Kategori Akhlak

Cara bergaul seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.
Kajian Islam

Bismillah

📚┃Materi : KUMPULAN HADIST AKHLAK (Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr)
🎙┃Pemateri : Ustadz Ja'far Ad Demaky,S.Ag حفظه الله تعالى (Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo )
🗓| Hari: Senin, 7 Sya’ban 1447 / 26 Januari 2026
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading - Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah


أحاديث الأخلاق - رِحْمَةُ الْعِيَالِ 
 Ahaditsul Akhlak - Bab 6: Berkasih Sayang dengan Keluarga


Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

Sesungguhnya, anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah karunia dari Allah dan pembagian-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ يَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَۙ ۝ اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًاۚ وَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًاۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ ۝٥٠

Allahlah milik kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki,atau Dia menganugerahkan (keturunan) laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. [Ash-Shura: 49-50].

Jika karunia ini adalah seorang anak perempuan, Islam menyerukan kebaikan terhadapnya, perhatian pada pendidikannya, perawatan, dan disiplin yang tepat, agar ia tumbuh menjadi wanita yang saleh, berbudi luhur, dan suci. Islam mengutuk praktik pra-Islam mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebencian mereka terhadap anak perempuan. Mengenai kedatangannya, Allah ﷻ berfirman tentang mereka:

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ ۝٥٨  يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ۝٥٩

“Dan apabila seorang dari mereka mendapat kabar gembira tentang seorang anak perempuan, maka wajahnya menjadi gelap dan ia dipenuhi kesedihan. Ia dicemooh oleh orang-orang karena kabar buruk yang diterimanya. Haruskah ia membiarkan anak itu dalam keadaan hina atau menguburnya dalam kain kafan? Betapa buruknya penilaian mereka!” [An-Nahl: 58-59]

Dari Al-Mughirah ibn Shu’bah, semoga Allah meridainya, dari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam yang bersabda:

حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا، قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، متفق علیه.

“Allah telah melarang kalian durhaka kepada orang tua kalian…” Ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan dan menuntut, dan Dia tidak menyukai tiga hal: bergosip, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan uang”. (Diriwayatkan oleh Bukhari no. 2408 dan Muslim no. 593 dan lafadh ini milik Muslim).

Beliau menganjurkan untuk merawat anak-anak perempuan mereka melalui disiplin, pengasuhan, dan pendidikan, dan menjadikan hal ini sebagai jalan masuk Surga dan terhindar dari Neraka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ أُنْثَى فَلَمْ يَئِذْهَا، وَلَمْ يُهِنْهَا، وَلَمْ يُؤْثِرْ وَلَدَهُ عَلَيْهَا، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mempunyai anak perempuan dan tidak menyakitinya, tidak menghinakannya, dan tidak mendahulukan anaknya daripada anaknya, maka Allah akan memasukkannya ke Surga.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5146).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, semoga Allah meridainya, yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ)) وَضَمَّ أَصَابِعَهُ، رواه مسلم (أخرجه مسلم (٢٦٣١)

 “Barangsiapa membesarkan dua anak perempuan hingga mencapai usia baligh, maka ia dan aku akan datang pada Hari Kiamat seperti ini,” lalu beliau menyatukan kedua jarinya. (Diriwayatkan oleh Muslim, 2631)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ، أَوِ ابْتَتَانٍ، أَوْ أُخْتَانٍ، فَأَحْسَنَ صُحْبَتَهُنَّ وَاتَّقَى اللهَ فِيهِنَّ؛ فَلَهُ الجَنَّةُ

 “Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, dan memperlakukan mereka dengan baik serta takut kepada Allah dalam hal mereka, maka surga adalah miliknya.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (1916), dan dinilai sahih oleh al-Albani.)

Dari Uqbah ibn Amir, semoga Allah meridainya, yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ؛ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 “Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan dan bersabar terhadap mereka, serta memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari hartanya sendiri, maka mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka pada Hari Kiamat.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3669).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، يُؤْوِيهِنَّ، وَيَكْفِيهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ؛ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَنَّةَ))، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ الْقَوْمِ: وَثِنْتَيْنِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ((وَثِنْتَيْنِ)).

“Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan, kemudian melindungi mereka, memberi nafkah kepada mereka, dan menyayangi mereka, maka surga pasti akan didapatkannya.” Seorang laki-laki dari kalangan masyarakat bertanya: “Dan dua juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dan dua juga.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (78), dan disahihkan oleh Al-Albani.

Terdapat banyak hadits tentang topik ini, dan dalam hal apa pun, merawat dan membesarkan anak perempuan memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Anjuran untuk menyayangi anak perempuan ini meniadakan praktik masyarakat Arab jahiliyyah terhadap perempuan. Perlakuan mereka terhadap perempuan sangat mengerikan, dan kisah-kisah tentang mereka sangat menakutkan. Jika salah seorang dari mereka mendapat kabar tentang seorang anak perempuan, ia tidak tahan, wajahnya akan muram, dan ia akan bersembunyi dari orang-orang karena kabar buruk yang diterimanya dan orang lain. Situasi mencapai titik sedemikian rupa sehingga banyak dari mereka mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup, sebagaimana firman Allah:

وَإِذَا اٌلْمَوْءُردَةُ سُبِلَتْ . بِأَتيِ ذَنْبٍ قُئِلَتْ

Dan apabila anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu dikeluarkan karena dosa, maka dikatakan kepadanya. [At-Takwir: 8-9].

Hukum-hukum Nabi yang agung ini datang untuk membantah kebodohan ini, meninggikan kedudukan anak perempuan, menganjurkan untuk merawat mereka, membahagiakan mereka saat lahir, dan berbuat baik dalam membesarkan dan mengembangkan mereka dengan benar, sehingga seorang Muslim dapat memperoleh pahala yang besar dan balasan yang berlimpah.

Malapetaka yang menimpa manusia dalam hal ini berasal dari dua arah: baik karena jatuh ke dalam kebodohan Jahiliyyah (era pra-Islam), dengan kebencian terhadap wanita dan penolakan terhadap keberadaan mereka, atau karena mengabaikan wanita, gagal membesarkan dan melindungi mereka, dan membiarkan mereka tanpa bimbingan, sehingga menjadikan mereka mangsa binatang buas. Kedua hal ini sangat berbahaya, dan hukum-hukum ini datang untuk mengatasi keduanya.

Dan sudah seharusnya bagi orang yang dikaruniai seorang anak perempuan oleh Allah, Maha Suci Dia, untuk bergembira atas karunia ini, memuji Allah atas karunia ini, dan memohon pertolongan Allah dalam memenuhi amanah ini. Ia harus memperhatikan pendidikan, pengasuhan, perbaikan, dan pendisiplinan anaknya hingga ia pergi ke rumah suaminya, setelah dibesarkan dengan baik dan diasuh dengan cara yang benar, sehingga ia dapat menjadi sumber pembebasan bagi suaminya dan perisai dari api neraka.

Lebih lanjut, siapa pun yang dikaruniai anak-anak yang saleh, terbimbing, dan jujur ​​hendaknya memuji Allah, karena ini semata-mata dari Dia dan rahmat-Nya, Maha Suci Dia. Ia tidak perlu memikirkan cara atau metode yang digunakannya, karena semua nikmat hanya milik Allah semata. Malik bin Anas, semoga Allah merahmatinya, berkata:

الْأَدَبُ أَدَبُ اللهِ، لَا أَدَبُ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ، وَالْخَيْرُ خَيْرُ اللهِ، لَا خَيْرُ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ

Akhlak yang baik berasal dari Allah, bukan dari orang tua, dan kebaikan berasal dari Allah, bukan dari orang tua. (Disebutkan oleh al-Qurtubi dalam Tafsirnya (9/47))

Numayr ibn Aws berkata:

الصَّلَاُح مِنَ اللهِ، وَالْأَدَبُ مِنَ الْآبَاءِ

“Mereka biasa berkata: ‘Kebaikan berasal dari Allah, dan adab yang baik berasal dari orang tua.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (92).

Hal ini memberikan penghiburan bagi semua orang saleh yang telah berusaha keras dalam mendidik anak-anak mereka tetapi tidak berhasil. Pahala atas nasihat dan pendidikan yang diberikannya kepada mereka dijamin oleh Allah.

Dia, Yang Maha Tinggi, tidak membiarkan pahala orang-orang yang berusaha berbuat baik menjadi sia-sia. Ini berfungsi sebagai pengingat bagi mereka yang telah dikaruniai keturunan saleh oleh Allah agar tidak terpaku pada usaha mereka dalam mendisiplinkan dan membesarkan mereka, karena kebaikan dan adab yang baik pada mereka semata-mata adalah karunia Allah kepada mereka. Segala puji hanya milik-Nya, pertama dan terakhir, dan segala syukur hanya milik-Nya, lahiriah dan batiniah.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini