Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

Bismillah

 
✒️┃Materi : MANAJEMEN CEMAS : KETIKA TAWAKAL MENJADI SENJATA UTAMA
🎙┃Narasumber : Ustadz Isa Anshori,Lc. حفظه الله تعالى
      - Pengajar ilmu syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhori
🕌┃Tempat : 📍Masjid Al Kautsar Puri Gading Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57157


Kecemasan dan stres menjadi masalah yang semakin umum di seluruh dunia, termasuk di kalangan umat Islam. Kecemasan adalah perasaan takut, khawatir, atau gelisah yang wajar sebagai reaksi terhadap stres, tetapi dapat menjadi gangguan jika berlebihan, sulit dikendalikan, dan mengganggu aktivitas harian.

Di tengah-tengah kesibukan dan tekanan hidup, Islam menawarkan doa-doa yang berfungsi sebagai obat bagi hati yang gelisah.  Nabi Muhammad ﷺ telah mengajarkan banyak doa yang dapat membantu seorang Muslim meraih ketenangan dalam menghadapi rasa cemas dan stres. Akan tetapi do'a sebagai senjata kaum muslimin, tidak akan mempan jika tidak diimbangi dengan tauhid yang kuat. Dan sikap tawakal adalah buah dari tauhid yang benar.

Banyak orang yang salah memahami dan menempatkan arti tawakal yang sesungguhnya. Sehingga tatkala kita mengingatkan mereka tentang pentingnya tawakal yang benar dalam kehidupan manusia, tidak jarang ada yang menanggapinya dengan ucapan: “Iya, tapi kan bukan cuma tawakal yng harus diperbaiki, usaha yang maksimal juga harus terus dilakukan!”.

Ucapan di atas sepintas tidak salah, akan tetapi kalau kita amati dengan seksama, kita akan dapati bahwa ucapan tersebut menunjukkan kesalahpahaman banyak orang tentang makna dan kedudukan yang sesungguhnya. Karena ucapan di atas terkesan memisahakan antara tawakal dan usaha. Padahal, menurut penjelasan para ulama, tawakal adalah bagian dari usaha, bahkan usaha yang paling utama untuk meraih keberhasilan.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut” (Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/497).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Teladan Sa'ad bin Abi Waqqash 

Pasukan Islam di bawah pimpinan Sa'ad bin Abi Waqqash menyeberangi Sungai Tigris yang sedang pasang dalam rangka menaklukkan Mada'in (ibu kota Persia) pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa bersejarah ini terjadi setelah Perang Qadisiyah, di mana pasukan Muslimin menerjang derasnya air sungai di atas kuda dengan keyakinan penuh kepada Allah, yang digambarkan sebagai mukjizat karena seluruh pasukan berhasil menyeberang dengan selamat. 

Detail Peristiwa Penyeberangan Sungai Tigris:
  • Panglima dan Waktu: Sa'ad bin Abi Waqqash memimpin pasukan menyeberangi Sungai Tigris (dikenal juga sebagai Sungai Dajla) yang berarus deras saat sedang pasang.
  • Alasan: Strategi ini diambil untuk menembus pertahanan terakhir Persia di Mada'in (Ctesiphon) setelah sisa-sisa pasukan Persia memutus jembatan dan bersembunyi di balik benteng sungai.
  • Mukjizat/Peristiwa Luar Biasa: Atas instruksi Sa'ad, pasukan Muslimin diperintahkan membaca "Hasbunallah wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung) sebelum menerjang sungai. Pasukan berkuda dilaporkan menyeberang dengan aman dan saking banyaknya, permukaan air tidak terlihat.
  • Dampak: Keberanian pasukan Muslimin yang tampak "berjalan di atas air" membuat pasukan Persia ketakutan dan mengira mereka menghadapi jin, sehingga Kaisar Yazdigird III melarikan diri dari istananya.
  • Keamanan: Dalam peristiwa ini, dilaporkan hampir tidak ada korban jiwa dari pihak pasukan Muslimin. 
Penyeberangan ini menjadi momen krusial dalam penaklukan Irak dan menandai runtuhnya dominasi Sassanid Persia di wilayah tersebut.

Faedah dari kisah: 

Sa'ad bin Abi Waqqash mengajarkan sikap tawakal dengan membaca "Hasbunallah wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung) sebelum menerjang sungai. Tawakal adalah penyandaran hati sepenuhnya kepada Allah ﷻ dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudharatan, disertai dengan keyakinan bahwa hanya Dia yang menentukan segala urusan. Seseorang yang bertauhid dengan benar memahami bahwa tidak ada yang memberi manfaat atau bahaya kecuali Allah. Hal ini membuat hatinya tenang dan hanya bergantung kepada-Nya, bukan pada sebab-sebab duniawi semata.

Tawakal yang benar harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh (al-akhdzu bil asbab). Orang yang tauhidnya benar menyadari bahwa diperintahkan untuk berusaha, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Ini adalah perpaduan antara ketaatan secara fisik (berusaha) dan penyerahan diri secara hati (bertawakal).

Doa Penghilang Kesedihan, Kecemasan, dan Kegelisahan

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ: اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، ‌مَاضٍ ‌فِيَّ ‌حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا

Tidaklah seorang hamba ketika ditimpa kecemasan dan kesedihan mengucapkan:

ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU ‘AMATIKA. NAASHIYATII BI YADIKA. MAADHIN FIYYA HUKUMUK. ‘ADLUN FIYYA QODHOO-UK. AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA. SAMMAYTA BIHI NAFSAKA. AW ANZALTAHU FII KITAABIK. AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK. AWISTA’TSARTA BIHI FII ILMIL GHOYBI ‘INDAKA. AN TAJ’ALAL QUR’AANA ROBI’A QOLBII WA NUURO SHODRII WA JILAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra dari seorang hamba laki-lakiMu, putra dari seorang hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku ada di Tangan-Mu. Telah berlalu bagiku hukum (ketentuan) Mu. Begitu adil takdir-Mu terhadapku. Aku meminta kepada-Mu dengan segala Nama yang Engkau miliki, yang Engkau beri nama diri-Mu dengan itu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu. Atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu dari makhluk-Mu. Atau yang Engkau simpan sebagai perbendaharaan ilmu ghaib di sisi-Mu. Agar engkau menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, penyinar dadaku, penyingkap kesedihanku, dan penghilang kecemasanku.

(Jika seorang mengucapkan doa itu), Allah akan menghilangkan kecemasannya dan menggantikan kesedihannya menjadi kegembiraan.

Mendengar sabda Nabi demikian, para Sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللهِ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟

Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari doa itu?

Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَجَلْ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

Tentu, semestinya bagi orang yang mendengarnya, mengajarkan (kepada yang lain)

📖 H.R Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah.

Tawakal tidak akan terwujud kecuali dengan empat syarat:

  1. Mengautkan keimanan hati (tauhid).Menyandarkan hati hanya kepada Allah semata. Tawakal dianggap cacat jika hati masih bergantung pada sebab-sebab duniawi (ikhtiar) atau berharap pada makhluk. Tauhid adalah pondasi utamanya.
  2. Beramal shaleh dan dalam hadits disebutkan Membaca Al-Qur'an.
  3. Mengenal Allah (Ma'rifatullah): Seseorang harus mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah, khususnya keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Pengasih. Tawakal didasarkan pada keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak bahaya.
  4. Ridha terhadap Takdir: Penyandaran hati kepada Allah dengan perasaan tenang, tidak gelisah, dan ridha atas hasil akhir yang ditentukan Allah, seperti pasrahnya seorang mayit kepada yang memandikan.

Allah berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 30:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Hadits itu

  1. Salah satu bentuk tawassul yang syar’i adalah bertawassul dengan Nama-Nama Allah dan Sifat-Sifat-Nya (atTawasul Anwa’uhu wa Ahkaamuhu karya Syaikh al-Albaniy 1/31).
  2. Nama-Nama Allah tidak terbatas hanya berjumlah 99 (Faidah dari Tafsir Ibn Katsir ketika menafsirkan surah al-A’raaf ayat 7).
  3. Segala perbuatan dan takdir Allah adalah adil (al-Fatawa al-Kubro karya Ibnu Taimiyyah 1/78).
  4. Ada di antara Nama-Nama Allah yang hanya Allah saja yang mengetahuinya (Minhajus Sunnah anNabawiyyah karya Ibnu Taimiyyah 2/160).
  5. Keimanan terhadap takdir. Bahwa semua hukum Allah berlaku bagi para makhluk-Nya. Telah berlalu ketetapan takdir itu. Tidak terlepas dari para makhluk itu. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menghindarinya (disarikan dari atThibbun Nabawiy karya Ibnul Qoyyim 1/153).
  6. al-Quran adalah obat bagi hati (disarikan dari atThibbun Nabawiy karya Ibnul Qoyyim 1/153).
  7. Dianjurkannya membaca doa itu apabila tertimpa kesedihan atau kecemasan (al-Adzkar karya anNawawiy 1/235).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini