بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
♻ Insya Allah Rutin Dibahas Setiap Hari Sabtu Malam Ahad "Pekan Ke-2"
Hadits ke-26: Rukun Islam Cukup Menjadi Sebab Masuk Surga
📗 Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ . قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ ، وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ » . قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا . فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا »
“Ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal yang jika aku lakukan, aku dapat masuk surga.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menyembah Allah semata, tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun juga; engkau mengerjakan shalat wajib; engkau menunaikan zakat yang wajib; juga engkau berpuasa di bulan Ramadhan.”
Arab Badui tersebut berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada pada tangan-Nya, aku tidak akan menambahkan selain itu.”
Ketika orang tersebut berbalik pulang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang senang melihat seseorang dari ahli surga, maka lihatlah orang ini.”
(HR. Bukhori, no. 1397; Muslim, no. 15/14; Ahmad, no. 8515)
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:
1. Urgensi menuntut ilmu agama.
Ilmu agama berfungsi sebagai landasan utama untuk mengenal Allah dan bertaqwa kepadaNya, menuntun tata cara ibadah yang benar agar diterima, serta menjadi pembeda antara yang hak dan batil demi keselamatan dunia dan akhirat. Mengingat kebutuhan manusia yang sangat tinggi terhadap ilmu syar’i (ilmu agama), maka menuntut ilmu syar’i menempati kedudukan yang sangat penting di antara ajaran-ajaran Islam yang lainnya.
Dan ilmu itu harus didatangi, bukan dengan menunggu dan berleha-leha di rumah. Ulama dahulu menjelaskan,
ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺆﺗﻰ ﻭ ﻻ ﻳﺄﺗﻲ
“Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi”
Kisah Ibnu Abbas tertidur di depan pintu menunjukkan adab dan kesungguhannya yang luar biasa dalam menuntut ilmu dari para sahabat senior. Ibnu Abbas ingin bertanya atau mempelajari hadis dari seorang sahabat Anshar (seperti Ubay bin Ka'ab). Beliau tidak mau mengetuk pintu atau membangunkan pemilik rumah karena rasa hormat yang tinggi. Ia memilih membentangkan selendang atau sorbannya di depan pintu sebagai alas, lalu tertidur sampai angin membawa debu menutupi wajahnya. Saat sang tuan rumah keluar dan melihat sepupu Rasulullah tidur di depan rumahnya, ia terkejut dan berkata, "Wahai sepupu Rasulullah, mengapa engkau tidak mengutus seseorang memanggilku agar aku yang datang kepadamu?" Jawaban Ibnu Abbas: Beliau menjawab dengan rendah hati bahwa merekalah yang lebih berhak untuk didatangi demi mencari ilmu.
Dan menuntut ilmu memerlukan pengorbanan yang besar, bahkan jika kita mengorbankan semua harta yang kita miliki, itupun hanya akan mendapatkan sedikit, karena ilmu itu luas. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ. لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ. وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ
“Kebutuhan manusia terhadap ilmu (syar’i) itu melebihi kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Hal itu karena seseorang membutuhkan makanan dan minuman hanya sekali atau dua kali (saja), adapun kebutuhannya terhadap ilmu (syar’i) itu sebanyak tarikan nafasnya.” [Madaarijus Saalikiin, 2: 440]
2. Bertanya kepada Ulama salah satu sarana menuntut ilmu.
Ulama adalah cara penting untuk belajar agama. Hal ini sesuai dengan perintah Allah agar kita bertanya kepada orang yang tahu jika kita tidak mengerti. Firman Allah Taala,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (سورة النحل: 43)
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [An-Nahl/16: 43]
Kisah masyhur tentang seseorang yang membunuh 99 orang lalu menggenapinya menjadi 100 orang diriwayatkan secara sahih oleh Shahih Bukhari (No. 3470) dan Shahih Muslim (No. 2766) dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Hadis ini menceritakan hendaknya bertanya kepada ahli ilmu dan luasnya ampunan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh ingin bertaubat. Maka, Sifat mudah menghakimi dan keputusasaan terhadap rahmat Allah bisa muncul dari ahli ibadah yang tidak berilmu.
Demikian juga Kisah "membunuh karena salah fatwa" yang merujuk pada hadis tentang seorang sahabat yang terluka parah di kepala lalu mengalami junub. Karena diberi fatwa keliru untuk tetap mandi dengan air, ia wafat akibat air mengenai lukanya. Rasulullah ﷺ marah besar dan bersabda, "Mereka telah membunuhnya". Pesan Utamanya: Beliau menegaskan bahwa obat bagi ketidaktahuan adalah bertanya dengan benar, dan pemberi fatwa yang ceroboh menanggung beban moral atas bahaya atau kematian yang ditimbulkannya.
3. Iman syarat masuk surga, amal shalih sebab masuk surga.
Iman menjadi tiket utama yang sah untuk masuk surga, sementara amal shalih berfungsi sebagai penggerak dan alasan Allah memberikan rahmat serta menempatkan derajat surga bagi seseorang.
Iman adalah fondasi dasar. Tanpa iman, amal kebaikan manusia di dunia tidak bernilai sebagai jalan keselamatan akhirat.Sedangkan Amal shalih menjadi jembatan praktis yang mengantarkan seseorang mendapatkan kasih sayang dan ridha-Nya. Wujud nyata: Pembuktian keimanan lewat perbuatan.
Maka, Allah selalu menggandengkan Iman dan Amal Shalih di dalam Al-Qur'an karena keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah [2]: 277)
4. Rukun Islam adalah amalan sebab masuk surga.
Dan amalan-amalan tersebut ada pada rukun Islam berupa amalan hati dan perbuatan. Dan dalam hadits ini haji tidak disebutkan. Hal ini memang dikarenakan ibadah haji belum disyariatkan atau diwajibkan pada periode awal turunnya perintah tersebut.
5. Kewajiban beribadah kepada Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun.
Bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Dan banyak dalil yang menyebutkan bahaya syirik.Allah ta'ala berfirman dalam Surat Al-Jin Ayat 18:
وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
Ayat ini mewajibkan menyucikan masjid dari segala urusan yang menodai keikhlasan kepada Allah dan ittiba’ keapada Rasulullah. Tidak perlu perantara dalam berdo'a. Firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah Ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
6. Kewajiban mendirikan shalat wajib, lima kali sehari semalam.
Tidak banyak yang Allah minta dari kita, kita hanya disuruh shalat 5 Waktu yang total jumlahnya tidak sampai 1 jam dibandingkan dengan Waktu seharian yang Allah berikan kepada kita. Tidak ada pilihan bagi kewajiban dalam syariat.
وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ : (( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 82]
Para sahabat dan tabi’in menganggap meninggalkan shalat amat berbahaya bahkan mereka mengatakan orang yang tidak shalat bukanlah muslim.
Semoga Allah ta'ala menganugerahkan kita dan keturunan kita untuk selalu mendirikan shalat.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Rabbij'alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī rabbanā wa taqabbal du'ā`
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
7. Kewajiban membayar zakat wajib, setahun sekali, bagi yang sudah wajib.
Zakat itu wajib satu kali dalam satu tahun. Bukan bulanan seperti zakat profesi setiap bulan. Zakat Mal atau penghasilan dihitung secara tahunan (haul selama 1 tahun hijriah) dari harta simpanan yang mengendap dan mencapai batas minimal (nisab seharga 85 gram emas), bukan dipotong langsung setiap bulan.
8. Kewajiban berpuasa Ramadhan, setahun sekali, bagi yang mampu.
Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib (fardu 'ain) yang dikerjakan satu tahun sekali selama sebulan penuh di bulan Ramadhan bagi setiap umat Islam yang memenuhi syarat, termasuk mampu secara fisik dan mental.
9. Bersumpah dengan nama atau sifat Alloh, dan tidak boleh bersumpah dengan makhluk.
Dalam ajaran Islam, seseorang hanya boleh bersumpah dengan menyebut nama Allah (seperti Allah, Ar-Rahman) atau sifat-sifat Allah (seperti keagungan atau kemuliaan Allah). Bersumpah dengan menggunakan nama makhluk—seperti demi Nabi, demi Ka'bah, demi orang tua, atau demi langit—dilarang keras dan termasuk perbuatan syirik kecil atau besar tergantung pada tingkat pengagungannya.
Kita diharuskan istiqamah hingga meninggal. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ
“Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”
Ummu Salamah menjawab,
كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».
“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”
Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”
Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
10. Tidak boleh menetapkan orang tertentu sebagai penduduk surga atau neraka, kecuali yang telah
penduduk surga atau neraka, kecuali yang telah diberitakan oleh Alloh atau Rosul-nya.
Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita tidak boleh memastikan seseorang masuk surga atau neraka secara individu, kecuali mereka yang namanya sudah ditegaskan oleh Allah dan Rasulullah (seperti para Nabi, Khulafaur Rasyidin, dan sahabat tertentu yang dijamin surga).
11. Beriman kepada berita Nabi Muhammad, dan bahwa Arab Baduwi tersebut termasuk penduduk surga.
Perkataan nabi wajib kita Imani, karena sabda beliau adalah wahyu. Sementara makhluk lainnya tidak boleh dipastikan kebenarannya.
12. Anjuran menyampaikan berita gembira kepada orang lain.
Anjuran menyampaikan berita gembira (basyir) kepada orang lain merupakan salah satu ajaran mulia dalam Islam yang dicontohkan oleh para nabi. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan harapan, memotivasi beramal saleh, serta mempererat kasih sayang antar sesama manusia.
Dalam hadits ini, Nabi mengabarkan bahwa dengan Rukun Islam Cukup Menjadi Sebab Masuk Surga.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم