Menu Al-Qur'an

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". (Al-Hijr: 9).
Baca Al-Qur'an Digital Mushaf Kuno Tafsir Al-Qur'an Tajwid Murotal Juz 30 Download

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Mengambil Pelajaran dari Surat Ibrahim Ayat 37
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu.
🗓┃ Hari/Tanggal : Sabtu, 2 Mei 2026 M / 14 Dzulqa'idah 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid Al-Ikhlas Safira Residence Singopuran Kartasura
📖 ┃Daftar Isi:




Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim Ayat 37:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

ʀᴀʙʙᴀɴÂ ɪɴɴÎ ᴀꜱᴋᴀɴᴛᴜ ᴍɪɴ ᴅᴢᴜʀʀɪʏʏᴀᴛÎ ʙɪᴡÂᴅɪɴ ɢʜᴀɪʀɪ ᴅᴢÎ ᴢᴀʀ‘ɪɴ ‘ɪɴᴅᴀ ʙᴀɪᴛɪᴋᴀʟ-ᴍᴜḪᴀʀʀᴀᴍɪ ʀᴀʙʙᴀɴÂ ʟɪʏᴜQÎᴍᴜꜱʜ-ꜱʜᴀʟÂᴛᴀ ꜰᴀᴊ‘ᴀʟ ᴀꜰ'ɪᴅᴀᴛᴀᴍ ᴍɪɴᴀɴ-ɴÂꜱɪ ᴛᴀʜᴡÎ ɪʟᴀɪʜɪᴍ ᴡᴀʀᴢᴜQ-ʜᴜᴍ ᴍɪɴᴀᴛꜱ-ᴛꜱᴀᴍᴀʀÂᴛɪ ʟᴀ‘ᴀʟʟᴀʜᴜᴍ ʏᴀꜱʏᴋᴜʀÛɴ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ayat ini suatu ayat yang agung yang mengandung pelajaran kepada kita:

1. Adab-adab dalam Berdo'a kepada Allah ﷻ

1.1 Berwasilah dengan Rububiyyah Allah ﷻ.

Tawasul dalam do'a bisa dilakukan dengan :

1. Bertawasul dengan nama dan sifat Allah ﷻ

Dalil dalam Al-Qur’an tentang tawassul yang masyru’ ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raaf/7: 180]

Seperti: Kalimat "Ya Rohman Ya Rohim, Irhamna" yang berarti "Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Yang Maha Penyayang, kasihanilah kami"

2. Bertawasul dengan amal shaleh.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 45:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ۝٤٥

Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya (shalat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

3. Minta didoakan orang shalih yang masih hidup.

Sebagaimana aahabat meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk memohon hujan kepada Allah saat kekeringan melanda Madinah. Doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi, yang berujung pada turunnya hujan lebat secara instan. Kisah lain juga menunjukkan kaum Badui meminta Nabi menghentikan hujan yang berlebihan karena menimbulkan banjir.

Juga sebagaimana yang diucapkan Umar bin Khattab saat kemarau panjang, mengenang masa Nabi Muhammad ﷺ masih hidup.

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَقَالَ: اللّٰهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا. قَالَ: فَيُسْقَوْنَ.

“Apabila terjadi kekeringan pada masayarakat, Umar bin Khaththab memohon turun hujan dengan perantaraan Abbas bin Abdul Muthallib. Beliau Radhiyallahu anhu berkata “Ya Allah dahulu kami biasa bertawasul kepadaMu dengan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepadaMu dengan paman Nabi kami. Oleh karena itu, turunkanlah hujan kepada kami”. Kata rawi. ” Masyarakat lalu dituruni hujan“. [Bukhari no.1010 Kitabul Istisqo]

Maka, tawassul kepada Allah ﷻ melalui do’a orang yang diharapkan terkabulnya do’anya karena keshalihannya tidaklah mengapa. Demikianlah, karena shahabat-shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dahulu biasa bertawassul dengan do’a Nabi Shalallahu alaihi wa sallam yang memohonkan sesuatu yang mereka minta dari Allah untuk mereka. Begitu pula Umar bertawassul dengan do’a Abbas bin Abdul Muthallib.

Makna kata Rabb dalam mengawali do'a.

1. Ada pengakuan Tauhid rubûbiyyah Allah ﷻ melalui kata dalam ayat رَّبَّنَآ (Ya Tuhan kami). Yang merupakan pengakuan rububiyah Allah sehingga menguatkan tauhid di hati yang meminta.

2. Menghadirkan kesempurnaan Penghambaan. Hingga menyebut hanya Rabb kami... Sandaran hanya kepada Allah ta'ala. Inilah jauharul ibadah (permatanya Ibadah), yaitu:

  • Ikhlas: Melakukan hanya karena Allah.
  • Khusyuk: Kehadiran hati.
  • Ilmu: Didasari pemahaman yang benar.

Sebagaimana do'a Nabi ﷺ saat perang Badar. Dari Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

“Ketika Perang Badar, Rasulullah ﷺ melihat kepada kaum musyrikin, dan mereka berjumlah seribu orang, sedangkan para sahabatnya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang. Lalu Nabi ﷺ menghadap ke Kiblat, mengangkat tangan berdoa kepada Rabbnya:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.

Maka terus Rasulullah ﷺ berdoa kepada Rabbnya dengan mengangkat kedua tangan menghadap Kiblat, sampai terjatuh selendangnya dari kedua bahunya. Maka datanglah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan mengambil selendangnya, serta memasangkan kembali di atas pundaknya, dan menguatkan di belakangnya sambil berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memenuhi bagimu apa-apa yang telah dijanjikan kepadamu.”

Maka turunlah ayat:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memdhon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [QS. al-Anfal/8: 9]

Maka Allah mendatangkan bala bantuannya, yaitu para malaikat. [HR. Muslim]

3. Mengawali dengan kata Rabb maknanya tidak bergantung kepada manusia tetapi bergantung kepada Allah ﷻ pemilik kerajaan langit dan bumi.

Rabb (رب) adalah nama Allah yang berarti Tuhan Yang Maha Mengatur, Pemelihara, Pencipta, Pemilik, dan Pendidik seluruh makhluk. Secara bahasa, Rabb berasal dari kata at-tarbiyyah, yaitu menuntun sesuatu dari satu keadaan ke keadaan lain hingga sempurna. Maknanya mencakup penguasaan absolut dan pengurusan urusan alam semesta. 

4. Pengakuan kasih sayang dan Tarbiyah Allah ﷻ.

Hal ini adalah fondasi keimanan yang menegaskan bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Rabb—Yang Maha Mengatur, Memelihara, dan Mengurus seluruh urusan alam semesta.

5. Mengumpulkan antara tawadhu dan keyakinan yang sempurna.

Tawadhu dalam berdoa adalah sikap hati yang rendah, sadar diri sebagai hamba yang butuh Allah, serta menjauhi kesombongan. Hal ini diwujudkan dengan memohon penuh kerendahan hati, suara lemah lembut, bersungguh-sungguh, serta mengakui dosa di hadapan-Nya. Sikap ini merupakan warisan akhlak Nabi Muhammad ﷺ.

Jika diimbangi dengan keyakinan yang sempurna, maka inilah yang diharapkan dalam terkabulnya do'a.

Maka banyak do'a dalam Al-Qur’an yang diawali dengan Rabbana, seperti :

1. Dalam surat Al-A'raf ayat 23:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
[الأعراف :23]

Rabbana zalamna anfusina wa il lam taghfir lana wa tarhamna lana kunan minal-khasiriin

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. [QS 7:23]

2. Dalam Surat Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
[8: آل عمران]

Rabbana la tuzigh quluubana ba’da idh hadaytana wa hab lana milladunka rahmah innaka antal Wahhab

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [QS 3:8]

3. Dalam Surat Al-Furqan ayat 74:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
[الفرقان :74]

Rabbana Hablana min azwaajina wadhurriy-yatina, qurrata ‘ayioni wa-jalna lil-muttaqiina Imaama

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [QS 25:74

4. Do'a yang sering Dibaca Rasulullah ﷺ dalam surat Al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
[البقرة :201]

Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil ‘akhirati hasanatan waqina ‘adhaban-nar

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.[QS 2:201]

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ⁣

“ALLOHUMMA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. ⁣

(Artinya: Ya Allah, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, 8:187-188; Muslim, no. 2690]⁣

1.2 Mengulang-ulang Do'a.

Pengulangan kalimat Rabbana dua kali dalam do'a ini menunjukkan kesungguhan nabi Ibrahim dalam berdo'a. Maka kita tidak boleh berdo'a dengan tambahan kata IshaAllah atau Jika Engkau menghendaki. Sebagaimana dalam hadits, tidak boleh kita berdoa “Ya Allah, jika engkau menghendaki” . Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

َ ﻭَﻻَﻳَﻘُﻮْﻟَﻦَّ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺇِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﻋْﻄِﻨِﻲْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻣُﺴْﺘَﻜْﺮِﻩَ ﻟَﻪُ .

“Janganlah ia berkata: ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, makakabulkanlah do’aku ini,’ karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.” HR. Bukhari dan Muslim

1.3 Mendahulukan urusan agama dibandingkan urusan dunia.

Allah ﷻ mencela orang-orang yang hanya meminta dunia saja. Dalam surat Al-Baqarah ayat 200:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۝٢٠٠

Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.

Bandingkan dengan doa Nabi Ibrahim alaihissalam dalam ayat ini: dimulai do'a meminta akhirat dengan mendirikan shalat kemudian baru minta buah-buahan.

Sebagai contoh, do'a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam beberapa hadits, salah satunya oleh Muslim dalam Shahih-nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

Allâhumma ashliḫ lî dînî alladzî huwa 'ishmatu amrî, wa ashliḫ lî dunyâya allatî fîhâ ma'âsyî, wa ashliḫ lî âkhiratî allatî fîhâ ma'âdî, waj'alil ḫayâta ziyâdatan lî fî kulli khairin, waj'alil mawta râḫatan lî min kulli syarr.

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pelindung urusanku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya ada kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat dari segala keburukan.” (HR Muslim)

2. Keutamaan Baitullah

Dalam do'a beliau : عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.

Beberapa keutamaan Baitullah antara lain :

2.1. Karena rumah yang pertama dibangun adalah di kota Mekah yang diberkahi.

Firman-Nya dalam surat Ali 'Imran · Ayat 96:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ۝٩٦

inna awwala baitiw wudli‘a lin-nâsi lalladzî bibakkata mubârakaw wa hudal lil-‘âlamîn

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.

2.2 Sebagai kiblat kaum muslimin

Ia berfungsi sebagai arah shalat yang menyatukan umat Islam, melambangkan tauhid, dan minimal 5 kali sehari semalam umat muslim sedunia menghadap kiblat dalam shalat.

2.3 Shalat di sekitar Ka’bah pahalanya berlipat.

Sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَعَنِ اِبْنِ اَلزُّبَيْرِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ , وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Ibnu Az-Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram dan sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali shalat di masjidku ini.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Ahmad, 26:41-42; Ibnu Hibban, 1620. Sanad hadits ini sahih].

2.4 Tanah haram merupakan negeri yang aman sentosa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan segala bentuk pertumpahan darah, perburuan, penebangan pohon, dan kezaliman di wilayah tersebut.

Dan Kota ini telah dijaga keamanannya baik pada zaman jahiliyah maupun di zaman Islam, menjadikannya tempat berlindung yang aman bagi manusia.

2.5 Tempat yang paling dicintai Allah ﷻ

Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)“. [Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 3925].

2.6 Ada syiar-syiar yang agung, seperti haji dan maqam Ibrahim.

3. Memilih Tempat di samping Ka’bah mengingatkan pentingnya lingkungan yang baik.

Karena hal-hal yang mempengaruhi karakter seseorang adalah :

  • Pengaruh orang tua.
  • Pendidikan.
  • Lingkungan yang baik.
  • Do'a dan hidayah.

4. Menunjukkan pentingnya shalat.

Karena shalat adalah pondasi agama. Maka Ibrahim memilih tempat di sekitar Ka’bah agar bisa terus mendirikan shalat.

Kalau ingin mendapatkan kemuliaan adalah dengan bertauhid, shalat dan menjauhi maksiat. Ringkasnya, kemuliaan berbanding lurus dengan ketaatan. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin mulia ia, terlepas dari status sosialnya di mata manusia.

Perhatikan kisah iblis saat dilempar dari surga, Iblis mendapatkan kehinaan selama-lamanya karena tidak mau sujud (kepada Adam). Kisah ini menjadi pelajaran (ibrah) tentang bahayanya sifat sombong yang dapat membawa seseorang kepada kehinaan.

Bahkan Ibrahim alaihissalam masih berdo'a seperti ditulis dalam surat Ibrahim Ayat 40:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ ۝٤٠

rabbij‘alnî muqîmash-shalâti wa min dzurriyyatî rabbanâ wa taqabbal du‘â'

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Maka kalimat perintah dalam shalat adalah menegakkan shalat. Dimana Syarat-syarat menegakkan shalat adalah harus terpenuhi unsur:

1. Ikhlas hanya mengharapkan wajah Allah ﷻ.
2. Ittibâ, sesuai petunjuk Nabi ﷺ.
3. Dilakukan dengan berjama'ah di masjid bagi laki-laki.
4. Menghadirkan hati, dengan khusyu dan tawadhu.
5. Dilakukan tepat waktu, karena inilah sebaik-baiknya shalat.

5. Orang Tua wajib memperhatikan keturunan

Sebagaimana permintaan Nabi Yakub dalam Surat Al-Baqarah Ayat 133:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Am kuntum syuhadā`a iż ḥaḍara ya'qụbal-mautu iż qāla libanīhi mā ta'budụna mim ba'dī, qālụ na'budu ilāhaka wa ilāha ābā`ika ibrāhīma wa ismā'īla wa is-ḥāqa ilāhaw wāḥidā, wa naḥnu lahụ muslimụn

Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

6. Syarat dalam Memberikan Perhatian kepada keturunan

6.1. Dekatkan dengan masjid

Dekat dengan masjid memiliki keutamaan besar, terutama dalam memudahkan shalat berjamaah dan memakmurkan rumah Allah. Setiap langkah kaki menuju masjid menghapus dosa, mengangkat derajat, dan memberikan pahala terus-menerus, serta mendapatkan naungan Allah di hari kiamat bagi mereka yang hatinya terpaut dengan masjid.

6.2 Menjaga shalat

Menjaga shalat merupakan bentuk ketaatan, pengabdian, dan bukti keimanan seorang muslim kepada Allah ﷻ. Shalat adalah tiang agama yang mencerminkan upaya menjaga Islam, sebagai tameng diri dari perbuatan keji dan mungkar, serta merupakan kebutuhan ruhani.

6.3 Mendo'akan mereka

Doa untuk anak cucu bertujuan memohon keturunan yang shalih, berakhlak mulia, dilindungi dari kesyirikan, dan menjadi penyejuk hati.

Doa yang umum dibaca meliputi permohonan keturunan yang baik (Robbi hab lii minash-shoolihin), perlindungan Iman: (Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik) - Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu, dan permohonan kebaikan dunia akhirat.

6.4 Memperhatikan sisi duniawi

Maka Rasulullah ﷺ memberikan batasan dalam berwasiat atau menginfakkan harta menjelang wafat maksimal sepertiga (1/3) dari total harta.Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Nabi ﷺ bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash: “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak”.

7. Unsur Kebahagiaan

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kebahagiaan terkumpul dalam 4 hal:

1. Bisa beribadah (shalat) - لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ
2. Dicintai manusia - فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ
3. Dicukupinya rezeki - وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ
4. Bersyukur - لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

8. Rezeki adalah wasilah untuk bersyukur

Kenikmatan itu tidak dicari dengan dzatnya, tetapi sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat.

Ini adalah kutipan yang menekankan pada manajemen hati dan tujuan hidup:

1. "Kenikmatan itu tidak dicari dengan dzatnya" : Artinya, kita tidak menjadikan kenikmatan duniawi (makanan enak, harta, jabatan, kenyamanan) sebagai tujuan utama atau "berhala" yang disembah. Jika kenikmatan dicari demi kenikmatan itu sendiri, manusia cenderung menjadi serakah, tidak pernah puas, dan diperbudak oleh hawa nafsu

2. "Tetapi sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat": Artinya, ketika kenikmatan itu datang, ia dipandang sebagai alat (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Nikmat (Allah ﷻ).

Maka, setiap ayat yang diawali dengan nikmat akan diikuti perintah ibadah atau syukur. Sebagaimana firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ۝٢

Maka, laksanakanlah Shalat karena Tuhanmu dan berkurban lah! (Al-Kautsar Ayat 2)

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur). (Ad-Dhuha ayat 11).

9. Hikmah Ka’bah di tempat yang Tandus.

Menguji keikhlasan! Maka, niat orang-orang yang datang ke Baitullah adalah murni karena Allah ﷻ. Bukan untuk tamasya. Bayangkan jika Ka’bah ditempatkan di negeri yang makmur, tentu ada banyak tujuan lain selain ibadah.

10. Minta rezeki kepada Allah ﷻ.

Meminta rezeki kepada Allah ﷻ tanpa bersandar pada usaha fisik adalah bentuk tauhid tertinggi, di mana seorang hamba benar-benar menggantungkan harapannya hanya kepada Sang Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

11. Do'a nabi Ibrahim diijabah.

Meskipun beliau tidak menjumpai hasilnya pada saat itu. Diundur setelah sekian generasi. Menunjukkan Allah ﷻ Maha mampu, maka jangan lepas dari memanjatkan do'a. Sebagaimana firman-Nya:

ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). (Ghafir ayat 60).

Demikian, beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari ayat yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk selalu bersyukur dan istiqamah dalam memurnikan ibadah hanya kepada-Nya. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم