seorang nonmuslim yang berada dalam perlindungan dan perjanjian kaum muslimin.
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Barang siapa membunuh seorang mu'ahad (orang kafir yang terikat perjanjian perlindungan), dia tidak akan mencium aroma surga. (HR. Al-Bukhari no. 3166).
Rasulullah ﷺ sendiri ketika tinggal di Madinah tidak hanya hidup bersama kaum muslimin. Di sana terdapat orang-orang Yahudi dan kelompok masyarakat lain yang belum memeluk Islam.
Mereka hidup berdampingan berdasarkan kesepakatan dan perjanjian yang berlaku.
Namun, ketika sebagian kelompok melanggar perjanjian dan melakukan pengkhianatan, mereka mendapatkan konsekuensi atas pelanggaran tersebut.
Di antara kabilah Yahudi yang diusir dari Madinah adalah Bani Qainuqa dan Bani Nadhir. Adapun Bani Quraizhah mengalami hukuman setelah pengkhianatan mereka dalam Perang Khandaq, berdasarkan keputusan yang dijatuhkan kepada mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam membedakan antara orang yang hidup damai dan menjaga perjanjian dengan orang yang melakukan permusuhan serta pengkhianatan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk berlaku adil dan berbuat baik kepada orang yang berbeda agama selama mereka tidak memerangi dan mengusir kaum muslimin.
8. Berbuat Baik kepada Tetangga, Termasuk yang Berbeda Agama
Salah satu contoh yang sangat indah tentang akhlak seorang muslim dapat kita lihat dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma.
Suatu hari beliau menyembelih kambing. Setelah itu, beliau berpesan kepada pembantunya agar memberikan sebagian daging tersebut kepada tetangga mereka yang beragama Yahudi terlebih dahulu.
Beliau bahkan mengulangi pertanyaan tentang tetangga Yahudi tersebut.
Pembantunya merasa heran, lalu bertanya mengapa beliau begitu memperhatikan tetangga yang berbeda agama.
Abdullah bin Amr kemudian menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwa tetangga akan mendapatkan hak waris. (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2625).
Perhatikan bagaimana Islam mengajarkan hubungan bertetangga.
Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kehidupan kita. Sebelum kita berbuat baik kepada orang yang jauh, jangan sampai kita melupakan orang yang tinggal di sekitar rumah kita.
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai orang yang mengganggu tetangganya.
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ
Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!
Para sahabat bertanya, siapakah orang tersebut?
Beliau menjawab:
الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya. (HR. Al-Bukhari no. 6016).
Perhatikan, hadis ini berbicara tentang hak tetangga. Seorang muslim tidak boleh menyakiti tetangganya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Tetangga harus merasa aman dari gangguan kita.
9. Menghadapi Perselisihan dengan Kembali kepada Sunnah Rasulullah ﷺ
Jemaah rahimakumullah,
Dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, kita akan menemukan berbagai perselisihan. Bahkan di antara kaum muslimin sendiri terkadang terjadi perdebatan, pertengkaran, dan permusuhan.
Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat penting untuk menghadapi keadaan tersebut.
Beliau bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا
Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676, dalam hadis Al-'Irbadh bin Sariyah).
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang hidup setelah beliau akan menyaksikan banyak perselisihan.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup setelahku, dia akan melihat banyak perselisihan. (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676).
Lalu apa solusi ketika perselisihan terjadi?
Rasulullah ﷺ memberikan jawabannya:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي
Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk setelahku. (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676).
Ketika terjadi perselisihan dalam urusan agama, jangan menjadikan hawa nafsu, kebiasaan, atau pendapat pribadi sebagai ukuran kebenaran.
Kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ dengan pemahaman para sahabat dan para khalifah yang mendapatkan petunjuk.
Perhatikan bagaimana para sahabat menjalankan agama ini.
Bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu memimpin umat? Bagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menjalankan pemerintahan? Bagaimana Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma menghadapi berbagai persoalan?
Kita harus belajar dari mereka.
Keteladanan Umar bin Khattab dalam Menjaga Hak Pemeluk Agama Lain
Salah satu contoh yang disebutkan dalam kajian adalah sikap Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika menerima kunci Baitul Maqdis.
Ketika umat Islam memasuki wilayah tersebut, Umar tidak memerintahkan penghancuran gereja-gereja yang sudah ada.
Beliau juga membersihkan kawasan Masjidil Aqsa yang saat itu dipenuhi kotoran dan sampah. Dalam sejarah disebutkan bahwa beliau turut membersihkan tempat tersebut bersama kaum muslimin.
Peristiwa ini memberikan pelajaran tentang kepemimpinan, keadilan, dan penjagaan hak-hak masyarakat yang berbeda agama.
Kekuasaan tidak boleh menjadi alasan untuk menzalimi orang lain.
10. Waspada terhadap Perkara Baru dalam Agama
Dalam menghadapi berbagai persoalan agama, seorang muslim harus berhati-hati agar tidak membuat-buat perkara baru yang tidak memiliki landasan dalam syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru dalam agama adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan. (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676).
Dalam urusan agama, kita tidak boleh hanya mengikuti pendapat yang terasa mudah atau sesuai dengan keinginan kita.
Ketika muncul perselisihan, termasuk dalam persoalan-persoalan keagamaan yang sering dibicarakan masyarakat, hendaknya kita mengembalikannya kepada dalil dan penjelasan para ulama yang mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.
Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh bagaimana hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda agama. Karena itu, kita harus membedakan antara menjaga hubungan sosial dengan mengikuti praktik ibadah agama lain.
Persatuan harus dibangun di atas keadilan, akhlak yang baik, dan keteguhan dalam menjalankan agama.
11. Belajar dari Negeri Saba: Nikmat yang Hilang karena Tidak Bersyukur
Jemaah rahimakumullah,
Kita berharap negeri Indonesia menjadi negeri yang aman, tenteram, makmur, dan mendapatkan ampunan Allah.
Allah menyebutkan sebuah negeri yang pernah mendapatkan berbagai kenikmatan, yaitu negeri Saba.
Negeri tersebut memiliki kehidupan yang makmur, hasil bumi yang melimpah, dan lingkungan yang baik. Namun, ketika penduduknya berpaling dari perintah Allah dan tidak mensyukuri nikmat-Nya, keadaan mereka berubah.
Allah mengabadikan kisah tersebut dalam surah Saba agar menjadi pelajaran bagi manusia.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sungguh, bagi kaum Saba terdapat tanda kekuasaan Allah di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Dikatakan kepada mereka), "Makanlah oleh kalian dari rezeki yang diberikan Rabb kalian dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negeri kalian adalah) negeri yang baik dan (Rabb kalian adalah) Tuhan Yang Maha Pengampun." (QS. Saba: 15).
Namun, mereka berpaling dan tidak mensyukuri nikmat tersebut. Akhirnya Allah mendatangkan banjir besar yang menghancurkan kebun-kebun mereka dan mengubah keadaan negeri tersebut.
Kisah ini mengajarkan bahwa kemakmuran sebuah negeri bukan hanya ditentukan oleh kekayaan alam dan pembangunan fisik. Akan tetapi, harus disertai keimanan, rasa syukur, keadilan, dan ketaatan kepada Allah.
Oleh karena itu, mari kita menjaga negeri ini dengan memperbaiki hubungan kepada Allah dan hubungan antarsesama manusia.
Jangan sampai nikmat keamanan, persatuan, dan kemakmuran yang telah Allah berikan justru hilang karena kesombongan, permusuhan, dan tidak adanya rasa syukur.
Penutup: Menyatukan Hati dengan Keimanan dan Akhlak Mulia
Jemaah rahimakumullah,
Dari pembahasan ini, ada beberapa perkara penting yang harus kita bawa pulang dan amalkan.
- Mensyukuri nikmat Allah, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan menuntut ilmu.
- Mengingat asal-usul manusia, bahwa seluruh manusia berasal dari Nabi Adam dan Hawa.
- Tidak membanggakan suku, bangsa, warna kulit, nasab, maupun harta, karena kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan.
- Menjaga tauhid, sebab tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah semata.
- Berpegang teguh kepada tali Allah, dan tidak menjadikan organisasi atau kelompok sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.
- Menjaga enam hak sesama muslim, yaitu mengucapkan salam, memenuhi undangan, memberikan nasihat, mendoakan orang yang bersin, menjenguk orang sakit, dan mengantarkan jenazah.
- Berlaku adil kepada orang yang berbeda agama, menjaga perjanjian, dan tidak melakukan kezaliman.
- Berbuat baik kepada tetangga, karena mereka memiliki hak yang besar dalam kehidupan kita.
- Menghadapi perselisihan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan mengikuti hawa nafsu dan fanatisme kelompok.
- Menjaga nikmat negeri dengan iman dan rasa syukur, agar Allah menjadikan negeri kita negeri yang baik dan mendapatkan ampunan-Nya.
Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, memperbaiki hati kita, menyatukan kaum muslimin di atas kebenaran, dan menjadikan negeri kita negeri yang aman, tenteram, serta diberkahi.
Demikian yang dapat disampaikan. Kebenaran berasal dari Allah Azza wa Jalla, sedangkan kekurangan dan kesalahan berasal dari diri pribadi.
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan mereka.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Poster Ringkasan

*****