Kategori Akhlak

Cara bergaul seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.
Kajian Islam

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Kajian Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#20/21 | Oleh: Sulthan Bin Abdullah Al-‘Umary Hafidzahullah
Download Kitab: s-alamri.com

🎙| Bersama: Al Ustadz Abu Adib Hafidzahullah
🗓 | Hari/Tanggal: Rabu, 25 Rajab1447 / 14 Januari 2026 dan 2 Sya'ban 1447 / 21 Januari 2026
🕰 | Waktu: ba'da maghrib - isya
🕌 | Tempat: Jajar Islamic Center Surakarta



Daftar Isi:

خَلْقُ اَلْمُسْلِمِ فِي اَلدَّعْوَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Akhlak seorang Muslim dalam Berdakwah kepada Allah Ta’aala

Pertemuan #20: 25 Rajab1447 / 14 Januari 2026

Allah ﷻ berfirman dalam surat Yusuf ayat 108:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata, makna bashirah - بَصِيرَةٍ adalah:

  1. Mendakwahkan dengan ilmu, yakin akan kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah.
  2. Sampaikan dengan cara atau ushlub yang baik.
  3. Mengetahui mad’u yang akan didakwahi. Demikian yang Rasulullah nasehatkan kepada Mu’adz ibnul Yaman Radhiyallahu’anhu.

١. كُنْ صَادِقًا مَعَ اللهِ فِي كلِّ بَرامجِكَ الدعويَّةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُواْ اللَهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّدِقِينَ﴾ (سورة التوبة: آية ١١٩).

1. Jujurlah kepada Allah dalam semua program dakwahmu.

Allah ﷻ berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan berpihaklah kepada orang-orang yang benar). (Surat At-Taubah: Ayat 119).

Yaitu mencari ridha Allahﷻ ikhlas karena-Nya, bukan mencari kehidupan di dalamnya. Seperti para pelaku bid’ah yang dakwah untuk mencari kekayaan dan popularitas.

Dalam sebuah hadits oleh Ahmad (I/384); al-Bukhâri (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386) Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, Ia berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”

٢. عليكَ بالصبرِ في طريقِ الدعوةِ، قالَ تَعَالَى: ﴿وَلِرَيِكَ فَأصيِر﴾ [سورة المدثر: آية ٧] فاصبرْ على قِلَّة المنْتَفِعِينَ بِك، واصْبر علَى كلامِ المخالفينَ لَك، واصبرْ على جَفَاءِ الناسِ مَعَك.

2. Bersabarlah di jalan dakwah.

Allah ﷻ berfirman: {Dan Aku akan kembali kepada pandanganmu. (Surat Al-Muddaththir: Ayat 7). Maka bersabarlah terhadap sedikit orang yang mendapat manfaat darimu, bersabarlah terhadap perkataan orang-orang yang menentangmu, dan bersabarlah terhadap kekerasan orang lain terhadapmu.

Tidak Ada Dakwah Tauhid yang Bebas dari Permusuhan. Sudah menjadi sunnatullah: setiap dakwah tauhid pasti akan mendapat penentangan. Dari kalangan jin maupun manusia. Bahkan dari orang-orang yang tampak cerdas, religius, atau berpengaruh, namun hatinya enggan tunduk kepada kebenaran.

Rasulullah ﷺ pun mengalami hal yang sama, penolakan terhadap dakwah beliau bukan hal baru. Para nabi sebelumnya juga mengalami hal yang serupa.

٣. لا تتَكَلَّم إلا بِما تعلمُ، وإذَا سُئلتَ عَمّا لا تَعْلمُ فقلْ: لا أعْلَمُ.

3. Jangan berbicara kecuali tentang apa yang kamu ketahui,

Dan jika kamu ditanya tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui, katakanlah: Aku tidak tahu.

Abdullah bin Mas’ud menyampaikan nasehatnya kepada para tabi’in yang pada saat itu mereka adalah murid-muridnya, beliau radhiyallu ‘anhu berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِ{

‘Wahai sekalian manusia, siapa yang mengetahui tentang sesuatu, sampaikanlah. Dan jika tak tahu, ucapkanlah, ‘Allahu a’lam’. Karena, sungguh, termasuk bagian dari ilmu, jika engkau mengucapkan terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui dengan ucapan: ‘Allahu a’lam’. Allah berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Katakanlah (hai Rasul): ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun pada kalian atas dakwahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (Q.S. Shad 38:86) (Atsar riwayat Al-Bukhori dalam shahihnya 4/1809 no 4531)

Contoh Imam Malik Rahimahullah:

  • Al-Haitsam mengatakan, “Aku menyaksikan Malik ditanya sebanyak 48 masalah. Lalu dia mengatakan tidak tahu dalam 32 masalah.”
  • Khalid bin Khirrasy رحمه الله mengatakan, "Aku datang dari Irak untuk menemui Malik guna bertanya 40 masalah. Dan dia hanya menjawab 5 pertanyaan saja."

٤. الناسُ يُريدُونَ ابتِسَامَتَكَ وكلامَكَ الطيبَ مع الرفقِ في التعامُل.

4. Orang-orang menginginkan senyummu, kata-kata baikmu, dan perlakuan lembutmu.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“ [ HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dan lainnya].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, yang hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria“ [HR. Muslim (no. 2626)].

Dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar Radhiyallohu ‘anhum, Bahwa Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا

Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan: Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.

Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahihah, no. 1802 karena banyak jalur periwayatannya].


Pertemuan #21: 2 Sya’ban 1447 / 21 Januari 2026

٥. الحكمةُ من أعظم سِماتِ الدَّاعِيَّةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿آدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ﴾ [سورة النحل: آية ١٢٥] والحكمةُ هي اتِّخَاذُ المَوقِفِ المناسِبِ فِي كُلِّ مَا تواجهُ مِن مَواقِفَ ومَسَائل.

5. Kebijaksanaan adalah salah satu kualitas terbesar seorang penyeru kepada Islam.

Allah ﷻ berfirman: (Ajaklah orang-orang kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah) [Surat An-Nahl: Ayat 125]. Hikmah adalah mengambil sikap yang tepat dalam setiap situasi dan masalah yang Anda hadapi.

Tujuan dakwah adalah menegakkan tauhid dan memberantas syirik, tetapi disampaikan dengan hikmah dan nasihat yang baik. Maknanya:

1. Hikmah (Kebijaksanaan):
- Menyampaikan kebenaran dengan ilmu yang komprehensif dan keteladanan yang kuat.
- Berperilaku bijaksana, tidak dengan paksaan atau kekerasan tetapi dengan cara yang tepat.
- Membedakan antara yang hak dan batil secara tepat.

2. Mau'idzatul Hasanah (Nasihat yang Baik):
- Memberikan nasihat yang lembut, menyejukkan, membekas di hati, dan dapat diamalkan.
- Menggunakan kisah teladan, analogi, atau cara yang menyentuh pikiran dan jiwa tanpa menyakiti atau mempermalukan.

٦. ادعُ للناسِ بالتوفِيقِ ولا تدعُ علَيهم، قالَ تَعالَى: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَكَ إِلَّاَّرَحْمَةً لِلْعَلَمِينَ﴾ [سورة الأنبياء: آية ١٠٧].

6. Berdoalah untuk kesuksesan orang lain dan jangan berdoa untuk kesialan mereka.

Allah ﷻ berfirman: (Dan Kami tidak mengutusmu, [wahai Muhammad], melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam) [Surat Al-Anbiya: Ayat 107].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para imam AhluSunnah wal Jamaah dan ahli ilmu dan iman memiliki ilmu, keadilan dan rahmat, sehingga mereka mengetahui kebenaran yang mereka miliki sesuai dengan sunnah, selamat dari bid’ah dan berbuat adil terhadap orang yang keluar dari Ahlu Sunnah, walaupun menzhalimi mereka, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allâh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. [Al-Mâidah/5:8].

Serta merahmati semua makhluk. Ahlu Sunnah wal Jamaah menginginkan bagi mereka kebaikan, hidayah dan ilmu, tidak bermaksud buruk pada mereka langsung. Bahkan apabila menghukum mereka dan menjelaskan kesalahan, kebodohan dan kezhaliman mereka, dimaksudkan untuk menjelaskan kebenaran, rahmat kepada makhluk dan amar ma’ruf nahi mungkar serta menjadikan seluruh agama hanya untuk Allâh dan menegakkan kalimat Allâh agar tinggi.” [Ar-Radd ‘alal BakriII/490].

٧. لا تنظُرْ للمُجْتَمَعِ مِنْ زَاوِيَةِ سَلْبِيَّةٍ، بَلْ كُنْ اِيِجَابِيا وانْظُر لِلْخَيْرِ الذي في قلوبِهم وتَفَاءَل.

7. Jangan memandang masyarakat secara negatif, tetapi bersikaplah positif, lihatlah kebaikan dalam hati mereka, dan bersikaplah optimis.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat Ayat 55:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Karena sejatinya, setiap orang itu dilahirkan sesuai fitrahnya masing-masing. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkanbahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi..” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

٨. اقْبَلِ النَّصِيحَةَ والنَّقْدَ الذي قد يصلُك منَ الناسِ ولا تتكبرْ على النصیحةِ.

8. Terimalah nasihat dan kritik dari orang lain dan janganlah bersikap sombong terhadapnya.

Menerima nasihat dan kritik dengan lapang dada tanpa kesombongan adalah tanda kerendahan hati (tawadhu) dan kedewasaan diri. Sikap ini sangat dianjurkan karena manusia tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sehingga masukan dari orang lain berfungsi sebagai cermin untuk memperbaiki diri.

Pentingnya Menerima Nasihat:

  • Sebagai Bentuk Amar Ma'ruf: Menerima masukan adalah praktik yang baik demi kebaikan diri sendiri dan merupakan wujud dari amar ma'ruf nahi munkar.
  • Sarana Perbaikan Diri: Kritik yang membangun (konstruktif) membantu memperbaiki kelemahan, meningkatkan kualitas diri, serta meningkatkan kinerja.
  • Terbuka terhadap Kebenaran: Orang yang rendah hati akan menghargai pendapat dan kritik orang lain, terlepas dari status sosialnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata:

من علامات السعادة والفلاح أن العبد كلما زيد في علمه زيد في تواضعه ورحمته

“Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba, setiap kali diberikan oleh Allah tambahan ilmu, maka semakin bertambah ketawadhu’an dan kasih sayangnya.”

٩. استَشِرِ العُلَمَاءَ فِي الْأحْوَالِ التي تُشكِلُ علَيْكَ وخَاصَّةً عِنْدَ الفِتَنِ واختلافِ الأمُور.

9. Konsultasikanlah dengan ulama dalam hal-hal yang tidak jelas bagimu, terutama pada masa-masa perselisihan dan konflik.

Di zaman yang penuh fitnah ini, menjaga lisan adalah perkara yang sangat penting. Betapa banyak perselisihan, permusuhan, dan perpecahan umat yang diawali dari ucapan yang tidak terjaga. Padahal setiap kata yang keluar dari lisan akan dicatat oleh malaikat. Allah ﷻ berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat (QS. Qāf: 18).

Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat adalah salah satu bentuk menjaga lisan. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kita untuk meninggalkan hal-hal yang tidak ada gunanya:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)

١٠. لا تخْرِصْ علَى الشُهْرَةِ وَالثَّنَاءِ مِنَ الناس، ويكفيكَ الثناءُ الربَّانِيُّ كمَا صحَّ في الحَدِيثِ (إنَّ الله وملائكتَهُ ليصَلُّونَ على معلم الناس الخير) صحيح الجامع ١٨٣٨

10. Janganlah berambisi untuk mendapatkan ketenaran dan pujian dari orang lain; pujian ilahi sudah cukup bagimu

Sebagaimana diriwayatkan secara sahih dalam hadits: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya melimpahkan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (Sahih al-Jami’ 1838).

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ

“Bersungguh-sungguhlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah berlemah/berputus asa.”. (HR Muslim).

Ketika kita tak bisa mengendalikan diri, maka jangan salahkan orang lain jika kita tidak bisa merasakan manisnya akhirat. Sebagaimana Bisyr bin Harits Radhiyallahu’anhu berkata, “Orang yang gila popularitas tidak akan merasakan manisnya akhirat,” (At-Tawadhu’ wal Khumul, hal. 95).

١١ .اعْتَنِ بأسْرَتِكَ ولا تشْغَلْكَ الدعوَةُ عنْهُمْ.

11. Jagalah keluargamu dan jangan biarkan panggilanmu kepada Islam mengalihkan perhatianmu dari mereka.

Dakwah kepada keluarga adalah lebih utama dari pada orang lain.  

Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika pertama kali mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala mengatakan,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’araa’ [26]: 214)

Alasan Dakwah Keluarga Lebih Utama:

  1. Kewajiban Primer (Fardhu Ain): Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah kewajiban individu, berbeda dengan dakwah umum yang bisa menjadi fardhu kifayah (kewajiban kolektif).
  2. Contoh Rasulullah ﷺ: Nabi Muhammad ﷺ memulai dakwahnya dari orang-orang terdekatnya, yaitu istri, keponakan, dan sahabat dekatnya, menunjukkan prioritas ini.
  3. Fondasi Pembentukan Karakter: Keluarga adalah tempat pertama pembentukan akhlak dan nilai-nilai Islam. Keluarga yang Islami akan menjadi kader dakwah yang kuat.
  4. Tanggung Jawab Pemimpin: Setiap orang adalah pemimpin di lingkupnya (diri sendiri dan keluarga), sehingga pertanggungjawaban dimulai dari sana (hadits "Kullukum raa'in...").
  5. Menciptakan Kehidupan Islami: Membangun kehidupan Islami dimulai dari rumah tangga, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saleh.

١٢. رَتِّبْ وقْتَكَ وبَرامِجَكَ وأَعمالَكَ وقدَّمْ الأهمّ فالمهم.

12. Aturlah waktu, jadwal, dan tugasmu, prioritaskanlah yang paling penting.

١٣. بادِرْ في اقتناصِ الفُرَصِ التي تستطيعُ مِن خِلالِها نفعَ النَّاسِ.

13. Raihlah kesempatan yang dapat memberimu manfaat bagi orang lain.

١٤. تدّربْ في الفنون الدعويَّة لتُطوِّرَ نَفْسَكَ في الدعوة، ومِن تِلْكَ المجالات المُهمَّةِ: فنونُ الإلقاءِ والخطابةِ، فنونُ التصاميمِ والمُونتَاج وغيرها مما يسْهِمُ فِي الإتْقَانِ الدَّعوِيِّ.

14. Latihlah diri dalam seni dakwah untuk mengembangkan dirimu dalam berdakwah

Dan di antara bidang-bidang penting tersebut: seni penyampaian dan pidato, seni desain dan editing, serta lainnya yang berkontribusi pada penyempurnaan dalam dakwah.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini