ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
📚┃Kajian: "Memetik Pelajaran Agung dari Surat Al-Ashr"
🎙┃Pemateri : Ustadz Agus Setiawan, S.H. حفظه الله تعالى
▪️Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🗓️┃Hari & Tanggal : Hari Sabtu, 18 April 2026 / 29 Syawal 1447
⏰┃Waktu : Ba'da Maghrib s.d. Selesai
🕌┃Tempat : Masjid Abdus salam - Surakarta.
Surat Al Ashr (العصر) adalah surat ke-103 dalam Al Qur'an. Surat Al-Ashr termasuk surat Makkiyah, karena turun sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah. Meskipun para ulama berbeda pendapat akan definisi Makkiyah dan Madaniyah, serta status Surat Al-Ashr ini.
Imam Thabrani menjelaskan dalam tafsirnya, dari Ubaidillah bin Hafsh Rahimahullah, dia berkata, “Ada dua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertemu mereka tidak akan berpisah melainkan salah satu dari mereka berdua membaca Surat Al Ashr terlebih dahulu, lantas mengucapkan salam.”
Meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Tafsir Surat Al-Ashr
Allah ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
Ayat 1: Makna Al-Ashr
1. Makna الْعَصْرِ adalah waktu ashar.
Allah ﷻ bersumpah dengan waktu ashar, dimana di dalamnya ada shalat yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai shalat yang agung.
Allah Ta’ala berfirman,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Allah ﷻ memerintahkan kita untuk menjaga shalat fardhu, bahkan meskipun dalam keadaan berperang. Yang dimaksud menjaga shalat wustha adalah menjaga shalat Ashar, menurut pendapat yang paling kuat. Ini menunjukkan keagungan shalat Ashar.
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja.
Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594).
2. Makna الْعَصْرِ adalah Waktu (masa)
Dalam Islam, waktu adalah nikmat agung dan amanah terbatas yang sangat berharga. Waktu dianggap sebagai modal utama kehidupan, di mana setiap detiknya tidak dapat kembali lagi. Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian karena memutuskan manusia dari Allah, bahkan waktu diibaratkan seperti pedang yang menebas jika tidak digunakan untuk ketaatan.
Syaikh Ali Thantawi dalam kitab beliau “Dzikrayaat” mengisahkan tentang seorang ulama besar bernama Jamaludin Al-Qasimi.
Suatu ketika beliau ini melewati sekumpulan anak muda yang suka foya-foya dan menghabiskan waktu mereka dalam maksiat. Melihat keadaan seperti itu, Syaikh Jamaludin Al-Qasimi lantas berkata,
لَوْ كَانَ الزَّمَنُ يُبَاعُ وَيُشْتَرَى، لَاشْتَرَيْتُ زَمَنَهُمْ حَقًّا
“Andai saja waktu itu bisa dijual dan dibeli, sungguh akan kubeli waktu mereka..”
Bahkan, Seorang mayit ingin bersedekah lebih jika dia bisa kembali hidup... Sebagaimana firman Allah:
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ
“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” (QS. Al Munafiqun: 10)
Ayat 2: Semua Manusia dalam Keadaan Merugi
Dalam surat ini Allah ta’ala menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Atau kerugian di satu sisi saja.
Ayat 3: Agar Tidak Merugi
Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah ﷻ atau bertauhid.
Seseorang yang bertauhid dengan benar akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk.” (Al An’am: 82).
Yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat di atas adalah adalah syirik, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menafsirkan ayat ini.
Harta dunia bukan tanda kecintaan Allah ﷻ. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cintai.” [HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 275 dan Imam Ahmad no. 3490].
Dan iman memiliki banyak cabang. Sebagaimana dalam hadits.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.Dan malu itu termasuk bagian dari iman.
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 9 dan dalam al-Adabul Mufrad, no. 598; Muslim, 35 [58], dan lainya.
Dari sini kita bisa simpulkan bahwa iman memiliki tiga unsur:
- Mengucapkan dengan lisan. (Mengucapkan laa ilaaha illallah).
- Amalan hati. (malu merupakan amalan hati).
- Amalan dengan anggota badan. (Dengan menyingkirkan gangguan di jalan).
Iman juga mengimani dalam hal perkara-perkara ghaib, apapun yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.
Kriteria kedua adalah beramal shalih
Iman bukanlah semata-mata perkataan “saya beriman”. Iman dibuktikan dengan mengerjakan amal dan syariat yang biasa dikerjakan oleh orang-orang beriman. Iman sesungguhnya adalah gabungan dari keyakinan dalam hati yang diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Misalnya shalat.
Shalat adalah pilar utama Islam dan pembeda utama antara seorang Muslim dan kafir berdasarkan hadits-hadits shahih. Meninggalkan shalat dianggap sebagai batas kekufuran, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa perjanjian antara Muslim dan kafir adalah shalat, dan yang meninggalkannya telah kafir (HR. Tirmidzi, Muslim, Ahmad).
Demikian juga banyak yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Meskipun mereka mengaku beragama Islam.
Syarat Diterimanya Amal
Syarat diterimanya amal ibadah dalam Islam terangkum dalam dua poin utama:
- Ikhlash karena Allah ﷻ
- Ittiba' (mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ).
Amal hanya akan diterima jika diniatkan murni untuk Allah dan dilakukan sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah ﷺ, bukan hasil kreasi manusia (bid'ah).
Niat adalah hal yang berat karena ia berada di hati dan senantiasa berbolak-balik. Meluruskan niat agar ikhlas hanya karena Allah adalah perjuangan berat, karena niat mudah goyah oleh keinginan pujian manusia (riya). Para ulama terdahulu sering menyebutkan bahwa menjaga niat lebih sulit daripada melakukan amal itu sendiri.
Kriteria ketiga: Saling Menasehati dalam Kebenaran
Dalam bahasa agama disebut amar makruf dan nahi munkar. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an Surat Ali ‘Imran Ayat 104:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dan hendaklah di antara kalian (wahai kaum Mukminin), ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan kepada yang ma’ruf, yaitu sesuatu yang telah diketahui kebaikannya menurut syariat dan akal, dan melarang dari kemungkaran, yaitu apa-apa yang diketahui keburukannya dari segi syariat maupun akal. Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung menggapai surga yang penuh kenikmatan.
Hendaklah kita berterima kasih kepada orang yang telah mengingatkan kebaikan kepada diri kita, hingga terjauh dari kelalaian. Mengatakan "urus saja dirimu sendiri" saat dinasihati untuk bertakwa adalah ucapan yang paling dimurkai oleh Allah ﷻ.
Sikap ini dibenci karena merupakan bentuk kesombongan, menolak kebenaran (al-haq), dan meremehkan nasihat agama. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.”
”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara bijak dalam mengingkari kemungkaran. Dalam hadits disebutkan dalam Al-Arbain An-Nawawiyah #34:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim, no. 49].
Kriteria keempat: Saling Menasehati dalam Kesabaran
Kesabaran adalah kunci pertolongan Allah (QS. Al-Baqarah: 153), sehingga saling menguatkan dalam kesabaran sangat penting.
Ini melibatkan saling mengingatkan untuk bersabar saat menghadapi cobaan, tidak mudah putus asa, dan konsisten dalam kebaikan meskipun berat.
Lihatlah Nasihat Lukman kepada anaknya dalam Surah Luqman ayat 17, artinya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Nasihat Luqman kepada anaknya pada ayat ini yaitu untuk selalu mendirikan sholat, serta mengajak manusia berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar. Ayat ini juga mengajarkan untuk selalu bersabar atas apa yeng terjadi dalam kehidupan.
Pahala sabar adalah tanpa batas, inilah janji Allah ﷻ bagi orang yang teguh bersabar dalam menghadapi ujian, ketaatan, maupun menjauhi maksiat, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Az-Zumar: 10. Balasan ini tidak ditakar, ditimbang, atau dihitung, melainkan diberikan langsung secara sempurna oleh Allah ﷻ sebagai bentuk pengagungan atas kesabaran tersebut. Wallohu'alam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم