Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Kesempurnaan Tawakal - Faedah dari Hadist bulan Shafar
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu.
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 01 Agustus 2026 M / 18 Shafar 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid Al-Ikhlas Safira Residence Singopuran Kartasura





Beberapa hadits yang menjelaskan masalah thiyarah, penyakit menular, kalimat yang baik (al-fa'lu) dan kesialan bulan Shafar:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatku takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ، ولا هامَةَ ولا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada dampak dari thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan para bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757, Muslim no.2220).

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ قَالَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ الْبَعِيرَ يَكُونُ بِهِ الْجَرَبُ فَتَجْرَبُ الْإِبِلُ قَالَ ذَلِكَ الْقَدَرُ فَمَنْ أَجْرَبَ الْأَوَّلَ

"Tidak ada penyakit menular, thiyarah (firasat buruk) dan burung hantu." Lalu seorang laki-laki menghadap beliau dan bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan unta yang terkena penyakit kudis hingga seluruh unta terkena kudis?" Beliau menjawab: "Itulah takdir, lalu siapakah yang menulari unta pertama?" (Musnad Ahmad 4545)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلَا طَيْرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَر وَفر مِنَ المَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُ مِنَ الأَسَدِ

“Tidak ada penyakit menular, thiyarah, burung hantu, dan safar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari no. 5387 dan Muslim no. 2220)

💡 Faedah-faedah Hadits:

1. Pentingnya Tauhid kepada Allah ﷻ

Pentingnya Tauhid bagi kaum muslimin dengan meyakini bahwa segala sesuatu atas kehendak Allah ﷻ.

Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

2. Kesempurnaan tawakal

Kesempurnaan tawakkal hatinya hanya bergantung kepada Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan dari firman Allah yang berbunyi :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. [Ath-Thalaq/65 : 3]

Yaitu yang mencukupinya, maknanya dicukupi dari segala kepentingan, dijauhkan dari segala sesuatu yang menyempitkan (menyusahkan) dan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka. (Penjelasan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah).

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij as-Salikin, kesempurnaan tawakal mencakup tiga pilar utama: i’timad (penyandaran hati), as-tsiqah (kepercayaan penuh), dan pemahaman terhadap turuqul asbab (jalur sebab-akibat/ikhtiar).

Hakikat Tiga Unsur Tawakal:

1. I’timad (الاعتماد): Penyandaran dan ketergantungan mutlak hati kepada Allah Ta'ala semata, bukan kepada makhluk atau kekuatan lain.
2. As-Tsiqah (الثقة): Ketenangan dan kepercayaan yang jujur bahwa Allah pasti menepati janji-Nya serta memberikan kecukupan bagi hamba-Nya.
3. Turuqul Asbab (طرق الأسباب): Menempuh dan menjalankan ikhtiar atau sebab-sebab syar'i/konkret yang diizinkan Allah, tanpa meyakini bahwa sebab itu berkuasa sendiri.

3. Mendalamkan keimanan kepada takdir.

Empat Unsur dalam mengimani kepada Takdir yaitu:

1. Al-Ilmu (Ilmu / Pengetahuan): Meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun sangat terperinci, sebelum hal itu terjadi.
2. Al-Kitabah (Pencatatan / Penulisan): Meyakini bahwa Allah ﷻ telah mencatat segala ketentuan dan takdir seluruh makhluk di dalam Lauhul Mahfuz.
3. Al-Masyi'ah (Kehendak): Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kekuasaan mutlak Allah.
4. Al-Khalq (Penciptaan): Meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan para hamba-Nya.

Sedangkan golongan yang menyimpang dari beriman kepada takdir, dikategorikan ke dalam empat kelompok:

1. Mengimani takdir dan mengingkari syariat : Jabriyah.
2. Mengingkari takdir dan menetapkan syariat : Qodariyah.
3. Meyakini kontradiksi antara qodar dengan syari'at. Seperti halnya keyakinan orang musyrik terdahulu.
4. Mengimani takdir (dengan 4 unsur seperti disebutkan di atas) dan menetapkan syariat: Ahlussunnah wal Jama'ah.

4. Membenarkan pemahaman tentang sebab

Hadits ini tidak menolak penyakit yang menular, bahwasanya pendapat musyrikin penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah ﷻ adalah menyimpang.

Penularan penyakit ada, dan adanya sebab dengan dibatasi takdir Allah ﷻ. Sebab adalah wasilah yang bersifat kebendaan atau maknawi yang mengantarkan kepada hasil dengan kehendak Allah ﷻ.

Dan sebab terbagi menjadi dua:
1. Asbabun Kauniyah : berkaitan dengan sebab akibat, seperti makan supaya kenyang, berobat agar sembuh, dan lainnya.
2. Asbabun Syar'iyyah: seperti berdo'a. Karena do'a adalah pedangnya orang yang beriman.

Penyimpangan dalam kaitannya dengan memahami sebab:
1. Mengambil sebab termasuk ketaatan. Jika tidak mau usaha maka kurang akal dalam memahami syari'at.
2. Tidak bersandar kepada sebab sehingga meniadakan kehendak Allah ﷻ. Orang yang seperti ini Tauhidnya keliru.
3. Allah ﷻ pencipta sebab. Maka, api yang panas saat membakar Nabi Ibrahim alaihissalam menjadi dingin karena kehendak Allah ﷻ.

Beda Tawakul dengan tawaakul

  • Tawakal: bersandar, yakin, usaha
  • Tawaakul: meninggalkan Sebab dengan bersandar kepada takdir. Yaitu harapan dengan angan-angan.

5. Mengumpulkan antara akidah dan melakukan sebab

Secara akidah, semua yang terjadi sudah ditetapkan, tetapi kita disuruh berusaha yaitu menjauh dari penyakit.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

[HR. Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

6. Membuang khurafat dan keyakinan sial (tiyarah).

Membuang khurafat dan tiyarah (beranggapan sial) wajib dilakukan dengan memperkuat tauhid, bertawakal kepada Allah, dan mengabaikan segala tanda-tanda atau ramalan buruk yang tidak ada dasarnya dalam agama.

Contoh thiyarah (beranggapan atau merasa sial terhadap suatu kejadian) meliputi: membatalkan perjalanan karena kejatuhan cicak, mengira ada yang mati karena suara burung gagak, serta takut sial pada hari atau bulan tertentu.

Keburukan dari khurafat dan tiyarah:

1. Memutus tawakkal kepada Allah ﷻ dan bersandar kepada selain Allah ﷻ. Seperti keyakinan sial menabrak kucing, kedutan, dan lainnya.
2. Bergantung kepada perkara yang tidak nyata, bahkan hayalan atau cerita bohong.

Jika memang terjadi kesialan atau musibah, maka kita sikapi dengan dua alasan:
1. Karena kehendak Allah ﷻ.
2. Musibah terjadi karena dosa-dosa kita.

Obat penyakit thiyarah:
1. Tawakkal - bersandar kepada Allah ﷻ.
2. Do'a

اللَّهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Allaahumma laa thayra illa thayruka, wa laa khayra illa khayruka, wa laa ilaaha ghayruka

"Ya Allah, tidak ada kesialan (firasat buruk) kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, serta tidak ada Tuhan selain Engkau."

3. Optimis.

7. Agar seseorang tafaul (lapang dada)

Tafa'ul (تفاؤل) artinya sikap optimis, berbaik sangka (husnuzan), dan berharap nasib baik atau hal-hal yang positif. Secara luas bermakna lapang dada, Optimis, berbaik sangka kepada Allah ﷻ. Lawannya adalah tasaul.

Keutamaan tafa'ul:
1. Ibadah hati yang berpahala besar.
2. Ketenangan dalam hidup.
3. Khusnudzon kepada Allah ﷻ.
4. Meringankan kesedihan.
5. Jiwanya kuat.
6. Sehat jiwanya

8. Menyelisihi perilaku Jahiliyyah

Menjauhi tiyarah (beranggapan sial) adalah bentuk nyata menyelisihi tradisi Jahiliyah yang mengandalkan takhayul, melemahkan tauhid, dan merusak tawakal kepada Allah ﷻ.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini