بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
Melanjutkan pembahasan mengenai beberapa prinsip dalam bermuamalah:
1. Jual beli secara Gharar (yang tidak jelas sifatnya). (Dibahas pada pertemuan sebelumnya).
Hal ini berlaku umum seperti membeli buku tapi tidak boleh melihat daftar isinya. Jual beli ini bathil dan tidak diketahui adanya khilaf (perbedaan pendapat) para ulama akan rusaknya jual beli seperti ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَهُ قَالَ: نُهِيَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ الْمُلاَمَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ أَمَّا الْمُلاَمَسَةُ فَأَنْ يَلْمِسَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَوْبَ صَاحِبِهِ بِغَيْرِ تَأَمُّلٍ وَالْمُنَابَذَةُ أَنْ يَنبِذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَوْبَهُ إِلَى ألآخَرِ وَلَمْ يَنْظُرْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا إِلَى ثَوْبِ صَاحِبهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata, "(Kita) dilarang dari (melakukan) dua bentuk jual beli: yaitu secara mulamasah dan munabadzah. Adapun mulamasah ialah setiap orang dari pihak penjual dan pembeli meraba pakaian rekannya tanpa memperhatikannya. Sedangkan munabadzah ialah masing-masing dari keduanya melemparkan pakaiannya kepada rekannya, dan salah satu dari keduanya tidak memperhatikan pakaian rekannya."
(Shahih: Mukhtashar Muslim.no: 938 dan Muslim III: 1152 no: 2 dan 1511).
Selengkapnya: Al-Wajiz | Kitab Al-Buyu' (Jual Beli) | Jual Beli yang Dilarang
بسم الله الرحمن الرحيم
Rasulullah ﷺ jika keluar rumah, memandang ke langit dan berdo'a. Seperti diriwayatkan dari Ummu Salamah, dia berkata, "Tidaklah nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari rumahku samasekali kecuali beliau mengarahkan pandangan mata beliau ke langit, lalu beliau berdo'a,
اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أُعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلُ عَلَيَّ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu (agar jangan sampai) aku tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat dzalim atau didzalimi, berbuat kebodohan atau dibodohi."
Diriwayatkan oleh Al Arba'ah, dan Al Albani rahimahullah menshahihkannya.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab:Khulashatul Kalam 'alaa Umdatul Ahkam
Karya: Syaikh Abdullah Alu Bassam Rahimahullah
Hari/Tanggal: Selasa, 15 Rabi’ul Awal 1447 / 7 Oktober 2025
Bersama Ustadz Mohammad Alif, Lc 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 - Staff Pengajar Ma'had Imam Bukhari Solo
Tempat: Masjid Al-Ikhlash Jl. Adi Sucipto - Kerten Solo
📗 Hadist: Kitab Taysiiril Alam 'alaa Umdatil Ahkam ( كتاب تيسير العلام شرح عمدة الأحكام).
Daftar Isi:
١٢٧ - عَنْ عَائِشَةَ رضيَ الله عَنْهَا أنَ النَّبَّي صلى الله عليه وسلم صَلَّىِ في خَمِيصةٍ، لَهَا أعْلاَمٌ، فَنَظَرَ إِلى أعْلاَمِهَا نَظْرَةً، فَلَمَّا انْصَرَف قالَ: " اذهبوا بخَمِيصتي هذه إِلى أبي جَهْمٍ، وَأْتُوني بِأنْبِجَانيَّة ِ أبي جَهْمٍ، فإنهَا أَلْهَتْني آنِفاً عَن صَلاتي.
127. Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah shalat dengan mamakai pakaian Khamīṣah bermotif. Beliau sekilas melihat motifnya. Maka ketika telah selesai, beliau bersabda, "Bawalah Khamīṣahku (pakain dari wol bermotif) ini pada Abu Jahm dan bawakan untukku Anbijāniyah (pakaian tanpa motif) hadiah dari Abu Jahm, sesungguhnya kain itu tadi telah melalaikan aku dari shalatku."
Khamisah yaitu pakaian dengan motif persegi dan berwarna warni sedangkan kain Anbijan yaitu pakaian wol polos tebal.
Selengkapnya: Khulasatul Kalam: Hadits-hadits tentang Khusyuk, Jamak dan Qashar dalam Shalat
بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
Melanjutkan pembahasan mengenai beberapa prinsip dalam bermuamalah:
Dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَخَلَ السُّوق فَقَالَ : لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير، كَتَبَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ – وفي رواية: وبنى له بيتاً في الجنة –
“Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir): “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir” [Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu]”, maka allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat – dalam riwayat lain: dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”
[HR at-Tirmidzi (no. 3428 dan 3429), Ibnu Majah (no. 2235), ad-Daarimi (no. 2692) dan al-Hakim (no. 1974)].
Selengkapnya: Al-Wajiz | Kitab Al-Buyu' (Jual Beli) | Dzikir ketika Masuk Pasar & Transaksi Gharar
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab:Khulashatul Kalam 'alaa Umdatul Ahkam
Karya: Syaikh Abdullah Alu Bassam Rahimahullah
Hari/Tanggal: Selasa, 23 Rabi’ul Awal 1447 / 16 September 2025
Bersama Ustadz Mohammad Alif, Lc 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 - Staff Pengajar Ma'had Imam Bukhari Solo
Tempat: Masjid Al-Ikhlash Jl. Adi Sucipto - Kerten Solo
📗 Hadist:Kitab Taysiiril Alam 'alaa Umdatil Ahkam (Ringkasan berikut diambil dari كتاب تيسير العلام شرح عمدة الأحكام).
Daftar Isi:
عن عائشة رضي الله عنها قالت: «من كلِّ الليل أَوْتَرَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : من أول الليل، وأوسطه، وآخره، وانتهى وِتْرُهُ إلى السَّحَرِ».
[صحيح] - [متفق عليه]
“Dari A'isyah Radhiyallahu’anha berkata: "Setiap malam Rasulullah ﷺ shalat witir kadang di awal malam, ditengahnya dan di akhirnya. Witir Beliau berakhir sampai waktu sahur". - [Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]
Waktu shalat witir adalah sesudah shalat laya dan asherakhir sampai terbitnya fajar. Karena itu Nabi ﷺ (kadang) shalat witir di awal malam, ditengah malam dan diakhirnya. Tetapi jika dilakukan pada akhir malam maka lebih utama. Pada waktu sahur Beliau tetap melakukan witir, untuk menutup shalat Malamnya.
Selengkapnya: Khulasatul Kalam: Shalat Witir dan Dzikir setelah Shalat