Menu Al-Qur'an

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". (Al-Hijr: 9).
Baca Al-Qur'an Digital Mushaf Kuno Tafsir Al-Qur'an Tajwid Murotal Juz 30 Download

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 ┃Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى - Staff Pengajar Ponpes Al-Madinah Surakarta
🗓┃Pertemuan 3: Kamis, 29 Januari 2026 / 10 Sya'ban 1447 H
🕰┃ Ba'da Isya [19:30-20:30]
🕌┃ Masjid Ponpes Joglo Qur'an - Boyolali



Tadabbur Surat Jin #3 | Ayat 8-13

Telah berlalu tafsir ayat 1-7:

  1. Al-Qur'an adalah kalamullah wahyu kepada Nabi ﷺ yang disampaikan oleh malaikat Jibril.
  2. Surat ini membicarakan makhluk Allah ﷻ: Jin, yaitu makhluk yang terbuat dari api yang merupakan keturunan dari iblis. Dan golongan jin ada yang muslim dan yang kafir.
  3. Menetapkan Tauhid asma' wa shifat yaitu sifat uluw bagi Allah ﷻ dan Tauhid Rububiyah Allah ﷻ.
  4. Mengatakan tentang Allah ﷻ tanpa ilmu. Orang yang kurang akal mengatakan bahwa Allah ﷻ memiliki isteri atau anak.
  5. Sifat dusta dari orang-orang yang musyrik dari golongan manusia dan jin.
  6. Larangan meminta perlindungan kepada selain Allah ﷻ, seperti minta perlindungan disaat melewati tempat yang menakutkan (angker atau keramat), seperti mengucapkan permisi mbah... atau yang mbaurekso, dan lainnya.
  7. Persangkaan Orang-orang kafir dan golongan jin, tidak ada hari kebangkitan.

Allah ﷻ berfirman dalam ayat 8-13:

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ ۝٨

wa annâ lamasnas-samâ'a fa wajadnâhâ muli'at ḫarasan syadîdaw wa syuhubâ

(Jin berkata lagi,) “Sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka, kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.

Tafsir: Para jin berkata lagi, "Sesungguhnya kami telah mencari kabar langit, lalu kami dapati langit itu penuh dengan penjaga-penjaga yang kuat dari golongan malaikat yang menjaganya dari curi dengar yang kami lakukan dan juga dipenuhi dengan panah api yang dilemparkan kepada siapa saja yang mendekati langit.

وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ ۝٩

wa annâ kunnâ naq‘udu min-hâ maqâ‘ida lis-sam‘, fa may yastami‘il-âna yajid lahû syihâbar rashadâ

Sesungguhnya kami (jin) dahulu selalu menduduki beberapa tempat (di langit) untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Akan tetapi, sekarang siapa yang (mencoba) mencuri dengar pasti akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

Tafsir: Padahal, kami dahulu mengambil beberapa tempat di langit untuk mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh para malaikat, lalu kami mengabarkan hal itu kepada para dukun yang ada di bumi. Namun, sekarang keadaan sudah berubah karena barang siapa dari kami sekarang ini yang mencuri dengar maka ia akan mendapati api membara yang dipersiapkan untuknya, jika ia mendekat, api tersebut akan dilemparkan kepadanya hingga membakarnya.

وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ ۝١٠

wa annâ lâ nadrî asyarrun urîda biman fil-ardli am arâda bihim rabbuhum rasyadâ

Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki terhadap siapa yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan terhadap mereka.

Tafsir: Sesungguhnya kami tidak mengetahui sebab penjagaan yang ketat ini; apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi ataukah Allah menghendaki kebaikan bagi mereka karena kabar langit telah terputus dari kami?!

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ۝١١

wa annâ minnash-shâliḫûna wa minnâ dûna dzâlik, kunnâ tharâ'iqa qidadâ

Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Tafsir: Sesungguhnya di antara kami -golongan jin- ada yang bertakwa lagi baik dan ada yang kafir lagi fasik. Kami terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan mempunyai hasrat yang berbeda-beda.

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ ۝١٢

wa annâ dhanannâ al lan nu‘jizallâha fil-ardli wa lan nu‘jizahû harabâ

Sesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.

Tafsir: Sesungguhnya kami meyakini bahwa kami tidak mungkin melepaskan diri dari Allah -Subḥānahu- jika Dia menghendaki suatu perkara dari kami dan tidak mungkin melarikan diri dari-Nya karena Allah meliputi kami semua.

وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ ۝١٣

wa annâ lammâ sami‘nal-hudâ âmannâ bih, fa may yu'mim birabbihî fa lâ yakhâfu bakhsaw wa lâ rahaqâ

Sesungguhnya ketika mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami pun beriman kepadanya. Maka, siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak (perlu) takut akan pengurangan (pahala amalnya) dan tidak (takut pula) akan kesulitan (akibat penambahan dosa).

Tafsir: Sesungguhnya kami saat mendengarkan Al-Qur`ān yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, kami langsung mengimaninya. Oleh sebab itu, barang siapa beriman kepada Tuhannya, niscaya ia tidak khawatir kebaikannya akan dikurangi dan tidak takut ditambahkan kepadanya dosa atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Beberapa Faedah Ayat:

1. Ayat 8: Pengakuan jin yang berusaha mencuri berita dari langit untuk membocorkan kepada dukun, peramal dan Sihir, hal ini sesuai dengan ayat lainnya dalam surat Asy-Syu'ara' Ayat 221-223:

هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰطِيْنُۗ ۝٢٢١ تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍۙ ۝٢٢٢ يُّلْقُوْنَ السَّمْعَ وَاَكْثَرُهُمْ كٰذِبُوْنَۗ ۝٢٢٣

Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta lagi banyak berdosa. Mereka menyampaikan hasil pendengarannya, sedangkan kebanyakan mereka adalah para pendusta.

2. Namun ada penjagaan para malaikat di langit, sesuai dengan surat Al-Hijr Ayat 16-18:

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِيْنَۙ ۝١٦ وَحَفِظْنٰهَا مِنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۙ ۝١٧ اِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ مُّبِيْنٌ ۝١٨

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang-orang yang memandang (langit itu). Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk, kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) maka dia dikejar oleh bintang-bintang (berapi) yang terang.

3. Ayat 8: Di langit Allah ﷻ menyampaikan takdirnya untuk mengatur urusan-urusan di bumi dan menjaga langit dengan perintah-Nya kepada malaikat, seperti mikail, Jibril dan lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

– إنَّ اللَّهَ إذا أحَبَّ عَبْدًا دَعا جِبْرِيلَ فقالَ: إنِّي أُحِبُّ فُلانًا فأحِبَّهُ، قالَ: فيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنادِي في السَّماءِ فيَقولُ: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلانًا فأحِبُّوهُ، فيُحِبُّهُ أهْلُ السَّماءِ، قالَ ثُمَّ يُوضَعُ له القَبُولُ في الأرْضِ، وإذا أبْغَضَ عَبْدًا دَعا جِبْرِيلَ فيَقولُ: إنِّي أُبْغِضُ فُلانًا فأبْغِضْهُ، قالَ فيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنادِي في أهْلِ السَّماءِ إنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلانًا فأبْغِضُوهُ، قالَ: فيُبْغِضُونَهُ، ثُمَّ تُوضَعُ له البَغْضاءُ في الأرْضِ.

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah ia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit seraya berkata: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu Allah menjadikan penerimaan dan simpati terhadapnya di bumi.

Dan apabila Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia.’ Maka Jibril pun membencinya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah ia.’ Maka mereka pun membencinya, kemudian kebencian terhadapnya ditanamkan di bumi.” (HR. Muslim, no. 2637; juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 7485 dengan redaksi yang sedikit berbeda)

4. Ayat 9: Dahulu, setan biasa naik ke tempat di langit lalu ingin mencuri berita langit. Para setan ingin mencuri berita sebelum kejadian itu terjadi. Ketika Rasul kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus bertambahlah penjagaan di langit.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِى السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ، قَالُوا لِلَّذِى قَالَ الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْكَبِيرُ فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ ، وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ – وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ – فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ ، فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا ، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ ، فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِى سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

“Ketika Allah menetapkan suatu urusan di langit, malaikat lantas meletakkan sayapnya dalam rangka tunduk pada perintah Allah. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gemerincing rantai di atas batu. Hal ini memekakkan mereka. Apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

“Setan-setan penyadap berita itu pun mendengarkan berita itu. Para penyadap berita itu posisinya saling bertumpuk-tumpukkan. Sufyan menggambarkannya dengan memiringkan telapak tangannya dan merenggangkan jari-jemarinya. Jika setan yang di atas mendengar berita itu, maka segera disampaikan kepada setan yang berada di bawahnya. Kemudian yang lain juga menyampaikan kepada setan yang berada di bawahnya hingga sampai kepada tukang sihir dan dukun.”

“Terkadang setan penyadap berita itu terkena api sebelum sempat menyampaikan berita itu. Terkadang pula setan itu bisa menyampaikan berita itu sebelum terkena api. Lalu dengan berita yang didengarnya itulah tukang sihir atau dukun membuat 100 kedustaan. Orang-orang yang mendatangi tukang sihir atau dukun pun mengatakan, “Bukankah pada hari ini dan itu, dia telah mengabarkan kepada kita bahwa akan terjadi demikian dan demikian?” Akibatnya, tukang sihir dan dukun itu pun dipercaya karena satu kalimat yang telah didengarnya dari langit. (HR. Bukhari no. 4800).

5. Ayat 10: Masih menceritakan perkataannya Jin:

Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki terhadap siapa yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan terhadap mereka.

Dari sini diketahui, meskipun mereka makhluk ghaib, tetapi tidak mengetahui urusan atau perkara ghaib. Demikian juga malaikat-malaikatNya.

Bukti lain adalah hadits mengenai Kisah pembunuh 100 orang yang merupakan kisah populer tentang taubat sejati dalam ajaran Islam, yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sina’an Al Khudri radhiyallahu ‘anhu di Bukhari dan Muslim. Seseorang yang membunuh 99 nyawa mencari pengampunan, namun membunuh seorang rahib yang mengatakan taubatnya mustahil. Ulama lain kemudian meyakinkannya bahwa Allah menerima taubat, namun Saat perjalanan, ia meninggal. Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselisih memperebutkan jiwanya. Malaikat Rahmat berargumen ia berniat taubat, sementara Malaikat Azab berargumen ia belum beramal baik, dan pada akhirnya Allah mengampuninya

Perselisihan malaikat ini yang menjadi bukti bahwa malaikat tidak mengetahui hal-hal ghaib.

Demikian jin tidak mengetahui, Sulaiman telah wafat. Kisah jin takut kepada Nabi Sulaiman bersumber dari mukjizat beliau yang mampu menundukkan bangsa jin untuk bekerja, bahkan setelah beliau wafat. Jin tetap bekerja keras membangun Baitul Maqdis karena takut dan mengira Sulaiman masih mengawasi, hingga rayap memakan tongkat beliau dan jasadnya jatuh.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, menegaskan bahwa ketakutan jin pada Nabi Sulaiman membuat mereka bekerja di bawah tekanan, dan terungkapnya wafatnya beliau menjadi pelajaran bahwasanya hanya Allah yang mengetahui hal gaib. (QS. Saba: 14).

6. Ayat 11 masih menjelaskan perkataan jin bahwa golongan mereka seperti manusia, ada yang muslim dan kafir, ada yang baik dan jahat. Hanya saja mereka tidak terlihat. Tujuan mereka diciptakan juga sama agar beribadah.

Dalam Surat Az-Zariyat Ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

7. Ayat 12: semua makhluk-Nya adalah lemah dibawah kekuasaan Allah ﷻ.

8. Ayat 13:

  • Al-Qur'an adalah petunjuk dan Wajibnya beriman kepadanya. Barangsiapa beriman dan mengikuti petunjuk Al-Qur'an (alhuda) maka dia akan mendapatkan petunjuk.

Fungsi Al-Qur'an dijelaskan dalam Surat Yunus Ayat 57:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

  • Barang siapa beriman kepada Tuhannya, niscaya ia tidak khawatir kebaikannya akan dikurangi dan tidak takut ditambahkan kepadanya dosa atas dosa-dosanya yang telah lalu. Seperti halnya saat bersedekah, sesungguhnya harta yang diinfakkan itulah harta kita yang sesungguhnya.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم