Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Kitabut Tadzkirah Biahwalil Mauta wa Umuril Aakhirah Karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubiy Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Muhammad Jamaludin hafizhahullah. (Pengasuh Ponpes Ma'hadul Qur’an Boyolali
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 25 Oktober 2025 M / 3 Jumadil Awwal 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖┃ Daftar Isi :


Mizan [Timbangan]

Telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, beberapa sifat mizan:

  1. Mizan itu hakiki
  2. Mizan memiliki dua timbangan
  3. Mizan itu adil
  4. Mizan itu detail
  5. Jumlah Mizan

Apa yang ditimbang?

1. Yang ditimbang amalannya

Pendapat ini didukung oleh hadits berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).

2. Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

“Bersuci adalah setengah dari iman, dan (ucapan) alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim no. 223)

Dua hadits di atas menunjukkan dzikir akan ditimbang. Demikian juga akhlak sesuai dengan hadits berikut:

3. Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

2. Yang ditimbang adalah kartu (bitaqah) atau lembaran catatan amal.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.”

(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 135)

3. Pelaku Amal (Hamba)

Berdasarkan hadits berikut yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka.

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..

فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)

“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785).

2. ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ أُحُدٍ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, IX/75. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 3192).

Kesimpulan: Dari seluruh hadits yang ada, maka mengkompromikan hadits-hadits tersebut, bahwa semuanya timbangan akan digunakan, baik pahalanya, catatan amal maupun pelakunya, sebagaimana disebut Al-Hafizh Al-Hakami rahimahullah.

Dan semuanya ditentukan oleh kualitas tauhid seseorang, akhlak yang baik dan amalan-amalan yang dilakukan, maka semuanya kembali kepada kualitas amalan hamba-hamba-Nya.

Apakah orang-orang kafir juga ditimbang?

Ulama berbeda pendapat, sebagian di antara mereka mengatakan bahwa amal orang kafir juga akan ditimbang pada hari kiamat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mukminun ayat 103-105:

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ. تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَٰلِحُونَ. أَلَمْ تَكُنْ ءَايَٰتِى تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?

Hikmahnya:
1. Menunjukkan keadilan Allah ﷻ
2. Untuk mengetahui derajatnya di neraka, karena neraka bertingkat-tingkat tergantung tingkat kekafirannya.

Apakah ada yang tidak Ditimbang?

Ada dua model dalam hal ini:

1. Orang Mukmin yang masuk surga tanpa hisab

Mizan adalah cabang dari hisab, yang prosesnya dilakukan setelah hisab. Maka jika tidak dihisab, maka tidak melalui proses mizan.

2. Orang kafir yang masuk neraka tanpa hisab

Disebabkan kebaikannya tidak ada maka tidak perlu dihisab atau ditimbang. Sedangkan orang kafir yang ada kebaikannya akan dihisab sesuai dengan tingkat kedzalimannya.

Hasil Mizan

1. Masuk surga: jika kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.

2. Ashabul A'raaf (Ditempat yang tinggi): jika kebaikannya sama daripada keburukannya. Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-A'raaf ayat 46 - 49:

"Dan di atas A'raaf itu, ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan (penduduk surga & neraka) dengan tanda-tanda mereka. Mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum", yang mereka belum memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya)."

"Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berdoa, "Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu."

"Dan orang-orang yang di atas A'raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalinya dengan tanda-tandanya seraya mengatakan, "Harta yang kalian kumpulkan dan apa yang selalu kalian sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepada kalian."

"(Orang-orang di atas A'raaf bertanya kepada penghuni neraka): "Itukah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?". (Kepada orang-orang mukmin itu dikatakan): "Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadap kalian dan tidak (pula) kalian bersedih hati."

  • Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan Para mufasir berbeda pendapat tentang penduduk Al-A'raf, siapakah mereka itu? Dan semuanya maknanya dekat dan merujuk kepada satu makna, yaitu mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya sama. Hal ini dikatakan oleh Huzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud dan banyak ulama’ lainnya dari kalangan ulama salaf dan masa kini.
  • Muhammad Tahir bin Asur dalam Tafsir-nya mengatakan, ini adalah Tempat diantara surga dan neraka, ini adalah hukuman ringan.

3. Masuk neraka: jika keburukannya lebih berat dari kebaikannya. Kecuali mendapatkan syafa'at atau diampuni Allah ﷻ.

Jangan remehkan kebaikan atau keburukan meskipun sedikit

Karena keduanya akan dihisab dan ditimbang. Maka jika tidak berkata baik, maka lebih baik diam.

  • Hadits Mauquf yang disampaikan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu’anhu:

Dalam riwayat tersebut, Ibnu Mas‘ud menyatakan bahwa pada hari Kiamat, manusia akan dihisab. Siapa pun yang amal baiknya lebih banyak, meskipun hanya satu amal, akan masuk surga. Sebaliknya, jika amal buruknya lebih banyak, meskipun hanya satu amal, maka ia akan masuk neraka. Ia juga melantunkan ayat yang menyatakan bahwa timbangan pada hari itu adalah kebenaran, dan barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, merekalah orang-orang yang beruntung, sedangkan yang ringan timbangan kebaikannya adalah orang-orang yang merugikan diri sendiri (QS Al-A‘raf [7]: 8-9).

Ibnu Mas‘ud menambahkan bahwa timbangan amal baik bisa menjadi ringan atau kalah meskipun hanya seberat biji sawi. Mereka yang imbang antara amal baik dan buruk termasuk dalam ash-habul a’raf, yang berdiri di hadapan ash-Shirath. Mereka mengetahui siapa penghuni surga dan neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka menyeru, “Salam keselamatan untuk kalian,” dan ketika melihat penghuni neraka, mereka berdoa agar tidak ditempatkan bersama orang-orang zalim (QS Al-A‘raf [7]: 47).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini